JuntakNews – Medan

Seminggu sudah penganiayaan bermotif perampokan dialami Marisi Magdalena Br. Situmorang (47) berlalu, istri dari Richon Simanjuntak (Sitombuk No. 13), namun belum terlihat perkembangan penyelidikan yang berarti dari Polsek Medan Baru. Sebab, baik saksi-saksi, maupun barang bukti hingga saat ini (14/3) belum juga diperiksa dan disita oleh petugas kepolisian. Sementara, seorang pelaku masih dalam perawatan di RS Brimob, yang terpaksa menjalani perawatan, akibat diamuk massa yang berhasil menangkapnya, seorang lagi masih buron. Marisi sendiri terlihat masih proses penyembuhan luka dan mengalami trauma berat.

Kepada JuntakNews (14/3), Marisi menuturkan kejadian upaya perampokan yang disertai dengan pembacokan dan pemukulan terhadap dirinya pada hari Selasa (7/3) di Gg. Jati Baru Medan Polonia, oleh 2 (dua) orang lelaki yang telah mematai-matainya dari persimpangan jalan Gg. Nasional yang berjarak hanya ratusan meter dati TKP.

“Malam itu, tidak seperti biasanya, saya mengendarai sepeda motor sendiri tanpa didampingi suami, pergi menangih angsuran pembelian barang-barang jualan saya ke rumah salah seorang pelanggan saya di Gg. Jati Baru. Ketika masuk ke Gg. Nasional, saya melihat ada 2 (dua) orang laki-laki yang satu duduk di atas sepeda motor dan seorang lagi pura-pura buang air kecil. Mereka mengikuti saya hingga ke dekat rumah yang kutuju. Usai transaksi, ketika bermaksud pulang, tiba-tiba seorang di antara laki-laki yang mengikuti saya itu mendekat dan sebilah parang ditangannya dan memerintahkan saya untuk menyerahkan tas yang kubawa”, tutur Marisi.

Tidak ingin kehilangan tasnya yang berisikan uang dan surat-surat tagihan, Marisi justru menolak permintaan laki-laki ini dengan mempererat dekapannya ke tas miliknya. Tarik menarik terjadi. Dan tiba-tiba, si perampok inipun mengayunkan parang yang dipegangnya ke arah kepala dan mengakibatkan helm yang sempat saya pakai terbelah dua.

“Walau helm di kepala sudah jatuh akibat terbelah, secara naluriah saya tetap mempererat dekapan saya terhadap tas yang terus ditarik-tarik perampok itu. Merasa belum berhasil mengambil paksa tas saya, si perampok kembali mengayunkan parangnya ke lengan dan tangan saya hingga mengalami pendarahan hebat hingga saya terhempas jatuh. Jeritan dan permintaan tolong saya, tidak juga menghentikan kebringansan perampok ini. Tidak cukup dengan membacok saya, si perampok inipun mengambil sebuah batu bata yang terletak di jalan dan memukulkannya ke belakan kepala saya hingga saya terhuyung dan terus memeluk tas yang hampir bisa dikuasainya”, tambah Marisi dengan suara terputus dan deraian air mata.

Kegaduhan ini akhirnya terdengar oleh tetangga langganan Marisi. Dharma, seorang laki-laki yang menyaksikan kejadian ini langsung datang membantu, namun naas, diapun kena sabetan parang perampok dan dia sekuat tenaga meminta tolong, hingga warga sekitar ramai-ramai menghampiri kami dan berhasil menangkap pelaku perampokan.

“Beruntung saya dapat diselamatkan oleh warga yang beramai-ramai menangkap pelaku dan sempat saya lihat dipukuli. Warga yang menolong saya ini pula yang menghubungi istri pelaku ke telepon selularnya, meminta agar istrinya datang ke TKP”, lanjut Marisi, ibu dari 3 orang anak ini.

Istri pelaku yang datang beberapa waktu setelah dihubungi warga yang menangkap suaminya, mengaku bahwa benar pelaku itu adalah suaminya dan memberikan keterangan kepada warga bahwa suaminya itu sering tidak pulang ke rumah dan sudah berulang-ulang melakukan perampokan .

“Iya betul itu suami saya. Dia jarang pulang dan sudah sering melakukan tindakan seperti ini. Orang tua suami saya orang berada dan anggota DPRD, saya sendiri bekerja sebagai PNS di RST Putri Hijau”, tutur istri pelaku sebagaimana ditirukan oleh Marisi.

Istri pelaku pula yang membawa Marisi RST Putri Hijau, sementara suaminya yang dimassakan, oleh Kepling setempat membawanya ke RS Brimob untuk mendapat perawatan. “Pelaku diboyong ke RS Brimob, sementara istri saya dibawa ke RST Putri Hijau. Saya sendiri sudah membuat laporan ke Polsek Medan Baru, dan telah membawa surat permohonan visum yang dikeluarkan polisi ke petugas RST Putri Hijau”, ungkap Richon suami korban.

Ditanya mengenai sejauh mana penanganan polisi terhadap kasus ini, Richon mengaku bingung sebab hingga sekarang saksi-saksi belum juga diperiksa dan barang bukti berupa helm yang pecah, batu bata masih berada dirumahnya dan belum dijemput oleh petugas kepolisian. Dan, seorang lagi pelaku yang berhasil kabur dengan mengendarai sepeda motor perampok sepengetahuan kami belum juga tertangkap.

“Saya heran sebab sampai sekarang saksi-saksi belum juga dipanggil untuk dimintai keterangannya. Barang bukti yang dipakai memukul istri saya dan helm yang pecah akibat diparang juga masih belum dijemput polisi. Dan, seorang teman perampok itu, berhasil kabur dan belum tertangkap. Sedangkan hasil visum, ketika saya minta, pihak RST mengatakan agar polisi yang mengambilnya. Kami minta tolong agar Generasi Muda Simanjuntak turun tangan membantu kami”, pinta Richon yang bekerja sebagai supir angkot ini.

Entah hanya sebuah kebetulan, atau memang lemahnya polisi di Polsek Medan Baru, paling tidak ada 3 (tiga) kasus tindak pidana yang baru-baru ini dilaporkan ke Polsek Medan Baru dan diberitakan, belum menunjukkan progres yang berarti. Boha na ma keamanan on Pak Polisi?