Ideologi, berasal dari bahasa Yunani dan merupakan gabungan dari dua kata yaitu edios yang artinya gagasan atau konsep dan logos yang berarti ilmu. Pengertian ideology secara umum adalah sekumpulan ide, gagasan, keyakinan dan kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis.

Dalam arti luas, ideology adalah pedoman normatif yang dipakai oleh seluruh kelompok sebagai dasar cita-cita, nila dasar dan keyakinan yang dijunjung tinggi. The Free Dictionary by Farlex menuliskan bahwa ideology adalah “The body of ideas reflecting the social needs and aspirations of an individual, group, class, or culture“.

Bisa dibayangkan jika suatu kelompok marga, kehilangan ideologi atau tidak berhasil menemukan jati ideologinya, kelompok itu menjadi tak bernilai. Kelompok itu menjadi sebuah perkumpulan (punguan) tanpa dinamika. Statis dan kehilangan arah.

Sadar atau tidak, hampir semua kelompok marga absen untuk bersama-sama memikirkan dan berkomitmen untuk menetapkan ideologi kelompok marganya, sebagai dasar dan penuntun dalam merespon kebutuhan sosial dan aspirasi anggota-anggotanya. Kelompok marga, berjalan dan beraktifitas hanya berdasarkan ikatan emosional yang kadangkala kehilangan sensitifitas dan kecerdasanya menjawab tantangan yang dari ke hari semakin kompleks dan semakin beraneka ragam.

Simanjuntak Sitolu Sada Ina, sebagai salah satu kelompok marga, jika tidak bisa dikatakan yang terbesar jumlah anggotanya, atau penyebarannya terluas, merupakan satu kelompok marga yang sejak tahun 60-an menunjukkan eskalasi peningkatan jumlah dan penyebaran anggota ke seluruh pelosok negeri bahkan ke luar negeri.

Sebagai salah satu kelompok marga yang terbesar, tentu selalu diperhadapkan dengan berbagai tantangan, kesulitan, seiring perkembangan zaman, perkembangan ilmu dan teknologi. Serbuan berbagai ideology, tentu tidak bisa dipandang sebelah mata, atau berdiam diri. Sebab, serbuan ideologi dari luar dirinya, belum tentu cocok dan aplicable di internal marga ini.

Secara bijak, pendahulu marga Simanjuntak, entah itu berasal dari kristalisasi pengalaman empirik menyejarah, atau hasil perenungan mendalam, telah juga memperkenalkan dan mewariskan sebuah kearifan yang awalnya bersifat lokal, tetapi berimplikasi global. Kristalisasi pengalaman empirik, perenungan mendalam atau buah kearifan ini, jika dilihat dari konten dan nilainya, bisa dikategorikan sebagai sebuah ideologi.

Sisada Lulu, Si Sada Lungun, Si Sada Las Ni Roha (Satu dalam Perlindungan, Satu dalam Duka dan Satu dalam Suka), dalam berbagai upacara adat selalu diperdengarkan sebagai suatu dasar berpijak dalam memutuskan sebuah atau serangkaian tindak laku. Walau, secara eksplisit belum pernah dibicarakan atau ditetapkan sebagai Ideologi, rangkaian kata bijak itu, justru sudah diaplikasikan sedemikian rupa sebagai ide, gagasan, keyakinan dan kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis, dalam berbagai kegiatan, upacara, baik formal maupun informal di internal Marga Simanjuntak Sitolu Sada Ina di Bona Pasogit maupun di perantauan.

Jika sudah begini, tentu, tidak salah jika kita mulai berfikir untuk merancang, meneguhkan dan merevitalisasi ideologi Sisada Lulu, Si Sada Lungun, Si Sada Las Ni Roha, sehingga generasi kini dan generasi mendatang memiliki dasar dan arah dalam pengembangan Marga Simanjuntak Sitolu Sada Ina, kini dan di masa mendatang. Boha di roha mu?