Ditinggal Istri dan Anak

Helman Cipta Simanjuntak 54 Tahun (Mardaup Tua Sibadogil No. 15) sejak puluhan tahun hidup menyendiri setelah ditinggal pergi istri dan anaknya. Satu-satunya kemampuan yang dimilikinya adalah tarik suara dan memainkan gitar. Talen itu pula yang digelutinya sebagai mata pencaharian utama, menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sebagai musisi jalanan (pengamen), Helman terlihat sering mengadu nasib di kawasan kuliner malam hari di Jl. Semarang Medan.

Bermodalkan sebuah gitar tua yang dilengkapi tali penggantung dan buku kecil berisi lirik lagu, terikat di bagian atas gitarnya, Helman hampir setiap malam menyusuri restoran-restoran dan food court yang hanya buka pada malam hari di sepanjang jalan Semarang dan Selat Panjang Medan.

Berpenampilan rapi dengan rambut panjang sebahu, Helman yang bertubuh kurus jangkung ini selalu memulai lagu dengan petikan dawai gitarnya disertai senyuman dan anggukan kepala kepada calon pendengarnya. Lagu Batak, Pop Indonesia dan Pop Inggris dilantunkannya penuh penghayatan, seraya mengharap kerelaan pendengar yang mendapat hiburan sambil makan malam.

“Waktu muda dulu, saya menyanyi di hotel-hotel. Belakangan, saya tak bisa bertahan sebab pengusaha entertaiment di hotel-hotel itu lebih memilih pendatang baru, sementara awak udah tua”, katanya suatu ketika saat ditemui di Jl. Semarang Medan.

 

Ternyata Semargaku

Saya sendiri mengenal Helman, 6 (enam) tahun lalu, ketika kami sekeluarga sedang makan malam di kawasan dimana Helman sering nampil. Usai melantunkan beberapa lagu, termasuk lagu-lagu permintaan yang saya akhirnya ikut menyanyi, saya meminta Helman untuk duduk bergabung untuk makan. Awalnya, dia menolak dengan ramah. Setelah saya tanya, “Orang Apa?”. Dia Jawab “Orang Batak, Marga Simanjuntak do au”, katanya ramah.

Mengetahui bahwa musisi jalanan ini mermarga Simanjuntak, akhirnya kami terlibat dalam pembicaraan partuturon, dan ternyata beliau adalah Abang saya Mardaup No. 15. Kisah hidupnyapun mengalir, seraya menikmati makanan yang akhirnya dia pesan. Kami berbicara hangat, sebagai keluarga sedarah. Kisah hidup Helman jugalah yang membekas, sehingga di hari-hari berikutnya setiap berkunjung ke lokasi itu, saya selalu berupaya mencari dan mengajaknya untuk duduk bersama setelah terlibat melantunkan lagu-lagu manis.

Kepada kawan semarga juga, saya mulai memperkenalkan Helman, hingga suatu ketika dia membuat pengakuan jujur “Kalau kalian datang ke sini, saya sangat senang. Dapat makan, dan sawerannya juga lumayan”, katanya.

Jatuh Sakit

Dalam beberapa kunjungan ke kawasan Jl. Semarang untuk makan malam, saya tidak berhasil bertemu Helman. Selalu saya coba untuk melihat dan mendengar, apakah Helman hadir, selalu tidak ada. Dalam hati, “Kemana Abang awak ini. Sudah pindahkah dia?, atau…”, selalu berkecamuk dalam hati.

Sampai pada suatu ketika beberapa bulan yang lalu, seorang aktifis Naposo Simanjuntak Poli Simanjuntak menghubungi saya dan mengatakan bahwa dirinya sedang berada di kediaman Helman, yang sedang terbaring lemah akibat penyakit paru yang menggerogotinya.

Mengetahui info ini, saya melakukan kontak dan koordinasi dengan dongan tubu, agar bersama-sama memberikan perhatian untuk mengobati penyakit  Helman. Letkol. Ckm Ricardo Suganda Simanjuntak, M.Kes, yang juga mengenal baik Helman, langsung tanggap dan memfasilitasi Helman untuk diperiksa, dirawat dan diobati di RST Jl. Putri Hijau Medan. Pasca di rawat, penyakit Helman menurut dokter bisa diobati secara rawat jalan dan perlu perbaikan gizi, dan Helmanpun diperbolehkan pulang.

Kondisi ekonomi Helman, apalagi sejak sakti tak bisa lagi menggeluti pekerjaannya sebagai musisi jalanan, semakin suli. Persoalan, apa yang mau dimakan hari ini, membuatnya tidak mampu memulihkan kesehatannya. Kemaren Rabu (5/10), Poli Simanjuntak kembali menginformasikan, kondisi Helman semakin memburuk. Dengan suara serak, dan memelas, Helman berkata “Anggia, ndang malum dope sahithu. Urupi jolo au… Paboa jolo tu angka dongan tubunta, asa boi diurupi nasida au”, katanya.

Paima Abang, huurupi hami pe….!