JuntakNews (Medan),

“TIDAK BOLEH ADA LAGI DARAH DAN AIR MATA MENGALIR DI KANTOR POLISI”, tulisan di berbagai billboard besar di Kota Medan dengan latarbelakang gambar Irjen Pol. Oegroseno, Kapolda Sumut, bagi Polisi di Polsek Sunggal, hanyalah sebatas slogan kosong dan tak berarti apa-apa. Buktinya, saat polisi sedang bangkit memperbaiki citranya, 3 (tiga) orang polisi dari Polsek Sunggal Medan, justru bertindak sebaliknya.

Cara lama, paradigma lama, kembali dipraktekkan. Bal-bal, ancam, caci maki, hingga megaku. Perangai polisi zaman batu seperti inilah yang dialami oleh Eliezer Simanjuntak (33). Merasa tidak memiliki ganja yang ditemukan terletak puluhan meter dari dangaunya di Tanah Garapan Jl. Germenia Sukadono Kecamatan Helvetia, Kab. Deli Serdang, Elyezer yang mendapat pukulan, pitingan di leher, di depan para tetangganya, tetap bersikukuh tidak mengetahui apalagi memiliki ganja yang ditunjukkan salah seorang dari 3 (tiga) orang polisi yang datang tiba-tiba ke halaman rumahnya.

Perlakuan kasar ketiga polisi ini pun sudah mendapat protes dari warga yang menyaksikan agar menghentikan pemukulan, namun ketiga petugas polisi justru membawa paksa Elyezer ke Kebun Coklat di Pinang Baris. Tuduhan yang dialamatkan, pemilikan ganja.

Di Kebun Coklat ini, perlakuan kasar polisi inipun berulang. Elyezer dipaksa mengaku. Setiap Elyezer menjawab “tidak”, pukulan, tendangan bahkan dipukul dengan balok kayu mendarat ke tubuhnya. Tidak berhasil memaksa Eliezer, ketiga polisi inipun menggadang Elyezer ke Polsek Sunggal. Oleh Juper NGATIJAN, Elyezer diproses verbal (BAP), tanpa didampingi pengacara, akhirnya menandatangai BAP, sebab sudah tak mampu lagi menahankan rasa sakit di sekujur tubuh dan ketakakutan yang luar biasa.

Eliezer Korban Rekayasa Polisi?

Setelah menandatangani BAP, akhirnya kasus ini, diketahui oleh Biro Advokasi Generasi Simanjuntak yang mengirimkan seorang Advokat Oktoman Simanjuntak, SH, MH untuk mencari tahu duduk perkaranya. Hasil pembicaraan yang sengaja direkam oleh Oktoman, terungkap bahwa Elyezer, diduga telah menjadi korban rekayasa polisi yang bertujuan lain, yang lebih dikenal dengan istilah 86 (selesaikan di tempat). Merasa usahanya, tidak membuahkan hasil, ketiga petugas polisi memaksakan diri membuat seolah-olah kasus pemilikan ganja ini seperti ada.

“Tidak”, itulah jawaban Elyezer ketika Oktoman mempertanyakan apakah dirinya memiliki ganja yang ditemukan polisi puluhan meter dari dangaunya itu. Ceritanya, ketika Elyezer sedang duduk-duduk di depan dangaunya, seorang yang dikenalnya bernama Edy Malau, datang dan duduk menemaninya. Edy Malau.

Tidak lama berselang setelah kehadiran Edy Malau, tiba-tiba, 3 (tiga) orang polisi berpakaian preman mendatangi mereka berdua dan langsung bertanya, “Apa isi kertas yang di tanganmu itu?”, kepada Elyezer. Sambil menunjukkan gulungan kertas koran yang sedari tadi dipegangnya, Elyezer membuka gulungan kertas sambil menunjukkan ke arah polisi si penannya dan tidak berisi apa-apa, alias kosong.

Merasa tidak menemukan apa-apa, polisi inipun langsung menarik tubuh Elyezer disaksikan oleh Edy Malau, dan mulai membentak. “Kau, menyimpan ganja kan?”. Belum reda rasa terkejut Elyezer, tiba-tiba salah seorang polisi dari puluhan meter dari tempat mereka duduk, mendakat dan menunjukkan bungkusan yang katanya berisi ganja. “Ini, kau sembunyikan ya?”, katanya sambil mendekat dan memukul.

“Ngaku kau!”, pukulan mendarat ke tubuh Elyezer. Sambil dipiting (dicekik),Elyezer mendapat pukulan bertubi-tubi. Sementara Edy Malau, hanya menonton. Ringisan dan jeritan Elyezer akhirnya menarik perhatian istri dan tetangganya. Mereka berupaya menghentikan polisi agar tidak memukuli Elyezer lagi. “Kalau kau tak ngaku, mati kau malam ini kubuat”, kata salah seorang polisi ke Elyezer. Warga dan istri korban semakin histeris dan mulai menarik Elyezer, mencoba membantu. “Sudahlah, ngaku ajalah kau”, kata Edy Malau. Elyezer, tetap bersikukuh, dan mulai sadar bahwa dirinya sedang “diolah” oleh Edy Malau dan ketiga polisi ini. Akhirnya Elyezer dibawa paksa, beserta Edy, katanya ke Kantor Polisi. Di Terminal Pinang Baris, mendekati Pos Polisi, kembali Elyezer dipukul pakai balok kayu di dada dan punggungnya. Sekira pukul 15.00 Wib, Edy Malau pulang ke Tanah Garapan, tidak ditahan, namun Elyezer diboyong ke Polsek Sunggal.

Pemeriksaan Tidak Didampingi Pengacara

Dugaan pemilikan ganja, sebagai pidana dengan ancaman hukuman di atas 5 (lima) tahun, oleh KUHAP diwajibkan mendapat pedampingan pengacara. Polsek Sunggal, sepertinya tidak perduli dengan KUHAP, terbukti dengan ditandatanganinya BAP oleh Elyezer, tanpa pengacara.

Ketika hal ini dipertanyakan langsung oleh Oktoman, pengacara yang dikenal luas di Kota Medan ini, kepada Wakapolsek bermarga  Samosir, yang bersangkutan mengatakan, agar Oktoman menemui pelaku dan membuat kronologi kejadian untuk diserahkan kepada Wakapolsek sebagai bahan pertimbangan.

Dari kronologi yang dengan waktu cepat dibuat oleh Oktoman dan sudah diserahkan ke Wakapolsek, diketahui bahwa pihak kepolisian berupaya memberikan pengacara pro deo, namun setelah BAP ditandatangani. Kesediaan dan kesiapan Oktoman mendampingi dan menjadi pengacara bagi Elyezer, dengan sendirinya menggugurkan niat polisi menggunakan pengacara pro deo. Dan, kasus inipun menjadi perhatian Pengurus Pusat Generasi Muda Simanjuntak.

Aktifis GM-SSSI&BBI, Protes Kapolsek

Mendapat penjelasan lengkap dan membaca kronologi Elyezer, Aktifis Generasi Muda Simanjuntak yang berkumpul di Dr. Koffie Deli Plaza Medan, terdiri dari Letkol Ckm Ricardo Suganda Simanjuntak, MKes, Drs. Herlen Simanjuntak, Rudyard Simanjuntak, Dermawaty Simanjuntak, Ir. Palti Simanjuntak, Poltak Simanjuntak beserta Oktoman Simanjuntak,  SH, MH sepakat melakukan advokasi terhadap Elyezer.

Langkah awal yang disepakati adalah mempertanyakan perihal kasus ini dengan mengirimkan sms ke nomor 081340321818, nomor HP Kapolsek Sunggal. Salah satu isi sms yang terkirim:

“Selamat malam Pak Kapolsek! Kami mendapat pengaduan dari orang tua Elyezer Simanjuntak, perihal tindakan petugas polisi dari Polsek Sunggal yang melakukan  pemukulan, penangkapan dan pemeriksaan yang justru dengan cara melanggar hukum. Kami Pengurus Pusat Generasi Muda Simanjuntak, mendesak Pak Kapolsek untuk mengevaluasi penanganan kasus ini, serta melepaskan Eliezer yang menjadi korban kekerasan dan rekayasa kasus ini. Kami sangat berkeinginan Pak Kapolsek, bersedia mengoreksi kinerja anak buah Bapak, serta menerima kami mendiskusikan kasus ini. Harapan kita tidak ada lagi air mata dan darah menetes di Polsek Sunggal. Terimakasih. Salam Poltak Simanjuntak”.

Respon Kapolsek yang menerima sms ini, dengan menghubungi lewat pembicaraan telepon, dan berjanji akan mempelajari kasus ini. Kita lihat saja, tindakan Pak Kapolsek ini, jika tidak berarti, maka Pengurus GM-SSSI&BBI akan mem-propamkan polisi…