*Dilaporkan ke Polsek Kota Medan Area, Pelaku bebas berkeliaran.
*Suami Pelaku : Sehari-hari dikenal Informan Polsek Medan Area.

JuntakNews (Medan),

“Si miskin selalu kalah!”, ungkapan ini sepertinya cocok menggambarkan derita pasangan Togi Simanjuntak (Hutabulu 14) dan Rosmina br. Silaban. Bekerja sebagai tukang reparasi kursi dan istri bekerja sebagai pengumpul barang bekas, dengan anak 6 (enam) orang, keluarga ini tergolong warga miskin. Menempati rumah di Jl. Tangguk Bongkar VI/75 yang dikontraknya dari Bistok Simanjuntak, harus membayar sewa kontrak sebesar Rp. 5.5 Juta untuk 2 (dua) tahun. Selain sebagai tempat tinggal, rumah ini juga dipergunakan sebagai tempat usaha.

Sebagaimana perjanjian kontrak rumah dengan Bistok Simanjuntak, keluarga Togi merasa memiliki hak atas pekarangan dan sebatang pohon jambu yang tumbuh di halaman depan rumah kontrakan ini. Namun, bagi keluarga Parlindungan Sihombing yang beristrikan Rame br. Simanjuntak yang adalah saudara kandung Bistok Simanjuntak, tidaklah demikian. Rumah bisa dikontrak, tetapi jambu yang tumbuh di halaman rumah itu, adalah hak keluarga pemilik rumah. Anggapan salah ini pulalah yang memicu timbulnya perkara kedua keluarga yang bertetangga ini.

Jambu Berbuah Percekcokan

Hari Minggu tanggal 4 Juli 2010, Rosmina Silaban, istri Togi pergi ke pajak seperti biasa untuk mengumpulkan sisa makanan untuk ternak babinya. Sekembali dari pajak, Rosmina melihat pohon jambu yang sedang berbuah dan tumbuh di depan rumahnya, bergoyang-goyang dan buah yang belum matang terlihat berjatuhan ke tanah. Ternyata seorang laki-laki yang dikenalinya sebagai Parlindungan Sihombing sedang memanjat pohon jambu dan memanen buah yang sudah matang dan menjatuhkan buah-buah yang masih belum matang.

Melihat tingkah Parlindungan yang merupakan tetangga mereka itu, Rosmina mulai angkat bicara untuk memprotes tindakan Parlindungan. “Janganlah semua diambil, tinggalkanlah sama kami”, kata Rosmina.

Parlindungan yang ditegor, bukannya menghentikan tindakannya, justru menjawab seraya melontarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan, apalagi kepada sesama orang yang bertetangga.

Dengan nada keras dan sinis Parlindungan mengatakan “Tidak ada hak bapak kau di sini. Kalian hanya penyewa rumah. Kok keberatan kau?”, sambil meneruskan memanen jambu dan menjatuhkan jambu yang masih kecil-kecil.

Ternyata, dari rumah sebelah, Rame br. Simanjuntak melihat pertengkaran mulut antara suaminya dan Rosmina. Pertengkaran mulutpun makin seru. Rame justru ikut menimpali, membantu suaminya.

“Hey, Kau tak sadar diri iya… Kalian itu penyewa, bercermin dulu di palakka ni Babi (tempat makan babi). Asal-usulmu pun tidak jelas. Kau lahir dari bambu (mapultak sian bulu). Dari tulangmu, kami tahu bahwa kau keturunan Lonte. Dan, anak-anak perempuanmu pun semua jadi Lonte”,  Caci maki dan hinaan meluncur dari mulut Rame.

Mendengar cekcok mulut  ini, Rita Febriana Simanjuntak, yang sedari tadi mendengar dari dalam rumah, datang menghampiri ke halaman rumah.

Dihina dan Disiksa

“Tega kali Kakak bilang aku Lonte. Buktikan ucapanmu itu…”, protes Rita.

Tidak terima dengan protes Rita (19), Rame justru makin bringas dan bergegas mengambil sepotong broti dan melompati pagar sedengkul yang membatasi rumah mereka dan memukulkannya ke kepala Rita hingga berdarah. Sambil terhuyung, Rita berusaha merebut dan menarik broti yang dipegang Rame. Tarik-menarik terus terjadi hingga Rita terseret ke arah rumah Rame.

Rita kalah kuat dan tidak mampu merebut broti yang dipegang kuat oleh Rame. Setelah tangan Rita lepas dari broti, Rame kembali melakukan pemukulan ke arah Rita. Tak puas dengan pukulan broti ditangannya, Rame menjambak rambut Rita, yang membuat Rita menjerit kesakitan.

“Aduhhhh… sakit… Tolong….!”, teriak Rita.

Rame bukannya melepas Rita, justru menarik Rita ke dalam rumahnya. Melihat kejadian ini, Santa, salah seorang kakaknya Rita pun menghampiri Rita untuk melakukan pertolongan. Namun, belum sempat dapat menolong adiknya, Santa yang mengalami keterbelakangan mental itu pun harus mundur sebab Parlindungan, suami Rame menghampirinya dan menghajar mulut Santa hingga berdarah. Terbata dan meringis kesakitan, Santa menjauh ketakutan. Sementara Rita dikunci dalam rumah, dan terus dipukuli oleh Rame.

Jeritan, tangisan dan permintaan tolong Rosmina, Rita dan Santa, akhirnya mendapat perhatian para tetangga lainnya, dan melerai perkelahian yang tidak seimbang ini. Rosmina, merasa terhina, dan miris melihat penderitaan kedua anak perempuannya Rita dan Santa, yang menjadi korban kebringasan pasangan suami istri Parlindungan – Rame.

Dilaporkan ke Polisi, Pelaku Tidak Ditahan

Atas rembuk keluarga dan dorongan para tetangga, akhirnya Rosmina membawa anak perempuannya Rita yang mengalami luka memar dan berdarah di kepala untuk melapor ke Polsek Kota Medan Area. Sementara, Santa yang hanya mengalami luka di mulut, ditinggal di rumah.

Di Polsek Kota Medan Area, Penyidik Pembantu Indra J. Saragih menerima laporan pengaduan Rosmina dan menyuruh untuk membawa Rita berobat dan menjalani visum et repertum di Rumah Sakit Bhakti. Berdasarkan Laporan Polisi No. Pol : LP / 846 / VII / 2010 / Tabes. Area, tertanggal 04 Juli 2010, Pasangan Suami Istri Parlindungan Sihombing dan Rame br. Simanjuntak ditetapkan sebagai tersangka atas tindak pidana Penganiayaan Secara Bersama-sama (Pengeroyokan) dan atau Penghinanaan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 jo 351 subs 315 KUHPidana.

Penetapan status tersangka terhadap pasangan suami istri ini, ternyata tidak diikuti tindakan penahanan terhadap mereka oleh Polsekta Medan Area. Ketika keluarga pelapor mengkonfirmasi kepada pihak kepolisian Polsekta Medan Area, perihal keinginan agar dilakukan penahanan terhadap pelaku tindak pidana ini, oleh Juper mengatakan bahwa pertimbangannya adalah “Tidak mungkin melakukan penahanan suami-istri sekaligus”, sebagaimana ditirukan oleh Rosmina. Tidak ditahan dengan status tersangka, ternyata menjadi ancaman baru bagi keluarga Rosmina, sebab pasangan suami-istri ini, justru tampil lebih pongah.

Berkas Tidak Lengkap, Polisi Minta Korban Memfoto Pelaku

Berdasarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan No. Pol : K / 315 / VIII / 2010 / Area, tertanggal 07 Agustus 2010 yang ditujukan kepada Rita Febriana Simanjuntak, dinyatakan bahwa proses penyidikan telah dilakukan pemeriksaan terhadap pelaku dan saksi-saksi. Kesimpulan penyidikan bahwa telah terjadi Tindak Pidana Penganiayaan Secara Bersama-sama (Pengeroyokan) dan atau Penghinaan. Dan, sebagai tindak lanjut pihak Polsek telah melanjutkan berkas ke Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Dari hasil penelusuran perkembangan kasus ini, diketahui, bahwa pihak Kejaksaan Negeri Medan, ternyata mengembalikan berkas (P-19) ke Polsek Medan Area, dengan alasan Berkas Tidak Lengkap, karena tidak dilengkapi dengan Photo Diri kedua pelaku. Ketika dikonfirmasi kepada Penyidik Pembantu Indra J. Saragih, membenarkan hal tersebut.

“Berkas dikembalikan oleh Kejaksaan, karna tidak dilengkapi dengan Photo Diri kedua tersangka. Kami sudah melayangkan surat panggilan, tetapi tidak diindahkan”, kata Indra melalui telepon selularnya. Dari sebuah pesan singkat yang dikirimkan Indra J. Saragih kepada Ibu Korban “Nantulang, fotonya belum ada diberkas. Berkasnya P-19. Yang kurang fotonya. Saya sudah datangi jaksanya karna berkasnya P-19 lagi. Jadi kalau nantulang mau berkas P-21, bilangin sama jaksanya karna yang kurang hanya foto. Kami minta tolong difoto dianya. Kalau sudah ada, bawa sama kami”.

Isi pesan dan Penjelasan Penyidik Pembantu ini, justru memperkuat dugaan keluarga korban, bahwa antara pelaku dengan Polsek terjadi persekongkolan, apalagi santer diketahui bahwa Parlindungan Sihombing merupakan “Kancil”, atau informan yang sering dimintai jasanya oleh pihak Polsek selama ini. Bagaimana mungkin keluarga korban diminta untuk memfoto pelaku yang beringas itu???

Terhadap dugaan ini, keluarga korban didampingi Pengurus PSSSI&B Sektor 41, Juara Simanjuntak, mengadukannya ke Biro Advokasi Generasi Muda Simanjuntak, Rudyard Simanjuntak, Poltak Simanjuntak,  Letkol Ckm Ricardo Simanjuntak, MKes dan Pandapotan Simanjuntak, SH yang ditemui di kompleks Pengadilan Negeri Medan, Selasa (23/11). Respon positif dari Biro Advokasi GM-SSSI&BBI, menjanjikan akan mengawal penuntasan kasus ini, hingga pelaku mendapat ganjaran berat sesuai dengan hukum dan keadilan bagi korban dan keluarga dapat digapai. Semoga!