JuntakNews (Medan),

Dua minggu sejak dilaporkan ke Polres Asahan, Bripka Pardamean Butarbutar terlihat masih bebas lalu lalang di Kisaran, bahkan terlihat masih bekerja seperti biasa dan menggunakan baju dinas. Hal ini pula yang mendorong Duma Anna Simanjuntak menemui Tim Advokasi GM-SSSI&BBI di Medan, untuk menyampaikan kekecewaannya terhadap penanganan kasus KDRT oleh Polres Asahan.

“Saya mendapat berita dari teman-teman di Kisaran, bahwa Bapaknya David (Bripka PB, red), terlihat bekerja seperti biasa. Bukan itu saja, ada juga yang melihat dia membonceng perempuan SM selingkuhannya itu”, ungkap Duma. Informasi ini sepertinya mengandung kebenaran, sebab beberapa hari yang lalu Duma terdengar menerima telepon dari Ipda Siregar dan mengatakan “Jangan kau kira si Butarbutar itu binatang, sehingga dengan gampang dipenjarakan”.

Entah karena perlindungan Ipda Siregar yang merupakan atasan Bripka PB, atau kehebatan Bripka PB sendiri memutarbalikkan fakta, yang jelas hingga berita ini diturunkan belum ada pemberitahuan dari pihak Polres Asahan tentang perkembangan penyelidikan dan penyidikan polisi pelaku KDRT ini.

Terhadap kondisi ini, Tim Advokasi GM-SSSI&BBI, akan mempertanyakan perkembangan penanganan kasus ini ke Kapolda dan Kapolres Asahan. “Jika ternyata Polres Asahan lebih memilih melindungi anggotanya, kami akan mempersoalkan kasus ini ke institusi yang terkait”, kata Rudyard.

Mengingat kasus kekerasan yang mendera Duma oleh suaminya sudah berulang, dan selalu diselesaikan dengan jalan damai, tentunya Surat Pernyataan yang pernah ditandatangani oleh P. Butarbutar tanggal 23 Pebruari 2009 di hadapan AKP H.M. Dalimunthe – Kasat Narkoba Polres Asahan sebagai atasannya langsung, tentu kasus ini tidak seharusnya dipersulit untuk diselesaikan. Salah satu bunyi Surat Pernyataan di point 4, berbunyi “Apabila isi dari surat pernyataan yang saya buat di atas saya langgar ataupun tidak saya indahkan, maka saya bersedia di tuntut sesuai dengan hukum yang berlaku”.