JuntakNews (Medan),

Pengaduan Duma Anna Simanjuntak (27) ibu dari 2 (dua) orang anak David (5) dan Tua (3), kepada Pengurus GM-SSSI&BBI, mendapat respon cepat. Langkah paling awal adalah menyusun tertimony Duma, agar gambaran persoalan lebih terang dan jelas. Testimony ini jugalah yang dipakai sebagai bahan berita, sebagaimana telah direlease di beberapa surat kabar, seperti Pos Metro Medan, Metro 24 dan Batak Pos.

Menghindari kesimpangsiuran rumors, isu dan berita menyangkut kasus KDRT yang mendera Duma yang justru dilakukan suaminya sendiri Bripka PB, secara utuh testimony ini dimuat di website ini.

TESTIMONY DUMA ANNA SIMANJUNTAK

LIMA TAHUN DI BAWAH KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)

DAN MENJADI ISTRI SEORANG POLISI PESELINGKUH

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

  • Nama : Duma Anna Simanjuntak
  • Tempat/Tanggal Lahir : Medan/23 Pebruari 1983
  • Alamat : Jl. Sei Ismail No. 20 Kisaran Kabupaten Asahan
  • Status : Menikah dengan Bripka Pardamean Butarbutar
  • Unit Samapta – Polres Asahan – Kisaran
  • Pekerjaan : Bidan PTT Desa Rawang Baru Kec. Pasar IV – Kisaran
  • Anak : 1. David Butar-butar (5 th)              2. Rivaldi Martua Butar-butar (3 th)

Menuliskan kesaksian hidup saya, berkaitan dengan tindakan yang melanggar norma kesusilaan, agama dan budaya yang dilakukan suami saya sendiri seorang Personil Polisi yang saat ini bertugas di Unit Samapta Polres Asahan di Kisaran, kepada saya, anak-anak kami dan kepada kedua orang tua saya.

Kesaksian ini saya perbuat didorong oleh keinginan saya sendiri untuk lepas dari rasa takut terhadap ancaman dan terhadap tindakan kekerasan yang berulang-ulang dilakukan oleh suami saya, sehingga hubungan suami istri yang kami bina selama ini menuju kehancuran.

Sebagai istri seorang polisi, permasalahan yang menimpa keluarga sudah berulang-ulang saya laporkan kepada pihak atasan suami saya di Polres Asahan, namun hingga saat terakhir saya menuliskan kesaksian ini, suami saya semakin menjadi-jadi melakukan pengancaman, umpatan, caci maki, penyiksaan fisik dan non fisik yang membuat saya ketakutan, depresi dan hampir putus asa.

Tujuan saya menuliskan kesaksian ini, adalah agar saya sebagai seorang perempuan yang membutuhkan perlindungan dan ibu dari 2 (dua) orang anak-anak kami, serta sebagai seorang Bidan PTT, dapat melanjutkan kehidupan saya dan anak-anak, dengan aman, tanpa rasa takut menjadi korban kebrutalan suami.

Menikah dan Dikaruniai 2 (dua) Orang Anak

Awalnya saya berkenalan dengan Pardamean Butarbutar yang akhirnya saya ketahui sebagai seorang personil polisi, dan ibunya br. Simanjuntak. Hubungan kekerabatan Batak, sebagai “Pariban”, membuat kami cepat menjalin hubungan persahabatan dan akhirnya berpacaran.

Apalagi, ibunya Pardamean terus mendorong hubungan kami agar terus dibina, bahkan ketika saya masih mahasiswi di Akbid Senior Padang Bulan di Medan Semester VII tahun 2004, kedua orang tua Pardamean sudah datang ke rumah orang tuaku di Lubuk Pakam untuk berkenalan dan memberitahu keinginannya agar saya menjadi menantunya kelak.

Hubungan kami semakin serius, apalagi ketika Pardamean menjalani pelatihan di Sampali – Medan, kami sering bertemu sebagai sepasang kekasih yang ingin meneruskan hubungan hingga ke pernikahan.

Tanggal 5 Oktober 2004, kami melangsungkan pernikahan di Gereja HKBP Sungai Kana I dan Pesta Adat dilakukan di Desa Sungai Kana II, tempat tinggal mertua saya. Sebelum proses pernikahan gereja dan adat, oleh calon suami saya dibawa menghadap ke atasannya di Polres Asahan di Kisaran dan secara resmi mendapat izin menikah.

Tanggal 21 Juli 2005, anak pertama kami lahir yang kami beri nama David, dan tangal 4 Agustus 2007, lahir anak kedua yang kami beri nama Tua. Sejak mengandung anak kedua, saya merasakan adanya perubahan di diri suami saya.

Biasanya, jika suami saya terlambat pulang dari kantor, dia selalu memberitahu dan selalu berusaha pulang ke rumah untuk menemui istri dan anaknya. Tetapi, belakangan tanpa ada pemberitahuan, bahkan sering berdusta mengaku masih kerja, tetapi ketika kucek ke kantor dan kepada teman-temannya, ternyata suami saya sudah lama pulang dari kantor.

Suami Berubah Menjadi Pemarah

Handphone yang biasanya bebas diletakkan di rumah, dan bebas juga saya pakai dan lihat pesan-pesan didalamnya, belakangan selalu dia pegang dan selalu menggunakan kode PIN. Ini merupakan kebiasaan baru. Sebab sebelumnya, suami saya selalu terbuka memberitahu kepada siapa dia berkomunikasi. Belakangan, dia selalu menghindar jika sedang melakukan komunikasi lewat HP, baik panggilan telepon maupun sms.

Sampai suatu ketika, saat suami saya sedang tidur lelap, masuk panggilan ke HP nya dan saya lihat nama yang tertera di layar monitornya nama laki-laki. Ketika saya angkat ternyata suara seorang perempuan dan menanyakan keberadaan suami saya.

Kecurigaanku pun semakin menguat, apalagi suami saya semakin menunjukkan perubahan sikap. Sering marah, membentak dan bahkan memaki-maki saya dan kedua orang tua saya. Sebagai istri, saya hanya bisa mengurut dada dan bersabar dan mencoba memahami suami saya yang barangkali mempunyai permasalahan di pekerjaannya.

Perubahan suami saya semakin menjadi-jadi, apalagi setelah tahun 2008, ketika dia aktif berbisnis kayu di Kisaran. Suami saya semakin kasar, bahkan mau melakukan pemukulan terhadap saya.

Suatu ketika suami saya mengeluhkan sakit di alat kelaminnya. Sebagai seorang bidan, saya memeriksa dan ternyata, suami saya terserang penyakit kelamin jenis Gonorhoe (GO). Kelaminya bernanah dan kesulitan buang air kecil. Malu diketahui orang lain, akhirnya saya mengkonsultasikan perihal penyakit ini ke dokter. Tentu saya tidak mengaku bahwa pasien yang saya konsultasikan ini adalah suami saya sendiri. Atas asistensi dokter, akhirnya saya mengobati suami saya hingga sembuh.

Perselingkuhan Suami Terkuak

Tanggal 26 Desember 2008, saat Pesta Natal Kedua, ketika mau berangkat ke gereja, tiba-tiba ada masuk panggilan ke HP suami saya dan dia langsung pergi menjauh dari saya untuk menerima panggilan telepon ini. Setelah selesai bertelepon, saya bertanya, “Dari siapa Bang?”. Dia dengan kikuk seolah menutupi sesuatu mengatakan bahwa dirinya dipanggil atasannya ke kantor untuk menjual stiker guna kebutuhan dana akhir tahun.

Dengan buru-buru, suami saya mengenakan pakaian dinasnya dan tanpa permisi pergi. Saya dan anak-anak yang sudah bersiap pergi ke gereja hanya bisa bingung.

Curiga dengan kepergian suami, saya mulai berburuk sangka dan curiga, sehingga saya putuskan untuk tidak pergi ke gereja, tetapi justru pergi menguntit suami saya, ingin mengetahui kemana suami saya pergi. Anak-anak saya titip ke tetangga.

Dengan mengendarai sepeda motor, saya berupaya mengikuti suami saya. Ternyata, bukannya menuju kantor, justru masuk ke area hotel Sejahtera yang terletak di belakang pajak Kisaran dan akhirnya tidak kelihatan. Tidak berapa lama, seorang perempuan juga masuk ke area hotel dan juga menghilang dan saya duga masuk ke kamar.

Saya menunggu didekat resepsionis selama setengah jam dan suami saya tidak juga keluar. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya ke petugas resepsionis hotel. Awalnya si resepsionis tidak mau memberi informasi, walau sudah saya katakan bahwa No. Polisi sepeda motor yang terparkir di area hotel itu adalah suami saya.

Tidak kehilangan akal, akhirnya saya mengatakan bahwa saya adalah istri polisi anggota Bhayangkara, akhirnya si petugas resepsionis bersedia menunjukkan kamar tempat suami saya serta mengakui bahwa perempuan yang lewat tadi masuk ke dalam kamar yang sama.

Mengetahui suami saya telah sekamar dengan perempuan lain, saya sangat terpukul, marah dan kebingungan. Akhirnya saya menghubungi Adik Bapak (Bapa Uda) Saya Mayor Inf. Jafar Simanjuntak untuk minta petunjuk.

Bapa Uda saya menyarankan agar melaporkan ke kantor polisi. Atas saran ini dan pertimbangan akan memakan waktu yang lama, maka saya menghubungi teman saya Maya Br. Simangunsong untuk datang menemani saya menggrebek suami saya di dalam kamar Hotel Sejahtera.

Dengan ditemani Maya br. Simangunsong, saya mendatangi kamar tempat suami saya dan seorang perempuan. Pintu saya ketuk pelan, dan suami saya menongolkan kepalanya dari bukaan pintu yang langsung saya dorong dan masuk ke dalam kamar. Dengan perasaan hancur saya marah sejadi-jadinya sebab menyaksikan suami dan perempuan yang tadi masuk kamarnya telanjang bulat.

Bukannya dia merasa bersalah, justru mengamuk dan mulai memaki-maki saya dan memukul saya. Akhirnya saya pulang ke rumah dan saya memboyong kedua anak saya ke rumah orang tuaku di Lubuk Pakam, untuk melaporkan kejadian yang baru saja saya saksikan dengan mata kepala sendiri.

Mudah Berjanji, Mudah Ingkar

Mengetahui kejadian yang menimpaku, kedua orangtuaku menghubungi semua saudara-saudaranya, para Bapa Udaku untuk datang ke Lubuk Pakam membicarakan masalah ini. Bapa Udaku Mayor Inf. Jafar Simanjuntak, langsung menghubungi suami saya dan mertuaku lewat HP, agar datang ke Lubuk Pakam menyelesaikan persoalan ini.

Ternyata, tidak mendapat respon yang baik dari mertuaku, sementara suami saya akhirnya datang didampingi oleh seorang temannya bermarga Sihombing, datang ke rumah orang tua saya dan menyampaikan penyesalan dan permintaan maafnya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Akhirnya, saya memaafkan dan mau ikut kembali ke Kisaran.

Tidak terlalu lama, hanya hitungan minggu, ternyata suami saya bukannya berubah. Dari HP nya saya lihat beberapa sms yang menunjukkan bahwa suami saya masih terus berhubungan dengan perempuan yang saya pergoki berduaan di kamar hotel itu.

Ketika saya mempertanyakan perihal isi sms dan foto mesra yang saya ambil dari dompetnya, suami saya justru mengamuk sejadi-jadinya. Pukulan, tendangan dan caci maki selalu menjadi ganjaran yang saya terima. Bahkan, ancaman bunuh dengan menodongkan pistol ke kepala saya dan kepada anak-anak saya dilakukannya.

Tidak tahan dengan perlakuan kasar dan ancaman yang sangat menakutkan ini, akhirnya saya berketepatan hati untuk melaporkan suami saya ke Unit P3D Polres Asahan.

Melapor Ke Polisi

Tanggal 23 Pebruari 2009, di Kantor Polres Asahan di Kisaran, laporan saya sepertinya ditanggapi oleh Unit P3D Polres Asahan dan memanggil saya menghadap. Oleh Kanit P3D Polres Asahan Iptu Ramlan Siagian dan Panit Pamintal Aiptu Miduk Silaban, saya diminta untuk bersedia berdamai dan menerima suami kembali, sebab dirinya telah membuat surat pernyataan yang juga ditandatangani oleh Kasat Narkoba Polres Asahan AKP H.M. Dalimunthe, SH.

Rasa ingin membangun bahtera rumah tangga yang baik, saya terus menekan perasaan dan menerima suami saya kembali. Perasaan ini ternyata hanya keinginan sepihak dari saya sebagai istri, namun suami saya justru tampaknya hanya ingin meredam masalah sehingga tidak mengganggu ke pekerjaannya sebagai anggota polisi.

Perubahan ternyata hanya untuk beberapa saat saja. Perilaku suami yang terus berselingkuh, ternyata tetap saja dapat saya ketahui. Tidak hanya dari sms, tetapi juga saya semakin yakin karena mendapat informasi dari berbagai pihak berkaitan dengan tindak tanduk suami saya di luar rumah.

Suami Berbisnis Kayu

Selain bertugas sebagai polisi, suami saya aktif mengelola bisnis kayu, sebab belakangan suami saya menyewa kilang pengolahan kayu di Kisaran dan mempekerjakan puluhan orang. Modal awal untuk membuka bisnis kayu ini, suamiku meminjam uang sebesar Rp. 5 juta dari orangtuaku.

Dengan dalih ke kilang, dia ternyata semakin intens menjalin hubungan dengan selingkuhannya. Saya akhirnya ketahui bahwa suami saya telah menyewa rumah untuk ditempati oleh perempuan selingkuhannya, dan saya semakin terganggu.

Di hadapan kedua orangtuanya, mertua saya, akhirnya saya memberanikan diri mempertanyakan suami tentang rumah yang dia sewa untuk dipergunakan oleh perempuan selingkuhannya. Bukannya mendapat jawaban, suami saya justru menodongkan pistol ke kepalaku dan mulai melakukan pemukulan, tendangan dan caci maki. Kedua mertua saya hanya tinggal diam, tidak berupaya melerai dan menyelamatkanku dari amukan anaknya.

Beberapa hari kemudian, untuk membuktikan kecurigaan dan informasi yang saya dapat dari orang-orang, akhirnya saya pergi ke kilang. Dan, dugaan saya ternyata benar. Sebuah rumah telah disewa oleh suami saya dan ditempati oleh perempuan yang pernah saya pergoki sekamar dengan suami saya di hotel yang belakangan saya ketahui bernama Sri Murni.

Di kilang itu, di saksikan oleh para pekerja kilang, suami saya menyiksa saya. Ditampar, dipukul dan ditendang. Kasihan dengan nasib saya yang tidak berdaya melawan suami saya yang seorang polisi, akhirnya seorang pekerjanya bernama Kurik, menawarkan untuk mengantar saya pulang.

Dengan mengendarai sepeda motor, saya dibonceng si Kurik, yang saya minta untuk mengantar ke rumah mertua saja, agar hubungan suami istri diselesaikan di sana. Ternyata suami saya belum puas menyiksa saya di kilang, dengan mengendarai sepeda motor, suami saya mengikuti kami dari belakang. Setelah jarak kami dekat, dari belakang, suami saya menendang dan memukul saya berulang-ulang sambil mencaci maki saya.

Mertua Tidak Melindungi

Tiba di rumah mertua, bukannya mendapat perlindungan. Mereka hanya diam saja, dan bahkan melontarkan kata-kata yang seharusnya tidak layak diucapkan orang tua kepada menantunya. Ketika saya mengatakan akan melaporkan suami saya ke polisi, kedua mertua saya justru mengancam saya akan membunuh saya dan kedua orang tua saya jika anaknya sampai dipecat dari kepolisian.

Kekerasannya kepada saya semakin menjadi dari hari ke hari, apalagi selama dia berbisnis kayu. Beberapa kali saya memergoki suami saya bersama perempuan selingkuhannya. Suatu ketika saya pernah menyaksikan suami bersama dengan selingkuhannya di Kafe Graha Terminal KUPJ. Lain hari, di tempat nongkrong bandrek di Akasia, lain harinya lagi di Jalan Sei Asahan dan juga di Parasamina.

Setiap kepergok, suami saya pasti melakukan tindakan yang justru menyakiti saya dengan caci maki, pukulan bahkan diludahi.

Pada tanggal 17 Juli 2009, saya membaca sms dari perempuan bernama Sri Murni di HP suami saya yang isinya meminta suami saya untuk menikahinnya, karena dia sudah capek dengan hubungan mereka yang tidak jelas selama ini. Ketika sms itu saya tunjukkan ke suami, dia berupaya merebut HP dari tangan saya. Karena saya berupaya mempertahankan HP tersebut, saya dipukul di wajah, hingga HP itu berhasil dia rebut dan selanjutnya HP itu dibantingnya hingga rusak dan mengeluarkan kartu di dalamnya dan juga merusaknya.

Tidak tahan dengan semua penganiayaan ini, saya keluar rumah untuk meminta tolong kepada tetangga. Saya dihadang oleh suami saya agar tidak keluar rumah lalu dengan sekuat tenaga seorang polisi mengangkat badan saya dan menjatuhkannya ke lantai hingga kepala membentur keras lantai rumah.

Entah karena capek, ketika suami saya menghentikan siksaannya, saya menyuruh pembantu kami yang bernama Niar untuk pergi ke kedai membeli minuman ringan dan seketika pintu terbuka, saya langsung lari keluar rumah dan menjerit minta tolong. Disaksikan banyak orang, seorang tukang becak bersedia menghantarkan saya ke Pos Lantas di Jalan Imam Bonjol Kisaran. Di sana saya bertemu dengan seorang yang saya kenal yaitu Pak Ance Butarbutar yang kebetulan lagi tugas di pos itu.

Oleh Pak Ance Butarbutar saya dibawa ke rumahnya dan memanggil Pak Pipa Butarbutar serta suami saya. Mereka mendamaikan kami di sana dan meminta agar suami saya minta maaf, dengan ancaman jika tidak mau minta maaf maka akan diteruskan pengaduan ke Polres.

Di hadapan kedua Marga Butarbutar ini, suami saya berjanji dan meminta maaf dengan menghiba, sehingga hati saya luluh dan memaafkannya serta bersedia pulang ke rumah bersama-sama. Tiba di rumah, suami justru bukannya berdiam di rumah, tetapi di permisi pergi ke kilang. Waktu kepergian suami saya ini, saya manfaatkan pergi ke rumah sakit untuk berobat dan memeriksakan kesehatan saya.

Tanggal 20 Oktober 2009, akhirnya saya membuat pengaduan Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan suami saya Tanggal 14 Oktober 2009, sekira pukul 19.00 Wib. Dan beberapa waktu kemudian di bulan Oktober 2010, Kaur Bin Ops Iptu Ahmad Yani mengirimkan surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penelitian Laporan dan menunjuk Bripka Rospita Nainggolan sebagai Penyidik Pembantu guna penyelidikan dan penyidikannya, dengan No. Pol : K/997/X/2009/Reskrim.

Setelah 2 (dua) minggu saya membuat pengaduan ke Polres Kisaran tentang tindakan KDRT yang dilakukan suami saya, sepertinya tidak ada kemajuan. Akhirnya saya berangkat ke Poldasu untuk meningkatkan pengaduan. Saya membuat surat pengaduan yang saya tembuskan juga ke berbagai instansi hukum yang saya anggap berkaitan dengan kasus yang saya hadapi.

Suami saya ternyata mengetahui bahwa saya akan mengadukannya ke Polda, dan dia marah. Kemarahannya dilampiaskannya dengan ancaman akan menyakiti anak saya. Anak kost yang tinggal di rumah kami Riska br. Butar-butar dan seorang pengasuh bernama Rini, bertelepon.

Dari telepon saya dengar suara gaduh dan tangisan anak kost yang bernama Friska Butarbutar, itu meminta agar anak dilepaskan bapaknya. Menurut anak kost itu, suami saya,mengancam akan membunuh anak kami David, jika saya meneruskan pengaduan ke Polda. Dan anak kost itu meminta agar saya segera pulang dan tidak meneruskan pengaduan, supaya suami saya mau melepaskan David, dari kamar yang sudah dikuncinya.

Takut anak kami disakiti, akhirnya saya pulang dan menarik pengaduan saya dari Polda. Tanpa permisi kepada kedua orang tua saya, langsung pulang ke Kisaran untuk menemui anak-anakku.

Bertemu dengan suami, dia menangis dan menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Dia dengan menghiba meminta saya tidak meneruskan pengaduannya ke Polda dan ingin agar keluarga kami kembali damai. Melihat sikapnya yang begitu menghiba, akhirnya hati saya luruh dan kembali lagi menerimanya sebagai suami.

Ternyata, janji dan airmatanya yang meminta maaf, hanya untuk beberapa waktu saja. Tindakan perselingkuhan terus saja dilanjutkannya. Sifat buruknya kembali muncul. Sering tidak pulang dan bahkan jika saya tanya, dirinya marah-marah dan mulai mengeluarkan kata-kata kotor dan ancaman.

Terhadap tindakan suami saya yang berulang-ulang ini, saya akhirnya melaporkan ke kantor polisi. Di kantor polisi, saya justru dinasehati untuk tidak meneruskan pengaduan sebab harus memikirkan nasib kedua anak-anak. Dan, seperti sebelumnya, masalah ini pun terselesaikan begitu saja.

Tanggal 10 Agustus 2010, ketika saya pulang ke rumah orang tua saya di Lubuk Pakam, untuk melihat Ibu saya yang sedang sakit, saya mendapat sms dari Sri Murni selingkuhan suami saya, yang isinya “Kamu mau tahu dimana laki mu sekarang? “Kau ke Medan iya?”. Mendapat sms seperti itu, walau baru tiba di Lubuk Pakam, akhirnya saya memaksakan diri untuk pulang ke Kisaran.

Tengah malam pukul 24.30 Wib saya berangkat dari Lubuk Pakam dan tiba di Kisaran pukul 05.00 Wib. Saya langsung ke rumah dan ternyata suami saya tidak ada di rumah. Akhirnya saya pergi untuk mencari tahu dimana suami saya. Dan akhirnya saya mencarinya ke rumah Sri Murni dan di sana kulihat sepeda motor suamiku.

Perselingkuhan Semakin Berani

Mengetahui bahwa suami saya sedang berada di rumah selingkuhannya, akhirnya saya menghubungi mertua saya agar datang langsung menyaksikan anaknya yang bersama dengan perempuan lain yang bukan istrinya.

Di depan mertuaku, di depan Sri Murni, selingkuhannya, suami saya mengamuk dan marah-marah, bahkan mengancam saya. “Kalau ibuku sampai sakit gara-gara kau bawa ke sini, kau akan ku bunuh”, katanya. Dia mengatakan bahwa dialah yang salah bukan Sri Murni, kepada kedua orang tuanya.

Ketika di dalam rumah Sri Murni, di satu sudut rumahnya, saya melihat sajadah, dan saya mengambil dan mengatakan, “Apa gunanya kamu beribadah, tetapi selalu mengganggu suami orang?”. Selesai kuucapkan kata-kata itu, suami saya langsung menghajar dengan meninju mukaku. Aku nanar dan menangis.

“Berani kau memukul aku di depan orang tuamu dan di depan perempuan ini iya?”, ungkapku sambil menahan rasa sakit. “Lihatlah pasti ada balasannya yang kau terima”, kataku.

Mertua saya, mulai angkat bicara dengan menanyakan, siapa yang membeli perabotan yang ada di rumah Sri Murni. Karena suami saya hanya diam ketika ditanya, justru saya yang menjawab, “Dia yang membeli”, sambil menunjuk ke suami saya. Dan jawabanku ini tidak ditampik oleh Sri Murni dan suami saya.

Melihat anaknya diam pertanda betul bahwa dirinyalah yang membeli perabotan yang ada di rumah Sri Murni, mertua laki-laki langsung mengamuk dan memarahi anaknya. Kedua mertuaku mengajakku pulang ke rumah dan mengatakan agar sepeda motor anaknya kami bawa saja pulang. Dan secara beriringan, saya dan mertua pulang ke rumah.

Tidak lama berselang, suami saya datang menyusul, justru memakai sepeda motor selingkuhannya. Tiba di rumah, suami saya bukannya duduk menghadap orang tuanya, tetapi pergi ke kamar kami dan mengambil tas seraya mengemasi barang-barangnya sepertinya mau pergi.

Melihat itu, saya menahannya agar tidak pergi. “Hargailah orangtuamu. Mari kita selesaikan persoalan ini dengan baik-baik”, pintaku. Dengan kasar dia menarik tasnya yang berusaha kurebut, hingga tas itu robek. Tanpa membawa tas, akhirnya suami saya tanpa permisi pergi keluar rumah dan saya duga kembali ke rumah selingkuhannya.

“Sudahlah Pak, biarlah dulu dingin anakmu, baru kalian nasehat” kataku ke mertua yang duduk terdiam melihat kekurangajaran anaknya.

Keesokan harinya, suami saya datang ke rumah dan memakai sepeda motor perempuan selingkuhannya itu juga. Melihat itu saya tidak dapat menahan marah. “Yang hebatlah kau, macam tak ada lagi kau hargai aku. Berani kau membawa kereta perempuan itu ke rumah ini”, bentakku sambil menggeser sepeda motor itu keluar dari halaman rumah kami.

Ketika saya mendorong sepeda motor itu keluar, suami saya langsung marah dan memukul saya, serta meneriaki saya dengan kata-kata kotor. Tidak terima dengan perlakuan kasar suami saya yang nyata-nyata sudah sering melakukan kesalahan, saya balas mengamuk, dan melakukan perlawanan.

Perkelahian tak seimbang terjadi. Melihat itu, anak kami David datang dan memberikan batu kepada saya. “Ma, ini batu, lempar Bapak”, katanya. Batu itu kuambil, dan saya pergunakan memukul lampu depan sepeda motor, hingga pecah. Suami saya kembali melakukan pemukulan, akhirnya saya mengambil sapu lidi dan saya pukulkan ke badan suami saya hingga gagang sapu itu patah.

Selama 2 (dua) minggu sejak kejadian ini, saya akhirnya melakukan gerakan diam. Tidak menegur, tidak bertanya dan tidak menghubungi suami saya.

Entah kenapa, setelah didiami selama 2 minggu, suatu hari saat pagi, suami saya mengatakan bahwa dirinya kurang sehat dan memintaku untuk menyuntiknya dengan vitamin. Mengetahui suami kurang sehat dan meminta untuk saya bantu, saya menyanggupinya dan membeli Neurobion untuk saya suntikkan.

Setelah obat sudah di tanganku, saya menghubungi suami saya untuk memintanya pulang agar kusuntik. Jawabannya, “sebentar lagi”. Dan, beberapa kali saya hubungi, jawaban yang sama yang saya terima dan akhirnya HP nya mati, tidak bisa dihubungi lagi.

Selama sejam saya mencoba menunggu dan menghubungi, suami saya juga tidak muncul. Hari sudah malam menunjukkan pukul 22.00 Wib, tiba-tiba anak kedua kami, terbangun dari tidurnya dan sontak menangis. Saya bujuk juga tidak mau berhenti menangis. Dia memencari bapaknya. Akhirnya saya menitipkan anak ke anak kost di rumah, untuk mencari keberadaan suami saya.

Di tengah guyuran hujan dan sengatan udara dingin malam, saya mengendarai sepeda motor pergi mencari suami ke berbagai tempat, ternyata tidak ada. Pengakuan teman-temannya di Kantor Polres, bahwa suami saya sudah sejak sejam yang lalu pulang dari kantor. Akhirnya, saya teringat ke rumah selingkuhan suami saya.

Suami Membela Selingkuhannya

Di sana saya melihat sepeda motor suami saya diparkirkan dan pintu rumah tidak tertutup. Saya mendatangi rumah itu dan di sanalah saya lihat suami saya sedang golek-golek hanya menggunakan sarung dan Sri Murni, selingkuhannya sedang menyetrika baju suami saya.

“Kau bilang kau sakit dan kau minta aku mau menyuntikmu. Aku sudah beli Neurobion, ternyata kau di sini”, dengan nada marah ke suamiku. “Aku berteduh, menunggu hujan reda aku akan pulang”, katanya. “Sudah sejam yang lalu kau pulang. Bohong saja kerjamu”, kataku lagi.

“Kau, kenapa kau gosok baju dinas suamiku?”, tanyaku ke si Murni. “Suka-sukakulah”, jawabnya sambil meneruskan menyetrika, seolah tidak ada masalah. “Kok nggak berhenti-hentinya kau mengganggu rumah tangga orang” , kataku meninggi. Barangkali tidak senang dengan tuduhanku mengganggu suami orang, si Murni mengangkat sterika hingga kabelnya tercabut dan mengarahkannya ke mukaku. Untung dapat saya elakkan, kalau tidak, mukaku akan terkena sterika.

Saya tidak tinggal diam, akhirnya saya berupaya melakukan perlawanan, agar strika yang dipegang Sri Murni lepas. Saya meraih rambutnya dan terjadilah pergumulan antar dua orang perempuan. Suami saya awalnya justru terkekeh-kekeh menyaksikan kami sedang jambak-jambakan. Merasa saya sudah pada posisi tersudut, akhirnya saya menggigit bahu Sri Murni, agar melepaskan cengkeramannya.

Upayaku ini ternyata berhasil, sebab Sri Murni melepaskan cengkeramannya dan mulai menjerit kesakitan. Melihat itu, suami saya justru berdiri dan langsung mendaratkan pukulan dan tendangan ke tubuhku secara bertubi-tubi. Tak cukup dengan memukul, dia menyuruh Sri Murni untuk keluar dari rumah dan mengunci pintu rumah dari dalam. Tinggal kami berdua di dalam rumah. Suami saya mengangkat tubuhku dan menghempaskanku ke atas tempat tidur. Aku merasa nanar dan kesakitan di sekujur tubuh.

Mendengar keributan ini, banyak tetangga yang berdatangan dan aku ditinggalkan di rumah itu, sementara suami saya dan Sri Murni masing-masing bawa sepeda motor. Sebelum pergi Sri Murni mengatakan “Awas kau, kulaporkan kau ke polisi”, katanya sambil berlalu dengan suami saya.

Melalui sms, Sri Murni meminta saya datang ke rumah mertua, sebab mereka ternyata pergi ke rumah mertua saya. Karena saya tidak mau datang, sms terus saja saya terima dari Sri Murni dengan kata-kata kotor. “Pengecut. Kau yang lonte”, dan banyak kata-kata kotor yang tidak layak untuk dibaca umum.

Tidak kusahuti sms-nya, akhirnya suami saya bertelepon dan mengatakan agar aku datang ke rumah mertua saya. Saat itu saya mau memastikan apakah mereka benar-benar ke rumah mertua, saya minta suami memberikan HP nya ke mertuaku perempuan. Setelah saya mendengar suara mertuaku perempuan, saya langsung mematikan HP.

Akhirnya saya putuskan melaporkan kejadian yang kualami ke kantor polisi. Dari jam 24.00 Wib hingga pukul 04.00 Wib saya di kantor polisi, mereka tidak juga memproses laporan. Saya hanya bisa duduk menunggu.

Saya kembali ke rumah untuk mengamankan anak-anakku dan menitipkannya ke rumah tetangga. Setelah itu aku pergi ke kantor polisi lagi untuk membuat laporan, kali ini didampingi kedua orangtuaku dan seorang sahabat orangtuku yang kebetulan juga anggota polisi yang bertugas di Polsek Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai bermarga Sinaga.

Tiba di kantor polisi, kami disuruh menunggu dengan alasan bahwa petugas penerima laporan belum datang. Ketika kami masih menunggu, terlihat Sri Murni masuk ke ruang pemeriksaan dan langsung dilayani oleh polisi. Dan ternyata, saya sudah lebih dulu dilaporkan melakukan tindak pidana penganiayaan pasal 351 KUHP terhadap Sri Murni.

Melihat ini, Sinaga sahabat ayahku yang juga polisi mempertanyakan langsung kepada polisi yang jaga saat itu. “Kenapa kami yang sedari tadi menunggu tidak dilayani, sementara ada yang datang kemudian justru dilayani lebih duluan?”. Mendengar pertanyaan Sinaga ini, akhirnya kami dipersilahkan untuk masuk ke ruangan pelaporan dan saya menyampaikan laporan penganiayaan yang juga saya alami dilakukan oleh Sri Murni dan Suami saya.

Di surat tanda terima laporan polisi, ternyata pasal yang dituduhkan bukannya pasal penganiayaan, tetapi hanya pasal “membuat perasaan tidak senang” dengan nama pelaku Sri Murni. Ketika Sinaga sahabat ayahku mempertanyakan, kenapa tidak menggunakan pasal 351 KHUP, polisi yang memeriksaku mengatakan, “nanti bisa diganti kalau sudah dalam pemeriksaan di Reskrim”. Saya merasakan ada yang tidak beres dengan cara polisi membedakan perlakuannya terhadap saya, walau saya anggota Bhayangkari.

Ternyata laporan Sri Murni itu justru dipergunakan untuk melakukan tekanan terhadap saya. Atas nasehat pihak kepolisian yang prihatin dengan nasib saya, mengusulkan agar saya membuat perdamaian dengan Sri Murni. Berdasarkan usul tersebut, akhirnya Sri Murni bersedia membuat pernyataan bahwa tidak akan menjalin hubungan dengan suami saya dengan konsekuensi, suami saya membayar uang sebesar Rp. 5 Juta.

Setelah uang dibayarkan oleh suami saya yang menurut Sri Murni merupakan hutang pribadi suami saya, akhirnya dirinya bersedia menandatangani surat perdamaian yang isinya tidak akan memperpanjang masalah penganiayaan yang sudah dilaporkannya. Tidak cukup dengan surat perdamaian itu, Sri Murni juga membuat surat pernyataan yang menyatakan bahwa dirinya tidak akan melakukan hubungan asmara lagi dengan suami saya.

Permasalahan dengan Sri Murni, bisa terselesasikan, namun suami saya yang sudah melakukan tindakan kekerasan belum juga diproses. Belajar dari pengaduan saya sebelumnya yang selalu kandas di Polres Asahan, maka saya dan keluarga berinisiatif untuk mengadukan permasalahan ini ke Biro Advokasi Generasi Muda Simanjuntak, guna mendapat pendampingan dan asistensi, sehingga pengaduan saya untuk yang terakhir ini dapat berjalan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Berulang-ulangnya tindakan perselingkuhan, kekerasan dan caci maki suami terhadap saya, akhirnya saya tiba pada kesimpulan, bahtera rumah tangga ini tidak lagi bisa dipertahankan.

Kesabaran untuk menunggu perubahan suami sudah cukup dan saat ini saya sudah siap untuk menerima akibat yang paling buruk, yang saya hindari selama ini. Namun, tanpa tindakan yang tegas, tentunya hanya akan menempatkan saya sebagai korban yang menghadapi ketakutan dan ancaman setiap waktu.

Langkah mempersoalkan tindakan kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Bripka PB, didampingi Ketua PSSSI&B Kisaran Horas Simanjuntak, membuat laporan di Polres Asahan, Senin (20/09) dengan bukti laporan polisi No. STBL/785/IX/2010/ASH tertanggal 23 September 2019 dan laporan ke Poldasu Rabu (22/09) yang didampingi oleh Biro Advokasi GM-SSSI&BBI.

Penutup

Saya menyadari, tanpa dukungan pihak-pihak yang bersedia membantu saya, maka persoalan ini akan berlalu begitu saja dan saya hanya dapat menerimanya sebagai sebuah takdir—suratan tangan. Tetapi, sebagai perempuan yang masih memiliki keinginan untuk tetap melanjutkan hidup dan menjadi pendamping anak-anak, saya tidak mau menerima ini sebagai takdir.

Saya akan melakukan semua upaya untuk memperjuangkan hak saya sebagai perempuan, sebagai istri, sebagai ibu dari kedua anak kami, sebagai istri polisi, sebagai abdi negara dan sebagai warga negara untuk mendapat perlindungan hukum dan keadilan.

Demikianlah kesaksian ini saya perbuat dengan sesadar-sadarnya, untuk saya pergunakan mengembalikan hak-hak saya sebagai perempuan, sebagai istri dan sebagai ibu dari 2 (dua) orang anak-anakku David dan Rivaldi Butarbutar.

Kisaran, September 2010

Duma Anna Simanjuntak

Pencari Keadilan