*Didampingi Biro Advokasi Generasi Muda Simanjuntak

*Pandapotan Simanjuntak, SH : Hukum harus ditegakkan terlebih kepada aparat penegak hukum.

JuntakNews – Medan (21/09),

Sungguh miris mendengar penuturan Duma Anna Simanjuntak (27), istri Bripka PB yang mengaku menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) oleh suaminya sendiri.

Berbagai bentuk kekerasan yang tidak pantas dilakukan seorang suami, apalagi seorang penegak hukum kepada seorang perempuan – istrinya dan ibu dari kedua anak-anaknya. Umpatan, caci maki, tinju, tendangan dan bantingan, selalu menjadi ganjaran yang diterimanya jika antara mereka terjadi komunikasi berkaitan dengan hubungan gelap Bripka PB dengan seorang perempuan dengan intial SM.

“Awalnya saya menduga bahwa suami saya sudah tidak jujur lagi dalam hubungan suami istri. Apalagi suatu ketika di tahun 2008, tiga tahun setelah berkeluarga, suami saya mengeluhkan sakit kelamin Gonorhoe (GO)”, tutur Duma dengan tertunduk seolah menahan malu mengungkap rahasia keluarganya.

Dugaan Duma ternyata tidak hanya isapan jempol belaka sebab terbukti pada tanggal 26 Desember 2008, Perayaan Natal Kedua, ketika mereka bersiap-siap pergi ke gereja bersama dengan kedua anak mereka yang masih balita. Bripka PB yang mendapat panggilan telepon dari seseorang yang menurut pengakuan Bripka PB kepada istrinya adalah atasannya di Polres Asahan yang memintanya untuk merapat ke kantor guna menjual stiker untuk kebutuhan dana akhir tahun Polres Asahan.

“Saya diperintah merapat ke kantor untuk menjual stiker keperluan dana akhir tahun”, kata Bripka PB kepada istrinya yang sudah bersiap mau ke gereja, sambil buru-buru mengenakan pakaian dan pergi.

Sepandai-pandainya tupai meloncat, suatu saat akan jatuh juga. Pepatah itu dapat mewakili nasib apes Bripka PB. Duma yang sejak awal sudah menaruh curiga justru mengurungkan niatnya pergi ke gereja, tetapi memilih menguntit suaminya. Upaya Duma ternyata berhasil, sebab suaminya yang mengaku merapat ke kantor justru masuk ke dalam Hotel Sejahtera Kisaran dan memarkirkan sepeda motornya di luar.

Kecurigaan Duma semakin menguat ketika melihat seorang perempuan paruh baya tidak lama kemuadian masuk ke area hotel dan memarkirkan sepeda motornya tidak jauh dari sepeda motor Bripka PB. Atas jasa resepsionis hotel, dengan ditemani oleh seorang sahabat dekatnya, Duma memberanikan diri menggrebek kamar yang ditunjukkan respsionis.


Gambar 1&2 : Hotel tempat perselingkuhan Bripka PB dengan SM ketika digrebek istrinya Duma.

Bagai disambar petir di siang bolong, Duma kaget dan marah menyaksikan pemandangan suami dan seorang perempuan di dalam kamar dalam kondisi tidak ditutupi sehelai benangpun. Entah karena kalut, Bripka PB yang dipergoki sedang berbuat jinah dengan perempuan yang bukan istrinya, justru mengamuk sejadi-jadinya kepada Duma istrinya. Pukulan dan tendangan mendarat di sekujur tubuh Duma.

“Dia memukul saya, mendorong saya hingga terjerambab di dalam kamar itu, di depan selingkuhannya”, aku Duma. Tidak tahan dengan perlakuan suami yang berbuat zinah dan kekerasan ini, akhirnya Duma laporkan ke Polres Asahan. “Pada saat itu saya divisum di RSU Kisaran”, tambahnya.

Atas bujukan berbagai pihak dan janji tidak akan mengulangi yang dilontarkan Bripka PB, hati Duma akhirnya luruh dan mencoba menerima pengakuan salah suaminya dan akhirnya menarik pengaduannya.

“Di hadapan atasannya, waktu itu suami saya masih di Sat Narkoba Polres Asahan, dia menandatangani surat pernyataan bahwa tidak akan mengulangi lagi tindakan perselingkuhannya”, jelas Duma. Perubahan yang diharapkan Duma ternyata hanya impian semata sebab tidak terlalu lama, suaminya Bripka PB kembali lagi ke kebiasaan buruknya.

“Tak lama setelah saya menarik pengaduan, suami saya kembali menunjukkan perilaku yang membuatku bingung. Sering terlambat pulang dan tidak memberitahu kemana pergi dan bahkan kadang mengaku piket, ternyata tidak ada di kantor”, jelas Duma. Setiap upaya mempertanyakan tindak tanduk suami, Duma selalu mendapat ganjaran yang justru di luar akal sehat.

“Dia selalu mencaci maki saya dan menuduh saya justru istri yang bawaannya curiga. Jika saya debat, maka tindakan kekerasan pun terjadi. Umpatan kotor dan pukulan, bahkan todongan pistol ke kepala pun dilakukannya. Takut dia kalap, akhirnya saya menjauh dan diam”, cerita Duma sambil menitikkan air mata.

Tidak menginginkan bahtera rumahtangganya hancur, Duma akhirnya selalu menempuh upaya diam dan menerima kembali suaminya. Sebaliknya, suaminya justru semakin menjadi-jadi. Ketika Duma melaporkan suaminya ke Polres dan ke Propam Poldasu, Bripka PB justru melakukan pengancaman. Tidak tanggung-tanggung, Bripka PB bagai manusia kalap tanpa akal meraih anaknya dari pengasuh dan mengancam membunuh anaknya sendiri dengan pisau dapur.

Kembali Duma harus menyerah demi keselamatan buah hatinya David (5) dan Tua (3) yang menangis sejadi-jadinya mendapat perlakuan kasar dari ayahnya sendiri. Setiap kejadian kasar dan tidak manusiawi dilakukan oleh Bripka PB, tindakan yang paling bisa dilakukan Duma hanya mengadukannya kepada kedua mertuanya, kepada orang tuanya di Lubuk Pakam dan ke Polres.

Kedua mertua Duma ternyata lebih memilih membela anaknya daripada menantu dan cucu-cucunya, sedangkan Polres entah karena faktor apa, justru tidak pernah bertindak tegas terhadap perilaku anggotanya terhadap istri yang jelas-jelas merupakan anggota korps Bhayangkari itu.


Gambar 3&4 : Didampingi kedua orangtuanya, Duma Anna Simanjuntak minta dukungan Pengurus dan Penasehat GM-SSSI&BBI

Tidak tahan dengan siksaan fisik dan bathin yang mendera Duma, akhirnya oleh pihak keluarga, Duma mengadukannya kepada Biro Advokasi Generasi Muda Simanjuntak untuk didampingi mempersoalkan nasibnya menghadapi kebrutalan suami yang seorang polisi itu.

“Tidak ada seorangpun yang kebal terhadap hukum Semua manusia sama di hadapan hukum, termasuk polisi. Kami siap mendampingi memperjuangkan hak-hak Duma menghadapi suaminya yang nyata-nyata tidak memposisikan diri sebagai suami yang baik lagi”, tegas Pandapotan Simanjuntak, SH, salah seorang pengacara yang cukup dikenal di Kota Medan ini.

Ketika dikonfirmasi kepada Ketua Umum GM-SSSI&BBI se-Dunia, Fernando Simanjuntak, SH melalui telepon selularnya mengatakan “Kami siap membantu saudara kami yang sedang menghadapi kasus hukum, apalagi KDRT. Pelaku harus mendapat ganjaran sesuai dengan perbuatannya. Sebagai aparat penegak hukum, pelaku sebaiknya dipecat dan dipenjarakan”, katanya.

Nada tak kalah tegas diungkapkan oleh Palti Simanjuntak, menanggapi kasus yang mengorbankan keluarga besar Simanjuntak. “Jika Polres Asahan tidak bertindak tegas sesuai dengan hukum kita akan mengangkat persoalan ini ke tingkat yang lebih tinggi. Bila penting kita akan melaporkan kasus ini ke Kompolnas di Jakarta, Komnas Perempuan, Komnas HAM, Komnas Anak dan LSM-LSM lokal, nasional bahkan internasional”, katanya.

Langkah mempersoalkan tindakan kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Bripka PB, didampingi Ketua PSSSI&B Kisaran Horas Simanjuntak, membuat laporan di Polres Asahan, Senin (20/09) dan laporan ke  Poldasu Rabu (22/09) yang didampingi oleh Biro Advokasi GM-SSSI&BBI.

Untuk memastikan kasus ini ditangani secara serius, Pengurus GM-SSSI&BBI mengadakan konferensi Pers Jumat (24/09) di Millenium Plaza. Hadir dalam konferensi pers ini, selain Duma Ana Simanjuntak yang didampingi ayah kandungnya, juga terlihat kehadiran Rudyard Simanjuntak – Ketua Tim Advokasi Duma, Ny. Simanjuntak br. Sianipar, Palti Simanjuntak, Poltak Simanjuntak, Mayor Ckm Ricardo Simanjuntak, Mkes, Mayor Inf. Jafar Simanjuntak dan Istri, serta 7 (tujuh) orang perwakilan Naposo Bulung Simanjuntak dari Universitas Nomensen Medan.

Mendiamkan ketidakadilan, justru menyuburkan kekerasan itu sendiri. Mari kita kawal kasus ini.