*Pdt. Luspida Simanjuntak : Salah seorang pelaku bisa saya kenali, karena sering terlihat di antara orang-orang yang selalu mengawasi kami beribadah di lapangan.
*Sahara Pangaribuan, SH : Ini pengaduan kasus ketiga ke Mabes Polri, tetapi tidak ada perkembangan yang menggembirakan.
*Kapolres Metropolitan Bekasi Kombes Imam Sugianto: Ini kriminal murni!

JuntakNews (Bekasi),

Setelah mendapat serangan 500 orang anggota Forum Umat Islam (FUI), yang meminta jemaat Gereja HKBP Pondok Indah Timur di Kampung Ciketing Asem, Kecamatan Mustika Jaya, Bekasi Timur untuk menghentikan peribadahannya (08/08), kembali kita dikejutkan tindakan brutal yang diduga dilakukan oleh orang-orang yang berkaitan dengan kejadian sebelumnya.

Pdt. Luspida br. Simanjuntak (Hutabulu No. 15) dan Asian Sihombing yang menuju tempat peribadahan di lahan kosong di Ciketing Asem (12/09), dipukul dan ditikam oleh 8 (delapan) orang yang salah satunya dikenal oleh Luspida sebagai orang yang sering ikut mengawasi mereka beribadah pada hari-hari minggu sebelumnya.

Kepala Lusida dipukul pakai pentungan, sementara Asian kena tikam pisau yang cukup dalam hingga merobek hati korban 3 centimeter.

“Kepala saya dipukul salah seorang di antara laki-laki yang mengendarai sepeda motor, dan tak jauh dari tempat saya kena pukul, saya menyaksikan Asian tergeletak minta tolong dengan pendarahan hebat”, kata Luspida via telepon selularnya.

“Saya mengenal salah satu pelaku itu, sebab sering saya lihat ikut dalam kerumunan orang-orang yang selalu menghalangi kami jika beribadah hari minggunya”, kata Luspida yang mengaku masih merasa pusing akibat pukulan benda keras di kepalanya.

Ketika ditanya apa harapan dan keinginannya kelanjutan dari kasus ini, dirinya dengan lirih mengatakan untuk didoakan agar segera pulih dan bisa kembali melayani jemaat HKBP Bekasi Timur untuk beribadah dan memperjuangkan kebebasan beribadah di Idonesia.

“Tolong sampaikan kepada SBY agar kebebasan beragama yang sudah diinjak-injak oleh sekelompok orang yang mengaku kelompok yang paling berhak di Indonesia ini, agar ditegakkan kembali”, kata Luspida yang bersuamikan Marga Siahaan ini.

“Perjuangan kami di Bekasi Timur tidak hanya masalah di Bekasi Timur saja, tetapi menjadi permasalahan pemeluk agama minoritas di seluruh Indonesia. Selama SKB 2 (dua) menteri tidak dicabut, maka kebebasan beragama yang merupakan HAM tidak akan pernah terjadi di Indonesia”, katanya.

Menghalangi Orang Beribadah Pelanggaran HAM Berat

Nada yang sama dengan Luspida, dilontarkan oleh seorang Anggota Tim Pembela Kebebasan Beragama Sahara Pangaribuan, SH, yang sejak awal aktif mendampingi Jemaat HKBP Bekasi Timur.

“Kebebasan beragama dan melaksanakan ibadah di Indonesia justru mengenal anak haram dan anak halal—diskriminatif”, katanya ketika dihubungi melalui telepon selularnya.

“Kami sedang berada di Mabes Polri untuk mengadukan kejadian tadi pagi yang menimpa pendeta dan jemaat HKBP Bekasi Timur. Ini merupakan pengaduan ketiga, dan salah satunya kami mengadukan Kapolres Metropolitan Bekasi Kombes Imam Sugianto ke Propam yang kami lihat melakukan pembiaran tindakan kekerasan anggota FUI dan ikut menandatangani surat pernyataan penghentian peribadahan, yang justru dikonsep dan dibuat oleh lain, bukan jemaat HKBP”, tambahnya.

Terhadap kasus ini, walau mengaku pihaknya ,masih melakukan pengejaran pelaku, Kapolres Metropolitan Bekasi Kombes Imam Sugianto justru sudah berani membuat pernyataan bahwa kasus ini murni tindak kriminal, dan akan mengenakan pasal 351 ayat 2 KUHP tentang penganiayaan yang menimbulkan luka berat dengan ancaman hukuman paling lama lima tahun.

Menanggapi pernyataan Kapolres tersebut, Sahara mengatakan “Bagaimana mungkin kasus ini dikategorikan sebagai kasus kriminal biasa, sebab pelakunya tidak melakukan perampokan atau perampasan, namun hanya memukul dan menikam lalu pergi. Modus operandinya harus dilihat dong”.

“Kejadian tadi pagi, diduga kuat berkaitan dengan kasus pelarangan beribadah yang dilakukan oleh FUI bulan yang lalu, apalagi polisi langsung menyatakan sikap yang seyogianya dikatakan jika pemeriksaan tersangka dan saksi-saksi selesai dilakukan”, katanya menambahkan.

Menanggapi pertanyaan, langkah apa saja yang akan ditempuh TPKB dalam menyelesaikan kasus ini, Sahara mengatakan akan menempuh langkah hukum dan advokasi agar pelanggaran HAM, diskriminasi dan pencabutan SKB 2 menteri dapatterlaksana.

“Tidak ada seorangpun atau satu pihak manapun yang berhak untuk melarang orang dan pihak lain untuk melakukan peribadahannya, jika Indonesia masih mengakui Bhineka Tunggal Ika. Seharusnya pembangunan rumah-rumah ibadah tidak perlu menempuh prosedural perizinan seperti layaknya izin panti pijat, pub dan lokalisasi”, katanya meninggi.

SBY Kirim Menkes Menjenguk Korban

Korban pemukulan dan penikaman Pdt. Luspida br. Simanjuntak dan Asian Sihombing yang dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Timur, dibesuk oleh Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dan menyampaikan rasa prihatin dari presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sementara dari pemberitaan di televisi dan media internet diberitakan bahwa SBY memerintahkan di bawah koordinasi Menko Polhukam, agar Kapolri segera mengejar, menangkap dan mengupayakan hukuman seberat-beratnya bagi pelaku dan memerintahkan agar Menteri Agama mengambil langkah yang dinilai perlu untuk menjamin kebebasan beragama dan agar tidak mentolerir sedikitpun kejahatan tersebut.

Entah terkait dengan perintah Presiden ini, Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Irjen Timur Pradopo, menyatakan bahwa identitas pelaku sudah diketahui dan sedang dilakukan pengejaran .

“Identitas pelaku semuanya sudah terekam oleh para saksi. Polisi sudah periksa sembilan orang saksi. Kejadian ini murni kriminal dan bukan berlatar konflik beragama”, kata Timur seolah mengulangi pernyataan Kapolres Metropolitan Bekasi.

Sungguh disesalkan, ketika Umat Islam bersukacita merayakan hari kemenangan di Hari Raya Idul Fitri. Ketika tokoh-tokoh Kristen seluruh dunia berhasil mendesak Pdt. Terry Jones, untuk menghentikan tindakan “gila” membakar Al-quran di Amerika Serikat, sebuah bukti penghormatan yang tulus atas perbedaan agama. Justru sekelompok orang dengan simbol agama melarang saudaranya yang berbeda agama untuk tidak beribadah. Sekali lagi kita diuji untuk membuktikan kemurnian pengakuan kita terhadap prinsip Bhinneka Tunggal Ika dan penerimaaan kita terhadap Hak Azasi Manusia.

Kita tunggu saja kelanjutannya.