JuntakNews (Medan)

*Prof. DR. BA Simanjuntak : “Selama masih mengakui sebagai Orang Batak, maka Adat Batak harus dipertahankan”
*Drs. Jonner Sihotang, M,Si : “Efisiensi dan efektifitas pelaksanaan adat, tanpa mengurangi substansi nilai-nilai adat”.

Seminar dan Musywarah Adat dan Pomparan Raja Sigodang Ulu Sihotang dan Boru Kota Medan dilaksanakan di Hotel Antares Jl. Sisingamangaraja No. 84 Medan, Kamis (9/9) yang dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari Pengurus, Penasehat dan Tokoh Sihotang, Perwakilan Sektor-sektor dan Pengurus Generasi Muda Simanjuntak Sitolu Sada Ina Boru Bere Ibebere.

Panitia Seminar dan Musywarah ini tampak serius mempersiapkan kegiatan ini, terlihat dari kelengkapan dan alur acara yang berjalan dengan baik.

Demikian juga dengan pemilihan nara sumber. Selain memilih para tokoh adat Sihotang yang sudah dikenal luas di kalangan Marga Sihotang di Kota Medan, seperti Drs. Jonner Sihotang, Msi, Ir. UTB Sihotang, M.S, Drs. Dj. Sihotang, juga secara khusus mendatangkan Guru Besar Sosiologi Antropologi Prof. DR. Bungaran Antonius Simanjuntak, yang lebih akrab dengan panggil Prof. BAS ini.

Sebagaimana seminar bertaraf nasional, acara berlangsung sesuai dengan jadual acara dan semua materi seminar dibagikan kepada semua peserta ketika Registerasi.

Adat Batak dan Modernisasi

Materi pertama setelah pembukaan adalah Adat Batak dan Modernisasi, yang dibawakan oleh Prof. BA Simanjuntak dan dimoderasi oleh Drs. Manter Sihotang.

Penyampaian materi oleh BAS berlangsung ringan dan diselingi guyonan khas guru besar Unimed Medan ini.
Mengawali makalahnya, BAS menyatakan bahwa dirinya tidak akan membahas pengertian kebudayaan dan adat, tetapi lebih menyoroti Esensi Adat dan Kebudayaan Batak, Adat Batak dan Masa Depan dan Sikap Manusia Modern Batak Berbasis Adat.

Menurutnya, esensi Adat Batak dapat dilihat secara vertikal dan horizontal. “Secara vertikal harus dibangun sikap pengenangan kommeratif, penghormatan struktural dan sustainable, seraya berupaya melakukan rekonstruksi genealogical dalam mencari inspirasi untuk masa depan sebagai usaha me-recharging spirit religius kulturalnya. Dalam kerangka fikir seperti itulah penghormatan esensial kepada nenek moyang dapat dilakukan”, paparnya.

Sedangkan secara horizontal, BAS mengaitkannya dengan prinsip Dalihan Natolu, yaitu kepada sesama saudara (semarga-dongan tubu), hula-hula dan boru. “Terhadap sesama marga (dongan tubu), diharuskan untuk membangun cinta kasih, saling menghormati, serta berupaya merekonstruksi keturunan melalui penciptaan reunion yang menggembirakan yang diharapkan akan menghasilkan kesatuan, solidaritas dan tanggungjawab satu sama lainnya”, jelasnya.

“Hula-hula, sebagai pihak yang lebih dihormati perlu dilakukan pengenangan histroris kepada nenek moyang, melalui pemberian dan mempertahankan simbol-simbol penghormatan sosial dan material yang dengan sendirinya merupakan jalur penerimaan restu.

Jika wacana tersebut dapat dipertahankan, maka recharging spirit akan tetap terpelihara dengan baik”, tegas sang profesor ini.

“Boru, sebagai bagian yang integral dari kekerabatan adat Batak perlu didekati dengan penambahan rasa sayang dan kasih dengan menunjukkan proteksi serta mendorong rasa tanggungjawab untuk menyampaikan pasu-pasu (restu) yang berkelanjutan”, tambahnya.

“Pemahaman dan kesadaran yang tinggi terhadap esensi Adat dan Kebudayaan Batak itu dengan sendirinya akan dapat mempertahankan dan menyesuaikan adat dan kebudayaan dengan perkembangan dan perubahan jaman, pun di jaman modern saat ini.

Komunalisme Batak yang dibangun berdasarkan esensi adat dan budaya yang tangguh tentu dengan sendirinya dapat menjadi ciri khusus Orang Batak yang tidak dimiliki orang lain”, katanya dengan penuh penekanan.

“Jika gambaran di atas mau kita capai, tentu perlu upaya yang serius, sistimatis yang didukung oleh lembaga-lembaga marga dengan mendorong generasi muda untuk mulai sejak awal memahami esensi adat dan budayanya, sehingga proses kaderisasi dapat berjalan untuk menjamin sustainibilitas adat dan budaya itu sendiri”, katanya menutup ceramahnya yang disambut tepuk tangan oleh seluruh peserta.

Dalam sesi diskusi, terlihat animo peserta untuk menyampaikan pertanyaan dan pokok-pokok fikiran yang direspon dengan baik dan tangkas oleh Prof. BAS.

Suasana antusian dari floor sempat merepotkan moderator untuk menetapkan penanya yang tunjuk tangan.

Salah satu topik diskusi yang menjadi hangat adalah tanggapan peserta seminar terhadap pendapat Prof. BAS yang mengatakan bahwa dirinya lebih suka jika dipanggil “Bere” ketimbang “Amangboru” oleh Marga Sihotang, seraya menjelaskan pola unik hubungan Marga Sihotang dengan Marga Simanjuntak.

Salah seorang Tokoh Adat Marga Sihotang merespon pendapat BAS dengan mengatakan “Kami memanggil Simanjuntak Amangboru dalam interaksi sehari-hari dan langsung, sedangkan dalam upacara adat, kami selalu menggunakan panggilan bere, bukan amangboru”, katanya seraya mengharapkan agar kekhususan hubungan Sihotang – Simanjuntak yang tidak dimiliki marga lain di dunia ini, tetap dipertahankan.

Tatacara Pelaksanaan Adat

Berangkat dari pengalaman empirik melaksanakan Adat Perkawinan di kalangan Marga Sihotang, baik di Kota Medan maupun di tempat lain, disampaikan oleh Drs. Jonner Sihotang, Msi yang bertindak sebagai pembicara dan dimoderasi oleh Lesson Sihotang, SH, M.Hum, mengatakan bahwa perlu dilakukan pembicaraan dan kesepakatan efektifitas dan efisiensi adat.

Setelah menjelaskan skenario dan tahap-tahap pelaksanaan adat perkawinan yang dimulai dari tahap Hori-hori Dinding (Patua Hata), Sungkun Saripe (Sajabu), Marhusip, Parmisi tu Tulang (pasae matamual, khusus pangoli anak pertama), Marhata Sinamot/Pudun Saut, Pamasu-masuon dan Acara Adat, Jonner Sihotang mengatakan “Efisiensi dan efektifitas pelaksanaan adat sangat ditentukan oleh keahlian protokol dan parsinabul dalam memahami dan menguasi skenario adat serta memanfaatkan waktu. Untuk ini perlu pembicaraan khusus dan kesepakatan kita agar pesta perkawinan lebih efisien tanpa menghilangkan substansinya”, katanya.

Setelah topik adat perkawinan, materi dilanjutkan dengan Pelaksanaan Adat Sari dan Saur Matua dan Parjambaran oleh Ir. UTB Sihotang, M.S dan Drs. Dj. Sihotang yang dimoderasi oleh Anggiat Hasibuan, SH dan Alboin Sihotang, SH.

Mengakhiri Seminar dan Musyawarah ini, Ir. Tumpal Hasugian, SP menyampaikan Rumusan dan Kesepakatan Bersama yang didampingi oleh Ir. Jakadin Sihotang sebagai moderator.

Tampaknya, langkah progressif yang dipilih oleh Pengurus Pomparan Raja Sigodangulu Sihotang dan Boru Kota Medan ini, layak menjadi contoh bagi marga-marga lain di Kota Medan, sehingga pelaksanaan tata upacara adat dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat khususnya di Kota Medan.

Sedangkan, harapan dan seruan agar dilakukan kerjasama antar marga Sihotang dan Simanjuntak, terutama kalangan generasi mudanya, mendapat sambutan yang positif dari kedua belah pihak.

Hidup Sihotang!