JuntakNews (Medan)

Sebulan lebih 4 (empat) hari sejak divonis bebas oleh PN Medan tanggal 24 Pebruari 2010, Pastor Moses Alegesan yang dituduh melakukan penistaan Agama Hindu, mengadakan Ibadah Ucapan Syukur di Gereja Holy Trinity, Medan Jl. Panglima Nyak Makam Medan, hari ini Minggu (28/03).

Mengambil thema “Seperti Bapa sayang kepada anak-anakNya, demikianlah Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut kepada Dia” (Mazmur 103 : 13), ibadah berlangsung penuh sukacita yang diisi oleh berbagai bentuk acara ibadah seperti lagu-lagu pujian ragam bahasa, pembacaan nats, doa, renungan dan tarian khas Tamil yang diiringi group musik yang cukup piawai membangkitkan spritualitas para undangan.

Ibadah yang dimulai sejak pukul 16.00 Wib itu berlangsung hikmad yang dihadiri oleh selain jemaat Gereja Anglikan Holy Trinity, juga puluhan undangan dari berbagai dedominasi gereja bahkan di luar Agama Kristen. Acara yang dikemas sedemikian rupa tersebut, menunjukkan betapa perbedaan yang ada merupakan kekayaan tiada tara sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia, dan sama di hadapanNya.

Tampak hadir para undangan J.A. Ferdinandus Ketua PGI Sumut, Wanrinson Sinaga, SH, MH, Bahota Silaban, SH, Nainggolan, SH, masing-masing Tim Pengacara, Rudyard Simanjuntak beserta istri, Poltak Simanjuntak beserta istri mewakili GM-SSSI&BBI, Prof. DR. Bungaran Antonius Simanjuntak sebagai saksi ahli, dan beberapa orang perwakilan gereja tetangga.

Ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Alexander Agustien dan didukung oleh Team Song leader dan Group Musik ini diawali dengan lantunan lagu-lagu pujian. Dengan mengambil perikop sesuai dengan thema ibadah, Pdt. David Wutawai dari Gereja Methodist menyampaikan renungan tentang bagaimana pengalaman iman David yang menunjukkan keteguhan dan kekuatannya dalam menghadapi berbagai tantangan, kesulitan bahkan pencobaan.

Daniel, dengan imannya mendapat pertolongan besar dari Tuhan yang tidak saja dia percayai (believe) tetapi juga diyakininNya (trust). Karya besar pertolongan Tuhan kepada Daniel, ternyata dapat disaksikan juga ketika Pastor Moses Alegesan mendapat cobaan yang dituduh menista suatu agama hingga harus menghadapi pemeriksaan di polisi, kejaksaan bahkan menghadapi peradilan selama lebih dari setahun.

Keteguhan hati, dukungan moril dan doa dari berbagai pihak, dengan nyata dipakai oleh Tuhan, sehingga pencobaan itu dapat berlalu dengan sebuah keputusan pengadilan “bebas murni”.

Kilas Balik Proses Pengadilan Selama 1 Tahun

Usai ibadah, acara dilanjutkan dengan pemutaran rekaman audio visual proses peradilan sejak awal hingga saat-saat yang menentukan bagi Moses, yaitu sidang putusan yang memvonis Moses dengan bebas murni. Tampak dari tayangan video tersebut, betapa saksi pelapor dan saksi-saksi yang memeratkan Moses tidak mampu memberikan kesaksian dengan jelas. Sementara baik Moses, maupun pegacaranya, tampak siap dengan berbagai argumen hukum dihadapan majelis hakim.

Ketika tayangan tiba pada sidang putusan dengan vonis bebas, seluruh hadirin tanpa dikomando bertepuk tangan, pertanda betapa putusan tersebut sangat melegakan dan menggembirakan.

Ucapan Terimakasih dan Penghargaan

Secara runtun, Mdm Julie Chu, istri Moses yang tampil dengan pakaian khas India menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung Moses suaminya dan sekaligus pimpinan umat Gereja Anglikan Holy Trinity Medan dalam menghadapi masa-masa sulit ketika bersidang di PN Medan.

Tidak cukup hanya ucapan terimakasih, para pihak yang dianggap memberi atensi, dukungan aktif dan penguatan doa, secara khusus didaulat ke altar untuk menerima penghargaan sesuai dengan budaya India.

Kesempatan pertama diberikan kepada J.A. Ferdinandus Ketua PGI Sumut yang juga sebagai Ketua Sumatera Berdoa dan Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Propinsi Sumatera Utara, Prof. DR. Bungaran Antonius Simanjuntak, sosiolog yang ikut memberikan kesaksian di PN dan Rudyard Simanjuntak sebagai perwakilan GM-SSSI&BBI yang selama lebih dalams setahun terus aktif mendampingi Moses di PN Medan.

Kepada ketiga tokoh ini, Pastor Moses Alegesan, atas nama pribadi, keluarga dan sebagai pimpinan Gereja Anglikan Holy Trinity Medan, menyampaikan penghargaan berupa pengalungan bunga yang dalam Budaya India merupakan pernghargaan yang sangat tinggi yang lazim dikenal dengan sebutan “Maalei”.

Kesempatan kedua diberikan kepada para pengacara (litigasi) dan pendamping advokasi (non litigasi) yang terdiri dari Bahota Silaban, SH, Wanrinson Sinaga, SH, MH, Nainggolan, SH dan Poltak Simanjuntak. Kepada keempat pengacara dan pendamping ini oleh Moses diberikan kenang-kenangan berupa kain tenun khas India (Paddha-dhei), sebagai bentuk ucapan terimakasih. Sedangkan terhadap 2 (dua) orang dari kalangan Gereja Anglikan Holy Trinity, Pdt. Alexander Agustien dan Nawinshatz Thayala, oleh Moses diberikan penghargaan berupa bingkisan.

Luasnya dukungan yang mengalir terhadap Moses dari berbagai pihak, diketahui dari banyaknya nama-nama yang disebutkan oleh Moses dalam kata sambutannya setelah penyerahan tanda mata dan penghargaan, antara lain : Kepada Allah Tri-Tunggal, Ketua PGI Sumut, Para Pengacara yang Handal, Keluarga Besar Generasi Muda Simanjuntak Sitolu Sada Ina, Antropologist/Budayawan, Rektor Institut Agama Islam Negeri (Prof. Nur Ahmad Fadhil Lubis, Ph.D), GAMKI DPD Sumut (Ir. Ronald Naibaho), JPIC-UiM (Eliakim Sitorus), Sekretaris Umum PGI Wilayah Sumut (Pdt. DR. Langsung Sitorus), Ketua Umum PGI Wilayah Sumut (Pdt. W.T.P. Simarmata, MA), Bishop GKPI (Pdt. DR. M.S.E. Simorangkir), Penerjemah Legal Malakah “MANU” Mutiara Marpaung, SH (Alm), Para Pendeta Rekan Pelayanan, Ketua Perhimpunan Umat Buddhist Tamil Indonesia (Ganapathy Accudan, BA), Team dan Rekan Pendoa, Sahabat dan Rekan di Haggai Institute Medan, Keluarga Besar Gereja Anglikan Holy Trinity Medan, Rekan Pelayanan (Grace Susane Munthe, SH), dan SITEPPA (Ramaswamy Siwanandam) dan terakhir kepada Istri tersayang Mdm Julie Chu, yang menginginkan kebaikan terhadap diri Moses.

Dalam kata sambutannya, Moses menekankan bahwa dirinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Budaya Tamil dibesarkan dalam lingkup budaya Tamil yang diwarnai oleh Hinduisme. Salah satu bagian Budaya yang menjadi perhatiaanya sebagaimana juga menjadi perhatian banyak tokoh di India termasuk penulis makalah yang dia terjemahkan dan mengundang kontroversi itu Periyar E.V. Ramasami adalah tentang kasta. Sama sekali tidak ada niat dan maksud menghina Agama Hindu, sebagai salah satu agama yang banyak berjasa dalam perkembangan pola hidup manusia.

Kata Sambutan

Di penghujung acara, dilaksanakan penyampaian kata-kata sambutan oleh 2 (dua) orang undangan, yaitu J.A. Ferdinandus (Ketua PGI-W Sumatera Utara) dan Poltak Simanjuntak (Sekretaris Umum GM-SSI&BBI).

Dalam kata sambutannya, J.A. Ferdinandus menyampaikan ucapan syukur dan terimakasihnya terhadap Tuhan yang telah memberikan kebebasan bagi Pastor Moses Alegesan. “Vonis bebas terhadap Pastor Moses, merupakan suatu berkah bagi Umat Kristen di seluruh Indonesia, dimana Tuhan telah menghindarkan seorang pelayan gereja masuk penjara, bukan karena kekuatan maupun kepintaran kita”, ungkapnya.

Sementara Poltak Simanjuntak, yang mengaku tidak siap didaulat untuk memberikan kata sambutan mengatakan bahwa Generasi Muda Simanjuntak mendapat banyak pelajaran dan penguatan dari kasus Pastor Moses. “Dengan kasus yang menimpa Pastor Moses, banyak pelajaran dan kesaksian yang dapat dipetik, dimana kekuatan Tuhan nyata dapat menghadirkan keadilan sekalipun melalui pengadilan yang selama ini sering tidak adil”, katanya sambil mengucapkan selamat kepada Moses Alegesan, keluarga dan jemaat Gereja Anglikan Holy Trinity.

Mengakhiri seluruh rangkaian acara, Pdt. David Wutawi memimpin seluruh undangan dalam doa penutup, yang dilanjutkan dengan acara makan bersama.

Keadilan, bagaimanapun sulitnya, selalu dapat ditegakkan jika Tuhan memperkenankan, dimanapun dan kapanpun.