*Para Korban penipuan dan pemerasan turut menyaksikan persidangan.
*Richard Simanjuntak salah seorang korban pemerasan akan menggugat Bripka MSP. Simanungkalit

JuntakNews (Medan)

Bertempat di Ruang Sidang Utama Cakra I Pengadilan Negeri Medan, sidang dengan acara pembacaan vonis  terhadap Bripka MSP. Simanungkalit penyidik polisi di Poltabes Medan, pelaku pemalsuan tandatangan dan pembuat BAP , surat penangkapan dan pemalsuan palsu terhadap Viktor Simamora, berlangsung hari ini Kamis (18/02).

Terdakwa Bripka MSP Simanungkalit yang tampil dengan kepala botak dan menggunakan kaos oblong warna putih didampingi 2 (dua) orang pengacaranya dari Kantor Pengacara Januari Siregar. Puluhan pengunjung yang memadati ruang sidang terpaksa harus sabar menunggu beberapa jam, sebab persidangan yang seyogianya dinyatakan pukul 13.00 Wib, ternyata harus molor hingga pukul 16.20 Wib.

Selain para korban pemerasan dan penipuan MSP. Simanungkalit, Viktor Simamora sebagai pelapor hadir secara langsung yang tampak didampingi oleh puluhan aktifis mahasiswa Medan dan Pengurus GM-PSSSI&BBI diantaranya Rudyard Simanjuntak dan Poltak Simanjuntak.

JPU yang mendakwa MSP Simanungkalit telah melakukan tindak pidana pemalsuan sesuai dengan Pasal 263 KUH Pidana menuntut 3 (tiga) tahun hukuman penjara, yang oleh Majelis Hakim yang dipimpin Erwin Mangatas Malau, SH, MH dan 2 (dua) 0rang hakim anggota menetapkan vonis 1,6 tahun hukuman penjara.

Menanggapi vonis yang dibacakan langsung Ketua Majelis Hakim itu, pengunjung sidang merespon dengan teriakan sebagai pertanda kecewa terhadap putusan hakim karena dianggap terlalu rendah.

Viktor Simamora sendiri yang menjadi korban tindakan MSP Simanungkalit menyikapinya dengan mengatakan “Yang penting bahwa MSP Simanungkalit dinyatakan secara sah dan meyakinkan telah terbukti melakukan tindak pidana pemalsuan dan pembuatan BAP palsu. Itu berarti, dalam kasus yang saya hadapi, keputusan onslagh yang sudah ditetapkan Majelis Hakim di tingkat PN dan diteruskan di PT, harus menggunakan pertimbangan baru untuk membebaskan saya dari segala tuntutan hukum dan mengembalikan harkat dan martabat saya yang sudah kadung rusak akibat tindakan terpidana MSP”, katanya.

Richard Simanjuntak, yang setia mengikuti persidangan justru menyambut vonis hakim ini dengan baik. “Vonis ini membuat saya berketetapan hati untuk menggugat polisi pemeras ini”, ungkapnya.

“Jawaban MSP terhadap sms yang saya kirimkan untuk meminta agar uang dikembalikan justru bernada sinis dan menantang”, tambah Richard sambil menunjukkan isi sms MSP di handphonenya.

“Kau aja buat kesalahan penyidikan. Pantang sobilak, tapi nggak ngertinya. Udah aku lapor dulu Kanit, nanti kukabari sama kau”. Sms lain di handphone yang sama tertulis “Laporlah! Capek pun aku lihat kau. Nggak ngerti juga kau. Sok ngerti, tapi nggak ngerti”.

Ketika ditanya tanggapannya terhadap sms tersebut, Richard mengatakan “kami akan menggugatnya”.

Kita tunggu saja….