JuntakNews (Medan),

Belum selesai pertanggungjawaban hukum MSP Simanungkalit (36) yang telah dituntut Majelis Hakim PN Medan 3 (tiga) tahun akibat perbuatannya dalam kasus perekayasaan BAP Lanjutan, surat penangkapan dan penahanan terhadap Viktor Simamora, harus menghadapi gugatan baru dari Richard Simanjuntak.

Richard Simanjuntak yang khusus datang di PN Medan Selasa (16/02) untuk menyaksikan secara langsung persidangan Bripka MSP Simanungkalit yang juga sebagai pelaku pemerasan terhadap dirinya. Sambil menenteng lembaran kertas yang ternyata transkrip sms dari nomor HP 08126004344 milik Bripka MSP Simanungkalit ke 081533484910 milik Richard sendiri.

Usai sidang, Richard kepada JuntakNews mengatakan bahwa dirinya menjadi salah seorang korban pemerasan MSP yang merugikannya hingga puluhan juta rupiah.

“Saya hanya salah satu dari sekian banyak korban penipuan dan pemerasan MSP ini”, kata Richard sambil membagikan transkrip sms kepada kuli tinta yang meliput persidangan. Ketika ditanyakan kepadanya apa sikapnya terhadap tindakan MSP ini, dia mengatakan akan melayangkan laporan ke Propam dan ke instansi hukum yang terkait.

Membaca transkrip yang dibuat sendiri oleh Richard, dapat diketahui modus operandi MSP sebagai penyidik di Poltabes Medan melakukan aksinya. Dengan janji akan membantu penanganan laporan polisi yang dibuat oleh ayah kandung Richard Simanjuntak yang melaporkan Kustomo, SH Kepala Desa Mariendal I dalam kasus pemalsuan surat-surat tanah yang dibelinya dari Johannes S. Saragih.

Johannes S Saragih sendiri sebagai pemilik pertama tanah yang dibeli ayah Richard Simanjuntak sudah melaporkan Kustono, SH ke Poltabes Medan dengan bukti lapor No. Pol. : LP/2614/VII/2007/TABES, pada 25 Juli 2007. Penyidiknya, MSP Simanungkalit. Sejak laporan polisi ini, MSP Simanungkalit sebagai penyidik atau juru periksa, telah menjanjikan membantu pelapor dalam kasusnya dengan syarat sediakan dana.

Pada tanggal 19 Juli 2008, MSP mengirimkan sms “Orang ini 4 orang. Siapkan 2 ikat besar. Tolong jangan kecewakan Lae. Mauliate”. Dua hari kemudian setelah uang diserahkan langsuang kepada MSP di salah satu pusat pembelanjaan di Kota Medan, tanggal 21 Juli 2008 kembali MSP mengirim sms “Lae, Jangan tahu Kanit masalah dana kemarin nanti nggak enak. Oke Laeku”.

Karena sudah dibayar, sepertinya MSP melayangkan panggilan pertama kepada terlapor Kustomo, SH, namun tidak dipenuhi yang diketahui dari sms nya tanggal 24 Juli 2008 “Nggak hadir tersangkanya Lae. Terpaksa panggilan kedua. Jadi gimana dananya itu Lae Kandung. Sudah sore ini. Besok, lusa atau kapan-kapan. Tenang Lae tetap ku gas”.

Penyerahan dana berikutnya dilakukan, namun tersangka atau terlapor tetap juga belum berhasil dihadirkan untuk diperiksa, sehingga keluarga pelapor mempertanyakannya kepada MSP yang dijawab melalui sms pada hari yang sama “Ok Lae. Nggak masalah ya. Thanks. Yang pasti jangan ada yang tersinggung dan curiga. Oke”.

Hingga bulan Oktober 2009, ternyata kasus yang dilaporkan pemilik tanah yang dibeli ayahnya Richard juga belum tuntas. Merasa ingin mendapat kepastian hukum, Maninggar Jhonny Simanjuntak, ayah Richard Simanjuntak akhirnya membuat laporan baru ke polisi dengan bukti lapor No. Pol. : LP/2723/XI/2009/SPK/Tabes tertanggal 17 November 2009 dengan nama dan subjek terlapor yang sama yaitu Kustono, SH atas kasus pemalsuan surat-surat tanah.

Sebelum laporan dibuat ke Poltabes, ternyata MSP sudah melakukan komunikasi melalui sms ke Richard Simanjuntak. Tanggal 12 November 2009, 5 (lima) hari sebelum lapor, MSP mengirimkan sms “Ro ma, usung 2 Juta nai da…” (Datanglah, bawa Rp 2 Juta lagi, iya–Red). Belum cukup 2 Juta yang sudah dibayarkan, tanggal 16 Nopmeber 2009, kembali MSP mengirimkan sms “Bawakan Boss 1 Juta lagi. Oke”.

Sudah sebulan sejak pembayaran sesuai permintaan MSP, ternyata perkembangan pemeriksaan kasus juga tidak terlihat, sehingga Richard Simanjuntak mulai meminta tanggungjawab MSP baik secara langsung maupun melalui percakapan telepon dan sms.

Respon MSP yang diterima Richard tanggal 10 Desember 2009 lewat smsnya “Kok gitu Lae. Apa kondisi ini ku sengaja. Kalau memang dana mau Lae minta, boleh lae, tapi hari Selasa. Karena di situ aku sidang sekalian. Tapi kalau Lae mau melaporkan aku karena hal itu, nggak apa-apa Lae. Aku nggak bisa berbuat apa-apa karena aku pun nggak mau di tahan Lae. Makasih sms mu yang sedikit kejam ini Lae.”.

Ternyata ketika ditemui Selasa sebagaimana dijanjikan MSP akan mengembalikan dana, ternyata diingkarinya. Sehingga Richard terus melakukan upaya meminta pengembalian uang. Tanggal 9 Januari 2010, MSP mengirimkan sms “Lae, Aku minta tolonglah sama Lae dan Lae Tau kondisiku. Dan Lae tau yang 1 juta kan sama Kanitnya langsung ku kasih. Sabar dulu Lae, pasti kukembalikan Lae”.

Hingga sidang hari ini Selasa (16/02), MSP Simanungkalit tetap tidak membayar uang yang sudah dijanjikannya kepada Richard yang membuat Richard geram dan akan mengadukannya ke Propam Poldasu dalam waktu dekat.

“Saya akan mengadukan MSP ke Propam dan aku akan menempuh upaya hukum, agar MSP mempertanggungjawabkan perbuatannya”, kata Richard dengan muka memerah.

Sepertinya MSP Simanungkalit tidak cukup mendapat ganjaran 3 (tiga) tahun penjara, sebab akan menuai gugatan baru dari korban-korbannya yang semakin hari semakin menunjukkan diri.