Pada hari Jumat, 15 Januari 2010, sekira pukul 17.30 Wib, saya Chandra Riama br. Simanjuntak (21), seperti biasanya berangkat menuju tempat bekerja dengan mengendarai sepeda motor di Café Griya yang terletak di Jalan Tengku Amir Hamzah Medan.

Menuju ke tempat bekerja, saya harus melalui Jalan Pembangunan dan Jalan Kapten Muslim menuju Jalan Tengku Amir Hamzah, yang berjarak kurang lebih 2 kilometer dari rumah saya tinggal di Jalan Pembangunan Gg. Setia No. 121 Medan.

Laju kenderaan yang saya kendarai lambat saja sebab belum terlambat untuk masuk kerja. Tiba-tiba dari arah belakang saya muncul sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh seorang laki-laki. Si pengendara ini mengemudikan sepeda motornya dengan cara zig-zag dan serampangan, hingga pengendara seorang ibu-ibu yang membonceng anaknya nyaris ketabrak olehnya.

Melihat kejadian itu, tanpa sadar saya meneriaki si pengendara itu “Bang, baik-baiklah. Bagi jalanlah!”, sambil terus mengendarai sepeda motorku.

Bukannya ditanggapi dengan baik, justru sebaliknya si pengendara yang saya teriaki itu justru menunjukkan sikap marah, tidak terima dengan teguranku dan berupaya menghentikan laju sepeda motorku seraya membalas “Preman mana kau?”.

“Saya bukan preman bang”, jawabku sekenanya sambil terus berlalu.

Saya jawab begitu, si pengendara ini justru terus mengejar saya  dan tidak terlalu jauh dari tempat itu, persisnya di Simpang Gang Sehati dia dapat mendekati kenderaan saya dan sontak memukul muka saya sekuat tenaga dengan tangan kirinya.

Terkejut dan rasa kesakitan sambil meringis saya terus melarikan sepeda motor saya untuk menghindar yang terus dikejar si pelaku kekerasan ini. Tidak berapa lama, di dekat sebuah kedai kopi si pelaku ini menyalib sepeda motorku dan saya terpaksa berhenti. Masih di atas sepeda motorku, si pelaku ini menarik kerah bajuku dan dengan sikap hendak memukul, yang disaksikan oleh orang-orang yang sedang duduk-duduk di kedai kopi itu.

Salah seorang pengunjung kedai yang kebetulan saya kenal dan semarga dengan saya bernama Rikardo Simanjuntak berteriak ke arah si pelaku dan mengatakan “Hoi, jangan main pukul, itu perempuan!”, katanya.

Saya beruntung sebab si pelaku akhirnya tidak jadi mendaratkan pukulannya ke saya, justru melepaskan cekeramannya dan pergi mendekati orang yang meneriakinnya seraya mengatakan “Sudah kuat kali kau? Preman kau di sini? Jangan ikut campur kau”, katanya.

Salah seorang pengunjung lain di kedai itu yang saya kenal bernama Hotman Situmorang menjawab si pelaku.

“Kami tidak preman!”, sahut Situmorang.

“Aku anggota iya, biar tahu kau. Jangan macam-macam kalian!”, teriak si pelaku yang akhirnya diketahui bernama Irvan dan diduga anggota TNI dari satuan Minvet-DAM I/BB. Sambil menggeber sepeda motornya, sambil meneriakkan “Tunggu kalian di sini”, katanya bernada mengancam.

Tidak berselang lama, hanya hitungan menit saja, dari kejauhan terlihat serombongan laki-laki berambut cepak berkaos loreng dan bercelana pendek warna hijau bersama-sama dengan oknum yang mengaku anggota TNI itu datang mendekati kami di kedai kopi.

Begitu tiba di halaman kedai kopi, mereka yang berjumlah 11 orang, langsung bertindak brutal dan membabi buta melakukan pemukulan, tendang, pijak dan mengumpat serta kata-kata kasar dan jorok. Korban pertama mendapat keroyokan adalah Hotman Situmorang yang kebetulan duduk dekat ke pintu masuk kedai.

Si pelaku pemukulan yang membawa kawan-kawannya ini pun menunjuk ke arah Rikardo Simanjuntak, orang yang pertama meneriaki orang yang mengaku anggota TNI ini.

“Itu orangnya”, sambil mendekati Rikardo.

Bersama teman-temannya yang berbadan tegap itu, Rikardo Simanjuntak dipukuli, ditendang dipijak dan dimaki secara membabi buta.

Orang lain yang menyaksikan peristiwa ini berupaya melerai tetapi tidak dihiraukan oleh mereka yang kebetulan berjumlah lebih banyak dari pengunjung kedai. Berulang-ulang dan membabi buta mereka semua melakukan tindakan kekerasan seolah tidak ada yang dapat menghentikannya.

Pemilik kedai Tony Manullang, dan pengunjung lainnya Christopel Pasaribu, Rommel Hutagaol, Sinaga, Lindung Lubis dan salah seorang lagi yang saya kenal bermarga Simanjuntak, terus berupaya melerai perkelahian yang tidak seimbang ini.

Beberapa waktu berselang, seorang laki-laki berparas Suku Nias dan berpakaian sama dengan pelaku kekerasan itu datang menghampiri kedai dan berupaya menghentikan teman-temannnya.

“Sudah. Hentikan!”, katanya berulang-ulang. Teriakan awalnya tidak dihiraukan 11 orang gerombolan ini. Teriakannya semakin diperkuat dan bicaranya seperti layaknya seorang Anggota TNI mengatakan “Berhenti! Berhenti! Sudah!”, katanya.

Entah karena takut dengan teriakan ini, atau merasa sudah puas melampiaskan kebringasannya, akhirnya ke-11 laki-laki ini menghentikan tindakannya dan masing-masing naik ke kenderaanya yang mereka tumpangi ketika datang dan pergi ke arah Markas Zipur yang tidak jauh dari tempat itu.

Pukul 19.00 Wib, tidak terima dengan tindakan brutal yang diduga dilakukan oleh anggota TNI itu, Hotman Situmorang berupaya menghubungi Letkol Czi Rizal Dandeninteldam I/BB untuk melaporkan kejadian ini. Tidak berselang lama setelah itu, 2 (dua) orang Anggota TNI dari Deninteldam I/BB bernama Yasir dan Ginting datang ke kedai tempat kejadian pengeroyokan.

Kepada kedua Anggota TNI ini, kami bertiga Hotman, Rikardo dan Chandra yang menjadi korban kekerasan oknum TNI melaporkan kejadian yang menimpa kami.

Pukul 21.00 Wib, kami berdua (Rikardo Simanjuntak dan Chandra br. Simanjuntak), pergi ke rumah kediaman keluarga Mayor Ckm R. Simanjuntak, S.Sos,MKes, yang tinggal di Kompleks Perwira Jalan Gaperta G 14, untuk melaporkan kejadian yang menimpa kami.

Setelah mendengar laporan kami, Bapak Mayor Ckm R. Simanjuntak, S.Sos,MKes, membawa kami menghadap Mayor Czi Cahyadi, Wakil Komandan Batalyon Zipur di rumah kediamannya, untuk melaporkan kejadian yang menimpa kami yang dilakukan oleh oknum anggota TNI yang diduga dari kesatuan ZIPUR yang dipimpinnya.

Mendapat laporan kejadian itu, Mayor Czi Cahyadi, menyatakan akan melakukan penyelidikan terhadap dugaan ini.

Hingga kronologi ini kami susun, belum ada perkembangan penyelidikan dari pihak Yon-Zipur, sebagaimana dijanjikan oleh wakil komandannya.

Atas kejadian ini, kami melaporkannya ke Biro Advokasi Generasi Muda Simanjuntak Sitolu Sada Ina Boru, Bere dan Ibebere (GM-PSSSI&BBI), untuk mendapat perlindungan dan dukungan penyelesaian kasus ini.

Kami sebagai korban mendesak semua pihak agar kasus ini dapat diungkap secara terbuka dan kami yang menjadi korban mendapat pemulihan, sebab kasus ini telah merugikan kami secara moril dan materil.

Demikian rangkaian kejadian kekerasan oleh oknum anggota TNI ini kami susun untuk dapat dipergunakan sebagai bahan upaya penegakan keadilan atas hak kami yang dilanggar oleh oknum-oknum yang mengaku sebagai anggota TNI.

Medan, 16 Januari 2010

Kami yang menjadi korban kekerasan,

(Chandra Riama br. Simanjuntak)             (Rikardo Simanjuntak)                  (Hotman Situmorang)