JuntakNews (Medan) Sidang pemeriksaan saksi atas nama Naransami, SH Ketua PHDI Sumut yang tertunda akhirnya digelar Senin (25/05) di Ruang Sidang Cakra V PN Medan. Pengacara, terdakwa, pelapor dan puluhan orang simpatisan Moses terlihat sudah bersiap-siap sejak pukul 10.00 wib, ternyata sidang baru dimulai pukul 17.00 wib.

Mengawali persidangan Ketua Majelis Hakim Inang Kaswaty, SH mengingatkan Saksi Pelapor atas isi sumpahnya pada sidang sebelumnya–”akan berkata benar”–dan di-iyakan oleh saksi pelapor Naransami, SH yang tampak didampingi oleh 3 (tiga) orang kerabatnya.Pertanyaan pertama yang disampaikan hakim adalah “pertanyaan yang ditunda jawabannya” pada Sidang Pemeriksaan Saksi Pelapor Senin (11/05).

Kepada Saksi Pelapor, Naransami, SH yang Ketua PHDI Sumatera Utara, Ketua Majelis Hakim, meminta agar menunjukkan bagian dalam Kitab Suci Agama Hindu “Veda”, yang diterjemahkan secara salah oleh Moses Alegesan, sehingga didakwa sebagai perbuatan menista agama.

Tidak berbeda dengan sidang sebelumnya, saksi pelapor ternyata tidak mampu menjawab permintaan hakim, dengan berdalih bahwa dirinya tidak mengerti banyak mengenai isi Kitab Suci Veda, tetapi ada orang yang lebih memahaminya dengan menyebutkan 2 (dua) nama, yaitu : Agus Sumantri Mantik (Ketua II PHDI Pusat) dan I Nengah Dana (Sekum PHDI Pusat). Kedua nama ini diketahui merupakan saksi dari pihak pelapor yang diperiksa di Poltabes Medan pada tanggal 29 Oktober 2009.

Terhadap jawaban saksi pelapor ini, Majelis Hakim secara bergantian mengulangi pertanyaan seolah memperjelas maksud pertanyaan agar lebih dipahami saksi pelapor. Ternyata, jawaban saksi pelapor tetap saja, tidak bisa menunjukkan bagian Veda yang diterjemahkan oleh Moses Alegesan dan ditengarai menjadi sumber keresahan Umat Hindu itu.

Dua hakim anngota Inrawaldi, SH, MH dan Ahmad Semma, SH, secara bergantian melemparkan pertanyaan seputar pengetahuan saksi pelapor mengenai buku yang menjadi sumber penerjemahan terdakwa.

“Apakah saksi pelapor mengetahui dan pernah melihat buku asli yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Moses? Apakah saksi pelapor mengetahui dari Bahasa mana, Moses menerjemahkan ke Bahasa Indonesia?”
tanya Ahmad Semma, SH, sambil menunjukkan makalah versi Bahasa Inggris.

“Saya tidak pernah melihat aslinya dan tidak tahu diterjemahkan dari bahasa apa”, jawab Naransami.

Merasa cukup menyampaikan pertanyaan, majelis hakim mempersilahkan JPU Henri Sucipto Sirait, SH untuk bertanya kepada saksi pelapor. Pertanyaan yang diajukan JPU seputar isi BAP yang sudah ditandatangani oleh Saksi Pelapor dimana salah satu isinya menyatakan bahwa Saksi Pelapor mengetahui sumber buku yang diterjemahkan dari Bahasa Inggris terbitan tahun 1958 dengan judul “Manu A Code Injustice to Non-Brahmins” dan dikarang oleh seorang Tamil bernama Periyar Venkata Ramasami yang beraliran komunis dan sudah dilarang di India dan di Indonesia. Sementara, kepada hakim saksi pelapor mengatakan tidak mengetahui sumber terjemahan itu.

Jawaban yang berbelit dari saksi pelapor akhirnya mendapat perhatian dari majelis hakim dan pengacara Moses, dengan mempertanyakan “Apakah Saksi Pelapor, dapat menunjukkan larangan terhadap makalah Manu A Code Injustice to Non-Brahmins yang dikarang Ramasami itu di India maupun di Indonesia?

Saksi Pelapor dengan keyakinan yang tinggi mengatakan bahwa larangan itu sudah ada, namun bentuk dan isinya ada pada Pengurus Pusat PHDI yang menurutnya siap untuk diminta memberikan kesaksian pada sidang berikutnya.

Pertanyaan akhir berasal dari seorang pengacara Moses, Wanrinson Sinaga, SH tentang isi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) atas nama Naransami, SH yang salah satu keterangannya menyatakan bahwa “Penerjemahan ajaran Agama Hindu yang isinya menyesatkan tidak sesuai dengan isi ASLI KITAB AGAMA HINDU Manawa Darmasastra, sementara kepada majelis hakim saksi pelapor tidak dapat menunjukkan isi asli kitab Agama Hindu yang dimaksudkan.

“Apakah saksi pelapor ketika diperiksa di Poltabes Medan ada menyatakan sebagaimana isi BAP ini”, tanya Wanrinson sambil menunjukkan dan membacakan ulang isi BAP yang dimaksudkannya.

Pertanyaan ini oleh Majelis Hakim diperjelas dan diminta kepada Saksi Pelapor untuk menjawab dan menjelaskan. Ternyata, Saksi Pelapor menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui bahwa keterangan itu, ada di BAP yang sudah dia tandatangani, walau diakuinya bahwa Juru Periksa meminta kepadanya untuk membaca ulang sebelum penandatanganan BAP ketika itu.

Dari persidangan ini terlihat jelas betapa Saksi Pelapor tidak menguasi materi yang dilaporkannya sehingga menyeret Pastor Moses Alegesan ke kursi pesakitan dengan tuduhan Pelaku Penistaan Agama.

Sebelum menutup persidangan, ketua majelis hakim mengingatkan agar pelaksanaan sidang berikutnya Senin (01/06) dapat dilakukan pada pagi hari pukul 10.00 Wib. Peringatan ini tentunya sangat tergantung pada kehadiran JPU yang sering menjadi alasan penundaan waktu dimulainya persidangan.