* Pengarang Prof. DR. Bugaran Antonius Simanjuntak
* Edisi Ketiga, diterbitkan Yayasan Obor Indonesia (YOI), revisi terhadap edisi satu dan dua.

Awalnya buku ini adalah disertasi Bungaran Antonius Simanjuntak yang merupakan karya akhir mencapai gelar Doktor di Universitas Gajah Mada Mada Yogjakarta tahun 1995, dengan Kata Pengantar dari Prof. Soedjito Sosrodihardjo, SH, MA yang juga salah seorang pembimbing penulis.

buku-bas

Buku ini diterbitkan pertama sekali pada Juni 2001 oleh Penerbit Jendela Yogyakarta, menyusul edisi kedua tahun 2002 di penerbitan yang sama. Penerbitan ulang tentu merupakan salah satu parameter yang menunjukkan betapa tulisan ini merupakan karya yang tergolong baik dan diminati. Peberuari 2009, atas permintaan khayalak pembaca dan keperluan revisi terhadap terbitan pertama dan kedua, kali ini Yayasan Obor Indonesia, salah satu penerbit terkemuka di Indonesia menerbitkan edisi revisi yang justru semakin mengukuhkan kehadiran buku ini sebagai salah satu referensi yang patut dipertimbangkan.

Secara terukur dan berani, buku ini mengungkapkan betapa lembaga agama dan kepercayaan yang diharapkan menjadi lembaga peredam konflik, justru gagal tampil sebagai lembaga pencegah atau pengambil solusi penyelesaian konflik atau rekonsiliasi.

Buku ini mengungkap berbagai kasus yang terjadi dalam tubuh organisasi gereja, semisal konflik di tubuh Hatopan Kristen Batak vs Zending Jerman (RMG) tahun 1917, HKBP vs Zending Belanda tahun 1932, Konflik Status dan Kekuasaan antara Huria Kristen Batak (HKB) dengan Huria Christen Batak (HCB) tahun 1934, Konflik HKBP yang menghasilkan Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) tahun 1962 dan terakhir Kasus Perebutan Kekuasaan di tubuh HKBP, tahun 1993.

Sementara pada zaman prs-Kristen, bius merupakan organisasi dan budaya yang sangat efektif meredam konflik. Ketika bius menyelenggarakan upacara tahun baru yang dinamalan mangase taon, maka semua konflik harus dilupakan. Ritus tersebut menciptakan rekonsiliasi.

Dibandingkan dengan pasca memeluk agama Kristen, akibat persaingan dan perebutan kekuasaan di dalam organisasi gereja, justru agama itu menjadi sumber konflik serta melumpuhkan perannya sebagai peredam, walau dalam agama Kristen ada beberapa ritus yang dapat dipakai sebagai media peredam, misalnya Natal, Paskah, maupun Perjamuan Kudus (marulaon na badia).

Ritus-ritus ini hanya bersifat temporer dan kurang efektif dibanding ritus mangase taon dalam meredam konflik.

Penyebabnya yang dikemukakan dalam buku ini ada 3 (tiga), yaitu : Pertama, institusi tersebut tidak mempunyai sanksi (terutama fisik) yang kuat sehingga dapat memaksa untuk melakukan dan mematuhi perdamaian. Kedua, kemajuan pendidikan menimbulkan kesadaran terhadap peranaan peradilan negeri sebagai lembaga penyelesaian konflik terpercaya. Ketiga, semakin merosotnya nilai sosial religius pemimpin gereja akibat ulah pemimpin itu sendiri, sehingga kepercayaan umat berkurang drastis terutama belakangan ini.

Buku ini hadir sebagai referensi atas konflik-konflik yang terjadi dalam struktur masyarakat Batak Toba. Buku ini menjadi penting bagi studi konflik sosial religius untuk siapa saja.

Keseluruhan buku ini terdiri dari xx + 404 halaman; ukuran 16 x 24 cm, yang dapat diperoleh di Toko-toko Buku di seluruh Indonesia.