JuntakNews (Medan),

Pertanyaan bagaimana kelangsungan hidup Berkat Hutauruk (4,7) dan ketiga saudaranya Afles, Sonya dan Ruth Tania , setelah ditinggal jadi yatim piatu oleh kedua orang tuanya Lintong Hutauruk (46) dan Rosalina br Simanjuntak, mulai terjawab dalam pertemuan Jumat (08/05) yang dilaksanakan di Sekretariat UEM yang berlokasi di Kompleks Perkantoran PGI-W Jl. Pancing Medan.

Hadir dalam pertemuan ini pihak keluarga Berkat, M. Hutauruk (Kakek Berkat), Hutabarat dan Ny. Panjaitan br. Hutauruk, Ny. Hutauruk br. Siburian dan Afles Hutauruk. Perwakilan Panti Asuhan “Elim” yang berlokasi di Pematang Siantar, Ibu br. Tambunan bersama-sama dengan Komite AIDS HKBP Diakones Mathilda Nainggolan, Kristina br. Bangun, Diakones Nurhayati Silalahi dan dr. William Napitupulu. Sedangkan pendamping lainnya tampak hadir Eliakim Sitorus, Prof. BA Simanjuntak, Saurlin Siagian (BAKUMSU) dan Poltak Simanjuntak (GM-PSSSI&BBI).

Agenda pertemuan menyangkut rencana lanjutan pendampingan Berkat dan ketiga saudaranya, serta upaya-upaya lainnya berkaitan dengan perawatan Berkat dan kelanjutan pendidikan Afles, Ruth dan Sonya.

Keluarga dekat Berkat, Kel. Panjaitan dan Kel. Hutabarat menyatakan ketidakmampuannya jika diminta sebagai wali asuh keempat anak yatim piatu ini. Selain alasan kemampuan ekonomi, kedua keluarga ini juga menginginkan agar keempat anak ini diasuh di satu tempat, tidak terpisah-pisah.

Kondisi ini tentu perlu direspon secara tepat oleh pendamping, sehingga mengundang kehadiran pengelola Panti Asuhan Elim yang dinilai memiliki pengalaman, kemampuan dan fasilitas. PA Elim yang merupakan milik Gereja HKBP itu, ternyata merespon positif keinginan pendamping dengan menyatakan kesediaan dan kesiapannya menerima Afles, Ruth, Sonya dan Berkat.

Khusus perawatan Berkat Hutauruk yang hingga saat ini masih dirawat di Ruang III RSU Pirngadi Medan, ternyata sudah memasuki tahapan lanjutan yaitu pemberian obat AIDS atau ARV, setelah kondisi kesehatannya dinyatakan semakin membaik.

Pemberian obat bagi pendirita HIV-AIDS memerlukan PMO (Pengawas Makan Obat) yang disepakati menjadi tanggungjawab Komite AIDS HKBP yang menunjuk Diakones Nurhayati Silalahi, menggantikan Kristina Bangun yang selama ini membantu perawatan Berkat di rumah sakit.

Menyangkut sekolah ketiga saudara Berkat, pihak PA Elim akan mendaftarkannya di sekolah dasar terdekat dengan lokasi panti di Pematang Siantar. Segala sesuatu yang berkaitan dengan administrasi perpindahan hak asuh Berkat dan saudaranya dari pihak Marga Hutauruk ke PA Elim, pihak keluarga diminta untuk mengurus Surat Pindah Sekolah, Surat Keterangan Anggota Jemaat Gereja, Akte Kelahiran, Surat Keterangan Yatim Piatu dari Kepala Desa dan Surat Pernyataan Penyerahan Hak Pengasuhan dari Pihak Keluarga ke Pihak PA Elim.

Menurut Eliakim yang disetujui oleh seluruh peserta pertemuan bahwa semua sumbangan, baik dari web Simanjuntak — Dompet Peduli Berkat, Loving Mom, RSU Pirngadi dan pihak-pihak lain akan dikumpulkan ke rekening Komite AIDS HKBP, untuk selanjutnya dikelola mendukung perawatan, pengobatan dan biaya hidup Berkat dan ketiga saudaranya.

Keputusan pertemuan ini selanjutnya akan dikomunikasikan dengan Direktur RSU Pirngadi Dr. Umar Zein, berkaitan dengan permintaan pihak manajemen RSU memperjelas pihak mana yang menjadi penanggungjawab perawatan Berkat pasca rawat inap dan penerima bantuan yang sempat dikelola oleh pihak manajemen rumah sakit tersebut.