JuntakNews (Delitua),

Pagabe Simanjuntak (35) yang baru 3 (tiga) bulan tinggal di Kota Medan, merantau dari kampung halamannya Sumbul Kabupaten Dairi, tidak menduga bahwa dirinya akan mendapat perlakuan kasar dari oknum Densus 88 dan satu orang yang diduga oknum TNI. Dipukuli setelah terlebih dahulu ditelanjangi, membuatnya tersiksa fisik dan bathin.

Kepada JuntakNews, Evi kakak Pagabe yang menjadi induk semangnya di Delitua menyatakan bahwa dirinya dan keluarga sangat kaget menyaksikan bekas-bekas pukulan di tubuh Pagabe. “Kami tahu dia disuruh oleh seseorang bermarga Barus untuk menjemput keyboard dari Cafe Nirwani, berhubung cafe itu tutup lalu dia pergi ke cafe yang letaknya bersebelahan bernama Cafe Nirwana untuk bertanya. Ternyata, dia langsung mendapat penyiksaan dari FB anggota Densus 88 dan Sl anggota TNI”, kisahnya.

pagabeMerasa tidak bermaksud mencuri Pagabe walau disiksa setelah ditelanjangi tetap saja tidak mengaku dan mempertahankan jawabanya kepada kedua oknum Polisi dan anggota TNI ini. “Mobil pick-up yang saya usahai diminta untuk menjemput keyboard oleh Marga Barus ke Cafe Nirwani, tetapi saya pergi ke Cafe Nirwana. Begitu saya tanya mana keyboard yang mau saya bawa, penjaga cafe sepertinya menghubungi pengawas mereka yang ternyata anggota polisi dan TNI. Mereka berdua menanyai saya dan menuduh saya sebagai pencuri keyboard sambil melayangkan pukulan bertubi-tubi dan saya ditelanjangi”, katanya tertunduk.

Atas perlakuan kedua oknum ini, pihak keluarga telah melaporkannya ke Polsek Delitua, sedangkan oknum TNI akan dilaporkan ke pihak Den-Pom, untuk mendapat ganjaran hukum yang setimpal dengan perlakuannya.

GM-PSSSI&BBI Serukan Kedua Pelaku Ditindak Tegas

Mendapat berita yang menimpa anggota keluarga besar Simanjuntak, GM-PSSSI&BBI langsung melakukan koordinasi dan mencari tahu kebenaran berita yang sudah ditulis di Harian Pos Metro Medan, Senin (27/04) itu. Masalah yang langsung melibatkan oknum polisi dan TNI tentu membutuhkan pendampingan yang serius sebab keluarga korban menghadapi kebingungan dan ketakutan.

GM-PSSSI&BBI lewat Biro Advokasi berencana melakukan pendampingan untuk memastikan kedua pelaku penyiksaan ini di proses secara hukum dan tindakan internal institusinya masing-masing. Anggota Densus 88 dan TNI, seharusnnya tidak membekingi tempat-tempat hiburan seperti cafe-cafe. Seharusnya, atasan mereka harus menindak mereka serta secara terbuka mengakui kesalahan yang dilakukan oleh keduanya.

“Kami akan melaporkan kejadian ini ke institusi masing-masing, dan berharap agar kedua oknum ini bertanggungjawab atas biaya pengobatan dan pemulihan nama baik adik kami”, kata Evi.

“Jika kasus ini tidak diproses sesuai dengan hukum, maka GM-PSSSI&BBI akan mengadukan hal ini ke institusi yang lebih tinggi yang menaungi kesatuan kedua pelaku”, kata Rudyard Simanjuntak.