JuntakNews (Medan),

Nurhayati br. Sirait (42) korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) oleh suaminya Hasudungan Tambunan (46), setelah mendapat pendampingan dari Pengurus GM-PSSSI&BBI terlihat mulai berani untuk angkat bicara. Setelah mengungkapkan kesaksiannya yang dituangkan dalam Testimony “Penderitaanku Selama 4 Tahun di Bawah Kekerasan Suami”, Nurhayati yang terpaksa melarikan diri dengan 2 (dua) orang anaknya dari Jakarta ke rumah orang tuanya di Sidikalang Kabupaten Dairi, meminta kesediaan GM-PSSSI&BBI mencari solusi terhadap kasus yang dihadapinya.


Suaminya Hasudungan Tambunan si pelaku KDRT, sepertinya belum mau kehilangan istrinya sehingga memaksakan diri datang ke rumah orang tua Nurhayati–Ibu Mertuanya di Sidikalang. Tidak terima dengan tindakan brutal yang dilakukan menantunya terhadap anak perempuanya yang telah puluhan tahun berumah tangga itu, sang mertua pun menolak permintaan maaf Hasudungan.

Aku sudah bosan menerima permintaan maafmu. Kau tidak pernah berubah. Mama Bella (Nurhayati) pun sudah tidak mau bertemu denganmu. Kami sudah serahkan persoalan ini ke Marga Sirait dan GM-PSSSI&BBI, bicaralah dengan mereka”, kata R. br. Simanjuntak ibu kandung Nurhayati, sambil menepiskan tangan menantunya.

Tidak terima penolakan mertuanya, Hasudungan terus saja bertahan di rumah mertuanya meminta agar dipertemukan dengan istrinya Nurhayati yang bersembunyi begitu mengetahui suaminya yang gemar memukul itu datang. Bahkan, dia memaksa agar anaknya yang dibawa pergi oleh Nurhayati untuk diserahkan kepadanya.

Tidak mau berdebat lama dengan menantunya yang sudah kehilangan rasa malu ini, akhirnya salah seorang anak yang kebetulan berada di rumah neneknya itu diserahkan. “Bawa aja anakmu ini. Bagaimanapun ini memang marga Tambunan”, kata mertuanya dengan perasaan disayat.

Hasudungan yang didampingi oleh saudaranya bermarga Tambunan yang kebetulan tinggal di Sidikalang dan seorang sahabatnya dari Medan bermarga Sihotang, akhirnya harus pulang tanpa bertemu dengan istrinya yang masih trauma dan pergi bersembunyi. Entah dengan pertimbangan apa, Hasudungan membawa serta seorang anaknya dari rumah neneknya ke rumah saudaranya di Medan.

GM-PSSSI&BBI Mediasi Pertemuan Tambunan dengan Sirait

gm-psssibbiKedatangan Hasudungan ke Sidikalang serta merta membuat berang keluarga Sirait. Secara intensif mereka melaporkan perkembangan kasus ini kepada Pengurus GM-PSSSI&BBI, dan meminta agar dimediasi bertemu dengan pihak keluarga Tambunan.

Mereka minta bertemu dengan kami. Kalau bisa mohon kesediaan GM-PSSSI&BBI mendampingi kami”, kata Poltak Sirait abang kandung Nurhayati.

Pertemuan dilaksanakan di Rumah keluarga pihak Sirait di Kompleks Perumahan Brimob di Jl. Sei Padang Dalam, Kamis (9/4). Hadir dalam pertemuan ini dari pihak Sirait, selain Nurhayati br. Sirait juga  Keluarga Pinem (istri boru Sirait Kakak Kandung Nurhayati), Poltak Sirait, AKBP br. Sirait. Dari pihak Tambunan, Hasudungan Tambunan (Suami Korban), Abang kandung Hasudungan dan istri, Adek Kandung Hasudungan dan Ipar Hasudungan bermarga Hutagalung. Sementara, dari Pengurus GM-PSSSI&BBI hadir Herlen Simanjuntak, Rudyard Simanjuntak dan Poltak Simanjuntak.

Pertemuan diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Rudyard Simanjuntak. Selanjutnya Poltak Sirait sebagai tuan rumah pertemuan memperkenalkan orang-orang yang hadir dari pihak Sirait dan GM-PSSSI&BBI, dan meminta pihak Tambunan juga memperkenalkan diri. Sedangkan Nurhayati yang masih mengalami trauma tidak mau duduk bersama, menghindari suaminya.

Secara ringkas, Poltak Sirait menjelaskan tujuan pertemuan, yaitu merespon permintaan keluarga Tambunan untuk mencari jalan keluar permasalahan yang dihadapi keluarga Sirait dan Tambunan yang sudah diikat hubungan kekeluargaan perkawinan antar kedua marga.

Pembicaraan malam ini kami harapkan dapat mendudukkan persoalan yang sebenarnya dan jika memungkinkan mencari jalan keluar. Jalan keluar bisa saja menghasilkan kebaikan bagi kedua belah pihak, tetapi sangat mungkin menghasilkan kebaikan bagi sepihak. Itu sangat tergantung dari cara kita menanggapi persoalan ini”, jelas Poltak Sirait.

Kesempatan berikutnya diserahkan kepada GM-PSSSI&BBI untuk memimpin pertemuan. Mengawali tugas mediasi, Poltak Simanjuntak menjelaskan bahwa tindakan Hasudungan Tambunan kepada istri dan anak-anaknya secara nyata telah melanggar azas budaya (kekeluargaan), azas agama dan azas hukum., sekaligus. Ketiga kesalahan ini, tentu hanya menghasilkan penderitaan di pihak istri dan anak-anak.

Berkaitan dengan budaya, Hasudungan sebagai suami dan ayah dari 4 (empat) orang anak, telah membuat keretakan hubungan kekeluargaan antara Tambunan dengan Sirait. Pelanggaran terhadap etika yang memperlakukan istrinya tidak lebih dari perempuan yang bukan “boru ni raja”. Bahkan, sangat dihinakan dan dinistakan. Sedangkan berkaitan dengan azas agama, bahwa tidak ada alasan untuk mengingkari janji pernikahan, yaitu wajib menyayangi istri dan anak-anak. Dan, azas hukum, tindakan ini nyata-nyata merupakan perbuatan pidana yang dapat dijerat dengan UU Perlindungan Anak dan UU KDRT.

Dalam kasus ini, kami berpihak pada Nurhayati dan anak-anaknya. Jika tidak bisa dihindari lagi, GM-PSSSI&BBI bersedia mendampingi keluarga Sirait untuk membawa persoalan ini ke ranah hukum. Dan, persiapan ke arah sana sudah kami lakukan. Pengakuan Nurhayati sebagai korban kekerasan sudah kami susun dan lembaga-lembaga seperti Komnas Perlindungan Anak dan Lembaga Perlindungan Hak-hak Perempuan sudah kami hubungi”, jelas Rudyard Simanjuntak.

pelaku1Herlen Simanjuntak, menambahkan bahwa dalam kasus seperti ini, tidak ada sedikitpun benarnya  Hasudungan sebagai suami. Bahkan, hal ini menunjukkan adanya kemungkinan gangguan kejiwaan pelakunya. Dan, laki-laki jika melakukan kekerasan kepada perempuan apalagi istrinya itu sudah tak sehat.

Kau memang laki-laki rusak. Kau berani sama perempuan saja. Kalau kau berani coba lakukan ini kepada saya”, bentak Herlen sambil memelototi Tambunan yang duduk tertunduk persis didepannya.

pembacaan-testimony

Sebelum membicarakan langkah-langkah ke arah jalan keluar, disepakati agar Testimony yang sudah disusun GM-PSSSI&BBI berdasrakan penuturan Nurhayati dibacakan. Tujuannya, agar pihak Tambunan juga memahami betapa tindakan Hasudungan sudah di luar batas peri kemanusiaan.

Poltak Simanjuntak, membacakan Testimony yang terdiri dari 7 (tujuh) halaman kuarto dan sudah dibubuhi tandatangan bermeterai oleh Nurhayati. Pembacaan Testimony ini diikuti semua yang hadir dengan serius . Suasana yang tercipta adalah keprihatinan, marah dan keheranan, seolah apa yang mereka dengar merupakan hal yang jauh di luar norma kemanusiaan normal.

Keluarga Tambunan Terkejut dan Menyesali Tindakan Hasudungan

keluarga-pelakuKetika pihak Tambunan ditanyakan tanggapannya terhadap isi Testimony Nurhayati, tak pelak menimbulkan kemarahan, malu dan penyesalan yang mendalam. Dengan nada tinggi, Tambunan abang kandung Hasudungan mengatakan “Kenapa kau lakukan tindakan seperti ini? Kami tidak menduga bahwa permasalahan ini terjadi akibat tindakanmu yang di luar perikemanusian. Kau hanya membuat malu keluarga”, sambil menyeka matanya yang mulai berkaca-kaca.

Hutagalung, ipar kandung Hasudungan yang sedari tadi tertunduk mendengar Testimony melampiaskan kemarahannya. “Tidak ada alasan untuk membela Lae kalau begini yang Lae lakukan ke Inang Bao boru Sirait. Kemarin aku dari Jakarta, kedua anak kalian yang ditinggalkan di jakarta itu pun sedang sakit. Dan mereka sangat ketakutan untuk membelanjakan uang, walau itu hanya untuk membeli makanannya. Dan, aku prihatin ketika kami bertemu dia sakit demam dan tertimpa sepeda motor pula. Yang penting kalian selamatkan dulu anak-anak”, katanya.

Hampir senada, Kakak Kandung Hasudungan, dengan suara menahan tangis, mengungkapkan kekecewaannya terhadap tingkah laku dan perbuatan saudaranya laki-laki ini kepada istri dan anak-anaknya. “Aku mengenal baik edaku. Kau memang manusia yang tidak punya kelembutan. Tidak bisa kontrol emosi, selalu marah-marah. Dari dulu aku tidak suka dengan tingkahlakumu”, tambahnya.

Hasudungan yang tertunduk dan sesekali menoleh jika kepadanya diarahkan kemarahan, menanggapinya dengan memberikan bantahan, bahwa dirinya tidak ada melempar Nurhayati dengan tabung gas dan laci meja. “Aku tidak ada melemparnya dengan tabung gas dan laci meja. Tangannya saja yang kena”, tangkisnya yang disambut bentakan marah oleh Poltak Simanjuntak.

Kalau kau tidak mengakui perbuatanmu seperti yang tertulis dalam Testimony ini, maka kau sebaiknya menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa, sebelum kau dipenjarakan”, bentak Poltak Simanjuntak. “Kau akui pun, belum tentu istrimu dapat menerimamu kembali. Dan, kami akan melaporkanmu ke polisi atas tindakan KDRT”, tambah Poltak.

Disepakati Penyelamatan Anak-anak Diprioritaskan

Mengetahui tanggapan Hasudungan yang tidak menunjukkan penyesalannya, maka diusulkan agar pertemuan ini dihentikan dengan catatan jika masih berkeinginan untuk melangkah ke perdamaian, maka Hasudungan harus bersedia untuk mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Menjemput anak yang di Jakarta dan membawanya ke Medan untuk diserahkan di bawah pengasuhan ibunya.
  2. Mengurus proses perpindahan sekolah anak-anak dari Jakarta ke Medan.
  3. Menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa dan hasilnya diserahkan ke pihak Sirait dan GM-PSSSI&BBI.
  4. Jika dinyatakan tidak sehat, maka harus terlebih dahulu menjalani terapi kejiwaaan.
  5. Jika dinyatakan sehat, dilanjutkan dengan langkah berikut, seperti :
  6. Mengurus Perpindahan Keluarga dari Jakarta ke Medan, sehingga lebih mudah dipantau.
  7. Menjual seluruh asset keluarga yang dimiliki di Jakarta.
  8. Membayar seluruh hutang-piutang ke pihak ketiga.
  9. Pindah domisili ke Medan
  10. Menandatangani Surat Pengakuan dan Perjanjian tidak mengulangi perbuatan KDRT.
  11. Hidup bersama sebagai keluarga yang utuh.

Keseluruhan langkah-langkah ini disepakati oleh kedua belah pihak dan diminta agar masing-masing pihak memberikan dukungan aktif sehingga dalam pelaksanaannya dapat tepat waktu yang diperkirakan membutuhkan waktu selama 3 (tiga) bulan.