**Orang Tua Korban : “Pemeriksaan Dokter Membenarkan dan Pelaku Telah Mengaku”
**Kapolres : “Belum Cukup Bukti, untuk Upaya Paksa”

JuntakNews (Tarutung)

Nasib malang yang menimpa keluarga Halomoan Simanjuntak yang beristrikan br. Aritonang, sepertinya belum dapat mereda. Pelaku yang diduga melakukan perkosaan terhadap putrinya, yang adalah tetangga mereka semdiri,  masih bebas berkeliaran.  Rasa malu, trauma dan marah menyeruak, bukan saja bagi keluarga korban, tetapi meluas kepada semua orang yang mengetahui berita ini, terutama keluarga besar Simanjuntak.

Dari komunikasi dengan Kapolres Tapanuli Utara AKBP Johanes Didiek DP SH, menyatakan bahwa pihaknya belum memperoleh bukti yang cukup untuk melakukan penahanan terhadap pelaku. Menjawab pertanyaan dan harapan pengurus GM-PSSI&BBI agar lebih mendahulukan aspek keadilan dari pada berkutat pada pembukitan mengingat korban masih di bawah umur, Kapolres Taput menyatakan “Terimakasih, saya sangat memahami, tetapi kami juga untuk melakukan upaya paksa diatur dalam suatu aturan, masalah ini juga menjadi prioritas kami. Maaf kalau tidak sesuai dengan keinginan keluarga”, tulisnya dalam pesan singkatnya.

Terhadap tanggapan ini, dan pemberitaan koran Global Diperkosa Tetangga, Gadis ABG Lapor Polisi salah seorang penasehat PSSSI&BBI se-Dunia, Saut Simanjuntak, SH yang juga menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Sidikalang, mengatakan bahwa pengakuan korban dan hasil visum  dapat dijadikan sebagai alat bukti petunjuk oleh penyidik.  “Pengakuan korban yang masih di bawah umur itu dengan menunjukkan pelakunya, dapat dijadikan sebagai alat bukti petunjuk bagi penyidik. Sangat tidak mungkin seorang anak di bawah umur membuat pengakuan diperkosa oleh seseorang jika itu tidak benar terjadi. Jika, pelaku dibebaskan ada kekhawatiran bisa mempersulit penyidikan, sebab potensial untuk melarikan diri”, katanya.

Sementara itu, P.M. Pandapotan Simanjuntak, SH salah seorang pengacara di Kota Medan, mengatakan bahwa pihak Polres tidak cukup hanya berkutat pada ketiadaan saksi semata. Banyak alat bukti yang bisa dipertimbangkan, seperti hasil visum, pengakuan korban, dan kondisi psikologis korban yang telah mengalami trauma. “Pada kasus-kasus perkosaan, bisa dipastikan sangat sulit menemukan orang yang menyaksikan. Sebab, jika ada saksi pemerkosaan dapat dipastikan tidak akan terjadi”, kata Pandapotan.

Terungkap dari SMS Perlaku

keluarga-korbanAncaman akan dibunuh, Ester br. Simanjuntak akhirnya memilih untuk tutup mulut atas tindakan pemerkosaan yang dilakukan pelaku “S”. Pemerkosaan yang dialaminya sendiri terjadi pada bulan Januari 2009, di suatu malam diperkirakan pukul 10.00 wib, ketika ES pergi keluar rumahnya bermaksud mau buang air besar di wc umum yang berada di belakang rumahnya. Ternyata, dasar setan apa yang merasuki pelaku “S”, langsung saja membekap ES. Dan terjadilah hal yang sama sekali di luar dugaan ES.

Kehormatan ES yang masih di bawah umur itu terenggut. Tidak cukup dengan perlakuan bejat seperti itu, si pelaku tidak lupa menambahkan ancaman agar tidak sekali-kali memberitahunya kepada siapapun. Takut dengan ancaman ini, akhirnya ES memendam cerita kelam hidupnya.

Sepandai-pandai orang menyembunyikan barang busuk, pasti suatu saat akan tercium juga. “Pendek do pat ni gabus“. Perumpamaan ini ternyata benar. Pelaku yang ketagihan mengulangi tindakan bejatnya tidak kehilangan akal. “Dia mengirimkan pesan singkat ke handphone orang tua korban, setelah terlebih dahulu dia menyuruh anaknya yang kebetulan masih sekelas dengan korban untuk meminjam buku, lewat sms.

“Aku membalas sms anaknya yang mau pinjam buku ke aku dan mengatakan bahwa buku yang mau dipinjamnya nanti saja sebab masih ku pakai”, kata Ester. “Ternyata, sms itu dibalas lagi, sepertinya bukan oleh anaknya lagi, tetapi bapaknya dengan menuliskan pesan, agar memberitahunya jika saya mau ke belakang (toilet)”. Mendapat sms yang tidak lazim dan menakutkan itu, ES akhirnya menanyakan maksud sms itu kepada orang tuanya.

Dengan berbagai upaya, bujukan, dan bahkan dimarahi, akhirnya ES mengakui kejadian yang menimpanya kepada kedua orangtuanya dan pelakunya ayah dari kawannya yang berniat meminjam buku itu, tetangga mereka. Mendapat pengakuan anak kelima dari 10 bersaudara ini, orang tua korban langsung membawanya ke dr. Tunggul Pasaribu di RSU Tarutung untuk menjalani pemeriksaan.

Hasil pemeriksaan dr. Tunggul Pasaribu sebagaimana dikatakannya kepada keluarga korban, bahwa alat kelamin Ester telah mengalami kerusakan dan ada perubahan di dalam kandungannya. Yakin dengan hasil pemeriksaan dokter dan pengakuan anak perempuannya, kedua orang tua korban akhirnya melaporkan kasus ini ke Polres Taput di Tarutung.

Pelaku Diperiksa dan Dilepas

Mendapat laporan dari orang tua korban penduduk Desa Parbubu Pea – Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara ini, pihak kepolisian memanggil “S” yang diduga sebagai pelaku. Usai pemeriksaan, pelaku ternyata tidak ditahan dan pulang ke kampungnya, seolah tindak pidana pemerkosaan itu tidak benar terjadi.

Masyarakat Desa Parbubu Pea yang mengetahui kejadian ini akhirnya marah kepada pelaku dan berupaya mendatangi pelaku untuk meminta pengakuannya. Kepada orang-orang yang mendatanginya di rumah kediaman pelaku di Parbubu Pea, pelaku mengakui perbuatannya.

“Waktu anak-anak muda yang bukan saja bermarga Simanjuntak, tetapi ada yang marga Tobing, marga yang sama dengan istri pelaku, mempertanyakan kebenaran pengakuan korban kepada pelaku secara langsung, yang bersangkutan sudah mengakuinya”, kata Halomoan Simanjuntak, ayah korban. “Saya bingung kenapa pelaku masih bebas berkeliaran yang membuat anak kami menjadi ketakutan, malu dan akhirnya tidak sekolah lagi”, katanya.

“Hari ini kami membawa anak kami ke Polres untuk diperiksa lagi. Belum tahu apakah setelah ini, polisi akan menahan pelaku”, katanya di tengah kebingungannya.

Pengurus GM-PSSSI&BBI se-Dunia Desak Polres Taput

Mengetahui kejadian yang menimpa warga Simanjuntak ini, Pengurus GM-PSSSI&BBI langsung melakukan koordinasi dan publikasi lewat web site Simanjuntak. Sikap pertama yang mengemuka adalah ungkapan prihatin dan sekaligus kekecewaan terhadap kinerja Polres Tapanuli Utara yang justru tidak melakukan penahanan terhadap pelaku.

“Kami akan terus mengikuti perkembangan penanganan kasus ini hingga dipastikan bahwa pelaku menerima hukuman setimpal dengan perbuatannya”, kata Fernando Simanjuntak Ketua Umum GM-PSSSI&BBI se-Dunia. “Jika, kasus ini tidak segera diungkap, tentu sangat potensial menjadi momok bagi warga Tapanuli Utara yang memiliki anak perempuan”, tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Poltak Simanjuntak, Sekretaris Umum GM-PSSSI&BBI se-Dunia, yang mengatakan bahwa seluruh warga Simanjuntak yang mengetahui kasus ini menunjukkan atensi dan mengharapkan pihak Polres Tapanuli Utara bekerja efektif, tepat waktu dan profesional. ”

Polresta dalam hal ini tidak mempertimbangkan  kebenaran materil, polres tidak bisa hanya berkutan pada pembuktian formil semata, sebab pada kasus perkosaan jarang ada saksi yang melihatnya. Kondisi psiklogi korban, yang telah mengalami korban. “Jika bukti atau saksi kurang, tentu polisi dengan ilmu kepolisian yang dimilikinya dapat mencari, menginvestigasi, menginterogasi dan berbagai tindakan sah secara hukum lainnya untuk mendapatkannya. Melepas pelaku, di satu sisi akan mengecewakan keluarga korban, namun sisi yang terpenting sangat potensial mempersulit penyidikan dan atau pemeriksaan”, katanya.

P.M. Pandapotan Simanjuntak, SH, yang juga Sekretaris Cabang GM-PSSSI&BBI Medan, mengatakan bahwa GM-PSSSI&BBI, siap mengirimkan Tim Advokasi ke Tarutung, untuk mendampingi korban dan keluarganya. “Semua pengacara yang tergabung dalam Biro Advokasi GM-PSSSI&BBI Cabang Medan, siap ditugaskan ke Tarutung untuk memastikan bahwa proses hukum terhadap pelaku ditegakkan setegak-tegaknya. Dan, bagi korban dan keluarganya, harus seadil-adilnya”, ungkapnya.

Bagaimana kelanjutan penanganan hukum kasus pemerkosaan terhadap anak di bawah umur ini, akan membuktikan apakah kinerja Polres Tapanuli Utara dapat diandalkan sebagai institusi penegak hukum. “Jika tidak, maka bukan tidak mungkin mengadukan Polres ke Bid-Propam-SU, sebagai lembaga yang dapat menilai kinerja kepolisian di Propinsi Sumatera Utara, dan kepada lembaga-lembaga terkait, seperti Komnas Perlindungan Anak dan  Komnas HAM “, kata Pandapotan.