Pengurus GM-PSSSI&BBI Serahkan Hasil Dompet Peduli

JuntakNews (Medan).

Setelah menunggu satu bulan kurang tiga hari, keluarga Almarhum Tonni Musa Sirait dapat lega karena akhirnya berhasil mengevakuasi jenazah Tonni yang sempat tertahan dan disimpan di kamar mayat “Koroner” Sydney Australia setelah menghembuskan nafas terakhirnya pada 22 Pebruari 2009.

ambulanceKedatangan peti jenazah yang masih ditutupi packing terbuat dari plastik diterima keluarga, sahabat dan Pengurus GM-PSSSI&BBI di lapangan parkir Gudang Cargo di Bandara Polonia Medan (18/03). Suasana haru biru, diiringi isak tangis keluarga dan sahabat Tonni yang sejak pukul 21.00 wib telah menunggunya. Pesawat Sriwijaya Air penerbangan Jakarta – Medan yang membawa jenazah Tonni Musa Sirait, sempat tertunda selama 1 jam, akhirnya tiba di Polonia Medan pukul 22.00 Wib.

Satu unit ambulans yang khusus dipersiapkan oleh sahabat karib almarhum bermarga Sinaga, terlihat parkir di di halaman Gudang Cargo. Sementara dari pihak keluarga yang datang menjemput terlihat David Sirait, abang kandung alamarhum beserta istri dan anaknya, juga seorang sahabatnya ketika masih bekerja di Jakarta bermarga Sinaga dan beberapa orang Pengurus PSSSI&BBI diantaranya Ir. Palti Jackson, Rudyard Simanjuntak, Herlen Simanjuntak, Mayor Ckm Ricardo Simanjuntak, MKes beserta istri dan Poltak Simanjuntak beserta istri.

Seraya menunggu sampainya jenazah ke ruang Cargo, pihak keluarga Sirait terlibat pembicaraan seputar nostalgia mereka dengan Tonni Musa Sirait semasa hidupnya dengan Pengurus GM-PSSSI&BBI dan  Bapak Sinaga yang datang dengan istrinya, sahabat almarhum.

Tonni Musa Sirait, Pribadi yang Gemar Menolong Orang Lain

pasport1Sambil terisak David Sirait, menuturkan kebaikan dan tingginya perhatian Tonni Musa Sirait terhadap keluarga. “Sewaktu dia masih bekerja di sebuah Perusahaan Jepang di Jakarta, dia sudah mendapat gaji yang besar karena dia mempunyai keahlian dan kemampuan yang cukup tinggi. Dia, tidak pernah lupa mengirimkan hasil pencahariannya ke kampung dan juga menyokong hidup saya ketika sama-sama di Jakarta”, aku abangnya.

“Ketika berencana menikah, semua keluarga tidak setuju dengan calon istri pilihan saya. Tetapi adik saya inilah yang memberikan dukungan dan mendorong saya untuk teguh jika sudah memilih calon istri harus dilanjutkan. Bahkan, dia memperlengkapi baju pengantin untuk kami berdua”, kenang David.  “Selama suami saya bekerja di Duri, sementara saya tinggal di Jakarta dengan kondisi ekonomi yang pas-pasa, adik saya Musalah yang membantu. Dia orang yang sangat baik”, kata kakak almarhum istri David sambil berupaya menghentikan isak tangisnya.

Penggambaran pribadi Tonni Musa Sirait sebagai orang yang baik,  semakin jelas ketika Sinaga, yang mengaku sebagai orang yang pernah dibantu oleh almarhum ketika dirinya baru tiba merantau di Jakarta. “Kami bertemu dengan alamrhum tahun 90-an. Ketika itu saya belum punya pekerjaan menetap. Baru berkenalan di gereja HKBP Sutoyo, langsung menawarkan saya untuk tinggal di tempat kostnya. Jadi sayalah orang yang pernah ditolong almarhum ketika hidup saya susah”, katanya dengan mata berkaca-kaca.

pemberangkatan1“Saya ketahui kematian almarhum dari surat khabar ketika saya tugas luar ke Somosir yang langsung saya ceritakan kepada istri saya ini”, katanya yang disambut anggukan istrinya. “Mengetahui kematiannya di luar negeri, saya berupaya mencari tahu kebenaran berita itu dengan menghubungi Marga Sirait yang tinggal di Lumban Julu dua hari yang lalu”.

“Kami berkomunikasi terakhir kali tahun 1998, setelah 5 (lima) tahun tidak saling mengetahui keberadaan kami masing-masing. Dia pergi dari Jakarta, tanpa memberitahukan para sahabatnya. Dia menghubungi saya lewat telepon dan memberitahu bahwa dia sudah berada di Australia dan menawarkan agar mengikutinya kesana karena ada peluang kerja di sana. Tetapi saya saat itu sudah punya pekerjaan dan telah berkeluarga”, kenangnya.

Mengaku tidak akan pernah membayarkan budi baik almarhum Tonni kepada dirinya, Sinaga berininisiatif untuk menyediakan ambulans untuk membawa jenazah sahabatnya ini ke Lumban Julu. “Hanya ini yang bisa saya lakukan membalas kebaikan sahabat saya ini. Dan saya mohon maaf tidak bisa ikut mengantarkannya ke peristirahatannya yang terakhir”, katanya.

Hasil Pengumpulan Dana Dompet Peduli GM-PSSSI&BBI Diserahkan

Selain upaya komunikasi dengan pihak Konsulat Jenderal RI di Sidney, Pengurus Pusat GM-PSSSI&BBI membuka “Dompet Peduli Tonni Musa Sirait” yang ditujukan untuk mendukung pembiayaan pemulangan dan penguburan jenazah Tonni Musa Sirait.

Sebagaimana informasi yang didapat oleh Sekretaris Jenderal GM-PSSSI&BBI Poltak Simanjuntak dari Edy Wardoyo Sekretaris I/Konsul Fungsi Kekonsuleran KJRI Sidney, bahwa pemulangan jenazah Tonni membutuhkan dana sebesar Rp. 30. Juta. Sementara, keluarga Tonni baik yang di kampung (Lumban Julu) maupun yang di Pematang Siantar, kesulitan untuk mengumpulkan dana sebesar itu. “Besarnya dana yang dibutuhkan dan keterbatasan yang dimiliki keluarga Tonni, memaksa kami melakukan upaya penggalangan dana lewat Dompet Peduli”, kata Poltak.

“Kami terdorong merespon permintaan keluarga almarhum berdasarkan rasa kemanusiaan dan rasa solidaritas terhadap Marga Sirait yang masih memilki ikatan kekerabatan dengan Marga Simanjuntak. Jadi tidak ada maksud tersembunyi dibalik aksi Dompet Peduli ini”, katanya seolah menjawab orang-orang yang mempertanyakan maksud keterlibatan GM-PSSSI&BBI dalam pemulangan jenazah Tonni.

Sumbangan para dermawan dan keluarga Sirait dari Jakarta ternyata cukup menutupi biaya keseluruhan yang dibutuhkan, bahkan lebih. Dari website Simanjuntak diketahui bahwa jumlah sumbangan yang diterima sebesar Rp. 42.325.000,-. Dana ini berasal dari Dompet Peduli GM-PSSSI&BBI sebesar Rp. 5.200.000,-, Keluarga Sirait (Jakarta) Rp. 15.000.000,-, Kumpulan Masyarakat Batak “BONA PASOGIT” Sidney sebesar Rp. 7.125.000,- dan bantuan pihak Konjen RI Sidney sebesar Rp. 15.000.000,-.

paltiMewakili GM-PSSSI&BBI, Mayor Ckm Ricardo Simanjuntak, MKes menyampaikan kata-kata penghiburan dan sekaligus pemberangkatan jenazah dari Medan menuju Lumban Julu. Sumbangan yang terkumpul dari Dompet Peduli Tonni Musa Sirait yang berjumlah Rp. 5.200.000,- diserahkan kepada pihak keluarga. Ir. Palti Jackson Simanjuntak, sambil mengucapkan ungkapan solidaritas dan dukacita menyerahkan hasil Dompet Peduli yang diterima penuh haru oleh David Sirait, abang kandung almarhum.

Menyambut kata-kata penghiburan dan ungkapan turut berduka baik dari Pengurus Pusat GM-PSSSI&BBI dan dari sahabat dekat almarhum, Jasamen Sirait yang mendampingi jenazah dari Jakarta mengucapkan terimakasih kepada GM-PSSSI&BBI dan kepada Pak Sinaga yang telah memberikan dukungan moril, sprituil dan materil sehingga jenazah Tonni dapat dibawa pulang ke kampung halaman.

“Kami hanya dapat mengucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada tulang kami marga Simanjuntak yang dari awal menunjukkan kesungguhannya membantu keluarga Sirait dalam mengurus pemulangan jenazah anak kami lamarhum Toni Musa Sirait. Kami berharap, kiranya Tuhan membalaskan budi baik semua orang yang telah menyokong kami menghadapi musibah ini”, katanya tulus.

Sebelum meninggalkan lapangan Cargo Bandara Polonia Medan, semua rombongan yang akan berangkat mengiringi jenazah ke Lumbanjulu diminta untuk berdoa bersama yang dipimpin oleh Mayor Ckm Ricardo Simanjuntak, MKes.

David Sirait yang dihubungi via telepon selularnya mengatakan bahwa rombongan tiba di Lumbanjulu pukul 03.00 dini hari dan upacara penguburan akan di lakukan hari ini (19/03) dimana lokasi pekuburan yang sudah dipersiapkan keluarga di desa Lumban Lintong – Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Tobasa.