Keluarga Tidak Mampu Sediakan Dana Evakuasi ke Indonesia A$ 4.000

Sungguh malang nasib Tonni Musa Sirait alias Tonni Alexander kelahiran 17 Juni 1965,  harus meregang nyawa di negeri orang–negeri Kanguru di tempatnya bekerja. Mengadu nasib ke negeri jiran tahun 1994 Musa berangkat ke Australia berbekal visa kunjungan yang hanya berumur 3 (tiga) bulan.

Niat dan semangat  memperbaiki status ekonomi tidak kesampaian, sebab hidupnya terhenti dan meninggal dunia tanggal 22 Pebruari 2009 di tempat dia bekerjanya.

Dengan status tidak jelas sedemikian Alamarhum Musa, hanya dapat memperoleh pekerjaan serabutan sebagai pelayan di beberapa cafe atau restauran di Sidney.

Kedua abang kandung Musa Sirait, Maruahap Sirait dan David Sirait masing-masing berdomisili di Lumban Julu dan Pematang Siantar,  yang baru pertama sekali mengetahui perihal meninggalnya Musa dari siaran TV One dan pemberitaan koran yang merelease berita dari Antara.

Dari pemberitaan itu mereka mengetahui bahwa Tonni Musa Sirait, adik kandung mereka telah 2 (dua) minggu “disimpan” di kamar mayat di Australia, sebab pihak kepolisian negara bagian New South Wales tidak mengetahui keluarga Tonni,di Indonesia. Belakangan pada tanggal 6 Maret 2009, pihak kepolisian NSW melakukan kontak dengan Konsulat Indonesia di sana.

Hari ini (9/3), David Sirait salah seorang abangnya yang tinggal di Pematang Siantar meminta pertolongan Pengurus Pusat Generasi Muda Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina (GM-PSSSI&B) yang bermarkas di Pematang Siantar untuk membantu mereka agar mayat Tonni di evakuasi ke kampung halaman mereka di Lumban Julu.

Selain kesulitan berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait di Australia, mereka juga menghadapi kesulitan finansial. Atas dasar keprihatinan dan jalinan kekerabatan Simanjuntak dengan Sirait, maka Pengurus Pusat GM-PSSSI&BBI menyanggupi untuk melakukan pengurusan masalah ini.

IPTU T.P. Butar-butar, SH, Bendahara Umum GM-PSSSI&BBI se-Dunia yang ditemui oleh pihak keluarga Tonni di Pematang Siantar selanjutnya mempertemukan David Sirait dengan Fernando Simanjuntak Ketua Umum  GM-PSSSI&BBI.

KJRI Sidney Responsif

Irwan Sinaga, salah seorang staf Departemen Luar Negeri Republik, yang sedang mengikuti program studi doktor di salah satu Universitas di Australia,  dimintai untuk membuka kontak dengan pihak Konsulat Jenderal Indonesia di Sidney.

Bapak Edy Wardoyo Sekretaris I/Konsul Fungsi Kekonsuleran KJRI Sidney yang dihubungi via handphoneya mengatakan, bahwa Tonni Sirait sudah 2 minggu disimpan di Glebe Morque dengan no. reference 516/09, sehubungan belum adanya pihak keluarga yang mau mengevakuasinya.

Selain pembicaraan telepon, Edy Wardoyo juga mengirimkan beberapa pesan singkatnya dan pesan singkat dari John Rowe petugas kepolisian NSW,  yang semakin memperjelas posisi permasalahan yang menimpa keluarga Sirait ini.

Dalam pesan singkatnya yang berbunyi “Mohon bantuan agar keluarga dapat menyediakan dana cukup bila jenazah ingin dibawa ke Indonesia. Kami akan berupaya mencari biaya yang semurah mungkin yakni untuk funeral company yang membawa jenazah ke Indonesia. Yang kami ketahui biaya untuk funeral company sekitar A$ 2.500 dan biaya kirim ke Indonesia (Jakarta) A$ 1.500. Alamrhum Tonni tidak meninggalkan uang maupun barang-barang berharga dan hal ini sudah diperiksa oleh polisi ausie di tempat dimana dia tinggal selama 8 tahun terakhir di Sidney”, jelasnya.

Ditambahkannya bahwa biaya itu akan lebih besar lagi jika almarhum di kebumikan di Australia.

Penanganan Polisi NSW Serius

Rowe, petugas kepolisian dari New South Wales yang menangani secara langsung kasus kematian Tonni Sirait, tampaknya menunjukkan keseriusannya dalam menyelesaikan permasalahan ini. Komunikasi yang intens dengan pihak Konsulat Indonesia (Edy Wardoyo), terus berlangsung dengan baik.

Isi pesan singkatnya yang dikirimkan kepada Edy Wardoyo dan di forward ke Pengurus GM-PSSSI&BBI menyatakan “Hello Mr. Edy, Mr. Sirait’s body is at the Glebe morgue reference no. 516/09 tel 02 85847777 fax 96607594 Parramata rd GLEBE. You will need to send the morgue his next of kin details and also Rose Bay Police on fax 93626311. In order to arrange his funeral Mr. Sirait’s relatives will need to contact a commercial funeral director. NSW Police cannot give advice in regard to this selection. Regretfully owing to my injury I may not on duty until 20 March. Please call me on this mobile, should you need futher assistance. Mr. Sirait’s landlady is Ms. Anita Smith 1/22 Cooper St. Double Bay NSW tel. 93285627. She is storing the bulk of his personal goods”.

Pesan singkat Rowe, berikutnya berbunyi “Thank you I lookforward to receiving his family details. I will also complete a full report for the coroner. This will not result in going to the coroners court, but will consist of statement from the witneseses at the scene of his death and the report of the causes of his death”.

Ketika ditanyakan kepada Pak Edy Wardoyo perihal lokasi kematian, yang bersangkutan mengirimkan pesan singkat yang mengatakan “Alamarhum meninggal sewaktu bekerja sebagai waiter di restaurant Perancis “Vamps” di 227 Glenmore Rd Paddington Sydney. Tempat lain dimana almarhum pernah bekerja adalah cafe “Sloane” di Oxford street”.

Butuh Bantuan

Keinginan pihak keluarga Sirait baik yang tinggal di Lumban Julu, maupun di Pematang Siantar untuk membawa jenazah Tonni ke kampung halaman terbentur pada masalah penyediaan dana yang tergolong tidak kecil mencapai A$ 4.000 atau sekitar Rp. 30 Juta.

Menurut Edy Wardoyo, bahwa almarhum selama 8 tahu hidup di Australia hidup dengan keprihatinan. Dan, ketika yang bersangkutan melakukan komunikasi dengan komunitas Indonesia atau Batak di tempat Sirait berdomisili, hampir tidak ada yang mengenalinya. “Sangat sulit untuk meminta bantuan dan solidaritas Batak di sini, sebab mereka tidak kenal alamarhum”, katanya.

Terlepas dari kekurangan Tonni Musa Sirait semasa hidupnya, keinginan keluarga agar mayatnya di bawa pulang kampung adalah sangat manusiawi. Dukungan finansial sangat mereka butuhkan. Siapa yang ingin membantu???