Sinode Godang HKBP ke-59 di Seminarium HKBP Sipoholon, yang berlangsung 1 – 7 September 2008, menetapkan Pdt. Debora Purada Sinaga, STh, MA, satu-satunya praeses perempuan dari 26 praeses baru yang akan memimpin  di distrik-distrik HKBP se-Dunia. Sebanyak 52 orang pendeta HKBP, mencalonkan diri sebagai Praeses, Debora berhasil mengumpulkan suara sebanyak 596 suara. Sebuah terobosan baru, perempuan pertama sebagai praeses di HKBP.

Mengetahui khabar ini, ingatan saya kembali ke tahun 1992, ketika pertama sekali bertemu dengan Pdt. Debora Sinaga yang baru saja menyelesaikan kursusnya di Asian Rural Institute – Jepang. Berpenampilan bersahaja, sangat sederhana dan rendah hati. Tutur kata, yang runtun, jelas, walau jelas tampak bahwa bahasa kesehariannya sepertinya bukan Bahasa Batak. “Saya, besar di Jakarta. Bahasa Batak, saya tahu selama pendidikan di STT HKBP Pematang Siantar”, katanya.

Hasil pendidikannya di ARI-Japan, sepertinya sangat membantunya hadir sebagai pelayan di tengah-tengah umatnya yang mayoritas petani. Lewat Departemen Pengembangan Masyarakat HKBP, Pdt. Debora Sinaga bersama-sama dengan sarjana-sarjana non teologis lainnya, melakukan pelayanan terhadap jemaat di pedesaan. “Khotbah dimaknai tidak sebatas perkataan, tetapi perbuatan”, menjadi gambaran keseharian Debora. Memotivasi petani untuk bangkit dari kemiskinan, memperkenalkan teknologi tepat guna di bidang pertanian, peternakan dan perikanan, digelutinya tanpa henti.

Pernah suatu waktu, di sebuah gereja di perkampungan di Tapanuli Utara, Pdt. Debora Sinaga diminta untuk berkhotbah. Thema khotbahnya seingat saya dari Yeremia yang kira-kira isinya “Usahakanlah kesejahteraan kota, kemana engkau di buang”. Yang menarik, Debora menyampaikannya secara kontelstual. Jemaat, tidak ada yang ngantuk tampaknya. Debora, berhasil menghadirkan sosok pendeta yang “Act Locally, Think Globally”.

Kepergianya ke Jepang mengikuti kursus, selain mendapat ilmu dan keterampilan, juga menemukan “seorang” calon pasangan hidup. Laki-laki berkebangsaan Jepang yang diperkenalkannya  bernama Uno Usan. Tahun 2000, mereka akhirnya mengikat pernikahan yang dilangsungkan di Kota Medan. Uno-san yang orang Jepang itu, akhirnya dimargakan sebagai Simanjuntak.

Selama puluhan tahun melayani, Debora lebih dikenal sebagai motivator masyarakat pedesaan. Jemaat menjadikannya sebagai “teman”. Teman yang selalu mendorong pengembangan masyarakat. Dan itulah, khotbahnya.

Lalu, sekarang dia dipercaya menjadi Praeses. Akankah, jabatan baru ini akan membuatnya berjarak dari jemaat? Atau, justru ini menjadi peluang baru baginya mengembangkan pemikiran theologi kontekstual yang selalu ditekuninnya?

Sebagai Praeses perempuan pertama di HKBP, tentu sangat besar harapan, Debora seharusnya bisa meyakinkan HKBP, bahwa Praeses bukan saja domainnya pendeta laki-laki.