Oleh : Ricat Gordon Simanjuntak – København SV

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budaya dan sejarahnya. Suku Batak juga mendapat julukan sebagai Bangso Batak. Berbagai potensi, sejak ribuan tahun telah ada dan dimiliki. Sumber Daya Alam seperti Danau Toba dengan Pulau Samosirnya merupakan salah satu Objek wisata yang terbesar Buat Sumatera Utara, Konon Si Raja Batak berasal dari Pusuk Buhit, Samosir.

Sebelum terjadinya masa resesi  di Indonesia pada tahun 1998, kita masih bisa melihat betapa banyaknya wisatawan mancanegara yang datang ke Danau Toba, Samosir untuk menikmati keindahan alam serta melihat secara langsung beberapa kegiatan adat Batak, salah satu adalah Pesta Pernikahan.
Mayoritas dari para wisatawan-wisatawan tersebut merada kagum melihat cara berjalannya adat tersebut, termasuk para peserta pesta yang begitu banyak sekali.

Adat Batak merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Batak dan jika dilihat dari segi pembiayaan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, alias mahal, bahkan jika diikuti secara lengkap, maka dapat dikatakan biaya termahal dari seluruh posting pengeluaran kehidupan sehari-hari. Biaya pesta adat pernikahan adalah salah satu diantaranya. Kita tahu bahwa kalau mau mengadakan pesta pernikahan tentu menginginkan agar  acara tersebut terlaksana dengan meriah. Pengantin laki-laki juga berkata akan mengusahakan segalanya, mengorbankan segalanya demi cinta dan kasihnya kepada pasanganannya.

Pertanyaannya, “Apakah kita harus mengorbankan segalanya demi Pesta pernikahan tersebut agar berjalan dengan meriah?” Kita ketahui pesta yang meriah juga adalah salah satu hal yang harus ditanggulangi. Godaan agar resepsi dilaksanakan di gedung yang megah, dengan musik yang meriah dengan harapan dan sudah menjadi persepsi umum yang mengatakan agar para tetamu merasa puas akan pesta tersebut.

Bagaimana sebenarnya kalau orang yang berasal dari ekonomi lemah? Apakah hal-hal tersebut akan membawa suatu dilema yang memberikan persepsi yang mengatakan wah saya tidak sanggup ini. Tuhor borunya saja sudah sekian puluh juta,belum lagi acara martuppolnya, acara adat pernikahannya dan sebagainya, sebagainya.

Apakah hal-hal tersebut di atas akan diatasi dengan begitu mudah?, Ada yang bilang pinjam uang aja atau biar saja orang tua si laki-laki yang menanggung segalanya. Wah orang tuanya juga berasal dari keluarga lemah, jadi bagaimana ya???

Apakah konteks adat Batak ini memang harus kita sesuaikan dengan kemajuan zaman?  Yah mari kita jawab sendiri. Tapanuli juga pernah mendapat sebutan Peta Kemiskinan, hal tersebut mengingatkan akan para perantau Batak untuk ingat akan tanah kelahirannya. Kita masih ingat Almarhum Raja Inal Siregar dengan suatu slogan yang mengatakan MARTABE, Marsipature Hutana Be. Cukup mengharukan untuk didengar. Tetapi, mungkin lebih baik kalau MARTABE kita dahului dengan Marsipature Tabiatna BE.

Kalau memang Tapanuli disebut-sebut sebagai salah satu Wilayah miskin, dan tiba-tiba Para Malaikat-Malaikat dari surga ingin menolong dan memberitahukannya kepada Tuhan. Lalu Tuhan memberikan perintahNya kepada mereka akan mengirimkan salah satu pesawat  yang terbesar, yang bermuatan segala macam hal yang mana akan dapat memberikan kelegahan buat Tapanuli.

Namun pesawat tersebut tidak dapat mendarat di Tanah Batak karena setiap kali akan mendarat selalu ada Bangunan Megah yang sebenarnya adalah tugu-tugu kuburan. Hal tersebut memeberikan image yang mengatakan, wah ini daerah Tapanuli bukan daerah miskin, karena dengan jarak yang tidak begitu jauh selalu ada bangunan besar yang ternyata adalah tugu-tugu kuburan.

Ricat Gordon Simanjuntak
Schubertsvej 12, 2 th
2450 København SV
Tlf. 38741721/22307235
email: richardsmjk@yahoo.com