Ketertarikan mengetahui lebih dalam tentang seorang sosok manusia, bukanlah hanya sekedar menyusun penggalan-penggalan perjalanan hidupnya. Bukan juga sebatas menokohkan seseorang tanpa alasan. Menuliskan perjalanan hidup St. Kasmin Maruahal Pandapotan Simanjuntak, kalau tidak bisa dikatakan suatu keharusan, paling tidak sebagai bentuk respon positif terhadap segala bentuk kebaikan yang pernah ditorehnya, terutama bagi keluarga besar Simanjuntak Sitolu Sada Ina, dimanapun mereka berada.

Mengungkap pola hidup, cita-cita dan karya, bukanlah pekerjaan yang mudah, sebab sangat terkait dengan subjektifitas penulis yang juga bagian dari keluarga Simanjuntak Sitolu Sada Ina. Tetapi, perlu digarisbawahi, bahwa subjektifitas itu, bisa diminimalisasi, sebab, sebagai orang yang menulis, saya tidak memiliki interaksi komunikasi yang cukup dengan orang yang akan saya runut perjalanan hidupnya.

Mengumpulkan informasi justru tidak langsung dari yang bersangkutan, di satu sisi akan membuka kemungkinan bias “pengenalan”, tetapi di sisi lain dapat menjamin objektifitas penilaian, terhadap orang yang sedang kita bicarakan ini.

Pertama sekali, saya mendengar nama Kasmin Simanjuntak adalah dari orang tua saya yang tinggal di Tarutung. Sebagai salah seorang pengurus PSSSI/B di Silindung, beliau menuturkan betapa seseorang yang belakangan disebut namanya St. Prof. DR. Kasmin Simanjuntak, MBA, telah mendorong PSSSI/B Silindung untuk berfikir mengenai bea siswa bagi anak-anak PSSSI/B yang berprestasi dan kekurangan.

Tidak cukup dengan cerita ini, ternyata orang tua ini, juga mengetahui betapa Kasmin Simanjuntak, mau kembali ke kampungnya, membangun sesuatu dan berinteraksi dan melakukan pekerjaan yang jauh dari kesehariannya sebagai pengusaha sukses di bidang industry perminyakan.

Menjaga agar pengenalan itu tidak sebatas bersumber dari orang jauh, saya mencoba bertanya ke berbagai pihak, terutama para marga Simanjuntak yang mengaku kenal dengan Kasmin. Di samping itu, saya melakukan komunikasi interaktif lewat jasa Internet dengan anak perempauan (Tita) dan anak laki-lakinya (Charley) yang keduanya sedang menimba ilmu di negeri Kanguru Australia.

Lewat komunikasi, saya mencoba melakukan penelusuran dengan menyampaikan berbagai pertanyaan investigative. Informasi dari orang terdekat akhirnya saya peroleh, ketika Tita, membuka peluang itu untuk saya ketahui. Keterbukaan Tita dan wawasan yang dimilikinya, ternyata sangat membantu dalam memahami, siapa dan bagaimana Kasmin Simanjuntak, dalam mengelola hidup, mengerjakan langkah menuju cita-cita pribadi dan mimpinya membangun keluarganya dan membangun komunitas Simanjuntak dan bangsanya, bangsa Batak.

Berpenampilan sederhana, namun bersahaja, ramah dan responsif, itulah yang tergambar, ketika pertama sekali melihat sosok Kasmin. Ditemani, istrinya yang tergolong berparas cantik dan kelihatan jauh lebih muda, belakangan saya tahu bernama Netty Pardosi, langsung mendapat sambutan penuh ramah tamah dari pengurus dan tokoh PSSSI/B yang sedang berkumpul dalam perhelatan pembentukan GM-PSSSI/BBI se-Dunia dan launching website dan Tarombo On-line Simanjuntak Sitolu Sada Ina, di bulan Maret 2008.

Sepanjang acara, diikutinya dengan serius, sekali-sekali melakukan pembicaraan kecil dengan Ketua PSSSI/B Kota Pematang Siantar yang bertindak sebagai tuan rumah saat itu. Keesokan harinya, ketika pelaksanaan pesta HUT ke-53 PSSSI/B Kota Pematang Siantar yang diikuti ribuan warga Simanjuntak, Kasmin didampingi istri tercintanya, Nampak bersahaja mengikuti seluruh rangkaian acara.

Tanpa ekspresi menonjolkan diri, beliau menunjukkan atensinya dengan memberikan kontribusi sebagai bentuk partisipasinya dalam mendukung kepanitiaan pesta. Yang menarik, penyampaian bantuan ini dilakukan dengan penuh kerendahan hati. Minus, ‘anggar jago’, walau moment itu memungkinkan untuk pamer “siadongan”, seperti biasanya terjadi di pesta-pesta orang Batak.

Bagi saya ini menjadi point penting, sebab ada yang menjadi bahan pelajaran dari sikap itu. Ilmu padi, semakin berisi, berbobot, semakin merunduk. Sikap yang sama, juga dimiliki oleh ‘soripadanya’ yang mengikuti dengan penuh kesungguhan, bersahaja dan sederhana.

Bermula dari Pendidikan Keluarga

Lahir dari keluarga Kristiani, dari pasangan St.Gr. Karianus Simanjuntak dengan Selma br. Napitupulu (alm), anak ke-5 dari 11 orang bersaudara, Kasmin lahir di Lumban Muara/23 November 1950. Masa kanak-kanaknya dihabiskan bersama kelurga besarnya di Desa Pardomuan, Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir.

Di bawah pendidikan ayah sebagai seorang sintua dan guru dengan jumlah anggota keluarga yang besar, pola hidup sangat sederhana menjadi keseharian. Metoda mendidik anak secara ‘keras’ dan ‘ketat’, dari kedua orang tuanya, bisa jadi faktor penting dalam kualitas displin diri anak-anaknya, termasuk bagi diri Kasmin.

Pendidikan dan Pengalaman Empirik

Usai menamatkan sekolah di Sekolah Rakjat Simanobak tahun 1963, sekolah lanjutan pertama dilanjutkannya ke SMEP Negeri Pematang Siantar tahun 1957 dan berhasil ditamatkannya tahun 1963. Berbekal ijazah SMEP, Kasmin melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah lanjutan atas di SMEA Negeri Balige dari tahun 1970 hingga 1973.

Ilmu ekonomi yang dimilikinya dari bangku pendidikan, sepertinya mendorong Kasmin untuk lebih serius dan mulai fokus di bidang perbankan dan keuangan, dengan memasuki perguruan tinggi, Akademi Bank dan Keuangan – Jakarta, sejak 1970 hingga 1973.

Mengandalkan ilmu yang diperolehnya dari jalur formal yang pada masa itu sudah terbilang cukup tinggi, pada tahun 1974 – 1975, Kasmin diterima bekerja di salah satu perusahaan minyak (oil company) di Sorong – Irian Jaya (saat itu), yaitu Petromer Trend Energy. Kurang diketahui alasan berikutnya, beliau berpindah kerja ke perusahaan sejenis dari tahun 1975 – 1976 ke Rowan International Inc. dan Robray Drilling Co, di Sorong – Kaymana – Irian Jaya.

Mendapat penilain yang cukup baik di perusahaan ini, tahun 1976 – 1978, beliau dipercaya menjadi Manager Rowan International Inc. dan Robray Drilling Co. di Balik Papan, Kalimantan Timur. Posisi Manager, dilanjutkannya ke perusahaan sejenis lainnya. Pada tahun 1978 – 1979, Kasmin dipercaya menjadi Manager di Westburn Drilling Co.di Sorong – Kaymana – Irian Jaya, dan terakhir pada tahun 1979 – 1981 menjadi Manager di Japan Drilling Co. di Balik Papan, Kalimantan Timur dan Jakarta.

Pengalaman empirik di bisnis perminyakan dan drilling selama 7 (tujuh) tahun, sepertinya cukup baginya untuk memulai bisnis sendiri dengan mendirikan PT. Balikpapan Bintang Kalimantan (BBK) yang bergerak di bidang general contractor and supplier (specialized in Oil Drilling field, licensed with Migas and all other relevant authority, trained and certified national and international standard).

Lewat PT. BBK dimana Kasmin bertindak sebagai Direktur Utama, Kasmin terus menjalin jaringan bisnis dengan bekas perusahaan dimana beliau pernah menjadi manager. Tahun 1981 – 1983, mejadi Labor Contractor pada Perusahaan Japan Drilling Co, tahun 1982 – 1987, menjadi Labor Contractor Rowan International Inc dan tahun 1982 – sekarang, menjadi Labor Contractor Global SantaFe Drilling Co (sekarang bernama Trans-Ocean).

Mengikuti perjalanan karir dan bisnisnya, Kasmin beserta keluarganya, akhirnya menjadi warga di tiga tempat sekaligus, yaitu Desa Pardomuan, Kec. Silaen – Tobasa, di Jakarta tepatnya di Jln. Raya Kelapa Gading Permai Blok CC/1 Jakarta Utara dan di Kalimantan, tepatnya di Jln. Pupuk Raya No. 44, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Membangun Keluarga Ideal

Pada usia 34 Tahun, Kasmin, akhirnya mengakhiri masa lajangnya dengan mempersunting seorang gadis, berparas cantik, Netty boru Pardosi. Ibarat pepatah, asam di gunung, ikan di lautan, Kasmin, menemukan tambatan hatinya justru di Kota Pematang Siantar. Dalam suatu kunjungan ke Pajak Horas, Kasmin menaruh hati kepada seorang gadis Netty Pardosi. Walau sudah tergolong terlambat, tanggal 9 Januari 1985 Kasmin, berketepatan hati menikahi gadis yang menjadi jodohnya ini di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dari hasil perkawinannya, pasangan berbahagia ini dikarunia anak laki-laki dan anak perempuan :

  • 28 Oktober 1985, lahir putra pertama Charley Putra Dokmatua Simanjuntak, di Balikpapan, Kalimantan Timur.
  • 17 Juli 1987, lahir putri pertama Astita Gloria Simanjuntak, di Balikpapan, Kalimantan Timur.
  • 12 Mei 1989, lahir putra kedua Bobby Gorga Simanjuntak, di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Sebagai putra Batak dengan prinsip “Anakhon hi do hamoraon di Au”, Kasmin tidak lupa mendorong anak-anaknya untuk menimba ilmu setingi-tingginya. Keseriusannya dalam mendukung keturunannya untuk menjadi “orang”, dapat dilihat dari jenjang pendidikan yang ditempuh anak-anaknya.

Anak Pertama, Charley Putra Dokmatua Simanjuntak, menjalani perkuliahan dan saat ini sudah meraih gelar Sarjana Kedokteran dari Universitas Indonesia dan sedang menjalani tahap co-ass, di Australia dan Jakarta. Tentu, berharap di antara anaknya ada yang dapat menjadi dokter adalah bentuk kesediaan hadir sebagai keluarga yang mempunyai tanggungjawab moral dalam melayani kesehatan masyarakat.

Anak kedua yang menjadi putri pertama, semata wayang Astita Gloria Simanjuntak, justru didorong mengikuti jejak ayahnya dengan menempuh pendidikan di Monash University dan telah meraih Diploma of Business, dan sedang menjalani pendidikan di Deakin University Melbourne, untuk meraih Bachelor of Commerce (HRM and Marketing).

Sementara, anak ketiga, dan putra kedua, Bobby Gorga Simanjuntak, sedang menjalani perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Trisakti Jakarta.

Ketiga anak-anaknya, kelihatan sedang berupaya meraih dan menempatkan diri sebagai kaum intelektual, dan peluang sedang terbuka bagi mereka. Tinggal lagi, apakah mereka memanfaatkannya secara maksimal, dan sungguh-sungguh. Pada tahap ini, Kasmin hadir sebagai orang tua yang memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya arti pendidikan.

Tidak cukup dengan ambisi tinggi di bidang pendidikan bagi anak-anaknya saja. Kasmin sendiri, kelihatannya gelar yang dapat mewakili tingkat intelektualitas dan profesionalitas yang dimilikinya menjadi penting. Gelar Professor, Doktor dan MBA, terlihat melekat di depan dan belakang namanya.

Komunikasi Cultural, Spritualitas dan Kesadaran Politik

Walau hidup diperantauan sudah lebih banyak mewarnai pola hidupnya, Kasmin seolah tidak mau kehilangan ikatan dengan akarnya. Komunikasi dengan kampung halaman tetap terbina dengan baik. Kesuksesan di rantau, secara nyata dipakainya sebagai faktor pendukung dalam membangun kampung halaman.

Jika, banyak orang Batak yang sukses di perantauan, melakukan sesuatu di kampung halamanya secara demonstratif, seorang Kasmin, justru hadir dengan ‘diam-diam’. Berbuat sesuatu sepertinya bukanlah mengharapkan ‘sesuatu’, tetapi justru berorientasi memberi sesuatu. Ibarat orang yang berhutang terhadap asal leluhurnya, Kasmin menyisihkan kekayaan, fikiran dan perbuatannya untuk berbuat nyata di kampung halamannya.

Peran dalam memajukan daerahnya dapat terlihat dari perannya membantu pembangunan Kantor Camat Kecamatan Nassau, salah satu Kecamatan yang baru dimekarkan dari kecamatan induknya. Juga, berbagai bentuk dukungan moril dan materil dalam pengembangan pelayanan public lewat pemerintah di desanya dan bahkan di Kabupaten Toba Samosir.

Menerima ‘gelar’ ke-sintuaan’, yang bisa saja dilakukannya ketika masih di perantauan, ternyata lebih berarti baginya ketika sudah berada di kampung halaman. Desember 2006, tohonan Sintua di HKBP Simanobak, Desa Pardomuan, Kecamatan Silaen, Kabupaten Tobasa, resmi diembannya.

Kesediaan untuk hadir secara langsung di antara warga kampungnya, tentu bukan tanpa konsekuensi. Sebagian, kegiatan bisnisnya ditinggalkan demi memberi contoh etos kerja bagi warga dan kerabatnya di desa. Kepala Desa, diraihnya tentu bukan untuk memperoleh pengakuan atau sekedar gelar atau perbaikan kelas sosial. Namun, jauh di lubuk hatinya, terlihat jelas sebuah mimpi menghadirkan contoh pemimpin yang lebih berjiwa melayani, daripada dilayani. Tahun 2003 hingga sekarang, Kasmin menjabat Kepala Desa di Desa Pardomuan, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba Samosir.

Kepedulian sosial yang tinggi, sejak lama ditunjukkan. Penggalan hidupnya, diisi dengan berbagai kegiatan sosial dengan melibatkan diri secara langsung dalam kegiatan dan organisasi sosial kemasyarakatan berbasis adat.

Tahun 1994 – 1998, Kasmin dipercaya menjadi salah seorang Pengurus Pusat Parsadaan Pardosi dan Boru se-Jakarta Raya. Ini membuktikan pemahamannya yang penuh dengan prinsip adat Batak. “Somba Marhula-hula”.

Tahun 1999 – 2004, aktif menjadi Ketua PSSSI/B Wilayah Jakarta Utara, dilanjutkan tahun 2000 – 2004, menjadi Ketua PSSSI/B Jakarta Raya mewakili Hutabulu dan tahun 2004, dipercaya menjadi Ketua Panitia Pesta Bolon PSSSI/B se-Jakarta Raya. Ini, merupakan bukti pemahamannya terhadap prinsip Adat Batak “Manat Mardongan Tubu” dan “Elek Marboru”.

Kesungguhannya membangun komunitas Simanjuntak serta ketulusan dalam memberikan ‘sesuatu’ terhadap keutuhan Simanjuntak Sitolu Sada Ina, secara eksplisit dapat terlihat dari upayanya mengorbitkan lagu garapnnya “Great Simanjuntak”.

Di bidang politik, kesadaran pentingnya merubah sistim dan kebijakan, menjadi agenda yang mewarnai pemikirannya. Keinginan mewarnai kebijakan di Kabupaten Toba Samosir, beliau terdorong untuk maju menjadi Legislatif DPRD Tobasa – DAPEM II dari Partai Pelopor.

Bertindak Lokal

Puaskah Kasmin dengan apa yang sudah dijalaninnya? Pertanyaan ini, seyogianya bisa dijawab oleh beliau. Tapi, saya mencoba melihat sisi lain dari kehidupannya. Sebagai pebisnis, Kasmin dapat dikatakan sukses besar hingga mampu mendirikan perusahaan di bidang perminyakan. Bayangan saya sebelum mengetahui hobbynya, pastilah pemain Golf yang handal.

Ternyata dugaanku meleset jauh. Sulit rasanya mempercayai informasi, bahwa seorang Kasmin yang memiliki pengalaman empirik yang spesifik, menguasi Bahasa Inggris, Bahasa Batak dan Bahasa Indonesia, ternyata punya hobby “menangkap burung”, sehari-hari disebut “marpikket”, atau “mar-anduhur”. Gara-gara hobby yang satu ini, Tita anak kesayangannya, mengatakan, bahwa ayahnya menjadi “item” terjemur matahari, menunggu burung masuk ke dalam perangkap yang dipasangnya.

Memancing ikan di sungai di desanya, jika tidak pergi ke Kedai Tuak, menjadi dinamika baru penuh nikmat baginya. Komunikasi dengan warganya, berlangsung sangat dalam. Pendalaman akan kondisi riil di desanya berjalan dengan sendirinya. Kedekatan ini juga akhirnya melahirkan munculnya ide-ide cerdas dalam membangun percontohan yang dapat bermanfaat secara langsung, baik bagi keluarga dekatnya maupun kepada warga desa secara umum.

Hamparan perladangan nenas, dan berbagai komoditi pertanian serta menghadirkan percontohan usaha peternakan babi yang ditangani secara professional, menjadi obat baginya. Memandang Bukit Holong, yang menjadi kawasan perladangan dihiasi bangunan Salib besar, serasa mendapat inspirasi baru, akan pentingnya pengelolaan hidup secara sungguh-sungguh, tanpa kehilangan nilai spritualitas. Perpaduan antara, perladangan nenas dengan Salib Besar ini, seolah-olah mengatakan “Ora et Labora”, atau “satonga ni tangiang do ulaon”.

Kasmin Simanjuntak, berhasil memadukan kekayaan material, moral dan spiritual, lewat keberanian, kembali ke kampung dengan segudang hasrat dan doa …

Ditulis : Poltak Simanjuntak
Sekretaris Jenderal GM-PSSSI/BBI se-Dunia