Tiap Mei aku Ulang tahun. Yah, sebenarnya seneng banget, tapi kadangkala tersadar, ketika ada orang yang mengingatkan dan bertanya. Setiap pertanyaan berkaitan dengan pernikahan, saya rasakan sebuah tamparan. Tamparan persis di pipi kiri atau kanan. Kadang tersadar, target ku buat NIKAH MUDA makin pupus. Hehehe! 🙂 Kalau orang-orang punya cita-cita dengan masa depannya berupa karier apa yang akan diraih, aku beda, aku pengen punya karier jadi ibu rumah tangga, yang saya anggap sebagai bentuk pekerjaan dan karier yang lebih mulia. Hihiihii! 🙂

Mendekati waktu wisudaku, pertanyaan itu semakin gencar hinggap di telingaku. Di mulai dari pertanyaan ang mudah, “Siapa Pacarmu Sekarang? ”, “Udah bisalah, kan udah mau wisuda?” dan banyak pertanyaan bentuk lain yang masih kategori, seperti basa-basi. Dalam hati, membathin, “Pentingkah?”

Sabarlah, emangnya aku nggak punya keinginan? Mati rasa? Kalau saja mereka tahu, bahwa pernah ada terbersit cita-cita nikah muda? Tapi, untuk punya pacar saja, menurutku butuh proses yang rumit, panjang dan berbelit, sebelit benang yang kadung kusut. Konon lagi nikah? Is not so simple.

Belakangan setelah aku dapat kerja, padahal baru, belum lama-lama amat, gaji belum seberapa, posisi di kantor masih “kuli kasar”, pertanyaan semakin menunjukkan peningkatan kualitas dan intensitas. Dan, jawabannya juga semakin sulit dan kompleks!

“Kapan kau menikah boru hasian???”
“Janganlah terlalu milih-milih!!!”
“Tak usah lama-lama lagi!!!”
“Jangan hanya pekerjaanmu yang kau pikirikan. Duit dan harta tak dibawa mati !!!”

Bah! Sakit otak kurasa. Sepertinya tak ada lagi topik pembicaraan yang lain untuk anak gadis selain kalimat seperti itu ya? Dan, mungkin bukan cuma aku saja, ini udah jadi makanan sehari-hari banyak orang (yang nasib nya sama kayak aku, belum nemu si Rongkap ni Tondi).

“Kapan kau menikah boru hasian???”
Mana aku tau among, inong, bapa uda, inang tua, amangboru (asal lah tak dibilangnya, sama anakku aja! Amang tahe, buatku marpariban bukan pilihan. Nggak tahu kenapa! Maaf ya ibanku, hehe). Kan, nggak ada yang salah kalau aku masih mau sendiri. Memang kalau aku masih sendirian itu aib? Terus, kalau aku masih sendiri bakal nambah kasus perceraian antar artis-artis sekarang? Hehehe, nggak kan?

“Janganlah terlalu milih-milih!!!”
Mak! Milih itu penting! Dulu kalau nggak mikir aku punya cita-cita nikah muda, udah pasti aku kuliah di kedokteran sekarang. Bukannya seorang analis, dengan program D3, biar aku bisa cepat dapat kerja, karena buatku, wanita itu tugas dan pengabdiannya sesuai dengan kodratnya di dapur, jadi ibu rumah tangga, bukan melawan emansipasi wanita, tp jadi ibu rumah tangga itu utama, karier juga bisa jadi pendamping bukan pokok (ini terinspirasi dari omak ku di rumah). Tapi kalau sekarang, cita-citaku kawin muda nggak kesampaian? Ya, Dia-lah yang tau…

Kalau nanti aku memutuskan untuk menikah dengan laki-laki (bukan sesama jenis) itu kan artinya aku sudah melakukan suatu proses memilih (maaf klo agak ngeri contohnya, tapi bukan nggak banyak orang di luar sana memilih kebalikannya). Kalau nanti aku memutuskan untuk menikah dengan laki-laki Batak dan bukan laki-laki suku lain, berarti aku juga sudah buat suatu pilihan, bukan?

Kalau nanti kuputuskan, untuk menikah dengan laki-laki yang mengakui Tuhan yang sama denganku dan bukan yang beda kepercayaan, berarti itu juga pilihan kan? Intinya milih itu awal dari sebuah keputusan! Itu buatku…

Rada-rada heran, bingung kalau aku tanya teman-teman, kenapa pada hoby bikin pertandingan nikah cepat-cepatan? Alasannya? Karena umurlah. Sudah didesak orang tua yang pengen punya cuculah. Ada juga yang mulai malu karena anak gadisnya nggak laku-laku. Takut dibilang perawan tua nanti. Takut sama semua alasan itu? Hallooo… Kita yang bakal ngejalanin, kok. Orang tua hanya akan mengantar kita ke gerbang pernikahan selanjutnya, taon sandiri!

Setiap perbedaan yang ada di diriku dan dirinya itu adalah satu hal paling penting untuk jadi bahan pertimbangan. Apa udah benar-benar yakin. Kamu itu Soulmate–melengkapi. Sama seperti perumpaman tulang rusuk. Apa aku sudah bisa menerima sifat atau karakter paling buruk yang sudah ada dan mendarah daging berpuluh tahun di dalam dirinya? Apa itu bisa hilang kayak sulap kalau nanti sudah dalam status menikah?

Kalau, menikah cuma gara-gara umur, menurutku itu bukan alasan yang baik. Tidak ada satu manusiapun yang bisa kasih jaminan atau hak paten, umur berapa kita akan mendapatkan kebahagian dalam pernikahan. Belum tentu umur 25 tahun untuk perempuan dan umur 30 tahun untuk laki-laki, sebagai usia yang tepat. Itu kan cuma pengamatan pemerintah, memang yang nikah pemerintah? Nggak, kan?

Menurutku ya, ketika emosi seseorang sudah stabil, kedewasaan dan temperamen sudah mulai terbentuk matang, dan persiapan materi udah cukup memadai, itu baru udah siap nikah. Jadi, bukan umur. Bisa saja orang di umur 21 tahun, udah dapatkan itu semua. Kita kan nggak tahu pengalaman hidup dan rejeki seseorang. Tapi, kalau kembali ke pengamatan, 30 tahunanlah usia dimana kita lebih sering melihat semua itu. Jadi bukan usia alasannya. Bukan juga pertimbangan, karena orang tua. Sebab, kita yang akan menjalani.

“Tak usah lama-lama lagi!!!”

Kita kan manusia. Punya naluri manusia, bukan hewan! Liat lawan jenis, pokoknya hajar. Tak peduli apa jadinya di belakang hari. Manusia, memiliki pribadi yang pasti berbeda (kembar aja pasti ada bedanya, apalagi lawan jenis, pasti bedalah). Pasti butuh waktu untuk saling tahu dan mengenal satu sama lain. Benar-benar tahu dan mengerti serta bisa menerima kelebihan, kekurangan pasangan. Nggak maulah mengambil keputusan kilat hanya karena hasrat sesaaat terus nyesal seumur hidup. Nggak ada salahnya habiskan waktu lebih lama buat pendekatan, pacaran, si waktu nggak bakalan marah-marah deh (ini kecuali yang udah nggak tahan dikejar target tertentu atau desakan usia).

“Jangan hanya pekerjaanmu yang kau pikirikan. Duit dan harta tak dibawa mati !!!”

Aku tidak terlalu mikirin kerjaan terus kok. Yang kupikirkan gajinya, hihihihi. Nikah itu butuh duit. Duit kan nggak bisa dipetik dari pohon, ya harus dikumpulinlah dari gaji… Lagian makan, bayar rekening listrik, air, beli susu anak, nyekolahin anak apa bisa pake selembar surat cinta? Nggak kan?

Jadi Kapan Mau Nikah?

Aku pasti pengen banget nikah, Really wait that moment. Tapi dengan alasan yang tepat…
Karena aku sadar kenapa dulu TUHAN menciptakan Adam itu diberi teman Hawa. Hidup ini pada waktunya akan terasa berat untuk dijalani sendiri, aku akan nikah karena aku sadar aku sangat butuh seseorang untuk saling mendukung dalam segala bentuk sudut pandang. Baik material maupun spiritual. Aku akan nikah karena aku kan butuh kasih sayang dan dia (pasanganku) juga butuh aku sayangi kan?

Aku akan nikah karena aku juga udah siap dengan semua hal terburuk yang akan aku alami dengan pasanganku, baik dalam hal penyesuaian dan toleransi atas semua karakter dan sifat pasanganku (begitu juga sebaliknya). Siap menghadapi masalah-masalah hidup baru yang akan datang, bukan cuma dari luar juga dari dalam (eh, tau ga, hubungan dengan mertua-menantu salah satu hal yang aku pikirin, ini masalah klasik dalam berumah tangga kayaknya ya, karena itu aku sering iri sama Adam dan Hawa, mungkin cuma mereka satu-satunya yang nggak berhadapan dengan masalah ini, hihi).

Jadi, Aku tidak tahu kalau ditanya kapan mau menikah? Bisa cepat, bisa lama. Bisa bulan depan, bisa tahun depan, tergantung Dia sang pencipta segalanya. Termasuk “Rongkap”. Jadi, nggak usah ditanya-tanyalagi ya. Kalau sudah waktunya pasti ada pengumuman resmi. Kan capek nanya, tapi nggak dapat jawab. Dan, Aku capek selalu ditanyain pertanyaan yang sama. Membosankan. Jawabnya, hanya Dia yang tahu. Sebab, segala sesuatu ada, waktunya. Segala sesuatu, indah pada waktunya.

By : almeryna boru juntak, hutabulu, tumonggo tua, bursok pati no. 15.