Bagian Pertama: Adat Batak dan Pembiasannya
1. Adat
Adat yang di pakai para tetua orang Batak dahulu adalah ketentuan-ketentuan kehidupan sosial, yang di buat sebagai hasil kesepakatan bersama dari masyarakat, berdasarkan situasi dan kondisi, yang digunakan sebagai pegangan hidupp dan pengikat hubungan sosial masyarakat sehari-hari, oleh sekelompok masyarakat Batak pada suatu wilayah tertentu, sehinggga diperoleh suatu tatanan hubungan sosial masyarakat yang erat, teratur, sinegis dan memiliki ketahanan.

Bila adat Batak yang di gunakan para tetua orang Batak tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama berdasarkan situasi dan kondisi di suatu wilayah, maka akan diperoleh tatanan adat Batak yang berbeda antar wilayah tertentu, sesuai kondisi dan situasinya, atau dengan perkataan lain: penerapan adat yang dipergunakan pada suatu wilayah tertentu, dapat berbeda dengan wilayah lain yang berbeda situasi dan kondisinya. Suatu wilayah tertentu dengan tatanan atau penerapan aturan adat yang tertentu disebut sebagai wilayah adat atau suatu bius.

Dengan menetapkan suatu adat sebagai pedoman hidup dan memanfaatkannya dalam kehidupan bersama sehari-hari, maka diharapkan akan dapat di peroleh suatu poladari tatanan kearifan hidup tradisional yang adaftable bari seluruh warga populasi masyarakat di suatu wilayah atau suatu bius tertentu, baik di dalam wilayah bius itu sendiri ataupun di luar bius.

Bentuk adat yang digunakan para tetua orang Batak seperti yang dibicarakan terdahulu adalah format tatanan adat Bataka berdasarkan sifat kwalitatif, yang disebut dengan adat nataradat, Seperti kita ketahuai bahwa format adat Batak berdasarkan sifat kwalitatif dibagi atas tiga bagian utama yaitu: Adat inti, adat namaradat, serta adat naniardathon.

Jenis adat sesuai sifat kwalitatif

Pase

Sifat

Keterangan

Adat-Inti

I

· Normatif

· Sacral

· Harga mati

Merupakan format adat yang paling awal

Adat Nataradat

II

· Pragmatis

· Fleksibel

· Memasukkan unsur lain

Disesuaikan dengan adat Inti

Adat-Naniadathon

III

Adaptable dengan budaya atau adat luar (exotic)

Bertentangan adan merusak adat inti

Perkembangan adat Batak berdasarkan sifat kwalitatif yaitu dari adat inti ke adat-nataradat dan selanjutnya ke adat-naniadathon, adalah mengikuti pola perubahan tatanan kehidupan masyarakat Batak baik di wilayah Bona ni Pasogit maupun di daerah perantauan. Perubahan tatanan kehidupan masyarakat Batak di Tapanuli, juga diakibatkan oleh masuknya agama baru (Kristen), serta campur tangan yang tegas dari pemerintah penjajah Belanda dahulu.

Dahulu, sebelum campur tangan pemerintah penjajah Belanda terhadap pola dan tatanan hidup masyarakat Batak penerapan adat Batak dalam suatu wilayah (bius) dipimpin dan dibina oleh seorang Parbaringin, yang juga sekaligus sebgai pimpinan agama tradisionil Batak. Dengan masuknya agama Kristen di daerah Tapanuli, serta akibat campur tangan penjabat pemerintah penjajah Belanda (Controler) yang membatasi pelaksanaann upacara adat Batak, maka pengaruh dan wibawa Parbaringin semakin berkurang.

Di sisi lain pengaruh percampuran penduduk dari beberapa bius atau kelompok marga yang berbedan di daerah baru, yaitu di daerah perantauan ataupun daerah panombangan, yang semakin lama semakin besar populasinya, pada akhirnya memaksa mereka menyepakati penerapan adat baru. Sebagai akibat peran dari parbaringin dan aturan penerapan adat yang dibinanya menjadi sangat lemah.

Pada masa belakangan ini, peran Parbaringin dalam upacara adat Batak diambil alih oleh seorang Raja Parhata, seperti: Parsinabung ataupun Raja Tinonggo. Dalam prakteknya pada setiap kegiatan ulaon adat Batak, Raja Parhata ditunjuk atau diangkat secara insidentil berdasarkan kelompok marga, bukan berdasarkan wilayah atau bius.

2. Penyimpangan Adat
Keberadaan Raja Parhata yang umumnya otodidak dan bersifat tidak terikat, member peluang pelaksanaan ulaon adat Batak menjadi menyimpang, terutama di daerah perantauan.

Perpaduan antara tiga factor, yaitu: Keberadaan dari naniadathon yang cenderung semakin mengikat, kemudian keberadaan daeri Raja Parhata yang bebas tidak terikat, serta sifat dinamis yang dimiliki orang Batak yang membuat mereka mudah beradaptasi dengan budaya luar sangat member I kemungkinan terjadinya pergeserah pada: pola hidup, norma-norma nilai, batasan perilaku, serta respon atau penerimaan terhadap budaya asing. Pada gilirannya ketiga factor itu akan menggeser sifat hidup masyarakat Batak untuk lebih pragmatis dan memiliki sifat fleksibilitas. Kondisi tersebut membuat peluang besar pada penyimpangan terhadap aturan-aturan adat.

Penyimpangan yang terjadi pada ulaon adat Batak akan maengaburkan makna ulaon adat Batak itu sendiri, serta dapat mempengaruhi bentuk persaudaraan masyarakat Batak, terutama bagi generasi muda. Generasi muda Batak sendiri diketahui sudah sejak lama mengalami peluruhan pada factor-faktor pendukung budaya Batak seperti: ketidakmampuan berbahasa Batak, tidak memahami partuturon, tidak mengetahui makna padan, dan yang sangat mengkhawatirkan adalah kurang berminat mendalami budaya adat Batak.
Beberapa penyimpangan yang sangat serius dalam ulaon adat Batak adalah : adanya Raja Parhata Bayaran dan Tulang Bayaran, pada upacara adat tertentu. Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Batak sudah cenderung mengorbankan makna hakiki adat dengan upaya-upaya perlakuan simbolis formalitas, dengan prinsip: ambil jalan pintas, asalkan ulaon adat (hajatan) dapat berlangsung.

Keberadaan Raja Parhata Bayaran yang cenderung meningkat terutama di kota-kota besar menunjukkan lemahnya organisasi adat pada masyarakat Batak. Seandainya terdapat lembaga adat Batak yang mengurus adat Batak, maka munculnya Raja Parhata Bayaran akan sulit terjadi.

Keberadaan tulang Bayaran yang sebenarnya bukanlah suatu masalah yang sederhana. Walaupun jalan pintas ini kelihatannya sangat praktis dan mudah dilaksanakan, akan tetapi bila kita merunut terhadap asal muasal atau penyebab sampai terjadinya Tulang Bayaran, maka akan terkuak suatu tragedy dalam hubungan sosial masyarakat Batak yaitu tidak harmonisnya antara tulang dengan bere, atau terputusnya hubungan informasi antara tulang dengan bere/ibeberenya. Dengan perkataan lain: pola hubungan antara tulang dengan bere/ibeberenya sesuai aturan adat Batak sudah tidak berjalan atau kurang diacuhkan.

Penulis: St Ir. Bezazel siagian MSi
Telah dimuat di Harian SIB Tgl 22 Juni 2008