Lahir dari pasangan Pdt. Washington Simanjuntak Praeses Emeritus HKBP (Alm) dengan boru ni Rajai, Dame Tiurlan br. Siahaan, sian Huta Sibuntuon Balige, tepatnya 8 Mey 1963 di Pearaja Tarutung – Kabupaten Tapanuli Utara, Tahi Bonar Simanjuntak bertumbuh di tengah pendidikan keluarga pendeta. Pola pendidikan dalam suasana penuh spritualitas, moralis dan etis, Tahi Bonar, hadir menjadi seorang pribadi yang santun, bersahaja dan patut.

Pada umur 30 tahun, setelah memiliki pekerjaan tetap di Dinas LLAJR Propinsi Sumatera Utara, dan menamatkan kuliah sebagai seorang Sarjana Ekonomi dari Universitas Amir Hamzah Medan, Tahi Bonar mempersunting boru ni rajai Susanna Eva boru Hutagalung, sarjana hukum jebolan USU Medan tahun 1993. Dari perkawinannya, pasangan berbahagia ini dikaruniai 5 (lima) orang keturunan, Fernando (14 ), Fisher (12), Fritz (9), kembar Felix dan Felixia (6).

Selain aktif sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Dinas Perhubungan, beliau juga luas dikenal sebagai aktifis gereja, dan aktif di organisasi marga Simanjuntak hingga memegang jabatan sebagai Ketua Generasi Muda Simanjuntak Sitolu Sada Ina Boru, Bere dan Ibebere (GM-PSSSI/BBI) Cabang Medan periode 2008 – 2013. Kemampuan, dan dedikasi Tahi Bonar yang lebih dikenal dengan panggilan si TB, ini memposisikannya menjadi orang yang sangat disenangi oleh banyak kalangan. Tidak saja di kalangan gereja dan marga, Tahi Bonar, yang juga berjiwa nasionalis ini menjalin persahabatan dengan orang-orang, tokoh-tokoh lintas marga, suku, agama dan profesi. Prinsip hidupnya yang lebih memilih kesederhaan dan kejujuran, membuatnya mudah untuk membuka komunikasi dengan siapa saja.

Faktor sebagai anak seorang pendeta yang juga dikenal sebagai pendeta yang santun dan pernah menjadi Praeses di beberapa HKBP Distrik seperti Silindung, Sumatera Timur, Medan – Aceh, Tanah Alas, dan terakhir di Distrik Tapsel-Sumbar-Riau, membuat Tahi Bonar dikenal luas di kalangan pelayan gereja khusunya gereja HKBP. Baginya, “hidup akan berarti, jika tenaga, hati dan fikirannya dapat menjadi saluran berkat bagi sesama”. Prinsip hidupnya ini jugalah yang tergambarkan ketika beliau menyatakan kesediaanya menjadi tuan rumah pembentukan organisasi generasi muda marga Simanjuntak di kota Medan. Harmoni hubungan dengan istri terlihat jelas. Peran Boru ni Raja i, boru Hutagalung, menjadi faktor pendukung Tahi Bonar dalam merealisasikan prinsip hidupnya.

Lahir sebagai anak ke-8 dari 12 bersaudara, Tahi Bonar mampu hadir sebagai bagian keluarga besar yang ikut mendorong pertumbuhan bersama keluarga. Memiliki saudara perempuan dan laki-laki yang juga cukup berhasil, komunikasi antar anggota keluarga terlihat baik dan saling mendukung satu sama lain. Sepertinya, semua anggota keluarga, sungguh-sungguh ingin menunjukkan contoh sebagai keluarga seorang pendeta.

Ketika, ditanya apa visi dan misi nya, dengan lugas dan tegas Tahi Bonar mengatakan “membangun masyarakat yang dulu pernah dilayani orang tuaku di Tapanuli”. Seolah seorang filsuf dia mengatakan, “keinginan hati, mau membuat sesuatu kebaikan di Tapanuli Utara”. Penulis menangkap arah jawaban ini dengan mengaitkannya, dengan Pemilihan Bupati Tapanuli Utara yang semakin dekat. Di debat dengan pertanyaan “apakah sudah siap memasuki kancah politik?” Tahoi Bonar dengan senyum khasnya menjawab “kita semua, harus berupaya merealisasikan kata bijak Si Sada Lulu, Si Sada Lungun, Si Sada Las Ni Roha”, katanya penuh makna. Semoga.