Lahir dari keluarga Minang di bawah ajaran Muslim yang kuat, yang menghabiskan waktu hingga dewasa di Padang, ternyata tidak membatasinya untuk mengabdikan diri dan keahliannya ke luar dari Kota Kelahirannya. Danau Toba, masyarakat Batak di Toba memanggilnya untuk membaktikan diri.

Setelah menamatkan kuliahnya dari Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta Padang tahun 1989, Kennedy Amin menerima ajakan Thomas Rheiner ahli perikanan berkebangsaan Jerman untuk bersama-sama mengelola pusat pengembangan perikanan milik Yayasan Arjuna di Laguboti. Tanpa dibekali pengetahuan yang memadai mengenai kehidupan masyarakat Toba, kecuali hanya pengetahuan tentang Danau Toba, Kennedy Amin berketetapan hati untuk melangkahkan kaki ke perantauan dimana secara sosial, budaya dan agama berbeda dengan tempat dimana dia dibesarkan.

Selama beberapa tahun, kegiatan yang digelutinya bersama dengan si ahli perikanan yang khusus datang dari Jerman untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Toba di bidang perikanan dan meningkatkan kesadaran manusia di sekitar Danau Toba untuk lebih menghargai upaya pemeliharaan, perawatan dan pelestarian Danau Toba, yang semakin hari semakin buruk kondisinya.

Pendekatan melalui pelatihan perikanan bagi masyarakat, bukan tanpa latarbelakang pemikiran. Perikanan, membutuhkan media air yang bersih, alamiah dan tidak tercemar. Pintu masuk (entry point) untuk mengajak masyarakat di sekitar danau untuk lebih menghargai air Danau Toba, tepat dimulai dari isu perikanan.

Berbagai studi dan penelitian dilakukan, baik menyangkut teknis pembiakan ikan, maupun analisa kualitas air Danau Toba. “Tidak saja mengukur kualitas air Danau Toba, juga melakukan pekerjaan yang pada awalnya saya kira tidak terlalu berguna, misalnya mengukur kedalaman danau, memetakan lokasi pembiakan ikan di danau, dan mencatat berbagai keunikan Danau Toba”, katanya layaknya seorang ilmuwan.

“Hampir tiap bulan, kami melepaskan bibit ikan mas ke dalam danau, hasil dari praktek pelatihan masyarakat di Laboratorium Perikanan milik Yayasan TP Arjuna. Ratusan ribu bibit ikan, sudah kami tebar ke danau sejak beberapa tahun bersama dengan Thomas Rheiner”, katanya setengah meyakinkan.

Ketika ditanya, kenapa jumlah ikan mas di Danau Toba yang hidup bebas, ternyata tidak bertambah secara signifikan? Kennedy, dengan khas orang Padang mencoba menjawab dengan diplomatis “hingga saat ini, belum ada kesadaran bersama untuk melakukan aksi di Danau Toba secara terkoordinir. Secara teoritik dan praktis, memasukkan species lain di Danau Toba, ternyata justru bukan menghasilkan kebaikan. Misalnya, penebaran bibit Ikan Betutu (ikan Begu), ternyata secara nyata dapat mengurangi populasi ikan mas, sebab ikan Betutu, gemar mengkonsumsi telur dan anak-anak ikan mas dan ikan mujahir’, katanya mulai berteori.

“Belum lagi dengan rendahnya kesadaran masyarakat sekitar Danau Toba yang masih mempraktekkan cara penangkapan ikan tidak secara selektif, sehingga bibit ikan yang masih kecil juga ikut terjaring. Kapan, ikan mas dan mujahir bisa berkembang?” tanyanya.

Ternyata, Kennedy Amin, hanyalah seorang dari sekian banyak orang dan lembaga yang mengaku “pemerhati”, “pelestari” dan “pemilik” Danau Toba. Banyak, lembaga yang mengklaim dirinya telah berbuat banyak terhadap pelestarian Danau Toba, tapi jika secara jernih di nilai, ternyata tidak ada yang berubah ke arah kebaikan di Danau Toba, itu sendiri.

Penurunan kualitas air dan lingkungan Danau Toba terus berlangsung. Penebangan hutan di Daerah Tangkapan Air (Water Catchment Area) Danau Toba, hingga di Punggung Perbukitan Pulau Samosir yang dilakukan oleh PT. Inti Indorayon Utama (sekarang dikenal PT. Toba Pulp Lestari), pembangunan PLTA Asahan yang mengkonsumsi air sangat kuat, pendirian Peternakan Babi oleh PT. Alegrindo yang membuang limbahnya ke Danau Toba, penanganan limbah rumah tangga dan hotel-hotel yang tidak terkelola secara baik, secara langsung berkontribusi terhadap perusakan Danau Toba.

“Perusakan Danau Toba, dapat terlihat dari berbagai segi”, katanya. “Penurunan permukaan Danau Toba di musim kering dan peningkatan permukaan air secara kontras ketika musim penghujan menandakan betapa buruknya lingkungan daerah tangkapan air sekitar danau. Tumbuhnya eceng gondok, juga menjadi pertanda semakin tingginya unsur hara dalam air yang dihasilkan limbah hotel dan rumah tangga, dan belakangan terjadinya kasus penyakit ikan yang disinyalir ditimbulkan oleh sejenis virus di Danau Toba. Lalu, episode perusakan selanjutnya, kita belum tahu”, jelas Kennedy, ayah dari 2 (dua) putri ini.

Hampir punahnya ikan endemik Danau Toba yang dikenal dengan ihan (bukan ikan jurung), ternyata bukan disebabkan tingginya volume penangkapan, tetapi lebih diakibatkan perubahan yang kontras ekologi Danau yang sebelumnya ramah terhadap ihan.

“Saya heran, banyak tokoh-tokoh Batak di perantauan yang memiliki pengaruh dan kekuatan, justru tidak menggunakan pengaruhnya untuk merobah kondisi ini”. Di satu sisi pemerintah memberikan izin kepada PLTA Asahan, PLTA Renun, yang membutuhkan limpahan air, namun di sisi lain juga memberikan izin dan mempertahankan PT. TPL yang terkenal perusak Daerah Tangkapan Air itu.” Seharusnya, ada kesadaran baru bagi semua tokoh-tokoh ini untuk kembali mengkaji ulang pola pengelolaan Danau Toba dengan orientasi pelestarian lingkungan. Tidak sekedar berdebat, soal berapa pohon yang mau ditanam, berapa lembaga yang harus didirikan dan berapa banyak stiker dan himbauan lainnya untuk melarang membuang sampah dan oli ke dalam danau”, katanya mengkritisi.

Ketika, kepadanya ditanyakan, apa motivasi sehingga bersedia tinggal dan membaur dalam lingkungan adat Batak, dengan ringan Kennedy yang beristirikan Ir. Susy Andriyati yang belakangan diberi marga Pangaribuan ini, mengatakan “dimana bumi di pijak, di sana langit di junjung. Sebab, Danau Toba bukan saja milik orang Batak, tetapi merupakan anugerah Tuhan bagi seluruh umat manusia”.

Kennedy Amin, mempertegas bahwa kehadirannya di Tano Batak, masih sangat jauh dari apa yang telah dilakukan oleh Nommensen ratusan tahun lalu. Tetapi, mengukir sejarah adalah merupakan kebajikan dan tantangan setiap manusia. Hidup di Tanah Batak, saya memegang suatu prinsip “Si Dapot Solup do Na Ro”, katanya berfilosofi.

Hingga pada saat ini Kennedy Amin masih tetap konsisten menggeluti upaya pelestarian lingkungan dengan bergabung di suatu lembaga swadaya masyarakat local NGO yang bernama Lembaga Study Pemantauan Lingkungan (LSPL) http://geocities.com/lsplweb yang bermarkas di Sumbul Kabupaten Dairi Propinsi Sumatera Utara.

Nama : Ir. Kennedy Amin

Tempat/Tgl Lahir : Padang/18 Juni 1960

Istri : Ir. Susy Andriyati br. Pangaribuan

Boru : Fajrina Ananda Putri & Ladisa Syahrani

Pekerjaan : LSPL

Agama : Muslim

Riwayat Pendidikan:

1967 – 1973 : SD Neg 6 Padang

1973 – 1976 : SMP Neg Tabing Padang

1976 – 1979 : SPMA Neg Padang

1984 – 1989 : Fak Perikanan Univ Bung Hatta Padang

Riwayat Pekerjaan:

1990 – 1996 : Yayasan TP Arjuna Laguboti – Tobasa

1997 – 1999 : Staf KSPPM – Parapat

1999 – Sekarang : Staf Lembaga Study Pemantauan Lingkungan (LSPL)