Simanjuntak, sebagai sub-etnik Batak, punya keunikan yang salah satunya terletak pada penamaan komunitasnya. Pengakuan bersama terhadap identifikasi diri sebagai Simanjuntak Sitolu Sada Ina, yang terdiri dari MARDAUP, SITOMBUK dan HUTABULU, tentu bukan tanpa alasan.

Pemaknan dan kecintaan terhadap seorang INA (IBU), bagi Simanjuntak yang juga dikenal dengan sebutan PAR HORBO PUDI, menjadi perekat antara Mardaup, Sitombuk dan Hutabulu, yang melanggengkan kekerabatan dalam ikatan semarga dengan berbagai konsekuensinya.

Begitu pentingnya makna dan ikatan emosional antara anak (keturunan) dengan SOBOSIHON br. SIHOTANG, sang IBU Sejarahnya, hingga membuat tugu peringatan bagi Sang Ibu dengan ketiga anak-anaknya (Mardaup, Sitombuk dan Hutabulu) yang terletak di Hutabulu Balige.

Jika dibandingkan dengan kebiasaan marga-marga lain dalam pembuatan tugu, yang lebih menonjolkan SANG AYAH, sebagai penganut patri lineal, Simanjuntak Sitolu Sada Ina, berani menunjukkan perbedaan.

Selain dalam hal pembuatan tugu yang menghadirkan sosok Ibunya yang berasal dari hula-hula marga Sihotang, sebagai figur sentral, Simanjuntak Sitolu Sada Ina juga memelihara dengan sangat kuat pola hubungannya dengan MARGA SIHOTANG, hingga menyebutnya sebagai Bona ni Ari (Pangkal/awal dari Hari) atau Mata ni Ari Binsar (Matahari Terbit).

Hampir merata diketahui ketika Keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina, bertemu dengan Marga Sihotang, tanpa komando akan menyapa dengan kata “TULANG”, dan sebaliknya Marga Sihotang akan menyapa “AMANG BORU atau NAMBORU”. Jika, bertemu dengan Boru Sihotang, maka Simanjuntak Sitolu Sada Ina (Laki-laki) akan menyebutnya sebagai “PARIBAN”, sedangkan yang perempuan akan memanggil “EDA, INANG, atau OPPUNG”.

Berdasarkan pola hubungan antara Keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina (Mardaup, Sitombuk dan Hutabulu) dengan Marga Sihotang yang tergolong unik ini, maka hal yang paling dihindari adalah terjadinya Perkawinan antara Boru Simanjuntak dengan Marga Sihotang. Dan, sebaliknya mendorong/mempermudah proses adat perkawinan antara Marga Simanjuntak (Mardaup, Sitombuk dan Hutabulu) dengan Boru Sihotang. Hal ini diyakini sebagai upaya “mengulangi success story” yang pernah ditorehkan SOBOSIHON BORU SIHOTANG, merawat, membesarkan dan mendoakan ketiga anaknya semasa hidupnya kira-kira 400 tahun yang lalu.

Menurut anda, apakah pola hubungan seperti ini masih relevan dan dapat dipertahankan di masa mendatang???