Era keemasan kamera film sudah lewat digusur oleh kamera digital namun bukan berarti kamera film hilang begitu saja. Sebagian kecil photographer muda tampaknya ada yang menaruh perhatian pada kamera antik tanpa sensor ini namun sering keinginan ini harus diurungkan karena bingung menentukan kriteria kamera yang harus dibeli. Kadang untuk hal sederhana sekalipun seperti menentukan kondisi barangnya, apakah masih berfungsi bagus atau rusak saja tampaknya tidak mudah. Maklum kamera antik yang bisa dijalankan tanpa battery ini tidak punya monitor dibagian belakang untuk preview hasil jepretan.

Saya sebelumnya juga sempat mengalami hal yang sama. Berdasarkan pengalaman beberapa kali transaksi, saya menjadi sedikit mengetahuinya dan bersama ini dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, saya memberanikan diri untuk menuliskannya dengan harapan mudah mudahan bermanfaat. Segala kekurangan dan kesalahan jadi tolong dimaafkan atau dikoreksi. Terima kasih.

Hal pertama, sebelum cek fisik dilakukan adalah mengecek kelayakan harga. Harga yang ditawarkan hendaknya sesuai dengan harga yang berlaku di pasaran, untuk type dan jenis kamera yang sama. Kalau harganya sudah didapatkan dan dianggap sesuai, barulah langkah di bawah ini dilakukan. Barang katagori langka, collection items adalah perkecualian.

  1. Body secara umum
    Meliputi kemulusan barang ( benturan, goresan, lecet, karat ). Lecet dan goresan yang super halus (goresan rambut) kadang sedikit susah dilihat. Dengan sedikit mengubah sudut pandang, memiringkan, mendekatkan dan menjauhkan ke arah lampu kadang bisa membantu. Menggunakan alat bantu seperti kaca pembesar tentu lebih baik lagi.
  2. Tombol
    Pastikan semua tombol berfungsi normal atau bisa diputar dengan mudah. Shutter. Kokang kamera dan jepret. Coba minimal dalam 3 speed yang berbeda tertinggi, terendah, menengah. Coba juga posisi Auto, B dan M90/60 kalau ada. Setiap posisi berbeda normalnya akan menghasilkan suara yang juga berbeda.
  3. Viewfinder
    Intip, check debu, sampah, jamur dan fogg. Debu bisa beberapa titik, banyak titik, mengumpul atau menyebar. Kalau menggumpal besar kemungkinan bukan debu namun sudah digolongkan sebagai sampah. Kalau jamur biasanya seperti benang atau kerak tidak beraturan atau bisa juga menggumpal berakar atau bahkan mungkin berbunga dan berbuah kalau sudah parah ( joke !). Fogg maksudnya berkabut putih, pandangan tidak jelas mirip ketika kita baru bangun pagi. Dengan lensa terpasang, periksa kebersihan (split) screen. Kadang sedikit sulit untuk menentukan apakah debu atau kotoran itu berada di screen atau di lensa, jadi membawa lensa sendiri tampaknya jauh lebih baik.
  4. Metering
    Arahkan kamera ke tempat yang berlainan, perhatikan perubahan angka, jarum, lampu dll, kemudian sambil mata tetap mengintip di vewfinder, putar tombol shutter speed ke sesuka anda, normalnya pengukur cahaya berbentuk jarum atau lampu akan memberikan reaksi ketika tombol shutter anda putar. Kalau bandel tidak bergerak besar kemungkinan rusak. Untuk memastikannya cek baterai kamera.
  5. Kebersihan ruangan dalam depan
    Buka lensa depan, periksa bagian dalam. Periksa cermin pantul (miror) bersih, banyak goresan, juga pinggiran miror rata dan mulus atau compang camping hitam bergerigi. Untuk kamera rangfinder dengan lensa mati yang tidak bisa dibuka, langkah ini dan juga satu langkah dibawah ini di abaikan saja.
  6. Kebersihan ruang dalam belakang
    Buka penutup belakang. Bagian yang sering bergesekan ketika penutup dibuka dan ditutup biasanya adalah tempat yang paling rawan karat dan juga kotor. Bagian itu berbentuk sperti parit kecil yang melintang di atas dan bawah.
    Saya biasanya memberi nama dengan “garis segi empat”.
  7. Jalan dan alur Film
    Semua bagian yang dilalui oleh film diperiksa dan juga jangan lupa bagian belakangnya yang berfungsi menekan film ketika pintu ditutup. Karat atau kotor akan membuat film tergores dan lecet.
  8. Tirai shutter
    Apakah shutter terbuka dengan sempurna atau tidak ketika kamera dijepret. Jangan lupa kokang kamera dulu sebelum tombol dipencet.
  9. Pasang film
    Kokang dan jepret, untuk meyakinkan langkah no 3 berfungsi dengan baik.
    Kalau hasilnya bisa dicetak itu lebih baik lagi.

Langkah diatas saya berikan untuk kamera film analog mekanik, sedangkan untuk kamera rangefinder, pocket, kamera berbahan plastik, sedikit berbeda namun tampaknya pointnya sama saja. Lakukan pengecekan terutama viewfinder dengan lensa terpasang.

Beberapa tip tambahan :
Membawa atau menyiapkan lensa sendiri.
Khususnya ketika membeli kamera “body only”. Tanpa lensa terpasang, fokus, kebersihan split screen akan menjadi sedikit sulit. Kamera Canon MF dan AF mempunyai mount yang berbeda, sehingga menyiapkan lensa sendiri sedikit susah sedangkan merek lain seperti Nikon atau Pentax tampaknya sedikit lebih mudah karena mountnya yang sama antara kamera AF dan MF (kecuali mount ulir), sehingga lensa digitalpun bisa dipakai sekedar untuk mengecek kebersihan bagian dalam saja.
Siapkan battery kamera baru sebagai cadangan.
Mebuka penutup belakang kamera, kelihatanya bagian ini sepele namun saya kadang kesulitan melakukannya, walaupun untuk kamera sendiri. Maklum, proses buka membuka ini tidaklah rutin dilakukan, apalagi untuk katagori orang tua seperti saya yang ingatannya mulai menurun. Umumnya kamera dibuka dengancara menarik penggulung roll yang terletak di kiri atas ke atas, penutup belakang akan terbuka kesamping seperti mebuka buku tulis. Namun ada juga yang dilakukan dengan penarik tuas pengunci di sisi kiri, atau malah ada yang tombol penjepitnya ada di bawah, kamera terbuka seperti membuka korek api. Saya biasanya cari cara amanya saja dengan minta tolong penjualnya untuk membuka, walaupun cara ini kelihatan bodoh tapi tampaknya jauh lebih aman ketimbang membayar biaya kerusakan karena kesalahan sepele

BAGIAN II
Kamera digital

Walaupun judulnya adalah kamera SLR tua, tampaknya tidak ada salahnya kalau saya lengkapi juga dengan kamera digital. Mudah mudahan tidak menyimpang dari judul.

Secara umum, hampir sama dengan point di atas yaitu body luar, tombol, viewfinder. Karena kamera digital tidak memakai film, memeriksa kamera bagian dalam hampir tidak mungkin dilakukan. Kemudian langkah lanjutannya adalah jepret dan preview hasilnya. Melihat hasil jepretan melalui komputer jauh lebih baik karena tampilan monitor kamera sering menipu.

Shutter count juga ada baiknya di periksa untuk memeriksa berapa banyak kamera telah dijepretkan, karena perlu diketahui, shutter juga mempunyai batas umur pemakaian. Setiap kamera mempunyai umur shutter yang berbeda, tergantung merk dan juga modelnya. Shutter yang telah melewati batas pemakaian (jebol), masih bisa diperbaiki dengan mengganti shutter baru, namun tentu saja hal ini merupakan pengeluaran tambahan yang tidak murah. Cara melihat shutter count, bisa dibaca lewat artikel yang banyak bertebaran di internet. Kamera dengan pemakaian shutter yang tinggi biasanya berharga jual lebih murah dan sebaliknya. Namun untuk barang bekas di luar negeri jumlah shutter yang dipakai sama sekali tidak mempengaruhi harga jual.

Periksa perlengkapan kamera seperti USB kabel, Video cable, battery charger dan buku manual. Untuk kamera SLR beserta lensanya, jangan lupa kelengkapan tutup body dan tutup lensa bagian belakang-nya. Biasanya benda yang terakhir ini sering terlupakan terutama untuk pembelian kamera dengan lensa terpasang. Untuk kamera pocket, bagian ini dilewatkan saja.

Horas,

Palty Osfred Silalahi

** Dikutip dari berbagai sumber.

palty@simanjuntak.or.id

http://www.paltyosfredsilalahi.net