Millenium adalah jaman dengan ditandai klimaksnya teknologi, tapi antiklimaks budaya dan adat istiadat terutama pada negara-negara yang masih menuju pada era tersebut. Era globalisai juga ditandai dengan berlakunya perdangangan bebas di sektor ekonomi memang tak luput dari masuknya budaya-budaya asing kedalam suatu negara. Tetapi sering sekali negara-negara yang dianggap memiliki kemajuan lebih maju mengalahkan negara-negara yang masih belum maju ataupun sedang berkembang, dan biasanya kebudayaan dan adat istiadatlah sebagai korban prematur era globalisasi terutama negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Dengan meningkatnya persaingan antar negara maupun antar manusia, memang sangat menuntut kualiatas tiap-tiap individu untuk meningkatkan taraf hidupnya sehingga mampu bersaing pada era yang memang serba modern ini. Akibat persaingan tersebut sering sekali mengakibatkan kehidupan manusia yang serba egois, dengan mengenyampingkan arti kehidupan sosial guna mencapai target pribadi sehingga “Hukum Rimba” pun berlaku.

Kejadian tersebut juga rupanya terjadi pada kehidupan sosial budaya orang Batak, terutama orang-orang Batak yang sudah memiliki ekonomi dan pendidikan lebih maju dan jauh dari kehidupan bonapasogitnya. Orang-orang Batak yang dikenal cukup keras dan memiliki intelegensia yang cukup tinggi, rupanya juga lemah terhadap era ini. Sebagian orang Batak (Marga Simanjuntak khususnya) sudah tidak mau perduli dengan sejarah hidupnya. Padahal negara-negara maju tersebut sebelumnya juga memegang teguh sejarah bangsanya sebelum mencapai kemajuannya, sebut saja seperti negara-negara Jepang, Jerman dan lain-lain.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengetahui asal-usul hidupnya atau sejarah bangsanya dan menghargai para leluhurnya” adalah salah satu semboyan yang sering sekali terdengar. Bagaimana dengan kita orang Batak (Simanjuntak), Sudahkah kita melakukannya?.

Untuk menjawab hal tersebut kita perlu kembali mengetahui kilas balik kehidupan orang Batak (Simanjuntak) sebelum mencapai kepada kehidupan seperti sekarang ini. Dilihat dari sejarah Indonesia dan letak geografis dan kondisi alam maka orang Batak tidaklah mungkin secepat sekarang ini mampu menyaingin suku-suku lain di Indonesia, tapi tekad keras dan ajaran-ajaran orang-orang tua kita dahululah yang menyebabkan kita hingga seperti sekarang ini.

Agama Sering Sekali sebagai Alasan Mutahir Untuk Mengubah Sejarah dan Adat Istiadat

Mengikuti jaman adalah hal yang trendy sedangkan mengetahui adat-istiadat adalah hal yang premitif dan dianggap kolot bagi sebagian kalangan orang pada jaman ini. Pertanyaan yang timbul apakah jaman sekarang ini sudah berpengaruh baik terhadap kehidupan?. Dengan bermunculannya agama-agama baru dan silang pendapat terhadap agama percecokanpun terjadi ditandai dengan seringnya konflik sosial dimana-mana. Peredaran narkoba merajalela, sex bebas, perkawinan sedarah, dan lain-lain yang sangat mengkontaminasi kebudayaan asli suatu masyarakat.

Sebelum agama Kristen masuk ke tanah Batak, orang-orang Batak sudah mengakui adanya kekuatan besar (Raja mula jadi nabolon = Debata = Tuhan) yang mengatur tatanan kehidupan manusia, sehingga antar manusia perlu dibuat aturan atau norma-norma kehidupan yang disebut dengan adat.

Sering sekali agama-agama yang mengatasnamakan ajarannya melarang atau mengelemininasi adat istiadat serta budaya, dengan mengatakan bahwa adat tersebut dilarang oleh agama.

Akibat kepintaran manusia jaman sekarang maka terjadi perubahan dimana-dimana termasuk pada agama, terlihat dengan terjadinya pemutahiran agama yang melarang memakai atribut-atribut adat (Batak, Red) atau kebiasaan-kebiasaan dalam sosial tersebut.

Pertanyaan yang timbul, manakah lebih dulu agama atau adat? Lalu pemberian siapakah agama dan adat itu?. Dan siapakah yang membuat agama dan adat itu? Maka kita perlu mengalami dan mempelajari filosofi adat, budaya dan agama dengan baik dan benar (alias jangan tanggung-tanggung saudaraku), sebelum anda memprotes atau menyalahkan agama dan budaya itu.

Nasrani Pada Umumnya adalah Agama yang Dianut Oleh orang Batak (Simanjuntak)

Sebagai seorang Nasrani penulis ingat akan kata-kata “Hormatilah Ayah dan Ibumu agar engkau bahagia di dunia ini”, kemudian penulis mencoba mengartikan luas arti Ayah dan Ibu sebagai Leluhur.

“Jangan menyembah apapun yang ada di atas bumi ini” kata-kata ini memang senjata ampuh yang paling mampu mengelimir kebudayaan, penulis mengira bahwa pembaca dan orang-orang Batak yang masih memegang teguh adat istiadatnya serta beragama Kristen bukanlah orang Bodoh yang menyembah yang tidak mampu memberikan apapun kepadanya atau dianggap benda mati atau tidak terlihat secara realistik. Kenyataan yang terjadi pada jaman sekarang ini adalah bahwa lebih banyak manusia menyembah manusia itu sendiri, mungkin karena manusia yang disembah lebih pintar, lebih kaya, lebih baik atau lebih berkuasa.

Pertanyaan yang timbul, kenapa kita tidak mempermasalahkan kasih yang semakin kurang didalam kehidupan sosial masyarakat?

Penulis Bangga sebagai Orang Batak (Bermarga Simanjuntak), Memiliki Orang Tua Batak yang mengajarkan Adat Batak (Sejarah Marga Simanjuntak)

Pada jaman sekarang sering sekali orang Batak tidak mau memakai marga yang dimilikinya, akibat dari isu nasionalisme dan alasan rasisme, atau menganggap orang Batak yang memegang teguh ajarannya sebagai orang yang narsis.

Kenapa demikian?, pertanyaan ini sering menghinggapi penulis, kemudian penulis mencoba membuka pola pikir selain alasan kehidupan sosial yang semakin modern, penulis mencari jalan keluar mengingatkan dengan pendekatan Teori Genetika pada Ilmu Kedokteran secara umum.

Dalam kehidupan mungkin kita sering mendengar penyakit keturunan, penurunan karakteristik, atau persamaan sifat yang sama akibat adanya perkawinan sejenis pada manusia. Untuk menghindari hal tersebut maka para pakar menghimbau agar kita tidak melakukan perkawinan sejenis.

Pertanyaan yang timbul, apakah Pemargaan itu memang kebetulan? Jika memang berdampak pada kehidupan orang Batak, Pintarkah Orang Tua kita membuat marga? Dan bermanfaatkah bagi kita?

“Simanjuntak Marga Terpopuler?”

Selain sebagai Marga terbesar yang memiliki keturunan yang sangat banyak dan menyebar dimana-dimana ternyata Simanjuntak merupakan marga terpopuler, ini terlihat dari tiap kali kita mengenalkan marga kita terhadap orang lain, pastilah muncul pertanyaan “Simanjuntak mana?” terkadang kita merasa geli menjawabnya, karena yang menanyakan bukanlah marga Simanjuntak atau bahkan bukan orang Batak.

Ternyata sejarah Simanjuntak sudah beredar kemana-kemana bukan hanya dikalangan orang Batak tetapi juga di luar kalangan tersebut.

Isu Sejarah Simanjuntak yang menyebabkan terjadinya gap antara Simanjuntak Sitolu Sada Ina dengan Simanjuntak Parsuratan adalah salah, dan bukan didramatisir oleh orang-orang terdahulu yang membentuk PSSSI & B. Namun akibat sudah banyaknya Pomparan dari keturunan Boru Sihotang sehingga untuk mengeratkan hubungan tersebut dibentuklah PSSSI & B.

PSSSI & B yang telah terbentuk sekian lama dan pada umumnya sudah memiliki Angaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang jelas, adalah suatu organisasi yang memang diperuntukkan bagi Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Borunya, sesuai dengan singkatannya, dan didalam AD/ART PSSSI & B tidak pernah disebutkan untuk membenci atau merusak hubungan dengan Abangnya yaitu Simanjuntak Parsuratan.

  1. PSSSI & B didalam sejarah terbentuknya juga tidak pernah berawal dari akibat konflik antara PSSSI & B dengan Simanjuntak Parsuratan, tetapi berawal dari rasa rindu terhadap sesama keturunan boru Sihotang untuk mempersatukan kembali pomparannya yang sekarang ini telah tersebar dimana-mana.
  2. Kenyataan yang terjadi pada saat ini ternyata antara keturunan PSSSI & B belum bisa dalam mencapai tujuan organisasi tersebut belum terlaksana dengan baik sehingga perlu kembali memperkuat organisasi PSSSI & B tersebut.
  3. Kenyataan yang berikutnya adalah sekarang ini pembauran Keturunan PSSSI & B dengan Keturunan Simanjuntak Parsuratan dalam kehidupan sehari-hari sudah mampu duduk bersama , seperti di dalam gereja dan kegiatan sehari-hari lainnya di luar dari Peradatan.
  4. Adanya usaha-usaha yang berusaha mempersatukan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dengan Simanjuntak Parsuratan dengan mengambil kesatuan dari keturunan Raja Marsundung Simanjuntak, yang pada umumnya diupayakan oleh Keturunan Simanjuntak Sitolu Sada ina, ini bukti bahwa keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina bukanlah orang yang benci terhadap Saudara Sendiri.
  5. Posisi PSSSI & B bukan tidak menyadari arti pentingnya harmoni, tetapi merupakan pilihan sadar untuk tidak bersama, karena tunduk terhadap pesan orang tua, PSSSI & B tidak pernah “benci” dengan parsuratan, dan perdamaian tidak harus diterjemahkan dengan bersama,.
  6. Dengan mengetahui Sejarah Simanjuntak kita semakin tahu tarombo kita, semakin rindu untuk mencari siapa kita di Marga Simanjuntak tersebut. Semakin rindu untuk bergabung membangun PSSSI & B sesuai tujuan mulianya kalau memang kita adalah keturunannya.

Kilas balik dari keturunan PSSSI & B itu sendiri yang menjauh dari PSSSI & B dan berusaha menciptakan sejarah baru atau menghilangkan sejarah itu sendiri, sering sekali menganggap negatif bahkan menjelek-jelekkan keturunan Simanjuntak yang masih memegang teguh PSSSI & B dengan menganggap orang-orang tersebut tidak memahami betul agama dan menyalahkan.

Hal tersebut malah menimbulkan pertanyaan seperti :

  1. Benarkah orang-orang tersebut yang menganggap beragama sudah menjalankan agama itu dengan baik.
  2. Kalau memang mau memperbaiki kenapa harus meninggalkan PSSSI & B padahal sebagai keturunan sendiri. Bijaksanakah tindakan tersebut?
  3. Benarkah orang-orang yang menyatakan hal tersebut paham betul sejarah Simanjuntak atau sekedar menebak-nebak?
  4. Pernyataan tidak mau masuk dalam PSSSI & B, sebagai kumpulan orang banyak (sosial) adalah pernyataan orang yang memang tidak mau berkumpul (alias pemain Tunggal = egois ), atau ada unsur lain yang tidak memuaskan dalam suatu organisasi, karena tidak mendapat Posisi yang kita ketahui bahwa PSSSI & B adalah organisasi yang sudah sangat lama dan berada dimana-mana.

Semuanya itu terjadi karena kasih, karena niat kita masing-masing untuk lebih memajukan Simanjuntak itu sendiri sehingga diperlukan Kebijaksanaan didalamnya.

“ Dari seribu orang pintar, belum tentu ada orang bijak, dan dari seribu orang baik belum tentu ada orang benar”

Bravo Simanjuntak