Satu tempat wisata yang cukup terkenal di Tanah Sumatera yakni Pulau Samosir. Sebuah pulau vulkanik, yang terbentuk akibat letusan gunung berapi ribuan tahun lalu.
Letak pulau ini pun gampang dikenali. Karena tepatnya berada di tengah Danau Toba. Bersama rombongan Safari Dakwah PKS, detikcom pun pada Selasa (12/2) berkesempatan mengunjungi pulau yang disebut-sebut sebagai leluhur suku Batak ini.


Perjalanan menuju Samosir ini ditempuh menggunakan perahu, selama 30 menit perjalanan dari sisi Danau Toba, rumah pembuangan Soekarno. Perjalanan pun bisa ditempuh dengan kendaraan melalui jembatan yang dibangun Belanda dari daerah bernama Panguruan.
Bila perjalanan ditempuh sendiri, uang yang harus dikeluarkan pun sekitar Rp 20 ribu, tapi itu pun si tukang perahu menunggu penumpangnya cukup.
Indahnya pemandangan di sekitar danau pun tampak terlihat dari perahu. Perbukitan membentang di sepanjang danau. Sang pemandu, Manurung, pun menunjukkan batu gantung. Sebuah batu yang konon katanya penjelmaan dari seorang gadis dari marga Sinaga dan anjingnya yang terjun dari perbukitan. Hingga kini batu hitam memanjang dan sebongkah batu lainnya terlihat menggantung di bukit.
“Sang putri menolak dijodohkan dengan raja dari marga Sidabutar. Dia lebih memilih pria dari marganya sendiri, tapi karena orang tua menolak dan adat tidak memungkinkan, dia memilih bunuh diri,” tutur Manurung bercerita tentang legenda itu.
Sambil mengamati dari atas perahu dan membidikkan beberapa gambar, tak lama perjalanan dilanjutkan. Perahu akhirnya merapat ke Pulau Vulkanik, kami berkesempatan merapat dari sisi sebuah lokasi bernama Tomok.
Rombongan diajak sang pemandu mengunjungi tugu atau prasasti bermacam-macam marga di Pulau Sumatera. Antara lain marga Karo, Mandailing, Simalungun, Toba dan lainnya.
Lalu berlanjut menuju makam Raja Sidabutar dengan keluarganya. Di makam sang raja yang telah berusia 500 tahun pun terdapat pahatan panglima perang kerajaan Muhammad Said asal Aceh. Sehingga muncul cerita jika sang raja juga menganut agama Islam.
Sebelum memasuki komplek makam, pengunjung diwajibkan memakai ulos. “Ini adalah adat,” ucap seorang penjaga.
Beberapa banjar tempat duduk telah tersedia di dalam kompleks makam. Dan pengunjung sambil duduk manis, mendengarkan cerita sang penunggu makam. “Raja Opu Sidabutar adalah raja pertama yang memegang kekuasaan di Samosir,” imbuhnya.
Di komplek makam ini terdapat beberapa makam yang terbuat dari batu. Antara lain makam Raja Sidabutar I dan II. Makam mereka pun bisa dibuka dengan menggeser penutupnya.
“Saat dibuka Raja Sidabutar II tahun 1981 dan Raja Sidabutar I pada 1960-an, dan masih ada kerangkanya,” jelas sang penjaga makam.
Di pulau yang menjadi kabupaten tersendiri sejak 2003 lalu, terdapat pula museum dari sejarah dan budaya di pulau ini. Dan tentunya pasar yang menjual cinderamata pun banyak terdapat di sekitaran area Samosir.
Lepas dari kunjungan singkat, hanya ke beberapa lokasi, dengan tak lupa ambil gambar di sana dan sini, rombongan lalu bergerak menggunakan pulau, mengakhiri wisata singkat melepas lelah selepas melakukan perjalanan panjang yang jauh. (detikcom/d)