3 ORANG ANAK DI BAWAH UMUR JADI TERSANGKA

LBH CITRA SETIA INDONESIA MENGADU KE KOMNAS PERLINDUNGAN ANAK INDONESIA

 Datumira

 

ADUKAN : Suharni Anita Br.Panjaitan, umur (16), Apnes Marito Br.Panjaitan, (12), Sintaria Br Panjaitan (14), didampingi pengacaranya Donna Ria Marpaung SH,  FM Datumira Simanjuntak SH MH, Sandra Marpaung,SH Pelajar mempertanyakan penetapan status tersangka oleh Polres Deli Serdang. (Batak Pos/Poltak Simanjuntak).

Medan, Batak Pos

Penetapan status tersangka terhadap 3 orang anak di bawah umur Suharni Anita Br.Panjaitan (16), Apnes Marito Br.Panjaitan, (12), Sintaria Br Panjaitan (14) dalam perkara membuat perasaan tidak menyenangkan sesuai Pasal 335 Ayat 1  ke 1e KUHPidana dinilai bermasalah hingga layak diadukan kepada Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPAI) berharap mendapat perhatian khusus.

Dalam suratnya No  157/LBH.CSI/VIII/2012, LBH-CITRA SETIA INDONESIA yang ditujukan kepada Ketua KPAI yang beralamat di Jl TB Simatupang No 33 Pasar Rebo Jakarta, melaporkan dan mengadukan klien yang dijadikan Tersangka oleh Penyidik Polres Deli Serdang dengan melampirkan berkas dan Kliping Koran terkait permasalahan yang dihadapi kliennya.

“Sungguh disesalkan Polres Deli Serdang menetapkan anak di bawah umur berstatus tersangka, sementara yang melaporkan anak-anak ini adalah pelaku tindak pidana penganiayaan. Kami menduga ada upaya pelapor yang didukung penyidik kepolisian dan kejaksaan untuk mempersulit posisi keluarga korban penganiayaan, sehingga dikondisikan menarik pengaduan atas penganiayaan anak mereka. Ini sungguh keterlaluan”, ujar FM.Datumira Simanjuntak SH MH Advokat Senior dari LBH-CITRA SETIA INDONESIA Medan ini.

Penyidik dari Kepolisian Deli Serdang yang berdalih bahwa penetapan status tersangka terhadap ke 3 anak di bawah umur adalah atas petunjuk Kejari Lubuk Pakam, justru semakin memperjelas kongkalikong antara penyidik dengan pelapor oknum PNS di Pemerinta Kabupaten Deli Serdang. “Kami menduga bahwa antara penyidik kepolisian dan kejaksaan melakukan kerjasama  dalam mengaburkan perkara utama penganiayaan terhadap anak”, tambah Datumira.

Sejak awal penanganan perkara ini, penyidik kepolisian Polres Deli Serdang tampak tidak menunjukkan profesionalisme dan independensi. Ketidakprofesionalan polisi terbukti dari dikembalikannya berkas perkara (P-19) yang sudah diajukannya kepada Kejari Lubuk Pakam. Semakin jelas lagi ketika mendengar pengakuan penyidik kepolisian Aiptu A.M Hutapea yang bermarga sama dengan suami pelaku penganiayaan bahwa ada petunjuk kejaksaan untuk menetapkan anak di bawah umur jadi Tersangka.

Dalam surat pengaduannya LBH-CITRA SETIA INDONESIA menerangkan bahwa awalnya Pengaduan dari orang tua Klient Apnes Marito Br Panjaitan. tentang peristiwa Tindak Pidana kekerasan pisik terhadap anak, yang terjadi pada hari Rabu Tanggal 30 Mei 2012 sekitar pikul 18:30 Wib di Gg Sederhana Dusun II Desa Pagar Jati Kec.Lubuk Pakam.Kab Deli Serdang, dilakukan oleh Pelaku Dameria Br.Pardede sesuai dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan No.LP/418 /V/2012 / SU/ RES DS tanggal 30 Mei 2012.

Pengaduan Kliennya tersebut sampai sekarang masih di tangan Penyidik Pembantu Brigadir Susanti, dengan alasan berkas telah beberapa kali dikirim ke Kejari Lubuk Pakam, tetapi selalu dikembalikan dengan alasan kurang bukti, malahan Klien dan orang Tua Klien justru ditetapkan jadi Tersangka, dan  hal ini menjadi teka-teki bagi LBH-CITRA SETIA INDONESIA hingga memohon kepada Ketua KPAI untuk dapat menanggapi persoalan yang sedang dihadapi Kliennya.

“Selain mengirimkan suratke KPAI, kami juga membuat tembusan ke Kapolri, Kajagung, Ketua Pengadilan Tinggi Sumut, Kapolda SU, Kejatisu, Bupati Kabupaten Deli Serdang, Ketua DPRD Kabupaten Deli Serdang, Kapolres Deli Serdang, Ketua Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, Kajari Lubuk Pakam, Balai Pemasyarakatan Kelas I Medan dan kepada klien kami sebagai korban permainan hukum aparat penegak hukum di Deli Serdang”, jelas Datumira.

Ketika diminta pendapatnya mengenai penetapan anak di bawah umur sebagai tersangka, Aris Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia, mengatakan kekecewaannya terhadap kinerja penyidik Polres Deli Serdang dan Kejari Lubuk Pakam.

“Penetapan status tersangka terhadap anak di bawah umur itu sangat gegabah dan tergesa-gesa. Anak bukan untuk dihukum tetapi harus dilindungi. Dalam kasus ini, saya menyerukan agar kepolisian Deli Serdang dan Kejaksaan Negeri Lubuk Pakam  membebaskan ke 3 anak di bawah umur itu dari segala tuntutan. Mereka korban, bukan pelaku tindak pidana”, tegas Aris.

Terhadap pelaku penganiayaan terhadap anak di bawah umur, menurut Aris harus diteruskan kasusnya hingga tuntas dan pelakunya menangung akibat hukumnya. “Pelaku penganiaya itu harus dihukum sesuai dengan UU Perlindungan Anak yang berlaku”, harap Aris. (POL)

 

Helman Cipta Simanjuntak, Musisi Jalanan Medan Tak Lagi Mampu Ngamen

Ditinggal Istri dan Anak

Helman Cipta Simanjuntak 54 Tahun (Mardaup Tua Sibadogil No. 15) sejak puluhan tahun hidup menyendiri setelah ditinggal pergi istri dan anaknya. Satu-satunya kemampuan yang dimilikinya adalah tarik suara dan memainkan gitar. Talen itu pula yang digelutinya sebagai mata pencaharian utama, menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sebagai musisi jalanan (pengamen), Helman terlihat sering mengadu nasib di kawasan kuliner malam hari di Jl. Semarang Medan.

Bermodalkan sebuah gitar tua yang dilengkapi tali penggantung dan buku kecil berisi lirik lagu, terikat di bagian atas gitarnya, Helman hampir setiap malam menyusuri restoran-restoran dan food court yang hanya buka pada malam hari di sepanjang jalan Semarang dan Selat Panjang Medan.

Berpenampilan rapi dengan rambut panjang sebahu, Helman yang bertubuh kurus jangkung ini selalu memulai lagu dengan petikan dawai gitarnya disertai senyuman dan anggukan kepala kepada calon pendengarnya. Lagu Batak, Pop Indonesia dan Pop Inggris dilantunkannya penuh penghayatan, seraya mengharap kerelaan pendengar yang mendapat hiburan sambil makan malam.

“Waktu muda dulu, saya menyanyi di hotel-hotel. Belakangan, saya tak bisa bertahan sebab pengusaha entertaiment di hotel-hotel itu lebih memilih pendatang baru, sementara awak udah tua”, katanya suatu ketika saat ditemui di Jl. Semarang Medan.

 

Ternyata Semargaku

Saya sendiri mengenal Helman, 6 (enam) tahun lalu, ketika kami sekeluarga sedang makan malam di kawasan dimana Helman sering nampil. Usai melantunkan beberapa lagu, termasuk lagu-lagu permintaan yang saya akhirnya ikut menyanyi, saya meminta Helman untuk duduk bergabung untuk makan. Awalnya, dia menolak dengan ramah. Setelah saya tanya, “Orang Apa?”. Dia Jawab “Orang Batak, Marga Simanjuntak do au”, katanya ramah.

Mengetahui bahwa musisi jalanan ini mermarga Simanjuntak, akhirnya kami terlibat dalam pembicaraan partuturon, dan ternyata beliau adalah Abang saya Mardaup No. 15. Kisah hidupnyapun mengalir, seraya menikmati makanan yang akhirnya dia pesan. Kami berbicara hangat, sebagai keluarga sedarah. Kisah hidup Helman jugalah yang membekas, sehingga di hari-hari berikutnya setiap berkunjung ke lokasi itu, saya selalu berupaya mencari dan mengajaknya untuk duduk bersama setelah terlibat melantunkan lagu-lagu manis.

Kepada kawan semarga juga, saya mulai memperkenalkan Helman, hingga suatu ketika dia membuat pengakuan jujur “Kalau kalian datang ke sini, saya sangat senang. Dapat makan, dan sawerannya juga lumayan”, katanya.

Jatuh Sakit

Dalam beberapa kunjungan ke kawasan Jl. Semarang untuk makan malam, saya tidak berhasil bertemu Helman. Selalu saya coba untuk melihat dan mendengar, apakah Helman hadir, selalu tidak ada. Dalam hati, “Kemana Abang awak ini. Sudah pindahkah dia?, atau…”, selalu berkecamuk dalam hati.

Sampai pada suatu ketika beberapa bulan yang lalu, seorang aktifis Naposo Simanjuntak Poli Simanjuntak menghubungi saya dan mengatakan bahwa dirinya sedang berada di kediaman Helman, yang sedang terbaring lemah akibat penyakit paru yang menggerogotinya.

Mengetahui info ini, saya melakukan kontak dan koordinasi dengan dongan tubu, agar bersama-sama memberikan perhatian untuk mengobati penyakit  Helman. Letkol. Ckm Ricardo Suganda Simanjuntak, M.Kes, yang juga mengenal baik Helman, langsung tanggap dan memfasilitasi Helman untuk diperiksa, dirawat dan diobati di RST Jl. Putri Hijau Medan. Pasca di rawat, penyakit Helman menurut dokter bisa diobati secara rawat jalan dan perlu perbaikan gizi, dan Helmanpun diperbolehkan pulang.

Kondisi ekonomi Helman, apalagi sejak sakti tak bisa lagi menggeluti pekerjaannya sebagai musisi jalanan, semakin suli. Persoalan, apa yang mau dimakan hari ini, membuatnya tidak mampu memulihkan kesehatannya. Kemaren Rabu (5/10), Poli Simanjuntak kembali menginformasikan, kondisi Helman semakin memburuk. Dengan suara serak, dan memelas, Helman berkata “Anggia, ndang malum dope sahithu. Urupi jolo au… Paboa jolo tu angka dongan tubunta, asa boi diurupi nasida au”, katanya.

Paima Abang, huurupi hami pe….!

Pertemuan Informal Biro Advokasi GM-SSSI&BBI

Menyikapi perkembangan berbagai kasus yang ditangani oleh GM-SSSI&BBI, maka sangat dibutuhkan koordinasi untuk mengetahui dan mengukur sejauh mana setiap kasus dan permasalahan yang sedang ditangani dapat berhasil maksimal. Pemikiran inilah yang mendasari dilaksanakannya pertemuan informal yang mengundang pihak-pihak terkait.

Pertemuan dilaksanakan hari ini Senin (26/09) di Rumah Kopi Wak Noer di Jl. Uskup Agung Medan, yang dihadiri oleh Saut Simanjuntak, SH (Penasehat GM-SSSI&BBI), Pandapotan Simanjuntak, SH, Marely Simanjuntak, SH, Rudyard Simanjuntak, Poltak Simanjuntak, Halomoan Simanjuntak dan Herlen Simanjuntak.

Pertemuan Informal di Rumah Kopi Wak Noer

Dalam pertemuan ini, disepakati agar dalam pelaksanaan advokasi dan pelayanan sosial, selain dikomunikasikan lewat Website Simanjuntak, juga melalui pertemuan informal agar semua pihak dapat mengetahui perkembangan dan secara tepat memposisikan diri masing-masing sesuai dengan kapasitas dan kapabilitasnya.

Selain penanganan kasus, juga dibicarakan pelayanan sosial yang dilakukan terhadap Dorlan br. Simanjuntak, agar penggalangan dana bantuan pengobatan dan perawatannnya diteruskan sesuai dengan kebutuhan. Pada kesempatan ini, Herlen Simanjuntak menyerahkan dana yang terkumpul untuk dimasukkan ke dalam kas bantuan, sebelum diserahkan kepada keluarga Dorlan.

Poltak Simanjuntak melaporkan bahwa hingga hari pelaksanaan pertemuan, dana yang sudah terkumpul sebesar Rp. 16.143.000,- dan sudah di salurkan Tahap I dan Tahap II, sebesar Rp. 5.500.000,-.

Mari kita satukan semua potensi yang ada, demi kemaslahatan warga Simanjuntak!

Pola Unik Hubungan Simanjuntak – Sihotang

Simanjuntak, sebagai sub-etnik Batak, punya keunikan yang salah satunya terletak pada penamaan komunitasnya. Pengakuan bersama terhadap identifikasi diri sebagai Simanjuntak Sitolu Sada Ina, yang terdiri dari MARDAUP, SITOMBUK dan HUTABULU, tentu bukan tanpa alasan.

Pemaknan dan kecintaan terhadap seorang INA (IBU), bagi Simanjuntak yang juga dikenal dengan sebutan PAR HORBO PUDI, menjadi perekat antara Mardaup, Sitombuk dan Hutabulu, yang melanggengkan kekerabatan dalam ikatan semarga dengan berbagai konsekuensinya.

Begitu pentingnya makna dan ikatan emosional antara anak (keturunan) dengan SOBOSIHON br. SIHOTANG, sang IBU Sejarahnya, hingga membuat tugu peringatan bagi Sang Ibu dengan ketiga anak-anaknya (Mardaup, Sitombuk dan Hutabulu) yang terletak di Hutabulu Balige.

Jika dibandingkan dengan kebiasaan marga-marga lain dalam pembuatan tugu, yang lebih menonjolkan SANG AYAH, sebagai penganut patri lineal, Simanjuntak Sitolu Sada Ina, berani menunjukkan perbedaan.

Selain dalam hal pembuatan tugu yang menghadirkan sosok Ibunya yang berasal dari hula-hula marga Sihotang, sebagai figur sentral, Simanjuntak Sitolu Sada Ina juga memelihara dengan sangat kuat pola hubungannya dengan MARGA SIHOTANG, hingga menyebutnya sebagai Bona ni Ari (Pangkal/awal dari Hari) atau Mata ni Ari Binsar (Matahari Terbit).

Hampir merata diketahui ketika Keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina, bertemu dengan Marga Sihotang, tanpa komando akan menyapa dengan kata “TULANG”, dan sebaliknya Marga Sihotang akan menyapa “AMANG BORU atau NAMBORU”. Jika, bertemu dengan Boru Sihotang, maka Simanjuntak Sitolu Sada Ina (Laki-laki) akan menyebutnya sebagai “PARIBAN”, sedangkan yang perempuan akan memanggil “EDA, INANG, atau OPPUNG”.

Berdasarkan pola hubungan antara Keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina (Mardaup, Sitombuk dan Hutabulu) dengan Marga Sihotang yang tergolong unik ini, maka hal yang paling dihindari adalah terjadinya Perkawinan antara Boru Simanjuntak dengan Marga Sihotang. Dan, sebaliknya mendorong/mempermudah proses adat perkawinan antara Marga Simanjuntak (Mardaup, Sitombuk dan Hutabulu) dengan Boru Sihotang. Hal ini diyakini sebagai upaya “mengulangi success story” yang pernah ditorehkan SOBOSIHON BORU SIHOTANG, merawat, membesarkan dan mendoakan ketiga anaknya semasa hidupnya kira-kira 400 tahun yang lalu.

Menurut anda, apakah pola hubungan seperti ini masih relevan dan dapat dipertahankan di masa mendatang???