Blog Page 33

Peresmian Koperasi Simanjuntak dohot Boruna (KOPARSIBO)

5

JuntakNews, Medan (03/03/08)

Sebagai tindak lanjut hasil Musyawarah PSSSI & B Kota Medan yang dilaksanakan pada bulan April 2006 yang mengamanatkan beberapa pokok hasil musyawarah, antara lain : pembentukan unit usaha yang dapat membantu sosial ekonomi masyarakat khususnya keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina (Mardaup, Sitombuk, Hutabulu) dohot Boruna khususnya Kota Medan. Untuk mewujudkan amanat tersebut telah dibentuk sebuah unit usaha dalam bentuk koperasi (saat ini baru dalam bentuk simpan pinjam) yang diberi nama KOPARSIBO (Koperasi Simanjuntak dohot Boruna).

Koparsibo yang dibentuk diawali dengan menyusun AD dan ART sesuai dengan persyaratan pembentukan koperasi kemudian diaktenotariskan dan didaftarkan di Dinas Koperasi Propinsi Sumatera Utara. Pada awal pembentukan jumlah anggota 48 terdiri dari pomparan PSSSI & B dari Kota Medan dan diharapkan akan terus bertambah. Setoran awal
sebagai bentuk penyertaan modal diterima dari anggota yang terdaftar sejumlah Rp. 200.000,- (Dua ratus ribu rupiah).

Dengan kondisi awal yang sedemikian, Pengurus KOPARSIBO merencanakan peresmian (launching), yang merupakan salah satu upaya dalam men-sosialisasi-kan KOPARSIBO kepada seluruh Pengurus Sektor PSSSI&B Kota Medan yang saat ini tercatat 68 sektor, dan diperkirakan memiliki jumlah anggota 5.200 KK. Di samping sebagai sosialisasi, launching ini diharapkan mampu menjadi media dalam menarik dukungan internal, maupun eksternal, seperti dukungan pemerintah daerah dan swasta untuk pengembangannya di masa mendatang.

Untuk mencapai maksud tersebut, maka Pengurus KOPARSIBO, menerbitkan surat keputusan Pembentukan Pantia Peresmian KOPARSIBO dan disetujui oleh Pengurus PSSSI&B Kota Medan, yang mempercayakan Mayor CKM Ricardo Simanjuntak, S.Sos, M.Kes, sebagai ketua dan Ir. Poltak Simanjuntak, sebagai Sekretaris yang dilengkapi dengan susunan seksi-seksi. Sesuai dengan penugasan sebagaimana isi SK, maka Panitia, telah menyusun perencanaan teknis maupun non-teknis. Kegiatan ini, akan dilaksanakan, pada :

Hari/Tanggal : Minggu/16 Maret 2008
Tempat : Grand Liberty Lantai II
Jl. Putri Hijau Medan
Pukul : 10.00 WIB
Acara : 1. Kebaktian
2. Peresmian Koparsibo
3. Acara tambahan (bila perlu).

Diharapkan dukungan dan doa dari seluruh pomparan PSSSI & B dimanapun berada, agar acara tersebut dapat
berlangsung sesuai dengan rencana. Semoga.

Dukungan Pembentukan GM-PSSSI/BBI se-Dunia Terus Mengalir

4

manganarsekum1.jpg

Drs. Manganar Simanjuntak, Sekretaris Umum PSSSI&B Kota Medan : “Saatnya Generasi Muda Lebih Berperan”

JuntakNews – Medan (02/03/08)

Ditemui ketika mengikuti Rapat Panitia Peresmian (launching) Koperasi Simanjuntak dohot Boruna (KOPARSIBO) di kediaman Drs. E. Simanjuntak di Jalan Kuali Medan, Manganar Simanjuntak yang dikenal luas di kalangan PSSSI&B Kota Medan sebagai Sekretaris Umum 3 (tiga) periode itu, menyampaikan kegembiraan dan dukungannya atas rencana pembentukan GM-PSSSI&B se-dunia yang akan diadakan di Pematang Siantar 7 – 8 Maret 2008 yang akan datang.

Kegembiraan dan dukungan itu bukan tanpa alasan, sebab banyak hal yang tidak mampu ditangani oleh PSSSI&B di tengah perkembangan kebutuhan anggota-anggotanya. Masalah kesempatan kerja, kesempatan mendapat pendidikan formal dan informal, masalah pengembangan karir dan jabatan yang dihadapi pemuda dan generasi muda, sepertinya tidak mendapat perhatian selama ini dari PSSSI&B. Sementara, ada pengakuan bahwa Simanjuntak merupakan salah satu marga terbesar dan memiliki orang-orang yang berpotensi dapat membantu sesamanya, pada umumnya mereka itu kalangan generasi muda dan naposo bulung.

“Sejak lama ini merupakan mimpi kita, namun tidak ada kekuatan untuk membuat ini menjadi kenyataan”, aku Manganar yang juga bekerja sebagai pegawai negeri di lingkungan Kantor Wilayah BPKP Propinsi Sumatera Utara itu. “Sejak dulu sewaktu masih pemuda, saya sudah aktif mendorong pengembangan generasi Simanjuntak, melalui penyediaan kursus bimbingan belajar bagi anak-anak PSSSI&B, agar mampu bersaing masuk perguruan tinggi negeri. Walaupun upaya ini tergolong baik, namun tidak ada kelanjutan. Ini perlu diperhatikan oleh GM-SSSI&BB yang akan dibentuk itu”, harapnya.

Harapan ini tentu bukan tidak mungkin diwujudkan. Persiapan ke arah itu sedang giat di kerjakan oleh para generasi muda di Kota Pematang Siantar. Menurut, pantauan JuntakNews ketika mengunjungi fasilitas-fasilitas yang diproyeksikan sebagai tempat pembinaan bagi pemuda-pemudi Simanjuntak Sitolu Sada Ina Boru dan Bere yang berlokasi di Kota Pematang Siantar, diketahui tingkat keseriusan mereka dalam merespon kebutuhan dan upaya menjawab tantangan yang dihadapi oleh warga PSSSI&B.

Workshop pertukangan, pertanian, perikanan dan perbengkelan, akan dioperasikan mendukung program kerja GM-SSSI&BB, jika organisasi ini mendapat restu dari PSSSI&B dan dukungan tokoh-tokoh PSSSI&B yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia dan luar negeri. Menanggapi persiapan generasi muda Simanjuntak Sitolu Sada Ina di Kota Pematang Siantar itu, Drs. Manganar Simanjuntak mengungkapkan pokok-pokok fikirannya. “Sudah saatnya generasi muda kita beri proporsi yang lebih besar untuk menunjukkan kepeduliannya dalam mengembangkan kualitas kehidupan warga Simanjuntak Sitolu Sada ina. Mereka memiliki potensi yang besar dalam membaktikan diri bagi sesamanya. Bakti di semai, bukti dituai”, katanya penuh kearifan.

Pemikiran dan harapan Manganar ini, sepertinya dapat mewakili pemikiran dan keinginan kebanyakan tokoh Simanjuntak Sitolu Sada Ina. Sebagai satu cabang terbesar di Indonesia, PSSSI&B Kota Medan yang terdiri dari 68 sektor dengan jumlah anggota 5.200 kepala keluarga, diharapkan menjadi pendukung potensial dalam pembentukan GM-PSSSI&BB se-dunia ini. Sementara dukungan dari cabang-cabang lain, seperti Jadetabek, Bandung, Toba Samosir, Silindung, Kisaran, Dairi, Humbang Hasundutan sudah sejak awal disampaikan kepada Tim Pemrakarsa pembentukan GM-PSSSI&BB.

Bukti keseriusan dukungan PSSSI&B Kota Medan akan ditunjukkan dengan kesediaan Pengurus PSSSI&B serta tokoh sesepuh PSSSI&B Kota Medan, menghadiri acara pengukuhan Pengurus GM-PSSSI&BB se-Dunia yang akan di adakan pada tanggal 7 – 8 Maret 2008 ini. “Saya dengan bebarapa orang pengurus dan sesepuh, akan menghadiri undangan panitia acara HUT ke-53 PSSSI&B Kota Siantar dan Pengukuhan Pengurus GM-PSSSI&BB se-Dunia di Pematang Siantar”, kata Manganar.

Beberapa Catatan Ringan Tentang Adat Batak

1

Tulisan ini berdasarkan apa yang penulis lihat dan dengar serta saksikan dalam upacara perkawinan di Daerah Tanjung Barat Pasar Minggu, yang saya goreskan dalam bentuk catatan-catatan berikut tentang dan sekitar Adat Batak.

Soal Waktu

Lepas dari pertanyaan siapa/marga apa yang berpesta, dan siapa hasuhuton, tetapi ketika penulis bersama keluarga tiba di tempat upacara/tempat acara perkawinan dilaksanakan, yakni kurang lebih 30 menit lewat waktu yang telah di tetapkan dalam surat undangan (Gokkon dohot Jou-jou), ternyata acara adat sudah dimulai. Berarti upacara sudah dimulai TEPAT PADA WAKTU-nya, sesuai waktu yang tercantum dalam undangan.

Melihat keadaan ini, maka penulis bicara dalam hati : “Ini suatu kemajuan!”. Sebab cukup banyak upacara adat perkawinan yang penulis telah ikuti. Banyak yang baru mulai setelah lewat waktu, kadang-kadang sampai 1 jam, bahkan lebih. Alasan-alasan sehingga sesuatu upacara adat baru dimulai setelah lewat satu jam itu, bermacam-macam adanya, mulai dari : acara di gereja terlambat dimulai atau atau acara gereja sebenarnya sudah dimulai tepat pada waktunya, tetapi kemudian dilanjutkan dengan ambil foto dengan keluarga ini dan itu; ada kalanya makanan tertentu (-apalagi kalau “namargoarna”, yang punya nama itu) belum tiba, maka acara belum bisa dimulai; ada kalanya makanan sudah siap semuanya, tetapi harus menunggu tibanya “keluarga yang menentukan, seperti hula-hula atau tulang rorobot, entah apalagi namanya.

Maka seringkali upacara adat dimulai setelah lewat waktu sekian jam dari waktu yang ditetapkan dalam surat undangan. Surat undangan itu sendiri, sudah merupakan suatu kemajuan, dalam arti di bona pasogit, dalam suasana asli Adat Batak undangan tertulis bukanlah suatu kebiasaan!

Masih dalam rangka “WAKTU”, di samping saat memulainya, maka tidak kurang pentingnya adalah lamanya pelaksanaan sesuatu upacara adat. Perlu kiranya diperhatikan dan diusahakan agar pelaksanaan upacara adat itu jangan terlalu banyak memakan waktu. Di samping masalah “jam karet”, maka masalah yang tidak kurang mendesaknya adalah “agar pelaksanaan Adat Batak itu jangan sampai bertele-tele”. “Time is Money”, kata pihak sana, yang maknanya agaknya sudah (mulai) terasa oleh (banyak) pihak di kalangan masyarkat Adat Batak itu sendiri.

Penulis dalam hal ini hanya melontarkan saja dulu ke permukaan masalah yang dimaksud, yakni masalah WAKTU dalam pelaksanaan Adat Batak. Bagaimana menghadapi dan mengatasinya, mari kita sama-sama mengusahakannya. Pasti memerlukan tenaga, waktu dan kesabaran!

Pemberian Kado (Cadeau) di Samping Ikan (Dengke)

Ketika penulis memasuki ruangan tempat upacara Adat Perkawinan yang memberikan bahan-bahan untuk catatan-catatan ringan ini, maka telah tersedia Daftar Buku Tamu, dan petugas (parhobas) pun sudah siap untuk menerima dan mencatat nama dan alamat pemberi Kado dan atau pemberi Ikan (Dengke), masing-masing secara terpisah.

Selesai mencatat dan tanda tangan, maka kepada si pemberi diberikan tanda “ucapan terima kasih” atas nama pengundang dan penganten. Nama pemberi ikan (dengke), kemudian diumumkan ketika makan, sedang yang member kado tidak. Agaknya, hanya ikan (dengke) yang ber-Adat (dalam arti merupakan bagian yang integral dari pada upacara adat), sedangkan kado tidak (atau belum?). Kado, pemberian kado pada adat perkawinan Batak, kita catat sebagai suatu bentuk perkembangan dalam pelaksanaan upacara adat perkawinan, yang sepanjang pengetahuan penulis, tidak ada pada aslinya di bona pasogit. “Ikan yang ber-Adat” dalam arti diberikan pihak-pihak yang ada hubungan kekeluargaan tertentu dengan penganten yang bersangkutan, akan latar belakang motivasi pemberiannya perlu kiranya diselidiki untuk kejelasan. Kebapa harus Ikan/Dengke? Jika sekedar sebagai bentuk partisipasi dalam suasana gotong royong kekeluargaan, maka “mamboan dengke” (membawa ikan) itu pada saatnya bolehlah berupa “mamboan manuk” (membawa ayam), atau bentuk lain lagi(?!).

Kita tidak tahu persis kapan pemberian Kado itu dimulai, dan siapa yang memulainya. Tetapi apabila ingin ditelusuri sejarah/latar belakangnya, yakni pemberian Kado dan bukan Ikan itu, agaknya ia bermula dari seseorang yang ingin memperlihatkan rasa simpatinya kepada keluarga yang berpesta serta ingin ikut sekedar berpartisipasi sosial kekeluargaan pada keluarga yang baru. Ia sudah diundang, maka di samping waktunya nanti akan mengundangnya (-azas resiprositas/timbal balik-), maka diberikanlah Kado, yang merupakan bukti rasa turut berpartisipasinya. Terutama dari pihak-pihak non-Batak, yang dari suku lain, maka pemberian Kado tersebut memang ada dasar pembenarannya (justification-nya).

Mungkin suatu ketika nanti, entah kapan… yang memberikan Kado-pun, sama seperti yang membawa Ikan (Dengke), akan diumumkan pula secara resmi dan terhormat! Pemberian Kado “yang terorganisasi dan yang berdasarkan kebutuhan nyata”, … jika perlu dengan menanyakan lebih dulu apa yang diperlukan/diprioritaskan sebagai rumah tangga (penganten) yang baru…, kita menyongsong timbulnya keadaan yang demikian. Akan tercatat sebagai perkembangan yang (lebih) baru lagi!

Kursi Meja, Sendok Garpu

Memasuki ruang/gedung uapcara, maka telah tersedia kursi meja, makanan dengan segala macamnya dan bahkan sensok garpunya seperlunya. Para undangan partisipan upacara Adat Perkawinan di kota-kota besar, seperti Jakarta, sudah menerima keadaan itu sebagai seuatu yang biasa, dan bahkan sudah seharusnya. Padahal kalau diingat keadaan di bona pasogit, maka Tikar (Lage), makan tanpa sendok garpu, adalah merupakan gambaran umum kebiasaan, yang dilakukan bukan dalam gedung melainkan di halaman dan di alam terbuka.

Jelas upacara adat perkawinan, pelaksanaannya telah terbukti lagi mengalami perkembangan, karena katakanlah “perkembangan zaman”. Orang di bona pasogit yang pekerjaannya pada umumnya adalah bersawah, berladang dan sebagainya, tidaklah memerlukan sepatu. Maka kalau dalam upacara adat, “hundul di lage dan di halaman”, merupakan kebiasaan yang biasa dan normal. Sedangkan orang kota, yang kalau keluar rumah untuk bekerja di kantor atau kemana pun, maka bersepatu merupakan kebiasaan kalau bukan keharusan. Maka… bermunculanlah gedung-gedung pertemuan dengan meja kursi, garpu dan sendoknya, bahkan sampai pada AC dan TV-nya segala!

Makanan pun tidak dipersiapkan lagi secara “gotong-royong kekeluargaan”, tetapi perusahaan-perusahaan “catering” sudah memberikan jasa-jasanya, secara “zakelijk komersial!” Kembali kita catat… perkembangan dalam pelaksanaan upacara Adat Perkawinan Batak!

Pemberian Marga dengan Dokumen Tertulis

Kebetulan pesta Adat Perkawinan yang penulis hadiri yang jadi bahan uraian bagi catatan-catatan ringan karangan ini, penganten perempuanya adalah berasal dari bukan suku Batak, yang tidak bermarga. Bagian pertama pesta ini merupakan “upacara pemberian marga” bagi penganten wanita. Dan, marga yang diberikan adalah marga sesuai dengan marga ibunya penganten laki-laki. Seperti biasa “upacara pemberian marga” ini berlangsung dengan kata-kata sambutan dari berbagai pihak terkait. Yang paling mengesankan bagi penulis adalah, bahwa pada bagian akhirnya oleh keluarga yang member marga diberikan dan dibacakan suatu PIAGAM TERTULIS perihal pemberian marga itu. Suatu peristiwa yang baru pertama kali ini penulis saksikan. Entah gagasan (ide) siapa ini. Kita patut mencatatnya sebagai suatu perkembangan dalam pelaksanaan Adat Batak. Sungguh suatu peristiwa yang bersejarah.

Penutup

Demikian beberapa catatan ringan mengenai pelaksanaan/upacara Adat Batak. Adat Batak itu tidak statis. Ia berkembang terus, mengikuti perkembangan zaman. Para pelakunya patut dengan sadar menyadarainya.

Jakarta, Mei 1988

Di sadur dari : Bulletin PARSAORAN PSSSI & B Jakarta Raya dan Humaliangna, Edisi Juli 1988
Oleh : DR. Mr. J.C.T. Simorangkir

Fernando Simanjuntak, Ketua Umum GM-PSSSI&BB Se-Dunia

6

pertukangan.jpg

Di salah satu sudut Kota Pematang Siantar, tepatnya tanggal 7 Maret 1968, lahir seorang anak laki-laki, yang akhirnya diberi nama Fernando dan memiliki marga Simanjuntak. Orang tuanya yang aktif sebagai anggota TNI (CPM), tentu memiliki segudang doa dan harapan akan masa depan sang anak lelaki yang merupakan anak ke-3 dari pasangan Kapten TNI CPM (Purn) Drs. W.A. Simanjuntak dengan boru ni rajai, Sianipar.

“Sejak anak-anak, kami di didik untuk memiliki displin dan bertanggungjawab, dan akhirnya mewarnai seluruh hidup saya, hingga sekarang”, akunya. Dalam, menata hidup yang saya mulai dari “minus”, kerja keras dan displin ternyata sangat menentukan. Prinsip hidup saya, terbentuk dari pengalaman. “Mengusahakan agar tidak menjadi beban orang lain, justru sebaliknya, kesediaan meringankan beban orang lain, ternyata menghasilkan harmoni dalam persahabatan dan kekeluargaan.
“Sepanjang perjalanan hidup saya, baik selama di perantauan, maupun setelah kembali ke kampung kelahiran di Siantar, prinsip hidup ini tetap saya pegang teguh. Dan, untuk ukuran saya, sejauh ini menghasilkan kebaikan bagi saya dan keluarga”, ungkap Fernando dengan penuh penekanan.

Fernando yang telah dikaruniai 3 (tiga) orang anak, 2 (dua) orang putra : Jhonson dan Nickson, serta 1 (satu) putri : Felinda, yang lahir dari istri boru Tambunan, ternyata aktif tidak sebatas membina keluarga, tetapi aktif dalam berbagai organisasi, seperti :

  • Badan Pendiri Lembaga Informasi Indonesia
  • Wakil Ketua Ormas DPC-FKPPI Kota Siantar
  • Penasehat Koran Radar Siantar
  • Ketua Panitia Pembentukan Generasi Muda Simanjuntak Sitolu Sada Ina se-Dunia.

Di tengah kesibukan sebagai ayah dari 3 (tiga) orang anak dan aktivis organisasi sosial, beliau dikenal luas sebagai Pengusaha Muda yang sukses di Pematang Siantar. Paling tidak ada 3 (tiga) unit usaha yang digeluti secara profesional, yaitu :

  • Direktur CV. Jhonson Perkasa Utama
  • Direktur CV. Batu Giok
  • Direktur U.D. Jonik

Bermodalkan prinsip dan pengalaman kerja yang sudah dilalui baik di Jakarta, sebagai Manager PT. Krino Mega Utama dan di Pulau Kijang, PT. Perkasa Agung yang bergerak di bidang Konstruksi Perkapalan, Fernando mengembangkan bisnisnya di tanah kelahiran, Pematang Siantar.

Bangku kuliah di ISTN Jakarta, yang dilaluinya selama 3(tiga) tahun, ternyata masih belum cukup untuk membangun kapasitas dan kapabilitasnya sebagai seorang pengusaha muda, sehingga melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Simalungun – Pematang Siantar.

Pemegang Sabuk Hitam ini, menyatakan bahwa Karate merupakan salah satu olah raga yang paling disukainya, sebab mampu memberikan keberanian dan kepercayaan diri. Sebagai salah seorang Karateka, Fernando, pernah mengabdikan diri membina pemuda dengan membuka DOJO Karate Tako di Jati Asih Bekasi tahun 1994. “Kalau sekarang, saya tidak mampu melatih lagi”, katanya sambil memegang perut besarnya, dengan senyuman khas seorang anak Siantar.

Kepada www.simanjuntak.or.id, Fernando, mengungkapkan keinginannya untuk mengembangkan Generasi Muda Simanjuntak Sitolu Sada Ina se-Dunia, sebagai salah satu bentuk respon terhadap semakin kompleksnya tantangan di masa depan.
“Simanjuntak, sebagai salah satu elemen masyarakat Batak, tidak bisa tidak harus mempersiapkan diri menghadapi tantangan zaman yang semakin sulit dari tahun ke tahun”, jelasnya dengan mimik serius. Dengan mempersatukan Generasi Muda Simanjuntak, tentu dapat menjadi media dalam mengumpulkan kekuatan sumber daya manusia yang begitu banyak dan beragam, serta tersebar di seluruh belahan bumi ini. Pematang Siantar, boleh jadi menjadi inisiator dengan harapan dapat didukung oleh GM-PSSSI & BB di provinsi, kabupaten/kota yang lain.

“Kalaupun dikatakan bermimpi, saya berharap ini dapat menjadi kenyataan. Ini merupakan pekerjaan besar dan membutuhkan dukungan aktif seluruh Simanjuntak Sitolu Sada Ina, Boru dan Bere”, katanya. Jika, saya dipercaya menakhodai GM-SSSI&B se-dunia, maka saya akan mengajak generasi muda untuk memikirkan program-program kerja yang bermanfaat, berimplikasi luas dan berkesinambungan. Misalnya, program penyediaan beasiswa bagi Simanjuntak, Boru dan Bere yang berprestasi, penyediaan informasi lapangan kerja, penyediaan upaya bantuan hukum (advokasi), dan berbagai program sesuai dengan kebutuhan warga Simanjuntak Sitolu Sada Ina.

Sudah saatnya Simanjuntak Sitolu Sada Ina Boru Bere, menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Pelayanan adat tidak dijalankan dengan baik, tetapi pelayanan sosial lainnya juga harus menjadi agenda yang disikapi secara responsive dan tepat waktu. “Dengan berdirinya GM-PSSSI&BB, maka berbagai permasalahan dapat diatasi secara mandiri dengan optimalisasi seluruh resources yang dimiliki” katanya penuh keyakinan.

Mengakhiri pembicaraan dengan JuntakNews, Fernando, mengharapkan agar situs www.simanjuntak.or.id, dapat sebagai media yang bersifat global, bersedia membantu mem-blow-up perkembangan GM-PSSSI&B di masa mendatang.

Dikotomi Horbo Jolo & Horbo Pudi, Perlukah?

33

Millenium adalah jaman dengan ditandai klimaksnya teknologi, tapi antiklimaks budaya dan adat istiadat terutama pada negara-negara yang masih menuju pada era tersebut. Era globalisai juga ditandai dengan berlakunya perdangangan bebas di sektor ekonomi memang tak luput dari masuknya budaya-budaya asing kedalam suatu negara. Tetapi sering sekali negara-negara yang dianggap memiliki kemajuan lebih maju mengalahkan negara-negara yang masih belum maju ataupun sedang berkembang, dan biasanya kebudayaan dan adat istiadatlah sebagai korban prematur era globalisasi terutama negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Dengan meningkatnya persaingan antar negara maupun antar manusia, memang sangat menuntut kualiatas tiap-tiap individu untuk meningkatkan taraf hidupnya sehingga mampu bersaing pada era yang memang serba modern ini. Akibat persaingan tersebut sering sekali mengakibatkan kehidupan manusia yang serba egois, dengan mengenyampingkan arti kehidupan sosial guna mencapai target pribadi sehingga “Hukum Rimba” pun berlaku.

Kejadian tersebut juga rupanya terjadi pada kehidupan sosial budaya orang Batak, terutama orang-orang Batak yang sudah memiliki ekonomi dan pendidikan lebih maju dan jauh dari kehidupan bonapasogitnya. Orang-orang Batak yang dikenal cukup keras dan memiliki intelegensia yang cukup tinggi, rupanya juga lemah terhadap era ini. Sebagian orang Batak (Marga Simanjuntak khususnya) sudah tidak mau perduli dengan sejarah hidupnya. Padahal negara-negara maju tersebut sebelumnya juga memegang teguh sejarah bangsanya sebelum mencapai kemajuannya, sebut saja seperti negara-negara Jepang, Jerman dan lain-lain.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengetahui asal-usul hidupnya atau sejarah bangsanya dan menghargai para leluhurnya” adalah salah satu semboyan yang sering sekali terdengar. Bagaimana dengan kita orang Batak (Simanjuntak), Sudahkah kita melakukannya?.

Untuk menjawab hal tersebut kita perlu kembali mengetahui kilas balik kehidupan orang Batak (Simanjuntak) sebelum mencapai kepada kehidupan seperti sekarang ini. Dilihat dari sejarah Indonesia dan letak geografis dan kondisi alam maka orang Batak tidaklah mungkin secepat sekarang ini mampu menyaingin suku-suku lain di Indonesia, tapi tekad keras dan ajaran-ajaran orang-orang tua kita dahululah yang menyebabkan kita hingga seperti sekarang ini.

Agama Sering Sekali sebagai Alasan Mutahir Untuk Mengubah Sejarah dan Adat Istiadat

Mengikuti jaman adalah hal yang trendy sedangkan mengetahui adat-istiadat adalah hal yang premitif dan dianggap kolot bagi sebagian kalangan orang pada jaman ini. Pertanyaan yang timbul apakah jaman sekarang ini sudah berpengaruh baik terhadap kehidupan?. Dengan bermunculannya agama-agama baru dan silang pendapat terhadap agama percecokanpun terjadi ditandai dengan seringnya konflik sosial dimana-mana. Peredaran narkoba merajalela, sex bebas, perkawinan sedarah, dan lain-lain yang sangat mengkontaminasi kebudayaan asli suatu masyarakat.

Sebelum agama Kristen masuk ke tanah Batak, orang-orang Batak sudah mengakui adanya kekuatan besar (Raja mula jadi nabolon = Debata = Tuhan) yang mengatur tatanan kehidupan manusia, sehingga antar manusia perlu dibuat aturan atau norma-norma kehidupan yang disebut dengan adat.

Sering sekali agama-agama yang mengatasnamakan ajarannya melarang atau mengelemininasi adat istiadat serta budaya, dengan mengatakan bahwa adat tersebut dilarang oleh agama.

Akibat kepintaran manusia jaman sekarang maka terjadi perubahan dimana-dimana termasuk pada agama, terlihat dengan terjadinya pemutahiran agama yang melarang memakai atribut-atribut adat (Batak, Red) atau kebiasaan-kebiasaan dalam sosial tersebut.

Pertanyaan yang timbul, manakah lebih dulu agama atau adat? Lalu pemberian siapakah agama dan adat itu?. Dan siapakah yang membuat agama dan adat itu? Maka kita perlu mengalami dan mempelajari filosofi adat, budaya dan agama dengan baik dan benar (alias jangan tanggung-tanggung saudaraku), sebelum anda memprotes atau menyalahkan agama dan budaya itu.

Nasrani Pada Umumnya adalah Agama yang Dianut Oleh orang Batak (Simanjuntak)

Sebagai seorang Nasrani penulis ingat akan kata-kata “Hormatilah Ayah dan Ibumu agar engkau bahagia di dunia ini”, kemudian penulis mencoba mengartikan luas arti Ayah dan Ibu sebagai Leluhur.

“Jangan menyembah apapun yang ada di atas bumi ini” kata-kata ini memang senjata ampuh yang paling mampu mengelimir kebudayaan, penulis mengira bahwa pembaca dan orang-orang Batak yang masih memegang teguh adat istiadatnya serta beragama Kristen bukanlah orang Bodoh yang menyembah yang tidak mampu memberikan apapun kepadanya atau dianggap benda mati atau tidak terlihat secara realistik. Kenyataan yang terjadi pada jaman sekarang ini adalah bahwa lebih banyak manusia menyembah manusia itu sendiri, mungkin karena manusia yang disembah lebih pintar, lebih kaya, lebih baik atau lebih berkuasa.

Pertanyaan yang timbul, kenapa kita tidak mempermasalahkan kasih yang semakin kurang didalam kehidupan sosial masyarakat?

Penulis Bangga sebagai Orang Batak (Bermarga Simanjuntak), Memiliki Orang Tua Batak yang mengajarkan Adat Batak (Sejarah Marga Simanjuntak)

Pada jaman sekarang sering sekali orang Batak tidak mau memakai marga yang dimilikinya, akibat dari isu nasionalisme dan alasan rasisme, atau menganggap orang Batak yang memegang teguh ajarannya sebagai orang yang narsis.

Kenapa demikian?, pertanyaan ini sering menghinggapi penulis, kemudian penulis mencoba membuka pola pikir selain alasan kehidupan sosial yang semakin modern, penulis mencari jalan keluar mengingatkan dengan pendekatan Teori Genetika pada Ilmu Kedokteran secara umum.

Dalam kehidupan mungkin kita sering mendengar penyakit keturunan, penurunan karakteristik, atau persamaan sifat yang sama akibat adanya perkawinan sejenis pada manusia. Untuk menghindari hal tersebut maka para pakar menghimbau agar kita tidak melakukan perkawinan sejenis.

Pertanyaan yang timbul, apakah Pemargaan itu memang kebetulan? Jika memang berdampak pada kehidupan orang Batak, Pintarkah Orang Tua kita membuat marga? Dan bermanfaatkah bagi kita?

“Simanjuntak Marga Terpopuler?”

Selain sebagai Marga terbesar yang memiliki keturunan yang sangat banyak dan menyebar dimana-dimana ternyata Simanjuntak merupakan marga terpopuler, ini terlihat dari tiap kali kita mengenalkan marga kita terhadap orang lain, pastilah muncul pertanyaan “Simanjuntak mana?” terkadang kita merasa geli menjawabnya, karena yang menanyakan bukanlah marga Simanjuntak atau bahkan bukan orang Batak.

Ternyata sejarah Simanjuntak sudah beredar kemana-kemana bukan hanya dikalangan orang Batak tetapi juga di luar kalangan tersebut.

Isu Sejarah Simanjuntak yang menyebabkan terjadinya gap antara Simanjuntak Sitolu Sada Ina dengan Simanjuntak Parsuratan adalah salah, dan bukan didramatisir oleh orang-orang terdahulu yang membentuk PSSSI & B. Namun akibat sudah banyaknya Pomparan dari keturunan Boru Sihotang sehingga untuk mengeratkan hubungan tersebut dibentuklah PSSSI & B.

PSSSI & B yang telah terbentuk sekian lama dan pada umumnya sudah memiliki Angaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang jelas, adalah suatu organisasi yang memang diperuntukkan bagi Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Borunya, sesuai dengan singkatannya, dan didalam AD/ART PSSSI & B tidak pernah disebutkan untuk membenci atau merusak hubungan dengan Abangnya yaitu Simanjuntak Parsuratan.

  1. PSSSI & B didalam sejarah terbentuknya juga tidak pernah berawal dari akibat konflik antara PSSSI & B dengan Simanjuntak Parsuratan, tetapi berawal dari rasa rindu terhadap sesama keturunan boru Sihotang untuk mempersatukan kembali pomparannya yang sekarang ini telah tersebar dimana-mana.
  2. Kenyataan yang terjadi pada saat ini ternyata antara keturunan PSSSI & B belum bisa dalam mencapai tujuan organisasi tersebut belum terlaksana dengan baik sehingga perlu kembali memperkuat organisasi PSSSI & B tersebut.
  3. Kenyataan yang berikutnya adalah sekarang ini pembauran Keturunan PSSSI & B dengan Keturunan Simanjuntak Parsuratan dalam kehidupan sehari-hari sudah mampu duduk bersama , seperti di dalam gereja dan kegiatan sehari-hari lainnya di luar dari Peradatan.
  4. Adanya usaha-usaha yang berusaha mempersatukan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dengan Simanjuntak Parsuratan dengan mengambil kesatuan dari keturunan Raja Marsundung Simanjuntak, yang pada umumnya diupayakan oleh Keturunan Simanjuntak Sitolu Sada ina, ini bukti bahwa keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina bukanlah orang yang benci terhadap Saudara Sendiri.
  5. Posisi PSSSI & B bukan tidak menyadari arti pentingnya harmoni, tetapi merupakan pilihan sadar untuk tidak bersama, karena tunduk terhadap pesan orang tua, PSSSI & B tidak pernah “benci” dengan parsuratan, dan perdamaian tidak harus diterjemahkan dengan bersama,.
  6. Dengan mengetahui Sejarah Simanjuntak kita semakin tahu tarombo kita, semakin rindu untuk mencari siapa kita di Marga Simanjuntak tersebut. Semakin rindu untuk bergabung membangun PSSSI & B sesuai tujuan mulianya kalau memang kita adalah keturunannya.

Kilas balik dari keturunan PSSSI & B itu sendiri yang menjauh dari PSSSI & B dan berusaha menciptakan sejarah baru atau menghilangkan sejarah itu sendiri, sering sekali menganggap negatif bahkan menjelek-jelekkan keturunan Simanjuntak yang masih memegang teguh PSSSI & B dengan menganggap orang-orang tersebut tidak memahami betul agama dan menyalahkan.

Hal tersebut malah menimbulkan pertanyaan seperti :

  1. Benarkah orang-orang tersebut yang menganggap beragama sudah menjalankan agama itu dengan baik.
  2. Kalau memang mau memperbaiki kenapa harus meninggalkan PSSSI & B padahal sebagai keturunan sendiri. Bijaksanakah tindakan tersebut?
  3. Benarkah orang-orang yang menyatakan hal tersebut paham betul sejarah Simanjuntak atau sekedar menebak-nebak?
  4. Pernyataan tidak mau masuk dalam PSSSI & B, sebagai kumpulan orang banyak (sosial) adalah pernyataan orang yang memang tidak mau berkumpul (alias pemain Tunggal = egois ), atau ada unsur lain yang tidak memuaskan dalam suatu organisasi, karena tidak mendapat Posisi yang kita ketahui bahwa PSSSI & B adalah organisasi yang sudah sangat lama dan berada dimana-mana.

Semuanya itu terjadi karena kasih, karena niat kita masing-masing untuk lebih memajukan Simanjuntak itu sendiri sehingga diperlukan Kebijaksanaan didalamnya.

“ Dari seribu orang pintar, belum tentu ada orang bijak, dan dari seribu orang baik belum tentu ada orang benar”

Bravo Simanjuntak

Pengurus Pusat PSSSI&B se-Dunia

15

Jl. Patuan Nagari
Belakang Kantor CPM – Balige
Kabupaten Toba Samosir
Kontak : M. Simanjuntak (Ketua Umum)
Tel. 0632 – 322069 HP. 081397825683

Pengurus Pusat PSSSI/B Dukung Pembentukan GM-PSSSI/BBI se-Dunia

1

ketum_psssib.jpg

Ka – Ki : Drs. Reckson Simanjuntak, MM (Ketua I PSSSI&B Balige), M. Simanjuntak Ketua Umum Pengurus Pusat PSSSI&B, Ny. Ketua Umum br. Hutagaol, Poltak Simanjuntak (www.simanjuntak.or.id), Fernando Simanjuntak (Calon Ketua Umum GM-SSSI&BB se-Dunia), di kediaman Ketua Umum, mendiskusikan Rencana Pembentukan GM-PSSSI&BB.

simanjuntak.or.id (Medan)

Pembentukan organisasi Generasi Muda Simanjuntak Sitolu Sada Ina, Boru – Bere se-dunia yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 2008, mendapat dukungan kuat dari Pengurus Pusat PSSSI&B se-dunia yang bermarkas di Balige, Kabupaten Toba Samosir. Ketua PSSSI&B se-dunia, didampingi Drs. Rekson Simanjuntak, MM salah seorang Pengurus PSSSI&B Cabang Balige, ketika ditemui di kediamannya menyambut Fernando Simanjuntak calon Ketua GM-SSSI&B yang didampingi kontributor simanjuntak.or.id, penuh semangat.

“Saya mendukung upaya PSSSI&B Kota Pematang Siantar yang dengan kerelaan hati, penuh keberanian dan sungguh-sungguh untuk menyatukan generasi muda di bawah payung organisasi GM-PSSSI&B. Dengan dibentuknya GM-PSSSI&B, akan membawa pembaharuan dan dorongan baru bagi PSSSI&B untuk bangkit bersama-sama dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas ha-simanjuntak-on seluruh warga PSSSI&B di seluruh dunia dimana warga PSSSI&B berada”, katanya penuh harapan.

Marga Simanjuntak, khususnya Sitolu Sada Ina yang sering mendapat sebutan tambahan “Ri” (lalang, red), sepertinya layak disandang melihat jumlah dan penyebaran keturunan marga ini yang berada di mana-mana. Menurut Drs. Rekson Simanjuntak, MM yang sehari-hari bekerja di Kantor Bupati Kabupaten Toba Samosir ini, bahwa warga Simanjuntak Sitolu Sada Ina, diperkirakan sudah mencapai 500.000 kepala keluarga yang tersebar di Bona Pasogit bahkan di berbagai desa, kecamatan, kabupaten/kota, propinsi di Indonesia bahkan di luar negeri. Dengan jumlah yang besar ini, memang tidak ada pilihan harus diimbangi dengan pranata organisasi yang kuat dan fasilitas pendukung yang handal.

“PSSSI&B, sebagai organisasi yang sudah memiliki perjalanan panjang dipaksa untuk terus membenahi dirinya, sehingga mampu merespon setiap perkembangan dan kebutuhan warganya dengan tepat dan bermanfaat”, senada dengan penuturan Ketua Umum PSSSI&B se-dunia. Pembenahan ke dalam, sepertinya menjadi kata kunci yang tepat dikaitkan
dengan munculnya keinginan kuat kalangan generasi muda untuk hadir dalam suatu organisasi yang tertata secara baik. “Potensi, talenta, ragam pekerjaan, jabatan, jumlah yang besar, belum kita manfaatkan secara tepat dan efektif untuk menjawab berbagai permasalahan, tantangan dan kesulitan yang dihadapi oleh warga Simanjuntak Sitolu Sada Ina dari hari ke hari”, Fernando mencoba menjalaskan visi dan misi dibentuknya GM-PSSSI&B.

Menanggapi pertanyaab simanjuntak.or.id, “apa bentuk dukungan Pengurus Pusat PSSSI&B dalam pembentukan GM-SSSI&B?” Ketua Umum PSSSI&B, menjawab dengan menyatakan kesediaanya menghadiri, dan mengukuhkan GM-SSSI&B serta pelantikan pengurus-pengurusnya yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 Merat 2008 di Kota Pematang Siantar. “Jika, sudah melalui proses persetujuan cabang-cabang PSSSI&B dan generasi muda, baik yang ada di Pematang Siantar, maupun di kota/kabupaten lainnya, maka PSSSI&B Pusat, akan mengeluarkan SK pengurus PSSSI&B se-dunia sebagai dasar konstitusional berdirinya GM-SSSI&B ini”, katanya.

“Suara cabang dan tokoh tokoh generasi muda perlu di dengar untuk memperluas dukungan serta rasa kepemilikan
seluruh generasi muda simanjuntak, terhadap organisasi baru ini. Sehingga kita tidak hanya puas jika sudah berhasil membentuknya, tetapi harus ada tekad dan kebersamaan dalam mengembangkan organisasi GM-SSSI&B menjadi perpanjangan tangan PSSSI&B dalam melaksanakan program kerja pelayanan terhadap anggota-anggotanya”, jelasnya.

Terhadap pokok fikiran ketua umum tersebut, Fernando Simanjuntak mengatakan “Jika, perwakilan Generasi Muda dan perwakilan PSSSI&B dari luar Kota Pematang Siantar, yang akan hadir tanggal 7 Maret 2008 dalam sarasehan, ternyata memberi kesempatan bagi kami memimpin GM-SSSI&B, maka kami akan memelihara kepercayaan itu, melalui pelaksanaan kegiatan-kegiatan berdasarkan program kerja yang akan disusun segera setelah pembentukan dan pelantikan GM-PSSSI&B”.

Sarasehan yang dimaksudkan Fernando, ternyata sudah menjadi rangkaian kegiatan yang sudah dirancang panitia, sebagai bentuk praktek demokrasi di tubuh GMPSSSI&B. Dalam sarasehan ini, panitia merencanakan mengundang perwakilan Pengurus Pusat, Pengurus PSSSI&B Kota Pematang Siantar dan cabangcabang PSSSI&B, baik yang berada di Propinsi Sumatera Utara, maupun yang datang dari luar propinsi seperti Jakarta, Bandung bahkan dari luar negeri.

Dalam sarasehan ini, ditetapkan 4 (empat) agenda utama, antara lain :

  1. Rencana Pembangunan Tugu Hidup di situs Tugu Sobosihon Boru Sihotang di Hutabulu Balige, yang akan dipresentasikan oleh Pengurus Pusat PSSSI&B dari Bona Pasogit Balige
  2. Visi dan Misi GM-SSSI&B se-dunia, yang akan dipresentasikan oleh Fernando Simanjuntak (calon ketua),
  3. Sosialisasi Situs Internet www.simanjuntak.or.id dan sekaligus launching Tarombo On-Line Simanjuntak Sitolu Sada Ina, yang akan dipresentasikan oleh Bungaran Simanjuntak (Bandung).
  4. Diskusi Pembentukan dan Pemilihan Pengurus GM-SSSI&BB se-dunia.

Terhadap, acara sarasehan ini, Ketua Umum Pengurus Pusat PSSSI&B, dan Pengurus PSSSI&B Kabupaten Balige, menyatakan kesediaanya untuk hadir dan tampil menjadi salah seorang nara sumber, sekaligus menyaksikan proses diskusi pembentukan GM-SSSI&BB. “Kami sudah mempersiapkan materi diskusi dalam sarasehan itu, semoga peserta sarasehan memberi dukungan terhadap rencana yang kami ajukan ini”, katanya sambil menunjukkan materi yang sudah tersusun di dalam notebook.

Mengakhiri pembicaraan dengan Ketua Umum Pengurus Pusat PSSSI&B, Fernando Simanjuntak yang juga sebagai ketua panitia, kembali menekankan akan arti pentingnya kehadiran Ketua Umum dalam sarasehan, serta memohon doa restu, agar pelaksanaan Pesta Ulang Tahun ke-53 dan pengukuhan serta pelantikan GM-PSSSI&BB, dapat berjalan sesuai dengan harapan.

Gihon & Lia

11

Gihon & Lia

Pemberkatan Nikah

Gihon Simanjuntak, SE, MM & Natalia Br Sihotang, SE

Pada hari Sabtu, 22 Maret 2008
di Gereja HKBP Bandung Timur
Jl. Jakarta – Bandung

Seluruh Keluarga Besar Simanjuntak Sitolu Sada Ina Mengucapkan selamat berbahagia dan semoga menjadi keluarga yang bahagia dan menjadi kemuliaan nama Tuhan

Keluarga:
St. TH. Simanjuntak/R. Br Pasaribu (Op. Kezia) – Bandung
Leonard P Sihotang, SH, MM/R.M Br Sijabat,SPd – Bekasi

Sekilas Tentang Foto Panggung Tanpa Flash

3

Photo by: Palty Osfred Silalahi

Dalam foto panggung yang paling wajib untuk diperhatikan adalah kecepatan merekam cahaya dari kamera. Alasannya mutlak, karena aksi panggung selalu dihiasi dengan kecepatan gerak dan aksi. Tidak dipungkiri, banyak pemula dalam fotografi yang kewalahan dalam hal ini, atau dengan kata lain kesulitan dalam membuat foto bagus dari hasil foto panggung. Penyebab tidak terwujudnya foto panggung yang baik adalah lensa. Lensa yang baik yang mempunyai focal length (jarak) yang pas dan diafragma dengan bukaan yang besar. Bukaan diafragma yang besar menyebabkan sinar banyak yang masuk kedalam rana rekam. Dengan demikian kita tidak akan kekurangan cahaya untuk merekam. Cahaya yang masuk kedalam rana pastilah mendongkrak nilai kecepatan rekam.Hal lainnya adalah ISO. Semakin tinggi nilai ISO yang kita pasang [digital] akan semakin baik daya tangkap kecepatan dan daya tangkap cahaya. Kekurangannya menggunakan ISO yang tinggi nilainya menyebabkan hasil foto menjadi berbintik atau berpasir. Di fotografi biasa disebut dengan noise.

Oleh sebab itu, pergunakanlah lensa yang baik untuk memotret kejadian dipanggung, kemudian jarak yang pas untuk eksekusi, pemilihan metering [kecepatan & diafragma] yang tepat, serta ISO yang tinggi dan diperkirakan masih minim noise.

Jarak pemotretan dengan panggung sewajarnya adalah 1 sampai 2 meter didepan panggung dengan menggunakan lensa minimal 70mm. Dengan jarak sedemikian kita masih dapat mengambil komposisi tiap-tiap pemain diatas panggung. Dan dengan jarak sedemikian pula, kita masih dapat mengambil close up wajah pemain diatas panggung dengan angle dan focal length tertentu.

Metering favorite saya adalah speed 1/250 dengan diafragma f/1.8 serta ISO diantara 500 – 640. Body kamera yang saya pakai biasanya Nikon D70 / D80 dengan lensa Manual Fokus 85mm f/1.8.

Selamat mencoba!

Palty Osfred Silalahi

http://paltyosfred.fotografer.or.id

Bagi rekan-rekan yang ingin menanyakan langsung tanpa melalui forum ini atau berbeda dengan topik yang ada, bisa mengajukan pertanyaan melalui email ke paltyosfredsilalahi@paltyosfredsilalahi.net

Contoh foto-foto panggung ada di dalam multiply saya : http://palty.multiply.com atau bisa mengunjungi ke website saya di http://www.paltyosfredsilalahi.net

Rekomendasi Focal Length lensa untuk foto panggung : 70mm – 1000mm
Rekomendasi Diafragma yang dimiliki lensa : f/1.8 ; f/2.0 ; f/2.2 ; f/2.8 ; f/3.2.
Rekomendasi ISO yang dipergunakan dalam foto panggung : ISO 400 – 1600.
Rekomendasi Aksesoris lainnya : Monopod, Filter Star, Lens Hood, Vertical Grip
Rekomendasi Body Kamera : Single Lens Reflector / Digital Single Lens Reflector

Pangantusion Di Ulaon Arsak Ni Roha

1

Sude do hita jolma ingkon mate molo jumpang tingkina. Sada pe sian hita ndang adong na boi pasidinghon i. Alai pangidoanta, molo tung marujung pe nian ngolunta sian hasiangan on, asa jolo sahat ma nian hita tu na saur-matua. Ima songon pangidoan dohot elek-elekta tu Tuhanta. Alai molo tung masa pe na masa i, asa dapot ma di hita songon hata ni endenta, “Sai rade ale tondingku, tagam panjouonna i … manang hata ni ende di Buku Ende nomor 539: 4

Ndang na tarpasiding be ianggo hamatean i,
Ingkon do dibolus be, di nalao tu surgo i,
Sihirimon ni rohanta, ngolu sogot i,
Tau pangapul di rohanta, angka naporsea i.

BE. No. 520:2

Di surgo adui pinarade inganan
Nasonang tutu sai tusi ma ahu lao

O, ho donganhi ingananmu ginjang
Sai dohot ma ho, sai tu surgo ma lao,
Sai ro dohot ho, dohot ho, dohot ho,
Sai dohot ma ho, sai tu surgo ma lao.

BE 525: 4

Molo di hita Batak Toba, godang do ragam-pandohan tu na mate, jala asing do nang ruhut paradaton tu si. Adong do didok namate dakdanak, mate doli-doli/anakboru, mate mangkar, mate pur-pur, mate sarimatua, mate saurmatua. Adong do deba binege mate sada ama manang ina, hape ndang gok dope adatna, (asing do ulaon dohot ruhut paradaton tu si, mamereng luat dohot paradatonna). Alai naporlu sipatorangon di bagian on, asa dapot hita pangantusion di angka ulaon habot ni roha, songon i nang di ulaon sari-matua dohot saur-matua.

A. Mate Tilahaon

Molo mate dakdanak baoa, boru, songon i doli-doli, namarbaju, manang mate dung matua alai ndang dope hot ripe. Ndang pola mardalan adat-paradaton di son. Jala masuk horong natilahaon ma on didok.

Holan angka hata apul-apul do dipasahat di son, songon i sian hula-hula manang tulang ni namarsitaonon. Molo tung adong pe niida sian horong ni hula-hula manang tulang ni monding mambahen ulos saput, jala somal binege ulos parsirangan, ndang pola sala i. Alai holan songon i do i. Ndang pola alusan manang lehonon ni namarsitaonon i piso-piso tusi.

Molo masa si songon on, biasa muse ndang apala marborngin bangke i dibahen. Pintor sadari na i do i ditaruhon tu udean, dung sae acara huria. Namarlapatan ndang adong pola sipaimaon di parmate ni tilaha i. Nang pe songon i tergantung do i tahe tu keputusan ni hasu-huton dohot keluarga. Jadi molo tung masa pe na masa i, hatop ma tarapul ili-ilu dohot roha ni sude keluarga.

B. Mate Purpur

Mate purpur ma peristiwa na humansit di parmate ni jolma di ngolu ni halak Batak. Mate somardangka so marranting so marbulung. Na marlapatan ndang adong tubuna, anak dohot boru. Sampe do digoari di halak Batak molo mate si songon on didok “siranggapuri”.

Asa molo tung masa pe si songon i, holan angka hata togar-togar, hata apul-apul do sian angka tutur.

NB: Adat habatakon do mandok nahumansit mate pur-pur. Molo sian hakristenon, di hita naporsea di Jesus Kristus, dos do hamatean i, jala ingkon sude do mamolus i. Parhitean do hamatean laho mandapothon Tuhanta. Jala didok hata ni Tuhanta do muse, ditompa Debata jolma i asa marguna jala hasea di Tuhan i do.

Molo ama do najumolo monding, jala molo poso dope inanta i, olo do gabe mulak tu natorasna. Alai, boi do muse ina i dihappi haha/anggi na, asalma sian holong dohot dos ni roha nasida. Namarlapatan ndang pola mardalan be adat di si. Molo dung dibagasan adat nagok hian nasida di tingki nahot ripe, cukup ma dipasu-pasu sian huria nasida muse dohot dipatupa partangiangan keluarga.

C. Mate Punu

Molo mate punu didok ma i na so marindang anak baoa, holan boru do ianakhonna. Songon i do huroha pangalahona. Ai so adong na manorushon dohot na manguduti goarna. Hansit do si songon on molo sian adat-paradaton ni hita Batak. Molo najolo jala masa dope i di tingki on, ndang boi dibahen maralaman si songon on. Asa holan angka hata apul-apul do panghataion di si, lumobi sian angka horong ni hula-hula dohot horong ni tulang. Alai, taringot tu goar manang ulaon si songon on hombar ma i nian tu keputusan ni panghataion ni angka tutur dohot raja, lumobi sian hula-hula dohot tulang.

D. Mate Mangkar

Mate mangkar ima molo mate sada ama manang ina naung mardakdanak, alai ndang adong dope sian dakdanak i naung hot ripe, manang menet-menet dope ianakhonna (mangkar = tata, ndang masak dope). Molo ina do najumolo mate, didok ma i matompas tataring. Alai molo ama do najumolo, didok mai namatipul ulu. Mardalan do adat-paradaton di tingki sisongon on, i ma dinapasahathon ulos tujung dohot ulos saput.

Andorang so pinatorang taringot tu ulos saput dohot tujung di son, porlu botoonta adong do na masa, mate ama manang ina, hape ndang gok dope parsaripeon nasida di bagasan adat. Alana, di tingki nahot ripe nasida, mungkin mangalua, jadi holan ulaon na manuruk-nuruk dope ra dibahen tu hula-hulana. Alasan na asing, mungkin pardijabuna (inanta i) sian suku na asing. Godang do angka si songon on di tonga-tonga ni parsaoranta. Jala molo masa angka sitaonon na dokdok i di dongan si songon i, olo do tamba repot ulaon.

Songon i ma huroha pangalahona, molo adong angka nahurang sai jumolo ma i patureon, pahantuson asa boi mardalan angka ruhut-ruhut paradaton. Alana adong do pandohan na mandok, ndang manjalo adat nasomaradat.

Molo masa si songon on, mate ama manang ina, hape ndang gok adat dope nasida tu hula-hulana, sada hailaan do i nian. Alai ndang i be sitaringotan di son, jalan keluar manang solusi nama: I ma asa dielek-elek jala disomba hula-hulana, songon i tulang ni na mate i. Molo boi nian dijalo nasida ma napuran somba, asa marpangaju roha nasida di pamoruonna. Molo hira denggan do hubungan kekeluargaan jala adong komunikasi nasaleleng on di namarhula-marboru i, nang pe ndang gok adat dope, somalna nian dioloi hula-hula dohot tulang do somba ni pamoruonna i, asal ma sian elek-elek na somba marhula-hula.

Teknis di na pasahat Napuran Somba i, boi ma i dipasahat di jabu ni hula-hulana dohot tulangna i, manang di sada inganan naung diton-tuhon. Asa marhite i molo sian horong ni tulang pe napasahaton ulos saput ni namate i dohot sian hula-hula pasahat tujung ni ama manang ina namabalu i, mardalan ma i songon nasomal. Madekdek jarum tu napot-pot, ndang diida mata, diida roha do i.

Hombar tu si, molo didok mardalan do adat-paradaton di na mate ina manang ama songon on ma pardalan ni sibahenon tu si:

Ditontuhon ma tingki asa marpungu angka namardongan tubu rap dohot horong ni hula-hula dohot tulang ni namarsitaonon i. Ndang namarrapot dope goarna, alai mangido panuturion sian hula-hula dohot tulang, laos ditingki i ma dipangido asa rade ma nian roha nasida mambahen adat diparmonding ni ama manang ina naung jumolo i, ima: Saput ma sian tulang; ulos tujung sian hula-hula.

Jadi holan konsep manang pangidoan do dipasahat dongan tubu ni namarsitaonon i tu hula-hula dohot tulang nasida i. Holan on, olo do sipata adong piga-piga pandapot sian hula-hula manang tulang taringot tu si, suang songon i sian angka raja na ro tu ulaon i. Alai, aek godang ma tu aek laut, angka dos ni roha ma sibaen na saut.

Di peristiwa na mate si songon on, holan partangiangan manang didok ulaon mangido tangiang do dibahen, ndang adong na marbagi jambar di son. Molo tung dipatupa pe sipanganon di si didok ma i indahan sipaet-paet. Dung mulak sian udean dipatupa ma muse ulaon mambuka tujung, ima sian hula-hula ni namabalu i.

Gabe ma jala horas jala ganjang angka umurta sude, sahat saur matua tumpahon ni Tuhanta Pardenggan Basa i.

Hata di napasahathon ulos tujung:

“Di ho ito/lae (tergantung ise namanghabaluhon). Di tingki on dipaporsanhon Tuhanta do tu ho sitaonon na mansai dok-dok, mansai borat do sitaonon on songon udan nasohasaongan, songon alogo na so hapudian, mansai menek-menek dope angka berengki, hape so marama/ somarina be nasida. Alai ingot ma ndang holan ho na manaon na dokdok on dohot do hami hula-hulamu. Ido umbahen naro hami di tingki on mambahen tujungmu. Asa sada tanda manang simbol do on di na dohot do hami hula-hulamu man-dongani hamu di sitaonon on.”

Ditujunghon ma ulos i jala didok muse hatana:

“Jala ingot ma hata ni Tuhanta namandok, ‘Ahu do ama di angka namabalu dohot di angka dakdanak di angka na so marama’,” (molo ina do najumolo i) asa disesuaihon pandohan i.

Hata dinamambuha ulos tujung

Dung sae sian udean, mulak ma tu jabu. Diparade ma aek sitio-tio dohot boras sipir ni tondi di piring, songon i hian diparade indahan dohot dekke.

Didapothon hula-hulana ma namabalu i didok ma:

“Di ho ito/lae, Nunga hubaen tujungmu nangkin, nuaeng pe ungkaponhu ma, asa gok ulaon i.” Dibungka ma tompu ulos tujung i, laos dipainumhon ma aek sitio-tio i. “Dipamalum Tuhanta ma angka nahansit, habot ni roham.” Diparsuap ma muse na marsi-taonon i. “Tuhanta ma namangapusi ilu-ilu sian hamu, jala tiur ma parnidaan-mu laho parmudu-mudu angka berengkon, jala minar ma bohim managam angka si las ni roha, singkat ni nabernit i, sipasahaton ni Tuhanta di hamu.”

Diparsuap tolu hali. Dungi dijomput ma boras dibahen ma tu simanjujung ni nabalu i tolu hali, laos didok: “Pirma tondim bahenon ni Tuhanta, dilehon ma tu ho hahipason dohot gogo laho pature-ture berengki, asa songon hata ni natua-tua ma dohonon:

Tinapu bulung siarum, laho uram ni pora-pora,

Nahansit i tibu ma malum, jala tibu ma ro si las ni roha.

Disulangi ma muse dohot indahan dohot dekke, asa mulak gogo ma songon nasomal. Botima.

NB: Andorang so dibahen si buha tujung i dope boras tu simanjujung ni namabalu i, jumolo do dibahen tu simanju-jungna laos didok, “Pirma tondingku”, baru pe dijomput boras tu simanjujung ni namabalu i.

  1. Mate Sari-matuaMate sari-matua ima molo mate sada ama manang ina nasosingkop dope sude angka ianakhonna marhot ripe, alai nunga marpahompu. Lapatanna, adong dope sisarihononna, ima angka dakdanakna nasohot ripe i. Jadi didok namate sari-matua ima molo nunga marpahompu sian anak manang sian boru. Alai di tingki on sipata asing do taida namasa di angka ulaon si songon on, jala marragam tahe rumang dohot versi ni ulaon paradaton di ulaon sari matua i, lumobi ma i di tano parserahan on. Asa toho do songon pandohan namandok:

    Nunga mungkap angka taruntuk,

    Nunga sega gadu-gadu

    Nunga muba uhum naburuk,

    Nunga ro be uhum nabaru.

    Jadi sada hal na wajar do i nian, lumobi molo tahaithon tu adat-paradaton ni hita Batak nadinamis, lumobi ma i di hata namandok:

    Aek godang tu aek laut, dos ni roha sibahen nasaut.

    Adat, sada hasomalan naung tong-tong diulahon. Manang songon hata ni ompunta naparjolo i, ima:

Ompu raja di jolo, martungkothon siala gundi
Napinungka ni ompunta naparjolo siihuthonon ni naparpudi.

Asa hombar tu si, molo tung asing pe rumang dohot ruhut ni ulaon di nasarimatua nataulahon di tingki on, manghorhon nauli nadenggan ma i molo diulahon sian dos ni roha, asalma nian ndang mansegai tu ruhut-ruhut ni angka partuturon. Rupani sai pinangido do naeng sangap, hape ndang boi dope ala syarat tu si ndang cukup. Songon i do di ulaon sarimatua, di ruhut adat-paradaton naingkon marhite keputusan ni angka raja do i marhite-hite rapot, lumobi ma i sian raja ni hula-hula dohot angka tulang.

Hombar tusi adong do dua versi namasa, jala nunga taulahon on, di Jakarta sekitarna, ima:

  1. Mate sari-matua alai dipasahat dope ulos tujung.
  2. Mate sari-matua dibahen ulos sampe tua (dipangido tu hula-hulana asa dipasahat ulos sampe tua).

Songon naung taboto, somalna molo sipasahat ulos tujung ima hula-hula ni hasuhuton, songon i muse ulos sampe tua. Alai molo ulos saput ni namate i, somalna sian tulangna ma i.

Taringot si pasahat ulos tujung, ulos sampe tua dohot ulos saput pe adong dope versi na asing. Molo taida do angka namasa, lumobi ma i versi ni Toba dohot nahumaliangna tu versi ni Silindung dohot Humbang sekitarna, nang pe ulaon i di Jakarta on. Alai sudena i gabe uli jala denggan do molo sian dos ni roha. Asing dolok asing do duhutna, asing luat asing do ruhutna.

Molo tung antar ganjang pe binahen angka hatorangan dohot pandapot taringot ulaon sari-matua on, asa gabe lam antusanta do hira songon dia ma nacocok jala pas di rohanta molo masa sisongon on di tonga-tonga ni keluarga. Alana, asing nama situasi dohot kondisi najolo tu tingki on. Misalna, molo najolo sada keluarga olo do adong 10 halak manang lobi tahe ianakhonna, hape ia nuaeng olo nama holan sada, dua manang tolu. Asa hira maol do sahat tu nasari-matua, lumobi saur-matua, di najolo. Hape ia nuaeng on asing nama. Contoh muse, sada keluarga holan sada do anakhonna, ima baoa, jala nunga hot ripe, gok adat huhut nunga marpahompu sian anakna i. Masuk tu kelompok dia (sari-matua manang saur-matua) ma natua-tua i molo mate? Secara logika, masuk tu saur-matua ma ra namonding i. Hape molo didok saur-matua, ingkon singkop do marpahompu sian anak dohot sian boru, jala ndang adong be sisarihononna.

Songon dia ma ruhut ni paradaton tusi? Molo songon i do panga-lahona, maol-mura ma on alusan. Alai molo tung adong pe si songon i, boanon ma i tu panghataion parrapoton di partuat ni namon-ding i. Di si ma diputushon angka raja ni tutur (sian dalihan natolu) angka nahombar tu ruhut ni partuatna.

Mulak ma hita muse di ulaon sari-matua. Molo angka rumang ni ulaon dohot ruhutna, mardalan ma adat-paradaton di si, ima:

Patupahon parrapoton (martonggo raja)

Marpungu do angka namardongan tubu, boru, bere, songon i dongan sahuta mamba-hen sada konsep rencana partuat ni namonding i. Di ma dipasahat pangidoan tu hula-hula dohot tulang asa ditiroi jala ditolopi saluhut rencana i. Di si ma hula-hula dohot tulang mangalehon panuturion, pendapat di angka konsep pangidoan ni pamoruonna.

Angka naporlu sihataan, songon konsep sian hasuhuton ima:

  • Ulos saput dohot tujung manang sampe tua.
  • Tempat pemakaman (udean), waktu dohot naasing.
  • Boan manang galang, didok muse ola-parolaan.
  • Mompo (pamasukhon tu jabu-jabuna)
  • Parjambaron
  • Molo tung adong dope di namambuha tujung, dohot na asing.

Molo di napasahat, manariashon angka konsep pangidoan, somal-na sian haha/ anggi ni hasuhuton ma. Jala manang songon dia pe kepu-tusan ni parrapoton i, ingkon i do nagabe siulahonon di partuat ni namonding i, jala unang be nian manimbil sian i, asa arga hata ni angka raja ima nadiulahon di adat partuatna.

Jadi molo dipangido suhut hian do asa ulos sampe tua dipasahat tu ama/ina si jalo ulos i, hape nadisetujui hula-hula dohot raja ulos tujung do, ima diulahon. Asa dao ma sian hita angka namangharhari naung pinudun (nirahut).

Di ulaon sari-matua muse adong taida dipatupa sijagaron, songon simbol manang tanda do i paboa naung marpahompu sian anak manang boru. Ndang di sude luat mambahen si songon i. Songon i muse taringot pangarapoton, mangan pandungoi, ndang sude be mangulahon i. Jala di pambagian ni parjambaran pe, sai hombar ma i tu adat na masa di huta i. Alai asa denggan saluhutna, sai jolo dipangido ma nian angka panuturion sian angka horong ni hula-hula. Asa songon hata ni natua-tua na mandok: jolo diseat hata ma asa diseat raut parjambaron i.

Nauli ma sudena i molo sian angka dos ni roha. Gabe ma jala horas.

F. Mate Saur-matua

Namate saur-matua ima molo mate sada natua-tua naung simpan (hot ripe jala gok adat) sude angka ianakhonna, jala marpahompu sian anak marpahompu sian boru. Hira so adong be lungun dohot tangis di son, nang pe nian hansit do namarsirang sian natua-tua na sadiri. Alana, sude ianakhonna nunga singkop gabe jala horas. Asa angka gondang dohot angka namanortor nama taida di son.

Alai adong dope didok mate saur-matua maulibuling. On nama natumimbo pandohan molo mate natua-tua. Didok mate saur-matua maulibulung, molo sude ianakhonna nunga simpan, marpahompu sian anak songon i sian boru, mamora jala marsangap, jala ndang adong anakhonna naung manjoloi natua-tua i (jumolo mate), singkop ma-ngolu dope sude. Molo di tingki on hira jarang nama niida mate saur-matua mauli bulung. Alai, molo mate saur-matua godang dope taida di masyarakat Batak.

Godang do taboto rumang dohot ruhut-ruhut ni paradaton di ulaon saur-matua, jala hira dos do i dohot ulaon saur-matua namauli bulung. Molo masa ulaon si songon on di bona pasogit, olo do sampe lima ari manang lobi tahe asa ditaruhon bangke tu udean (batu na pir). Sai ditortori, digondangi, mungkin sipata asing tahe musik dibahen angka pinomparna laho pasangaphon natua-tuana naung jumolo i. Songon i angka sipanganon tu angka tutur, diparade do arian dohot borngin. Alai molo namasa di hita di tano parserahan on ndang pola be songoni tabahen. Songon i muse do niida angka naung niulahon ni angka tutur. Asal ma unang mangurangi makna ni paradaton i, disesuaihon ma tu angka situasi, kondisi, tempat, waktu, materi dohot angka pertimbangan naasing dope. Molo tung pe adong namasa di tonga-tonga ni keluar-ganta, tabahen ma nian ulaon i praktis, hot di ruhut dalihan natolu.

Angka siulaon molo mate saur-matua ima:

Dibahen ma ulaon pangarapoton, sipata didok martonggo raja. Marpungu ma di si sian Dalihan Natolu. Marsipanganon do di son jala denggan manghatai angka raja. Ia di pangarapoton i hira napasahathon konsep di ulaon partuat ni namonding i do i, asa dituturi jala disauri angka tutur, lumobi sian horong ni hula-hula dohot tulang. Hira sarupa do tu ulaon sari-matua molo di angka pangarapoton.

Ditariashon haha/anggi ni hasuhuton ma angka konsep pangidoan nasida hombar tu napatuahon naung jumolo i. Sahat ma i tu namanjalo/pasangaphon angka hula-hula dohot tulang, songon i tu boan (galang) sipatupaon nasida dipartuat ni namonding (lombu manang horbo –gajah toba didok) ima panjuhuti, ulos saput, ulos holong, dohot angka na asing.

Molo ina do namate saur-matua, dihatai ma sahat tu ungkap hom-bung. Alana, ina do sitiop hombung i. Na somal taida, molo di ulaon saur-matua di tano parserahan on, lumobi di Jabotabek sekitarna, gabe dipadomu (dipasada) nama galang (panjuhuti) di ulaon mangarapot dohot napasidunghon ari-ari ni namate i. Hape molo di bona pasogit asing do i dibahen. Jadi olo do dua pinahan manang sada sigagat duhut dipatupa di si, asing ni angka pandungoi.

Molo taringot tu angka pambagian ni parjambaran juhut hot ma i mardalan sesuai tu adat nasomal dohot tu namasa di huta i (Samosir, Toba, Silindung, manang Humbang).

Di ulaon adat namate saur-matua jot-jot do muse tahe tabege angka pandohan ima sijagaron, mardondon tua, dondontua, mangarapot, ungkap hombung, manuan ompu-ompu. Sudena i angka nauli ma i tutu, molo dung sian angka dos ni roha di panghataion.

Namasa jala nasomal taida di ulaon adat namate saurmatua ima di na ro horong ni angka hula-hula laho pasahathon ulos holong tu sude ianakhon ni naung jumolo i, jala ingkon tangkas ma i muse dialusi hasuhuton di napasahathon piso-piso naganjang, ima berupa hepeng tu hula-hulana.

Molo taringot tu pambagian ni jambar di ulaon saur-matua, somalnana, marguru tu hasomalan di luatna do i, hombar ma i tu hata ni natua-tua namandok:

Asing dolok asing ma nang duhutna,

Asing luat asing di nang ruhutna,

Gabe ma jala horas. Asi ma roha ni Tuhanta, dilehon di hita hahipason dohot hagabeon, hamoraon, hasangapon, asa dapot ma nang di hita songon hata ni umpasa:

Andor halumpang ma togu-togu ni lombu,

Andor hatiti ma togu-togu ni horbo.

Gabe jala horas hita on sahat tu saur matua,

Sahat tu na marnini sahat tu na marnono.

Rumang dohot Ruhut ni Ulaon Adat tu na Mangalua (maiturun)

1

Molo tabege hata mangalua pintor songon ma erget manang lucu do di bagasan roha. Alana boi dohonon sian hita angka natua-tua saonari, di tingki na laho hot ripe nabaruon godang do ra namangalua. Aut sugari tasungkun tu ama manang inanta, boha do dalanna umbahen na mangalua nasida, godang do alasan naboi bege on taringot tusi.
Alai boi dohonon di son, somalna ndang ala ni sinamot (tuhor) umbahen na gabe mangalua si Doli dohot si Boru, alai adong na mandok ala ni situasi dohot ko
disi di tingki i do. Adong do deba pengakuan na jujur mandok: lebih praktis jala efisien. Toho manang ndang sintong nanidokna i, taalusi ma di rohanta.

Mangalua lapatanna mangaluahon (mamboan) boru ni halak laho dibahen gabe ripena (isteri), di bagasan maksud na denggan. Adong do ruhut manang syarat ni namangalua, molo naung tangkas si Doli dohot si Boru masihaholongan, ima: Andorang so borhat dope nasida, somalna dibahen do surat otik songon hata parmisi tu natua-tua ni si Boru, jala laos dibahen do hepeng donganna. Somalna, dipeakhon ma i di toru ni podomanna.
Di tingki na mangalua i nasida, ingkon adong do pandongani sian si Doli dohot si Boru. Jala molo dung sahat nasida di huta ni si Doli, pintor dipaboa manang dipasahat tu sintua (pangula ni huria) na adong di huta i. Na somal najolo, gabe di jabu ni sintua i do si Boru maringanan saleleng so dipasu-pasu do pe nasida di gareja. Denggan ma tutu sisongoni laho pasidinghon angka nahurang denggan sian angka tutur.
Dijangkon (diterima) keluarga ni si Doli do antong si Boru i. Jala hombar tu si, dihatai ma angka rencana. Marpungu ma keluarga dohot dongan tubu, boru, dongan sahuta laho manghatai angka naporlu taringot tu namangalua i:

  • Andigan Martumpol
  • Andigan Pamasu-masuon

Tarbaen manang so tarbahen do adat na gok, manang holan ulaon nam;nuruk-nuruk dope. Ise ma napasahathon manang napaboahon hasil ni pangha-taion i tu parboru, lumobi paboahon naung dijangkon (diparaja) boru nasida i. Jala molo hira adong dope angka naporlu di persyaratan parhuriaon ni si boru laho tu pamasu-masuon, laos di tingki i ma i dipasahat tu xarboru asa dilengkapi nasida nia}.
Biasana na mangalua si songon i, ndang pintor sahat dope tu adat na gok, holan ulaon namanuruk-nuruk dope diulahon. I pe marguru tu tingki dohot keadaan do. Alai natangkas, molo dung dipasu-pasu sian huria (gareja), ruhut parsaripeon i nunga resmi jala sah nasida gabe keluarga suami-istri. Molo taringot adat-paradaton i boi do i muse mangihut.
Naporlu muse taida di ulaon namangalua, molo ro do natua-tua ni si boru manang wakil nasida tu gareja di tingki pamasu-masuon, jala dung sae sian gareja somalna pintor mulak do tu hutana. Bahenon ni paranak do songon ulaon partangiangan (dung sae pamasu-masuon i), jala diparade do di sS sipanganon namarsaudara. Marpungu do di si angka namardongan tubu, boru, bere, songon i dongan sahuta. Asa gabe songon namanjangkon parumaen na imbaru do i di paranak, laos patandahonsa tu angka tutur.
Ulaon partangiangan si songon i ndang ta6dok ulaon adat, alai songon dalan parpunguan ma i di angka tutur na naeng pasahathon angka poda, nasehat, dohot harapan tu kedua pengantin.
Naporlu botoonta muse, dung sidung –manang d} na mardalan dope– acara partangiangan i, pintor dipaingot haha-anggi ni paranak do, asa hatop ditaruhon jambar ihur-ihur sian tudu-tudu ni sipanganon tu parboru, songon tanda ma i naung dijangkon jala diparaja boru nasida.
Hira songon i ma rumang manang ruhut ni namangaluahon boru. Alai adong dope versi na asing na masa di tingki saonari on.

Sibagot ni Pohan

7

“HODONG DO PAHU, HOLI-HOLI SAKKALIA.
“HODO AHU, HITA NA MARSADA INA.
Hata na uli jala na tigor do hata ni umpama i, opat do tutu Sibagot ni Pohan saina, tubu ni Inanta Soripada Nantuan Dihutarea, Anak ni Tuan Sorimangaraja II, ima:

  1. Sibagot ni Pohan
  2. Sipaettua
  3. Silahisabungan
  4. Siraja Oloan

Dungi tolu tubu ni Inanta Soripada Borubasopaet, ima:

  1. Sumba II
  2. Toga Sobu
  3. Toga Pospos

Di laon laon ni ari dung mate sarimatua Tuan Sorimangaraja gabe Sibagot ni Pohan do muse junjungan ni harajaon, sitiop tampuk ni adat dohot tampuk ni uhum di tano Baligeraja singkat ni amana i. Jolma na bisuk do Sibagot ni Pohan, pangoloi jala parasiroha, alani bisukna do umbahen buhar borngin pinompar ni Boru Basopaet sian tano Baligeraja, ndang dohot porang manang bada, angkal do di bahen ibana asa sampak mudar ni nasida na sahuta i; dang dope di lele, nunga laho maringkati” buhar nasida ditinggalhon hutanai; “mulang bodari”

Hasurungan ni Sibagot ni Pohan sian donganna “panganju” ibana di angka anggina na tolu i, tung dipatunduk jala di patorutoru do rohana laho manganju nasida.

Sitiop tampuk ni adat, patik dohot uhum di harajaon i, ibana do mamantikhon Baringin Bius Godang di tano Baligeraja; “Bius Patane Bale Onan Balige, hasahatan ni solu, hasampean ni hole”. Digoari do di tonggo-tonggo tano Balige i songon on:

Tano Balige tano Baligeraja, tano marpidan-pidan, tano marpolin-polin.
Tano na sinolupan. tano binalean, tinombang ni Ompunta Tuan Sorimangaraja, Raja Ulu ni Ubi.
Raja tiang ni tano, raja na so olo matua, raja na so olo mate.
Asa tano Baligeraja do rapot pamuraion, jala portangisan ni na ro!”

Songon i ma goar ni tano Baligeraja i ditorsahon Ompunta Sibagot ni Pohan i, tangis do angka na ro marsolu sian bariba ni aek molo diborong alogo laut dohot alogo lubis, tangis do angka na ro sian dolok Humbang molo tarborong dibahen udan, ala ingkon mardalan nasida sian rahis-rahis dohot dalan na landit jala na sompit songon paronan ni Huta Ginjang rupani. Rapot pamuraion na nidokna so sundat disampak aek na mardalan solu; so sundat mamolus nambur, jala martitir hodokna paronan na ro sian Dolok manuati dohot manganakhohi dolok-dolok i, dihunti gadongna dohot bingkauna laho tu Onan Baligeraja, ditapol tugona diompa-ompa poso-posona. Hape atik pe songon i, ingkot rapot,ingkon runggu do tu Onan Baligeraja i; ala di Onan i do partingkian, mangalap dohot manaruhon angka ngolu-ngolu dohot janji-janji dohot angka na asing.

MAMANTIKHON BARINGIN BIUS GODANG

“Habang ma sitapi-tapi, songgop siruba-ruba

“Patik na so jadi mose, uhum na so jadi muba
Dung laho be angka anggi ni Sibagot ni Pohan na mardandi i manopot tano naung niriritan nasida hian:

  • Sipaetua laho dompak Laguboti
  • Silahisabungan dompak Silalahi Nabolak
  • Siraja Oloan dompak Pangururan boti tu Bakara

Di laon-laon ni ari, dijujur Sibagot ni Pohan ma ari laho mamantikkon Baringin Bius Godang di tano Baligeraja, asa di gurguri onan i na jadi Bius Godang di pinompar ni Sibagot ni Pohan manuan hau baringin, jabi-jabi dohot hariara. Asa gabe tuko na so sibutbuton gadu naso sisosaan ma angka hau sinuan na di Onan i, partanda ma i di paronan, harungguan dohot partungkoan di angka Raja Jungjungan, Raja Naopat, Raja Nauwalu, Raja Nasampuludua dohot angka Raja Parbaringin, Datu Bolon dohot Sibaso Bolon

Dungi di torsahon Sibagot ni Pohan ma torsa ni Harajaon Bius i, diatur ma sian anakna na opat i:

  1. Tuan Sihubil
  2. Tuan Somanimbil
  3. Tuan Dibangarna
  4. Raja Sonakmalela

dipasu-pasu ma asa gabe Pusaka Harajaon i manguluhon Bius Godang i “Bius Patane Onan Balige” Jala ditotaphon ma tu nasida be songon i sahat tu pinomparna

Songon on ma partonding ni harajaon na sinantikhon na i:

Bagian parjolo

  1. Harajaon Pande Nabolon, ima Tuan Sihubil sahat tu pinomparna
  2. Harajaon Pande Raja, ima Tuan Somanimbil sahat tu pinomparna
  3. Harajaon Pande Mulia, ima Tuan Dibangarna sahat tu pinomparna
  4. Harajaon Pande Namora, ima Raja Sonakmalela sahat tu pinomparna

Bagian paduahon

  1. Harajaon Saniangnaga, paidua ni Pande Nabolon
  2. Harajaon Parsinabul (Hinalang), paidua ni Pande Raja
  3. Harajaon Parsirambe (Patuatgaja),Paidua ni Pande Mulia
  4. Harajaon Mamburbulang (Parjuguk), paidua ni Pande Namora

Bagian patoluhon

  1. Harajaon Undotsolu (Raja Laut)
  2. Harajaon Panguluraja (Ulu Porang)
  3. Harajaon Pande Aek (Parhauma)-Pnagulaon
  4. Harajaon Panguludalu (Parpinahanon)

Asa songon i ma partording ni Harajaon di Bius Godang, Bona Pasogit di pinompar ni Ompunta Tuan Sorimangaraja, di tano Baligeraja tinombangna i jala anak sihahaan ma ibana sian ompunta Tuan Sorbanibanua.

  • Asa na opat parjolo i ma junjungan ni Bius i, di adat Hadewataon Adat Batak (Ugamo Batak)
  • Na dibagian paduahon i ma di Horja dohot Luat gabe Raja Naualu
  • Na di bagian patoluhon i ma pangatur, sijaga pintu julu dohot pintu jae

“Bagot na madungdung ma tu pilo-pilo marajar
Asa tinggal ma nalungun sai ro ma na jagar”

Dung buhar tubu ni Boru Basopaet, sian Lumban Gala-gala, Lobu parserahan i, tarsubut ma ingkon mangan horbo sakti tubu ni Nai Tukaon, asa tambakhonon nasida Siraja Hutalima anggi nasida naung mate i.

dung rumbuk tahu nasida Sibagot ni Pohan dohot anggina na tolu i: Sipaetua, Silahisabungan dohot Siraja Oloan, disuru ma anggina na tolu i mamulung tu harangan, Sipaetua ma sibuat hotang harihir ni horbo, Silahisabungan sibuat haundolok borotan ni horbo i, Siraja Oloan ma sibuat hauanak dohot sijagoran jungjung buhit ni borotan i (ranting ni hau slom, baringin, sanggar, ompu-ompu dohot angka na asing)

Dung i laho ma nasida, dihondor ma solu dalan nasida, alai hasit do roha nasida mida hahana Sibagot ni Pohan i, ala nasida disuru adong do naposo siparbagaon. Borhat ma nasida Sipaetua pangabarasi di jolo, Silahisabungan pamoltok ditonga-tonga si Raja Oloan ma pangamudi di pudi. Sahat ma nasida tu harangan Pealeok diririti nasida ma jolo harangan i sukup do adong disi sipulungon nasida i.

Dungi laho ma nasida jumolo tu tano Laguboti manghakapi tano i di ida nasida ma denggan tano i bahen parhaumaan, sukup aek jala hornop. On ma muse diahu puang ninna Sipaetua.

Dungi laho muse nasida marsolu dompak mangori-ngori dolok dohot tor sahat ma nasida tu Silalahi mamolus tao na bolak i, diida nasida ma tano i denggan boi parhaumaan dohot taoi gabe pandaraman. Jadi didok Silahisabungan ma: On ma di ahu ninna.

Sian i muse, malluga ma nasida mangori-ngori dolok dohot tor, dibolus nasida ma tano ponggol na di Pangururan (panoguan do goar ni tano ponggol i). Dungi muse sahat ma nasida tu Bakkara, dung di ida nasida denggan tano i, bahen parhaumaan didok Siraja Oloan ma: On ma diahu ninna.

Dungi mulak ma nasida muse tu Paselok hasahatan parjolo i, dionggopi nasida ma, manang na pasauton ni haha nasida i do Saktirea i nang so disi nasida. Jala molo dipasaut ima bonsir parsirangan bahenon nasida dompak hahana i. Dung sai dibilangi nasida ari sian parborhat nasida i, sahat tu parmulakna i marpingkir ma nasida naung dipasaut hahani Saktirea i.

Ianggo Sibagot ni Pohan dung sai dipaima-ima ndang marnaro angka anggina i, marsak do rohana aik beha na adong mara nasida di harangan i, dung saep ndang ro be sahat tu ari na tiniti, bulan na pinillit, jala nunga huhut mandasdas amanta Datu dohot Inanta Boru Sibaso, dihudus ma angka naposo mamulung dohot mambuat borotan sian angka huta di bagasan horja i (on ma na nidokna nunga tare parasoman)

Dung rade sude, dibona ma gondang i, dipasaut Sibagot ni Pohan ma ulaon Saktirea i. Aturan pitu ari hian lelengna, gabe tolu ari nama dibahen Sibagot ni Pohan, ala nunga sai hambirang rohana di langka ni angka anggina i.

Ia dung dibege angka anggina i lengesna naung salpu Horja Saktirea i, roma anggina na tolu i mamboan pulung-pulungan nialap nasida i, tar manimbas be ma dompak jolo ni Sibagot ni Pohan mandok: “Ia i ba! Na so uhum na so adat do binahenmi dompak hami, burju rohanami mangoloi hatam mangalap pulung-pulungan, hape tung mamulik do roham di hami, asa holan ho manortori gondang Saktirea i

Dung muruk jala piri-pirion ma nasida, morpasa-pasa ma nasida tu Sibagot ni Pohan didok ma: “molo tung na hombar ma habinahenmi tu hami diruhut ni paranggion dipulik ho hami. asa ho mangkasuhurhon Sakti i, ba horas ho, horas nang hami! Alai anggo na magalaosi do ho, di adat ni Opunta dohot Amanta, ba tung ho ma na sari disi haha-doli, ninna”.

Dungi dialusi Sibagot ni Pohan ma: “Beasa pola marpasa-pasa hamu na tolu dompak ahu na rap suhut do hita, hamu do na malelenghu dang marnaro, gariada huraksahon do hamu, hurimpu na adong maramu di parlaho mui, ai ndang patut songon i lelengna, ulaon sadari do gabe saminggu lelengna hamu, dungi muse nunga dapot titi ni ari, nunga tare parasoman, nunga manghudus Datu dohot Sibaso, ingkon mamona na di gondang i ba ido umbahen pinasaut” Alai hudok pe songon i manganju ma ahu di hamu: “Pauk-pauk hudali ma, pago-pago tarugit, na tading niulahan, na sega pinauli”. na boi ulahan do na tading, na boi paulion do na sega. Ba dos rohanta mangan horbo sakti sahalinari horbonta do horbo, doalta do doal, palampot hamu be ma ate-atemu dohot rohamu, ninna Sibagot ni Pohan mandong anggina na tolu i.

Dungi di oloi angka anggina i ma pardengganan i, asa diulakhon muse margondang mangaliat horbo. Alai andorang so dititi nasida dope ari, direngget nasida ma jolo taringot tu parjambaran, manang songon dia parpeakna. Didok nasida ma: “Sipaetuama ihur-ihur, Silahisabungan ma sijalo hulang-hulang, Siraja Oloan ma pura-pura”

Dung dibege Sibagot ni Pohan i pandok nasida taringot tu jambar-jambar i, didok ma: “Ianggo parjamabaron songon na pinangidomu i, ndang tingkos i. Angat dohot na so adat do i, ai jambar suhut do i sude sibahenon tu raga-raga (pangumbari) di panganon horbo sakti, mangihuthon adat ni Amanta”, ninna. (Diboto nasida do Sibagot ni Pohan Raja Jolo hundul di rumabolon jabu bona, ingananni raga-raga parsibasoan i, singkat ni ama. Alai lupa do nasida “ndang na matean ama nasida ianggo adong do hahana).

Dung i di dok nasida na tolu ma tu Sibagot ni Pohan: “ianggo songon i do dohononmu ba di ho do hape jambar i sude, alani i ndang olo be hami domu dohot mangoloi hatam tumagon ma hami sirang laho sian on, asa haru bulus roham. Asa tung timus ni api nami pe dompak ho, ingkon intopan nami, gaol nami pe molo dompak ho sombana i (santungna) ingkon tampulon nami. Asa gabe i ma gabem, ndang na ro di ho be hami. Jala muse tung na so jadi songon horjami bahenon nami horjanami”

Songon i ma dalan parsirangan ni Sipaetua, Silahisabungan dohot Siraja Oloan sian hahana Sibagot ni Pohan

“MARTUMBA MA AILI, MARJOJING BABI DALU”
SADA MANDOK TIAS, DUA MANDOK MALU”

Dung so dapot be pardengganan taringot tu porjambaron i, songon pinagidoan nasida sada mandok tias, dua mandok malu, saut ma marruntus ma nasida maninggalhon Sibagot ni Pohan, martiptip marolangolang ma nasida tung timus ni apina ingkon intopanna dohot santung ni gaolna ingkon tampulonna molo dompak Sibagot ni Pohan.

Jadi dung laho nasida, martutup jala marbula ma muse nasida mandok: “Tung na so jadi oloan manang pardomuhonon nasida be Sibagot ni Pohan manang tu ro pe mangelek-elek nasida” Jla molo tung ro pe manopot hita sada-sada lehet do alusan di hata, alai masigilingan ma hita mandok songon on: “Aha ma ianggo ahu, sian si Anu ma elek” songon-songon i ma dohonon ni nasada dohot na sadanari, masigilingan ma hata nasida asa jut rohana jala loja ibana sonon i ma hata parbulanan nasida,

Dung sae nasida na marbulan i laho ma Sipaettua mangihuthon padan nasida dompak Laguboti tu tano naniriritna tinodona i. Laho Silahisabungan dompak Silalahi Nabolak tu tano naung tinodo na i. Songon i Siraja Oloanlaho ma dompak Bakkara tu tano naung ni idana i.

Di si ma di bahen nasida be ma asa asing-asing adatna di Horja mangaliat horbo sian na binahen ni Sibagot ni Pohan. Alai anggo Siraja Oloan, diuba dohot di ose do muse padan dohot bulanna i, ai gabe dos do pangulahonna dohot Sibagot ni Pohan di horja mangaliat horbo i. Ala tarsunggul do tu rohana hatigoran dohot hasintongan di an niidana dohot na binotona taringot tu sakti rea binahen ni amana Tuan Sorimangaraja II. Di ida do raga-raga gantung di rumabolon marsi guri-guri sijonggi, piso surik dohot daung simaligas dohot daung napandang, jonok tu pangumbari pamelean di jabu, molo pamelean di alaman manang di balian, ima langgatan si tolu suhi-suhi si tolu goli-goli.

“TINAMPUL BULUNG SIHUPI, PINARSAONG BULUNG SIHALA,
UNANG TARSOLSOL DI PUDI, NDADA SIPAINGOT SOADA”

Dilaon-laon ni ari disada tingki masa do logo ni ari sinanggar-nanggar di tano Baligeraja, marsik do gulu-guluan dohot mual, rahar sua-suanan mosok dohot duhut-duhut dibahen logo ni ari i, jadi nunga tung hasit dapot ngolu ni halak dohot pinahan maesa do roha mahiang daging melos bohi sai holan na mangholsoi, marangkup do muse sahit butuha dohot ngenge nabirong tu jolma dohot pinahan godang do na mate ala ni sahit-sahit i.

Ala ni i di jou Sibagot ni Pohan ma Datu dohot Sibaso partondung na utusan, poralamat pandang torus asa diilik ditondung parmanukon siaji nangkapiring, aha do alana umbahen pola masa songon i. Dung disungkun Datu dohot Sibaso marhite tandung i, tarida ma di jaha-jaha ni tondung parmanukon i songon on: Ingkon marsahata, mardenggan do Sibagot ni Pohan dohot anggina na tolu i, topoton na, elekonna, taguonna molo na mardandi, apulonna molo na tangis. Ai adat Raja do “Sitogu na mardandi dohot siapul na tangis”

Alai nunga matuabulung Sibagot ni Pohan, anak na Tuan Sihubil ma disuru wakilna manopot dohot mangelek-elek angka anggina na tolu i, asa mardenggan nasida, marsiamin-aminan songon lampak ni gaol, marsitungkol-tungkolan songon suhat di robean asa mardame nasida marindahan sinaor, jala borothonon ni Sibagot ni Pohan ma sada horbo ambangan nasida asa ro udan paremean sipagabe na niula.

Dungi laho ma Tuan Sihubil dihondor ma solu bolon huhut mardoal-doal. Jumolo ma ibana sian Laguboti manopot Sipaettua, dungi tu Bakkara manopot Siraja Oloan, sian i muse tu Silalahi monopot Silahisabungan. Alai sai masigilingan hata ma nasida na tolu marningot padan dohot parbulanan nasida. Gabe ndang adong hata na hantus mangolohon nanggo sada sian nasida na tolu. Gabe marsak ma rohani Tuan Sihubil, alai di namulak nasida sian Silalahi, mamolus ma nasida sian Tolping dung dibege isi ni Tolping i suara ni doal i sahat tu pasir nasida rongom ma ro jolma sian huta dohot angka dakdanak na marmahan disi toho muse adong angka ina marsigira di topi pasir i. Dung disungkun ise adong tubu ni Silahisabungan di napungu i pintor di tangkup nasida ma Sigiro gl Raja Parmahan, ima anank ni Pintubatu sian Tolping pahompu ni Silahisabungan ma i sian anak hajut , ima di usung nasida daon impol sian pardalanan nasida i.

Dung i borhat ma nasida muse sian i mangulahi ma muse nasida laho dompak Bakkara mangelek-elek Siraja Oloan. Leleng do jolo sai dijuai marningot padanna dohot Sipaettua dohot Silahisabungan. Alai dung sai dipingkiri ibana taringot tu hasusaan ala ni leleng ni logo ni ari i dohot sahit-sahit na pamate jolma dohot pinahan di tano Bona Pasogit i, mulak ma rohana mangoloi elek-elekna i mardomu muse nunga pola diida Siraja Oloan diboan nasida pahompu ni Silahisabungan hira songon singkat ni langkana.

Ala nunga diloloi Siraja Oloan elek-elek nasida i, dilehon nasida ma tu Siraja Oloan sada ulos Suri-suri Ganjang, dungi rap bothat ma nasida tu tano Baligeraja. Asa gabe adat do muse silehon ulos hahana tu anggina jala mardongan parbue bota-bota. Sahat dope binoto muse sono i di Harajaon Singamangaraja, molo ditopot angka Raja Porbaringin Raja i tu Bakkara, ulos suri-suri ganjang do dilehon dohot parbue bota-bota, songon hamauliateon ni roha marningot adat na sian sijolo-jolo tubui.

Andorang so sahat dope solu nasida tu topi pasir Balige, nunga masibegean soara ni doal sian tao dohot soara ni doal na manomu-nomu di pasir. Manortor ma Raja Solu Tuan Sihubil di ulu ni solu i, mallutuk mardorop ma soara ni hole, dipahusor-husor ma jolo solu i tolu hali dompak tao, ipe asa sipasahat tu pasir. Martopap ma jolma i sude marhoras-horas, diiringhon doal na dua bangunan i Siraja Oloan dohot Siraja Pormahan margondang dalan sahat tu huta.

Dung pajumpang dohot Sibagot ni Pohan nasida na ro i, masitabian masipasauran dama ma nasida huhut tangis be ala ni sihol nasida. Diummai ma dohot Siraja Pormahan, dipabolak ma amak hundulan di jolo ni rumabolon i hundul be ma manangihon barita ni pardalanan ni Tuan Sihubl dohot pardapot ni Siraja Pormahan dohot pangoloi ni Siraja Oloan.

Marsogot na i diborothon nasida ma horbo ambangan i, ditortori Siraja Oloan dohot Siraja Pormahan ma jolo laho mangaliat horbo i, saiu marria-ria marolop-olop jala marhoras-horas ma nasida saluhutna ama dohot ina, dung sae tortor liatan i martonggo ma Sibagot ni Pohan paboahon naung marsahata nasida marsidengganan maruli ni roha. molo tung adong na sintak maebur songon parabit ni na so ra malo, na tu jolo tu pudi songon pamgambe ni paronan, asa gundur pangalumi, ansimu pangalamboki, di na hurang di na lobi asa di lambok-lamboki Mulajadi Nabolon, Dewata Natolu dohot Sahala ni Ompu dohot Ama.

Dung i amanta Datu dohot Boru Sibaso ma muse martonggo manggoki gondang i, pintor mardobor-dobor ma langit paboa udan. Ro ma udan mansai gogo situtu. “Mago do logo ni ari tolu taon onom bulan dibahen udan sadari” pintor rata ma duhut-duhut. Siraja Oloan pe di pataru ma muse mulak tu Bakkara.

Sumber: Pusata Tumbaga Holing