Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba, Resensi Buku

* Pengarang Prof. DR. Bugaran Antonius Simanjuntak
* Edisi Ketiga, diterbitkan Yayasan Obor Indonesia (YOI), revisi terhadap edisi satu dan dua.

Awalnya buku ini adalah disertasi Bungaran Antonius Simanjuntak yang merupakan karya akhir mencapai gelar Doktor di Universitas Gajah Mada Mada Yogjakarta tahun 1995, dengan Kata Pengantar dari Prof. Soedjito Sosrodihardjo, SH, MA yang juga salah seorang pembimbing penulis.

Continue reading “Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba, Resensi Buku”

Demokrasi Batak Toba, Kepemimpinan dan Perilaku Hubungan Sosial

PROF.DR.BUNGARAN ANTONIUS SIMANJUNTAK

Pengantar

Ketiga unsur yang akan dibicarakan dalam paparan ini merupakan satu kesatuan yang saling mengisi dan mendukung secara fungsional. Artinya ketika membicarakan Demokrasi, maka turut dibicarakan aktor yang terlibat di dalamnya dan bagaimana perilaku hubungan sosial para aktor demokrasi itu. Pembicaraan menjadi simultan, walau dalam pelaksanaannya sepertinya dilakukan segmentasi diskusi. Itu hanya untuk mempermudah saja, dan essensinya untuk membuktikan bahwa ketiganya saling menjelaskan secara fungsional. Struktur urutan pembicaraan ini dimulai dengan Kepemimpinan, kemudian Demokrasi lalu perilaku hubungan sosial hanya untuk mempermudah dan memperdalam pembahasan.

Basis pembicaraan ini ialah kehidupan orang Batak Toba yang asli sebelum penetrasi kebudayaan Barat atau masa kolonial. Kemudian dilanjutkan sepintas dengan kehidupan orang Batak Toba yang sekarang yang diwarnai perubahan dan kemajuan. Untuk yang kedua ini, diperlukan penelitian lanjutan untuk melihat dan menjawab masalah bagaimana demokrasi orang Batak Toba dewasa ini? Bagaimana bentuk kepemimpinan dan hubungan sosial (perilaku) di kalangan orang Batak Toba terutama di daerah perantauan yang multikultural dan multietnik.

Kepemimpinan

Secara umum orang Batak Toba menyebut dirinya keturunan raja (anak ni raja). Karena itu mereka semua adalah raja. Namun yang dimaksud adalah raja dalam arti kehormatan. Memang dikenal juga raja yang dikaitkan dengan jabatan, walaupun setelah tidak memegang jabatan struktural itu, yang bersangkutan tetap dipanggil raja namun sudah dalam arti yang umum. Orang Batak Toba mengenal jenis kepemimpinan sbb:

1.Raja Huta, yakni pemimpin tertinggi di dalam satu huta[1] atau kampung pemukiman. Secara tradisi biasanya pendiri kampung dipilih rakyatnya menjadi raja huta.[2] Kemudian ditentukan siapa yang menjadi raja pandua atau raja kedua (wakil raja).

2.Raja Horja, yaitu raja yang memimpin beberapa huta (kampung) yang bergabung menjadi satu horja. Raja dipilih dari para raja huta yang bergabung dalam federasi horja[3]. Demikian juga wakilnya. De Boer menyebutkan bahwa raja horja adalah kesatuan kolektif pemimpin horja yang bernama raja parjolo, raja partahi dan raja pandapotan.[4]

3.Raja Bius, yaitu raja yang memimpin upacara di dalam satu persekutuan bius.[5] Raja bius dipilih dari setiap kumpulan horja. Dinamakan juga Raja Pandapotan dipilih dalam satu rapat warga. Dia berkemampuan memimpin dan menyelenggarakan upacara keagamaan bersama raja parbaringin. Bila dia menyelenggarakan pesta bius, maka raja-raja pandapotan yang lain diundang untuk berparsipasi[6].

4.Raja Parbaringin yaitu terdiri dari empat orang yang dipilih anggota masyarakat dari tiap-tiap bius marga dalam satu rapat khusus.[7] Raja-raja ini merupakan pemimpin-pemimpin upacara kepercayaan keagamaan.

5.Raja Maropat (Toba), adalah para pemimpin yang secara struktural dibentuk oleh Raja Sisingamangaraja XII, sebagai orang yang sangat dipercayainya dalam segala hal. Terutama saat perlawanannya kepada Belanda pada tahun 1878 – 1907 di setiap wilayah pertempuran. Di Toba disebut Raja Maropat. Di tanah Simalungun desebut Raja Merempat yakni Raja kerajaan Tanah Jawa, Raja Dolok Silau, Raja Pane, dan Raja Siantar. Di tanah Karo dinamakan Raja Siempat yakni Raja Lingga, Raja Barus Jahe, Raja Sarinemba dan Raja Suka.[8] Raja Maropat, sering juga dinamakan Paung Na Opat (Payung Nan Empat) karena mereka selalu memakai payung. Mereka berfungsi mewakili Raja Sisingamangaraja dalam pesta bius untuk minta hujan, melawan penyakit kolera atau cacar, maupun pesta taon atau mamele taon yang diselenggarakan sekali setahun saat panen perdana[9]

Setiap raja huta, raja horja dan raja bius, mempunyai hak otonom sendiri[10]. Campurtangan masing-masing wilayah secara langsung tidak ada. Bahkan Raja Sisingamangaraja XII tidak mencampuri urusan tanah masing-masing huta pemukiman atau horja maupun bius. Hak golat atau wulayat masing-masing marga dan wilayah-wilayah pemukiman tersebut di hormati oleh Sisingamangaraja. Oleh karena itu menurut para peneliti, faham feodalisme tidak tumbuh di tanah Batak.[11] Sementara itu raja parbaringin adalah pemimpin dalam ritus kepercayaan dan keagamaan pada setiap bius dan merupakan tangan kanan raja bius.

Raja Sisingamangaraja XII adalah raja yang diakui dan disegani seluruh rakyat Batak. Dia merupakan raja kerohanian tetapi juga raja sekuler keduniawian[12]. Karena itu dia berada pada peringkat tertinggi dari tingkat kepemimpinan Batak Toba termasuk subetnik Batak yang lain (Batak Timur/Simalungun, Pardembanan, Asahan, Karo dan Dairi. Bahkan hingga ke Singkil).

Pemimpin fungsional dan keragaman penamaan

Terdapat juga pemimpin yang berdasar kepada fungsi sosialnya (juga sering berkaitan dengan fungsi struktural). Misalnya karena fungsi sosial yang bernilai adat, disebut sekumpulan orang-orangtua dinamakan pangitua-pangitua[13]. Sitor menyebutkan bahwa kelompok pemimpin ini adalah tempat konsultasi raja huta. Namun menurut kami juga tempat bertanya orang-orang muda, terutama dalam persoalan kehidupan sehari-hari, atau masalah adat. Beberapa nama jenis pemimpin kelompok demikian ialah pangituai, tunggane huta, disebut juga panungganei yaitu semua kaum laki-laki yang sudah tunggane artinya sudah berumah tangga dan sudah mandiri (manjae)[14] dalam satu-satu huta.

Demikian juga oleh masyarakat, pemimpin bius dinamakan juga raja doli selain raja bius. Sementara secara politik pemerintahan pemimpin bius itu dinamakan juga raja parjolo (raja yang didahulukan atau utama). Syarat kepemimpinan yang harus dimiliki ialah sahala harajaon (yaitu kharisma untuk menjadi pemimpin)[15] yang dipercaya ada hubungannya dengan tondi (roh/jiwa). Bisuk Siahaan dalam bukunya menyebut pemimpin demikian adalah raja Junjungan.[16]

Upacara-upacara adat selalu dipimpin oleh orang yang dihunjuk secara demokratis oleh masing-masing pihak (hasuhuton) yang terlibat adat. Penghunjukan pemimpin upacara adat yang dinamakan juga raja parhata atau raja parsinabul (parsinabung), dengan menanyakan semua keturunan nenek moyang (marompu-ompu) secara berurutan menurut senioritas dalam silsilah keturunan. Proses pemilihan pemimpin upacara pada adat kematian, perkawinan dan yang lain adalah sama.

Tampaknya penamaan pemimpin di kalangan orang Batak Toba cenderung beragam. Hal ini bisa terjadi karena pemerintahan adat Batak Toba tidak sentralistis, tetapi otonomitis,[17] atau desentralistis. Masing-masing wilayah punya kebiasaan penamaan kepemimpinan sendiri, sesuai dengan latar historis mereka masing-masing[18]. Bahkan tampaknya pada setiap jenis kegiatan ditentukan para pemimpinnya dengan nama sendiri yang dihubungkan dengan fungsinya. Misalnya ketika akan membahas pendirian satu perkampungan baru, maka akan hadir dalam rapat atau tonggo raja (sering juga dinamakan marria raja) yang diadakan khusus untuk tujuan itu, raja parjolo, raja patahi, raja huta dan raja namora. Mereka adalah pemimpin-pemimpin yang mendiskusikan pembangunan perkampungan baru itu secara musyawarah untuk bermufakat. Setiap hadirin berhak bicara (demokrasi) sesuai dengan jenjangnya. Bila tidak tercapai permufakatan, maka gagasan mendirikan kampung baru itu harus ditunda.[19] Atau bila yang berencana kurang merasa puas, mereka akan mengulangi permohonannya pada kesempatan lain, atau membawanya ke tingkat horja untuk dipertimbangkan.

Biasanya banyak faktor yang menyebabkan orang ingin mempunyai perkampungan sendiri. Beberapa sebab misalnya karena perkampungan lama sudah sempit karena pertambahan penduduk. Atau telah terjadi bala penyakit, terjadi konflik di antara mereka yang bersaudara. Juga karena adanya keinginan atau ambisi untuk menjadi raja, agar kehormatannya semakin tinggi, terutama keluarga nenek moyang mereka.

Pemimpin dewasa ini

Sesudah kemerdekaan hingga dewasa ini telah terjadi banyak perubahan di kalangan masyarakat Batak Toba (termasuk subetnik Batak yang lain). Hal ini berhubungan dengan tingkat kemajuan pendidikan, jangkauan mobilitas dan migrasi, jenis pekerjaan atau profesi. Jabatan-jabatan modern yang ditawarkan sering dapat diraih oleh orang Batak Toba.

Untuk menyebut beberapa nama dalam agama (Kristen, Islam) misalnya tuan Pandita, Voorganger/Guru Huria, Sintua, Kerkbestuur, Haji, Ustadz, Guru, Ulama dll. Dalam pemerintahan misalnya tuan asisten residen, tuan Camat, lurah, administratur, manager dsbnya sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Di dunia pendidikan misalnya, pak guru, kepala sekolah, ketua/sekretaris jurusan, ketua program studi, dekan, rektor dst.

Jabatan-jabatan tsb memberikan kesempatan kepada mereka untuk memimpin dan menjadi pemimpin. Bahkan orang Batak Toba, sampai bertikai sesama mereka pada awal abad ke XX setelah gugurnya Raja Sisingamangaraja XII hanya untuk memperebutkan jabatan dan kepemimpinan.[20] Sementara itu sesudah menjadi penganut Kristen, orang Batak Toba yang tergabung dalam berbagai denominasi gereja, telah bertikai juga karena memperebutkan jabatan atau untuk mempertahankan kehormatan. Bahkan pertikaian dalam salah satu gereja besar Batak, telah dicampuri oleh pemerintah dan militer, sehingga menimbulkan korban tewas dan luka-luka. Perpecahan gereja pun terjadi.[21]

Demokrasi Batak Toba

Berdasarkan fakta yang diajukan di atas, bahwa pemberian hak bersuara, berbicara, mengeluarkan pendapat adalah asli hak setiap orang Batak Toba. Bahwa setiap rencana kerja atau gagasan (seperti mendirikan perkampungan baru) selalu di bicarakan bersama, antara mereka yang bersaudara dihadiri oleh beberapa pemimpin huta induk yaitu rajaparjolo, raja partahi, raja huta dan raja namora boru, tunggane huta induk serta para ibu-ibu. Lembaga adat demokrasi ini dinamakan juga tonggo raja. Penggagas yang merupakan pemimpin pendirian huta baru tsb menyampaikan maksudnya setelah terlebih dahulu mereka makan bersama dengan menyembelih seekor hewan, sering ternak babi. Pemimpin huta yang bertetangga, yang dulunya juga pecahan dari huta induk turut hadir, karena mereka itu juga anggota keluarga satu nenek moyang. Pada acara tonggo raja itulah semua rencana dibeberkan dan diminta persetujuan para raja dan hadirin.

Demikian juga bila ada rencana mengawinkan anak, laki-laki atau perempuan, terlebih dahulu keluarga dekat berkumpul kemudian tuan rumah atau suhut menyampaikan rencana perkawinan tersebut. Dia memberitahukan waktu, calon istri atau suami anaknya, tempat calon besan (calon hula-hula atau parboruon). Semua hal yang menyangkut hak dan kewajiban semua anggota keluarga dekat itu dibicarakan secara terbuka. Kemudian setelah ada kesepakatan maka ditunjuk beberapa boru untuk mewakili suhut berhubungan dengan calon besan (biasanya golongan boru mereka). Demikian demokrasi adat tahap pertama. Adat demokrasi itu dilanjutkan pula kepada kelompok hula-hula, tulang, bona tulang dst.

Lembaga demokrasi tonggo raja atau ria-raja

Langkah pertama proses adat demokrasi Batak Toba yang berwujud musyawarah dinamakan tonggo raja. Artinya mengundang para pemimpin suhu-suhu samarga (bila di desa atau huta atau horja) atau mengundang para tokoh marga yang sering dinamakan raja natua-tua (raja, orang-orang tua terutama di perkotaan) atau raja parsahutaon. Arti sebenarnya ialah mengundang para pemimpin komunitas marga dan huta (STM,SMP[22]) untuk diminta pendapat, nasihat dan arahan pelaksanaan sesuatu upacara adat. Pada akhir-akhir ini, tonggo raja sering diganti dengan istilah marria-raja. Artinya para pemimpin, tokoh adat, marga, dll, diundang pada hari tertentu[23] untuk melakukan musyawarah dalam kaitan pelaksanaan adat tertentu. Misalnya adat kematian, terutama tingkat sari matua dan saur matua[24].

Lembaga demokrasi: marsirenggetan pada acara marhata perkawinan

Pada acara perkawinan, setelah acara adat makan bersama selesai dilaksanakan, maka langkah adat berikutnya ialah mamungka parhataan (memulai pembicaraan). Masing-masing suhut (yang berhajat/berpesta) melakukan acara marsirenggetan. Artinya mereka yang mardongan tubu saling bermusyawarah untuk menentukan siapa raja parhata atau raja parsinabul/parsinabung dari antara mereka yang semarga. Setelah ada kesepakatan maka orang yang mereka tunjuk bersama itu, akan memimpin proses adat sejak mulai adat marhata sampai pada ritus-ritus adat terakhir. Kedua belah pihak melaksanakan seluruh upacara adat sesuai dengan isi musyawarah yang telah mereka sepakati pada saat marria raja antara kedua belah pihak.[25]

Lambang demokrasi Batak: parjambaran dan tumpak

1.Jambar juhut:

Parjambaran yaitu sesuatu benda atau hak atau kesempatan yang diberikan oleh suhut (yang berhajat) kepada seseorang atau sekelompok komunitas tertentu dan yang diterima atau dilaksanakan dengan senang hati serta penuh rasa kehormatan. Benda sebagai lambang demokrasi berupa parjambaran itu dapat berbentuk potongan daging hewan (babi, sapi, kambing, kerbau) yang diberikan sesuai status sosial adatnya menurut peringkat atau jenjang silsilah dalam struktur sosial Dalihan Na Tolu yang di dasarkan kepada marga.[26]

Setiap hadirin akan memperoleh jambar, sesuai statusnya apakah kelompok penerima istri (boru, bere), kelompok pemberi istri (hula-hula, tulang, bona ni ari), atau dongan sabutuha (saudara semarga, atau pariban). Lambang status berupa jambar daging hewan itu merupakan lambang pengenangan suhut pemberi dan si jalo jambar (mereka yang menerima) terhadap nenek moyang orang yang menerima jambar tesebut. Jadi jambar dapat dikatakan merupakan simbol pengakuan dan pengenangan abadi terhadap nama nenek moyang yang dipanggilkan (digorahon) saat memberi jambar juhut.

2.Jambar hata

Sejak awal rencana pesta adat yang sifatnya demokratis itu, setiap orang sebagai anggota kerabat dekat telah dilibatkan membicarakan rencana pagelaran ritus adat tersebut. Dalam pertemuan tingkat kerabat inti, sampai kerabat luas semua anggota diminta memberikan pendapat, saran dan usul-usul. Hingga rencana pesta adat dibawa ke sidang yang lebih luas misalnya dongan tubu (saudara semarga), dongan sahuta (komunitas desa tempat tinggal, misalnya di kota), sampai kepada hari “H” pelaksanaan pesta adat[27].

Jambar hata adalah pemberian kesempatan berbicara dari suhut yang disampaikan oleh raja parhata/parsinabul kepada setiap orang sesuai dengan kedudukan adat yang dimilikinya[28]. Pembicara dari masing-masing garis keturunan sudah direncanakan terlebih dahulu di dalam musyawarah keluarga dekat[29]. Bila jambar hata diberikan kepada wakil haha anggi satu nenekmoyang, maka kesempatan itu bernilai penghormatan kepada nenek moyang orang yang mewakili keturunannya. Essensi kulturalnya ialah bahwa keluarga suhut tetap mengingat dan menghormati nenek moyang saudara semarga tersebut. Karena itu keturunan yang diingat itu merasa dihargai dan dihormati[30]. Bahkan dapat dikatakan secara ilmiah bahwa setiap pagelaran adat Batak Toba, adalah merupakan reuni commemorative keturunan para nenek moyang yang bersaudara. Keturunan semua para hula-hula mereka yang berpesta sampai kepada hula-hula tertinggi yakni bona ni ari dan keturunan para boru dengan mertua[31]-nya. Yang tidak tergolong dalam commemorative reunion itu hanya ale-ale (teman, sahabat) yang baru dikenal suhut. Pesta tersebut merupakan ajang kegembiraan emosional dan arena bertemunya seluruh keturunan saudara semarga dan seluruh keturunan hula-hula dan boru.[32] Saya menganggap bahwa pesta adat demokratis Batak Toba adalah essensi kultural yang membangun solidaritas dan potensi-potensi sosial ekonomis bahkan politik dan religi.

3.Jambar tortor

Jambar tortor juga sejenis kesempatan yang diberikan hasuhuton kepada kerabatnya, kelompok hula-hula dan boru. Untuk menghormati tamu kelompok sihal-sihal sering juga diberi jambar tortor. Biasanya pada upacara kematian tingkat sari matua dan saur matua, maka orang-orang akan manortor sebagai penghormatan kepada si mati. Otomatis juga penghormatan kepada keturunannya. Di desa-desa kelompok-kelompok keturunan satu marga, kelompok-kelompok hula serta kelompok boru akan meminta waktu manortori atau mangodasi[33] si mendiang[34]. Dewasa ini di perantauan pun sudah dilakukan acara memberi jambar tortor kepada kelompok-kelompok marga atau dalihan na tolu yang lain. Serta kelompok sihal-sihal (ale-ale dan teman sekerja atau teman sebaya mendiang), anggota parsahutaon, pemerintah setempat dan lain-lain.

Sama dengan jambar juhut dan jambar hata, bahwa fungsi tortor secara emosional kultural juga pengenangan kepada almarhum saat hidupnya. Dengan diberikannya kesempatan kepada hula-hula untuk manortor, itu berarti keturunan mendiang masih akan dan tetap menerima “pasu-pasu” (berkat dan restu) dari hula-hula dan keturunan hula-hula di tingkatan atas[35].

4.Jambar sihumisik

Jambar sihumisik yaitu jambar yang diberikan berupa uang. Paling banyak jenis parjambaran ini ditemukan saat pesta adat perkawinan. Yaitu uang yang diterima suhut parboru (orangtua pengantin perempuan) dinamakan sinamot (mahar, atau mas kawin). Sering juga dewasa ini dinamakan jambar tonunan sadari. Bahkan bila boru menerima ulos dengan nama ulos tonunan sadari itu artinya ulos uang[36]. Artinya uang sebagai pengganti ulos herbang (kain ulos).

Dalam adat perkawinan lebih sering disebut upa. Misalnya yang amat berhak menerima upa itu ialah kelompok adat suhi ni ampang na opat.[37] Setiap kelompok berhak menerima sebagian mas kawin si gadis yaitu tulang (ni na muli), si jalo bara, anak manjae dan pariban. Pada jaman dahulu ada ketetapan berapa besar setiap upa itu yakni antara 5% – 10% dari total maskawin. Penetapan ditentukan pada musywarah suhut dengan suhi ni ampang na opat[38]. Tetapi sekarang ini sudah ditinggalkan orang.[39]

Tumpak

Tumpak merupakan lambang gotong royong orang Batak Toba. Di alam adat demokrasi Batak Toba, saling bantu membantu dan tolong menolong adalah essensi kebudayaan mereka. Bahkan terdapat ungkapan perumpamaan yang selalu diucapkan mereka berbunyi “masi amin-aminan songon lampak ni gaol, masi tungkoltungkolan songon suhat di robean” Artinya saling membantu seperti kulit pohon pisang dan saling menopang seperti talas di punggung bukit.

Aplikasi sikap gotong royong, tolong menolong itu, diwujudkan ketika dalam musyawarah demokratis tonggo raja atau marria raja, kelompok struktur sosial Dalihan Na Tolu dan paopat sihal-sihal[40], memberikan tanggapan, saran, kritik dan koreksi kesilapan dalam rencana pelaksanaan adat untuk kelancaran dan kesuksesan adat. Sehingga suhut menjadi terbantu dan tertolong.

Demikian juga pemberian tumpak oleh dongan sabutuha, boru dan ale-ale mempunyai makna dan tujuan untuk membantu hasuhuton dalam pembiayaan pesta sebagai realisasi ungkapan tolong menolong di atas. Sehingga beban mereka menjadi sedikit ringan. Makna lain ialah bahwa anak yang dikawinkan itu adalah anak bersama. Karena menjadi tanggung jawab bersama.

Ungkapan demokrasi bernilai filosofis hidup

Terdapat banyak ungkapan bernilai filosofis milik orang Batak Toba untuk memperlihatkan kehidupan demokratis mereka. Di bawah ini disajikan beberapa saja:

1.Hata mamunjung hata lalaen Arti bebas: pendapat sendirian kurang baik

Hata torop sabungan ni hata pendapat bersama lebih baik

2.Ansimun sada holbung bersama-sama melompat keatas

Pege sangkarimbang bersama-sama terjun ke bawah

Manimbung rap tu toru (seia sekata)

Mangangkat rap tu ginjang

3.Balintang ma pagabe akan diperoleh banyak keturunan

Tumandangkon sitadoan (dan makmur)

Arinta ma gabe karena sudah sekata sehaluan

Ai nunga masipaoloan (kesepakatan/seia sekata)

4.Manjangkit ma napuran kesepakatan menyampaikan oleh

Tu bona ni pinasa satu orang wakil, tapi semua pemi-

Sahalak pe mandok hata na denggan lik pendapat itu

Sude ma hita nampunasa (kesepakatan bersama)

5.Tuat si puti, nangkok si deak memilih kesepakatan yang terbaik

Ia I na ummuli, I ma tapareak untuk dilaksanakan

6.Rata pe bulung ni bulu walaupun keputusan sudah baik

Rataan do bulung ni torop tapi keputusan umum bersama

Denggan pe uhum muna lebih baik

Dengganan do uhum torop

7.Tampakna do tajomna keputusan bersama lebih kuat

Rim ni tahi do gogona[41] dari pada yang lain.

Kesimpulan

Bahwa bagi orang Batak Toba, musyawarah demokratis adalah bagian dari adat. Adat demokrasi itu merupakan media untuk melaksanakan semua upacara adat yang menjadi bagian terpadu dalam kehidupan keseharian orang Batak Toba. Artinya sejak semula awal kehidupan orang Batak Toba upacara adat adalah bagian hidup mereka. Itu artinya demokrasi sudah dimiliki dan diterapkan orang Batak Toba sejak dahulu kala. (Medan, 4 Juli 07,dilengkapi 10 Aug.08)

Bahan rujukan

Pemakalah adalah Guru Besar Sosiologi Antropologi, mantan Ketua Program Pasca Sarjana Antropologi Sosial Universitas Negeri Medan (UNIMED).

[1] Lance Castles menyebutkan raja huta sebagai raja ni huta (p.6) Sedangkan menurut Edward M. Bruner bahwa dinamika huta atau kampung terletak pada pengorganisasian para pemimpin desa yaitu golongan elit, pemimpin pasukan desa, kelompok politik desa dan para cendekiawan (Local, Ethnic, and National Loyalties in Village Indonesia, 1959, p.52). D.W.N de Boer thn 1915 mengatakan bahwa Raja ni Huta, ialah pemimpin wilayah satu kesatuan terkecil marga. Tijd.BB,XLIX,p 3)

[2] Untuk mengetahui huta secara lebih lengkap, mulai direncanakan didirikan hingga dihuni dan diresmikan dengan memukul ogung (musik ), lihat Bungaran Antonius Simanjuntak, Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hingga 1945, Obor Jakarta 2006, pp 163-171

[3] Horja dapat diartikan dalam dua konotasi, yang pertama ialah tingkatan struktural pemukiman dan yang kedua horja ialah sejenis pesta adat yang besar yang melibatkan keturunan satu cabang nenek moyang yang juga dihadiri oleh kalangan pemberi istri (hula-hula, tulang, bona tulang, bona ni ari bahkan aleale/sahabat ), kelompok penerima istri (boru, bere). De Boer mengatakan bahwa horja diperintah oleh raja horja yang disebut juga raja partahi atau raja pandapotan. Horja adalah kumpulan kampung-kampung yang dihuni satu jenis marga atau berbeda marga ( D.W.N.de Boer, Tijd BB, XLIX, 1915, p.3 dalam De Volks “Haradjaons”)

[4] De Boer, 1915, p 3.

[5] Bius ialah satu persekutuan pemujaan terhadap kekuatan yang dihormati manusia. Dapat dikatakan satu persekutuan kepercayaan kepada roh-roh, arwah nenek moyang. Bius dapat dibagi atas bius nametmet (kecil) dan bius na balga (besar). Biasanya bius dimiliki oleh mereka yang satu marga

[6] Ypes, W.K.H.Bjdrage tot de kennis van de stamverwantschap, de inheemsche rechtsgemeenschappen en het grondenrecht der Toba-en Dairibataks, Adatrechtstichting te Leiden, 1932, p.300

[7]ibid, p.299

[8] Raja Sisingamangaraja XII, juga membentuk raja maropat di Asahan Pardembanan, Pahae dan Habinsaran. Lihat Sidjabat, WB, Ahu Sisingamangaradja, 1982, pp 71-74.. Lihat juga catatan Joachim Freiherr von Brenner, Besuch bei den Kannibalen Sumatra, 1894, p 339

[9] Sijabat, opcit, p 73)

[10] Sijabat dalam bukunya menyebutkan bahwa di tanah Batak terdapat otonomi huta secara geografis, dimana setiap raja atau pemimpin huta itu mempunyai aturan sendiri yang dinamakan solup, serta punya harga diri komunitas, p 67 dan p 71

[11] Sitor Situmorang, Toba Na Sae, Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX, Komunitas Bambu 2004, pp 90-91.

[12] Penggabungan kedua sifat kepemimpinan demikian yakni rohani dan duniawi (religi dan sekulerisme) amat ditakuti Belanda karena itu Belanda bertekad menghancurkan Sisingamangraja dan pengikutnya. Lihat tulisan Sitor Situmorang dalam Toba Na Sae

[13] Sitor Situmorang, p.213

[14] Bungaran Antonius Simajuntak, 2006, log.cit, pp. 193-194

[15] Ibid, 195

[16] Bisuk Siahaan, 2005, p 66

[17] Bungaran Antonius Simanjuntak, Pemda Tobasa, Balige, 2004, Otonomi Daerah Menurut Visi Budaya Batak dan Aplikasinya Dewasa ini,, pp. 1-5

[18] Bahkan ungkapan perumpamaan (umpama dan umpasa) Batak Toba mendukung kondisi seperti ini misalnya (dalam bahasa Indonesia: lain lubuk lain ikannya, lain ilalang lain belalangnya, asing duhut asing sihaporna, asing luat asing do adatna)

[19] Bisuk Siahaan, 2005, p.182

[20] Silahkan baca bab VII, buku Lance Castles, Tapanuli 1915-1940, di mana diterangkan pertikaian-pertikaian antar penduduk, antar huta maupun antar bius, karena jabatan dan hasangapon (kehormatan),misalnya jabatan kepala desa (kapala hampung), kepala negeri ciptaan Belanda melalui verkiezen (pemilihan) yang oleh orang Batak disebut “parkising”..

[21] Bungaran Antonius Simanjuntak, Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba, 1995, Diss UGM

[22] STM, Serikat Tolong Menolong, SMP, Sarikat Masiurupan Marsahutaon.

[23] Di kota-kota maupun di desa-desa biasanya dilakanakan malam hari antara jam 20-22.

[24] Tingkatan kematian yang diidamkan orang Batak Toba ialah tingkat saur matua. Artinya si mati sudah punya cucu dari anak laki-laki, maupun perempuan. Bahkan kalau ucunya sudah bercucu dan semua anaknya masih hidup serta kehidupan mereka cukup makmur dan kaya, maka tingkat kematiannya disebut saur matua mauli bulung.

[25] Dilaksanakan pada saat marhata pada acara partumpolon perkawinan( bagi yang Kristen). Apabila salah satu pihak melanggar atau meninggalkan kesepakatan itu, maka biasanya akan terjadi pertengkaran. Bahkan pada jaman dahulu, perkawinan bisa dibatalkan. Bahkan bisa terjadi perang di antara kedua marga yang hendak berbesan serta melibatkan kelompok Dalihan Na Tolu-nya masing-masing secara intensif. Solusi biasanya ditempuh melalui perdamaian yang digagasi raja-raja.

[26] Marga ialah nama bersama yang dimiliki satu komunitas sosial yang bersumber pada nama nenek moyang bersama mereka yang teratas, atau yang dipilih kemudian. Misalnya marga Siagian, Sinambela, Sihombing, Lumbantoruan, dsb.

[27] Di kota biasanya pesta adat sudah diselenggarakan di gedung-gedung pertemuan umum dengan pembayaran sewa paling rendah satu juta rupiah dan tertinggi sekitar sepuluh juta rupiah (untuk kota Medan). Di kota-kota lain seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Pematang Siantar, Makassar, Banjarmasin, maupun Pontianak, bervariasi di antara satu juta hingga 60 juta rupiah (Jakarta?). Sementara pesta adat di desa masih memakai halaman huta hasuhuton.

[28] Kedekatan keturunan berdasarkan silsilah satu nenek moyang atau satu marga.

[29] Kerabat inti dan kerabat luas (nuclear and extended family)

[30] Seperti pemberian kesempatan oleh keturunan Pun Sautlan kepada saya untuk menyampaikan penghormatan kepada Pun Sautlan saat peresmian Tugu/Tambak batu na pir pada bulan Juli 1997, sebagai keturunan Ompung Saurniaji, anak ke-4 Raja Paranjak dari Sipahutar.

[31] Bila ada tokoh marga hasuhuton mempergunakannya sebagai ajang kampanye seperti sejak 2004 (untuk kedudukan DPD) dan mungkin hingga 2009 yad.

[32]Sayangnya sering reunion yang bernilai religios, emosional, dan penuh nilai kasih sayang, persaudaraan dan penghormatan itu kurang disadari orang Batak Toba. Orang Batak Toba yang sekarang cenderung memberi nilai kepada pesta-pesta adat dari segi kemewahan, glamorialitas dan kebanggaan saja.

[33] Manortori dan mangondasi, sering dilakukan sebagai ganti tangisan, karena orang mati sari matua, saur matua katanya sudah tidak pantas lagi ditangisi. Tetapi sudah saatnya dihormati sebagai orang yang bertuah dan terhormat, apalagi bila keturunannya sudah “jadi” artinya kaya, terhormat, punya jabatan tinggi serta punya anak-anak yang maju pendidikannya, baik laki-laki maupun perempuan. Arti simbolik gerak tangan waktu manortor atau mangondasi yang asli (jaman dahulu) ialah mambuat tua ni na mate sari/saurmatua (mengambil tuah orang mati). Karena mendiang sudah sampai ke tingkat kematian yang diidam-idamkan orang Batak Toba, maka bagi mereka masih hidup, mereka yang mangondasi itu meminta tuah dari mendiang agar bisa menjadi bertuah seperti mendiang. Belakangan ini, sesudah menganut agama (baru) Kristen maupun Islam gerak meminta tuah itu sudah jarang dilakukan orang. Namun di desa-desa di Tapanuli tampaknya masih ada yang melakukan.

[34] Yang telah gabe yaitu, maranak marboru, marpahompu di anak marpahompu diboru, marnini marnono ada juga yang sudah marondok-ondok (berketurunan banyak, baik anak laki-laki, anak perempuan, bercucu, bercicit dari cucu laki-laki maupun perempuan bahkan bila cucunya sudah pula bercucu).

[35] Hula-hula di atas, artinya hula-hula ayah, kakek (FaFa), bapanya kakek (FaFaFa), kakeknya kakek( FaFaFaFa), bapaknya kakek kakek (FaFaFaFaFa), juga kakeknya kakek kakek (FaFaFaFaFaFa) dst ke tingkat atas. Orang Batak Toba menyebut terminology amang mangulahi untuk kakeknya bapak ego. Demikian juga opung mangulahi untuk kakeknya kakek ego.(Catatan: penulis/penceramah sudah mencoba membangun satu teminologi Antropologi Batak yang baku untuk silsilah Batak Toba dalam rangka operasionalisasi partuturon dohot panjouon (term of reference and term of address) yang disebut juga nomenclature. Fa, singkatan dari father (bhs Inggris).

[36] Menurut pendapat umum orang Batak Toba, bahwa uang dapat ditenun (dicetak) pemerintah dalam waktu satu hari. Sedangkan ulos herbang membutuhkan waktu lama(berbulan-bulan) bila ditenun tangan, bukan buatan pabrik.

[37] Ampang (baca appang) adalah sejenis bakul, biasanya untuk wadah nasi pada acara adat perkawinan. Sudut apang ada empat, dipakai sebagai lambang kelompok sosial terpenting dari hula-hula, orangtua suhut dan boru serta anaknya laki-laki.

[38] Terdapat alasan-alasan kultural mengapa keempat kelompok ini mempunyai hak istimewa untuk memperoleh sebagian dari mas kawin atau mahar sipengantin putri.

[39] Bila ada yang menuntut persentasi seperti itu, dewasa ini sudah ditertawakan orang dan sering disebut tamak atau rakus dan egois, karena hanya mementingkan keuntungannya tanpa mengingat biaya kerugian yang dikeluarkan oleh suhut untuk penyelenggaraan upacara pesta adat yang bersifat demokratis itu.

[40] Dalihan Na Tolu Paopat Sihal-sihal, yaitu kelompok Hula-hula (Hula-hula, Tulang, Bona Tulang, Tulang Rorobot,, Bona Ni Ari), kelompok Dongan Sabutuha, kelompok boru dan sahabat atau teman.

[41] Ungkaan tradisional ini dikutip dari buku, A.N.Parda Sibarani, Umpama Batak dohot Lapatanna, 1976, penerbit “Parda” Pematang Siantar

Perintis di Sumatera


Kehidupan yang penuh keberanian dari Ludwig Nommensen, rasul Jerman kepada orang-orang Batak, dan kegiatan misinya di Sumatra dimana orang-orang ini tinggal, tidak banyak diketahui di negara ini. Pekerjaan Kristen di Hindia Belanda Timur dibagi antara “Netherlands Missionary Council” (Lembaga Misionari Belanda) dan “Rhenish Mission” dari Jerman; Suku Batak ada di daerah pelayanan Rhenish Mission. Kenyataan bahwa ada 5.000.000 anggota gereja-gereja Batak saat ini adalah kesaksian atas pekerjaan yang telah dilakukan.

Read this document on Scribd: Pioneer In Sumatra

Ingwer Ludwig Nommensen, Sang Peretas


Sosok anak manusia yang memiliki keberanian, kesungguhan, ketulusan dan jiwa petualangan, ada pada diri Ingwer Ludwig Nommensen. Di besarkan di bawah budaya barat, Nommensen berani menetapkan pilihan untuk mendatangi dunia lain yang sama sekali berbeda, jauh dan penuh misteri — Tanah Batak —

Berbekal sebagai seorang theolog muda, menerima tantangan untuk mendedikasikan ilmu, iman dan pengabdiannya bagi Bangso Batak, yang hanya diketahui dari buku literatur yang terbatas dan dengar-dengaran dari sumber-sumber yang belum tentu teruji kemampuannya dalam menggambarkan sifat, sikap dan alam Batak, nun jauh di timur.

Tentu melihat ini kita diminta untuk memutar roda waktu ke tahun 1861, dengan segala keterbatasannya, tanpa kecanggihan transportasi dan alat komunikasi. Terbukti, untuk tiba di tempat yang akan ditujunya menghabiskan waktu 142 hari, yang saat ini dapat kita tempuh hanya 11 jam kurang lebih.

Perbedaan budaya, bahasa dan agama tidak menyurutkan niatnya untuk memulai “pengabdian” di tengah perlawanan dan ancaman Bangsa Batak yang belum terbiasa menerima kehadiran “orang aneh”, yang berlainan bahasa, pola hidup, warna kulit dan mata serta rambutnya.

Kesungguhan dan keteguhan Nommensen, terbukti mampu memenangkan penolakan besar Bangsa Batak yang berbuah pada dimulainya era baru bagi kehidupan sosial dan spritual, hingga berimplikasi luas pada tatanan mayoritas Batak. Pendekatan sosial religius, tidak terpungkiri mewarnai kehidupan sebagian besar di antara kita saat ini.

Nommensen, sang Peretas!

Tidak sekedar untuk dikenang, nostalgia masa lalu, tentu ada pelajaran besar dari penggalan perjalanan hidup Nommensen. Untuk kita pelajari dan ketahui.

Tahun 1834, tanggal 6 Februari
Ingwer Ludwig Nommensen lahir di Nortdstrand, pulau kecil di panatai perbatasan Denmark dan Jerman. Dia anak pertama dan lelaki satu-satunya dari empat orang bersaudara. Ayahnya Peter dan ibunya Anna adalah keluarga yang sangat miskin di desanya. Sejak kecil, dia sudah tertarik dengan cerita gurunya Callisen tentang misionar yang berjuang untuk membebaskan keterbelakangan, perbudakan pada anak-anak miskin.

Tahun 1846 pada umur 12 tahun
kedua kakinya sakit parah karena kecelakaan kereta kuda pulang dari sekolah. Selama setahun lebih tidak dapat berjalan, kakinya hampir diamputasi. Dia berjanji kepada Tuhan bahwa akan menjadi misionar apabila kedua kakinya sembuh kembali. Dia akan pergi jauh untuk membebaskan anak-anak miskin yang budak karena hutang orang tuanya, dia akan memberitakan Firman Tuhan kepada pelbegu yang sangat terbelakang sebagaimana sering diceritakan gurunya Callisen yang sangat dikaguminya.

Tahun 1847
Kedua kakinya sembuh secara ajaib, dia dapat berjalan seperti sediakala. Dia kembali ke sekolah pada musin winter (musim dingin) karena pada musin summer dia akan menjadi gembala domba untuk menerima upahan karena orangtuanya sangat miskin.

Tahun 1848, tanggal 2 Mei
Ayahnya Peter Nommensen meninggal dunia. Ingwer Ludwig Nommensen sebelumnya bermimpi akan kehilangan ayahnya, maka ia tidak terkejut ketika orang membawa ayahnya ke rumah yang meninggal di tempat kerjanya.

Tahun 1849
Pada umur 15 tahun (suatu pengecualian), dia mendapat sidi. Biasanya, orang akan diijinkan mendapat sidi pada umur 17 tahun. Namun, karena Ingwer Ludwig Nommensen sudah tidak obahnya seperti ayah dari dari segi tanggung jawab kepada keluarga maka diberi pengecualian kepadanya. Dia mendapat sidi setelah setahun belajar Alkitab.

Tahun 1854
Ibu Ingwer Ludwig Nommensen merestui anaknya, satu-satunya lelaki di antara empat orang bersaudara, menjadi seorang misionar.

Tahun 1857
Ingwer Ludwig Nommensen masuk sekolah pendeta di RMG Barmen setelah menunggu sekian lama.
Tahun 1858, Januari Ibunya meninggal dunia di Nordstrand.

Tahun 1859
4 orang Misionar RMG Barmen serta 3 orang isteri misionar terbunuh di Borneo, berita itu semakin menggugah hati Ingwer Ludwig Nommensen untuk pergi ke daerah pelbegu.

Tahun 1861, 7 Oktober
berdiri HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Praosorat Sipirok, sebagai permulaan Misi Kongsi Barmen di Tanah Batak. Hari itu terjadi kesepakatan 4 orang Misionar Belanda dan Jerman yaitu:
H (Heine)K (Klammer)B (Betz) danP (Van Asselt) menjadi penginjil atas tanggung jawab Rheinische Missionsgeselshaft dari Barmen, Wupertal, Jerman, yang lazim diebut Kongsi Barmen.

Tahun 1861, Oktober
Ingwer Ludwig Nommensen ditahbiskan sebagai pendeta dan langsung diberangkatkan oleh Missi Barmen menjadi misionar ke Tanah Batak, tetapi selama 2 bulan dia masih belajar Bahasa Batak dan Budaya Batak dari Dr. Van Der Tuuk di Belanda.

Tahun 1861, Desember
Ingwer Ludwig Nommensen berangkat dari Amsterdam menuju Sumatera dengan kapal Pertinar. Pelayaran itu memakan waktu selama 142 hari.

Tahun 1862, 14 Mei
Setelah mengalami banyak cobaan di lautan, Ingwer Ludwig Nommensen mendarat di Padang. Selanjutnya dia tinggal di Barus. (Kapal Pertinar kemudian tenggelam dalam lanjutan pelayaran kea rah timur di sekitar Laut Banda dekat Irian Barat).

Tahun 1862, November
Bersama beberapa orang Batak, mengadakan perjalanan ke pedalaman Sumatera melalui Barus dan Tukka. Dari Barus, Ingwer Ludwig Nommensen pergi ke Prausorat dan kemudian tinggal dengan Van Asselt di Sarulla.

Tahun 1863, November
Ingwer Ludwig Nommensen pertama kali mengunjungi Lembah Silindung. Dia berdoa di Bukit Siatas Barita, di sekitar Salib Kasih yang sekarang. “Tuhan, hidup atau mati saya akan bersama bangsa ini untuk memberitakan FirmanMu dan KerajaanMu, Amin!”

Tahun 1864, Mei
Ingwer Ludwig Nommensen diijinkan memulai misinya ke Silindung, sebuah lembah yang indah dan banyak penduduknya.

Tahun 1864, Juli
Ingwer Ludwig Nommensen membangun rumahnya yang sangat sederhana di Saitnihuta setelah mengalami perjuangan yang sangat berat.

Tahun 1864, 30 Juli
Ingwer Ludwig Nommensen menjumpai Raja Panggalamei ke Pintubosi, Lobupining. Raja Panggalamei beserta rombongannya 80 orang membunuh Pendeta Hendry Lyman dan Samuel Munson (missionar yang diutus oleh Zending Gereja Baptis dari Amerika) di sisangkak, Lobupining pada tahun 1834, bertepatan dengan tahun lahirnya Ingwer Ludwig Nommensen di Eropa.

Tahun 1864 , 25 September
Ingwer Ludwig Nommensen mau dipersembahkan ke Sombaon Siatas Barita dionan Sitahuru. Ribuan orang datang. Ingwer Ludwig Nommensen akan dibunuh menjadi kurban persembahan. Ingwer Ludwig Nommensen tegar menghadapi tantangan, dia berdoa, angin puting beliung dan hujan deras membubarkan pesta besar tersebut. Ingwer Ludwig Nommensen selamat, sejak itu terbuka jalan akan Firman Tuhan di negeri yang sangat kejam dan buas. Ingwer Ludwig Nommensen pantas dijuluki “Apostel di Tanah Batak”

Tahun 1865, 27 Agustus
Pembaptisan pertama di Silindung terhadap empat pasang suami-istri beserta 5 orang anak-anaknya. Diantara keluarga yang dibaptis pertama adalah Si Jamalayu yang diberi nama Johannes dengan istrinya yang dibawa dari Sipirok sebagai pembantu Ingwer Ludwig Nommensen diberi nama Katharina.

Tahun 1866, 16 Maret
Ingwer Ludwig Nommensen diberkati menjadi suami-isteri dengan tunangannya Karoline di Sibolga. Karoline datang dari Jerman beserta rombongan Pdt. Johansen yang dikirim Kongsi Barmen untuk membantu Ingwer Ludwig Nommensen di Silindung.

Tahun 1871
Ingwer Ludwig Nommensen mengalami penyakit disentri yang sangat parah, dia pasrah untuk pergi menghadap Tuhannya tetapi dia tidak rela misinya berhenti begitu saja. Dia dibawa Johansen berobat ke Sidimpuan.

Tahun 1864
Karoline melahirkan anak pertama diberi nama Benoni, namun beberapa hari kemudian meninggal dunia.

Tahun 1872
Pargodungan Saitnihuta yang disebut Huta Dame pindah ke Pearaja. Setelah Gereja baru hampir selesai dibangun, putri pertama Ingwer Ludwig Nommensen yang bernama Anna meningal dunia. Keluarga Ingwer Ludwig Nommensen telah kehilangan dua anak pertama, sungguh suatu ujian berat bagi misionar dalam memulai misinya.

Tahun 1873
Sikola Mardalan-dalan (Sekolah dengan tempat tidak tetap) diciptakan Ingwer Ludwig Nommensen agar Orang Batak bisa secepatnya menjadi guru. Siswa mendatangi Ingwer Ludwig Nommensen di Pearaja, Johansen di Pansurnapitu dan Mohri di Sipoholon dimana para misionar tersebut bertugas. Atau, misionar mendatangi siswanya ditempat tertentu.

Tahun 1875
Misionar Ingwer Ludwig Nommensen, bersama Johansen dan Simoneit bekunjung ke Toba.
Tahun 1876Telah dibaptis lebih dari 7000 orang di Silindung.

Tahun 1876
Ingwer Ludwig Nommensen selesai menterjemahkan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Batak Toba.

Tahun 1877
Ingwer Ludwig Nommensen dan Johansen mendirikan Sekolah Guru Zending di Pansurnapitu. Tempat berdirinya sekolah tersebut adalah tempat yang dulunya dikenal sebagai Pasombaonan (tempat angker), yang sekarang tempat berdirinya STM Pansurnapitu dan Gereja HKBP Pansurnapitu.

Tahun 1877

  • Raja Sisingamangaraja ke-XII mengancam akan membumihanguskan kegiatan missioner, ancaman ini tidak menjadi kenyataan.
  • Silindung masuk kolonisasi Belanda.

Tahun 1880
Ingwer Ludwig Nommensen beserta istri dan anak-anaknya pergi ke Eropah. Mereka diantar oleh banyak orang sampai ke tengah hutan. Mereka berjalan kaki selama dua hari dari Silindung ke Sibolga, menjalani jalan setapak yang sangat sulit. Mereka menungu keberangkatan dari Sibolga ke Padang selama dua minggu.

Tahun 1881
Menjelang Natal, Ingwer Ludwig Nommensen kembali ke Pearaja. Dia kembali sendirian, isterinya tinggal di Jerman karena masih perlu perawatan. Anak-anaknya juga tinggal di sana agar bisa sekolah dengan baik.

Tahun 1881
Kongsi Barmen menetapkan Ingwer Ludwig Nommensen menjadi Ephorus pertama HKBP, dia digelari ‘Ompu i’
Tahun 1887
Karoline isteri Ingwer Ludwig Nommensen, meninggal di Jerman, sebulan kemudian baru Ingwer Ludwig Nommensen mengetahuinya.

Tahun 1890
Ingwer Ludwig Nommensen memulai misinya ke Toba, dia pindah ke Sigumpar.

Tahun 1891 bulan Mei
Christian, anak ompu Ingwer Ludwig Nommensen, mati terbunuh di Pinang Sori oleh lima orang kuli China di areal perkebunan.

Tahun 1892
Bersama Pendeta Johansen yang juga sudah menduda pergi ke Jerman untuk berlibur, menjenguk anak-anaknya, dan mencari pasangan baru untuk masing-masing misionar yang telah menduda. Ingwer Ludwig Nommensen mendapatkan jodohnya anak Tuan Harder yang bernama Christine, Johansen mendapatkan jodohnya anak Tuan Heinrich yang bernama Dora. Mereka kembali ke Tanah Batak dengan masing-masing pasangan barunya.

Tahun 1900 Permulaan Zending Batak.
Tahun 1903 Permulaan misi Zending ke Medan

Tahun 1904
Fakultas Theologi Universitas Bonn, Jerman, menganugerahkan gelar Doktor Honouris-Causa di bidang Theologi kepada Ingwer Ludwig Nommensen. Dalam pengukuhan tersebut, Ratu Wilhelmina dari Belanda ikut diundang sebagai tamu.

Tahun 1905
Berkunjung ke Eropah bersama Tuan Reitze, dia mengunjungi Misi Zending di Belanda dan berkunjung kepada Ratu Wilhelmina.

Tahun 1909
Christine Harder, isteri Ingwer Ludwig Nomensen meninggal dunia, setelah melahirkan tiga orang anak. Dia dimakamkan di Sigumpar. Dua anak perempuannya tinggal di Jerman dan belum menikah sewaktu Ompu Ingwer Ludwig Nommensen meningal pada umur 84 Tahun.

Tahun 1911

  • Pesta jubileum 50 tahun HKBP. Pesta besar di onan Sitahuru dihadiri puluhan ribu orang, di tempat dimana 47 tahun sebelumnya Ingwer Ludwig Nommensen mau dibunuh dan dipersembahkan kepada Sombaon Siatas Barita.
  • Ratu Wilhelmina dari belanda menganugerahkan Bintang Jasa ‘Order Of Orange Nassau’ kepada DR. Ingwer Ludwig Nommensen, sebuah bintang jasa yang hanya diberikan kepada orang yang dianggap luar biasa jasanya di bidang kemanusiaan.

Tahun 1912
Berlibur ke Eropah, kembali ke Tanah Batak bersama tuan Pilgram yang telah lama bertugas di Balige.
Tahun 1916Nathanael anak Ingwer Ludwig Nommensen, mati tertembak di arena Perang Dunia I di Perancis.

Tahun 1918, Tanggal 23 Mei
Pukul enam pagi Hari Kamis, Ompu Ingwer Ludwig Nommensen pergi menghadap Tuhannya di Sorga. Dia menutup mata untuk selama-lamanya setelah berdoa ‘Tuhan kedalam tanganMu kuserahkan rohku, Amin’.

Pada Jumat sore, 24 Mei 1918
Ompu Ingwer Ludwig Nommensen dikubur di Sigumpar. Puluhan ribu datang melayatnya untuk mengucapkan salam perpisahan. Ada orang berkata : Inilah kumpulan manusia yang paling banyak yang pernah terjadi di Tanah Batak.
Ringkasan ini diambil dari buku:DR. I.L. Nommensen – Apostel di Tanah Batak oleh Patar M. Pasaribu

Sumber : http://h-k-b-p.blogspot.com/2007/07/ringkas-kehidupan-nommensen.html

Qua Vadis Habatahon?

 I. SUATU MASALAH

Hakekat kemanusiaan adalah pencarian reksa hubungan syalom dengan Khaliknya dan serentak berdamai dengan sesamanya. Dalam hal itu, mewakili kemanusiaan, berkatalah Santo Augustinus Aurelius 431: “Cemas-gelisahlah hati kami hingga beristirahat di dalam Engkau, ya Tuhan” (Conf 1,1).

Habatakon sekarang sedang mengalami rangkap kegelisahan. Pertama kecemasan bahwa upaya untuk mengusung “Habatakon” dengan mengumpulkan 3.000 orang pengikut Parmalim, Juli 2005, untuk menghidupkan kembali tata ritual dan tata sosial Habatakon di pusat Agama Parmalim, Laguboti, terungkap beberapa hal: Terdapat kebanggaan bahwa berhasil dikumpulkan lebih dan 3.000 orang pengikut agama Batak tradisional Parmalim dengan semangat dan cita-cita yang tinggi. Berhasil pula dilaksanakan tata ibadat Parmalim, yakni melakukan pertobatan, penyucian dan pujaan Allah Tinggi, Sang Penjadi, Mulajadi NaboIon, dengan meriah dan anggun (Parmalim no. 21). Berhasil pula dihimpun dana untuk bakti sosial Batak, sebanyak Rp 45 juta beras (KOMPAS 27 Mei 2005).

Tetapi kelompok agama ini, yang yakin sebagai pengusung Habatakon asli, mengungkapkan keluhannya. Mereka merasa didiskreditkan oleh Batak penganut agama modern, Kekristenan, dan mereka mengalami hambatan: susah bahkan untuk mendapat kartu penduduk. Mereka bertanya: Quo vadis Habatakon?

“Kegagalan” ini merupakan perulangan dan tentatif mendirikan Ugamo Parmalim oleh upaya Raja Somalaing Pardede, yakni Pambi (Persatuan Agama Parmalim Budaya Adat Batak Indonesia, 1974). Berkayuh bersama gerakan nasional Indonesia, yang dipimpin oleh Pahlawan Nasional, Raja Si Singa Mangaraja XII, agama Parmalim merupakan wujud dari upaya menghidupkan kembali tata agama dan tata budaya Habatakon. Kendati Si Singa Mangaraja diimbuhi sebagai Raja-Imam, Mesias dan “Juruselamat” di Tanah Batak, ditambah dengan wibawa pejuang nasional, namun greget gerakan tribal revival ini tetap loyo dan menjadi pinggiran.

Tantangan kedua datang dari dunia “globalisasi”. Sudah merasa “minoritas di rumah sendiri”, gerakan Parmalim ini langsung dihadapkan kepada “petir di siang bolong”, yakni “globalisasi”. Sadar akan hakekat diri sebagai provencal, terbatas hanya pada satu suku dan daerah, tiba-tiba, di hadapan mata, muncul suatu momok baru, yang lebih dahsyat, yakni globalisasi. Upaya untuk memungut serpihan-serpihan bangunan, Habatakon kembali diguncang dan diserakkan, ibarat Banua Si Boru Deang Parujar diruntuhkan oleh Naga Padoha. Nurani bangkit, dengan nuansa to be or not to be, dan menggugat di dalam batin: “Cemas-gelisahlah hati kami hingga beristirahat di dalam Engkau.” Pertanyaan dasarnya adalah: Quo vadis Habatakon?

II . FAJAR KEMAJUAN RANAH BATAK

Terdapat beberapa tahapan kontak dan perkenalan suku Batak dengan peradaban modern, khususnya dengan kolonial Belanda dan Inggeris.

A. Bermula dari Traktat London

Traktat London 1824 dapat dianggap sebagai titik formal awal persentuhan dan pergaulan Batak dengan dunia internasional. Memang tanah Batak masih termasuk kategori terra incognita, dunia yang belum terjamah kemajuan Barat, dan masih menyandang predikat splendid isolation. Traktat London sendiri merupakan transaksi penyerahan wilayah Tapanuli dari kekuasaan Betanda kepada koloni Inggeris, yang diwakili oleh Stamford Raffles, sebagai gubemur jenderal (1835:97).

Pada waktu itu tak seorang Batak sadar bahwa sukunya telah “diperdagangkan” oleh orang-orang yang belum dikenalnya, yakni bangsa Belanda dan Inggeris. Baik Belanda maupun lnggeris juga tidak tahu manusia-manusia yang bagaimana menghuni daerah-daerah cakupan traktat itu. Raffles hanya menulis kepada Lady Sophia, bangsawan Somerset, bahwa daerah itu meliputi wilayah pedalaman dari Tapian Nauli (1820). Tapian Nauli sendiri adalah pemandian yang cukup indah di atas Mela, pinggiran utara Sibolga. Setiap hari Sabtu sore, rombongan amtenar Inggeris secara teratur mengorganisasi mandi bersama ke air terjun dan berkolam, Tapian Nauli.

Maka apa yang belum dikenal, tetapi diberi nama sebagai daerah Tapian Nauli kedalam, oleh Raffles, temyata telah mengabadikan nama Tapanuli. Untuk, sekarang daerah ini terentang dari daerah Fakfak, Humbang, Karo, sampai ke Labuhan Batu, Tapanuli Selatan dan Madina.

Sejak itulah gelombang penerobosan pedalaman mulai mengalir, terutama dari dorongan semangat misi Kristen. Burton dan Ward, misionaris Inggeris menetap di Silindung 1824 dan berhail menerjemahkan sebagian Kitab Suci ke dalam bahasa Batak. Usaha mereka adalah untuk dilanjutkan oleh Munson dan Lyman (Boston, Amerika). Namun dalam perjalanan ke pedalaman, mereka terbunuh di Sisangkak, Lobupining, 28 Juli 1934. Tetapi, yang lebih memeteraikan pengaruh dari para misionaris awal itu adalah filolog dan penerjemah Alkitab H. N. Van der Tuuk, yang sampai di Sibolga 1851, dan pindah ke Barus 1852-57. Mungkin dialah orang Barat pertama menyaksikan keindahan danau Toba 1860.

Lukisan “pembukaan” Tanah Batak di atas meyakinkan kita; bahwa jantung Tapanuii terlambat disentuh oleh peradaban modem. Lepas dari sejarah purba Barus 645, yang tak menyisakan kekristenan apa pun, bumi splendid isolation Batak baru disentuh oleh peradaban modern dengan kedatangan Burton dan Ward di Silindung 1824. Hal ini dapat dibandingkan dengan penaklukan Malaka oleh Portugis 1511 dan kapten Cornelis de Houtman tiba di Djajakarta untuk mendirikan VOC (Verenig de Ostindische Compagnie) 1602. Waktu Itu; wilayah pedalaman Tapanuli masih merupakan terra incognita; daerah yangtak dikenal.

Lukisan yang paling buruk mengenai Batak “sipelebegu” terbaca: “Sebelum kekristenan datang, kehdupan oang Batak masih sangat terbelakang, sebagaiamana yang disaksikan olehVanAsselt;Nommensen ‘

dan- misionar lainnya. Peperangan antar-kampung adalah hal yang biasa terdengar. Perampokan dan pembunuhan sangat sering terjadi. Perbudakan masih merajela, perjudian adaiah hal biasa, bahkan ada yang sampai hati menggadaikan isterinya” (Pasaribu ‘2005:225) (Banyak hal baik mengenai Batak).

B. Fajar Pendidikan Formal

Mungkin bukan murni bertujuan pemberadaban Bafak, melainkan demi kelancaran evangelisasi, sudah sejak di Prausorat.1862; Sipirok, “Nommensen telah memikirkan bagaimana. agar secepatnya orang Batak bisa mengenal pendidikan sehingga misi zending dapat lebih cepat berhasil.” Tetapi cita-cita ini baru terwujud di Tarutung tempat baru pilihannya, mengikuti anjuran H.N: van der Tuuk: Tidak ada harapan untuk berhasil di kalangan penduduk Angkola dan Mandailing… Bagian terbesar dari mereka telah beragama modern. Untuk berhasil menyebarkan Kekristenan, semua misionaris haruslah dipindahkan ke tempat-tempat lain. (Paul Pedersen 1975:52).

Pdt. I. L. Nommensen, misionaris muda dan “Apostel di Tanah Batak” in spe, adalah pelaksana yang resolut rencana ini, la sampai di daerah berlumpur aliran sungai Sigeaon, Tarutung, pada usia 30 tahun, 7 Nopember 1863. Di sana ia berikrar “Tuhan, inilah tempat yang kuimpikan. Biarlah saya mempersembahkan hidupku buat mereka” [Batak].”

Mimpi pendidikan dan pemberadaban Batak dimulainya sesudah 5 tahun bermukim di sana. “Ephorus masa depan” ini memohon misionaris Schreiber dan Leopold membuka “Sekolah Guru”, untuk calon “guru Zending”, di Parausorat, sebagai tentatif. Berlangsung selama tiga angkatan masing-masing 2 tahun, akhirya, sekolah ini ditutup, karena ketiadaan guru. Nommensen bertekad menangani pendidikan ini secara langsung. la mendirikan Wanderschule, Sikola Mardalandalan 1873 Tujuan dan sistematikanya merupakan ramuan tekad dan pendasaran karya besar yang berorientasi masa depan.

Ditetapkan bahwa karya, pewartaan lnjil harus dikaitkan sebagai bagian hakiki karya: misi dengan Sikola Mardalandalan. Dari kalangan umat di jemaat-jemaat muda itu dicari, tak peduli usia, orang-orang yang: bertekad “maju”. Mereka didaftarkan menjadi murid-murid Sikola Mardalandalan. Agenda kunjungan ke ke jemaat dibagi tiga tahap: Pekabaran dan ibadat; Sikola Mardalandalan, dan Program pastoral.

Bagian terakhir ini menyangkut .beberapa hal: pengaturan kunjungan yang berikut kegiatan yang harus dilaksanakan oleh jemaat, pelayanan pengobatan, dsb. Pusat sekolah ini dibagi tiga: Pusat Pearaja dipimpin Nommensen sendiri; Pansurnapitu dimpin oleh Pdt Johansen; Cabang Sipoholon dipimpin oleh Misio naris Mohri. Prograram pendidikan dan pengadaban ini didukung oleh “raja .Pontas Lumbantobing, yang bertindak sebagai pelindung dan “guru Bantu.”

Alangkah rumit dan galaunya tentatif permulaan ini. Lelah berjalan kaki ke jemaat-jemaat yang embrrionis itu, langsung tenaga dikuras untuk melaksanakan ibadat/penginjilan. Dalam mencari format yang memadai, umat sudah berkumpul meminta obat, nasehat permasalahan keluarga, persoalan kampong dsb. Dan dipojok lain para murid Wanderschule sudah menanati. Ketiadaan SDM memaksa sang misionaris terpaksa bertindak one man show. Ini sangat melelahkan.

Fasiltas baca-tulis juga bersifat primitif. Dikembangkan. metode surat agong. Murid diminta membawa se potong lernbaran kayu dan arang sebagai alat tulis. Untungnya peralatan ini adalah kemungkinan menghapus dan menulis ulang. Kadang-kadang surat agong ini dialtenatifkan dengan surat topas. Mengganti kayu, tepas bambu yang sudah diratakan menjadi tempat tulis.

“Modenisasi” alat tulis ini terjadi dengan penemuan le (batutulis) dan gerep (gerip). Alat tulis seperti ini pun bahkan lebih gampang dihapus dan ditulis ulang. Apabila mendapat punten 10 (sempurna), murid sendiri menempelkan nilainya ke pipi untuk dibanggakan kepada orangtua dan orang banyak.

“Modernisasi” alat tulis yang berikut adalah surat pitolot (kertas dan pensil). Setiap murid diwajibkan memiliki buku tulis berlembaran beberapa saja. Seni penulisan baru diperkenalkan, yakni kaligrafi nipis tu ginjang, hapal tu toru tipis ke atas, tebal ke bawah. Pespektifnya adalah calon amtenar kolonial, selain dari calon Sintua.

Meningkat lagi metode penulisan kepada surat pena atau surat daoat. Ciri peningkatannya adalah menulis dengan tinta. Di sini jugalah kaligrafi nipis tu ginjang, hapal tu toru semakin mengkristal dan menjadi mode. Memang tulisan mereka bagus-bagus dan jelas.

Menjadi bagian dari kaligrafi adalah surat rongkoman (huruf cetak). Perspektifnya adalah memperkenalkan ilmu percetakan, disamping variasi estetik kaligrafi. Tentu mereka belum mengenal telegram dan fax, apalagi komputer dan internet.

Vak-vak yang diajarkan ialah matematika dan teknologi dasar termasuk aljabar. Kemudian pembukuan dan ekonomi serta ilmu hayat yang mengarah kepada higienis. Menarik mengamati bahwa ilmu pertanian dan agrobisnis tidak mendapat perhatian khusus. Tetapi Nommensen tidak lupa menggunakan peluang agar pemerintah Belanda menangani hal ini lewat Landbouw (pertanian). la kemudian hanya menata keteraturan pasar (onan). Tetapi petani-petani tidak luput dari “pengintipan” dan peniruan kebun-kebun sayur misi di pargodungan (komplek tempat berdirinya gereja, rumah Pendeta, rumah Guru Huria, sekolah). Sejenis CU (Credit Union) dengan menyerahkan tanggungjawab penuh kepada para anggotanya diupayakan dengan mengusahakan modal dasar.

Efek yang ditimbulkan oleh embrio pendidikan sistematik ini sangat membahana. Dari mana-mana datang permohonan untuk membuka Sikola mardalandalan, seiring dengan pembukaan jemaat-jemaat baru (Warneck 1922:87). Perkembangan ini meluas bukan saja secara kuantitas melainkan juga kualitas. Hampir pada setiap pargodungan terdapat pendidikan umum SR (Sekolah Rakyat). Nommensen menugaskan Pdt. Peter Heinrich Johansen mendirikan Sekolah Guru (seminarium) di Pansurnapitu 1877, yang kelak dipindahkan ke Sipoholon 1901. Tahun 1878, sekolah guru ini dikembangkan mencakup Sekolah Umum bersiklus 4 tahunan. Mata pelajaran yang digeluti, al. adalah baca-tulis, berhitung, ilmu alam, sejarah umum, geografi, obat-obatan, menyanyi/musik, bahasa Melayu. Dua tahun terakhir dikhususkan belajar Agama Kristen, yang mencakup Sejarah Gereja, Sejarah Islam dan Perbandingan Agama, Teologi Praktika, Dogmatika dan Tafsir. Jelas inilah cikal dan landasan bukan saja dad sejarah pendidikan di Tanah Batak, tetapi juga merupakan bina dasariah pengadabannya. Tahun 1884 didirikan Sekolah Pendeta di Pansunapitu. Berikutlah pendirian sekolah pertukangan di Laguboti, yang berkembang menjadi pandai besi, pembuatan lonceng, sampai kepada poti marende (organ musik).

Bersama dengan perkembangan pendidikan umum dan Pendeta diusahan penulisan buku-buku ilmiah dalam bahasa Batak, mula-mula dengan penerjemahan, tetapi kemudian dilengkapi dengan saduran dan karangan baru. Majalah Parsaoran yang mulai terbit 1896, resmi diganti namanya menjadi Immanue! dengan terbitan perdana 1 Januari 1890, sampai sekarang.

III. KEMAJUAN HABATAKON?

Penegasan Nommensen bahwa “penginjilan harus sejalan dengan pendidikan” telah menjadikannya bersama raja Pontas Lumbantobing, untuk didaulat menjadi “bapak pendidikan Batak”. Ikrar doanya ialah agar ia diizinkan “hidup atau mati bersama bangsa ini [Batak] untuk melihat masa depan yang cerah.” Menggambarkan hasil yang tercapai pada akhir hayatnya, 23 Mei 1918, sesudah bekerja keras selama 56 tahun sejak 1862, dapat digambarkan, dalam bentuk angka terukur, sbb,: “Telah ada sekitar 184.000 orang yang dibaptis, telah berdiri 510 buah sekolah dengan jumlah murid 32.700 orang, sudah ada sebanyak 34 orang Pendeta Batak yang ditahbiskan. Sebanyak 788 orang Guru Injil, dan 2.200 orang Penatua (Sintua).” Ini adalah keberhasilan yang fantastis pada suatu kalangan, yang dimulai dari hampir titik nol.

Dalam kerangka mengkritisi apakah mengalirnya kelompok-kelompok Batak menganut Kekristenan di Tanah Batak merupakan sublimasi bagi Habatakon atau sebaliknya merupakan pengkhianatan, kita mencatat beberapa ungkapan:

Tak dapat disangkal bahwa kemajuan pendidikan dan peradaban Batak lewat sistem pendidikan yang dikembangkan adaiah suatu fenomena yang mengagumkan dan ajaib. Pertanyaannya apakah Batak sendiri menganggap hal itu sebagai wujud kemajuan dan peningkatan peradaban bagi mereka sendiri.

Mewakili “nurani” Batak mengenai ketampanan prakarsa pendidikan ini dicatat di Simalungun: “Strategi ini mengutamakan pendidikan sekolah didukung dengan sikap positif oleh raja-raja Simalungun yang mendukung setiap pembukaan sekolah di daerahnya masing-masing. Para raja percaya dengan janji Nommensen yang akan mengutamakan pembangunan sekolah-sekolah sebagai bagian dari upaya zending untuk mencerdaskan penduduk…” (Juandaha R. P. Dasuha dan Martin L. Sinaga 2003:159).

Pdt. Johansen, yang memulai pendidikan sistematis-formal ini di Pansur Napitu, dan yang beranak-pinak sebagai indung embrio yang sangat subur, diberi gelar “guru bolon (guru besar, profesor). Gelar ini bukan berasal dari pihak penyelenggara, melainkan dari pihak alumni. Ini patut dicatat sebagai indikasi apresiasi.

Memang darah dan semangat Batak sudah dikenal sebagai penyandang ambisi untuk mengejar pendidikan setinggi-tingginya bagi anak-anaknya. Nyanyian itu, yang dapat dianggap sebagai ungkapan darahdaging Batak berbunyi: “Anakhonhi do na umarga di ahu …; Ingkon do sikola satimbotimbona, intap na tardungdung gogonghi° (“Putraku adalah yang paling berharga bagiku…; Mereka harus sekolah setinggi-tingginya, sejauh tergapai oleh upayaku”). Demikianlah dikatakan bahwa lewat pendidikan yang tersedia, anak-anak Batak telah menekuni tanggatangga pendidikan dengan sepenuh hati dan komitmen tinggi: “Anak-anak dan cucu-cucu dari sintua-sintua didalam abad ke-20 sangat banyak membanjir ke Sumatra Timur serta ke Pulau Jawa, turut memperebutkan kedudukan-keduduan yang lukratif” (Parlindungan 1964:638). Parlindungan sendiri eksplisit menyangkal peluang ini sebagai dapat diharapkan dari prakarsa Si Singa Mangaraja, raja Batak dan pahlawan nasional.

Pada bidang agama, alasan membludaknya Batak menganut agama Kristen dapat dirumuskan, sbb.: Kebanyakan Batak melihat bahwa tata agama dan tata adat sipelebegu penuh dengan kecemasan dan ancaman kematian yang mengerikan, yang disebarkan oleh beguantuk, begunurnur, begumonggop. Sedangkan Kekristenan menawarkan diri dengan Kabar Gembira, dan Warta Keselamatan Penebusan oleh wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Juga kenyataan bahwa dame (damai) adalah ciri komunitas Kristen, sedangkan sipelebegu terancam oleh benci, dendam, pembunuhan dan perang, bahkan dengan pengurbanan manusia kepada sombaon (arwah moyang yang mahakuasa). Dilihat bahwa agama Batak menampilkan profil agama keputus-asaan dan kematian. Sebaliknya agama Kristen dilihat sebagai agama kehidupan, pengharapan dan kepenuhan kehidupan dalam syalom (bdk. Warneck 1922: 111; lih. Eliade 1959: 29 dst.).

Pada masa wabah penyakit kolera, cacar dan disentri, yang merambah seluruh dunia dan Tanah Batak; pada abad ke-19, orang mengamati: Nommensen dan orang-orang Kristen seolah imun terhadap wabah penyakit itu, karena higienis. Padahal dengan sangat mengerikan penyakit menular ini merenggut nyawa manusia di kalangan Batak tradisional, yang terkadang memakan korban dua tiga orang per keluarga (Winkler 1925:21). Hal itu menimbulkan tanya dan keyakinan: ‘Allah mereka lebih kuasa dan adalah Tuhan yang benar; Allah dan Sombaon kita kurang berdaya. Mari kita menganut agama yang benar itu. Disana ada ketenangan, damai, kehidupan dan keselamatan’ (Warneck 1922?: 87-88).

Kiranya pertimbangan-pertimbangan di atas cukup untuk menyimpuikan beberapa hal, yakni: Adalah benar bahwa barulah medio abad ke-19 Batak ditawari peluang modenisasi. Tawaran yang disajikan adalah peluang pendidikan, pengadaban dan damai keagamaan. Memang tawaran ini bersifat tunggal Kekristenan dan kurang mendapat tawaran altematif. Tetapi mutu sublimasi dan peningkatan mutu serta keterbukaan kepada cakrawala dunia (globalisasi) sangat tampan. Pdt. Dr. S.A.E. Nababan menjadi presiden Gereja Lutheran Se-Dunia; Dr. T. B. Simatupang berbicara di PBB; Dr. Cosmas Batubara memimpin ILO, dsb. Padahal fajar pendidikan dan peradaban modem relatif terlambat dicicipi oleh Batak.

Semua tawaran ini bebas dari pemaksaan. Sikap dasar adalah pelayanan dan pengurbanan demi kesejahteraan material dan spiritual bagi Batak. Dan ternyata bahwa Batak sendirilah yang terbuka mata dan dengan sukarela bahkan dengan komitmen segenap hati memilih, menyambut dan menganut peradaban dan iman baru yang modern. Rasa syukur lebih meraja daripada kesal.

IV. QUO VADlS HABATAKON?

Pada bagian ini kita hendak menata sikap serta arah pembinaan Habatakon sejati yang lebih berpengharapan di masa depan. Sebelum melakukan hal itu, penting kita membaca beberapa premis modern yang mencirikan masyarakat masa kini terlebih ditinjau dari segi perkembangan kebebasan dan hak asasi manusia. Barulah sesudahnya kita hendak merumuskan sikap dan pedoman bina Habatakon yang lebih seimbang.

A. Premis-premis Pengandaian

Adalah benar bahwa sekarang ini, mayoritas sangat besar dari betahan Utara Tanah Batak telah menganut Kekristenan. Para penganut budaya dan agama Batak tradisional, seperti Parmalim, telah menjadi minoritas yang bersifat sisa-sisa yang tak berarti. Dalam hati timbul pertanyaan: Apakah ini membawa makna ‘pengkhianatan’ kepada Habatakon atau lebih bersifat `sublimasi’?

Analisis jawaban terhadap pertanyaan yang sangat menggugah ini membutuhkan beberapa premis, al: Dunia kita pada abad ke-21 sekarang telah terimbuhi dan dengan sukarela mengampu dimensi-dimensi demokrasi dan globalisasi. Sedangkan dunia pada ke-19, termasuk teologi misi, masih menganut karakter-karakter yang berbeda. Pada abad ke-19 pandangan mengenai Dunia sangat bersifat provensal, sempit dan bergaya sofinisme. Ini bertentangan dengan universalisme lewat globalisasi. Karakter pandangan provensalisme adalah anggapan bahwa merekalah pusat loka dan nilai seluruh dunia. Dunia dan penghuni dunia lain adalah terra incognita, tak dikenal dan asing, bahkan bersifat peyoratif sampai bersifat `musuh’ (khaos), yang adalah untuk ditaklukkan dan ditata lewat pengenaan reksa kepada tohu wa bohu (dunia yang tak berbentuk dan kosong). Pandangan sofinisme ini, terutama lewat semangat ‘nasionalisme’, dikandung juga oleh psike Batak, sebagai salah satu suku Indonesia. Kecenderungan adalah besar untuk menuduh orang yang “berpihak ke `dunia” dan peradaban modern, termasuk menganut agama modern, sebagai pengkhianatan dan pendurhakaan kepada tata masyarakat dan Adat sendiri: Dinyatakan bahwa manusia Batak berasal dari Kayangan, bukan dari debu tanah. Insan pertama, Tantan Debata, adalah moyang perdana Batak. Semua bangsa dan suku lain diturunkan olehnya. Insan Batak (Si Raja Batak) adalah yang utama (R.P. Tampubolon 2002:1:70-79).

Namun fakta ini harus direlatifkan sebagai pandangan dari salah seorang Batak dari 180.000 terbaptis 1918. Jumlah yang sangat besar ini dengan sukarela dan kehendak bebas yang resolut menganut Kekristenan.

Premis kedua ialah semakin disadarinya tuntutan hak asasi manusia di atas hak “menaklukkan seluruh dunia” (Kej 1:28). Sedangkan hak menentukan keyakinan dan iman termasuk hak yang paling asasi (Kons. Vat. II DH, 6:8; U UD-45 ps. 28:E:1).

Premis ketiga ialah sikap dan teologi yang mendasari karya misi Gereja kristen mengalami pergeseran pendulum dari sikap memandang negatif bahkan “kafir” penganut agama lain, kepada sikap yang lebih positif, bahkan mengakui terdapatnya kebenaran, kebaikan dan keindahan pada agama lain, betapa pun sederhana, embrional dan tidak sempurna (Kons. Vat. II, NA 3:1-10). Menuju global village, dianut adalah upaya menuju “persaudaraan sejati”, antar-penganut agama, kelompok, bangsa dan negara; pendeknya antar-segenap umat manusia, agar penuh kerjasama dan dalam perdamaian lestari: “Kehendak yang kuat untuk menghormati sesama dan bangsa-bangsa lain, serta martabat mereka, begitu pula kesungguhan menghayati persaudaraan secara nyata, mutlak perlu untuk mewujudkan perdamaian. Demikianlah perdamaian merupakan buah dari cintakasih, yang masih melampaui apa yang dapat dicapai melalui keadilan” (GS 78:13-19).

B. Merumuskan Sikap Bina Habatakon

Memberlakukan keadilan dan tuntutan hak asasi rnanusia, pada era kita sekarang, kita harus merumuskan ulang sikap-sikap dasar kita terhadap Habatakon. Sikap kristiani ini tidak cukup memberi dasar-dasar dari masa lalu, betapa pun valid dan valabelnya, sebab dunia sudah berubah dan secara tak terhindarkan menuju globalisasi. Kita tidak perlu menangisi masa lalu. Kita hendak menyesuaikan pendulum tatanan sehingga bersifat lebih seimbang, selaras dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah dasar Kekristenan.

1. Menghormati Hak Yang Paling Asasi

Berlaku sebagai kompendium hak asasi manusia, yang harus dihormati setiap orang karena martabat insaninya ialah: “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya” (UUD-1945 ps.28:E: 2). Menjadi hak yang “paling asasi” adalah: “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya” (Ibid. ps. 28:E:1).

Mengenakannya kepada kelompok penganut agama Parmalim, yang kita ketengahkan sebagai salah satu permasalahan dalam bina Habatakon kita harus mengakui hak yang paling asasi bagi mereka, sehingga segala kendala harus disingkirkan, termasuk membatasi penerbitan Kartu Penduduk bagi mereka, apa pun. agamanya, Mereka harus diakui menyandang hak asasi penuh: Meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya” dan “bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya.”

Alasan yang kita pegang ada dua, yakni: Pertama, tuntutan harkat kemanusiaan bahwa kita harus menghormati dan mengakui kebebasan bagi setiap orang untuk meyakini, menganut dan mempraktekkan kepercayaan dan agamanya. Kedua ialah penghormatan bahwa mereka rnenyandang sepenuhnya hak membela Habatakon menurut keyakinan dan versi mereka. Keyakinan dan versi ini diakui bersumber dari akarakar dan sumber-sumber Habatakon sendiri.

2. Pengabaran lnjil dan Misi Kristen Akomodatif

Dari Tuhan diterima perintah: “Wartakanlah Injil kepada segala bangsa” (Mk 16:16). Gereja tidak boleh dan tidak dapat mengabaikan perintah Tuhan dan Pengutusnya.

Tetapi dalam mengabarkan Kabar Baik (Injil), dalam missio ad gentes (kepada Non-Kristen, termasuk Batak), Gereja harus ingat: Oleh rahrnat penjelmaan Yesus Kristus, ke datam agama-agama, budaya, paguyuban dan pribadi manusia, telah ditaburkan “benih-benih Sabda” (logos spermatikos), yang menjadi “benih-benih,” “kebenaran dan hal-hal baik” serta “yang suci” dalam agama-agama, termasuk Batak. Tentang kebenaran, hal-hal yang baik dan hal-hal yang indah, yang terdapat dalam agama-agama, Gereja berpesan: “Apa pun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka [agama, budaya, paguyuban dan pribadi bangsa-bangsa], oleh Gereja, dipandang sebagai persiapan Injil (praeparatio evangelica), dan sebagai karunia dari Dia [Tuhan Yesus Kristus], yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan” (Kons. Vat. II, LG 16:19-20).

Penegasan ini mengimplikasikan tiga hal, yang mencirikan sikap misi baru (Katolik).

Pertama adalah sikap positif dan menghormati “apa pun yang baik dan benar”, yang terdapat dalam agama, budaya, paguyuban dan pribadi Batak. Alasannya ialah karena, “yang baik dan benar” itu adalah “karunia Tuhan”, yang dianugerahkan sebagai rahmat bagi “persiapan Injil.”

Sikap misiologis yang positif dan adaptatif seperti ini, apalagi langsung mengakui unsur-unsur yang baik dan benar dalam agama dan budaya Non-Kristen sebagai “anugerah” atau `rahmat” Allah adalah sungguh baru dan khas. Dengan ini diusir segala sikap-sikap yang berpandangan negatif terhadap agama, adat dan tatakrama Batak. Dan tataran budaya Batak dibidas dari sebutan-sebutan atau cap imputif sama rata, sebagai “sipelebegu”, “sipelesumangot” “sipelesombaon”, “kafir” “Iblis”, dsb. Benar bahwa, terutama dalam agama Batak, tetapi juga dalam agama Kristen, kita harus mengawaskan dan mewaspadai pengaruh “dosa pusaka” dari Adam: Sering mereka “ditipu oleh si Jahat, sehingga jatuh ke dalam pikiran-pikiran yang sesat, dan mengubah kebenaran Allah menjadi dusta, serta mengabdi kepada ciptaan [mis. Sombaon, yang adalah arwah unggul dari nenek moyang, maka adalah ciptaan] daripada Sang Pencipta (lih. Rm 1:21.25)” (Ibid. 16:21-24). Tetapi bahaya yang sama mengancam juga orang Kristen.

Kedua adalah misi “penyingkapan benih-benih Sabda.” Unsur-unsur “baik dan benar”, yang diakui sebagai “benih-benih Sabda”, sebagaimana terdapat dalam budaya dan adat Batak, adalah untuk “dicari, disingkapkan dan didulang” menjadi permata-permata indah dari “karunia Allah.” Ditegaskan oleh Gereja Katolik, agar “Umat Katolik dengan gembira serta penuh hormat menyingkapkan benih-benih Sabda yang terpendam di dalamnya” (Kons. Vat. II, AG 11:13-14). Sikap dan pandangan positif yang seperti ini pastilah akan menghindarkan orang Katolik dari “pembakaran ulos”. Sebaliknya, menjadi misi Utama Katolik adalah “agar, dengan penghargaan dan cinta kasih menggabungkan diri dengan sesama, menyadari diri sebagai anggota masyarakat di lingkungan mereka, dan ikut-serta dalam kehidupan budaya dan sosial, melalui aneka cara pergaulan hidup manusiawi dan pelbagai kegiatan. Hendaknya mereka sungguh mengerti tradisi-tradisi kebangsaan dan keagamaan mereka” (Kons. Vat. Il, AG 11:10-13). Orang Katolik, dengan suruhan seperti ini, tentulah harus paham dan bergaul akrab dengan peristiwa-peristiwa adat, seperti perkawinan, adat Dalihan Natolu, bahkan dalam acara-acara “gondang yang baik dan benar, ” penyucian pangir, dsb. Sebab dalam semuanya itu, pasti terdapat unsur-unsur yang “baik dan benar”, yang membutuhkan penyucian dan permuliaan. Pendeknya, buah-hasil dari sikap dan upaya mereka dalam menghadapi agama, adat dan kebiasaan Batak, haruslah bermuara kepada penggabungan diri kepada sesama penduduk Batak, menjadi anggota masyarakat di lingkungan Batak dan ikut serta dalam kehidupan budaya dan sosial. Sikap dan pendirian seperti ini bertolak-belakang dengan sikap curiga, memandang “kafir” atau malumalu mencari jarak dari lingkungan adat dan kegiatan kemasyarakatan.

Dalam mengamalkan perintah “menyingkapkan benih-benih Sabda”, kita proposalkan supaya mengadakan pengkajian, penelitian dan analisis pada bidang-bidang: Gondang Mulamula dan Gondang Sombasomba dalam kerangka menata sikap sembah manusia sebagai ciptaan di hadapan Sang Khalik. Juga supaya mengadakan upaya yang sama dalam menyingkapkan benih-benih Sabda pada bakti kurban Horbobius sebagai persiapan Injil yang tampan bagi pemahaman Sakramen Ekaristi. Juga ajaran mengenai pernikahan dan Dalihan Natolu, dalam kerangka memantapkan keutuhan pernikahan dan landasan demokratisasi.

Ketiga adalah misi permuliaan (sublimasi) unsur-unsur baik dan benar dari budaya dan adat Batak. Sungguh, Gereja Katolik sangat menghargai unsur-unsur “baik dan benar yang diperintahkannya untuk “disingkapkan”, artinya “digali” dan “disublimasikan”. Lebih dahulu ditegaskan: “Gereja Katolik tidak menolak apa pun, yang baik dan suci dalam agama-agama” (Kons. Vat. II, NA 2:20-21). Ini berarti bahwa Gereja Katolik “menyingkapkan dan menyambut dengan terbuka unsur-unsur yang baik dan suci” dalam agama Batak.

Pertanyaannya, sesudah, “menyambutnya” akan dipengapakan unsur-unsur yang baik dan suci itu? Jawabannya juga cukup gamblang dengan berkata: Unsur-unsur itu adalah untuk disublimasikan lantas diramu dalam liturgi Gereja, sebagai pujian tertinggi kepada Allah: “Gereja memelihara dan memajukan kekayaan yang menghiasi jiwa pelbagai suku dan bangsa. Apa saja dalam adat kebiasaan para bangsa, yang tidak secara mutlak terikat pada takhyul atau ajaran sesat, oleh Gereja dipertimbangkan dengan murah hati, dan bila mungkin dipeliharanya dalam keadaan baik dan utuh. Bahkan ada kalanya Gereja menampungnya dalam Liturgi sendiri, asal saja selaras dengan hakekat semangat Liturgi yang sejati dan asli” (Kons. Vat. 11, SC 37). Secara konkret, rumusan ini berarti bahwa gondang mulamula dan gondang somba tidak ditabukan masuk liturgi dan ritual Gereja. Sebab kedua gondang ini, bukan saja tidak “mutlak terikat pada takhyul”, bahkan sebaliknya sangat tampan untuk mengggalang sikap takwa manusia di depan Pencipta. Itu sebabnya Gereja Katolik terbuka untuk mengadopsi gondang dalam Liturgi. Tetapi distingsi dipegang: Gondang Sumangot, yang menyembah arwah nenek moyang sebagai “Tuhan”, samasekali terlarang diampu dalam Liturgi, sebab arwah nenek moyang adalah ciptaan. Kita tidak boleh menyembah ciptaan. Gondang Sumangot dengan itu memang “secara mutlak terikat pada takhul” atau “kafir.”

Pada dasarnya, baik gondang, terompet atau poti marende, sama saja bersifat netral sebagai hasil budaya manusia. Semua unsur budaya manusia dapat saja bersifat salah atau baik, sesuai dengan tujuan dan pemberian makna kepadanya.

3. Pemetaan Fungsi Pemerintah, Agama dan Adat

Pemetaan fungsi ini pantas menurut pembagian tiga kelompok utama komponen pembangun Kabupaten Samosir, yakni jajaran Pemerintah, kelompok Agama dan kelompok Adat tradisional. Pemetaan ini harus memperkenalkan kerangka tatanan Adat agar dapat berlangsung mantap dan lestari.

 

 

a. Fungsi Jajaran Pemerintah

Tak dapat dipungkiri bahwa dalam tata kemasyarakatan dan bernegara sekarang, motor dan penggerak pembangunan adalah Pemerintah. Pemerintah menyandang fasilitas administratif, personil dan modal, yang sangat menentukan, mengatasi kemampuan perorangan warga ataupun kelompok. Kepemimpinan Pemerintah dalam mengatur masyarakat dan kemajuan kesejahteraan rakyat sangatlah menonjol.

Pertanyaannya bagaimana memetakannya dalam tatanan Adat yang mapan. Kemantapan dan kelestarian pembangunan yang berkesinambungan sangat ditentukan oleh kejelian penempatan posisi dan peranannya dalam stelsel Adat kemasyarakatan.

Kiranya fungsi jajaran Pemerintah dapat dipetakan dalam beberapa titel fungsi dan peranan.

Pertama, Pemerintah patut ditempatkan sebagai Raja Huta. Raja Huta selalu menyandang kuasa eksekutif tertinggi. Baik dalam menentukan membuka tali air, memulai enterprise baru, bahkan menentukan perang antar kampong. Raja Huta senantiasa menyandang kuasa eksekutif tertinggi. Ini sangat cocok dengan peranan superior dari Pemerintah bagi kemajuan masyarakat wilayah.

Kemudian kepada jajaran Trias Politika dapat diatribusikan peranan Pargomgom fungsi pargomgom, terutama dalam masyakat kerajaan, sangat dekat. dengan administrasi pemerintahan. Haknya untuk menyandang personil pelaksana pemerintahan, seperti Parbaringin (pemerintahan), Parhudamdam (serdadu) dan opas, pangulu dsb, sudah dikandung oleh fungsi Pargomgom.

Sangat-dekat dengan fungsi Pargomgom, tetapi khusus bagi kepe milikan tanah, adalah fungsi Sipungka Huta; atau Sisuan Bulu. Sipungka huta menyandang hak untuk pembagian tanah dan perluasan tanah (Vergouwen). Tetapi Sipungka Huta kurang akrab dengan profesi administrasi wilayah.

Apa pun ceritanya, seorang kepala pernerintahan atau jajaran pemerintahan tidak akan berfungsi dalam masyarakat apabila tidak mempunyai cukup pemahaman mengenai seluk beluk tatanan dan nilai nilai Adat. Seorang anggota jajaran pemerintahan haruslah menguasai tata adat dan beberapa umpasa penyampai ide, agar dapat berkomunikasi dan bekerja sama dengan masyarakat.

Magna Charta seorang pamong daerah adalah umpasa berikut; Hamu ma, arnang, pandapotan di uhum, natading nijalahi; pamuro na so mantat sior, parmahan na so mantat bataki; na di pudi dipaima: na di. jo!o dieaki; pangalualuan ni nabile, pangompapasan ni na maliali.

Dia harus mahir dan proaktif dalam masalah pembangunan, dengan kemampuan engeneering dan kepemimpinan yang tangguh, komunikatif dan, persuasif yang tinggi. Kehadiran dan kepemimpinannya harus sanggup menggugah dan menggerakkan orang-orang loyo dan kurang bersemangat. Dia adalah pamuro yang tanpa panah, tetapi kerajinannya mengunjungi serta meninjau rakyatnya sembari menyemangati adalah sarana yang sangbt efektif. Bagi rakyat yang putus asa, sebagai pangalualuan ni na bile, dia harus menjadi pendukung dan penghibur yang berbakat.

Bahwa ia harus menjadi pandapotan di uhum mengandung tiga makna yang penting: la harus mahir akan seluk-beluk hukum dan peraturan sehingga tidak terancam oleh PTUN atau tuntutan ketidak-adilan. Kedua ialah kebutuhan pemenuhan hukum penggunaan keuangan dan transparansi akuntabilitas keuangan, juga bagi rakyatnya.l a.tidak boleh korupsi atau melanggar tata aturan keuangan lewat nepotisme, koncoisme atau persekongkolan. Dia diharapkan menjadi tokoh kesepakatan, tetapi tidak boleh menjadi anggota persekongkolan. Record tracknya tidak boleh berbelang.

Ketiga ialah tuntutan bakat visioner untuk melihat ke.depan, sehingga tindakan-tindakan antisipatif menjadi bagian dari kehandalannya. Hal ini berhubungan dengan hubungan yang efektif-harmonis dengan garis-garis. Hubungan kerja pemerintahan, vertikal atau horizontal. Harapan kita ialah agar Pemerintah mernprakarsai suatu gerakan -pembangunan rumah dan bangunan lainnya dari Pemerintah dan penduduk bergaya tradisional. Dengan demikian; identitas gaya dan budaya langsung terungkap yang sangat menarik bagi wisatawan. domestik dan mancanegara. Tetapi gaya dan langgam bangunan tradisional ini pantas dikreasi baru agar praktis dan menarik. Gambar bangunannya pantas disediakan oleh Pemerintah.

b: Masyarakat Agama

Dalam tatanan Adat-kemasyarakatan, kelompok agama lebih tepat disejajarkan dengan kelompok Parmalim. Parmalim ini mengasyikkan diri pada ajarah agama dan etika kernasyarakatan. Secara lebih berkebajikan, ia menyandang tata hidup yang lebih suci, man of God, dan menyandang keutamaan yang terhormat.

Tetapi kelompok agama sekarang juga adalah agen-agen pembangunan yang handal: pendidikan; kesehatan, kebudayaan, dan peiayanan diakonia. Karena itu, bingkai Parmalim saja; tidak memadai. Dia harus diperluas kepada fungsi Parbaringin, yakni fungsi eksekusi profesi khas untuk kemajuan masyarakat.

Dalam pilihan primadonna pembangunan adalah soft tourism, seperti di Kabupaten Samosir, maka pemahaman yang diharapkan disandang oleh tokoh agama adalah menyangkut tiga masa.

Untuk masa lalu, tokoh agama diharapkan bukan saja mengetahui sejarah semantik ajaran agamanya, tetapi juga mengenai asal-usul dan mitologi Batak, tata adat yang lebih mendasar, pemahaman budaya Batak yang lebih luas dan pemahaman ketatanegaraan dan ideologi bangsa yang berlaku mapan.

Sedangkan untuk masa kini, ia bukan saja menjadi pemangku prinsip “berjiwakan Yesus Kristus dan berbajukan budaya Batak”, tetapi ia juga harus mampu menjadi implementer dari keduanya secara jitu dan up to date. Misalnya dalam bidang budaya dan Adat Batak, ia harus mampu menerjemahkannya sedemikian rupa sehingga menjadi unsur pengungkit kemajuan bagi pariwisata. Celaka akan timbul bila tokoh agama menjadi bodoh atau bahkan penghalang bagi budaya dan Adat setempat. Sebab soft tourism sangat bergantung pada kemampuannya menerjemahkan dan mengaplikasikan secara etis dan entrepreneur-ship bagi kemajuan kesejahteraan masyarakat. Misatnya, program pembangunan di kompleks pastoran Katolik sekarang harus memenuhi persyaratan: Profil kultural sehingga menjadi cultural garden. Juga harus menyandang- fasilitas dan penanganan bidang pengembangan budaya: museum, bina ketrampilan budaya dan penjiwa serta penggerak kebudayaan Batak.

Dilihat ke masa depan, peranan tokoh agama hendaknya sigap mengadakan aggiomamento (pembacaan tanda-tanda zaman). Hal ini berlaku buat bidang keagamaan, seperti ethos dan perayaan liturgi yang up to date. Pada bidang ajaran sosial harus sanggup menangkap arus dan arah kemajuan zaman. Termasuk pendidikan haruslah bersifat inovatif dan renovatif sehingga sanggup menjawab kebutuhan zaman. Sekolah yang bertaraf internasiona! dan serentak patriotik adalah kebutuhan.

c. Masyarakat Adat

Profesi masyarakat Adat adalah bidang Adat dan kebudayaan Batak. Justru karena stelsel Dalihan Natolu sangat handal dalam pengembangan demokrasi, maka perhatian untuk penajaman dan pembaharuan bidang ini pantas dipertegas. Penyederhanaan dan penajaman kiranya sangat didambakan.

Kelompok ini harus menemukan formula yang handal bagi menjawab keluhan bahwa pelaksanaan Adat terlalu berteletele dan boros waktu. Juga konsumtisme Adat pantas lebih diperlincah dan diperramping.

Masyarakat Adat di Kabupaten Samosir sekarang ini sangat ditantang dalam hal kepemilikan tanah. Tantangan itu datang dan kaidah pengembangan kesejahteraan bidang ekonomi, seperti dilansir oleh tokoh pemenang Hadiah Nobel, Mohammad Junus, dan temannya Desoto dari Amerika Latin. Tantangan dasarnya adalah bagaimana mengubah lahan tidur menjadi lahan produktif atau enterprise ekonomi.

(Sebuah Kutipan)

Batak dalam Hikayat

Konon, perjalanan etnis Batak dimulai dari seorang raja yang mempunyai dua orang putra. Putra sulung diberi nama Lontungon dan kedua diberi nama Isumbaon. Setelah keduanya dewasa, mereka menghadap sang ayah yang juga raja di daerah itu. Kedua anaknya meminta ilmu sakti. Sang ayah menyanggupi, namun dengan syarat keduanya harus membangun tempat persembahan di atas bukit yang bernama Pusuk Buhit. Setelah itu, selama tujuh hari tujuh malam kedua anaknya tidak bisa ke tempat itu sebelum waktu yang ditentukan tiba. Setelah tujuh hari tujuh malam terlewati, sang Raja beserta kedua anaknya pergi ke Pusuk Buhit. Di sana, mereka menemukan dua buku yang disebut sebagai buku Laklak bertuliskan surat batak.

Sang Raja menyuruh si sulung mengambil buku itu, dan meminta apa yang mau dimintanya kepada sang pencipta. Saat itu, si sulung meminta kekuatan, kebesaran, rezeki, keturunan juga kepintaran, kerajaan, kesaktian dan tempat berkarya untuk semua orang. Permintaan si bungsu pun sama. Sang Raja mengubah nama si sulung menjadi Guru Tatea Bulan. Konon, Guru Tatea Bulan dengan lima putranya yakni Raja Geleng Gumeleng si sulung, Seribu Raja, Limbong Mulana, Segala Raja, si Lau Raja dan empat putrinya yakni si Boru Pareme kawin ke Seribu Raja (Ibotona) abang kandungnya. Bunga Haumasan kawin dengan Sumba. Atti Hasumasan kawin ke Saragi, dan Nan Tinjo konon jadi Palaua Malau.

Suatu hari, Seribu Raja menghadap ayahnya untuk memberitahukan mimpinya. Dalam mimpi itu ia mengatakan agar ayahnya mengantarkannya ke Pusuk Buhit. Di sana dia tampak menjadi seorang yang sakti dan kelak abang dan adikadiknya tunduk dan menyembahnya. Ayahnya tertegun dan bertanya lagi. Tapi yang menjawab adalah Geleng Gumeleng, padahal yang bermimpi adalah Seribu Raja.Saat itu juga Geleng Gumeleng berkeinginan untuk bisa ke Pusuk Buhit.Ayahnya mendukung Geleng Gumeleng pergi ke Pusuk Buhit, tapi Seribu Raja tak mau mengalah. Sehingga terjadi pertengkaran dan Seribu Raja pergi meninggalkan ayahnya.

Di Pusuk Buhit, Sang ayah menempa Raja Geleng Gumeleng menjadi raja sakti yang namanya diubah Raja Uti. Sementara Seribu Raja yang melarikan diri ke hutan tidak mau lagi menemui ayahnya Guru Tatea Bulan. Raja Lontung Dalam penelusuran penulis di Samosir diceritakan pada suatu hari ketika Seribu Raja sedang beristirahat dalam pengembaraannya, lewatlah seorang gadis cantik yang sangat jelita bak bidadari dari kayangan dan menarik perhatian Seribu Raja. Karena tertariknya, Seribu Raja pun membuat pelet (mistik penangkap wanita) supaya wanita itu lengket. Pelet itu diletakkan di atas tanah yang akan dilewati gadis cantik jelita itu.

Tapi apa yang direncanakan Seribu Raja bukanlah menjadi kenyataan karena takdir berkata lain dan justru yang lewat dari tempat tersebut adalah adik perempuannya sendiri bernama Siboru Pareme yang datang mengantar makanan untuk Seribu Raja. Boru Pareme yang tadinya biasa-biasa saja, menjadi jatuh cinta kepada abangnya padahal dalam adat Batak hal itu sangat tabu. Tetapi karena pelet Seribu Raja, semua berubah hingga akhirnya mereka menjadi suami istri.

Ketika Guru Tatea Bulan mendengar kedua anaknya telah menikah, dia murka dan mengusir Seribu Raja. Sebelum pergi, Seribu Raja memberikan sebuah cincin kepada adik yang juga istrinya dan berpesan bila anaknya lahir diberi nama Si Raja Lontung.

Raja Borbor

Dalam pengembaraannya, Seribu Raja bertemu dengan seorang raja yang bergelar Raja Ni Homang. Tetapi dalam pertemuan itu terjadi pertarungan antara Seribu Raja dengan Raja Ni Homang. Kalau Seribu Raja kalah akan menjadi anak tangga ke rumah Raja Ni Homang dan bila Raja Ni Homang kalah, maka anak gadisnya akan diperistri oleh Seribu Raja.Pertarungan itu dimenangkan Seribu Raja. Tetapi sebelum dipersunting oleh Seribu Raja, sang putri raja itu ingin membuktikan kehebatan Seribu Raja. Maka gadis itu menyuruh Seribu Raja untuk mengambil daun pohon hatindi yang tumbuh di atas embun pati dengan syarat Seribu Raja harus tetap ada ditempatnya berdiri. Dan, bila sudah dapat dia bersedia menjadi istrinya.

Seribu Raja menyanggupi permintaan Boru Mangiring Laut. Dengan tiba-tiba tangan Seribu Raja dikibarkan ke atas kepalanya mengakibatkan angin di tempat itu menjadi kencang dan daun hartindi itu terbang ke tangannya. Bunga itu pun diberikannya kepada Boru Mangiring Laut. Setelah menikah, nama Boru Mangiring Laut diganti menjadi Huta Lollung, artinya kalah bertanding. Tak lama kemudian, boru Mangiring hamil namun Seribu Raja tidak menunggu kelahiran anaknya. Dia akan melanjutkan pengembaraannya.Dan, sebelum pergi dia emberikan sebuah cincin sakti. Pesan terakhir Seribu Raja, bila anaknya lahir diberi nama Raja Borbor.

Pertemuan Raja Lontung-Raja Borbor Konon, setelah dewasa Raja Lontung berangkat enelusuri hutan untuk mencari ayahnya Seribu Raja. Suatu hari Raja Lontung merasa sangat haus.Dia pun beristirahat barang sejenak. Di bawah pohon rindang, Raja Lontung mengambil pedangnya dan memotong salah satu akar pohon rotan untuk mengambil airnya. Tetapi bila dia mengangkat akar rotan itu ke mulutnya, tiba-tiba lepas karena ada yang menariknya dari sebelah. Begitulah yang terjadi sampai tiga kali.

Raja Lontung marah. Pasti ada orang yang mempermainkannya. Sekali lagi Raja Lontung enarik rotan itu kuat-kuat sehingga terjadi tarik menarik. Karena rasa kesal yang teramat sangat Raja Lontung berseru : “Jangan ganggu saya”.

Namun, akhirnya terjadi perkelahian dengan orang yang belum dikenal oleh Raja Lontung. asing-masing mereka mengeluarkan ilmu sakti namun tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Akhirnya keduanya berkenalan. Lawan si Raja Lontung adalah Raja Borbor. Saat itu mereka saling bertanya siapa ayah mereka sebenarnya. Keduanya terkejut sebab ayah mereka adalah Seribu Raja. Akhirnya mereka mencari Seribu Raja.

Sumber : http://impbmedan.wordpress.com

479 Marga Batak

Marga-marga Batak, disusun sesuai alphabet berjumlah 479, sebagai berikut :

A.

1. AMBARITA 2. AMPAPAGA (SIAMPAPAGA) 3. AMPUN (NAHAMPUNGAN) 4. ANGKAT 5. ANGKAT SINGKAPAL 6. ARITONANG 7. ARUAN

B.

8. BABIAT 9. BAHO (NAIBAHO) 10. BAKO 11. BANJARNAHOR (NAINGGOLAN)

12. BANJARNAHOR (MARBUN) 13. BANCIN 14. BAKKARA 15. BARINGBING (TAMPUBOLON) 16. BARUARA (TAMBUNAN) 17. BARUTU (SITUMORANG) 18. BARUTU (SINAGA) 19. BATUARA (NAINGGOLAN) 20. BATUBARA 21. BERASA 22. BARAMPU 23. BARINGIN 24. BINJORI 25. BINTANG 26. BOANGMANALU 27. BOLIALA 28. BONDAR 29. BORBOR 30. BUATON 31. BUNUREA (BANUAREA) 32. BUNJORI 33. BUTARBUTAR

D.

34. DABUTAR (SIDABUTAR ?) 35. DAIRI (SIMANULLANG) 36. DAIRI (SINAMBELA) 37. DALIMUNTA (MUNTE ?) 38. DAPARI 39. DAULAE 40. DEBATARAJA (SIMAMORA) 41. DEBATARAJA (RAMBE) 42. DOLOKSARIBU 43. DONGORAN 44. DOSI (PARDOSI)

G.

45. GAJAA 46. GAJADIRI 47. GAJAMANIK 48. GIRSANG 49. GORAT 50. GULTOM 51. GURNING 52. GUSAR

H.

53. HABEAHAN 54. HARAHAP 55. HARIANJA 56. HARO 57. HAROHARO 58. HASIBUAN 59. HASUGIAN 60. HUTABALIAN 61. HUTABARAT 62. HUTAJULU 63. HUTAGALUNG 64. HUTAGAOL (LONTUNG) 65. HUTAGAOL (SUMBA) 66. HUTAHAEAN 67. HUTAPEA 68. HUTASOIT 69. HUTASUHUT 70. HUTATORUAN 71. HUTAURUK

K.

72. KASOGIHAN 73. KUDADIRI

L.

74. LAMBE 75. LIMBONG 76. LINGGA 77. LONTUNG 78. LUBIS 79. LUBIS HATONOPAN 80. LUBIS SINGASORO 81. LUMBANBATU 82. LUMBANDOLOK 83. LUMBANGAOL (MARBUN) 84. LUMBANGAOL (TAMBUNAN) 85. LUMBAN NAHOR (SITUMORANG) 86. LUMBANPANDE (SITUMORANG) 87. LUMBANPANDE (PANDIANGAN) 88. LUMBANPEA (TAMBUNAN) 89. LUMBANRAJA 90. LUMBAN SIANTAR 91. LUMBANTOBING 92. LUMBANTORUAN (SIRINGORINGO) 93. LUMBANTORUAN (SIHOMBING) 94. LUMBANTUNGKUP

M.

95. MAHA 96. MAHABUNGA 97. MAHARAJA 98. MALAU 99. MALIAM 100. MANALU (TOGA SIMAMORA) 101. MANALU-RAMBE 102. MANALU (BOANG) 103. MANIK 104. MANIK URUK 105. MANURUNG 106. MARBUN 107. MARBUN SEHUN 108. MARDOSI 109. MARPAUNG 110. MARTUMPU 111. MATANIARI 112. MATONDANG 113. MEHA 114. MEKAMEKA 115. MISMIS 116. MUKUR 117. MUNGKUR 118. MUNTE (NAIMUNTE ?)

N.

119. NABABAN 120. NABUNGKE 121. NADAPDAP 122. NADEAK 123. NAHAMPUN 124. NAHULAE 125. NAIBAHO 126. NAIBORHU 127. NAIMUNTE 128. NAIPOSPOS 129. NAINGGOLAN 130. NAPITU 131. NAPITUPULU 132. NASUTION 133. NASUTION BOTOTAN 134. NASUTION LONCAT 135. NASUTION TANGGA AMBENG 136. NASUTION SIMANGGINTIR 137. NASUTION MANGGIS 138. NASUTION JORING

O.

139. OMPUSUNGGU 140. OMPU MANUNGKOLLANGIT

P. 141. PADANG (SITUMORANG0 142. PADANG (BATANGHARI0 143. PANGARAJI (TAMBUNAN) 144. PAKPAHAN 145. PAMAN 146. PANDEURUK 147. PANDIANGAN-LUMBANPANDE 148. PANDIANGAN SITANGGUBANG 149. PANDIANAGN SITURANGKE 150. PANJAITAN 151. PANE 152. PANGARIBUAN 153. PANGGABEAN 154. PANGKAR 155. PAPAGA 156. PARAPAT 157. PARDABUAN 158. PARDEDE 159. PARDOSI-DAIRI 160. PARDOSI (SIAGIAN) 161. PARHUSIP 162. PASARIBU 163. PASE 164. PASI 165. PINAYUNGAN 166. PINARIK 167. PINTUBATU 168. POHAN 169. PORTI 170. POSPOS 171. PULUNGAN 172. PURBA (TOGA SIMAMORA) 173. PURBA (RAMBE) 174. PUSUK

R.

175. RAJAGUKGUK 176. RAMBE-PURBA 177. RAMBE-MANALU 178. RAMBE-DEBATARAJA 179. RANGKUTI-DANO 180. RANGKUTI-PANE 181. REA 182. RIMOBUNGA 183. RITONGA 184. RUMAHOMBAR 185. RUMAHORBO 186. RUMAPEA 187. RUMASINGAP 188. RUMASONDI

S.

189. SAGALA 190. SAGALA-BANGUNREA 191. SAGALA-HUTABAGAS 192. SAGALA HUTAURAT 193. SAING 194. SAMBO 195. SAMOSIR 196. SAPA 197. SARAGI (SAMOSIR) 198. SARAGIH (SIMALUNGUN) 199. SARAAN (SERAAN) 200. SARUKSUK 201. SARUMPAET 202. SEUN (SEHUN) 203. SIADARI 204. SIAGIAN (SIREGAR) 205. SIAGIAN (TUAN DIBANGARNA) 206. SIAHAAN (NAINGGOLAN) 207. SIAHAAN (TUAN SOMANIMBIL) 208. SIAHAAN HINALANG 209. SIAHAAN BALIGE 210. SIAHAAN LUMBANGORAT 211. SIAHAAN TARABUNGA 212. SIAHAAN SIBUNTUON 213. SIALLAGAN 214. SIAMPAPAGA 215. SIANIPAR 216. SIANTURI 217. SIBANGEBENGE 218. SIBARANI 219. SIBARINGBING 220. SIBORO 221. SIBORUTOROP 222. SIBUEA 223. SIBURIAN 224. SIDABALOK 225. SIDABANG 226. SINABANG 227. SIDEBANG 228. SIDABARIBA 229. SINABARIBA 230. SIDABUNGKE 231. SIDABUTAR (SARAGI) 232. SIDABUTAR (SILAHISABUNGAN) 233. SIDAHAPINTU 234. SIDARI 235. SIDAURUK 236. SIJABAT 237. SIGALINGGING 238. SIGIRO 239. SIHALOHO 240. SIHITE 241. SIHOMBING 242. SIHOTANG 243. SIKETANG 244. SIJABAT 245. SILABAN 246. SILAE 247. SILAEN 248. SILALAHI 249. SILALI 250. SILEANG 251. SILITONGA 252. SILO 253. SIMAIBANG 254. SIMALANGO 255. SIMAMORA 256. SIMANDALAHI 257. SIMANJORANG 258. SIMANJUNTAK 259. SIMANGUNSONG 260. SIMANIHURUK 261. SIMANULLANG 262. SIMANUNGKALIT 263. SIMARANGKIR (SIMORANGKIR) 264. SIMAREMARE 265. SIMARGOLANG 266. SIMARMATA 267. SIMARSOIT 268. SIMATUPANG 269. SEMBIRING-MEHA 270. SEMBIRING-MELIALA 271. SIMBOLON 272. SINABANG 273. SINABARIBA 274. SINAGA 275. SIBAGARIANG 276. SINAMBELA-HUMBANG 277. SINAMBELA DAIRI 278. SINAMO 279. SINGKAPAL 280. SINURAT 281. SIPAHUTAR 282. SIPAYUNG 283. SIPANGKAR 284. SIPANGPANG 285. SIPARDABUAN 286. SIRAIT 287. SIRANDOS 288. SIREGAR 289. SIRINGKIRON 290. SIRINGORINGO 291. SIRUMAPEA 292. SIRUMASONDI 293. SITANGGANG 294. SITANGGUBANG 295. SITARIHORAN 296. SITINDAON 297. SITINJAK 298. SITIO 299. SITOGATOROP 300. SITOHANG URUK 301. SITOHANG TONGATONGA 302. SITOHANG TORUAN 303. SITOMPUL 304. SITORANG (SITUMORANG) 305. SITORBANDOLOK 306. SITORUS 307. SITUMEANG 308. SITUMORANG-LUMBANPANDE 309. SITUMORANG-LUMBAN NAHOR 310. SITUMORANG-SUHUTNIHUTA 311. SITUMORANG-SIRINGORINGO 312. SITUMORANG-SITOGANG URUK 313. SITUMORANG SITOHANG TONGATONGA 314. SITUMORANG SITOHANGTORUAN 315. SITUNGKIR 316. SITURANGKE 317. SOBU 318. SOLIA 319. SOLIN 320. SORGANIMUSU 321. SORMIN 322. SUHUTNIHUTA-SITUMORANG 323. SUHUTNIHUTA-SINAGA 324. SUHUTNIHUTA-PANDIANGAN 325. SUMBA 326. SUNGE 327. SUNGGU

T.

328. TAMBA 329. TAMBAK 330. TAMBUNAN BARUARA 331. TAMBUNAN LUMBANGAOL 332. TAMBUNAN LUMPANPEA 333. TAMBUNAN PAGARAJI 334. TAMBUNAN SUNGE 335. TAMPUBOLON 336. TAMPUBOLON BARIMBING 337. TAMPUBOLON SILAEN 338. TAKKAR 339. TANJUNG 340. TARIHORAN 341. TENDANG 342. TINAMBUNAN 343. TINENDUNG 344. TOGATOROP 345. TOMOK 346. TORBANDOLOK 347. TUMANGGOR 348. TURNIP 349. TURUTAN Tj ( C). 350. TJAPA (CAPA) 351. TJAMBO (CAMBO) 352. TJIBERO (CIBERO)

U.

353. UJUNG-RIMOBUNGA 354. UJUNG-SARIBU KAROKARO 355. KAROKARO BARUS 356. KAROKARO BUKIT 357. KAROKARO GURUSINGA 358. KAROKARO JUNG 359. KAROKARO KALOKO 360. KAROKARO KACARIBU 361. KAR0KARO KESOGIHAN 362. KAROKARO KETAREN 363. KAROKARO KODADIRI 364. KAROKARO PURBA 365. KAROKARO SINURAYA (dari sian raya) 366. KAROKARO SEKALI 367. KAROKARO SIKEMIT 368. KAROKARO SINABULAN 369. KAROKARO SINUAJI 370. KAROKARO SINUKABAN 371. KAROKARO SINULINGGA 372. KAROKARO SIMURA 373. KAROKARO SITEPU 374. KAROKARO SURBAKTI TARIGAN 375. TARIGAN BANDANG 376. TARIGAN GANAGANA 377. TARIGAN GERNENG 378. TARIGAN GIRSANG 379. TARIGAN JAMPANG 380. TARIGAN PURBA 381. TARIGAN SILANGIT 382. TARIGAN TAMBAK 383. TARIGAN TAMBUN 384. TARIGAN TAGUR 385. TARIGAN TUA 386. TARIGAN CIBERO PERANGINANGIN 387. PERANGINANGIN-BENJERANG 388. PERANGINANGIN BANGUN 389. PERANGINANGIN KABAK 390. PERANGINANGIN KACINABU 391. PERANGINANGIN KELIAT 392. PERANGINANGIN LAKSA 393. PERANGINANGIN MANO 394. PERANGINANGIN NAMOHAJI 395. PERANGINANGIN PANGGARUN 396. PERANGINANGIN PENCAWAN 397. PERANGINANGIN PARBESI 398. PERANGINANGIN PERASIH 399. PERANGINANGIN PINEM 400. PERANGINANGIN SINUBAYANG 401. PERANGINANGIN SINGARIMBUM 402. PERANGINANGIN SINURAT 403. PERANGINANGIN SUKATENDE 404. PERANGINANGIN ULUJANDI 405. PERANGINANGIN UWIR GINTING 406. GINTING BAHO 407. GINTING BERAS 408. GINTING GURUPATIH 409. GINTING JADIBATA 410. GINTING JAWAK 411. GINTING MANIK 412. GINTING MUNTE 413. GINTING PASE 414. GINTING SIGARAMATA 415. GINTING SARAGIH 416. GINTING SINUSINGAN 417. GINTING SUGIHEN 418. GINTING SINUSUKA 419. GINTING TUMANGGER 420. GINTING CAPA SEMBIRING 421. SEMBIRING-BRAHMANA 422. SEMBIRING BUNUHAJI 423. SEMBIRING BUSUK (PU) 424. SEMBIRING DEPARI 425. SEMBIRING GALUK 426. SEMBIRING GURU KINAYA 427. SEMBIRING KELING 428. SEMBIRING KALOKO 429. SEMBIRING KEMBAREN 430. SEMBIRING MELIALA 431. SEMBIRING MUHAM 432. SEMBIRING PANDEBAYANG 433. SEMBIRING PANDIA 434. SEMBIRING PELAWI 435. SEMBIRING SINULAKI 436. SEMBIRING SINUPAYUNG 437. SEMBIRING SINUKAPAR 438. SEMBIRING TAKANG 439. SEMBIRING SOLIA MARGA SILEBAN MASUK TU BATAK SINAGA 440. SINAGA NADIHAYANGHOTORAN 441. SINAGA NADIHAYANGBODAT 442. SINAGA SIDABARIBA 443. SINAGA SIDAGURGUR 444. SINAGA SIDAHAPINTU 445. SINAGA SIDAHASUHUT 446. SINAGA SIALLAGAN 447. SINAGA PORTI DAMANIK 448. DAMANIK-AMBARITA 449. DAMANIK BARIBA 450. DAMANIK GURNING 451. DAMANIK MALAU 452. DAMANIK TOMOK SARAGI 453. SARAGIH-DJAWAK 454. SARAGIH DAMUNTE 455. SARAGIH DASALAK 456. SARAGIH GARINGGING 457. SARAGIH SIMARMATA 458. SARAGIH SITANGGANG 459. SARAGIH SUMBAYAK 460. SARAGIH TURNIP PURBA 461. PURBA BAWANG 462. PURBA DAGAMBIR 463. PURBA DASUHA 464. PURBA GIRSANG 465. PURBA PAKPAK 466. PUBA SIIDADOLOK 467. PURBA TAMBAK HALAK SILEBAN NA MASUK TU MARGA NI BATAK 468. BARAT ( SIAN HUTABARAT) 469. BAUMI (MSRINGAN DI MANDAILING) 470. BULUARA ( MARINGANAN DI SINGKIL) 471. GOCI (MARINGANAN DI SINGKIL) 472. KUMBI (MARINGANAN DI SINGKIL) 473. MASOPANG (DASOPANG) SIAN HASIBUAN 474. MARDIA (MARINGAN DI MANDAILING) 475. MELAYU (Maringan di Singkel) SIAN MALAU 476. NASUTION (deba mangakui siahaan do nasida pomparan ni si Badoar [sangti] 477. PALIS ( MARINGAN DI SINGKILDOLOK) 478. RAMIN (MARINGAN DI SINGKIL) 479. RANGKUTI ( didok deba nasida, turunan ni Sultan Zulqarnain sian Asia tu Mandailing) ——-

479 marga Batak, dikutip dari buku: Ruhut-ruhut ni Adat Batak. Karya: Alm. H.B. Situmorang BPK Gunung Mulia, Jakarta – 1983

Asal-usul Batak

Sejarah Batak

Penelusuran sejarah, sebuah upaya yang bagi sebagian orang merupakan pekerjaan “kurang pekerjaan”. Tetapi, jika difikir lebih dalam, setiap manusia pernah atau paling tidak sekali dalam hidupnya pernah berkecmuk tanya, “saya ini dari mana awalnya?”, “suku kami dari mana datangnya”, “Batak ini darimana asal muasalnya?”

Nah, walaupun tidak bisa menjawab secara tepat atau utuh, tulisan pendek ini bisa jadi dibuat sebagai “pengganggu” fikiran kita untuk mulai melakukan pencarian jawaban tentang Apa dan Bagaimana Batak?

Versi sejarah mengatakan Si Raja Batak dan rombongannya datang dari Thailand, terus ke Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula Mula, lebih kurang 8 km arah Barat Pangururan, pinggiran Danau Toba sekarang. Versi lain mengatakan, dari India melalui Barus atau dari Alas Gayo berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba.

Diperkirakan Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke- 13). Raja Sisingamangaraja XII salah satu keturunan Si Raja Batak yang merupakan generasi ke-19 (wafat 1907), maka anaknya bernama Si Raja Buntal adalah generasi ke-20.

Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan COLA dari India menyerang SRIWIJAYA yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang TAMIL di Barus.

Pada tahun 1275 MOJOPAHIT menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar rahun 1.400 kerajaan NAKUR berkuasa di sebelah Timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.

Dengan memperhatikan tahun tahun dan kejadian di atas diperkirakan: Si Raja Batak adalah seorang aktivis kerajaan dari Timur Danau Toba (Simalungun sekarang), dari Selatan Danau Toba (Portibi) atau dari Barat Danau Toba (Barus) yang mengungsi ke pedalaman, akibat terjadi konflik dengan orang-orang Tamil di Barus. Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya, Si Raja Batak yang ketika itu pejabat Sriwijaya yang ditempatkan di Portibi, Padang Lawas dan sebelah Timur Danau Toba (Simalungun).

Sebutan Raja kepada Si Raja Batak diberikan oleh keturunannya karena penghormatan, bukan karena rakyat menghamba kepadanya. Demikian halnya keturunan Si Raja Batak seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan, dsb. Meskipun tidak memiliki wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah. Selanjutnya menurut buku TAROMBO BORBOR MARSADA anak Si Raja Batak ada 3 (tiga) orang yaitu : GURU TETEA BULAN, RAJA ISUMBAON dan TOGA LAUT. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya marga-marga batak

Sumber: disarikan dari buku “LELUHUR MARGA MARGA BATAK, DALAM SEJARAH

SILSILAH DAN LEGENDA” cet. ke-2 (1997) oleh Drs Richard Sinaga,

Penerbit Dian Utama, Jakarta

Batak, Apa Artinya?

Sudah sejak lama sebutan (perkataan) Batak sebagai nama salah satu etnis di Indonesia diteliti dan diperbincangkan banyak orang asal kata atau pengertiannya. Bahkan melalui beberapa penerbitan suratkabar pada awal abad 20 atau juga masa sebelumnya, pernah terjadi polemik antara sejumlah penulis yang intinya memperdebatkan apa sebenarnya pengertian kata (nama) Batak, dan dari mana asal muasal nama itu.

Di suratkabar Pewarta Deli No. 82 tahun 1919 misalnya, polemik yang paling terkenal adalah antara seorang penulis yang memakai nama samaran “Batak na so Tarporso” dengan J. Simanjutak. Keduanya saling mempertahankan pendirian dengan argumentasi masing-masing, serta polemik di surat kabar tersebut sempat berkepanjangan. Demikian pula di suratkabar keliling mingguan yang di terbitkan HKBP pada edisi tahun 1919 dan 1920, perbincangan mengenai arti sebutan Batak itu cukup ramai dimunculkan.

Seorang penulis memakai inisial “JS” dalam tulisan pendeknya di suratkabar Imanuel edisi 17 Agustus 1919, akhirnya menyatakan diri tampil sebagai penengah di antara silang pendapat tersebut. JS dalam tulisannya antara lain mengutip buku berjudul “Riwayat Poelaoe Soematra” karangan Dja Endar Moeda (alm) yang diterbitkan tahun 1903, yang pada halaman 64 cuplikannya sebagai berikut : “Adapoen bangsa yang mendoedoeki residetie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” itoe pengertiannya : orang pandai berkuda. Masih ada kata Batak yang terpakai, jaitoe “mamatak”, yang artinya menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan/red BONA) kepada bangsa itoe…”

keterangan serupa juga dikemukakan Dr. J. Warneck (Ephorus HKBP) dalam bukunya berjudul “Tobabataksch-Deutsche Woterbuch” seperti tertulis di halaman 26.

Menurut JS yang beralamat di Pangaribuan seperti tertulis di suratkabar Imanuel, tuan L.Th. Meyer juga menulis dalam bukunya berjudul “Maleisch Hollandsch Wordenboek“, pada halaman 37 : “Batak, Naam van een volksstamin in Sumatra…” (Batak adalah nama satu Bangsa di pulau Sumatra).

Keterangan itu dituturkan JS dalam tulisan pendeknya sebagai meluruskan adanya anggapan ketika itu seolah-olah perkataan Batak memberi pengertian terhadap suatu aliran/kepercayaan tentang agama tertentu yang dikembangkan pihak tertentu mendiskreditkan citra orang Batak.

Citra Keperkasaan

Menyimak beragam catatan tentang topik yang sama, ternyata pada umumnya kata Batak meyiratkan defenisi-defenisi tentang keberanian atau keperkasaan. Sebab menurut Amborsius Hutabarat dalam sebuah catatannya di suratkabar Bintang Batak tahun 1938 menyimpulkan, pengertian Batak sebagai orang yang mahir menaiki kuda memberi gambaran pula bahwa suku itu dikenal sebagai suku yang memiliki jiwa keras, berani, perkasa. Kuda merupakan perlambang kejantanan, keberanian di medan perang, atau kegagahan dalam menghadapi bahaya/rintangan.

Drs DJ Gultom Raja Marpodang menulis adanya teori mengatakan bahwa suku Batak adalah Si-Batak Hoda yang artinya suku pemacu kuda. Asal usul suku Batak berdasarkan teori adalah pendatang dari Hindia Belanda sekitar Asia Tenggara sekarang memasuki pulau Sumatera pada masa perpindahan bangsa-bangsa di Asia. (Buku Dalihan Natolu, Nilai Budaya Suku Batak, hal 32 cetakan 1992).

Drs DJ Gultom dengan bersusah payah telah melakukan serangkaian penyelidikan intensif seputar arti kata Batak, dengan membaca sejarah, legende, mithologi, termasuk wawancara dengan orang-orang tua, budayawan dan tokoh adat.

Beberapa perkataan “batak” antara lain dalam bahasa Batak Pakpak Dairi berbunyi : “Mmas Batakn mahan gmgmmn laho mahan tabungn, biat ni kata mahan sungkunn mndahi kalak sipantas singg ddang radumn“. Maksudnya adalah bahwa mmas batak dijadikan warisan (homitan) dibuat menjadi tapak sirih, sudah sepantasnya tempat untuk bertanya itu adalah orang yang mengetahui. Penggertian kata mmas batak dalam umpasa itu disimpulkan sebagai serbuk emas dulangan menjadi emas murni atau logam mulia. Dengan demikian pengertian batakn pada masyarakat Dairi adalah asli, sejati, murni, atau mulia. Sebutan kata Batak pada masyarakat Dairi konon sangat bermakna, tak bisa sembarangan disebut, sehingga kata batak itu seperti disucikan.

Temuan perkataan “batak” pada Batak Karo antara lain adalah : Mbatak-mbatakken jenujung si Tongat kari berngi“. Maksudnya, nanti malam akan diadakan mbatak-mbatakken jenujung si Tongat. Masyarakat Karo berpandangan bahwa seorang manusia ada jenujungnya (junjungan) yang selalu mendampingi. Jenujung adalah roh yang mengikuti seseorang, dan sering membantu seseorang itu disaat dia terancam bahaya. Apabila jenujung seseorang meninggalkan atau tidak lagi mengikutinya alamat yang bersangkutan akan mendapatkan bahaya atau sakit-sakitan. Usaha agar jenujung seseorang kembali mengikutinya harus dengan melaksanakan upacara spritual. Itulah yang disebut orang Karo mbatak-mbataken. Dengan pengertian ringkas sebutan tersebut adalah suatu usaha suci agar seseorang tetap sehat kuat selamat sentausa. Masih ada ungkapan pada bahasa Karo berbunyi “Ibatakkenmin adah nda“, artinya bentuklah tempat itu. maksudnya apabila seseorang hendak mendirikan rumah, langkah pertama adalah meratakan tanah pertapakan didahului suatu kegiatan ritual agar rumah yang dibangun menjadi tempat yang sehat sejahtera bagi penghuninya. Itu dimaksud pula untuk pembuatan pundasi yang kuat agar rumah yang dibangun kokoh. Jadi pengertian ibatakken atau batak pada masyarakat Karo adalah usaha yang suci agar sehat dan kuat.

Adapun temuan perkataan “batak” pada bahasa Batak Simalungun, antara lain ” Patinggi ma batohon i, ase dear sabahtaon“. Artinya, tinggikanlah batohan agar bagus sawah kita ini. Sawah yang terletak di pinggir sungai atau di lereng gunung sering rusak karena banjir. Untuk mencegahnya, maka di pinggir sawah dibuat benteng yang kuat penahan serangan banjir. Itu sebabnya, ada ungkapan “patinggi ma batohan i, ase dear sabahtaon”. Jadi pengertian Batahon pada masyarakat Simalungun adalah tumpuan kekuatan untuk menahan bahaya serangan.

Di Pilipina konon ada satu pulau yang bernama Batac (huruf “c” dibelakang). Di pulau itulah terdapat masyarakat yang banyak memiliki persamaan budaya dan bahasa dengan orang Batak Toba di Sumatera Utara. Konon pengertian kata “batac” di sana juga mencerminkan makna sesuatu yang kokoh, kuat, tegar, berani, perkasa? Seperti pernah diturunkan dalam satu tulisan di media Liputan Bona Pasogit beberapa waktu lalu, orang Pilipina terutama yang berasal dari kawasan daerah Batac di sana, merasa berada di negaranya saat berkunjung ke Sumatera Utara. Mereka menemukan pula sejumlah perkataan yang sebutan dan artinya sama dengan yang ada di negaranya. Misalnya kata “mangan” (makan), “inong” (inang), “ulu” (kepala), “sangsang” (daging babi cincang dimasak pakai darahnya) dan banyak lagi.

Apakah ada pula hubungan kata Batak dengan “batu bata” atau batako (batu yang dibuat persegi empat memakai semen) yang digunakan untuk bangun-bangunan? Belum diketahui persis. Tapi arti kata “batu bata” dari “batako” juga dilukiskan sebagai bermaknaa kuat, kokoh, tahan lama. Sehingga bisa juga mendekati pengertian Batohan pada bahasa Simalungun.

Catatan yang penulis uraikan ini mungkin belum tentu sudah menjadi pengertian final tentang arti sebutan /kata Batak. Tapi berdasarkan berbagai catatan yang dikemukakan diatas, barangkali satu sama lain cukup mendekati untuk dirumuskan menjadi suatu kesimpulan. Apabila sebutan Batak itu berasal dari perkataan “mamatak” (penunggang kuda) kita mungkin bisa membayangkan kedekatan sejarah nama itu dengan karakter dan gaya hidup para leluhur di masa lampau yang diwarnai perjuangan, pertarungan, pertempuran, keberanian menghadapi berbagai tantangan demi mempertahankan eksistensinya.

Kuda selalu di ilustrasikan menjadi simbol keberanian, keperkasaan, keuletan dan jiwa kejuangan. Di jaman dulu, siapa tahu, orang Batak menggunakan kuda dalam merintis perkampungan ke daerah-daerah pedalaman, atau saat bertarung dengan musuh-musuhnya. Mungkin karena itu pula, lukisan Sinsingamagaraja XII oleh Agustin Sibarani dibuat menunggang kuda sehingga nampak lebih menekankan keperkasaan seorang tokoh pejuang. Sementara hingga saat ini di berbagai pelosok daerah terpencil di Tanah Batak, masih banyak penduduk yang menggunakan jasa kuda meskipun hanya sebatas pengangkutan barang.

Mungkin diantara pembaca masih ada yang memiliki catatan atau dokumen yang masih bisa memperkaya wacana seputar asal kata atau pengertian sebutan Batak, tentu akan sangat bermanfaat untuk melengkapi tulisan yang sifatnya masih terbatas ini.

(Dari berbagai sumber).

Sibagot ni Pohan

“HODONG DO PAHU, HOLI-HOLI SAKKALIA.
“HODO AHU, HITA NA MARSADA INA.
Hata na uli jala na tigor do hata ni umpama i, opat do tutu Sibagot ni Pohan saina, tubu ni Inanta Soripada Nantuan Dihutarea, Anak ni Tuan Sorimangaraja II, ima:

  1. Sibagot ni Pohan
  2. Sipaettua
  3. Silahisabungan
  4. Siraja Oloan

Dungi tolu tubu ni Inanta Soripada Borubasopaet, ima:

  1. Sumba II
  2. Toga Sobu
  3. Toga Pospos

Di laon laon ni ari dung mate sarimatua Tuan Sorimangaraja gabe Sibagot ni Pohan do muse junjungan ni harajaon, sitiop tampuk ni adat dohot tampuk ni uhum di tano Baligeraja singkat ni amana i. Jolma na bisuk do Sibagot ni Pohan, pangoloi jala parasiroha, alani bisukna do umbahen buhar borngin pinompar ni Boru Basopaet sian tano Baligeraja, ndang dohot porang manang bada, angkal do di bahen ibana asa sampak mudar ni nasida na sahuta i; dang dope di lele, nunga laho maringkati” buhar nasida ditinggalhon hutanai; “mulang bodari”

Hasurungan ni Sibagot ni Pohan sian donganna “panganju” ibana di angka anggina na tolu i, tung dipatunduk jala di patorutoru do rohana laho manganju nasida.

Sitiop tampuk ni adat, patik dohot uhum di harajaon i, ibana do mamantikhon Baringin Bius Godang di tano Baligeraja; “Bius Patane Bale Onan Balige, hasahatan ni solu, hasampean ni hole”. Digoari do di tonggo-tonggo tano Balige i songon on:

Tano Balige tano Baligeraja, tano marpidan-pidan, tano marpolin-polin.
Tano na sinolupan. tano binalean, tinombang ni Ompunta Tuan Sorimangaraja, Raja Ulu ni Ubi.
Raja tiang ni tano, raja na so olo matua, raja na so olo mate.
Asa tano Baligeraja do rapot pamuraion, jala portangisan ni na ro!”

Songon i ma goar ni tano Baligeraja i ditorsahon Ompunta Sibagot ni Pohan i, tangis do angka na ro marsolu sian bariba ni aek molo diborong alogo laut dohot alogo lubis, tangis do angka na ro sian dolok Humbang molo tarborong dibahen udan, ala ingkon mardalan nasida sian rahis-rahis dohot dalan na landit jala na sompit songon paronan ni Huta Ginjang rupani. Rapot pamuraion na nidokna so sundat disampak aek na mardalan solu; so sundat mamolus nambur, jala martitir hodokna paronan na ro sian Dolok manuati dohot manganakhohi dolok-dolok i, dihunti gadongna dohot bingkauna laho tu Onan Baligeraja, ditapol tugona diompa-ompa poso-posona. Hape atik pe songon i, ingkot rapot,ingkon runggu do tu Onan Baligeraja i; ala di Onan i do partingkian, mangalap dohot manaruhon angka ngolu-ngolu dohot janji-janji dohot angka na asing.

MAMANTIKHON BARINGIN BIUS GODANG

“Habang ma sitapi-tapi, songgop siruba-ruba

“Patik na so jadi mose, uhum na so jadi muba
Dung laho be angka anggi ni Sibagot ni Pohan na mardandi i manopot tano naung niriritan nasida hian:

  • Sipaetua laho dompak Laguboti
  • Silahisabungan dompak Silalahi Nabolak
  • Siraja Oloan dompak Pangururan boti tu Bakara

Di laon-laon ni ari, dijujur Sibagot ni Pohan ma ari laho mamantikkon Baringin Bius Godang di tano Baligeraja, asa di gurguri onan i na jadi Bius Godang di pinompar ni Sibagot ni Pohan manuan hau baringin, jabi-jabi dohot hariara. Asa gabe tuko na so sibutbuton gadu naso sisosaan ma angka hau sinuan na di Onan i, partanda ma i di paronan, harungguan dohot partungkoan di angka Raja Jungjungan, Raja Naopat, Raja Nauwalu, Raja Nasampuludua dohot angka Raja Parbaringin, Datu Bolon dohot Sibaso Bolon

Dungi di torsahon Sibagot ni Pohan ma torsa ni Harajaon Bius i, diatur ma sian anakna na opat i:

  1. Tuan Sihubil
  2. Tuan Somanimbil
  3. Tuan Dibangarna
  4. Raja Sonakmalela

dipasu-pasu ma asa gabe Pusaka Harajaon i manguluhon Bius Godang i “Bius Patane Onan Balige” Jala ditotaphon ma tu nasida be songon i sahat tu pinomparna

Songon on ma partonding ni harajaon na sinantikhon na i:

Bagian parjolo

  1. Harajaon Pande Nabolon, ima Tuan Sihubil sahat tu pinomparna
  2. Harajaon Pande Raja, ima Tuan Somanimbil sahat tu pinomparna
  3. Harajaon Pande Mulia, ima Tuan Dibangarna sahat tu pinomparna
  4. Harajaon Pande Namora, ima Raja Sonakmalela sahat tu pinomparna

Bagian paduahon

  1. Harajaon Saniangnaga, paidua ni Pande Nabolon
  2. Harajaon Parsinabul (Hinalang), paidua ni Pande Raja
  3. Harajaon Parsirambe (Patuatgaja),Paidua ni Pande Mulia
  4. Harajaon Mamburbulang (Parjuguk), paidua ni Pande Namora

Bagian patoluhon

  1. Harajaon Undotsolu (Raja Laut)
  2. Harajaon Panguluraja (Ulu Porang)
  3. Harajaon Pande Aek (Parhauma)-Pnagulaon
  4. Harajaon Panguludalu (Parpinahanon)

Asa songon i ma partording ni Harajaon di Bius Godang, Bona Pasogit di pinompar ni Ompunta Tuan Sorimangaraja, di tano Baligeraja tinombangna i jala anak sihahaan ma ibana sian ompunta Tuan Sorbanibanua.

  • Asa na opat parjolo i ma junjungan ni Bius i, di adat Hadewataon Adat Batak (Ugamo Batak)
  • Na dibagian paduahon i ma di Horja dohot Luat gabe Raja Naualu
  • Na di bagian patoluhon i ma pangatur, sijaga pintu julu dohot pintu jae

“Bagot na madungdung ma tu pilo-pilo marajar
Asa tinggal ma nalungun sai ro ma na jagar”

Dung buhar tubu ni Boru Basopaet, sian Lumban Gala-gala, Lobu parserahan i, tarsubut ma ingkon mangan horbo sakti tubu ni Nai Tukaon, asa tambakhonon nasida Siraja Hutalima anggi nasida naung mate i.

dung rumbuk tahu nasida Sibagot ni Pohan dohot anggina na tolu i: Sipaetua, Silahisabungan dohot Siraja Oloan, disuru ma anggina na tolu i mamulung tu harangan, Sipaetua ma sibuat hotang harihir ni horbo, Silahisabungan sibuat haundolok borotan ni horbo i, Siraja Oloan ma sibuat hauanak dohot sijagoran jungjung buhit ni borotan i (ranting ni hau slom, baringin, sanggar, ompu-ompu dohot angka na asing)

Dung i laho ma nasida, dihondor ma solu dalan nasida, alai hasit do roha nasida mida hahana Sibagot ni Pohan i, ala nasida disuru adong do naposo siparbagaon. Borhat ma nasida Sipaetua pangabarasi di jolo, Silahisabungan pamoltok ditonga-tonga si Raja Oloan ma pangamudi di pudi. Sahat ma nasida tu harangan Pealeok diririti nasida ma jolo harangan i sukup do adong disi sipulungon nasida i.

Dungi laho ma nasida jumolo tu tano Laguboti manghakapi tano i di ida nasida ma denggan tano i bahen parhaumaan, sukup aek jala hornop. On ma muse diahu puang ninna Sipaetua.

Dungi laho muse nasida marsolu dompak mangori-ngori dolok dohot tor sahat ma nasida tu Silalahi mamolus tao na bolak i, diida nasida ma tano i denggan boi parhaumaan dohot taoi gabe pandaraman. Jadi didok Silahisabungan ma: On ma di ahu ninna.

Sian i muse, malluga ma nasida mangori-ngori dolok dohot tor, dibolus nasida ma tano ponggol na di Pangururan (panoguan do goar ni tano ponggol i). Dungi muse sahat ma nasida tu Bakkara, dung di ida nasida denggan tano i, bahen parhaumaan didok Siraja Oloan ma: On ma diahu ninna.

Dungi mulak ma nasida muse tu Paselok hasahatan parjolo i, dionggopi nasida ma, manang na pasauton ni haha nasida i do Saktirea i nang so disi nasida. Jala molo dipasaut ima bonsir parsirangan bahenon nasida dompak hahana i. Dung sai dibilangi nasida ari sian parborhat nasida i, sahat tu parmulakna i marpingkir ma nasida naung dipasaut hahani Saktirea i.

Ianggo Sibagot ni Pohan dung sai dipaima-ima ndang marnaro angka anggina i, marsak do rohana aik beha na adong mara nasida di harangan i, dung saep ndang ro be sahat tu ari na tiniti, bulan na pinillit, jala nunga huhut mandasdas amanta Datu dohot Inanta Boru Sibaso, dihudus ma angka naposo mamulung dohot mambuat borotan sian angka huta di bagasan horja i (on ma na nidokna nunga tare parasoman)

Dung rade sude, dibona ma gondang i, dipasaut Sibagot ni Pohan ma ulaon Saktirea i. Aturan pitu ari hian lelengna, gabe tolu ari nama dibahen Sibagot ni Pohan, ala nunga sai hambirang rohana di langka ni angka anggina i.

Ia dung dibege angka anggina i lengesna naung salpu Horja Saktirea i, roma anggina na tolu i mamboan pulung-pulungan nialap nasida i, tar manimbas be ma dompak jolo ni Sibagot ni Pohan mandok: “Ia i ba! Na so uhum na so adat do binahenmi dompak hami, burju rohanami mangoloi hatam mangalap pulung-pulungan, hape tung mamulik do roham di hami, asa holan ho manortori gondang Saktirea i

Dung muruk jala piri-pirion ma nasida, morpasa-pasa ma nasida tu Sibagot ni Pohan didok ma: “molo tung na hombar ma habinahenmi tu hami diruhut ni paranggion dipulik ho hami. asa ho mangkasuhurhon Sakti i, ba horas ho, horas nang hami! Alai anggo na magalaosi do ho, di adat ni Opunta dohot Amanta, ba tung ho ma na sari disi haha-doli, ninna”.

Dungi dialusi Sibagot ni Pohan ma: “Beasa pola marpasa-pasa hamu na tolu dompak ahu na rap suhut do hita, hamu do na malelenghu dang marnaro, gariada huraksahon do hamu, hurimpu na adong maramu di parlaho mui, ai ndang patut songon i lelengna, ulaon sadari do gabe saminggu lelengna hamu, dungi muse nunga dapot titi ni ari, nunga tare parasoman, nunga manghudus Datu dohot Sibaso, ingkon mamona na di gondang i ba ido umbahen pinasaut” Alai hudok pe songon i manganju ma ahu di hamu: “Pauk-pauk hudali ma, pago-pago tarugit, na tading niulahan, na sega pinauli”. na boi ulahan do na tading, na boi paulion do na sega. Ba dos rohanta mangan horbo sakti sahalinari horbonta do horbo, doalta do doal, palampot hamu be ma ate-atemu dohot rohamu, ninna Sibagot ni Pohan mandong anggina na tolu i.

Dungi di oloi angka anggina i ma pardengganan i, asa diulakhon muse margondang mangaliat horbo. Alai andorang so dititi nasida dope ari, direngget nasida ma jolo taringot tu parjambaran, manang songon dia parpeakna. Didok nasida ma: “Sipaetuama ihur-ihur, Silahisabungan ma sijalo hulang-hulang, Siraja Oloan ma pura-pura”

Dung dibege Sibagot ni Pohan i pandok nasida taringot tu jambar-jambar i, didok ma: “Ianggo parjamabaron songon na pinangidomu i, ndang tingkos i. Angat dohot na so adat do i, ai jambar suhut do i sude sibahenon tu raga-raga (pangumbari) di panganon horbo sakti, mangihuthon adat ni Amanta”, ninna. (Diboto nasida do Sibagot ni Pohan Raja Jolo hundul di rumabolon jabu bona, ingananni raga-raga parsibasoan i, singkat ni ama. Alai lupa do nasida “ndang na matean ama nasida ianggo adong do hahana).

Dung i di dok nasida na tolu ma tu Sibagot ni Pohan: “ianggo songon i do dohononmu ba di ho do hape jambar i sude, alani i ndang olo be hami domu dohot mangoloi hatam tumagon ma hami sirang laho sian on, asa haru bulus roham. Asa tung timus ni api nami pe dompak ho, ingkon intopan nami, gaol nami pe molo dompak ho sombana i (santungna) ingkon tampulon nami. Asa gabe i ma gabem, ndang na ro di ho be hami. Jala muse tung na so jadi songon horjami bahenon nami horjanami”

Songon i ma dalan parsirangan ni Sipaetua, Silahisabungan dohot Siraja Oloan sian hahana Sibagot ni Pohan

“MARTUMBA MA AILI, MARJOJING BABI DALU”
SADA MANDOK TIAS, DUA MANDOK MALU”

Dung so dapot be pardengganan taringot tu porjambaron i, songon pinagidoan nasida sada mandok tias, dua mandok malu, saut ma marruntus ma nasida maninggalhon Sibagot ni Pohan, martiptip marolangolang ma nasida tung timus ni apina ingkon intopanna dohot santung ni gaolna ingkon tampulonna molo dompak Sibagot ni Pohan.

Jadi dung laho nasida, martutup jala marbula ma muse nasida mandok: “Tung na so jadi oloan manang pardomuhonon nasida be Sibagot ni Pohan manang tu ro pe mangelek-elek nasida” Jla molo tung ro pe manopot hita sada-sada lehet do alusan di hata, alai masigilingan ma hita mandok songon on: “Aha ma ianggo ahu, sian si Anu ma elek” songon-songon i ma dohonon ni nasada dohot na sadanari, masigilingan ma hata nasida asa jut rohana jala loja ibana sonon i ma hata parbulanan nasida,

Dung sae nasida na marbulan i laho ma Sipaettua mangihuthon padan nasida dompak Laguboti tu tano naniriritna tinodona i. Laho Silahisabungan dompak Silalahi Nabolak tu tano naung tinodo na i. Songon i Siraja Oloanlaho ma dompak Bakkara tu tano naung ni idana i.

Di si ma di bahen nasida be ma asa asing-asing adatna di Horja mangaliat horbo sian na binahen ni Sibagot ni Pohan. Alai anggo Siraja Oloan, diuba dohot di ose do muse padan dohot bulanna i, ai gabe dos do pangulahonna dohot Sibagot ni Pohan di horja mangaliat horbo i. Ala tarsunggul do tu rohana hatigoran dohot hasintongan di an niidana dohot na binotona taringot tu sakti rea binahen ni amana Tuan Sorimangaraja II. Di ida do raga-raga gantung di rumabolon marsi guri-guri sijonggi, piso surik dohot daung simaligas dohot daung napandang, jonok tu pangumbari pamelean di jabu, molo pamelean di alaman manang di balian, ima langgatan si tolu suhi-suhi si tolu goli-goli.

“TINAMPUL BULUNG SIHUPI, PINARSAONG BULUNG SIHALA,
UNANG TARSOLSOL DI PUDI, NDADA SIPAINGOT SOADA”

Dilaon-laon ni ari disada tingki masa do logo ni ari sinanggar-nanggar di tano Baligeraja, marsik do gulu-guluan dohot mual, rahar sua-suanan mosok dohot duhut-duhut dibahen logo ni ari i, jadi nunga tung hasit dapot ngolu ni halak dohot pinahan maesa do roha mahiang daging melos bohi sai holan na mangholsoi, marangkup do muse sahit butuha dohot ngenge nabirong tu jolma dohot pinahan godang do na mate ala ni sahit-sahit i.

Ala ni i di jou Sibagot ni Pohan ma Datu dohot Sibaso partondung na utusan, poralamat pandang torus asa diilik ditondung parmanukon siaji nangkapiring, aha do alana umbahen pola masa songon i. Dung disungkun Datu dohot Sibaso marhite tandung i, tarida ma di jaha-jaha ni tondung parmanukon i songon on: Ingkon marsahata, mardenggan do Sibagot ni Pohan dohot anggina na tolu i, topoton na, elekonna, taguonna molo na mardandi, apulonna molo na tangis. Ai adat Raja do “Sitogu na mardandi dohot siapul na tangis”

Alai nunga matuabulung Sibagot ni Pohan, anak na Tuan Sihubil ma disuru wakilna manopot dohot mangelek-elek angka anggina na tolu i, asa mardenggan nasida, marsiamin-aminan songon lampak ni gaol, marsitungkol-tungkolan songon suhat di robean asa mardame nasida marindahan sinaor, jala borothonon ni Sibagot ni Pohan ma sada horbo ambangan nasida asa ro udan paremean sipagabe na niula.

Dungi laho ma Tuan Sihubil dihondor ma solu bolon huhut mardoal-doal. Jumolo ma ibana sian Laguboti manopot Sipaettua, dungi tu Bakkara manopot Siraja Oloan, sian i muse tu Silalahi monopot Silahisabungan. Alai sai masigilingan hata ma nasida na tolu marningot padan dohot parbulanan nasida. Gabe ndang adong hata na hantus mangolohon nanggo sada sian nasida na tolu. Gabe marsak ma rohani Tuan Sihubil, alai di namulak nasida sian Silalahi, mamolus ma nasida sian Tolping dung dibege isi ni Tolping i suara ni doal i sahat tu pasir nasida rongom ma ro jolma sian huta dohot angka dakdanak na marmahan disi toho muse adong angka ina marsigira di topi pasir i. Dung disungkun ise adong tubu ni Silahisabungan di napungu i pintor di tangkup nasida ma Sigiro gl Raja Parmahan, ima anank ni Pintubatu sian Tolping pahompu ni Silahisabungan ma i sian anak hajut , ima di usung nasida daon impol sian pardalanan nasida i.

Dung i borhat ma nasida muse sian i mangulahi ma muse nasida laho dompak Bakkara mangelek-elek Siraja Oloan. Leleng do jolo sai dijuai marningot padanna dohot Sipaettua dohot Silahisabungan. Alai dung sai dipingkiri ibana taringot tu hasusaan ala ni leleng ni logo ni ari i dohot sahit-sahit na pamate jolma dohot pinahan di tano Bona Pasogit i, mulak ma rohana mangoloi elek-elekna i mardomu muse nunga pola diida Siraja Oloan diboan nasida pahompu ni Silahisabungan hira songon singkat ni langkana.

Ala nunga diloloi Siraja Oloan elek-elek nasida i, dilehon nasida ma tu Siraja Oloan sada ulos Suri-suri Ganjang, dungi rap bothat ma nasida tu tano Baligeraja. Asa gabe adat do muse silehon ulos hahana tu anggina jala mardongan parbue bota-bota. Sahat dope binoto muse sono i di Harajaon Singamangaraja, molo ditopot angka Raja Porbaringin Raja i tu Bakkara, ulos suri-suri ganjang do dilehon dohot parbue bota-bota, songon hamauliateon ni roha marningot adat na sian sijolo-jolo tubui.

Andorang so sahat dope solu nasida tu topi pasir Balige, nunga masibegean soara ni doal sian tao dohot soara ni doal na manomu-nomu di pasir. Manortor ma Raja Solu Tuan Sihubil di ulu ni solu i, mallutuk mardorop ma soara ni hole, dipahusor-husor ma jolo solu i tolu hali dompak tao, ipe asa sipasahat tu pasir. Martopap ma jolma i sude marhoras-horas, diiringhon doal na dua bangunan i Siraja Oloan dohot Siraja Pormahan margondang dalan sahat tu huta.

Dung pajumpang dohot Sibagot ni Pohan nasida na ro i, masitabian masipasauran dama ma nasida huhut tangis be ala ni sihol nasida. Diummai ma dohot Siraja Pormahan, dipabolak ma amak hundulan di jolo ni rumabolon i hundul be ma manangihon barita ni pardalanan ni Tuan Sihubl dohot pardapot ni Siraja Pormahan dohot pangoloi ni Siraja Oloan.

Marsogot na i diborothon nasida ma horbo ambangan i, ditortori Siraja Oloan dohot Siraja Pormahan ma jolo laho mangaliat horbo i, saiu marria-ria marolop-olop jala marhoras-horas ma nasida saluhutna ama dohot ina, dung sae tortor liatan i martonggo ma Sibagot ni Pohan paboahon naung marsahata nasida marsidengganan maruli ni roha. molo tung adong na sintak maebur songon parabit ni na so ra malo, na tu jolo tu pudi songon pamgambe ni paronan, asa gundur pangalumi, ansimu pangalamboki, di na hurang di na lobi asa di lambok-lamboki Mulajadi Nabolon, Dewata Natolu dohot Sahala ni Ompu dohot Ama.

Dung i amanta Datu dohot Boru Sibaso ma muse martonggo manggoki gondang i, pintor mardobor-dobor ma langit paboa udan. Ro ma udan mansai gogo situtu. “Mago do logo ni ari tolu taon onom bulan dibahen udan sadari” pintor rata ma duhut-duhut. Siraja Oloan pe di pataru ma muse mulak tu Bakkara.

Sumber: Pusata Tumbaga Holing

Sejarah Simanjuntak

Anak pertama Raja Marsundung Simanjuntak (Simanjuntak yang pertama) lahir dari Boru Hasibuan, yaitu Raja Parsuratan Simanjuntak (parhorbo jolo). SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina adalah 3 bersaudara lahir dari Sobosihon Boru Sihotang istri yang berikutnya

Simanjuntak Sitolu Sada Ina yaitu:

  1. Raja Mardaup SImanjuntak
  2. Raja Sitombuk Simanjuntak
  3. Raja Hutabulu Simanjuntak

Mulanya sebutan ‘parhorbo jolo-pudi’ ini merupakan sindiran masyarakat karena pembagian warisan yang aneh oleh RAJA PARSURATAN terhadap adiknya. Sindiran tersebut karna parhorbo jolo sebagai anak sulung tidak adil membagi harta warisan (sawah dan kerbau) sepeninggal ayahanda di Balige. RAJA MARSUNDUNG menikah dengan SOBOSIHON Boru SIHOTANG setelah istrinya Boru HASIBUAN meninggal. RAJA PARSURATAN pernah hampir membunuh SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina sewaktu SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina masih bayi. Ketika RAJA MARDAUP lahir RAJA PARSURATAN hampir membunuhnya namun gagal berkat antisipasi Ompu-nya SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina yaitu SI GODANG ULU (SIHOTANG) maka RAJA MARDAUP selamat. Kisah itu diketahui SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina setelah mereka dewasa, namun SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina tetap tidak pernah menaruh dendam terhadap kakaknya atas pesan dari ibunda tercinta agar SIMANJUNTAK Sitolu Sada Ina tetap menganggap RAJA PARSURATAN sebagai pengganti ayah. Diceritakan oleh CYRUS JALA SIMANJUNTAK (1902-1975) dan Pdt.Ev. SAITUN ROBERTH HASIHOLAN SIMANJUNTAK (1946-2006)

RAJA MARSUNDUNG SIMANJUNTAK adalah anak kedua dari pasangan TUAN SOMANIMBIL dan istrinya Boru LIMBONG. Mereka mempunyai tiga anak, yitu:

  1. SOMBA DEBATA SIAHAAN, menikah dengan Boru LUBIS.
  2. RAJA MARSUNDUNG SIMANJUNTAK, menikah dengan Boru HASIBUAN lalu kemudian setelah duda menikah dengan SOBOSIHON Boru SIHOTANG.
  3. TUAN MARRUJI HUTAGAOL, menikah dengan Boru PASARIB

RAJA MARSUNDUNG menikah dengan Boru HASIBUAN lalu mereka menetap di Hutabulu (sekarang Parlumbanan). Mereka dikaruniai seorang putera bernama RAJA PARSURATAN dan seorang puteri bernama SIPAREME. Kehidupan mereka diberkati dengan banyak sekali ternak kerbau hingga orang sering menyebut RAJA MARSUNDUNG dengan sebutan ‘SIMANJUNTAK PARHORBO’.

Mautpun memisahkan dan RAJA MARSUNDUNG menjadi duda setengah umur. Suatu saat dia sakit parah bahkan dia tak sanggup mengurus dirinya sendiri. Menurut adat Batak Toba yang layak mengurus dia hanya Boru LUBIS yang adalah istri abangnya (akang boru). Kalau Boru PASARIBU yang adalah istri adiknya (anggi boru) pantang saling bicara dengan dia begitu juga menantunya (parumaen) tidak boleh berbicara dengan dia sebab begitu adatnya. Sementara puterinya sendiri, SIPAREME segan mengurusnya sampai perkara yang sangat sensitif.

Kemudian RAJA MARSUNDUNG pulih lalu SOMBA DEBATA SIAHAAN menganjurkan padanya agar dia menikah lagi supaya ada yang mengurusnya kelak apabila dia sakit. Hal ini tidak disetujui RAJA PARSURATAN dan TUAN MARRUJI HUTAGAOL namun, karena fakta dan pengalaman pahitnya, RAJA MARSUNDUNG setuju untuk menikah lagi.

Pada masa itu ada istilah kalau ingin mencari istri pengganti maka sebaiknya pergi menyeberangi danau Toba (versi asli: molo mangalului panoroni ba borhatma tu bariba ni tao Toba). SOMBA DEBATA SIAHAAN dan RAJA MARSUNDUNG pun berangkat ke daerah Si Raja Oloan. Di sana ada seorang lelaki yang agak asing rupa fisiknya. Bentuk kepalanya besar dan dia dinamai RAJA SI GODANG ULU SIHOTANG. Keanehan ini juga tampak pada anak – anaknya sehingga terkadang mereka sering dikucilkan banyak orang sampai – sampai walaupun puterinya sendiri SOBOSIHON berumur banyak belum ada laki – laki yang mau melamarnya hingga RAJA MARSUNDUNG melamarnya.

Kedatangan RAJA MARSUNDUNG melamar SOBOSIHON sangat menggembirakan hati RAJA SI GODANG ULU walaupun yang melamar puterinya adalah seorang duda yang sudah memiliki anak. Namun itu bukan persoalan baginya dan pernikahan secara adat sepenuh (adat na gok) dilakukan. Wali pengantin prianya adalah SOMBA DEBATA SIAHAAN. SOBOSIHON pun menjadi istri RAJA MARSUNDUNG. Mereka bermukim di Parlumbanan (saat narator berkunjung ke daerah Parlumbanan lokasi daerah ini merupakan persawahan).

Setelah tiba waktunya bagi SOBOSIHON untuk melahirkan, beberapa hari sebelumnya dia telah memberi kabar kepada ayahnya tentang keadaannya itu. Namun, perasaan sang calon ibu ini gelisah setelah mendapat mimpi; ketika SOBOSIHON akan mandi di Aek Na Bolon, setelah dia membuka bajunya tiba – tiba petir menyambar buah dadanya sebelah. Mimpi ini juga diberitahukan kepada RAJA SI GODANG ULU. Setelah mendengar kabar dan mimpi puterinya itu dia menyuruh menantu perempuannya (parumaen) berangkat menemui puterinya di Parlumbanan Balige. Padahal menantunya ini baru lima hari selesai melahirkan bayi perempuan namun, karena taat kepada mertuanya dia tetap bersedia pergi disertai tugas dan pesan khusus dari RAJA SI GODANG ULU. Adapun tugas dan pesan itu;

– Memberitahu SOBOSIHON bahwa akan ada bahaya yang mengancam bayinya setelah dia bersalin.

– Apabila bayi yang lahir laki – laki maka bayi itu harus ditukarkan dengan bayi perempuan menantunya ini dan bayi laki – laki itu harus dipangku dan disusui oleh menantu RAJA SI GODANG ULU ini sampai bahaya berlalu.

– Kelak apabila kedua bayi itu sudah dewasa maka mereka sebagai berpariban telah dipertunangkan sejak lahir (dipaorohon).

Sesampainya di Parlumbanan, menantu RAJA SI GODANG ULU atau yang disebut ‘Nantulang Na Burju’ oleh Parhorbo pudi ini, dia mendapati SOBOSIHON sedang bergumul dibantu dukun beranak (sibaso) untuk bersalin. Lalu kemudian lahirlah bayi laki – laki dan setelah dimandikan sang bayi langsung ditukarkan sesuai pesan tadi.

Diadakanlah acara makan bersama (pangharoanion) untuk syukuran kelahiran bayi itu. Seluruh penduduk kampung diundang. Mendengar kabar bahwa adik tirinya adalah laki – laki maka RAJA PARSURATAN menjadi benci dan ingin membunuh adiknya itu sebab menurutnya kelak akan ada pewaris harta ayahnya selain dia.

RAJA PARSURATAN pun datang ke acara itu dan dia membawa pisau penyadap pohon enau di dalam sarung yang terselip di pinggangnya. Kehadirannya membuat semua orang terharu sebab selama ini dia memusihi ibu tirinya, namun di saat kegembiraan dirasakan dan dirayakan ibu tirinya dia turut hadir di sana. itulah penilaian orang kebanyakan. Padahal RAJA PARSURATAN hendak memanfaatkan momen ini untuk membunuh adik tirinya. Lalu dia meminta supaya dia boleh memangku adiknya yang baru lahir itu. Dan bayi yang telah bertukar tadi pun dipangkunya sampai bayi itu basah atau kencing. RAJA PARSURATAN ingin mengganti kain popok adiknya.

Inilah kesempatan bagi RAJA PARSURATAN. Ketika mengganti kain popok adiknya maka dia berencana untuk menyelipkan pisau ketika kain itu dipakaikan. Dia pun meminta kain pengganti itu pada SOBOSIHON. Namun SOBOSIHON takut kalau – kalau RAJA PARSURATAN tahu bahwa bayi yang dipangkunya bukanlah adiknya. Dia mengatakan pada RAJA PARSURATAN supaya biarlah ibu yang mengganti kainnya. Akan tetapi karena RAJA PARSURATAN tetap berkeras untuk mengganti kain adiknya maka orang banyak pun menyuruh SOBOSIHON agar menurutinya.

Saat membuka kain basah bayi yang dipangkunya RAJA PARSURATAN terperanjat karena bayi yang dilihatnya bukanlah bayi laki – laki. Merasa niatnya sudah terbaca maka geramlah hatinya dan dia berdiri lalu melangkahi bayi itu dan berjalan menghampiri SOBOSIHON dan berkata; “Orang mengatakan bahwa yang lahir adalah adikku laki – laki tetapi engkau telah menipuku dengan memberi anak perempuan orang lain untuk aku pangku, inilah bagianmu” RAJA PARSURATAN menghujamkan pisau tepat di dada dan memotong buah dada SOBOSIHON lalu setelah itu lari meninggalkan acara yang dalam keadaan kacau.

RAJA PARSURATAN tidak berhasil menemukan dan membunuh adiknya tetapi buah dada SOBOSIHON ibu tirinya telah menjadi tumbalnya (daupna) maka bayi laki – laki itu diberi nama RAJA MARDAUP. Demikianlah RAJA MARDAUP diselamatkan ‘Nantulang Na Burju’ yang rela menyeberangi danau Toba demi menyampaikan pesan RAJA SI GODANG ULU. Itulah sebabnya sampai sekarang semua keturunan SIMANJUNTAK dari SOBOSIHON sangat menghormati keturunan dari SI GODANG ULU yaitu marga SIHOTANG.

SOBOSIHON melahirkan bayi perempuan. Kabar ini terdengar ke seluruh penduduk daerah Si Bagot Ni Pohan. Namun hal ini tidak meresahkan hati RAJA PARSURATAN sebab dalam tradisi Batak anak perempuan tidak berhak dalam pembagian warisan. Jadi kelahiran adik tiri yang perempuan ini turut menggembirakan RAJA PARSURATAN. Sang bayi diberi nama SI BORU HAGOHAN NAINDO.

Selang beberapa tahun kemudian SOBOSIHON melahirkan lagi. Begini ceritanya sehingga sang bayi diberi nama RAJA SITOMBUK.

Tak henti – hentinya RAJA PARSURATAN mengamati kehidupan ibu tirinya yang dia anggap bisa mengurangi jatah harta warisan untuknya kelak. Dia bertanya kepada orang pintar apa jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan ibunya. Setelah mengetahui bahwa bayi laki – laki jawabannya, dia berusaha merancang kecelakaan agar bayi itu tidak bernyawa saat dilahirkan.

Saat ayah dan ibunya tidak berada di rumah, dia bekerja keras untuk memotong kayu penghalang papan yang ada tepat di sekeliling tiang tengah rumah (tiang siraraisan) dimana setiap ibu rumah tangga yang hendak bersalin akan menyandarkan badannya di tiang itu dan kain pegangan yang dipakai untuk bersalin juga digantungkan di situ.

Adapun maksud RAJA PARSURATAN supaya ketika ibunya bersalin kayu penghalang papan itu rubuh ketika diduduki setelah itu sang bayi akan celaka terhimpit. Apa yang terjadi? Ternyata kayu itu patah sebelum sang bayi lahir dan tembuslah lantai rumah itu.Karena kaget setelah tergeletak di kolong rumah, seketika itu melahirkanlah SOBOSIHON dan bayinya selamat. Bayi itu diberi nama RAJA SITOMBUK. Tombus dalam bahasa Indonesia ‘tembus’. Papan lantai rumah telah tembus dan kejadian itu pulalah yang membuat bayi dilahirkan selamat walau tanpa bantuan dukun beranak.

Dengan bantuan dukun beranak lahirlah bayi perempuan yang kedua bagi SOBOSIHON lalu oleh RAJA MARSUNDUNG bayi itu diberi nama SI BORU NAOMPON. Sebelum proses persalinan RAJA PARSURATAN telah mengetahui dari orang pintar bahwa adiknya adalah perempuan. Hal ini tidak menjadi masalah baginya walau ketamakan akan harta warisan masih memenuhi hati dan pikirannya saat itu.

Rupanya kali ini RAJA PARSURATAN pergi lagi bertanya kepada orang pintar perihal jenis kelamin adik tirinya yang akan lahir. Jawaban dan pemberitahuan yang diterimanya bahwa adiknya adalah laki – laki. Dia teringat akan permintaan orang Batak perihal rumah; “Jabu sibaganding tua ima hatubuan ni anak dohot boru si boan tua”. Artinya “Rumah tempat berbagai macam tuah adalah tempat lahirnya putera dan puteri pembawa tuah”.

Kali ini RAJA PARSURATAN ingin memusnahkan rumah tempat tinggal ayahnya dan ibu tirinya. Dia sendiri telah mempunyai rumah setelah menikah dan pisah rumah dari orang tuanya (manjae). Dia hanya mempunyai seorang anak laki – laki dan dia merasa posisinya kelak terancam jika semakin banyak anak laki – laki yang dilahirkan ibu tirinya. Inilah yang membuat dirinya selalu ingin berbuat sesuatu untuk melenyapkan setiap bayi laki – laki dari ibu tirinya.

Waktunya tiba dan SOBOSIHON akan melahirkan bayinya. Para ibu bersama dukun beranak telah berkumpul dan memasuki rumah RAJA MARSUNDUNG. Dari kejauhan RAJA PARSURATAN mengamat – amati mereka. Setelah melihat mereka telah masuk ke rumah maka RAJA PARSURATAN membawa sulutan api. Dia membakar atap rumah dari bagian dapur. Api menyala dan semua ornag berhamburan keluar rumah termasuk SOBOSIHON. Dia panik sambil berteriak api..api..api..api.. Dia pun berpegangan pada batang bambu yang berada di pinggir pekarangan rumahnya.

Tidak lama kemudian, orang – orang berdatangan ke sana dan berusaha bergotong – royong memadamkan api. Perhatian orang teruju pada rumah yang mulai terbakar dan pada saat itu pula di bawah pohon bambu lahirlah anak kelima dari SOBOSIHON yang kemudian diberi nama RAJA HUTABULU karena bayi itu dilahirkan di bawah pohon bambu di kampungnya.

Walaupun selalu mendapat rintangan namun SOBOSIHON tetap tabah dalam setiap proses persalinannya karena RAJA MARSUNDUNG dan keluarga SOMBA DEBATA SIAHAAN terutama Boru LUBIS sangat memperhatikan dan mengasihinya.

Usia RAJA MARSUNDUNG kira – kira telah lebih delapan puluh tahun lalu dia meninggal dunia. Kepergian suaminya sangat membuat hati SOBOSIHON sedih sementara anak bungsu mereka masih menyusui dan keempat anaknya yang lain masih belum cukup dewasa.

Bagi suku Batak Toba anak tertua adalah pengganti ayah bagi adik – adiknya. Yang paling kehilangan sosok ayah hanya anak tertua. RAJA PARSURATAN menggantikan kedudukan ayahnya dalam segala hal penting dia menjadi kepala keluarga. Situasi ini dimanfaatkan RAJA PARSURATAN untuk menguasai semua aspek kehidupan ibu tiri dan adik – adiknya sehari – hari. Dia selalu bersikap diktator terhadap adiknya terutama yang laki – laki. Namun SOBOSIHON selalu mengingatkan anak – anaknya agar mereka selalu menghormati abang tirinya yang adalah pengganti ayah.

Setelah beberapa tahun ayahnya meninggal RAJA PARSURATAN memanfaatkan tenaga keenam orang adiknya dengan anak tunggal serta istrinya untuk mengusahakan semua kebun dan sawah peninggalan mendiang ayahnya dan dikelola seefektif mungkin. Perekonomian RAJA PARSURATAN pun meningkat. Dia kemudian membangun rumah ukir (ruma gorga).

Setelah bangunan induk selesai maka proses berikutnya dalam pembangunan rumah ukir tersebut adalah pembuatan ukiran. Untuk mengukir relif rumah pada masa itu lazim digunakan darah manusia sebagai campuran pewarna relif. Hal tersebut agar rumah itu mempunyai semangat atau ada keangkerannya. Mengingat RAJA PARSURATAN bukanlah seorang yang kuat dalam berperang maka tidak mungkin baginya mendapatkan darah manusia dengan cara berperang melawan negeri lain.

Timbullah niat jahat RAJA PARSURATAN terhadap saudara tirinya. Pada suatu sore dia meliahat kedua adik perempuannya tampak akrab sebab memang SIPAREME sudah gadis dan HAGOHAN NAINDO mulai remaja. RAJA PARSURATAN ingin membunuh adik tirinya untuk diambil darahnya sebagai campuran pewarna rumah ukirnya. Kedua adik perempuannnya ini sering sama – sama tidur dengan SOBOSIHON ibu mereka. Hampir setiap malam keduanya menganyam tikar (mangaletek) dan bila sudah larut mereka tidur tanpa menyalakan lampu. Sedangkan untuk menghindari gigitan nyamuk mereka menutup badannya dengan tikar (marbulusan). kebiasaan tidur marbulusan ini sampai sekarang masih dapat kita jumpai di beberapa daerah di Tapanuli Utara. Demikianlah tiap malam cara kedua gadis ini menghabiskan waktu.

Tentang rencana jahat RAJA PARSURATAN, untuk membedakan yang mana yang harus dibunuh maka kepada SIPAREME diberikan sebuah gelang yang terbuat dari gading. Konon gelang itu merupakan pusaka pemberian dari mendiang Boru HASIBUAN, ibu kandungnya RAJA PARSURATAN. Lalu SIPAREME pun memakai gelang itu. Melihat gelang yang sangat putih dan menyala dalam gelap, HAGOHAN NAINDO tertarik akan gelang itu. Dia meminjam dan kemudian memakainya. Seperti biasanya mereka menganyam tikar setelah malam tiba mereka tidur marbulusan dan gelang tadi masih di tangan HAGOHAN NAINDO.

Malam itu menjelang subuh datanglah pembunuh bayaran ke rumah RAJA PARSURATAN dengan membawa pisau. RAJA PARSURATAN berpesan pada pembunuh itu bahwa sekarang ada dua gadis yang tidur di rumah ayahnya dan gadis yang tidak memakai gelanglah yang harus dibunuh. Pembunuh itupun melaksanakan tugasnya kemudian SIPAREME dibunuh lalu darahnya ditampung dan diberikan kepada RAJA PARSURATAN. Sementara mayat SIPAREME dibuang ke lembah yang tak dapat dituruni yaitu yang sekarang terletak di lembah Sipintu Pintu (perbatasan antara Balige dengan Siborong Borong). Matahahari pun terbit dengan air mata dan tangisan HAGOHAN NAINDO karena kakaknya telah hilang.

Demikianlah rencana jahat RAJA PARSURATAN dimana dia hendak membunuh HAGOHAN NAINDO tetapi yang terbunuh adalah SIPAREME yaitu adik kandungnya satu – satunya.

Melihat tindak – tanduk anak tirinya SOBOSIHON selalu bersusah hati, apalagi setelah SIPAREME diketahui dibunuh dan darahnya dijadikan campuran pewarna ukiran rumah RAJA PARSURATAN. Hal ini membuat SOBOSIHON jatuh sakit hingga penyakitnya parah. Saat penyakitnya semakin memburuk, dia dikelilingi kelima anaknya, sedang RAJA PARSURATAN seperti biasanya pergi ke sawah.

Saat itu SOBOSIHON berpesan:

  • Jangan lupakan apa yang telah dilakukan oleh abangmu RAJA PARSURATAN akan tetapi, jangan balaskan perbuatan jahatnya karena hanya MULA JADI NA BOLON (Tuhan) sajalah yang akan membalaskannya.
  • RAJA PARSURATAN itu adalah abangmu sebagai ganti ayah bagimu, dimana dia duduk janganlah kamu menghampiri dan jika kamu sedang duduk di suatu tempat kalau dia datang tinggalkanlah dia, karena dia adalah ganti ayah bagimu yang harus kamu hormati.
  • Jangan kamu menyusahkan hatinya walaupun dia menyusahkan kamu, bila kamu sedang menyalakan api di dapur rumahmu atau dimana saja lalu asapnya terhembus angin ke rumahnya atau ke arah di mana abangmu berada padamkanlah apimu itu supaya dia tidak mengeluarkan air mata karena asap apimu walaupun kamu harus terlambat menyiapkan masakanmu.
  • Jangan bertengkar dengan abangmu, sebab itu apabila tanamanmu ada yang condong tumbuh mengarah ke pekarangan rumahnya seumpama tanaman pisangmu sedang tumbuh dan berjantung maka lebih baik tebang saja itu dari pada setelah buahnya ada lalu diambil oleh anaknya dan kamu tidak bisa menahan emosimu dan bertengkar.

 

Setelah menyampaikan pesannya SOBOSIHON menghembuskan nafas terkahir. Pesan inilah yang kemudian sampai saat ini terus mewarnai pola hidup dari keturunan RAJA MARDAUP, RAJA SITOMBUK dan RAJA HUTABULU dan pesan – pesan tersebut sangat dihargai dan dituruti oleh seluruh keturunan SIMANJUNTAK SI TOLU SADA INA.

Setelah beberapa tahun SOBOSIHON meninggal, keluarga SIMANJUNTAK tiga bersaudara satu ibu ini dilanda kesedihan karena SI BORU HAGOHAN NAINDO gadis yang rupawan ini meninggal dunia dengan cara yang menyedihkan.

Suatu hari pada musim panen RAJA PARSURATAN telah menyabit sawahnya dan padinya telah dikumpulkan di sawah hanya tinggal menunggu dibersihkan dari batangnya saja. Cara membersihkannya dengan menginjak – injak batang padi yang ada bagian bulirnya (mardege). Untuk mardege biasanya dilakukan secara bergotong – royong bersama para tetangga di waktu subuh supaya ketika matahari terbit dan panas menyengat padi yang sudah dilepas dari jeraminya tinggal dijemur dan pada sore hari padi tinggal dibersihkan dari sekam dengan bantuan angin (mamurpur).

Pada pagi yang naas itu RAJA PARSURATAN beserta beberapa orang berangkat ke sawah untuk mardege. Sebelum berangkat dia berpesan pada SI BORU HAGOHAN NAINDO agar menyiapkan makan siang dan membawanya ke sawah. Makan pagi telah dibawa istri RAJA PARSURATAN. Sebenarnya ini adalah rencana jahatnya terhadap adiknya. sebab sesungguhnya bekal makan pagi tidak jadi dibawa ke sawah.

Menjelang siang semua orang yang bergotong – royong bekerja di sawah sudah bersungut – sungut karena rasa lapar dan mereka berkata; “DImana adikmu yang akan membawakan makanan pagi ini, kenapa dia belum datang juga?”. Sebelumnya RAJA PARSURATAN mengatakan pada mereka bahwa dia sudah berpesan pada adiknya agar makan pagi dipersiapkan, namun sebenarnya tidak demikian.

Sekira pukul sebelas atau menjelang teriknya panas matahari (mareak hos ni ari) datanglah SI BORU HAGOHAN NAINDO dengan membawa makanan tetapi dia disambut dengan caci maku oleh semua orang. Lalu RAJA PARSURATAN mengambil hidangan yang dijunjung di atas kepala SI BORU HAGOHAN NAINDO dan langsung mencampakkan air panas ke wajahnya. SI BORU HAGOHAN NAINDO meraung – raung kesakitan wajahnya melepuh. Saat itu pula RAJA PARSURATAN mengambil jerami dan menutupi badan SI BORU HAGOHAN NAINDO lalu menyulut jerami itu dengan api sehingga SI BORU HAGOHAN NAINDO terbakar hidup – hidup.

Demikianlah SI BORU HAGOHAN NAINDO mati dalam rasa sakitnya yang tak terperikan. Setelah tak bernyawa dia ditanam tanpa sepengetahuan saudara – saudaranya. Namun, bagaimanapun setiap perbuatan busuk akan tercium juga baunya. Salah seorang yang mengetahui pembunuhan itu berpihak kepada keturunan SOBOSIHON dan menceritakannya pada mereka. Hal ini sering membuat puteri (boru) SIMANJUNTAK yang mengetahui kisah ini merasa sakit hati terhadap Parhorbo jolo hingga kini.

Kematian SI BORU HAGOHAN NAINDO membuat SI BORU NAOMPON trauma untuk menjalani hidup tinggal di Balige. Dia sering menangis mengingat tragedi maut yang dialami kedua kakaknya. Dia meminta pada ketiga saudaranya agar dia diantar ke daerah Si Raja Oloan ke rumah RAJA SI GODANG ULU SIHOTANG (Ompungnya). Hal ini membuat ketiga saudaranya terharu.

Muncul persoalan. Siapa yang akan memasak makanan dan mengurus rumah apabila SI BORU NAOMPON pergi? RAJA HUTABULU berkata pada abangnya; “Bukankah dulu abang RAJA MARDAUP telah ditunangkan dengan paribannya sejak lahir? Sekarang abang ambil saja dia menjadi pendamping abang secepatnya agar ada yang mengurus rumah dan memasak makanan untuk kita”.

Perkataan ini membuka jalan pikiran ketiga saudaranya dan sekaligus membuka jalan bagi SI BORU NAOMPON untuk dapat tinggal di kampung Ompugnya. Lalu mereka berangkat ke sana. Setelah SI BORU NAOMPON diantar kemudian ketiga bersaudara ini kembali ke Balige bersama pariban yang telah menjadi istri RAJA MARDAUP, yaitu Boru SIHOTANG cucu SI GODANG ULU yang kemudian melahirkan tiga orang anak laki – laki:

1. NA MORA TANO, kemudian menikah dengan Boru SIHOTANG.

2. NA MORA SENDE, kemudian menikah dengan Boru SIHOTANG.

3. TUAN SI BADOGIL, kemudian menikah dengan Boru SIAGIAN PARDOSI.

Demikianlah kisah pertunangan antara RAJA MARDAUP dengan paribannya yang sudah dipertunangkan dari lahir dan kemudian berakhir dengan pernikahan setelah mereka dewasa.

Suatu saat terdengar kabar bahwa di Laguboti ada seorang gadis cantik puteri dari RAJA ARUAN dan cucu dari PANGULU PONGGOK. Gadis ini sangat pintar menyanyi dan merdu suaranya. Mendengar kabar itu RAJA SITOMBUK yang pintar bermain seruling bambu dan menguasai hampir semua lagu yang populer pada zamannya, datang bertandang ke Laguboti.

Setibanya di sana dia kemudian meniup serulingnya. tanpa diketuk pintu rumah para gadis di Laguboti telah terbuka untuknya bahkan kadang – kadang mereka datang melihat permainan suling itu dari dekat. Pilihan si pemuda ganteng ini jatuh pada gadis tercantik dan yang pintar pula menyanyi. Setiap RAJA SITOMBUK bertandang ke Laguboti, kehadirannya ini selalu menjadi acara hiburan bagi muda – mudi setempat.

RAJA SITOMBUK menyampaikan maksudnya ingin mempersunting Boru ARUAN pada amang tuanya yaitu SOMBA DEBATA SIAHAAN dan juga RAJA MARDAUP abangnya. Sepeninggal mendiang SOBOSIHON, RAJA PARSURATAN sudah tidak perduli lagi terhadap keturunan SOBOSIHON.

Akhirnya pesta adat sepenuh pun (adat na gok) diadakan untuk memperistri Boru ARUAN. Dari pernikahan ini RAJA SITOMBUK memperoleh seorang anak laki – laki bernama RAJA MANGAMBIT TUA.

Puteri dari RAJA MARSUNDUNG yang hidup hanya SI BORU NAOMPON. Dia tinggal bersama ompungnya di Si Raja Oloan. Suatu kali pada musim panen RAJA MARDAUP dan RAJA SITOMBUK sepakat untuk mengutus RAJA HUTABULU berangkat ke rumah ompung mereka menjemput SI BORU NAOMPON menggunakan sampan kecil (solu pardengke).

tugu

Tugu Sobosihon br Sihotang

Kemudian RAJA HUTABULU tiba di rumah ompungnya dengan selamat. Dia memberitahukan bahwa maksud dan tujuannya untuk menjemput SI BORU NAOMPON. Lalu SI BORU NAOMPON diberangkatkan oleh Tulang dan ompungnya dengan acara makan khusus disertai doa agar kiranya SI BORU NAOMPON segera menemukan jodoh (sirongkap ni tondi). Setelah itu berangkatlah mereka berdua menuju Balige.

Dalam perjalanan menggunakan sampan di danau Toba yang luas angin berhembus kencang. RAJA HUTABULU berusaha mengayuh dayungnya agar sampan bergerak menuju arah yang dikehendaki. Tiba – tiba dayungnya patah dan hanyut terbawa ombak. Dalam keadaan terombang – ambing sampan itu mengikuti arah angin dan untuk menenangkan keadaan SI BORU NAOMPON bernyanyi; “Ue..luahon ahu da parau, ulushon ahu da alogo manang tudiape taho, asalma tu topi tao”.

Mendengar ada suara wanita bernyanyi, seorang pemuda yang sedang berada di tengah danau Toba dekat bagian pantai Marom langsung mengayuh sampannya menuju sumber suara itu. Setelah mendekatkan sampannya dia melihat ada dua orang dalam sebuah sampan dan mereka tidak mempunyai dayung. Setelah mengetahui bahwa keduanya bersaudara maka pemuda itu (NA MORA JOBI SIRAIT) membawa mereka ke Marom dan beristirahat satu malam di sana.

Keesokan harinya dengan dayung baru serta dipandu NA MORA JOBI SIRAIT, mereka bertolak dari Marom menuju Balige. Inilah pertemuan antara SI BORU NAOMPON dengan NA MORA JOBI SIRAIT dan dengan senang NA MORA JOBI SIRAIT mengantar sampai ke Balige. Beberapa hari kemudian mereka berdua sepakat untuk menikah. NA MORA JOBI SIRAIT pun pulang dan memberitahukan hal itu pada orangtuanya yang sudah melihat kecantikan SI BORU NAOMPON. Dengan senang mereka setuju dan mendukung permintaan puteranya lalu berangkat melamar SI BORU NAOMPON.

RAJA PARSURATAN sudah semakin tua dan jika hendak pergi kemana – mana dia enggan pergi sendirian. Kadang – kadang dia membawa anak tunggalnya kalau bepergian tetapi sering juga bersama adik tirinya yang masih lajang yaitu RAJA HUTABULU. Suatu saat RAJA PARSURATAN pergi dan RAJA HUTABULU ikut serta sebagai pembawa kantongan (sitiop hajutna). Mereka berjalan mengikuti jalan setapak naik turun lembah. Ketika mereka berjalan di dataran tinggi Silangit tiba – tiba RAJA HUTABULU melihat segumpal benda jatuh dari atas dan dikerjarnya ke depan lalu ditangkap menggunakan ulos hande handenya kemudian dibungkusnya.

RAJA PARSURATAN melihat adiknya berlari dan berkata; “Adikku, benda apa yang tadi kamu tangkap?”. Sahut adiknya; “Abang yang kuhormati, aku belum tahu apa yang kutangkap dan bungkus ini, tetapi aku akan membukanya dan memberitahukan apa isi ulosku ini pada abang apabila kita sudah kembali ke kampung kita, asalkan abang berjanji akan membagikan harta peninggalan mendiang ayah kita”. Tanpa pikir panjang RAJA PARSURATAN pun setuju. Sebenanrnya RAJA MARDAUP dan RAJA SITOMBUK tidak pernah berani meminta bagian harta warisan pada abang mereka.

Setelah kembali ke kampung RAJA HUTABULU menceritakan pada kedua abangnya tentang apa yang dia katakan pada abangnya dalam perjalanan dan juga tentang janji abangnya yang akan membagi harta warisan.

Tibalah waktunya, tua – tua kampung diundang datang berkumpul menyaksikan pertemuan itu. RAJA HUTABULU menyatakan maksudnya pada kumpulan tua – tua itu (ria raja). “Karena ada sesuatu yang jatuh dari atas dan kutampung lalu kubungkus dengan ulos hande handeku dan ini terjadi dalam perjalanan aku dan abang yang kuhormati sewaktu di Silangit. Abang kami ini ingin mengetahui apa isi dari bungkusan ini yang aku sendiri juga belum tahu. Namun abang yang kuhormati ini telah berjanji akan memberikan bagian warisan peninggalan mendiang ayah kami apabila aku menunjukkan dan membagi benda yang akan kita lihat ini”. Perkataan tersebut dibenarkan oleh RAJA PARSURATAN dan disaksikan oleh semua orang yang berkumpul di halaman rumah RAJA MARSUNDUNG ayah mereka.

Maka dihadapan para tua – tua RAJA HUTABULU membuka bungkusan hande handenya itu dan tampaklah abu bekas sarang burung yang terbakar di dalamnya. Setelah RAJA PARSURATAN melihat dia mengatakan bahwa bukannya dia tidak mau membagi warisan dan kemudian dia berkata; “Tunggu kalianlah dapat dulu dua bulan”. Lalu kumpulan pun bubar dengan kesimpulan bahwa setelah dapat waktunya dua bulan baru akan ada pembagian warisan.

Dua bulan kemudian RAJA HUTABULU mengumpulkan tua – tua kampung untuk melakukan ria raja. Di hadapan ria raja RAJA PARSURATAN berkata pada adiknya; “Mana bulan yang sudah kamu dapat, sudahkah ada dua?”. Semua yang mendengarnya heran ternyata maksud dari ucapan RAJA PARSURATAN pada ria raja sebelumnya bukanlah mengenai tenggang waktu dua bulan, tetapi tentang mendapatkan dua buah bulan. Maka ria raja berakhir dengan mengecewakan pihak tiga bersaudara seibu.

Dua minggu kemudian malam harinya ketika posisi bulan persis berada di atas di langit, pergilah RAJA HUTABULU ke sumur tempat dimana dulu mendiang ayahnya biasa mandi. Dia menatap ke permukaan air dalam sumur dan melihat bayangan bulan di situ. Segera dia bergegas menjumpai kedua abangnya dan mengatakan bahwa dia baru saja menemukan dua buah bulan.

Dengan rasa was – was kedua abangnya dan RAJA HUTABULU kembali mengundang tua – tua kampung. Setelah semuanya hadir termasuk RAJA PARSURATAN lalu RAJA HUTABULU berdiri dan berkata; “Amang raja na liat na lalo, lumobi di ho angkang raja na malo, didokhon ho dung dapot dua bulan asa lehononmu parbagianan sian na pinungka ni amanta na hinan. On pe saonari ba nunga dapothu be alus ni hatami raja bolon. Betama hita tu parmualan paridian ni amnta an”. Artinya; “Bapak – bapak sekalian kumpulan yang terhormat, amat terlebih abang yang kuhormati, kamu berkata setelah dapat dua buah bulan barulah kamu memberikan warisan dari mendiang ayah kita dan kini aku sudah menemukannya. Marilah kita bersama – sama pergi ke sumur tempat madi ayah.

Seluruh yang hadir di situ berjalan menuju sumur. Setibanya di sana RAJA HUTABULU menunjuk ke permukaan air di dalam sumur dan terlihat ada bayangan bulan di situ, kemudian dia menunjuk ke arah atas dimana juga terlihat ada bulan. Akhirnya RAJA PARSURATAN tidak dapat lagi mengelak dan dilakukanlah pembagian warisan setelah mereka kembali ke halaman rumah.

Lalu kemudian RAJA PARSURATAN berkata; “Sekarang di hadapan tua – tua aku akan membagi warisan peninggalan orang tua kita”. Beginilah pembagiannya:

1. Mengenai sawah, karena aku adalah anak dari istri pertama ayah, maka tanah persawahan yang pertama dialiri air adalah milikku dan karena ibu kita dua orang, maka tanah akan dibagi dua luasnya.

2. Mengenai semua kerbau milik mendiang ayah kita, karena aku adalah anak dari istri pertama ayah, maka paha depan (parjolo) setiap kerbau merupakan bagianku, sedangkan paha belakang adalah bagian kamu bertiga anak istri ayah yang kemudian (parpudi).

Pembagian warisan itu ditetapkan di hadapan tua – tua kampung dan tidak ada seorang pun yang berbicara menentang pembagian itu.

Narator sendiri yang adalah keturunan SIMANJUNTAK SI TOLU SADA INA sudah melihat langsung lokasi sawah warisan dari RAJA MARSUNDUNG yang dibagi dua itu. Kenyataannya setelah diamati; sawah di kampung Parsuratan terletak di hulu Aek Bolon yang mengairi persawahan di daerah itu, sedangkan sawah di kampung HUTABULU berada di hilir. Sekiranya musim kemarau melanda, maka kampung Parsuratanlah yang terlebih dahulu menikmati air setelah air dipakai baru kemudian dialirkan ke hilir.

Mengenai pembagian warisan ternak, di kalangan masyarakat Batak Toba bila hendak membagi ternak berkaki empat, maka ternak itu dibagi dua dan selalu dibagi menjadi sebelah – sebelah (sambariba). Namun RAJA PARSURATAN membagi dengan cara lembu dibagi berdasarkan paha depan (parjolo) dan paha belakang (parpudi). Hal ini sangat aneh dan dibalik keanehan itu sebenarnya RAJA PARSURATAN telah mengantisipasi ke depan supaya hanya dia yang selalu memanfaatkan tenaga kerbau untuk membajak sawah dan menarik pedati makanya dia membagi dengan cara yang demikian. Jadi karna hanya satu – satunya peristiwa pembagian kerbau yang demikian anehnya, maka orang kebanyakan sejak saat itu mengejek dengan sebutan ‘Parhorbo jolo’ terhadap RAJA PARSURATAN dan keturunannya. Sedangkan kepada ketiga bersaudara seibu orang menyebut mereka dengan ‘Parhorbo pudi’.

Bagi para pembaca yang bermarga atau boru SIMANJUNTAK narator mengajak dan berpesan bila kita ditanya; “SIMANJUNTAK mana kamu?” sebaiknya kita jawab “SIMANJUNTAK PARSURATAN” atau “SIMANJUNTAK SI TOLU SADA INA” sebab istilah ‘Parhorbo jolo’ dan ‘Parhorbo pudi’ merupakan ejekan orang Batak Toba tempo dulu terhadap pembagian warisan ternak kerbau kita. Ejekan itu berkembang dan kini dianggap sebagai suatu istilah di kalangan orang Batak Toba padahal bagi kita keturunan SIMANJUNTAK RAJA MARSUNDUNG sudah tidak ada lagi kerbau kita, kan?

Sebelumnya telah diceritakan bahwa RAJA HUTABULU sejak remaja sampai menjadi seorang pemuda sering berkunjung ke daerah Si Raja Oloan ke rumah Ompungnya (SI GODANG ULU SIHOTANG) baik itu karna mengantar jemput itonya (SI BORU NAOMPON) maupun hanya sekedar bertandang ke sana.

Suatu ketika dia melihat seorang Boru Tulang yang sangat cantik dan boleh dikatakan gadis tercantik di seluruh daerah Si Raja Oloan. Kemudian karena RAJA HUTABULU memang seorang pemuda pintar (simak kisah bagaimana ketika dia menghadapi abang tirinya, dia selalu tampil piawai dalam pemikiran dan pembicaraan) dan hal ini terdengar sampai ke daerah Si Raja Oloan. Boru Tulangnya tadi sudah pernah berkunjung ke Balige, yaitu ke tempat amang borunya (ayahnya RAJA HUTABULU). Jadi merupakan pilihan yang tepat jika RAJA HUTABULU mempersunting paribannya itu menjadi istrinya.

Suatu saat sewaktu suami istri RAJA HUTABULU dan Boru SIHOTANG duduk – duduk di depan rumahnya, melintaslah seorang yang buruk rupa dan Boru SIHOTANG menyeletuk; “Jelek sekali orang ini seperti beruk aku lihat” (versi Toba; “Roa nai jolma on songon bodat huida”). Perkataan itu kedengaran oleh orang tadi dan dia membalas; “Aku kamu bilang seperti beruk? Biarlah lahir anakmu yang seperti beruk!” (versi Toba; “Ahu didok ho songon bodat? Ba sai tubuma anakmu na songon bodat!”). Pada saat itu Boru SIHOTANG sedang mengandung anak pertamanya dan perkataan orang tadi selalu mengiangiang di telinganya.

Pada waktu akan melahirkan Boru SIHOTANG Na Uli pernah bermimpi ada seorang tua datang padanya dan mengatakan bahwa yang akan lahir darinya adalah bayi laki – laki yang memiliki kesaktian sebab itu tidak perlu kuatir atau kecewa apabila nantinya ada yang agak berbeda pada tubuhnya. Mimpinya ini diberitahukan pada suaminya dan mereka berdua merasa was – was menantikan kelahiran anak pertama mereka.

Tibalah harinya, setelah bersalin diketahui bahwa sang bayi memiliki bentuk tulang punggung lebih panjang sekitar satu jari telunjuk dari bokongnya tampak seperti ekor yang pendek. Dan saat itu RAJA HUTABULU melirik keluar jendela rumahnya, tampak ada seorang tua berdiri di halaman rumahnya dan berkata; “Hei bapak, jangan bersusah hati karena anakmu itu adalah seorang anak sakti” (versi Toba; “He amang, unang ho marsak alana anakmi nahasaktian”). Setelah berkata demikian orang itu berubah menjadi londok dan langsung memanjat pohon enau kemudian hilang di antara pelepah enau. RAJA HUTABULU spontan berteriak; “Raja Hodong..Raja Hodong..Raja Odong..” (versi Toba; “Raja Pelepah..Raja Pelepah..Raja Pelepah..”). Setelah peristia itu bayi pertama itu pun diberi nama SI RAJA ODONG. Secara fisik SI RAJA ODONG sangat tampan rupanya sebab ibunya cantik dan ayahnya tampan dan gagah.

SI RAJA ODONG makin bertambah besar dan pada waktu dia belajar duduk ayahnya membuatkan bangku pendek yang ditengahnya dilubangi tempat tulang SI RAJA ODONG yang seperti ekor itu. Tidak banyak orang yang mengetahui keanehan ini karena masa itu belum ada celana. Pakaian orang Batak adalah ulos yang dililitkan menutupi badan yang disebut heba heba.

Menurut penyelidikan antropologi budaya Batak Toba, maka sejak keberadaannya orang Batak tidak pernah bertelanjang karena ulos Batak sama usianya sejak adanya SI RAJA BATAK (orang Batak pertama). Sebelum Belanda datang ke tanah Batak, maka ulos Batak dipakai sehari – hari sebagai berikut:

– Ulos yang menutupi badan disebut heba heba.

– Ulos yang menutupi bahu ke bawah disebut hande hande yang juga sering disandangkan di bahu.

– Ulos penutup kepala disebut saong saong dan bila diikatkan di kepala maka disebut bulang bulang atau tali tali.

Tingkat budaya berpakaian pada masa itu membuat SI RAJA ODONG tidak merasa asing atau minder jika bersosialisasi dengan orang lain. Hanya keluarga dekat saja yang mengetahui kelebihan SI RAJA ODONG ini.

Setelah beberapa tahun kemudian istri RAJA HUTABULU kembali mengandung dan selama mengandung dia selalu memohon tuah agar MULA JADI NA BOLON (Tuhan) memberikan seorang anak laki – laki lagi tetapi yang tidak mempunyai keanehan. Doanya pun terkabul dan lahirlah seorang anak laki – laki yang rupanya sama persis seperti abangnya. Bahkan setelah dewasa kedua anak RAJA HUTABULU ini sama besarnya dan banyak orang menyangka keduanya adalah saudara kembar. Begitu lahir dan ternyata bayinya laki – laki maka dia diberi nama TUMONGGO TUA yang bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia artinya ‘memohon tuah melalui doa’.

Setelah kedua anak ini semakin dewasa mereka kelihatan tampan dan gagah melebihi ayah mereka. Banyak gadis yang tertarik dan jatuh cinta pada mereka. Tetapi apabila berkenalan lebih jauh dengan keduanya maka akan diketahui bahwa SI RAJA ODONG memiliki perbedaan dengan adiknya.

Setelah sekian lama saling mencinta dengan Boru SIHOTANG paribannya, TUMONGGO TUA ingin segera menikah. Namun orang tuanya menganjurkan kalau dia boleh menikah setelah abangnya menikah. Satu – satunya cara agar TUMONGGO TUA dapat segera menikah adalah dengan mencarikan seorang calon istri bagi abangnya. Lalu berangkatlah TUMONGGO TUA dengan sampan ke pulau Samosir. Di sana konon banyak gadis yang sampai berumur tua belum menikah karena ketatnya hukum bersaudara. Bagi kesatuan marga keturunan NAIAMBATON yang banyak bermukim di Samosir sampai sekarang masih tetap mempertahankan tradisi tidak boleh saling menikah antar sesama keturunan marga – marga NAIAMBATON.

Selama di atas sampan dalam perjalanannya TUMONGGO TUA selalu memohon kepada MULA JADI NA BOLON supaya dia bertemu dengan seorang gadis cantik untuk dilamar menjadi kakak ipar (angkang boru). Ketika berada di tengah danau Toba tiba – tiba angin bertiup kencang sekali (alogo lubis) dan menghantam sampannya hingga sampannya hancur. Dia mencoba sekuat tenaga berenang mencapai daratan dan berhasil. Setelah berada di tepi danau Toba dia tak sadarkan diri dan pingsan.

Ombak berdebur laksana irama musik yang menyambut kedatangan TUMONGGO TUA di situ di daerah Lontung, yaitu di Muara (sekarang persis di tempat pemandian Puteri RAJA SIANTURI). Dia terbaring hingga sore hari dia ditemukan oleh SI BORU ULI BASA Boru SIANTURI yang hendak mengambil kain cucian yang dijemur di tepi danau. Setelah melihat pemuda tampan itu BORU ULI BASA berkata; “Kalau kamu memang manusia, siapakah namamu? Kalau kamu seorang yang memiliki kesaktian maafkan aku tidak bermaksud menggangumu, tetapi kalau kamu manusia aku mau mendampingimu seandainya kamu membawaku pergi bersamamu dan aku menjadi istrimu” (versi Toba; “Molo na jolma do ho paboa ise goarmu. Molo na martua – tua do ho unangma muruk ho tu ahu ala ndang na manggugai ho ahu, alai molo jolma do ho olo do ahu mandongani ho aut tung olo ho mamboan ahu tu hutam gabe inantam”).

Samar – samar perkataan itu didengar oleh TUMONGGO TUA yang mulai siuman. Lalu dia mulai membuka matanya perlahan dan melihat ada seorang gadis cantik jelita di sebelahnya. Dia langsung mengucek matanya seakan tidak percaya akan apa yang dilihatnya kemudian dengan suara pelan dia berkata; “Apakah ini mimpi aku berada di sebelah puteri yang cantik. Sekiranya bukan mimpi apa gadis ini mau kalau aku membawanya menjadi menantu orang tuaku? (versi Toba; “Na marnipi do ahu nuaeng di lambung ni si boru na uli basa? Aut sura na so marnipi do ahu oloma nian boanonhu gabe parumaen ni damang dohot dainang”).

Mendengar ucapan itu BORU ULI BASA langsung memegang tangan TUMONGGO TUA lalu membangunkannya dan menuntun dia berjalan menuju rumah orang tua BORU ULI BASA sebab hari sudah sore. Sesampainya di rumah, keluarga BORU ULI BASA bergembira kedatangan tamu seorang pemuda yang tampan dan gagah. Dalam percakapan dengan orang tua BORU ULI BASA, TUMONGGO TUA memperkenalkan diri dan menjelaskan bahwa dia adalah cucu RAJA MARSUNDUNG SIMANJUNTAK dan anak RAJA HUTABULU dari Balige. Dia juga menjelaskan bagaimana dia bisa ada di sana dan apa maksud dari perjalanan jauhnya itu. Mendengar penjelasan itu BORU ULI BASA merasa gembira dalam hatinya dia terpikat akan ketampanan TUMONGGO TUA.

Setelah beberapa hari tinggal di daerah Lontung tejadi pembicaraan antara TUMONGGO TUA dan BORU ULI BASA yang intinya tentang kesediaan BORU ULI BASA agar menjadi menantu bagi orang tua TUMONGGO TUA. Jawaban dari BORU ULI BASA sangat jelas, yaitu dia mau dan bersedia. Akan tetapi sebaliknya apabila TUMONGGO TUA mendapat pertanyaan yang sama dia tidak menjawab secara jelas bersedia namun dia menjawab pertanyaan itu dengan perkataan; “Tatap wajahku dan perhatikanlah langkahku serta ketahuilah maksud kedatanganku” (versi Toba; “Berengma bohiku jala parateatehonma pardalanhu huhut antusima sangkap ni haroroku”).

BORU ULI BASA memang calon menantu RAJA HUTABULU tetapi bukan untuk menjadi istri bagi TUMONGGO TUA. Memang RAJA ODONG dan TUMONGGO TUA sangat mirip seperti saudara kembar disegala – galanya baik dilihat dari rupa, cara berjalan bahkan juga cara berbicara dan dari suara semuanya sama. Sangat sulit membedakan keduanya kecuali ini; RAJA ODONG memiliki kelebihan tulang belakang sepanjang jari telunjuk. Perbedaan mereka ini dirahasiakan TUMONGGO TUA demi harapan dia bisa direstui menikah setelah abangnya menikah.

Setelah berjanji bahwa mereka akan kembali bertemu, TUMONGGO TUA pamit dengan keluarga BORU ULI BASA untuk pulang ke Balige dan nanti dia akan kembali datang bersama orang tuanya melamar BORU ULI BASA.

Setibanya di Balige TUMONGGO TUA menceritakan perjalanannya kepada abang dan orang tuanya. Kemudian mereka menyusun rencana:

– TUMONGGO TUA dan orang tuanya segera melamar puteri RAJA SILALA LASIAK yaitu BORU ULI BASA dan selama mereka di sana sepanjang pembicaraan tidak boleh memanggil TUMONGGO TUA dengan namanya tetapi dengan nama SIMANJUNTAK.

– Pesta pernikahan diadakan di rumah pihak pengantin wanita (dialap jual) dan yang mendampingi BORU ULI BASA dalam acara adat sepenuh itu (ulaon na gok) adalah TUMONGGO TUA hingga dalam perjalanan di danau Toba sampai Balige. Bila sudah tiba di dermaga maka TUMONGGO TUA turun dari perahu besar (solu bolon) dan mengikatkan tali perahu di dermaga. Bersamaan dengan itu RAJA ODONG sudah siap dan sesuai tanda RAJA ODONG langsung menggantikan posisi adiknya naik ke perahu untuk menuntun BORU ULI BASA dan seterusnya mendampinginya menjadi suami bagi BORU ULI BASA.

– Pakaian yang dikenakan kedua abang beradik ini harus dibuat sama persis. Setelah mengikatkan tali perahu di dermaga maka TUMONGGO TUA harus menghilang untuk sementara waktu dan pergi ke daerah Si Raja Oloan dan tinggal di sana di rumah Tulangnya sampai BORU ULI BASA melahirkan anak pertamanya bagi RAJA ODONG.

Setelah rencana itu disepakati maka ditentukanlah kapan mereka akan berangkat. Rencana pun dilaksanakan dan pesta pernikahan meriah di daerah Muara berlangsung mulus sesuai rencana. Setelah itu mereka bertolak pulang menuju Balige melalui danau Toba. Sesampainya di dermaga di Balige yaitu tepatnya di Lumban Bul Bul sekira jam tujuh malam dan keadaan seperti ini dalam bahasa Batak Toba disebut urngum (jarak pandang mata tidak lagi memungkinkan melihat orang di kejauhan).

Di dermaga RAJA ODONG telah menunggu kedatangan rombongan keluarganya bersama BORU ULI BASA. Setelah perahu besar itu tiba dan merapat ke dermaga, turunlah TUMONGGO TUA untuk mengikatkan tali perahu lalu langsung pergi menghilang di kegelapan dan kemudian RAJA ODONG langsung naik ke perahu menjemput BORU ULI BASA serta berjalan berdampingan sampai ke rumah RAJA HUTABULU. Malam itu diadakan acara penyambutan (pangharoanion). Mulai saat itu RAJA ODONG yang mendampingi BORU ULI BASA, sedangkan adiknya sudah pergi sesuai rencana ke rumah Tulangnya.

Begitulah kisah pernikahan RAJA ODONG dengan BORU ULI BASA Boru SIANTURI sehingga ada sindiran seperti ini:

“Si RAJA ODONG papiu piu tali, tali ijuk sian bagot. Anggina manandangi, alai ibana diharoani jala mandapot”

Pekerjaan sehari – hari RAJA ODONG adalah memintal tali yang dibuat dari ijuk pohon enau. Konon pada masa itu, tali buatan RAJA ODONG ini paling baik kualitasnya dan harga jualnya tinggi di pasar Balige dan Laguboti bahkan sampai ke Porsea dan Siborong Borong. RAJA ODONG selalu duduk di bangku khusus yang berlubang di tengahnya dan kemanapun dia pergi bangku itu selalu dibawanya.

Sejak menikah dengan RAJA ODONG, BORU ULI BASA tidak pernah bekerja di sawah. Pekerjaannya adalah menggembalakan kambing. Ternak kambingnya gemuk – gemuk dan jika beranak sering sampai tiga atau empat sehingga keluarga RAJA ODONG memiliki banyak sekali ternak kambing.

Kemudian bayi pertama lahir bagi keluarga RAJA ODONG dan anak pertama mereka ini diberi nama RAJA BOLAK HAMBING atau RAJA PARHAMBING. Demikianlah seterusnya mereka dikaruniai tujuh orang anak laki – laki:

1. RAJA BOLAK HAMBING (RAJA PARHAMBING)

2. TUAN NAHODA RAJA

3. MAHARIA RAJA (MANGORONG BAHUT)

4. RAJA MARLEANG (MARLEANG BOSI)

5. RAJA MANORHAP (RAJA SITUNGGAL)

6. RAJA MAEGA gelar Ompu TOGA OLOAN

7, DINGKIR ULUBALANG gelar PARTAHI OLOAN (DATU MAEGA)

Namun sampai sekarang baru keturunan RAJA PARHAMBING dan TUAN NAHODA RAJA saja yang sudah mengetahui bahwa mereka adalah keturunan dari RAJA ODONG.

Tentang TUMONGGO TUA, setelah berita kelahiran anak pertama RAJA ODONG abangnya sampai kepadanya, betapa bahagianya dia dan paribannya. Lalu setelah mendengar kabar baik itu mereka berdua datang berkunjung ke Balige dan memastikan bahwa rombongan RAJA HUTABULU akan pergi melamar Boru SIHOTANG (pariban TUMONGGO TUA tersebut).

Sumber : http://simanjuntaks.blog.friendster.com/?p=57

Hasil Ria Ni Keluarga Simanjuntak Sitolu Sada Ina Dohot Boruna Thn 1969

PARSADAAN SIMANJUNTAK SITOLU SADA INA DOHOT BORUNA (PSSSI&B)

NA NIADOPAN NI 21 CABANG PSSSI&B DI BONA PASOGIT
BALIGE, TANGGAL 06 JULI 1969

  1. Dihaporseai jala di parhatua roha nami – pomparan ni Sobosihon Boru Sihotang do, tona na pinasahatna, nanisahaphon ni Debata tu pomparanna : MARDAUP – SITOMBUK – HUTABULU dohot BORUNA.
  2. Ia tona ni ompunami Boru Sihotang, na martujuan do i : pasiding parbadaan dohot parmaraan, di hami pomparan ni Sobosihon Boru Sihotang maradophon Parsuratan (na so sada ulaon adat dohot parugasanon ripe-ripe).
  3. Ala tona pangumpolan do tona i tu hami pomparanna : Mardaup – Sitombuk – Hutabulu dohot Boruna, na marharingkotan di tona i : jadi holan pomparan na marsada jala pinasada do na boi mangalehon hatorangan (penafsiran) na syah taringot tusi.
  4. Molo adong na manafsirhon i di ruar ni PSSSI, hurajumi hami do i na parohon hagaoron tu bagasan nang tu ruar ni PSSSI.

Alani i hot do hami songon nasailaon, marningot dohot mangihuthon tona i (Poda Raja Salomo 6, ayat 20 : “Ale anaha, sai radoti ma tona ni amangmu, jala unang tulakkon poda ni inangmu”.

Balige, 06 Juli 1969

PANITIA PERUMUS/REDAKSI :
1. Ds. H. Simanjuntak (dto)
2. B. Mardinding Simanjuntak (dto)
3. Drs. Bungaran Simanjuntak (dto)
4. P.A. Raja Simanjuntak (dto)
5. Abidan Simanjuntak (dto)
6. M. A. Pinenda Simanjuntak (dto)
7. J. Silalahi (boru/hela)(dto)

Ditolopi/disyahkan Rapot dohot Suara Bulat
An. Pengurus Pusat Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina, dohot Boruna

Pimpinan Rapat K e t u a Sekretaris

dto dto dto

(S.M. Simanjuntak) (M. Dj. Simanjuntak) (G. Simanjuntak)

Di salin sesuai dengan aslinya oleh Poltak Simanjuntak yang diperoleh dari Ketua Umum (Caretaker) PSSSI&B se-Dunia, di Balige, M.Simanjuntak.