Apa Yang Kau Cari Palupi?

Cerita yang menarik dan berkesan.

Pertanyaan itu pula yang terbersit dalam benak saya untuk seseorang. Sebut saja Palupi. Kenalan saya, sudah sepuh, kalau mungkin kita samakan dengan lagunya Sawung Jabo, Pak Tua. Saya ingin sekali memperdengarkan lagu ini kepadanya. Kau sudah berumur dan sudah memasuki masa pensiun, but… kelakuanmu itu … sangat membuat saya galau.Menurut saya, seharusnya di usiamu yang sudah sepuh ini, cukuplah sudah kau kurangi atau kalau mungkin menghentikan sepak terjangmu yang tanpa kau sadari sering sangat melukai orang banyak. Ketika orang hendak berurusan, kau tak ada, ketika kau ada, tak semudah perkiraan untuk menemuimu. Banyak alasan darimu untuk menghindar dan memberikan kesan yang ekslusif kepada orang yang akan menemuimu, even orang tersebut sudah berhari-hari mencarimu. Saya terkadang menangis dalam hati melihat caramu menerima tamu, sungguh sangat melukai hati.

Maaf, bukan maksud saya menghakimimu Palupi, pastinya saya hanya dapat menuliskan ini dengan harapan kau dapat tersadar ketika membacanya, hanya harapan saya. Atau kau akan terbakar emosimu, seperti biasanya, yah.. terserahlah. Pastinya kalau kau marah dan terkungkung emosimu, maka akan semakin banyak energimu terkuras hanya untuk mengumbar kerakusanmu.

Disadur dari: http://inyomanrudi.blogspot.com/

Borjun, Borjuis atau Juleha???

 

Mamaku Boru Simanjuntak
Mamaku Boru Simanjuntak

Kita pasti ingat ungkapan bijak Shakespeare, “What’s in a name? That which we call a rose By any other name would smell as sweet.” Menurutnya “nama” merupakan hasil konvensi buatan dan tak berarti. Ungkapan ini saya kira banyak benarnya, sebab seseorang pada umumnya diberi nama, bukan memilih sendiri.

Maklum, nama diperoleh ketika masih bayi. Bagi orang Batak, nama sering dikaitkan dengan harapan terhadap si anak yang diberi nama. Sedikit berbeda dengan Batak Karo masa dulu, sering memberi nama anaknya sesuai dengan kejadian yang paling menarik perhatian si pemberi nama. Ayah, ibu, kakek, nenek dan paman si anak.

Shakespeare, jika masih hidup masa sekarang, tentu akan berusaha mencari ungkapan bijak lain, jika mengetahui bahwa ungkapan yang dibuatnya, khususnya untuk kalangan marga Simanjuntak, tidak selalu benar. Sebutan “Simanjuntak Ri“, bukan tanpa arti. Pengakuan terhadap sebutan “Ri” juga sudah datang dari luar marga Simanjuntak, sebagai bentuk kesaksian bahwa Simanjuntak selalu ada dan dijumpai dimana-mana. Bagai “Ri” atau lalang, bisa tumbuh dan berkembang dimana saja.

Bagi Marga Simanjuntak seperti saya, menerima nama ini kadangkala bisa menimbulkan kebanggaan, tetapi kadangkala bisa menjadi ejekan halus, bahwa marga saya ini basalemak–terlalu gampang ditemui di semua tempat, di semua kondisi dan di semua kejadian baik dan kejadian buruk.

Nah, khusus untuk kalangan Simanjuntak–kaum perempuan, dalam suasana tertentu ketika terjadi perdebatan dan kebetulan terlalu mendominasi, pasti akan mendapat nama atau panggilan dari lawan debatnya “Tanda ma ho borjun…!”. Sebutan “Borjun“, seolah merepresentasi “kejugulan”, dan sifat mau menang sendiri dan keras kepalanya Boru Simanjuntak–bukan sekedar abreviasi semata. Respon Boru Simanjuntak terhadap sebutan itupun beragam, tetapi lebih banyak seperti menunjukkan kebanggaan. Wah!

Belakangan, secara alamiah atau memang mengandung unsur kesengajaan, entah dari pihak Boru Simanjuntak, atau datang dari saudaranya laki-laki yang bermarga Simanjuntak, mulai dimunculkan thesis baru “Kalau beristrikan Boru Simanjuntak, maka suaminya harus “tunduk”, jika keluarga itu mau maju, bla-bla-bla…”. Sejauh mana kebenaran thesis ini tentu masih membutuhkan penelitian psiko-sosial. Tapi yang pasti, Boru Simanjuntak, banyak yang meyakini thesis ini yang akhirnya diikuti oleh keyakinan suaminya.

Jika dalam kasus tertentu, Boru Simanjuntak mendapat perlawanan sengit, baik dari suami, maupun dari teman-temannya, sering meluncur kata-kata “Kau lawan pulak Borjun…!”, dengan bangganya.

Entah karena gambaran umum ini, akhirnya bermunculanlah penamaan baru terhadap Boru Simanjuntak. Ada yang mulai menggunakan Borjuis, menggambarkan keberanian Boru Simanjuntak. Berani memberi pendapat di depan umum, berani mendebat hula-hula, berani (bahkan) jika diajak berantam. Sifat-sifat ideal yang seyogianya hanya dimiliki oleh laki-laki, justru sering dipertontonkan Boru Simanjuntak, sehingga sebutan Boru Juntak Berkumis mengemuka.

Sebutan lain yang tidak kalah trendnya belakangan ini, adalah Juleha (Juntak Lenong Habiaran). Sebutan ini sepertinya mewakili sifat dan sikap umum yang banyak dipertontonkan atau diperankan oleh Borjun dalam keseharian, terutama kepada keluarga dekatnya. Ketika permintaanya ditolak, maka yang terjadi (katanya), si Borjun akan memperagakan gerakan Lenong yang meliukkan badan  pertanda protes, hingga pihak yang menolak permintaan menjadi ketakutan (mabiar) dan memenuhi permintaan. Borjun, jadi habiaran (ditakuti).

Kalau sudah begini ceritanya, maka bagi Boru Simanjuntak, harus berani memilih penamaan apa yang paling cocok untuk dirinya… Atau, hanya menjawab “Apalah arti sebuah nama…?”, sebuah pembenaran diri dan Shakespeare…

Hati-hati mengkonsumsi Obat Kuat!

Seorang ibu setengah baya belakangan merasa heran dan geram melihat tingkah laku suaminya yang semakin bersikap dingin terhadapnya. Urusan yang maha penting dalam kehidupan suami istri sering dilupakan. Pun, jika terlanjur dilakukan itupun sangat tidak memuaskan lagi.

Tidak tahan dengan kondisi ini, sang istri mulai mencari solusi. Tak berapa lama dia dapat jawaban, “berikan suamimu obat kuat”. Jawaban ini pun terus mengiang ditelinga sang istri.

Untuk mengatakan kepada suami, takut, malu dan tidak tahu memulainya. Beberapa kali sang istri mencoba memulai pembicaraan yang mengarah upaya perbaikan stamina, selalu ditanggapi sinis oleh sang suami.

Namanya juga ibu kreatif dan masih memiliki hasrat yang tinggi, tidak kehilangan akal. Dia ketahui suaminya doyan makan Indomi. “Saya akan campurkan obat kuat ini ke dalam Indominya”, katanya dalam hati.

Dengan penuh kasih sayang, sang istri menyapa suaminya yang sedang duduk menikmati kopi sore setelah seharian bekerja. “Pa!, mau makan indomie nggak? Biar mama masakin”, katanya ramah. Si suami yang memang sudah lapar ini menjawab dengan pendek “Ok. Tapi jangan terlalu pedas ya!”.

Merasa mendapat tanggapan bagus, si istri langsung mengerjakan tugas mulianya, masak mi untuk suami tercinta. Tidak terlalu lama, akhirnya indominya sudah masak. Diam-diam, si istri memasukkan “obat kuat” ke dalam mangkok berisi indomie yang masih panas.

Sambil pura-pura meninggalkan meja makan yang diatasnya terhidang indomie, si istri memanggil suaminya “Pa, indominya udah siap. Jangan lama-lama ntar keburu dingin”, katanya sambil menuju kamar mandi.

Perlahan namun pasti, si suami melangkah menuju meja makan. “Wah. Mi apa ini?”, dia kaget. Mi yang terhidang bukannya keriting, tapi hampir semua berdiri tegak!

Caleg vs Panangga

Ra sude do hita mananda panangga (biang). Mansai dihaporluhon do on di sada huta laho manjaga huta i sian angka panangko. Suang songoni do nang di na manjaga angka ulok na ro tu huta, pintor rade do roha ni panangga laho paboahon tu tuanna na adong ro jea manjonok tu jabu.

Laos songoni do nang angka tuanna tu panangga. Mansai holong situtu do roha nasida. Alani holong na tu panangga, angka inanta molo mulak sian parpestaan sai diboan do siallangon tu panangga na be. Alani, na marsiholongan i, somal na ndang mabiar panangga mangalo angka halak na ro tu huta. Pintor sai mangaungi do nasida molo di ida adong na ro angka jolma na so tinanda na.

Alai diparpudian ni ari on, gabe asing do pangalaho ni panangga di angka huta. Molo di ida nasida adong ro jolma na asing jala marmobil na bagak, ndang be mangaung nasida, alai pintor martabuni nama. Aha mambahen songoni? Alana na ro i, jala parmobil na bagak i caleg do.

Molo sinungkun tu sada panangga, “boasa ma biar mangida caleg?”, sude do sarupa alus na sida. Molo dipapungu caleg angka jolma di huon, ba pintor hami do naeng di seat laho allangonna. Ba, ndang lomo dope roha nami gabe marganti goar, sian panangga gabe margoar jagala…

Parsuaraion ni Angka Hau di Pemilu

Andul asing do ianggo roha ni angka hau na jongjong di pinggir ni dalan di kota-kota na balga songon di Medan, di haroroni masa Pemilu di taon 2009 on. Pola do sampe mambahen jajak pendapat nasida taringot tu singkor ni pamatang na sida na gabe dibahen sangkotan ni angka gombar ni caleg (Calon Legilatif).

Adong do na sampe 10 gombar dilohothon di sada hau. Artina lobi sian (10) ma labang (paku) lonap tu daging na i. Amang tahe, hansit na i.

Sian hasil ni jajak pendapat na sida mandok, sude do nasida gabe “korban” ni angka caleg. Gabe dibahen nasida ma hasadaon ni roha laho mandok tu Komisi Pemilihan Umum (KPU), tu pamarenta suang songoni tu PANWASLU, asa unang be ditorushon angka caleg i, manghansiti nasida. Molo boi nian, ba di paias ma sude daging na mi on sian angka gombar nasida i. Alana, halak i do na naeng gabe caleg, ba gabe hami do na susa. Amang tahe…

Adat Parjuji…

“Manang na boha pe, ingkon martulang do au tu Simanjuntak” (Biar bagaimana pun, saya harus panggil Tulang ke marga Simanjuntak. Kalimat ini sudah beberapa kali diungkapkan amang Panjaitan kepada Amang Simanjuntak bila mereka melakukan “sidang tertutup” mengelilingi meja bundar yang menjadi arena tarung “marjokker”. Bahkan bisa dikatakan terlalu sering.

Dan kalimat ini kembali terulang saat mereka asyik dalam konferensi sore itu. Amang Simanjutak berada di sebelah kiri Amang Panjaitan, dan yang berhadapan arah dengan amang Panjaitan adalah Sitorus yang katanya jarang kalah dalam pertarungan.

“Dari Oppung, Tulang, bahkan Hula-hula, semua marga Simanjuntak”, kata Amang Panjaitan mempertegas. “Jadi anak ni hambing ni Simanjuntak do hami” (jadi kami ini anak kambing marga Simanjuntak), lanjutnya lagi. (Sebutan anak ni hambing menunjukkan pertalian hubungan darah dari pihak ibu yang sudah terulang beberapa kali)

“Aha do maksudmu, asa leanonna do masuk ho?” (Maksudmu apa, biar dikasi masuk kartumu?) , Sitorus menyela. Kebetulan amang Panjaitan dan Amang Simanjuntak dalam posisi kalah.

“Ndang songon i antong. Molo markartu, ba markartu ma, ianggo Hula-hula i ingkon hormatan do” (Nggak gitulah…, main kartu ya main kartu, hula-hula tetap harus dihormati – maksudnya harus dipisahkan antara kegiatan di atas meja dengan adat), Panjaitan menanggapi dengan santunnya.

“Antong, pas dua ma” (Suatu trik untuk memenangkan sebuah game dengan resiko gambling tinggi dalam permainan Jokker karo), Sitorus meletakkan kartunya untuk dilihat lawan lain. Permainan ini diikuti dengan memberi kesempatan kepada semua pemain untuk mengganti salah satu kartunya dengan mengambil dari tumpukan tengah atau bekas buangan orang dari sebelah kiri. Kemungkinan mati bila nilai di bawah 75 atau bisa bertahan bila nilai sudah di atas 75.

“Ah, mate bah…”, (kartuku mati bah) kata Simanjuntak dengan loyo melemparkan kartu cabutan dari tumpukan tengah ke kanan dan meletakkan kartu-kartu di tangan ke atas meja. Tapi belum sempat Panjaitan bereaksi…:

” E so jo…, tahan do hape.” (E  tunggu dulu, ternyata tahan), katanya sambil mengambil kartu Queen Heart yang tadi sudah dibuang dan disusun kembali. ” Nih, dua mata..” katanya melanjutkan.

Sitorus dapat menerima karena kartu-kartu dari tangan amang SImanjuntak masih rapih di atas meja.

“Ndang boi songoni, ai molo tu au si Queen i tahan do ahu…” (Nggak bisa gitu, kalau kartu Queen itu ke saya, kartuku juga bisa bertahan…..) SImanjuntak protes dengan marahnya. Maklum, kalahnya sudah mampu menggoyahkan akal sehatnya.

“Haru na mar pas so keberatan, gabe hamu mangamuk..” (Yang melakukan trik aja gak keberatan – maksudnya SItorus – koq jadi kamu yang ngamuk), Simanjuntak juga membalas dengan tak kalah geramnya.

“Baba ni amam ma ” (maaf), Panjaitan menghempaskan kartu-kartu di tangannya ke atas meja hingga menerbangkan abu dan puntung rokok dari asbak menerpa amang SImanjutak hula-hulanya………

“Ala ni parjokkeron i ma …” (Gara-gara jokker) Sitorus berdendang menirukan irama lagu Eddy Silitonga Ala ni parendeonki sambil memasukkan setumpuk uang kemenangan ke saku jaket ….

“Marlea Tulang, so ni hilalaaaaa……….., da inang”

Sumber :http://rapmengkel.wordpress.com/

Namabalu dohot Panangga

Di sada huta, adong ma sada ina naung leleng mabalu. Sude angka ianakhonna nunga be gabe “jolma”. Hasea di pangarantoan, jala piga-piga sian ianakhonna i, nunga maringanan di luar negeri. Molo sian ha adongon boi ma dohonon sada “janda kaya” do inanta on, alana sude do gellengna manongos angka na porlu di parngoluonna siapari.

Mandongani inanta on, adong do dipahan ibana sada panangga, goarna si Lekky. Si Lekky on, nungnga apala dihaholongi. Nungnga dibahen songon “gellengna”. Jala, si Lekky on pe, dipatuduhon do ha satiaon na tu induk somang na si “janda kaya” i. Tardok hangkot do inanta on tu si Radot, naung songon gelleng na on. Minum susu, mangan indahan, jagal. Jala rap modom do nasida padua di sada kamar. Sipata, rap do di sada podoman.

Marpulu taon nasida rap. Di sada tingki, marsahit mansai pasang ma si Lekky. Gale. Ndang roha na be mangan. Ndang di inum be susu. Holan na peak. Marnida i, marsak situtu ma roha ni ina na mabalu i. Ise na ma donganhu molo ingkon mate do si Radot on, na huhaholongi on? Huhut tangis. Di jou ma mantari hewan, laho mangubati.

Di dok si mantari ima tu inanta i,  “Inang, toema. Pabulus ma roham, ianggo panangga on ndang ganjang be umurna”. “Piga-piga ari nari olo do mate on”.

Toho ma na nidok ni mantari hewan, dung sadari nari, toho di manogot ni ari, tos ma hosa ni si Lekky. Mangandungi ma inanta i, songon na matean gelleng. Huhut tangis, di telepon ibana ma angka gellengna di luat na dao. “Denggan ma bahen, Inong manaruhon si Lekky i sahat tu kuburanna. Molo taringot tu biaya penguburanna, hu tongos hami pe hepeng 2.000 dollar”, ninna gelleng siangkanganna na tinggal di Amerika. Laos sude do gelleng na, olo mangurupi inong na i, laho padengganhon parlao ni si Lekky, alai ndang boi nasida ro, alani dao ni inganan dohot angka giot ni ulaon.

Huhut marsak, jala sai tumatangis, laho ma inanta on tu pargodungan gareja na sida, manjumpangi Pandita. Ndang pola dao sian bagas ni inanta na mabalui. Tu Pandita, di dok ibana ma,

“Amang pandita nami, mansai habot situtu rohangku di tingki on. Ai nunga marujung ngolu be si Lekky”.
“Bah! Si Lekky na dia do tahe?”, disungkun panditai
“Panangga na sai huboan tu gareja i molo marminggu, amang”, ninna inanta i, huhut tarilu-ilu.
“Ue…, toema inang, unang sai marsak be ho. Naung songoni ma huroa partingkianna”.
“Ba, ganti ma muse…”

“Alai, amang pandita, alana nunga hubahen si Radot on, songon ‘gelleng’ hu, jala angka gellenghu pe nga mandok setuju, ingkon sakramenon mu na do si Radot on”, ninna manganju.
“Aha?!. Ndang adong di aturan ni hurianta, na mandok sakramenon, panangga. Tu jolma do pamasaon si songoni”, ninna pandita songon na muruk.
“Holan hita pe na mamboto sa”
“Jala di pudi ni jabu i do tanomon si Radot”, dijugulhon inantai.
“Tolong ma jolo amang pandita na mi… ”

Jongjong ma pandita i, jala didok “unang boan hamu au inang tu pangunjunan”.
“Ndang, olo ahu mangulahon i”, huhut di tadinghon inanta i.
Hira na manghatai sandiri, inanta i, di dok ma hatana, jala di bege pandita i dope.

“Ee… Lekky, songon i ma nasibmu. Ndang boi paborhatonhu ho, dohot denggan”
“Hape, mansai marsitutu do sude gellenghu laho mambahen denggan ulaon di parmatemon”
“Tudia nama bahenonhu, hepeng na tinongos ni angka gellenghi, na laho tu ho hian do i”, ninna huhut naeng mangalangka mulak.

Di pudi ni inanta i, digorahon pandita i ma,
“So jo, inang. Boha do didok ho nangkin?”
“Sadia ditongos gellengmi hepeng laho padenggan parborhati ni si Lekky i?”

“Toema, amang pandita nami”
“Ndang pola dia be i”
“Hu lehon na ma hepeng i tu dongan na pogos”
“Ai tongosonna do tu ahu hepeng 2000 dollar”
“Jala, adong do tabunganhu na boi pangheon saonari, binsan so ro dope tongosan i”, ninna huhut naeng laho.

“2000 Dollar do didok ho inang?” ninna pandita i, hira na so porsea tu parbinegeanna.
“Olo, amang pandita nami”
“Sude do pasuda on mu i tu parmate ni si Lekky huroa?”, didok pandita hira na tarsonggot.
“Olo, amang. Deba, 1.000 dollar ma i tu na olo mansakrameni si Lekky, saribu dollar na i ma tu padenggan ingananna, manuhor gantina, dohot haporluan na asing di ahu”, ninna inanta i patoranghon.

Nanget di etong pandita i ma di roha na, 1.000 dollar, hali 8.000 rupiah, bah 8 juta.
Hepeng! Ninna roha na.

“Ehm, songon on ma i inang natua-tua”
“Hu antusi do habot ni roha mi”
“Jala hira na dohot do ahu manghilalahon arsak mi di parlao ni si Lekky”
“Jala huida, naburju do si Lekky on, mandongani ho tu gareja”
“Jam piga!!!!!???, Di dia!!!??? Asa huida jumolo partingkian hu”

“Ba, saonari ma nian, amang pandita nami”, ninna inanta i, huhut las roha na.
“Saonari!!!???” Huhut dibungka, pandita i, buku na, hira na pareso tingki.
“Boima i inang. Parjolo ma hamu tu bagas muna. Ro pe ahu”, ninna pandita i semangat.
“Alai, so tung adong, ruas ni hurianta na mamboto sa, ate!”, di dok pandita i, hira na marhusip.
“Olo, amang. Parjolo ma jolo ahu. Asa hupareso jolo angka na porlu tu si. Mauliate parjolo”.

Ndang sadia leleng, ro ma pandita i, tu bagas ni inangta na mabalui. Di ida ibana, nunga denggan di saputi inanta i si Lekky, jala nga bostang di alaman di pudi ni jabu.

“Tamulai ma inang? Marnida hita di tingki”, ninna pandita i manungkun inanta naung marbaju kabaya na birong i.

“Olo, amang. Mulai hita ma”, ninna huhut tangis.
“Unang be sai tangis hamu inang, asa tulus dalan ni si Lekky on”, huhut mamanghe pahean jubah panditana, jala maniop agenda na birong.
“Marende ma hita. ‘Na Sa Biang Ingkon Mate, Ingkon Mago Jagal i…’, alai di bagas roha ma da, inang”, ninna pandita i, hira na marhusip.

Huhut tungki, jala sai tumatangis, ma inanta i. Di tiop ibana ma bangke ni si Lekky…

Dung sae di roha ni pandita i, ende di bagas roha, ditorushon manjaha, sakramen, ninna ma:
“Ale, Lekky. Molo jolma sian tano do, alai ianggo ho, ndang huboto sian dia”, huhut di dabu tano.
“Ale, Lekky. Molo biang somalna mulak gabe jagal do, alai ho mulak tu tano”, di dabu muse tano.
“Selamat jalan ma di ho, Lekky!”, tong di dabu tano.
“Kirim salam, tu sude biang naung jumolo i”

Dung singkop ulaon i, dipasahat inanta i ma jalang-jalang na tu pandita i. Pintor, mulak ma pandita i tu oargodungan dengan kecepatan tinggi.

Kamus :

1. Panangga = Anjing   2. Gelleng = Anak   3. Jalang-jalang = Ucapan terimakasih

Holong di tingki marhamlet…

Sudah bukan rahasia lagi jika seorang laki-laki sedang menjalin cinta dengan seorang perempuan, maka segala sesuatu yang dilakukan, diucapkan dan difikirkan, penuh kelemahlembutan, romantika dan pengorbanan. Itulah hebatnya seorang laki-laki, hingga pada tingkat tertentu, mau melakukan apa saja permintaan sang kekasih, diminta atau tidak. Takut kehilangan pamor, takut ditinggal, takut dan takut…

Semuanya itu sepertinya hanya bertahan hingga beberapa saat setelah melangkah ke tangga pernikahan. Kalau sebelum menikah si lelaki memposisikan diri sebagai pengawal, pengaman, bahkan pembantu, lain lagi jika sudah menikah. Perubahan, entah secara drastis atau lambat laun, seiring waktu, maka posisinya semakin bergeser.

Pacar belum ke sandung batu saja, sudah sontak bilang “hati-hati, sayang! Awas, ada batu kecil didekat kakimu!” Kalau sudah jadi istri, menanggapi kejadian yang sama yang terucap sama sekali lain dari yang dulu dikeluarkan dari mulut yang sama. “Kemana matamu kau taruh?” Itu bentakan si suami ketika istri tersandung batu besar. Menahan rasa sakit dan ketakutan sekaligus. Itu berlangsung seringkali, bahkan setiap hari. Ini, sebenarnya tidak lucu…

Tetapi coba simak, pembicaraan dua orang sejoli ini, jika dibaca dari atas (masa pacaran), semuanya terlihat indah. Sebaliknya, ketika kita baca dari bawah ke atas (masa setelah menikah), maka semuanya terlihat menyebalkan.

On ma panghataion ni dua halak jolma, boru dohot baoa di tingki nasida marhamlet : 😉

  • Baoa : Onma! Nunga apala leleng diparsinta rohangku tingki si songon on.
  • Borua : Lomo do roham molo hutadinghon ho?
  • Baoa : Unang! Unang hea tubu di roham si songoni.
  • Borua : Holong do roham tu ahu?
  • Baoa : Olo! Songoni do au, sahat tu ujung ni ngolunghu.
  • Borua : Hea do ho mardua roha tu boru-boru na asing?
  • Baoa : Daong! Ndang hea ahu mangulahon na so tama sisongoni.
  • Borua : Olo do ho mangumma ahu?
  • Baoa : Olo hasian
  • Borua : Hasian….

Dung leleng mardongan saripe, on ma na masa, jaha ma sian toru tu ginjang.

Sebisanya, jangan kita tiru bah….