Anak Korban Penganiayaan Dilapor Pelakunya

Polres Deli Serdang Tetapkan 3 Orang Anak di Bawah Umur Sebagai Tersangka

 tsk ANAK

TERSANGKA : RP (14),  N (12)  dan AMP (12) ditetapkan tersangka oleh Polres Deli Serdang setelah dilaporkan oleh D br P oknum PNS di Pemkab Deli Serdang pelaku tindak kekerasan terhadap AMP 30 Mei 2012 yang lalu. (Batak Pos/Poltak Simanjuntak)

Medan, Batak Pos

Belum sembuh dari trauma akibat dianiaya oleh D br P SSos oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kabupaten Deli Serdang dua bulan lalu tepatnya Rabu 30 Mei 2012, AMP (12) Pelajar SD Trisakti Lubuk Pakam, malah ditetapkan jadi Tersangka oleh Kepolisian Resort Deli Serdang.

Tidak hanya Agnes, 2 orang saudara kandungnya yang juga masih di bawah umur RP (14) dan NP (12)  juga ditetapkan sebagai tersangka, bersama-sama dengan kedua orang tuanya.

Berdasarkan Surat Panggilan Polres DS, ke 5 orang anggota keluarga Saut Panjaitan ini, dipanggil untuk dimintai keterangannya sebagai “TERSANGKA”  Jumat 27 Juli 2012 dengan sangkaan “Membuat Perasaan Tidak Menyenangkan”, sebagaimana dimaksud dalam pasal 335 ayat 1 KUHPidana, sesuai petunjuk dari pihak Kejaksaan Negeri Lubuk Pakam No B-2654/N.222/Epp.1/07/2012 berdasarkan laporan pengaduan Sdri Dameria Pardede SSos tanggal 1 Juni 2012 No LP/422/VI/SU/2012/RES DS.

“Kami sangat terkejut dan ketakutan, sebab yang mengadukan kami justru orang yang melakukan penganiayaan terhadap anak kami 2 bulan lalu. Masak anak-anak kami ditetapkan tersangka sementara mereka adalah korban dan hingga sekarang mengalami tekanan mental dan ketakutan”, ujar Saut Panjaitan ayah ketiga anak yang ditetapkan tersangka ini.

Mendapat surat panggilan dari polisi, Saut Panjaitan tidak serta merta membawa anak-anaknya ke kantor polisi, mengingat mereka masih pelajar dan masih di bawah umur. “Kami belum memenuhi panggilan polisi itu sebab kami takut membawa anak kami yang masih di bawah umur itu ke sana.  Istri saya saja yang ke Kantor Polisi”, papar Saut.

Penetapan status tersangka terhadap ke 3 anak di bawah umur ini ditanggapi serius oleh Ahli Hukum Pidana Universitas Santo Thomas Medan Prof Dr Maidin Gultom SH MH. Menurutnya polisi seharusnya lebih berhati-hati menetapkan status hukum seseorang apalagi anak di bawah umur. “Apa logikanya seorang anak di bawah umur bisa membuat perasaan seorang dewasa tidak senang, apalagi orang dewasa itu sudah melakukan tindakan melawan hukum berupa penganiayaan”, jelas Maidin.

Menurut Maidin, tindakan pelaku penganiayaan melaporkan korbannya yang anak di bawah umur ke polisi, sangat kental dengan skenario menyiasati hukum. Polisi dan Jaksa harusnya tidak mau ikut dalam skenario pelaku penganiayaan ini yang mau menaikkan posisi tawar menawarnya, untuk memaksa korban dan keluarganya bersedia menarik pengaduan. “Jelas ini skenario busuk seorang pelaku tindak pidana dan biasanya dimanfaatkan polisi mendapat uang penarikan pengaduan”, tegas Maidin.

Lebih jauh Wanrinson Sinaga SH MH, seorang advokat yang cukup dikenal namanya di belantara penegakan hukum di Kota Medan ini, kepada Batak Pos Kamis (2/8) mengatakan bahwa tindakan polisi menetapkan anak di bawah umur itu sangat tidak professional, apalagi pasal yang dituduhkan itu pasal “keranjang sampah”.

Secara teknis sebagaimana Pasal 72 KUHPidana, seharusnya kasus penganiayaan itu dulu diselesaikan dan pengadilan menolak tuduhan penganiayaan, barulah kasus membuat perasaan tidak menyenangkan dapat diteruskan.

“Pelapor dijadikan tersangka seharusnya didasarkan pada KUHPidana Pasal 72. Berhubung kepolisian sudah menetapkan ke 3 anak itu sebagai tersangka, maka sebaiknya dilapor saja penyidiknya ke Propam Poldasu dan Aswas Kejatisu”, saran Wanrinson. (POL).

 

ANIAYA ANAK DI BAWAH UMUR DAMERIA PARDEDE DIPOLISIKAN

Anak

MENGADU : Ratna br Simanjuntak dengan Putrinya Sutina Helen Panjaitan, mengadukan kebingungannya atas penanganan kasus penganiayaan terhadap Agnes Marito br Panjaitan di Polres Deli Serdang. (Batak Pos/Poltak Simanjuntak).

Batak Pos – Lubuk Pakam

Agnes Marito br Panjaitan (12) Pelajar SD Trisakti Lubuk Pakam korban penganiayaan Dameria br Pardede, belakangan ini mengalami trauma sebab penganiaya dirinya setiap hari harus dilihatnya bebas berkeliaran.

Walau sudah dilapor ke Unit PPA Polres Deli Serdang, pelaku yang dikenal  sebagai PNS di Pemkab Deli Serdang itu justru mengadukan kedua orang tua Agnes ke polisi dan langsung pada panggilan ke I ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Deli Serdang.

Penganiayaan terhadap diri Agnes dituturkan oleh  ibunya Ratna br Simanjuntak (46) kepada Batak Pos Selasa (19/6). Menurutnya, Agnes bersama dengan 2 orang anak tetangga MS (8), SP (5) dan Qu (2,5) pada Rabu 30 Mei 2012 seperti biasa bermain ayunan di halaman rumahnya Dusun II Gg Sederhana Desa Pagar jati Lubuk Pakam, sambil membunyikan lagu-lagu dari HP.

“Tak tahu kenapa, tiba-tiba Dameria br Pardede yang rumahnya berada di depan rumah kami mendatangi anak-anak sedang bermain ini dan mendamprat anak-anak”, terang Ratna.

Agnes yang merasa tidak melakukan kesalahan hanya bisa kebingungan dan takut. Tak hanya membentak, Dameria memukul dagu dan menjambak rambut Agnes, walau sempat dilerai oleh kakaknya SHP (18). Melihat gelagat tak baik ini, kakak Agnes pun mengabadikan kebringasan tetanggannya ini dengan kamera video HP nya.

Saat penganiayaan terjadi, kedua orangtua Agnes sedang tidak di rumah. Ibunya sedang di ladang, sementara ayahnya Saut Panjaitan sedang berada di rumah tetangga.  Sepulang dari ladang Ratna ibu Agnes mencoba mempertanyakan maksud Dameria menganiaya anaknya yang disambut dengan perkataan yang sangat menyinggung perasaan.

“Saya tidak levelmu. Lakimu hanya tukang kawinkan babi, kalau tidak kalian tidak makan. Kau hanya Parnab (pengumpul makanan babi) di pajak sana”, serang Dameria. Bahkan salah seorang tetangga lain yang kompak dengan Dameria Tiomsi br Siahaan mengatai suami Ratna sebagai seorang “Oon”.

Merasa tidak mampu melawan Dameria, Ratna pun akhirnya mengadukan kejadian ini kepada Kepala Desa Pagar Jati Bontor Siburian. “Kades menyarankan kami untuk melapor saja ke Bagian Perlindungan Anak di Polres”, jelas Ratna.

Sebelum melapor, Ratna menghubungi petugas kepolisian untuk meminta pengamanan, takut Dameria mengulangi perbuatan kejinya. Ditemani petugas kepolisian bermarga Sianturi, Ratna dan Agnes membuat laporan polisi ke Unit PPA Polres Deli Serdang dengan SPK No LP/418/V/2012/SU/Res DS, tertanggal 30 Mei 2012 dengan sangkaan Tindak Pidana Penganiayaan Anak.

Setelah pengaduan kami ke Polres, Polmas Desa bermarga Purba mempertemukan kami dengan pelaku penganiaya anak kami di Kantor Polisi. “Saat itu, atas saran Polmas kami diminta berdamai, namun Tumpak Hutape SPd yang diketahui sebagai seorang Guru ini, suami Delima Pardede tidak mau berdamai dan meminta agar diteruskan sampai pengadilan”, tambah Ratna.

Sesuai Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penelitian Laporan  Polisi No B/424/VI/2012/Sat Reskrim tertanggal 1 Juni 2012, yang memberitahukan bahwa pihak kepolisian telah menerima laporan/pengaduan Ratna dan akan dilakukan penyelidikan/penyidikan dalam waktu 14 hari, dan akan memberitahukan jika diperlukan waktu perpanjangan.

Dua minggu kemudian setelah mendapat  SP2HP, pada tanggal 12 Juni 2012, justru Ratna dan Saut Panjaitan suaminya yang dipanggil polisi dengan Surat Panggilan ke I No S.pgl/1204/VI/2012/Reskrim sebagai Tersangka atas tindak pidana penghinaan sebagaimana Pasal 310 KUHPidana, atas pengaduan pasangan suami istri Dameria Pardede dan Tumpak Hutapea SPd.

“Kami bingung tidak mengerti kenapa setelah 2 minggu ada penggilan ke kami berdua, sementara pengaduan kami atas penganiayaan yang dilakukannya tidak menunjukkan kemajuan”, sesal Ratna.

Untuk memperjelas perkembangan penyelidikan/penyidikan atas kasus penganiayaan anak ini, Batak Pos menghubungi Brigadir Susanti Penyidik PPA melalui telepon selularnya. “Datang saja ke kantor biar saya jelaskan”, katanya. Sedangkan Kasat Serse Reskrim Polresta Deli Serdang AKP Anggoro Wicaksono SH SiK, membenarkan adanya pengaduan Ratna dan juga pengaduan Dameria.

“Penyidikan sudah pada pemeriksaan saksi dan sudah menetapkan tersangka. Keterangan lebih lanjut coba hubungi penyidik saya”, ujar Anggoro.

Kebakaran di Kamp Pengungsi Karenni 2, Ban Mae Surin, Mae Hong Son, Thailand


Thai6Mae Hong Son, JuntakNews

Pada tanggal 22 Maret 2013 di 16.00 (GMT) kebakaran besar terjadi di Camp Pengungsi Karenni 2, menghancurkan lebih dari 300 rumah di 2 bagian dan menyebabkan kira-kira 2.300 jiwa penghuni kamp kehilangan rumah tinggal. Penyebabnya diduga akibat kegiatan memasak dan penyebaran api yang cepat, karena cuaca yang panas di kamp pengungsian, angin kencang dan mengeringnya bahan bangunan perumahan. Investigasi intensif sedang dilakukan oleh otoritas Negara Thailand.

thai1Lebih dari 200 warga kamp pengungsian menderita luka bakar berat dan 4 orang dengan luka bakar yang sangat parah. Pada tanggal 23 Maret, jumlah total korban meninggal, menjadi 35, termasuk 5 anak-anak dan 1 dilaporkan hilang.

Pejabat Forensik Thailand telah tiba di lokasi sejak, 23 Maret, dan mulai melakukan autopsi mayat korban, guna memverifikasi dan mengidentifikasi para korban. Sebuah ritual yang direncanakan dijadwalkan akan segera dilakukan.

Pertemuan koordinasi tanggap darurat diadakan, Sabtu (23/3), untuk membahas dan merencanakan operasi darurat. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Gubernur Mae Hong Son dan berbagai pihak terkait otoritas Negara Thailand, termasuk: Departemen Dalam Negeri, Pertahanan Keamanan Thailand, Departemen Kehutanan, Nai Amphur dari Khum Yuam, Komite Pengungsi Karenni, anggota lembaga CCSDPT dan UNHCR.

Tanggap darurat dan bantuan operasi saat ini berlangsung yang dipimpin oleh Komite Pengungsi Karenni. Pemerintah Thailand yang terkait telah menyusun unit pemantauan dan koordinasi, untuk menyediakan bantuan cepat ke camp pengungsian guna perbaikan secepatnya dan bantuan kepada warga kamp pengungsi yang hancur oleh kebakaran tragis tersebut.

Thai2Sementara itu, berbagai LSM kemanusiaan (WEAVE, TBC, JRS, IRC, COERR) memberikan bantuan langsung di Ban Mae Surin di perbatasan Thailand-Burma, sementara IOM dan UNHCR telah mendirikan sebuah kelompok koordinasi tanggap darurat (Makanan, Non-Makanan, Tempat Tinggal Sementara , Air dan Sanitasi dan Perlindungan korban) untuk memberikan dukungan selama operasi darurat.

Kebutuhan yang mendesak yang teridentifikasi, meliputi : Makanan, air minum, lembaran plastik, selimut, tikar tidur, kelambu, baju hangat, sarung untuk anak perempuan dan perempuan dewasa, pakaian anak laki-laki dan laki-laki dewasa, dan item lainnya, seperti penyediaan tempat penampungan darurat sementara sebelum rumah mereka dapat dibangun kembali. Bantuan psikososial juga diperlukan untuk memberikan konseling kepada semua korban karena tragedi tersebut.Thai4

Thai5

10 Bulan Koma Maria Alicya Simanjuntak Akhirnya Meninggal

Salomo TR Pardede : Kematian Maria Akhiri Penderitaanya

Selamat Jalan ke Rumah Bapa di Sorga
Selamat Jalan ke Rumah Bapa di Sorga

Medan, JuntakNews

Setelah mengalami koma selama 10 bulan di RS Pirngadi Medan, penderitaan Maria Alicya br Simanjuntak (13) berakhir sudah. Maria pelajar SMP N 25 Kelas VII, merupakan anak ke 4 dari 7 bersaudara dari pasangan Runggu Simanjuntak, ibunya Boru  Silitonga,  mengalami koma akibat radang selaput otak (meningitis) yang dideritanya. Perawatan dan pengobatan menggunakan fasilitas Kartu Medan Sehat tidak mampu menyembuhkannya.

“Manusia berencana, tapi Tuhan yang menentukan”, ungkap Salomo TR Pardede Ketua DKD Terang Indonesia ketika melayat Maria, Jumat (28/12). Dengan mimik penuh haru, Salomo yang beserta istrinya Esther br Simanjuntak selama 8 bulan terakhir ini member perhatian terhadap Maria, mengungkapkan kedukaanya ketika mengetahui Maria telah dipanggil PenciptaNya.

“Mendengar Maria telah meninggal, saya sempat shock dan istri saya Esther yang selalu mendoakan Maria pun tidak bisa menutupi kesedihannya dan menangisi kepergian adek kami Maria”, tutur Salomo TR Pardede yang dikenal juga sebagai Anggota DPRD Sumut ini.

Kondisi ekonomi keluarga Maria yang memprihatinkan dan kondisi Maria ketika menjalani perawatan dan perobatan di RS Pirngadi, telah mengundang simpatik tidak saja dari kalangan Generasi Muda Simanjuntak Sitolu Sada Ina Boru Bere Ibebere (GM-SSSI&BBI). Berbagai dukungan moril dan materil terus diberikan dengan harapan Maria bisa siuman dan sembuh dari penyakit yang menggerogotinya.

Seminggu sebelum meninggal, diberitahukan bahwa kondisi Maria semakin memburuk. Pendarahan terjadi dan sulit dihentikan. Pengurus Naposo Simanjuntak Kota Medan yang secara bergiliran tugas menjagai Maria menlaporkan bahwa dalam keadaan tidak sadar, mulut dan hidung Maria terus mengeluarkan darah.

“Pendarahan terjadi beberapa hari tanpa bisa dihentikan. Kondisi tubuhnya semakin buruk, semakin kurus dan pergerakannya pun semakin minim”, ujar Poli Simanjuntak, salah seorang Naposo Simanjuntak kepada JuntakNews di rumah duka.

Salomo TR Pardede yang sengaja hadir melayat, tampak dengan setia mengikuti seluruh rangkaian acara pemberangkatan Maria, hingga ke pemakaman di Pekuburan Kristen Jl Gajah Mada Medan. Kepada keluarga Maria, Salomo mengatakan sepeninggal Maria, agar komunikasi jangan terputus dengan dirinya dan keluarga.

“Jika membutuhkan bantuan sepeninggal Maria ini, tidak usah sungkan untuk menghubungi saya. Maria sudah pergi. Kematiannya telah mengakhiri semua penderitaanya. Keluarga yang ditinggalkan kiranya  dalam kesediahan dan duka. Sebagai pengganti krans bunga dan ungkapan duka kami keluarga Pardede, terimalah ini”, katanya sambil menyerahkan amplop berisi uang yang diterima langsung Runggu Simanjuntak ayah Maria.

Suasana di rumah duka dipenuhi tangisan kakak adik Maria yang merasa kehilangan saudara. Ayah dan Ibu Maria tidak bisa menyembunyikan rasa duka mendalamnya yang terus menerus menangis dan memanggil nama putrid kesayangan mereka. “Selamat jalan boru hasian…!”, isak Runggu Simanjuntak, sambil memukul-mukul kepalanya.

Runggu Simanjuntak ayah Maria yang berprofesi sebagai penarik Ankor Medan Raya Ekspres, ketika diberi kesempatan “Mangampu”, mengucapkan rasa terimakasihnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan doa dan materi selama putrinya menjalani perawatan di RS Pirngadi. “Terimakasih atas semua perhatiannya pada Maria”, ujarnya terisak.

Diiringi deru suara sirene ambulans yang membawa jasad Maria, puluhan sepeda motor yang dikendarai Naposo Bulung Simanjuntak, konvoi pemakaman melaju dari Jl Jermal XIV ke Jl Gajah Mada. “Maria, kamu berasal dari tanah dan kembali ke tanah”, ujar Pdt R br Siregar Pendeta HKBP Menteng, ketika sakramen pemakaman. (POL)

Misteri Kematian Bonggas Sihotang 4 Bulan Belum Terungkap

Elfrida Sihotang : Hasil autopsi menguatkan dugaan kami bahwa Bonggas meninggal karena dianiaya.
Kasat Serse  Polres Sergai : Belum cukup saksi dan bukti untuk menetapkan tersangka.

 JuntakNews – Sei Rampah,

Tidak terima penyebab kematian Bonggas Sihotang (33) yang diduga dianiaya tetangganya, tidak terungkap hingga 4 (empat) bulan, Elfrida Sihotang, salah seorang saudari perempuannya, didampingi  orangtuanya Kasman Sihotang (76), mendatangi Biro Advokasi Generasi Muda Simanjuntak di Restoran Steak & Stuff Jl. Dr. Mansur Medan, Senin (13/2).

Maksud menyoal kinerja Kepolisian Resort Serdang Bedagai. Baik Elfrida maupun orangtuanya, mengharapkan ada pihak yang dapat membantu mereka mendorong pihak kepolisian agar lebih profesional dalam menangani kasus yang sudah mereka laporkan di Polres Sergai tepatnya 26 September 2011 yang lalu dengan Nomor : STPL/358/IX/2011/SU/RES SERGAI.

Rudyard Simanjuntak, Ketua Biro Advokasi GM-SSSI&BBI yang menerima menerima kedatangan keluarga Bonggas tampak serius mendengarkan kronologis kejadian perkara dan sesekali melontarkan pertanyaan guna mendapat informasi yang lebih lengkap, sambil membolak balik foto-foto saat Bonggas diautopsi.

“Kebiasaan anak saya Bonggas yang memiliki keterlambatan mental ini, setiap pagi bangun subuh dan berjalan-jalan di sekitar rumah. Pada saat kejadiaan naas ini, Bonggas tidak dalam kondisi sakit apapun. Pukul 05.00 wib, seperti biasanya dia keluar, dan sekira pukul 06.00, saya melihat dari rumah ke arah rumah tetangga, Bonggas jalan terhuyung, hingga sampai di rumah dan terhempas. Muntah darah, ada tanda bilur-bilur di sekujur tubuh dan satu buah pelirnya (testes) pecah yang membuatnya tidak bisa buang air kecil hari itu, hingga meninggal. Ketika kami tanya kenapa, dengan keterbatasannya menjawab “Saya dipukuli LR”, yang tak lain adalah tetangga kami sendiri”, jelas Kasman, terisak.

Penuturan lain dari Elfrida, bahwa Bonggas walau mengalami keterlambatan mental, tidak pernah mengganggu orang lain. Bahkan, ketika diteriaki anak-anak LR yang sering berpapasan dekat rumah, Bonggas hanya bisa diam. Dan, Elfrida sendiri pernah menyaksikan langsung, betapa anak-anak LR justru tidak dilarang ibunya ketika melakukan tindakan yang menghinakan Bonggas.

“Saya pernah melaporkan kejadian ejekan yang dilakukan oleh anak-anak LR kepada ibunya, tetapi tidak mendapat tanggapan. Yang lebih memilukan lagi, Bonggas pernah pulang ke rumah dengan beberapa sayatan pisau di tangannya dan kami ketahui dari dia, bahwa itu dilakukan oleh keluarga LR”, jelas Elfrida.

Kecurigaan keluarga Bonggas atas kematian yang tidak wajar ini, mendorong mereka membuat laporan kepada polisi. Atas dasar laporan tersebut, polisi telah pula menyetujui dilakukannya Autopsi yang dalam SP2HP Polres Sergai menyebutkan ditemukan berbagai luka memar di sekujur tubuhnya.

“Saya sempat membaca hasil autopsi ketika ditunjukkan Jupernya, yang akhirnya urung difotocopy, bahwa Bonggas mengalami retak di kepala, tulang kaki patah dan buah pelirnya sebelah kanan remuk”, tambah Elfrida sambil menunjukkan foto-foto ketika Bonggas di autopsi oleh dr. Surjit Singh, Sp.F, DFM di RS Pirngadi Medan.

Rudyard Simanjuntak, ketika dimintai tanggapannya atas pengaduan keluarga Bonggas, kepada Batak Pos mengatakan, bahwa Biro Advokasi Generasi Muda Simanjuntak akan memberikan pendampingan bagi keluarga, sehingga hak hukum mereka dapat terpenuhi dan rasa keadilan dapat ditegakkan.

“Kami akan mendampingi keluarga ini mencari tahu apa penyebab terlambatnya penanganan perkara ini. Pendapat saya, tak cukup dengan pendekatan hukum konvensional, justru disinilah dituntut profesionalitas polisi sebagai penyelidik dan penyidik, mencari dan menemukan alat bukti, hingga pelaku dapat mempertanggungjawabkan tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan matinya orang, sebagaimana dimaksud pasal 351 ayat 3 KUHPidana”, kata Rudyard.

Ketika ditanya perihal keterlambatan penanganan hukum kasus kematian Bonggas, Kasat Serse Polres Sergai AKP T.M.L. Tobing, SH, kepada JuntakNews  (13/2), mengatakan bahwa kasus ini mendapat atensi dari pihaknya, apalagi perkara ini menyangkut hilangnya nyawa manusia. Diakuinya bahwa dalam proses penyidikan, pihak kepolisian kesulitan menemukan saksi dan alat bukti.

“Sangat disayangkan, kenapa keluarga Bonggas baru membuat laporan setelah korban meninggal. Kami, tidak bisa bertindak gegabah menangkap seseorang yang diduga pelaku, tanpa saksi dan alat bukti”, jelas Tobing.

Bila pihak polisi merasa telah memberikan atensi,  sementara keluarga merasa belum mendapat pelayanan hukum yang dibutuhkan, apakah kematian Bonggas akan tetap menjadi misteri? Semoga tidak! (POL)

SEBULAN KOMA : MARIA ALICYA SIMANJUNTAK SADAR DAN JALANI MRI

JuntakNews – Medan : Maria Lycia br Simanjuntak   (12)  tahun anak ke-3 dari 7 bersaudara anak dari  Runggu Simanjuntak, ibunya Boru  Silitonga, setelah sebulan mengalami koma karena radang otak yang dideritanya, akhirnya sadar, walau belum bisa bangkit dari tempat tidurnya.

Pasca mengalami koma Maria sehari-hari hanya bisa menggerakkan tangan dan membuka kelopak matanya, tetapi untuk berkomunikasi belum bisa sama sekali. Melihat lambatnya perkembangan kesehatan Maria, Pengurus Generasi Muda Simanjuntak Sitolu Sada Ina Boru Bere Ibebere (GM-SSSI&BBI) mencoba melakukan komunikasi dengan dr Margareth Damanik SpA, untuk mengetahui lebih jauh penanganan lanjutan penyakit Maria.

“Setelah kami komunikasikan dengan dokter yang merawat Maria, beliau setuju untuk membawa Maria menjalani pemeriksaan lewat MRI, sehingga perluasan Penyakit Meningitis Maria dapat diketahui”, jelas dr Bakti Simanjuntak kepada JuntakNews Senin (21/5).

Maria yang dirawat dengan menggunakan fasilitas Kartu Medan Sehat, dimana biaya pemeriksaan MRI tidak dicover didalamnya. Usaha penggalangan dana yang dilakukan oleh GM-SSSI&BBI dan didukung oleh DKD TI Sumut, berhasil mengumpulkan dana yang cukup untuk membawa Maria menjalani MRI di RS Elisabeth Medan.

“Biaya yang terkumpul lewat penggalangan dana GM-SSSI&BBI dan DKD TI Sumut dipergunakan untuk mebiayai pengobatan Maria yang tidak tercakup dalam fasilitas Kartu Medan Sehat. Sejauh ini, hampir tidak ada masalah kebutuhan dana untuk Maria, dan berharap untuk beberapa waktu ke depan dukungan para dermawan masih terus masuk”, jelas Tumbur Alie Simanjuntak.

Selain memberikan dukungan dana, Salomo TR Pardede Ketua DKD TI Sumut secara langsung menunjukkan sympathy dan empathynya terhadap penderitaan Maria dan keluarga. Perkembangan penanganan penyakit Maria diikutinya seraya berharap penanganan Maria dapat terus terjaga dan ditingkatkan sehingga bisa pulih kembali. “Saya berharap penanganan penyakit Maria dapat terus dilaksanakan sampai dia sembuh. Jika mengalami hambatan dan keterbatasan, kami siap membantu”, ujar Salomo yang ditemui JuntakNews di Ruangan MRI RS Elisabeth Medan.

Secara terpisah, JuntakNews menghubungi dr Margareth Damanik SpA, mengatakan bahwa MRI bukanlah tindakan pengobatan, sehingga perlu penjelasan kepada keluarga sehingga tidak salah tafsir. “MRI itu hanya cara kita untuk mengetahui lebih jauh kondisi penyakit radang otak Maria. Dengan diketahuinya perluasan radang tersebut, maka dapat ditentukan langkah lebih lanjut penanganannya. Jadi MRI bukan pengobatan”, katanya. (POL)

PSSSI&B Kota Medan Bentuk Panitia Natal 2012

DR Edward Simanjuntak terpilih jadi Ketua Panitia Natal PSSSI&B Kota Medan Tahun 2012
DR Edward Simanjuntak terpilih jadi Ketua Panitia Natal PSSSI&B Kota Medan Tahun 2012

JuntakNews-Medan

Puluhan tahun tidak pernah melaksanakan Perayaan Natal Bersama, Pengurus PSSSI&B Kota Medan bak tersadar dari tidur panjangnya, jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk melaksanakan Natal Bersama Simanjuntak Sitolu Sada Ina se-Kota Medan dengan membentuk Panitia Natal 2012.

Pengurus dan Penasehat GM-SSSI&BBI ikut dalam pertemuan.
Pengurus dan Penasehat GM-SSSI&BBI ikut dalam pertemuan.

Pertemuan yang dilaksanakan di Wisma Karunia Medan Minggu (23/4) ini, dihadiri 200-an orang yang terdiri dari  Koordinator Wilayah I – X dan Pengurus 71 sektor PSSSI&B Kota Medan, Penasehat serta beberapa orang aktifis GM-SSSI&BBI Kota Medan, berlangsung penuh kekeluargaan.

Pertemuan yang dipimpin langsung Ketua PSSSI&B Kota Medan  Alidin Simanjuntak, berlangsung sejak siang hingga sore hari dan berhasil secara aklamasi menunjuk DR Edward Simanjuntak sebagai Ketua Panitia Natal. “Bagaimana kalau kita meminta kesediaan DR Edward menjadi Ketua Panitia Natal kita tahun ini?”, tanya Alidin ke floor yang dijawab dengan teriakan “Setuju!”, dari seluruh peserta.

DR Edward Simanjuntak yang mantan pejabat teras di Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara ini pun ketika diminta kesediaanya menyatakan setuju dan mengucapkan terimakasih atas kepercayaan terhadap dirinya, serta berjanji akan melakukan yang terbaik lewat kepanitiaan yang akan dinakhodainya.

“Saya berterimakasih kepada kita semua yang telah mempercayakan saya menjadi ketua panitia dan berharap agar semua sektor, penasehat dan korwil dapat mendukung. Kepanitiaan akan saya rancang sederhana dengan jumlah yang tidak terlalu gemuk, hanya sekitar 50-an orang”, katanya Edward Mardaup No. 14 ini.

Beberapa orang peserta pertemuan yang diminta tanggapannya, menyatakan bahwa sudah saatnya PSSSI&B Kota Medan untuk tampil sebagai organisasi yang mempersatukan seluruh elemen Simanjuntak Sitolu Sada Ina di Kota Medan tanpa harus terpengaruh dengan perilaku beberapa orang Marga Simanjuntak yang mulai melakukan tindakan pengkotak-kotakan di tubuh PSSSI&B.

“Mulai persiapan dan pelaksanaan natal tahun ini, panitia dan Pengurus PSSSI&B dapat menggunakannya sebagai upaya mempersatukan kembali PSSSI&B yang mulai terganggu dengan ancaman perpecahan. Pengurus PSSSI&B Kota Medan adalah satu-satunya induk organisasi PSSSI&B dari 71 sektor dan 10 wilayah”, kata Agio Simanjuntak.

Letkol Ckm Ricardo Simanjuntak SSos MKes, selain sebagai salah seorang ketua sektor juga pengurus GM-SSSI&BBI mengharapkan agar panitia natal kali ini dapat bekerja dengan memobilisasi seluruh dukungan dari sektor-sektor, seraya mengusulkan agar bentuk dukungan kepada panitia dimulai sejak pertemuan ini dengan mengumpulkan spontanitas dana untuk kepanitiaan. “Saya usul agar dukungan kita kepada panitia dapat ditunjukkan sejak awal, dengan mengumpul dana secara spontanitas dalam pertemuan ini”, tegas Ricardo.

Sementara Rudyard Simanjuntak, menyampaikan usul agar dalam pembentukan struktur kepanitiaan meninggalkan pola lama, tetapi lebih berorientasi kerja yang mendahulukan faktor kapasitas, kapabilitas dan akuntabilitas orang-orang yang akan duduk sebagai panitia. “Struktur dan orang-orang yang duduk di kepanitiaan, hendaknya tidak terlalu besar, tetapi dipilih dari orang-orang yang memiliki kemampuan dan mau bersungguh-sungguh kerja untuk Simanjuntak”.

Menanggapi usul-usul peserta pertemuan, ketua terpilih mengatakan bahwa dirinya akan mencatat dan merespon semua usul-usul dan memohon waktu untuk membentuk dan memilih personalia kepanitiaan.

Pertemuan yang diawali dengan ibadah singkat ini, ditutup dengan doa dan makan bersama. Di penghujung acara, dilakukan pengumpulan dana spontanitas untuk kepanitiaan yang berhasil mengumpul Rp. 3.350.000,- dan langsung diserahkan kepada Edward untuk dipergunakan panitia. Selamat Bekerja!

DITUDUH PELIHARA BEGU GANJANG KERTI SIRAIT DIANIAYA

Dapot Simanjuntak dan Istrinya Kerti mengadukan pelaku penganiayaan dan perusakan ke Polsek Berigin.
Dapot Simanjuntak dan Istrinya Kerti mengadukan pelaku penganiayaan dan perusakan ke Polsek Berigin.

Dituduh memelihara Begu Ganjang, Kerti Binna Lina Sirait (53) penduduk Dusun VII Barisan Porsea Desa Durian Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang jadi korban penganiayaan dan perusakan rumah yang dilakukan oleh Rizal Manurung Alias Ottot (28).

Ikhwal tuduhan memelihara Begu Ganjang, sudah berulangkali dialamatkan ke keluarga Kerti dan sudah pula pernah dimediasi oleh Aparat Desa dan Pihak Kepolisian, untuk melakukan perdamaian antara keluarganya dengan para penuduh, ternyata isu itu terus berkembang dan justru semakin mengancam keselamatan keluarga Kerti.

“Tanggal 24 Pebruari 2011, di hadapan Kepala Desa Durian H. Manurung, kami sekeluarga telah dipertemukan dengan Parhehean Sianturi yang telah nyata-nyata menuduh suami saya dan keluarga kami memelihara Begu Ganjang. Pada pertemuan tersebut, sudah disepakati bahwa seluruh warga desa termasuk Parhehean Sianturi tidak boleh mengeluarkan tuduhan memelihara Begu Ganjang dan jika masih mengulangi maka akan diproses secara hukum”, jelas Kerti kepada JuntakNews Minggu (22/4).

Dalam Surat Kesepakatan Bersama yang juga ditandatangani oleh Ajun Komisaris Polisi Pantas SP Sinaga Kaplokse Beringin dengan jelas tertulis bahwa Kepala Desa Durian akan mensosialisasikan kepada masyarakat Desa Durian untuk tidak lagi mengeluarkan tuduhan Memelihara Begu Ganjang kepada siapapun khususnya kepada Saudara Dapot Simanjuntak, suami Kerti sendiri.

Diadakannya Kesepakatan Bersama adalah sebagai bentuk antisipasi, terhadap terulangnya kejadian dimana warga yang terprovokasi hendak melakukan pembakaran rumah Kerti. “Jika tidak mendapat pengamanan dari ratusan petugas kepolisian dan aparat TNI dari Koramil, rumah kami sudah pasti akan dibakar massa waktu itu”, jelas Kerti.

Setahun setelah penandatanganan Kesepakatan Bersama, entah karena lupa dengan isi pernyataan, atau entah karena kurangnya sosialisasi, salah seorang penduduk Desa Durian bernama Rizal manurung (28) tepat hari Jumat (30/3), datang ke rumah Kerti dan sempat bertengkar mulut dengan suaminya dan menuduh Dapot Simanjuntak sebagai pemelihara Begu Ganjang, dan merusak pintu dan kaca jendela rumah serta menendang Kerti hingga paha kanan dan perutnya memar.

Tidak terima perlakuan Rizal, apalagi mengingat adanya Kesepakatan Bersama, Kerti pun melaporkan Rizal ke Polsek Beringin. Berdasarkan Laporan Polisi No. Pol LP/III/2012/SPK tertanggal 30 Maret 2012, laporan Kerti dikategorikan sebagai Perkara Pengrusakan dan Penganiayaan, sebagaimana dimaksud pasal 351 Ayat (1) Subs 335 ayat (1) Subs 406 ayat (1) KUH Pidana.

Sejak membuat laporan polisi, pihak Polsek Beringin sudah 3 kali mengirimkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan Perkara (SP2HP) yang ditujukan kepada Kerti sebagai pelapor. Diminta pendapatnya perihal kinerja kepolisian dalam menangani kasus ini, Kerti mengatakan bahwa pihaknya merasa perlunya dilakukan penahanan terhadap pelaku sebab rasa aman dan harga diri keluarganya sangat terganggu.

“Kami meminta pihak kepolisian lebih tegas menangani perkara ini sebab sangat mungkin terjadi kejadian yang lebih buruk, jika secara hukum pelaku ini tidak mendapat hukuman yang setimpal dan menjadi pelajaran agar yang lain jera melakukan tindakan yang melanggar hukum”, jelas Dapot.

Ketika dikonfirmasi Kapolsek Beringin melalui Brigadir Astopan Siregar, SE mengatakan bahwa pemeriksaan saksi-saksi dan barang bukti sudah cukup, sehingga pihaknya akan melimpahkan berkas perkara ke Kejaksaan Negeri Lubuk Pakam dalam waktu beberapa hari ke depan. “Kami sudah memeriksa semua saksi-saksi dan barang bukti sudah cukup untuk kami limpahkan ke kejaksaan kemungkinan hari Selasa atau Rabu”, katanya. (POL)

Maria Licya br Simanjuntak Berjuang Dari Koma


Maria Lycia br Simanjuntak  (Mardaup 17) berumur 12 tahun merupakan  anak ke-3 dari 7 bersaudara anak dari  Runggu Simanjuntak/br silitonga, selama 2 minggu tak sadarkan diri (koma) karena infeksi paru dan radang otak yang dideritanya. Siswi SD yang pintar bernyanyi ini, oleh orangtuanya terpaksa di pindahkan dari Rumah Sakit Elisabet Medan ke Rumah Sakit Pirngadi Medan dengan alasan ketidakmampuan keuangan keluarga.

Runggu yang sehari-harinya bekerja sebagai supir angkot, di satu sisi ingin membuat yang terbaik buat perawatan Maria, tetapi keterbatasan pemasukan dan besarnya biaya yang ditanggung sejak putrinya dirawat di RS, terpaksa harus mencari fasilitas pengobatan yang lebih ringan dari segi pembiayaan.

Kepada JuntakNews, Runggu menuturkan kondisi putrinya yang sangat memprihatinkan, sebab sudah 2 minggu tidak sadarkan diri. “Kami tidak bisa berbuat banyak, sebab menurut dokter, Maria harus menjalani operasi radang otak dan komplikasi penyakit tifus yang dideritanya tidak memungkinkan tindakan itu dilakukan saat ini. Ditambah lagi, ketidakmampuan kami untuk menyediakan biaya operasinya”, tutur Runggu dengan terisak.

Sabar dan sambil berdoa, hanya itu yang bisa dilakukan saat ini. Keajaiban atau mujizat tetap menjadi harapan sehingga Maria dapat segera sadar dan dimungkinkan untuk mendapat tindakan medik yang dibutuhkan. Kondisi kemiskinan keluarga dan buruknya lingkungan tempat  Maria hidup sehari-hari di rumah kontrakan Jl. Jermal XV Medan, diduga menjadi penyebab penyakit yang dideritanya. “Menurut dokter, Maria sakit karena lingkungan yang tidak bersih dan kurangnya mendapat gizi yang baik”, tambah Runggu.

Poli Simanjuntak, seorang aktifis sosial Simanjuntak, yang dihubungi keluarga Maria, mengharapkan dukungan doa dan bantuan biaya pengobatan untuk Maria. “Mohon agar dimobilisasi dukungan untuk Maria, sebab saya sudah menyaksikan sendiri penderitaannya dan sudah pula berbicara dengan kedua orang tuanya. Mereka keluarga miskin!”, jelas Poli.

Apa yang bisa kita lakukan, tentu tergantung usul dan keterbukaan hatin kita. Ayo kita dukung Maria kembali sadar dan sehat, sehingga dia bisa melantunkan lagu-lagu pujian dan bersekolah.

Bagi yang mau membantu biaya pengobatannya, silahkan kirimkan ke rekening dan konfirmasi ke nomor HP  di bawah ini :

 

POLTAK SIMANJUNTAK (Konfirmasi Pengiriman guna pencatatan lewat SMS ke : 081361175358)

BNI Cabang USU Medan
No. Rekening : 0062651304

BCA Cabang Iskandar Muda Medan
No. Rekening : 3491081862

 

[table id=12 /]

Nikah : Si Ve Borjun dengan Mario Tompul

We would like to invite you to attend on our wedding :

EVELINA HOTMARIA SIMANJUNTAK

dg

MARIO FREDERICK BONATUA SITOMPUL, SST. Par

at

Saturday, April 14, 2012
12:30pm in UTC+08
Gdg. Wanita Nari Graha, Jl. Cut Nyak Dhien No. 2 Renon, Denpasar