Up-load Media (Image, Video, dll) pada WordPress 2.5

Salah satu perubahan dalam WordPress 2.5 adalah sistem upload media (image, video, dan lain-lain). Sistem baru yang menggunakan Flash, memberikan tampilan yang jauh lebih menarik dan memungkinkan upload beberapa file secara simultan. Akan tetapi ternyata sistem baru ini memiliki beberapa permasalahan atawa problem.

Jika anda mengalami kesulitan dalam menggunakan sistem upload baru ini, misalnya menemukan pesan HTTP Error, atau proses upload yang tidak selesai-selesai, coba lihat rekomendasi penyelesaian masalah ini di: WordPress Support: 2.5 Image/Media Uploader problems.

Sumber : http://adhisimon.or.id

Periksa Kesehatan, Minimalisasi Kesalahan Berobat

Pemeriksaan kesehatan biasanya diawali oleh pemeriksaan laboratorium. Selanjutnya, hasil pemeriksaan laboratorium, menjadi dasar dokter untuk memastikan diagnosa penyakit, untuk menetapkan perlakuan pengobatan selanjutnya. Karena begitu pentingnya pemeriksaan laboratorium, kalau ada kesalahan sedikit saja pada pemeriksaan awal ini, bisa dibayangkan kesalahan-kesalahan yang akan terjadi selanjutnya, dan akibatnya yang sangat fatal. Dan, tanpa pemeriksaan laboratorium (termasuk foto), tentu pemeriksaan kesehatan akan sangat terbatas. Dengan kata lain, pemeriksaan laboratorium,bisa menghindari keterbatasan diagnosa manual/tradisional (palpasi, steteoskop dan pengakuan pasien).

Continue reading “Periksa Kesehatan, Minimalisasi Kesalahan Berobat”

@ borjun par jakarta

HORAS bou! HORAS kak! HORAS anggi!

aku mo ngajak ngajak niiicchhh … tuk para borjun borjun, tapi mungkin par jakarta dulu kali yaaaa …

Sabtu [tiap Sabtu], 05 July 2008, di Plaza Semanggi, jam 14.00 – till drop!

aku ada ikutan satu kegiatan, nama nya Klub Makkait!

tadi nya aku gak bisa makkait, tapi pengen banget tuk “killing time” laaahhh … akhir nya join aku 2 tahun yg lalu kalo gak salah …

project pertama ku dikasih oleh sang pengajar tuk bikin “Bandana” … yg lurus lurus aja … belum yg segitiga

lalu project kedua, aku mau bikin “Syal” … gampang bgt! secara lurus lurus juga! jadi laahh itu syal pesenan seluruh isi keluarga ku … karena gampang dan cepat, aku sudah selesai 6 syal, tapi tersebar semua …

project ketiga, aku buat “Topi Kabaret” … rada susah di awal nya, karena harus bikin “lingkaran maut”! ini istilah ku sendiri … tapi selesai juga! sudah 3 topi aku buat, and lagi on going 1 topi, and mau kerjain 1 topi lagi untuk permintaan seseorang …

ikutan yuuuuuuuuuuukkkkk … mudah koooqqq … lumayan tuk pengganti “yoga” … karena bisa juga tuk menenangkan hati dan pikiran disaat “boring time” atau lagi bengong bengong gak jelas …

tuk lebih meyakin, bisa lihat link berikut: http://burjuknit.multiply.com/ ATAU http://chisheborjun.multiply.com/

call me call me aja yaaaaaaaa … beneran! ;-p

Masakan Khas Batak – Naniura

Hidangan ini merupakan makanan khas suku Batak. Berbeda dengan Arsik, makanan khas Batak lainnya yang direbus atau dikukus, menu yang juga mengunakan ikan mas sebagai menu utama adalah dengan cara tidak dimasak.
Arti dalam bahasa batak, naniura adalah ikan yang tidak di masak. Namun rendaman asam jungga yang secara kimiawi kemudian mengubah ikan mentah menjadi tidak terasa amis dan siap disajikan. Ingin mencoba?

sp/henry sitinjak

Bahan-Bahan :

0,5 kilogram ikan mas
3 biji asam jungga
0,25 ons andaliman
1 onskemiri
5 cm lengkuas
5 cm kunyit
2 ikat rias
5 siung bawang merah
3 siung bawang putih
setengah ons cabe merah
Cara memasak :
1. Ikan mas dibersihkan dari sisik, kemudian ikan dibelah dua dari punggung ikan. Duri ikan dikeluarkan semuanya. Sesudah bersih, ikan digarami dan diasami. Dibiarkan selama 5 jam.
2. Kemiri di gongseng, dibiarkan dulu. Jahe, kunyit, bawang merah dan putih di goreng. Kemudian rias dikukus, sedangkan cabe digiling. Seluruh bumbu kemudian diulek (tumbuk).
3. Bumbu dimasukkan atau diolesi ke permukaan ikan. Biarkan satu jam lagi.
4. Siap dihidangkan

catatan : untuk mendapatkan hasil yang baik, memasak dimulai pagi hari, dan sore dihidangkan

Panduan Sederhana Membeli Kamera SLR Tua Serta Panduan Membeli Kamera Digital Bekas

Era keemasan kamera film sudah lewat digusur oleh kamera digital namun bukan berarti kamera film hilang begitu saja. Sebagian kecil photographer muda tampaknya ada yang menaruh perhatian pada kamera antik tanpa sensor ini namun sering keinginan ini harus diurungkan karena bingung menentukan kriteria kamera yang harus dibeli. Kadang untuk hal sederhana sekalipun seperti menentukan kondisi barangnya, apakah masih berfungsi bagus atau rusak saja tampaknya tidak mudah. Maklum kamera antik yang bisa dijalankan tanpa battery ini tidak punya monitor dibagian belakang untuk preview hasil jepretan.

Saya sebelumnya juga sempat mengalami hal yang sama. Berdasarkan pengalaman beberapa kali transaksi, saya menjadi sedikit mengetahuinya dan bersama ini dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, saya memberanikan diri untuk menuliskannya dengan harapan mudah mudahan bermanfaat. Segala kekurangan dan kesalahan jadi tolong dimaafkan atau dikoreksi. Terima kasih.

Hal pertama, sebelum cek fisik dilakukan adalah mengecek kelayakan harga. Harga yang ditawarkan hendaknya sesuai dengan harga yang berlaku di pasaran, untuk type dan jenis kamera yang sama. Kalau harganya sudah didapatkan dan dianggap sesuai, barulah langkah di bawah ini dilakukan. Barang katagori langka, collection items adalah perkecualian.

  1. Body secara umum
    Meliputi kemulusan barang ( benturan, goresan, lecet, karat ). Lecet dan goresan yang super halus (goresan rambut) kadang sedikit susah dilihat. Dengan sedikit mengubah sudut pandang, memiringkan, mendekatkan dan menjauhkan ke arah lampu kadang bisa membantu. Menggunakan alat bantu seperti kaca pembesar tentu lebih baik lagi.
  2. Tombol
    Pastikan semua tombol berfungsi normal atau bisa diputar dengan mudah. Shutter. Kokang kamera dan jepret. Coba minimal dalam 3 speed yang berbeda tertinggi, terendah, menengah. Coba juga posisi Auto, B dan M90/60 kalau ada. Setiap posisi berbeda normalnya akan menghasilkan suara yang juga berbeda.
  3. Viewfinder
    Intip, check debu, sampah, jamur dan fogg. Debu bisa beberapa titik, banyak titik, mengumpul atau menyebar. Kalau menggumpal besar kemungkinan bukan debu namun sudah digolongkan sebagai sampah. Kalau jamur biasanya seperti benang atau kerak tidak beraturan atau bisa juga menggumpal berakar atau bahkan mungkin berbunga dan berbuah kalau sudah parah ( joke !). Fogg maksudnya berkabut putih, pandangan tidak jelas mirip ketika kita baru bangun pagi. Dengan lensa terpasang, periksa kebersihan (split) screen. Kadang sedikit sulit untuk menentukan apakah debu atau kotoran itu berada di screen atau di lensa, jadi membawa lensa sendiri tampaknya jauh lebih baik.
  4. Metering
    Arahkan kamera ke tempat yang berlainan, perhatikan perubahan angka, jarum, lampu dll, kemudian sambil mata tetap mengintip di vewfinder, putar tombol shutter speed ke sesuka anda, normalnya pengukur cahaya berbentuk jarum atau lampu akan memberikan reaksi ketika tombol shutter anda putar. Kalau bandel tidak bergerak besar kemungkinan rusak. Untuk memastikannya cek baterai kamera.
  5. Kebersihan ruangan dalam depan
    Buka lensa depan, periksa bagian dalam. Periksa cermin pantul (miror) bersih, banyak goresan, juga pinggiran miror rata dan mulus atau compang camping hitam bergerigi. Untuk kamera rangfinder dengan lensa mati yang tidak bisa dibuka, langkah ini dan juga satu langkah dibawah ini di abaikan saja.
  6. Kebersihan ruang dalam belakang
    Buka penutup belakang. Bagian yang sering bergesekan ketika penutup dibuka dan ditutup biasanya adalah tempat yang paling rawan karat dan juga kotor. Bagian itu berbentuk sperti parit kecil yang melintang di atas dan bawah.
    Saya biasanya memberi nama dengan “garis segi empat”.
  7. Jalan dan alur Film
    Semua bagian yang dilalui oleh film diperiksa dan juga jangan lupa bagian belakangnya yang berfungsi menekan film ketika pintu ditutup. Karat atau kotor akan membuat film tergores dan lecet.
  8. Tirai shutter
    Apakah shutter terbuka dengan sempurna atau tidak ketika kamera dijepret. Jangan lupa kokang kamera dulu sebelum tombol dipencet.
  9. Pasang film
    Kokang dan jepret, untuk meyakinkan langkah no 3 berfungsi dengan baik.
    Kalau hasilnya bisa dicetak itu lebih baik lagi.

Langkah diatas saya berikan untuk kamera film analog mekanik, sedangkan untuk kamera rangefinder, pocket, kamera berbahan plastik, sedikit berbeda namun tampaknya pointnya sama saja. Lakukan pengecekan terutama viewfinder dengan lensa terpasang.

Beberapa tip tambahan :
Membawa atau menyiapkan lensa sendiri.
Khususnya ketika membeli kamera “body only”. Tanpa lensa terpasang, fokus, kebersihan split screen akan menjadi sedikit sulit. Kamera Canon MF dan AF mempunyai mount yang berbeda, sehingga menyiapkan lensa sendiri sedikit susah sedangkan merek lain seperti Nikon atau Pentax tampaknya sedikit lebih mudah karena mountnya yang sama antara kamera AF dan MF (kecuali mount ulir), sehingga lensa digitalpun bisa dipakai sekedar untuk mengecek kebersihan bagian dalam saja.
Siapkan battery kamera baru sebagai cadangan.
Mebuka penutup belakang kamera, kelihatanya bagian ini sepele namun saya kadang kesulitan melakukannya, walaupun untuk kamera sendiri. Maklum, proses buka membuka ini tidaklah rutin dilakukan, apalagi untuk katagori orang tua seperti saya yang ingatannya mulai menurun. Umumnya kamera dibuka dengancara menarik penggulung roll yang terletak di kiri atas ke atas, penutup belakang akan terbuka kesamping seperti mebuka buku tulis. Namun ada juga yang dilakukan dengan penarik tuas pengunci di sisi kiri, atau malah ada yang tombol penjepitnya ada di bawah, kamera terbuka seperti membuka korek api. Saya biasanya cari cara amanya saja dengan minta tolong penjualnya untuk membuka, walaupun cara ini kelihatan bodoh tapi tampaknya jauh lebih aman ketimbang membayar biaya kerusakan karena kesalahan sepele

BAGIAN II
Kamera digital

Walaupun judulnya adalah kamera SLR tua, tampaknya tidak ada salahnya kalau saya lengkapi juga dengan kamera digital. Mudah mudahan tidak menyimpang dari judul.

Secara umum, hampir sama dengan point di atas yaitu body luar, tombol, viewfinder. Karena kamera digital tidak memakai film, memeriksa kamera bagian dalam hampir tidak mungkin dilakukan. Kemudian langkah lanjutannya adalah jepret dan preview hasilnya. Melihat hasil jepretan melalui komputer jauh lebih baik karena tampilan monitor kamera sering menipu.

Shutter count juga ada baiknya di periksa untuk memeriksa berapa banyak kamera telah dijepretkan, karena perlu diketahui, shutter juga mempunyai batas umur pemakaian. Setiap kamera mempunyai umur shutter yang berbeda, tergantung merk dan juga modelnya. Shutter yang telah melewati batas pemakaian (jebol), masih bisa diperbaiki dengan mengganti shutter baru, namun tentu saja hal ini merupakan pengeluaran tambahan yang tidak murah. Cara melihat shutter count, bisa dibaca lewat artikel yang banyak bertebaran di internet. Kamera dengan pemakaian shutter yang tinggi biasanya berharga jual lebih murah dan sebaliknya. Namun untuk barang bekas di luar negeri jumlah shutter yang dipakai sama sekali tidak mempengaruhi harga jual.

Periksa perlengkapan kamera seperti USB kabel, Video cable, battery charger dan buku manual. Untuk kamera SLR beserta lensanya, jangan lupa kelengkapan tutup body dan tutup lensa bagian belakang-nya. Biasanya benda yang terakhir ini sering terlupakan terutama untuk pembelian kamera dengan lensa terpasang. Untuk kamera pocket, bagian ini dilewatkan saja.

Horas,

Palty Osfred Silalahi

** Dikutip dari berbagai sumber.

palty@simanjuntak.or.id

http://www.paltyosfredsilalahi.net

Sekilas Tentang Foto Panggung Tanpa Flash

Photo by: Palty Osfred Silalahi

Dalam foto panggung yang paling wajib untuk diperhatikan adalah kecepatan merekam cahaya dari kamera. Alasannya mutlak, karena aksi panggung selalu dihiasi dengan kecepatan gerak dan aksi. Tidak dipungkiri, banyak pemula dalam fotografi yang kewalahan dalam hal ini, atau dengan kata lain kesulitan dalam membuat foto bagus dari hasil foto panggung. Penyebab tidak terwujudnya foto panggung yang baik adalah lensa. Lensa yang baik yang mempunyai focal length (jarak) yang pas dan diafragma dengan bukaan yang besar. Bukaan diafragma yang besar menyebabkan sinar banyak yang masuk kedalam rana rekam. Dengan demikian kita tidak akan kekurangan cahaya untuk merekam. Cahaya yang masuk kedalam rana pastilah mendongkrak nilai kecepatan rekam.Hal lainnya adalah ISO. Semakin tinggi nilai ISO yang kita pasang [digital] akan semakin baik daya tangkap kecepatan dan daya tangkap cahaya. Kekurangannya menggunakan ISO yang tinggi nilainya menyebabkan hasil foto menjadi berbintik atau berpasir. Di fotografi biasa disebut dengan noise.

Oleh sebab itu, pergunakanlah lensa yang baik untuk memotret kejadian dipanggung, kemudian jarak yang pas untuk eksekusi, pemilihan metering [kecepatan & diafragma] yang tepat, serta ISO yang tinggi dan diperkirakan masih minim noise.

Jarak pemotretan dengan panggung sewajarnya adalah 1 sampai 2 meter didepan panggung dengan menggunakan lensa minimal 70mm. Dengan jarak sedemikian kita masih dapat mengambil komposisi tiap-tiap pemain diatas panggung. Dan dengan jarak sedemikian pula, kita masih dapat mengambil close up wajah pemain diatas panggung dengan angle dan focal length tertentu.

Metering favorite saya adalah speed 1/250 dengan diafragma f/1.8 serta ISO diantara 500 – 640. Body kamera yang saya pakai biasanya Nikon D70 / D80 dengan lensa Manual Fokus 85mm f/1.8.

Selamat mencoba!

Palty Osfred Silalahi

http://paltyosfred.fotografer.or.id

Bagi rekan-rekan yang ingin menanyakan langsung tanpa melalui forum ini atau berbeda dengan topik yang ada, bisa mengajukan pertanyaan melalui email ke paltyosfredsilalahi@paltyosfredsilalahi.net

Contoh foto-foto panggung ada di dalam multiply saya : http://palty.multiply.com atau bisa mengunjungi ke website saya di http://www.paltyosfredsilalahi.net

Rekomendasi Focal Length lensa untuk foto panggung : 70mm – 1000mm
Rekomendasi Diafragma yang dimiliki lensa : f/1.8 ; f/2.0 ; f/2.2 ; f/2.8 ; f/3.2.
Rekomendasi ISO yang dipergunakan dalam foto panggung : ISO 400 – 1600.
Rekomendasi Aksesoris lainnya : Monopod, Filter Star, Lens Hood, Vertical Grip
Rekomendasi Body Kamera : Single Lens Reflector / Digital Single Lens Reflector

Sekilas Tentang Komposisi Dalam Fotografi

Photography by Palty Osfred Silalahi

Komposisi secara sederhana diartikan sebagai cara menata elemen-elemen dalam gambar, elemen-elemen ini mencakup garis, shape, form, warna, terang dan gelap. Cara anda menata komposisi dalam jendela bidik akan diinterprestasikan kemudian setelah foto anda tersebut dicetak. Yang paling utama dari aspek komposisi adalah menghasilkan visual impact- sebuah kemampuan untuk menyampaikan perasaan yang anda inginkan untuk berekspresi dalam foto anda. Dengan demikian anda perlu menata sedemikian rupa agar tujuan anda tercapai, apakah itu untuk menyampaikan kesan statis dan diam atau sesuatumengejutkan, beda, eksentrik. Dalam komposisi klasik selalu ada satu titik perhatian yang pertama menarik perhatian. Hal ini terjadi karena penataan posisi, subordinasi, kontras cahaya atau intensitas subjek dibandingkan sekitarnya atau pengaturan sedemikian rupa yang membentuk arah yang membawa perhatian pengamat pada satu titik.Secara keseluruhan, komposisi klasik yang baik memiliki proporsi yang menyenangkan. Ada keseimbangan antara gelap dan terang, antara bentuk padat dan ruang terbuka atau warna-warna cerah dengan warna-warna redup. Pada kesempatan-kesempatan tertentu, bila dibutuhkan mungkin anda akan membutuhkan komposisi anda seluruhnya simetris. Seringkali gambar yang anda buat lebih dinamis dan secara visual lebih menarik bila anda menempatkan subjek ditengah. Anda harus menghindari sebuah garis pembagi biarpun itu vertikal.

Untuk menghindari sebuah gambar yang dinamis diperlukan juga kehadiran irama. Irama ini terjadi karena adanya pengulangan berkali-kali sebuah objek yang berukuran kecil. Kehadiran irama dalam gambar mengesankan adanya suatu gerakan.

  • Garis
    Fotografer yang baik kerap menggunakan garis pada karya-karya mereka untuk membawa perhatian pengamat pada subjek utama. Garis juga dapat menimbulkan kesan kedalaman dan memperlihatkan gerak pada gambar. Ketika garis-garis itu sendiri digunakan sebagai subjek, yang terjadi adalah gambar-gambar menjadi menarik perhatian. Tidak penting apakah garis itu lurus, melingkar atau melengkung, membawa mata keluar dari gambar. Yang penting garis-garis itu menjadi dinamis.
  • Shape
    Salah satu formula paling sederhana yang dapat membuat sebuah foto menarik perhatian adalah dengan memberi prioritas pada sebuah elemen visual. Shape adalah salah satunya. Kita umumnya menganggap shape sebagai outline yang tercipta karena sebuah shape terbentuk, pada intinya, subjek foto, gambar dianggap memiliki kekuatan visual dan kualitas abstrak. Untuk membuat shape menonjol, anda harus mampu memisahkan shape tersebut dari lingkungan sekitarnya atau dari latar belakang yang terlalu ramai. Untuk membuat kontras kuat antara shape dan sekitarnya yang membentuk shape tersebut. Kontras ini dapat terjadi sebagai akibat dari perbedaan gelap terang atau perbedaan warna.
    Sebuah shape tentu saja tidak berdiri sendiri. Ketika masuk kedalam sebuah pemandangan yang berisi dua atau lebih shape yang sama, kita juga dapat meng-crop salah satu shape untuk memperkuat kualitas gambar.
  • Form
    Ketika shape sendiri dapat mengindentifikasikan objek, masih diperlukan form untuk memberi kesan padat dan tiga dimensi. Hal ini merupakan faktor penting untuk menciptakan kesan kedalaman dan realitas. Kualitas ini tercipta dari bentukan cahaya dan tone yang kemudian membentuk garis-garis dari sebuah objek. Faktor penting yang menentukan bagaimana form terbentuk adalah arah dan kualitas cahaya yang mengenai objek tersebut.
  • Tekstur
    Sebuah foto dengan gambar teksur yang menonjol dapat merupakan sebuah bentuk kreatif dari shape atau pattern. Jika memadai, tekstur akan memberikan realisme pada foto, membawa kedalaman dan kesan tiga dimensi ke subyek anda.
    Tekstur dapat terlihat jelas pada dua sisi yang berbeda. Ada tekstur yang dapat ditemukan bila kita mendekatkan diri pada subyek untuk memperbesar apa yang kita lihat, misalnya bila kita ingin memotret tekstur permukaan sehelai daun. Ada pula saat dimana kita harus mundur karena subyek yang kita tuju adalah pemandangan yang sangat luas. Tekstur juga muncul ketika cahaya menerpa sebuah permukaan dengan sudut rendah, membentuk bayangan yang sama dalam area tertentu.
    Memotret tekstur dianggap berhasil bila pemotret dapat mengkomunikasikan sedemikian rupa sehingga pengamat foto seolah dapat merasakan permukaan tersebut bila menyentuhnya. Sama seperti pattern, tekstur paling baik ditampilkan dengan beberapa variasi dan nampak melebar hingga keluar batas gambar.
  • Patterns
    Pattern yang berupa pengulangan shape, garis dan warna adalah elemen visual lainnya yang dapat menjadi unsur penarik perhatian utama. Keberadaan pengulangan itu menimbulkan kesan ritmik dan harmoni dalam gambar. Tapi, terlalu banyak keseragaman akan mengakibatkan gambar menjadi membosankan. Rahasia penggunaan pattern adalah menemukan variasi yang mampu menangkap perhatian pemerhati.
    Pattern biasanya paling baik diungkapkan dengan merata. Walaupun pencahayaan dan sudut bidikan kamera membuat sebuah gambar cenderung kurang kesan kedalamannya dan memungkinkan sesuatu yang berulangkali menjadi menonjol.

Dengan mempelajari prinsip-prinsip komposisi di atas, berikut ini adalah beberapa jenis yang dapat anda gunakan :

  • Rule of thirds
    Bayangkan ada garis-garis panduan yang membentuk sembilan buah empat persegi panjang yang sama besar pada sebuah gambar. Elemen-elemen gambar yang muncul di sudut-sudut persegi panjang pusat akan mendapat daya tarik maksimum.
  • Format : Horizon atau Vertikal
    Proporsi empat persegi panjang pada viewinder memungkinkan kita untuk melakukan pemotretan dalam format landscape/horizontal atau vertikal/portrait. Perbedaan pengambilan format dapat menimbulkan efek berbeda pada komposisi akhir. Lihatlah pada jendela bidik secara horizontal maupun vertikal dan tentukan keputusan kreatif untuk hasil terbaik.
  • Keep it simple
    Dalam beberapa keadaan, pilihan terbaik adalah keep it simple. Sangat sulit bagi orang yang melihat sebuah foto apabila terlalu banyak titik yang menarik perhatian. Umumnya makin ?ramai? sebuah gambar, makin kurang menarik gambar itu. Cobalah berkonsentrasi pada satu titik perhatian dan maksimalkan daya tariknya.
  • Picture scale
    Sebuah gambar yang nampak biasa namun menjadi menarik karena ada sebuah titik kecil yang menarik perhatian. Dengan pemotretan landscape atau monument, kembangkan daya tarik pemotretan dengan menambahkan obyek yang diketahui besarnya sebagai titik perhatian untuk memberikan kesan perbandingan skala.
  • Horizons
    Merubah keseimbangan langit dan tanah dapat mengubah pemandangan gambar secara radikal. Bila gambar hampir dipenuhi oleh langit akan memberikan kesan polos terbuka dan lebar tapi bila langit hanya disisakan sedikit di bagian atas gambar, akan timbul kesan penuh.
  • Leading lines
    Garis yang membawa mata orang yang melihat foto ke dalam gambar atau melintas gambar. Umumnya garis-garis ini berbentuk :
    Garis-garis yang terlihat secara fisik misalnya marka jalan atau tidak terlihat secara langsung misalnya bayangan, refleksi.
  • Be different
    Barangkali ada bidikan-bidikan lain yang dapat diambil selain pendekatan dari depan dan memotret paralel ke tanah. Bergerak mendekat dari yang diduga seringkali menghasilkan efek yang menarik.
  • Colour
    Membuat bagian dari gambar menonjol dari background. Cara utama untuk memperoleh hal ini adalah memperoleh subyek yang warna atau nadanya berbeda secara radikal dengan background.
  • Framing
    Bila subyek secara khusus mempunyai bentuk yang kuat, penuh frame dengan subyek. Baik itu dengan cara menggunakan lensa dengan fokus lebih panjang atau bergerak mendekati subyek.
  • Shooting position
    Ketika kita merasa jenuh dengan komposisi yang itu-itu saja, cobalah meurbah sudut pandang sepenuhnya. Misalnya posisi duduk ke posisi berdiri atau pengambilan bidikan dari atas atau bawah dari subyek.
  • Number of subject
    Pemotretan dengan banyak subyek yang relatif seragam, kurang menarik dari pandangan komposisi. Temukanlah salah satu subyek yang ?berbeda? diantara sekian banyak subyek tersebut. Berbeda diartikan berbeda gerakan, bentuk dan warna.

Tulisan ini dibuat oleh teman saya, aktifis fotografi untuk semua fotografer pemula, dibuat pada tanggal 21 Juni 2004, dan diposting sebagai artikel di www.fotografer.net. dengan judul Sekilas Tentang Komposisi Dalam Fotografi