Penyempurnaan Aksara Batak Toba Versi 1.0 Di Versi 1.1

aksara batak

Aksara Batak Toba yang dibuat sebelumnya memiliki beberapa kekurangan antara lain penilaian dari segi keindahan bentuk-bentuk dan jarak antara aksara yang tidak sama serta ketinggian aksara yang berbeda-beda, maka perlu dilakukan perubahan-perubahan dan juga pengembangan agar penggunaan aksara tersebut semakin baik.

Pada Aksara Batak Toba Versi 1.1 ini sudah dilakukan beberapa perubahan antara lain sebagai berikut:

  1. Bunyi “da”, “ha” ,  “ka” dan “sa” bentuknya lebih disesuaikan lagi dengan bentuk yang ada pada buku New Testament terjemahan ke bahasa Batak Toba yang ditulis menggunakan Aksara Batak Toba oleh I.L. Nommensen pertama sekali di cetak oleh Friderichs & Comp pada Tahun 1878.
  2. Bunyi “ng” sebelumnya menggunakan huruf F pada keyboard diganti menjadi menggunakan tanda “>”
  3. Bunyi “Z” yang ada pada versi sebelumnya sudah di hapus.
  4. Jarak antar aksara sudah lebih disempurnakan
  5. Ketebalan aksara yang sudah disempurnakan dari versi sebelumnya

Untuk mendownload Aksara Batak Toba Versi 1.1 silahkan klik di sini

Untuk menginstall di komputer silahkan ikuti langkah-langkah berikut ini

  1. Download Aksara Batak Toba Versi 1. 1
  2. Extract file aksarabataktoba ver 1.1.zip
  3. Setelah proses extract selesai copy file BATAK TOBA 1.1.ttf ke C:\Windows\Fonts atau klik kanan pada file tersebut lalu klik install

Ilmu Pengetahuan hilang sejalan dengan LOCAL LANGUAGE DIED

Ditulis oleh: B Rambe

Seorang sejarahwan, Addrew Dalby, belakangan ini meneliti tentang kepunahan bahasa di dunia. Sekarang bahasa yang masih dipakai orang didunia ini ada 5000 bahasa. Diperkirakan 100 tahun kedepan, akan tinggal setengahnya.
Punahnya sebuah bahasa, akan merugikan manusia, sebab banyak pengetahuan yang ditulis di dalam bahasa-bahasa minoritas yang rentan dalam kepunahan dan pengetahuan yang ada di dalamnya akan punah sejalan dengan punahnya bahasa tersebut.

Hasil penelitian tersebut, menyentak pikiran penulis dan membenarkan hasil penelitian tersebut mengingat naskah-naskah kuno yang ada di setiap suku di Indonesia yang belakangan ini dicari orang sebagai benda antik dan dan dibeli dengan harga mahal. Dikaitkan dengan naskah-naskah yang masih dipelihara dan disimpan dengan sangat rahasia, dijadikan sebagai benda pusaka secara turun temurun oleh bangsa Batak dikenal dengan “pustaha dan tombaga holing” Benda ini terdiri dari lempengan-lempengan dari kulit kayu atau kayu yang tipis, dilipat sambung-menyambung. Setiap lembar berisi tulisan akasara Batak kuno, merupakan informasi tentang sejarah/silsilah, pengetahuan obat-obatan, Ramalan, horoscop dan lain-lain. Menyatukan beberapa wilayah dalam satu Negara, memerlukan bahasa nasional sebagai bahasa pemersatu, memicu menomorduakan bahasa local, bahkan cenderung meninggalkan. Dalam keadaan demikian, bahasa local berada pada posisi “local language diet” apabila tidak berusaha untuk memelihara bahasa/tulisan tersebut, akan mengalami kerugian besar dimasa yang akan datang. Bukan hanya bangso Batak atau keturunannya yang rugi tetapi juga sebagai asset nasional (naskah kuno asli Indonesia, yang belum terungkap isinya) Juga akan rugi. Generasi Batak juga harus sadar, bahwa “Tombaga Holing” tidak bisa hanya dibanggakan, di dalamnya terdapat pengetahuan yang harus disingkap untuk kepentingan generasi masa sekarang dan yang akan datang. Orang batak pada umumnya, memang sudah kesulitan untuk menggali pengetahuan dari naskah kuno demikian, karena ditulis dalam aksara dan bahasa batak kuno. Sedangkan bahasa dan tulisan batak yang tertuang didalam naskah kuno tersebut, berada pada posisi “local language died” sebab pada masa sekarang tidak banyak orang Batak yang memahami aksara Batak. Jangankan akasara kuno seperti tulisan pada naskah kuno Tombaga Holing, aksara batak modern pun sudah sangat langka orang Batak yang memahaminya. Masih banyak naskah kuno yang lain di daerah Batak, “Tombaga Holing” salah-satunya sebagai contoh.

TANGGUNG JAWAB SIAPA?
Sebagai bagian suatu bangsa yang terdiri dari berbagai suku, naskah-naskah kuno yang dimiliki suatu kelompok suku merupakan kekayaan bangsa tersebut. Oleh sebab itu Pemerintah berkepentingan memberikan akomodasi terhadap pelestarian karya buda semacamnya. Bentuk akomodasi untuk pelestarian hasil kebudayaan yang dapat dilakukan pemerintah melalui:
Pembinaan Generasi Muda

Pembinaan terhadap generasi muda untuk memahami, menguasai serta mewarisi bahasa lokal, dimulai dari sejak sekolah dasar sampai ke sekolah menengah tingkat atas, sebagai basic pemahaman. Lalu di dalam pengembangan selanjutnya membuka jalur di perguruan tinggi sebagai MKDK dari antropologi. Mungkin hal ini terlalu spesifik untuk diberlakukan secara universal bagi jurusan antropologi diseluruh Indonesia. Untuk itu pemerintah dapat memberlakukan aturan, bahwa mereka yang mengambil jurusan antropologi di perguruan tinggi daerah merupakan mata kuliah pokok atau wajib sebagai dasar keahlian, sehingga mereka yang sudah lulus dapat dijamin bisa membaca naskah-kuno daerah tersebut.
Bagi generasi muda sendiri, nampaknya menekuni hal hal seperti ini kurang menarik untuk dipahami atau ditekuni. Mereka lebih tertarik untuk menekuni jurusan yang banyak marketnya, dengan harapan begitu selesai kuliah, tempat bekerja sudah menanti. Yang paling parah dari sikap generasi muda adalah berfikir instant yang dipengaruhi oleh sikap “uang adalah segalanya”. Tanpa uang kita tidak bisa berbuat apa-apa. Menekuni naskah-naskah kuno membutuhkan kesabaran dan proses yang panjang. Untuk bisa memahami, adalah sesuatu yang membosankan. Generasi muda lupa bahwa di dalam menuju suatu cita-cita perlu proses yang panjang, tekun dan sabar merupakan bagian dari proses tersebut. Gambaran ini sangat jelas kelihatan bagi generasi muda Batak (Tapanuli) sekarang ini

PARADIGMA GENERASI MUDA TAPANULI

Priode tahun 1980 ke bawah, generasi muda tapanuli banyak muncul sebagai pioneer baik didalam pemerintahan maupun di segmen kalangan pengambil keputusan. Pada masa itu, bangsa Batak terkenal disegala segmen kehidupan masyarakat, dan banyak orang belajar dari bangsa Batak. Setelah tahun 1980-an hingga sekarang, image masyarakat terhadap keperkasaan bangsa Batak merosot drastis bahkan mulai menghilang, solah-olah orang batak/tapanuli sudah selesai masanya. Orang Batak (tapanuli) yang masih dikenal orang sekarang pada segmen-segmen kehidupan tertentu di Negara ini adalah merupakan sisa-sisa generasi 80-an.

Ternyata kalau kita amati, telah terjadi suatu pradigma baru dikalangan generasi muda dan orang tua. Mereka lebih mementingkan apa yang bisa didapatkan sekarang, yang penting jadi uang. Kalau dahulu, para orangtua menanamkan pemahaman proses menuju suatu cita-cita kepada anak-anaknya misalnya, “kamu harus pintar bersekolah dan tekun belajar sampai setinggi-tingginya sehingga kamu nantinya mendapatkan pekerjaan yang baik yang besar gajinya dengan demikian hidup kamu enak” walaupun dalam kenyataanya ada faktor lain yang menentukan keberhasilan seseorang, tetapi dari nasehat yang demikian, memperlihatkan bahwa keberhasilan itu tidak akan didapatkan dengan begitu saja secara instan, tetapi mempunyai suatu proses yang sangat panjang. Sehingga generasi muda tapanuli tekun menghadapi suatu proses, bahwa segala sesuatunya itu berproses menuju ke cita-cita yang diinginkan. Keinginan-keinginan generasi muda pada jaman sebelum 80-an juga sudah ada keiginan atau pikiran instan yang dolontarkan kepada tokoh sebelum nya, akan tetapi keinginan itu menjadi mentah akibat jawaban tokoh tersebut atas pertanyaan generasi muda seperti demikian; “Bagaimana kita agar bisa menjadi penunggang kuda yang baik ?” jawaban tokoh tersebut: “kita harus bisa menjadi kuda lebih dahulu.” Sepintas, jawaban tersebut tidak mengena dan lari dari kontek pertanyaan. Tetapi maksudnya semuanya adalah berproses. Karena penunggang yang baik, harus mampu mengendalikan kuda dengan baik. Kalau kita tidak mengerti sifat dan kemauan kuda tentu tidak akan bisa menjadi penunggan kuda yang baik Dengan memahami sifat kuda, maka orang tersebut mengerti bagaimana cara agar kuda tersebut tidak melawan tali kendali kita yang kita pegang, sebagai penunggang.

Perobahan paradigma sekarang ini, yang tinggal di kampung maupun di perantauan. Sering dipicu oleh pernyataan-pernyataan orang tua dan tokoh masyarakat. Para orang tua sering melemparkan statemen di depan umum, terukir melekat di hati generasi muda seperti:
“yang paling utama adalah uang. Dengan uang hidupmu enak, dengan uang kamu bisa berbuat apa saja”,

Dari Statemen tersebut, sama sekali tidak ada sedikitpun yang menggambarka suatu proses. Tanpa memberi tahukan bagaimana mencari uang yang benar dan tidak bertentangan dengan norma. Pandangan dan sikap para tokoh yang dianggap maju , baik yang tinggal di kampung maupun dari perantauan, juga merobah paradigma generasi muda dengan statemen
”Jaman sekarang, bagaimana memiliki uang karena uang, kita bisa mengatur negara ini”
Pernyataan seorang tokoh yang demikian adalah munafik. Sebab beliau bisa besar, bisa kaya, bisa terkenal pasti mengalami suatu proses yang panjang kearah yang beliau sudah dapatkan. Tentu statemen ini mengesampingkan proses befikir untuk mengatur sebuah negara. Seolah-olah kalau ada uang, otomatis semua semua bias kita atur.

Adanya ungkapan seorang tokoh di depan para generasi muda “Hepeng Mangatur Negara on”, membuat pemikiran dan sikap generasi muda tapanuli mengesampingkan proses. Dia tidak mau berfikir suatu proses panjang yang hasil akhirnya adalah uang. Tetapi yang dipikirkan bagaimana sesuatu usaha itu langsung menjadi uang, tidak perduli apakah itu recehan.

Paradigma generasi muda, lebih memilih seratus perak hari ini dari pada sepuluh ribu, dengan proses satu bulan. Akibatnya jadilah menjadi kondektur atau sopir angkot, calo, bahkan copet. Bagi kalangan pemborong atau rekanan, jadilah sebagai perusahaan pendamping saja yang segera menerima limaratus ribu sampai satu juta, dari pada duapuluh juta, dengan berproses mulai dari penghitungan bahan, biaya, upah, jangka waktu dan keuntungan dalam mengerjakan pekerjaan proyek.
Bagi pekerja di perusahaan, jadilah menjadi security, karena setiap mobil keluar mengeluarkan seribu dari pada mengatur lalulintas uang dan barang di dalam perusahaan tersebut.
Paradigma tersebut juga dipicu oleh sikap yang lebih menghargai yang punya uang walau tidak sekolah, dari pada sarjana tapi tidak segera punya uang.

Kalau keadaan seperti ini berlanjut terus maka pada sepuluh tahun ke depan, sumber daya manusia dari tapanuli tidak akan dapat diharapkan sebagai sumber daya manusia berkualitas, seperti sumber daya manusia sebelum tahun 80-an.

TransToba2, Karya Uli Kozok

Uli Kozok, yang aslinya bernama Ulrich Kozok, seorang peneliti bahasa, budaya dan sastra Batak. Lahir di Jerman, 26 Mei 1959 dan tahun 1994 menamatkan program doktornya dengan predikat magna cum laude dengan Disertasi Die Bataksche Klage. Toten-, Hochzeits- und Liebesklagen in oraler und schriftlicher Tradition’. di University of Hamburg, Faculty of Oriental Studies, Department of Austronesian Languages and Cultures.

Continue reading “TransToba2, Karya Uli Kozok”

Apakah Anda Turut Berperan Memusnahkan Bahasa Batak Toba?

gorga batak

MUNGKINKAH BAHASA BATAK Toba punah? Jawabnya mungkin sekali, kawan. Itu hanya masalah waktu.

Bahasa Batak Toba suatu saat dapat punah, yang membuat punah ya orang Batak Toba sendiri. Karena Orang Batak Toba lah yang enggan melestarikan Bahasa daerahnya. Kenapa hanya Bahasa Batak Toba?

Saudara-saudara kita suku Batak Karo, Simalungun sangat membanggakan bahasa daerahnya dan tetap eksis hingga sekarang dimanapun mereka berada. Walaupun itu di kota kota besar dan saudara kita yang lain, orang Bali tetap ngomong pake bahasa Bali, orang Sunda. Orang Jawa, di Istana Negara juga mereka bisa ngomong Jawa.

Kapan itu Bahasa Batak Toba berangsur punah dan apa indikatornya kawan? Banyak sekali, saya coba buat listnya, bila anda mau menambahi silahkan…

  1. Karena orangtua (Ayah/Ibu) sudah tidak bisa berbahasa Batak lagi.
  2. Bila bahasa Batak bukan lagi bahasa yang dominan di rumah. (Kepunahan suatu bahasa daerah, dimulai dari rumah pemilik bahasa daerah itu)
  3. Bila orangtua tidak mengajarkan anak anaknya bahasa Batak. Orang tua tidak menyampaikan kepada si anak bila mereka berbahasa Batak, dijawablah dalam bahasa Batak, bila mereka berbahasa asing dijawablah dalam bahasa asing tersebut.
  4. Bila Ompung Naburjui berkomunikasi dengan pahompunya harus menggunakan Bahasa Sileban (Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris) biar cucu cucu yang manis manis ini mengerti.
  5. Bila si anak mengatakan: “Saya sudah lahir, besar di (Medan, Jakarta, Bandung, Jogja, dll) sudah tidak bisa berbahasa Batak lagi.” Dan mereka sangat bangga mengatakan itu. Orang Belanda ratusan tahun tinggal di Batavia, tetap saja berbahasa Belanda. Orang China, India, dll begitu juga. Orang Jawa direlokasi ke Sumatra, malah tetangganya yang Batak jadi berbahasa Jawa.
  6. Bila si anak ditanya, Aha Margam? Ise Goarmu? Langsung error tidak nyambung. Tapi bila ditanya: “Kamu orang apa?” dia akan menjawab dengan mantap “Orang Batak”.
  7. Bila anak anak di rumah lebih fasih berbahasa asing (Inggris, Mandarin atau bahasa daerah yang lain) dibanding berbahasa Batak. Padahal menguasai banyak bahasa tidak ada ruginya, termasuk bahasa Batak itu sendiri.
  8. Jika semua ponakan; bere, paraman, maen, anak kakak/adik sudah tidak bisa berbahasa Batak.
  9. Bila si anak, naposo (anak anak muda) mengatakan: Ngerti seh … tapi nggak bisa ngomongnya.
  10. Ketika orang orang muda ini berkata “Proud to be Batak” tapi tidak bisa ngomong Batak.
  11. Bila kita beranggapan, kalau libur sekolah, anak anak mau dikirim ke kampung untuk belajar bahasa Batak. (Kenyataan: Dikampung, anak anak sekarang sudah tidak berbahasa Batak)
  12. Bila orangtua menganggap: “Hare gini … … anak anak diajari Bahasa Batak”
  13. Bila kita mandok hata (berbicara) dalam suatu acara keluarga/pesta, ada yang teriak: “Pake bahasa Indonesia saja, biar anak-anak pada ngerti.”
  14. Bila anak anaknya Raja Parhata, yang rajin ke Pesta dan perduli dengan urusan adat, tapi anak anaknya tidak bisa berbahasa Batak.
  15. Saat kita berkomunikasi dengan lawan bicara kita halak hita (orang kita Batak), dia reply dalam bahasa lain yang lebih dominan
  16. Ketika orang Batak merasa malu berbicara dalam bahasa Batak di keramaian, tempat umum saat bertemu dengan halak hita.
  17. Kesulitan membaca tulisan dan banyak tidak dimengerti tulisan yang ditulis dalam bahasa Batak seperti yang ditulis disini: [http://tanobatak.wordpress.com/]. Sekarang kita sulit mengucapkan hata Batak yang halus, bahkan cara menuliskannya, apalagi aksaranya, sudah duluan hilang, dihilangkan. Pergi entah kemana, mago (punah)
  18. Bila anda menganggap ngomong pake bahasa Batak itu sesuatu yang kampungan (Parhuta huta)
  19. Bila Lae, Ito mentertawakan teman yang belajar berbahasa Batak alai marpasir pasir (janggal)
  20. Bila di daerah Sumatra Utara anak anak Batak sudah menggunakan bahasa yang dominan untuk berkomunikasi sesama mereka, apakah itu bahasa Jawa atau bahasa Indonesia (Medan, Tebing Tinggi, Kisaran, Siantar, Pardagangan, Balige, Samosir, Tarutung, Sibolga, dll). Karena tidak ada satu lembaga Batak yang resmi, bertanggungjawab tentang ini, termasuk gereja, itu bukan urusan mereka. (Di gereja kami, warganya 98% Batak Toba, tak sekalipun liturginya dalam bahasa Batak). Di gereja tetangga dibuat dua sesi, sesi bahasa Indonesia untuk Naposo (ABG dan Pemuda) agar mereka mengerti.
  21. Bila kita tidak sadar, bahwa bahasa daerah itu dapat punah, seperti yang ditulis disini: “10 Bahasa Daerah Punah, 700 Lainnya Terancam” http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/jawamadura/2007/09/04/brk,20070904-106846,id.html
  22. Bila anak Batak suka menyanyikan lagu Batak, tapi tidak mengerti artinya. Bapaknya juga sudah tidak mengerti artinya 🙄
  23. Bila kita mengirim email atau SMS ke halak hita dan dia TIDAK MENGERTI artinya. Dia malah reply: Jangan pake bahasanya leluhur dong … Atau bila di SMS, dia balik SMS, Ini bahasa Apa? Atau kita enggan mengirim email/SMS dalam Bahasa Batak, khawatir Batak yang dituju tidak mengerti artinya, nanti malah tidak nyambung.
  24. Bila tiba waktunya, tidak ada orang yang bisa mengajari Bahasa Batak lagi atau anak anak tidak punya kesempatan lagi untuk mempelajarinya.
  25. Dan yang terakhir, bila anda tidak perduli. Mau punah kek, bukan urusan gua, sabodo teing…
  26. Bila … … … Bila ada yang mau menambahi, silahkan … (Hataki hata tambaan)

Bila kita menginginkan bahasa Batak Toba itu tidak segera punah, belajarlah berbahasa Batak Toba, ajarilah saudara saudara kita, terutama anak anak dirumah agar terbiasa mendengar dan berbicara dalam bahasa Batak. Mulailah dari rumah kita masing masing.

Beta hita marhata Batak.

Horas,
Charlie M. Sianipar

Umpasa Dohot Umpama

batak

Umpasa dohot umpama somal do tabege manang tahatahon di angka ulaon adat, di ulaon las ni roha manang di ulaon arsak ni roha. Somalna, tarida ma i di tingki na marhata si gabe-gabe dohot mangampu. Na naeng dohonon di son, asa tangkas nian taboto jala taantusi aha do tujuan dohot makna ni hata umpasa i, songon i nang hata umpama. Alana, sasintongna, asing do lapatan manang pangantusion ni hata umpasa dohot umpama.

Andorang so sahat hita tu si, adong do niida sian angka dongan na mansai malo manghatahon angka hata umpasa dohot umpama –i ma songon bunga-hunga dohot sira ni angka panghataion di ulaon i. Tabo tutu begeon jala mangolu nihilala panghataion i, lumobi molo tarida hata pandohan na masialus-alusan. Alai, adong do muse niida angka donganta naeng pasahathon hata umpasa, hape nanidokna i sian hata umpama. Songon i sebalikna, naeng mandok hata umpama do nian ibana, hape dihatahon sian hata umpasa. Sada kenyataan do i di tonga-tonga ni halak Batak, alana sipata disadari manang ndang, jot-jot do disarupahon pangantusion ni hata i.

Mardomu tu si, asa tahatahon ma nian hata umpasa dohot umpama i hombar tu rumang dohot ruhut ni angka ulaon, songon i di situasi manang hadirion ni keluarga na naeng manjalo hata i. Misalna, adong pamoruonta naung matua, nunga marpahompu nasida sian anak dohot sian boru. Naeng pasahathon hata si gabe-gebe, hata pasu-pasu ma hita tu nasida di ulaon si las ni roha, ala dipatupa nasida partangiangang (pengucap-an syukur) jala nunga tamat anak siampudanna sian singkola kedokteran. Pasahaton ma tu nasida hata umpasa na hombar tu ulaon i dohot tu hadirion nasida. Unang ma tadok tu nasida: “songan hata ni umpasa ma dohononhu amang boru: Bintang na rumiris tu ombun nasumorop, anak pe antong riris, boru pe antong torop.” Hata umpasa si songon i denggan ma antong tu angka keluarga naumposo. Alai, molo tu keluarga naung antar matua, songon pamuronta nangkin, dohononta ma: Andor halumpang ma togu-togu ni lombu, andor hatiti togu-togu ni horbo. Sahat ma hamu saur matua pairing-iring pahompu sahat tu na marnini marnono.

Laos songon i muse unang ma nian tabahen-bahen (dikarang-karang) sandiri hata umpasa manang umpama i, molo so taantusi lapatan dohot makna ni na tahatahon i. Tumagon ma tadok hata angka nauli nadenggan tu angka tuturta marhite hata na sian Tuhanta, molo so taboto dope angka sidohononta marhite-hite hata umpasa manang umpama.

Sada nari naporlu muse sidohonon, molo angka hata umpasa dohot umpama, somalna sian angka horong ni hula-hula dohot angka tulang do pasahathon i tu pamoruonna, manang sian angka natua-tua tu ianakhonna. Sipata, nian, godang do taida di tingki on adong sian horong ni pamoruon na pasahathon hata umpasa dohot hata umpama tu hula-hula manang tulangna, tarlumobi di tingki mangampu hata. Nadenggan ma i tutu. Alai, adong muse do mandok hata sian boru ala rap uduran ni hula-hula nasida mandok hata i.

Na naeng dohonon di son: molo sian posisi ni boru do hita pasahat-hon hata umpasa manang umpama, asa dumenggan, tama hita nian jolo mangido marsantabi baru pe asa tahatahon si dohononta. Alana, songon naung tangkas taboto, molo hata umpasa i, i ma hata pasu-pasu jala mangalean angka hata pasu-pasu somalna ingkon sian angka horong ni hula-hula dohot tulang. Adong hata ni Tuhanta na mandok: Jadi sandok ndang targagaon, nasumangap i do mamasu-masu na ummetmet. (Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati yang lebih tinggi -Ibrani 7: 7). Jala dumenggan muse
tahe, molo di tingki na pasahathon hata i sai dimulai dohot pandohan: “songon hata ni natua-tua ma dohononhu”, “sai asi ma roha ni Tuhanta”, dohot angka na asing.

Sian angka hatorangan nangkin boi ma dohonon di son, ia hata umpasa i ma angka hata pasu-pasu na mardongan harapan, pangidoan tu Tuhanta Debata asa dilehon angka nauli dohot nadenggan di ngolu ni angka tuturta. Boi do i hahipason, ganjang ni umur, hagabeon, dohot angka na asing.

Alai, molo hata umpama, angka hata tudos-tudos manang hata poda na mardongan harapan do i.

Contoh:
Molo litok aek di toruan, tingkiron ma tu julu.
Pantun do hangoluan, tois hamagoan
Marbagi di na otik, marbagi di na godang.

Namalo ma tutu ompunta na parjolo i mambahen angka rumang, ruhut ni angka ulaon dohot angka hata i, na gabe songon angka falsafah hidup, identitas, budaya di hita halak Batak na porlu lestarihononhon asa adong warishononta tu angka ianakhonta.

Sahat ma hita tu impola ni panghataion marhite hata umpasa dohot hata umpama. Alai, molo tung hinatahon pe di son asa sidok boti jala marboha bahenon ma hita di si. Pinatupa do di son hombar songon na dihatahon di angka ulaon nasomal taulahon, i ma di las ni roha manang di ulaon arsak ni roha.

  1. Angka Hata Umpasa
    1. Di na pasahathon ulos tu Pengantin:

      Di ginjang ma ia arirang di toru panggonggonan
      Badanmuna ma na sora sirang, tondimuna masigomgoman.

      Tubu ma si marlasuna di Dolok Purbatua
      Sai ganjang ma umurmuna, sahat tu na sari matua

      Bintang na rumiris, ombun na sumorop

      Tubu ma anak di hamu riris, boru pe antong torop.

      Tangki jala ualang, galinggang jala garege
      Tubu ma di hamu anak partahi jala ulubalang
      dohot boru namora jala pareme

      Tubu ma tambinsu di toru ni pinasa
      Tubu ma di hamu anak nabisuk dohot boru nauli basa.

      Eme sitamba tua parlinggoman ni siborok,
      Sai dilehon Debata ma di hamu tua, jala hot ma hamu diparorot.

      Dohot angka na asing.

    2. Di na pasahathon ulos tu natua-tua ni hela (si jalo bara) dohot si angka jalo ulos suhi ni ampang na opat.

      Dolok ni Purbatua jonok tu si borotan
      Sai sahat ma hamu saur-matua, tiur di pansamotan

      Andor halumpang ma togu-togu ni lombu, andor hatiti togu-togu ni horbo
      Sai ganjang ma umurmu pairing-iring pahompu sahat ma tu na marnini marnono.

      Bona ni Aek Puli di Dolok Sitapongan
      Sai ro ma tu hamu angka nauli, jala sai dor nang pansamotan.

      Binanga ni Sihombing binokkak ni Tarabunga, tu sanggar ma amporik tu lubang ma satua,
      Sinur ma pinahanmuna, gabe na niulamu dipasu-pasu Tuhanta.

      Eme sitamba tua parlinggoman ni siborok,
      Amanta Debata do si lehon tua, luhut ma hamu diparorot.

      Sahat solu sahat tu Tigaras,
      Leleng hamu mangolu, gabe jala horas.

      Marmutik ma lasiak dompak mata ni ari,
      Manganju ma hamu di borungku parumaenmi, arian dohot botari.

      Hariara ma bonana, hariara ma nang bulungna,
      Gabe jala horas hula-hulana, songon i nang pamoruonna.

      Dohot angka na asing.

    3. Hata umpasa sian hula-hula dohot horong ni Tulang.

      Hot pe jabu i sai tong do i marbulang-bulang,
      Tung sian dia pe mangalap boru bere i, sai hot do i boru ni tulang.

      Dangka ni bulu godang tanggo pinangait-aithon
      Dilehon Debata ma di hamu tubuan anak dohot boru, si tongka panahit-nahiton.

      Andos ras ma tu andor ris, tubu di huta Purbasinomba,
      Sai horas-horas ma hamu jala torkis-torkis, ditumpak asi ni roha ni Tuhanta.

      Binsar mata ni ari, poltak mata ni bulan,
      Sai tubu ma di hamu boru namalo mansari dohot anak na gabe raja panungkunan.

      Giring-gring ma tu gosta-gosta, tu boras ni singkoru,
      Sai tibu ma hamu mangiring-iring pahompu, tibu mangompa-ompa anak dohot boru.

      Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu bontean,
      Sahat ma hamu leleng mangolu, sahat tu parhorasan panggabean.

      Eme sitamba tua parlinggoman ni siborok,
      Debata do si lehon tua, horas hamu diparorot.

      Dohot angka na asing.

    4. Hata umpasa di na paampuhon hata dohot mangampu hata.

      Aek marjullak-jullak, marjullak-jullak sian batu, tinahu tu batu-batu.
      Angka hata nauli, hata pasu-pasu naung hupasahat hami tu hamu, ampu hamu ma i di tonga ni jabu.

      Naung sampulu pitu jumali sampulu ualu
      Hata nauli, hata pasu-pasu, ampu hamu ma di tonga ni jabu.

      Turtu ma inna anduhur, tio ma ninna lote,
      Hata nauli, hata pasu-pasu, sai unang muba sai unang mose.

      Marmutik ma inggir-inggir, bulung na i rata-rata,
      Hata nauli, hata pasu-pasu naung pinasahatmuna, napasauthon ma ma Debata.

      Dohot angka na asing.

    5. Hata umpasa di na mangingani manang manuruk jabu.

      Labu pe labu i, ndang asal suanhononhon,
      Jabu pe jabu, ndang asal inganan.

      Mabaor aek puli sian dolok ni Simamora,
      Sai hot ma jabunta on bagas na uli, ingananmu marlas ni roha.

      Tangkas do jabu suhat, laso tangkas do jabu bona,
      Sai tangkas ma hamu dung maringanan di jabu on maduma, tangkas nang mamora.

      Andor ras ma tu andor ris di tombak ni Purbasinomba
      Sai horas-horas ma hamu torkis-torkis, tumpahon ni Debata namartua.

      Jongjong di Dolok Purbasinomba, manatap tu Panamparan,
      Sahat ma hamu saur-matua mangingani jabu on dihaliangi angka pomparan.

      Sahat-sahat ni solu toho di rondang ni bulan,
      Sahat ma hamu leleng mangolu mangingani bagas on, sai diiring-iring Tuhan.

      Eme si tamba tua parlinggoman siborok,
      Sai dilehon Tuhanta ma di hamu tua, hot ma hamu di jabu on diparorot.

      Dohot angka na asing.

    6. Hata umpasa di ulaon na tardidi

      Tubu ma tambinsu di dolok ni Pangaribuan,
      Sai anak nabiusk ma ibana, anak na gabe si pajoloon.

      Dangka ni hariara ma ni pangait-aithon
      Simbur ma ibana mangodang, sitongka panahit-nahiton.

      Horbo ni Sibuluan manjampal di balian,
      Sai dapot ma angka naniluluan, sai tiur ma nang pansarian.

      Habang ambaroba di atas ni Sibuntuon,
      Sai burju ma ibana marroha, gabe jolma si tiruon.

      Dolok ni Hutanauli hatubuan ni si marlasuna,
      Goar nauli ma goarna i, donganna gabe jala mamora.

      Eme sitamba tua parlinggoman ni siborok,
      Sai dilehon Debata ma di ibana tua, imbur magodang diparorot.

      Dohot angka na asing.

    7. Hata umpasa di na pasahathon ulos mula gabe

      Sanjongkal urat ni ri, tolu jongkal urat ni singkoru,
      Ulos mula gabe naung pinasahat i, sai saur ma i di hamu, mangulosi anak dohot boru.

      Tubu ma lata di toru ni bunga-bunga,
      Tubu ma anak na marsangap di hamu dohot boru na martua.

      Habang binsak-binsak laos mangihut ambaroba,
      Sai tibu ma ro na tapaima, jala dapot nahinirim ni roha.

      Tangki ma jala ualang, galinggang jala garege,
      Sai tubu ma di hamu anak partahi jala ulubalang, dohot boru namora jala pareme.

      Eme si tambatua ma parasaran ni siborok,
      Sai dilehon Debata ma di hamu gogo dohot tua, hot ma hamu diparorot.

      Obuk do jambulan nanidandan bahen samara,
      Molo mamasu-masu hula-hula, padao sahit dohot mara.

      Dohot angka na asing.

    8. Hotang do binebe-bebe, hotang nipulos-pulos,
      Unang hita mandele ai adong do tudos-tudos.
      Bagot na madung-dung ma tu pilo-pilo na marajar,
      Sai salpu ma angka nalungun, sai ro ma angka najagar.

      Tombak ni Simalungun parsobanan ni Simamora,
      Sai hatop ma salpu angka nalungun, jala hatop ma ro si las ni roha.

      Balga tiang ni ruma, umbalgaan tiang ni sopo,
      Nunga ganjang umur ni naung jumolo i, sai gumanjang ma umur ni angka naumposo.

      Tuak natonggi ma tu bagot si balbalon,
      Tung paet di tingki angka na salpu i, sai ro ma angka natonggi tu joloan on.

      Tinapu bulung siarum bahen uram ni pora-pora,
      Nahasit i tibu ma malum, jala tibu ma ro si las ni roha.

      Eme sitambatua parlinggoman siborok,
      Sai dilehon Tuhanta ma di hamu tua, jala sude hamu sai diparorot.

      Dohot angka na asing.

    9. Angka hata umpasa di huhuasi ni sipanganon

      Si titi ma si hompa, golang-golang pangarahutna,
      Otik so sadia pe na tupa, sai godang ma pinasuna.

      Bagot na marhalto ma tubu di robean,
      Horas ma namanganhon, horas namangalean.

      Huta Tanobato parasaran ni leang-leang,
      Horas ma hami namanjalo, horas ma di hamu namangalean.

      Otik si butong-butong, godang si pir ni tondi,
      Otik so sadia na boi hupatupa hami, pamurnas ma i tudaging, saudara tu bohi, si palomak imbulu ma i, si paneang holi-holi.

      Dohot angka na asing.

  2. Angka hata umpama


Aek godang tu aek laut,
angka dos ni roha do si behen na saut.

Si hikkit si nalenggam,
tapillit ma nadumenggan.

Eme na masak di gagat ursa,
I ma na masa (denggan) i ma niula.

Sinuan bulu sibahen na las,
Sinuar adat dohot uhum sibahen na horas.

Ompu raja di jolo martungkot sialagundi,
Angka adat nauli napinungka ni ompunta na parjolo, siihuthonon ni hita na di pudi.

Baris-baris ni gaja di rura Pangaloan,
Molo marsuru raja, dae do so oloan.

Pat ni gaja tu pat ni hora,
Angka anak ni raja jala pahompu ni namora.

Asing dolok asing duhutna,
Asing luat, asing ruhutna.

Sise do mula ni hata, sungkun mula ni uhum,
Gokhon sipaimaon jou-jou sialusan.

Sotongka do mulak tata naung masak,
Mulak marimbulu naung tinutungan.

Unang songon tagading, marguru tu anakna.

Piltik ni hasapi do tabo begeon ni pinggol,
Piltik ni hata sogo begeon.

Madekdek jarum tu napotpot,
Ndang diida mata, diida roha.

Dohot angka na asing.

Sian hatorangan dohot angka contoh ni hata umpasa dohot umpama na pinatupa di buku on, didok roha nian naeng manambai angka naung taboto. Jala tapasahat ma angka hata pandohan i marhite-hite lambas ni roha jala hombar tu rumang dohot bentuk ni ulaon i.

Di na laho pasahathon hata hita di sada-sada ulaon, taparate-atehon ma situasi dohot kondisi ni tuturna na marulaon, songon i kondisi dohot hadirionta be. Molo poso dope hita, nang pe sian horong ni hula-hula manang tulang, asa malo ma hita manempathon diri. Lapatanna, nang pe hita apala tampuk, nampunasa ugasan di ulaon i, alai porlu do pasangap-onta molo adong dope natua-tua rap dohot hita di si. Sada na porlu sibotoonta muse, molo angka hata umpasa i boi do berkembang mang-ihuthon angka hamajuon ni zaman dohot kondisi. Na porlu, asalma nanidokna i marlapatan na bagas, mura antusan. Alai, molo angka hata umpama, bentuk dohot hatana, hira bersifat
statis do i. Ndang boi i dika-rang-karang. Alana, songon fasafah manang poda do i di hita.

Songon i ma jolo na boi pinatupa di tingki on. Horas ma di hita.

Produser dan Artis Batak, Merusak Bahasa Batak?

Jika kita perhatikan teks lagu-lagu Batak dalam Video Compact Disc (VCD) dan lembar lirik kaset yang beredar luas di masyarakat, ada satu hal yang hampir merata ditemukan, yaitu “kesalahan” penulisan kata-kata lirik lagu. Seakan terluput dari perhatian, kesalahan demi kesalahan terulang baik dalam VCD /kaset lama maupun yang baru dirilis ke pasar.

Kalau kita lebih telisik dengan teliti, sangat mencengangkan hampir 90 % dari VCD/kaset yang beredar melakukan kesalahan pengejaan kata. Artinya, tidak sesuai dengan pengetikan kata dalam Tata Bahasa Batak yang baik dan benar. Belum lagi, masih ditemukannya kesalahan fatal, seperti ketidaktepatan pengetikan kata, baik yang masih dapat tertangkap maknanya, maupun yang bias tanpa makna bahkan makna baru yang tidak sesuai dengan lirik lagu yang diartikulasikan oleh si penyanyi.

Berbagai contoh yang dapat dikemukakan antara lain, pengetikan “ng” menjadi “k”, misalnya ; rongkap dituliskan rokkap, tangkup tertulis takkup, ambolonghon ditulis ambolokkon, angka ditulis akka; dangka, ditulis dakka, dengke, dituliskan dekke, dan juga menghilangkan bunyi konsonan seperti h dalam “ahu” menjadi “au” dll. Kesalahan seperti ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah diterima oleh konsumen, dimana penulisan dibuat sama dengan pelafalan (artikulasi). Hal yang lebih buruk lagi ditemuinya kesalahan pengetikan yang tidak hanya menyesuaikan dengan pelafalan.

Untuk sementara, saya simpulkan hal ini terjadi karena ketidak profesionalan, ketidak pedulian—produk asal jadi. Namun, masih ada yang dapat dijadikan contoh. Lihat saja, produksi Vicky Sianipar feat Tongam Sirait dalam Album Nommensen, hampir tidak ditemui kesalahan. Artinya, dapat di pakai sebagai contoh oleh para produser dan artis lain. Belajar dari hal yang benar, akan lebih baik dari pada meneruskan kesalahan yang sama berulang-ulang. Lebih jauh, kalau mau mencari referensi pola penulisan Bahasa Batak yang baik dan benar serta mudah di akses, dapat saja menggunakan Bibel dan Buku Ende yang di release oleh berbagai gereja Batak.

Jika kondisi seperti ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin suatu saat, generasi Batak akan menerima kesalahan yang tersosialisasi sedemikian rupa melalui lirik VCD/kaset lagu Batak, menjadi sesuatu yang tidak perlu dipersoalkan lagi dan bahkan menjadi penulisan baku yang baru yang sama sekali tidak benar.

Lalu, apa yang mau kita katakan terhadap fenomena ini? Sebagai, suku bangsa yang menghargai bahasanya, dan tidak mau kehilangan tata bahasa Batak yang sesunguhnya, maka seluruh elemen Batak, memiliki kewajiban untuk mengembalikan pola penulisan Bahasa Batak sesuai dengan kaidah yang benar.

Salah satu upaya tentu meminta tanggungjawab para produser VCD/kaset Lagu Batak, untuk tidak mengulangi dan meneruskan kesalahan-kesalahan dalam penulisan lirik lagu Batak, sehingga tidak menjadi sebuah gelombang perusakan Bahasa Batak di kemudian hari. Tentu, selain meminta pertanggungjawaban terhadap kesalahan-kesalahan yang sudah terpublikasi, juga perlu menyerukan agar konsumen, pembeli VCD/kaset lagu Batak untuk tidak membeli produksi VCD/kaset yang liriknya dibuat secara sembarangan dan asal-asalan. Kalau kita tidak mau menjadi pihak yang ikut membantu percepatan perusakan Bahasa Batak itu sendiri.

Save and conserve Batak Language, sekarang juga. HORAS!

… seharusnya dung hupajonok.

… seharusnya ihuthononhu.

… seharusnya anju.

… seharusnya umbahen, ho tu ahu. Ho tu an, kehilangan arti.

… seharusnya bonsir.

… seharusnta na so ra, ho do, na pintor.

…seharusnya haholonganhu

… seharusnya tu ho.

… seharusnya sambulonhi.

… seharusnya rongkap.

… seharusnya langeanhu.

… seharusnya sanghababa.

… seharusnya sisolsolanhu

Umpasa ni Halak Batak

Manat unang tartuktuk, dadap unang tarrobung
Artinya: Sebelum melakukan sesuatu lebih baik di teliti dulu situasi apa yang mau dilakukan

Jolo nidodo asa hinonong
Artinya: Sebelum melakukan sesuatu lebih baik di teliti dulu situasi apa yang mau dilakukan

Jolo tinaha garung niba, niantan sulangat niba
Artinya: Sebelum melakukan sesuatu lebih baik kalau kita menyadari kemampuan diri sendiri.

Aek godang tu aek laut, dos ni roha sibahen na saut
Artinya: Musyawarah untuk mufakat

Balintang ma pagabe tumandangkon sitandoan
Arinta ma gabe molo marsipaoloan
Artinya: Kita akan mendapatkan keberhasilan jika seia sekata

Amporik marlipik, onggang marhabang,
Gabe parboli na otik laos gabe do parboli na godang
Artinya:

Namandanggurhon tu dolok do molo basa namarhula-hula
Artinya:

Janji urat ni eme tu laklak ni simarlasuna, Adat na denggan na so ra sega, uhum na uli na so ra muba i, asa manumpak ma Tuhanta i sinur ma pinahan gabe na niula jala horas jolma.

Martumbur ma baringin, mardangka ma hariara, matorop ma hamu maribur, matangkang ma juara.

Sai marrongkap mai songon bagot, marsibar songon ambalang, jala sai masigomgoman ma tondi ni nasida tu na tama.

Dangka ni hariara ma pinangait-ngaithon, tubuma dihamu anak dohot boru, sai unang ma panahit-nahithon.

Balintang ma pagabe tumandakhon sitadoan, saut do hamu gabe asal ma tontong masipaolo-oloan.

Dangir-dangir ni batu ma hamu, pandakdahan ni simbora, Gabe do hamu jala sarimatua asal ma sai marsada ni roha.

Ai na tinapu salaon, salaon situa-tua, Denggan ma hamu masianju-anjuan asa saut gabe jala sarimatua.

Sai situbu laklak ma hamu situbu singkoru di dolok ni purbatua, sai tubuan anak ma hamu tubuan boru, donganmuna sarimatua.

Hariara na bolon bahen parlape-lapean, Sai tubu ma di hamu anak dohot boru na bolas pangunsandean.

Bagot na mandung-dung tu pilo-pilo marajar, Tading ma antong na lungun, sai roma na jagar.

Sahat-sahat ni soluma sahat tu bontean, Sahat ma hamu tu parhorasan, sahat tu panggaben.

Tuat ma na dolok martungkot sialagundi, adat ni ompunta sijolo-jolo tubu siihuttonon ni na di pidi.

Sinuan bulu sibahen nalas, Sinuan uhum sibaen na horas.

Muba dolok muba duhutna, muba luat sai adong do muba adatna.

Eme na masak di gagat ursa , ia i namasa ima di ula.

Aek godang aek laut, dos niroha sibahen nasaut

Sori manungkun sori mandapot, sai matua marpanungkun tu na nidapot.

Tangan do botohon, ujungna jari-jari, Bangko nihata si dohonon, asal ma jumolo marsatabi.

Ramba na poso na so tubuan lata, halak na poso na so umboto hata.

Tampuk ni sibaganding di dolok ni pangiringan, horas ma hamu na marhaha maranggi, sai masipairing-iringan.

Bola-bola ni tangan, sitongka i bolahononhon, bola-bola ni halak, sitongka i tangihononhon.

Tinallik randorung bontar gotana, Dos do anak dohot boru nang pe pulik margana, ai dompak marmeme anak, dompak do tong marmeme boru, andung ni anak sabulan di dalan, andung ni boru sataon.

Habang leang-leang songgop tu parapian, Bolak ni rosu angka na marpariban, sai masitopot-topotan songon pidong leang-leang.

Na niida ni mata paula so niida, na binege ni pinggol paula so ni bege.

Istilah waktu dalam Bahasa Batak

Sejak zaman dahulu orang batak sudah mengetahui perjalanan bulan dan bintang setiap harinya. Parhalaan Batak adalah cerminan pane nabolon hukum alam terhadap setiap manusia.

Apa yang akan terjadi besok, kelak menjadi apa anak yang baru lahirkan , bagaimana nasib seseorang, barang hilang serta langkah yang baik bagi orang Batak sudah merupakan kebiasaan pada zaman dahulu kala demikian halnya dalam mengadakan pesta ritual segalanya lebih dahulu membuka buku parhalaan (Buku Perbintangan).
Kembali kepada Mithologi Siboru Deakparujar bahwa saudara kembar dari debata Sorisohaliapan adalah Tuan Dihurmijati yang disebut juga Panenabolon. Panenabolon dalam buku ini disebut Hukum Alam, dengan tanda yaitu cahaya ufuk yang mulai nampak pada hari senja dan malam hari. Panenabolon menurut mithologi berdiam diri tiga-tiga bulan pada satu desa, setelah itu berpindah ke desa yang lain. Menurut pengetahuan modern, bahwa perpindahan itu adalah gambaran peredaran matahari, tiga bulan dari khatulistiwa ke utara, kemudian tiga bulan dari Utara ke khatulistiwa dan kemudian dari khatulistiwa tiga bulan ke selatan dan seterusnya tiga bulan juga kembali ke khatulistiwa.

Parhalaan

Demikian seterusnya Panenabolon berjalan dan di dalam buku, disebut peredaran alam raya. Jalan pikiran yang terdapat pada mithologi Siboru Deakparujar tersebut adalah pengetahuan waktu tentang peredaran alam raya. Perjalanan Panenabolon menjadi sumber pengetahuan Batak Toba mengenai waktu, baru diperkaya kemudian dengan memperhatikan perbintangan dan bulan serta arah mata angin.
Memperlihatkan Panenabolon yang menjadi sumber peredaran matahari, peredaran bintang, peredaran bulan dan arah angin, maka tumbuh ilmu pengetahuan alam tentang waktu yang disebut : Parhalaan, baik mengenai tahun, bulan, dan hari, maupun mengenai pembagian waktu satu hari satu malam dan istilah-istilah untuk itu. hubungan pembagian waktu ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia yang bersifat ritual. Ilmu Nujum inilah yang menjadi Pola Umum berpikir Batak Toba saat itu. Yang membuat terbenamnya pola Umum berpikir itu sehingga pandangan Batak Toba mengenai waktu bergeser dari nilai yang semula bernilai positif, berobah menjadi ilmu meramal nasib manusia.
Sejak mithologi Siboru Deakparujar suku batak pada umumnya sangat gemar memperhatikan Panenabolon-cahaya ufuk yang nampak sejak senja sampai malam hari. Mengamati perjalanan Panenabolon membandingkan dengan tempat bintang-bintang di malam hari serta membandingkan pula dengan peredaran bulan dan matahari dan keadaan angin pada satu-satu waktu maka orang Batak membagi waktu.
Dari hasil pengamatan dan pengalaman itu, dapat diketahui bahwa peredaran alam raya ada kaitannya dengan kehidupan, baik mengenai kehidupan manusia maupun kehidupan alami. Artinya bahwa hukum alam ada kaitannya dengan alam ini. Baik mengenai kehidupan manusia maupun kehidupan alami. Artinya bahwa hukum alam ada kaitannya dengan alam ini, baik terhadap alam manusia dan hewani maupun terhadap alam tumbuh-tumbuhan. Oleh sebab itu Panenabolon dan perbintangan serta peredaran bulan dan matahari itu menentukan arah mata angin sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia, maka pengamatan untuk semua itu adalah paling utama pada kegiatan sehari-hari.
Agar mereka dapat mengetahui kegiatan apa yang hendak dilakukan setiap hari pada waktu yang tepat. Maka para cerdik pandai batak itu membagi waktu pada keadaan yang tepat. Jika orang barat dalam hal ini yunani terutama Romawi mentransfer peredaran alam raya itu dengan teknik pengetahuan alam sebagai titik tolak pembuatan jam, maka orang batak masih terbenam pada pola umum, belum mampu mentransfer peredaran itu dengan teknik ilmu alam. Artinya, bahwa pembagian waktu itu masih tetap berdasarkan penglihatan atau pengamatan mata. Dari hasil pikiran dan pengamatan mereka dapat diketahui tentang pembagian waktu yang ditulis pada Bulu Parhalaan, Holi Parhalaan dan Pustaha Parhalaan seperti berikut ini.

a. Partaonan

Partaonan adalah pengetahuan akan tahun. Tahun Batak tidak diketahui berapa jumlahnya. Mungkin tidak ada satu peristiwa yang besar yang dialami suku batak yang menjadi titik tolak permulaan tahun. Atau jumlah tahun tidak perlu ada akibat dari pandangan tentang akhir zaman. Berdasarkan budaya spritual suku batak bahwa belum diketahui atau belum dijumpai tentang adanya akhir zaman. Yang ada adalah banua atas tempat orang-orang yang baik apabila sudah meninggal, Banua Tonga tempat atau dihuni seperti kehidupan sekarang ini dan Banua Toru adalah tempat atau dihuni orang-orang yang meninggal yang perbuatannya tidak baik.
Belum diketahui atau belum dijumpai pada budaya batak tentang akhir dari alam raya. akibat dari pandangan itu, mungkin pemikiran orang batak pembentuk gagasan itu, tidak perlu diadakan penarikan tahun batak. Yang paling utama pada mereka adalah masa depan yang lebih baik bagi generasi mereka. Maka perlu perbaikan berkelanjutan tentang pengamatan waktu untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
Dan inilah yang masih dihayati suku batak bahwa anaknya adalah harta yang paling berharga baginya. Pertarikhan tahun batak belum diketahui, tetapi jumlah hari dan bulan pada setiap tahun ada pertambahan. Misalnya pada setiap enam tahun peredaran, ada bulan ketigabelas untuk menyesuaikan kepada tempat semula bintang-bintang di langit dimana bintang-bintang itu kembali ke tempat semula.
Sada taon artinya setahun, Tahun Batak terdiri dari duabelas bulan yang disebut sipaha maka nama-nama bulan batak itu dalam hal ini Batak Toba adalah :
1. Sipaha sada adalah bulan pertama
2. Sipaha dua adalah bulan kedua
3. Sipaha tolu adalah bulan ketiga
4. Sipaha opat adalah bulan keempat
5. Sipaha lima adalah bulan kelima
6. Sipaha onom adalah bulan keenam
7. Sipaha pitu adalah bulan ketujuh
8. Sipaha ualu adalah bulan kedelapan
9. Sipaha sia adalah bulan kesembilan
10. Sipaha sampulu adalah bulan kesepuluh
11. Li adalah bulan kesebelas
12. Hurung adalah bulan keduabelas
Permulaan tahun disebut sada kira-kira antara bulan maret dan april, bulan masehi dan akhir tahun disebut hurung kira-kira bulan antara februari dan maret bulan masehi.
Setiap bulan atau Sipaha terdiri antara 29 hari dan 30 hari dan nama-namanya seperti barikut ini :
1. Artia
2. Suma
3. Anggara
4. Muda
5. Boraspati
6. Singkora
7. Samisara
8. Antian ni aek
9. Sumani mangadap
10. Anggara sampulu
11. Muda ni mangadap
12. Boraspati ni tangkok
13. Singkora purnama
14. Samisara purnama
15. Tula
16. Suma ni holom
17. Anggara ni holom
18. Muda ni holom
19. Boraspati ni holom
20. Singkora mora turun
21. Samisara Mora turun
22. Antian ni anggara
23. Suma ni mate
24. Anggara ni begu
25. Muda ni mate
26. Boraspati na gok
27. Singkora duduk
28. Samisara bulan mate
29. Hurung
30. Ringkar
Hari pertama disebut artia hari terakhir dinamai ringkar. Jika diperhatikan nama-nama hari diatas, bahwa setiap tujuh hari ada perulangan nama artia. Hari pertama antiani aek hari kedelapan, tula hari kelimabelas dan antian ni anggara hari kedua puluh dua. Demikian pula samisara hari ketujuh, samisara purnama, hari keempat belas, samisara mora turun, hari kedua puluh satu, samisara bulan mate hari keduapuluh delapan, maka dapat diketahui bahwa setiap tujuh hari bulan, ada perobahan pada peredarannya. Sebagaimana diketahui bahwa nama-nama hari Batak adalah berdasarkan peredaran bulan. Untuk menyesuaikan nama bulan dan tempat semula perbintangan maka ada hari tambahan yaitu hari hurung hari kedua puluh sembilan dan ringkar hari ketiga puluh Batak Toba untuk mengetahui pandangannya tentang waktu.

Dari pengamatan peredaran matahari Batak Toba mengetahui apa arti sada ari sada borngin antara terbit dan terbenam disebut arian atau siang. Demikian pula halnya antara matahari terbenam dan kemudian terbit disebut borngin. Jadi pengertian arian-borngin adalah sada ari-sada borngin dan terbagi lima waktu yaitu :
1. Sogot = antara jam 05.00 Wib dan 07.00 Wib
2. Pangului atau Pangulihi = antara jam 07.00 Wib dan jam 1.00 Wib
3. Hos = antara jam 11.00 Wib dan jam 13.00 Wib
4. Guling = antara jam 13.00 Wib dan jam 17.00 Wib
5. Bot = antara jam 17.00 Wib dan jam 18.00 Wib
Pembagian waktu siang dan malam adalah sama seperti yang disebutkan di muka. Pembagian atas lima waktu masih dibagi atas penglihatan terhadap keadaan matahari dan kedalam alam pada malam hari sebelum matahari berikutnya terbit.
1. Binsar mata ni ari : sekitar jam 6 pagi
2. Pangului : sekitar jam 7 pagi
3. Turba : sekitar jam 8 pagi
4. Pangguit raja : sekitar jam 9 pagi
5. Sagang ari : sekitar jam 10 siang
6. Huma na hos : sekitar jam 11 siang
7. Hos atau tonga ari : sekitar jam 12 siang
8. Guling : sekitar jam 13 siang
9. Guling dao : sekitar jam 14 sore
10. Tolu gala : sekitar jam 15 sore
11. Dua sagala : sekitar jam 16 sore
12. Sagala : sekitar jam 17 sore
13. Sundut atau mate mataniari : sekitar jam 18 sore

14. Samon : sekitar jam 19 malam
15. Hatiha mangan : sekitar jam 20 malam
16. Tungkap hudon : sekitar jam 21 malam
17. Sampe modom : sekitar jam 22 malam
18. Sampe modom na bagas : sekitar jam 23 malam
19. Tonga borngin : sekitar jam 24 malam
20. Haroro ni panangko : sekitar jam 1 malam
21. Tahuak manuk sahali : sekitar jam 2 malam
22. Tahuak manuk dua hali : sekitar jam 3 malam
23. Buhabuha ijuk : sekitar jam 4pagi
24. Andos torang atau torang ari : sekitar jam 5 pagi

Pengamatan terbit dan terbenam matahari dan memperhatikan letak bintang-bintang di langit serta mengemati cahaya ufuk Panenabolon dan membandingkannya dengan keadaan angin dan cuaca orang Batak membagi arah mata angin yang disebut Desa na ualu.

b. Desa na ualu :


Desa Na Ualu adalah delapan arah mata angin yaitu :
1. Purba sama dengan timur
2. Anggoni sama dengan tenggara
3. Dangsina sama dengan selatan
4. Nariti sama dengan barat daya
5. Pastima sama dengan barat
6. Manabia sama dengan barat laut
7. Utara sama dengan utara
8. Irisanna sama dengan timur laut


c. Perjalanan bintang setiap hari :

Sumber: Prof Sorimangaraja Sitanggang

Pengembangan Aksara Batak

Pada awalnya nenek moyang kita Siraja Batak mengukir aksara Batak untuk dapat menulis bahasa Batak, bukan untuk dapat menulis bahasa-bahasa yang lain. Barangkali pada waktu aksara Batak itu disingahon Siraja Batak, mereka tidak teipikir bahwa masih ada bahasa-bahasa yang lain selain bahasa daerah Batak. Akan tetapi setelah Siraja Batak marpinompari, mereka menyebar ke desa na uwalu, barulah mereka tahu bahwa sebenarnya masih ada bahasa daerah selain bahasa Batak. Hal ini setelah datangnya sibontar mata (bangsa asing), kemudian menyusul dengan perang Batak dan perang Padri, barulah terbuka mata para pendahulu kita bahwa sebetulnya masih banyak bahasa-bahasa yang mereka temui di luar Tano Batak.

Kemudian kita merdeka, maka semakin banyak pula pergaulan orang Batak dalam rangka mencari upaya-upaya peningkatan taraf hidup. Mereka bisa sekolah di negeri masing-masing bahkan bisa di luar Tano Batak dan akhirnya bisa ke Batavia. Pengetahuan kita semakin terbuka sehingga selain bahasa Indonesia masih banyak bahasa-bahasa daerah lain dibumi persada kita ini.

Kalau kita melihat bahasa daerah Sunda, Jawa, Bali dan lain-lain, aksara Batak itu hanya bisa menulis bahasa Indonesia selain bahasa Batak. Aksara Batak tidak bisa menulis bahasa Sunda, Jawa, Aceh, Bali dan sebagainya maupun bahasa-bahasa asing seperti bahasa Inggris, Perancis, Jerman. Untuk mengantisipasi perkembangan zaman, sesuai dengan amanat GBHN, maka tokoh-tokoh masyarakat Batak melalui seminar pada tanggal 17 Juli 1988, telah mencoba mengembangkan aksara Batak dari 19 induk huruf menjadi 29 induk huruf.

Dengan demikian, maka bahasa Indonesia akan dapat dituliskan dengan aksara Batak.

Surat Batak yang disepakati 17 Juli 1988, dikembangkan oleh masyarakat BatakAngkola-Sipirok-Padang Lawas-Mandailing-Toba-Dairi-Simalungun dan Batak Karo.

A

HA

NA

RA

TA

BA

WA

I

MA

NGA

LA

PA

SA

DA

GA

JA

YA

U

KA

KHA

CA

NYA

NDA

MBA

FA

QA

XA

VA

ZA

Continue reading “Pengembangan Aksara Batak”

Aksara Batak Toba

Induk Huruf

Sistem tradisi penulisan didalam bahasa Batak Toba diduga telah ada sejak abad ke-13,dengan aksara yang mungkin berasal dari aksara Jawa Kuna, melalui aksara Sumatera Kuna. Aksara ini bersifat silabis artinya tanda untuk menggambarkan satu suku kata/silaba atau silabis. Jumlah lambang /tanda itu sebanyak 19 buah huruf yang disebut juga induk huruf dan ditambah 7 jenis anak huruf.

Pada dasarnya huruf /ka/ tidak pernah ditemukan dalam bahasa Batak Toba, misalnya orang Batak Toba pada mulanya bila menyebutkan kopi adalah hopi, dan hoda [bukan kuda]. Tetapi sekarang ini orang Batak tidak lagi menyebutnya hopi melainkan kopi, itulah perubahan pelafalan dalam bahasa Batak Toba.

Continue reading “Aksara Batak Toba”