Ketika Sinamot Jadi Momok

Oleh Suhunan Situmorang

CUKUP banyak saya dengar kasus gagal nikah disebabkan sinamot. Pekan lalu kembali saya tahu dari satu teman dekat, yang terjadi pada kerabat dekatnya. Antara pihak laki-laki (paranak) dengan pihak perempuan (parboru) tak berhasil menyepakati sinamot. Impian sepasang anak manusia untuk mengarung bahtera rumahtangga pun kandas sebelum layar mengembang.

Boleh jadi, anda pun sudah pernah dengar kasus semacam, dan saya yakin reaksi anda saat itu sama seperti saya: mengecam seraya menyayangkan. Tetapi saya pun yakin, kita kemudian tak melakukan apa-apa atawa hanya diam saja, dan bila terulang lagi akan kembali mengecam dan menyayangkan.

Kita tak juga berani mengambil sikap dan mencerahkan lingkungan terdekat: perkawinan putra-putri tak boleh gagal hanya disebabkan ketidakcocokan sinamot. Semua itu karena kita, disadari atau tidak, telah ikut jadi tawanan gengsi. Kita lebih mendahulukan puja-puji ketimbang harmoni.

Karena orang-orang memestakan pernikahan anak mereka di gedung besar dan mengundang banyak orang, kita pun ingin demikian. Tak terlalu kita pedulikan kemampuan finansial putra-putri, calon besan, bahkan diri kita, yang sebenarnya mungkin hanya pas-pasan. Tak kita khawatirkan proses ‘tawar-menawar’ dan bentuk ulaon (hajatan) bisa memicu keretakan rumahtangga anak yang baru mau dibangun. Kita lebih terpesona pada kemasan dan tak peduli bahwa di pihak sana harus ngos-ngosan untuk mewujudkan.

Belum lama ini di Jakarta ada orangtua pengantin perempuan yang selama pesta jadi bahan gunjingan karena katanya ngotot minta banyak sinamot supaya bisa berpesta di sebuah gedung di bilangan Kebon Nanas yang disebut paling mahal. Padahal, ditilik dari kemampuan uang kedua belah pihak, belum sepantasnya mereka buat pesta semahal itu.

Kita pun tak lagi peka menanggapi keluhan kaum muda, khususnya kalangan pria, yang memilih menunda atau belum berani menikah disebabkan sinamot. Sangat mungkin pula kita tak mau tahu efek buruk ketegangan saat memutuskan jumlah sinamot, bentuk ulaon, pada rumahtangga putri atau putra kita kelak. Sikap kita yang tak simpatik atau terkesan materialistis akan membuat menantu dan besan mengurangi rasa hormat pada diri kita, yang dampaknya mengimbas pada putri kita.

Kengototan menentukan jumlah sinamot akan pula memberi kesan bahwa kita telah ‘menjual’ anak perempuan kita dengan sejumlah uang, yang kemudian banyak disalahpahami kaum pria hingga memperlakukan istri semena-mena. Pemberontakan umumnya perempuan Batak modern (yang mandiri dari aspek finansial) terhadap adat Batak pun acap dipicu ketidakterimaan atas konsep ‘jual-beli’ itu. Mereka menolak diperlakukan layaknya ‘komoditi’.

Padahal, para orangtualah yang salah—termasuk parsinabul, parhata, atau juru bicara marga. Mereka terbiasa menggunakan istilah ‘tuhorni boru’ (harafiahnya: harga jual anak perempuan). Konotasi tuhor ini tak manusiawi, melecehkan, melabrak kaedah-kaedah HAM. Ini pula dasar dan ‘senjata’ para agamawan fundamentalis mengobrak-abrik adat, apalagi banyak di antara mereka non-Batak, yang tak paham makna sinamot.

Esensi sinamot itu wujud penghormatan orangtua dan (calon) pengantin pria kepada pihak orangtua perempuan karena putri mereka akan dijadikan istri, menantu, dan ibu bagi keluarga batih serta marga. Meski berkedudukan sebagai orangtua kandung, mereka tak boleh begitu saja mengiyakan permintaan pihak pria yang disampaikan keluarga dekat bapaknya.

Saking tak sembarangan memberi izin, sebenarnya, selain persetujuan orangtua kandung, saudara lelaki, paman kandung dari ayah calon pengantin perempuan (amangtua, amanguda), harus ada pula restu dari tulang (saudara lelaki ibu). Itu sebabnya ‘suhini ampang naopat’ (elemen utama dalam hajatan adat perkawinan) menyertakan tulang. Sayangnya, syarat penting ini sudah banyak yang tak menaati; tulang seolah diperlukan saat pesta unjuk saja (saat acara adat pernikahan).

Panjangnya tahapan menuju perkawinan itu (kini disederhanakan dengan: hori-hori dinding-patua hata, marhusip-pudun saut, mandapothon tulang, tonggo raja) membuktikan bahwa pernikahan dalam masyarakat adat Batak bukan soal kawin semata. Ada kesesuaian, kesepakatan, konsekwensi hukum (adat), dan ikatan yang tercapai, terjalin dan berlaku sepanjang masa bagi kedua belah pihak—dan kemudian mengimbas pada kerabat.

Mestinya, makna penting berpindahnya anak gadis mengikuti klan suami (jadi istri atau parsonduk bolon, parumaen, yang juga berposisi jadi ibu bagi keluarga batih) dan persetujuan dari tulang dengan simbol pemberian sinamot sebagai wujud penghormatan itulah yang lebih ditonjolkan. Bukan dimensi transaksi hingga terkesan melecehkan wanita.

Bila makna dan filosofi penghormatan dikedepankan, tak sepatutnya lagi menonjol pembahasan nilai sinamot, namun lebih pada kesungguhan pihak lelaki untuk menyunting gadis pujaan hatinya untuk dijadikan teman hidup hingga saur-matua, seiring sejalan ke berbagai arah (tu dolok tu toruan). Meriahnya pesta pun hanya aksesori atau pelengkap. Maka bila memang tak cukup mampu merayakan secara besar-besaran, kenapa pula harus dipaksakan. Bukankah yang terutama adalah kebahagiaan dan kesejahteraan anak sesudah menikah?

Nampaknya kita sudah dicengkeram gengsi sedemikian kuat, ditindas perasaan tak enak pada kerabat dan kawan bila undangan tak meluas, namun jadi mengorbankan anak. Marilah kita dahulukan kebahagiaan dan kesejahteraan anak, yang penting tetap terjaga martabat, yang tercermin dari sikap, perilaku, cara bicara.

Adat kian dibenci kaum muda, terutama akibat ulah para orangtua yang tak cukup paham makna dan filosofinya. Saatnya kita ubah cara pandang yang tak benar itu, mengenyah anggapan-anggapan keliru yang akhirnya bikin susah, agar sinamot tak lagi momok dan penghalang impian setiap anak.***

Telah dimuat di: Batak Pos, Sabtu 8 Mei 2010

Dilema Adat Batak…

Oleh : Ricat Gordon Simanjuntak – København SV

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budaya dan sejarahnya. Suku Batak juga mendapat julukan sebagai Bangso Batak. Berbagai potensi, sejak ribuan tahun telah ada dan dimiliki. Sumber Daya Alam seperti Danau Toba dengan Pulau Samosirnya merupakan salah satu Objek wisata yang terbesar Buat Sumatera Utara, Konon Si Raja Batak berasal dari Pusuk Buhit, Samosir.

Sebelum terjadinya masa resesi  di Indonesia pada tahun 1998, kita masih bisa melihat betapa banyaknya wisatawan mancanegara yang datang ke Danau Toba, Samosir untuk menikmati keindahan alam serta melihat secara langsung beberapa kegiatan adat Batak, salah satu adalah Pesta Pernikahan.
Mayoritas dari para wisatawan-wisatawan tersebut merada kagum melihat cara berjalannya adat tersebut, termasuk para peserta pesta yang begitu banyak sekali.

Adat Batak merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Batak dan jika dilihat dari segi pembiayaan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, alias mahal, bahkan jika diikuti secara lengkap, maka dapat dikatakan biaya termahal dari seluruh posting pengeluaran kehidupan sehari-hari. Biaya pesta adat pernikahan adalah salah satu diantaranya. Kita tahu bahwa kalau mau mengadakan pesta pernikahan tentu menginginkan agar  acara tersebut terlaksana dengan meriah. Pengantin laki-laki juga berkata akan mengusahakan segalanya, mengorbankan segalanya demi cinta dan kasihnya kepada pasanganannya.

Pertanyaannya, “Apakah kita harus mengorbankan segalanya demi Pesta pernikahan tersebut agar berjalan dengan meriah?” Kita ketahui pesta yang meriah juga adalah salah satu hal yang harus ditanggulangi. Godaan agar resepsi dilaksanakan di gedung yang megah, dengan musik yang meriah dengan harapan dan sudah menjadi persepsi umum yang mengatakan agar para tetamu merasa puas akan pesta tersebut.

Bagaimana sebenarnya kalau orang yang berasal dari ekonomi lemah? Apakah hal-hal tersebut akan membawa suatu dilema yang memberikan persepsi yang mengatakan wah saya tidak sanggup ini. Tuhor borunya saja sudah sekian puluh juta,belum lagi acara martuppolnya, acara adat pernikahannya dan sebagainya, sebagainya.

Apakah hal-hal tersebut di atas akan diatasi dengan begitu mudah?, Ada yang bilang pinjam uang aja atau biar saja orang tua si laki-laki yang menanggung segalanya. Wah orang tuanya juga berasal dari keluarga lemah, jadi bagaimana ya???

Apakah konteks adat Batak ini memang harus kita sesuaikan dengan kemajuan zaman?  Yah mari kita jawab sendiri. Tapanuli juga pernah mendapat sebutan Peta Kemiskinan, hal tersebut mengingatkan akan para perantau Batak untuk ingat akan tanah kelahirannya. Kita masih ingat Almarhum Raja Inal Siregar dengan suatu slogan yang mengatakan MARTABE, Marsipature Hutana Be. Cukup mengharukan untuk didengar. Tetapi, mungkin lebih baik kalau MARTABE kita dahului dengan Marsipature Tabiatna BE.

Kalau memang Tapanuli disebut-sebut sebagai salah satu Wilayah miskin, dan tiba-tiba Para Malaikat-Malaikat dari surga ingin menolong dan memberitahukannya kepada Tuhan. Lalu Tuhan memberikan perintahNya kepada mereka akan mengirimkan salah satu pesawat  yang terbesar, yang bermuatan segala macam hal yang mana akan dapat memberikan kelegahan buat Tapanuli.

Namun pesawat tersebut tidak dapat mendarat di Tanah Batak karena setiap kali akan mendarat selalu ada Bangunan Megah yang sebenarnya adalah tugu-tugu kuburan. Hal tersebut memeberikan image yang mengatakan, wah ini daerah Tapanuli bukan daerah miskin, karena dengan jarak yang tidak begitu jauh selalu ada bangunan besar yang ternyata adalah tugu-tugu kuburan.

Ricat Gordon Simanjuntak
Schubertsvej 12, 2 th
2450 København SV
Tlf. 38741721/22307235
email: richardsmjk@yahoo.com

Bias dan Penyimpangan Ulaon Adat Batak

Bagian Pertama: Adat Batak dan Pembiasannya
1. Adat
Adat yang di pakai para tetua orang Batak dahulu adalah ketentuan-ketentuan kehidupan sosial, yang di buat sebagai hasil kesepakatan bersama dari masyarakat, berdasarkan situasi dan kondisi, yang digunakan sebagai pegangan hidupp dan pengikat hubungan sosial masyarakat sehari-hari, oleh sekelompok masyarakat Batak pada suatu wilayah tertentu, sehinggga diperoleh suatu tatanan hubungan sosial masyarakat yang erat, teratur, sinegis dan memiliki ketahanan.

Bila adat Batak yang di gunakan para tetua orang Batak tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama berdasarkan situasi dan kondisi di suatu wilayah, maka akan diperoleh tatanan adat Batak yang berbeda antar wilayah tertentu, sesuai kondisi dan situasinya, atau dengan perkataan lain: penerapan adat yang dipergunakan pada suatu wilayah tertentu, dapat berbeda dengan wilayah lain yang berbeda situasi dan kondisinya. Suatu wilayah tertentu dengan tatanan atau penerapan aturan adat yang tertentu disebut sebagai wilayah adat atau suatu bius.

Dengan menetapkan suatu adat sebagai pedoman hidup dan memanfaatkannya dalam kehidupan bersama sehari-hari, maka diharapkan akan dapat di peroleh suatu poladari tatanan kearifan hidup tradisional yang adaftable bari seluruh warga populasi masyarakat di suatu wilayah atau suatu bius tertentu, baik di dalam wilayah bius itu sendiri ataupun di luar bius.

Bentuk adat yang digunakan para tetua orang Batak seperti yang dibicarakan terdahulu adalah format tatanan adat Bataka berdasarkan sifat kwalitatif, yang disebut dengan adat nataradat, Seperti kita ketahuai bahwa format adat Batak berdasarkan sifat kwalitatif dibagi atas tiga bagian utama yaitu: Adat inti, adat namaradat, serta adat naniardathon.

Jenis adat sesuai sifat kwalitatif

Pase

Sifat

Keterangan

Adat-Inti

I

· Normatif

· Sacral

· Harga mati

Merupakan format adat yang paling awal

Adat Nataradat

II

· Pragmatis

· Fleksibel

· Memasukkan unsur lain

Disesuaikan dengan adat Inti

Adat-Naniadathon

III

Adaptable dengan budaya atau adat luar (exotic)

Bertentangan adan merusak adat inti

Perkembangan adat Batak berdasarkan sifat kwalitatif yaitu dari adat inti ke adat-nataradat dan selanjutnya ke adat-naniadathon, adalah mengikuti pola perubahan tatanan kehidupan masyarakat Batak baik di wilayah Bona ni Pasogit maupun di daerah perantauan. Perubahan tatanan kehidupan masyarakat Batak di Tapanuli, juga diakibatkan oleh masuknya agama baru (Kristen), serta campur tangan yang tegas dari pemerintah penjajah Belanda dahulu.

Dahulu, sebelum campur tangan pemerintah penjajah Belanda terhadap pola dan tatanan hidup masyarakat Batak penerapan adat Batak dalam suatu wilayah (bius) dipimpin dan dibina oleh seorang Parbaringin, yang juga sekaligus sebgai pimpinan agama tradisionil Batak. Dengan masuknya agama Kristen di daerah Tapanuli, serta akibat campur tangan penjabat pemerintah penjajah Belanda (Controler) yang membatasi pelaksanaann upacara adat Batak, maka pengaruh dan wibawa Parbaringin semakin berkurang.

Di sisi lain pengaruh percampuran penduduk dari beberapa bius atau kelompok marga yang berbedan di daerah baru, yaitu di daerah perantauan ataupun daerah panombangan, yang semakin lama semakin besar populasinya, pada akhirnya memaksa mereka menyepakati penerapan adat baru. Sebagai akibat peran dari parbaringin dan aturan penerapan adat yang dibinanya menjadi sangat lemah.

Pada masa belakangan ini, peran Parbaringin dalam upacara adat Batak diambil alih oleh seorang Raja Parhata, seperti: Parsinabung ataupun Raja Tinonggo. Dalam prakteknya pada setiap kegiatan ulaon adat Batak, Raja Parhata ditunjuk atau diangkat secara insidentil berdasarkan kelompok marga, bukan berdasarkan wilayah atau bius.

2. Penyimpangan Adat
Keberadaan Raja Parhata yang umumnya otodidak dan bersifat tidak terikat, member peluang pelaksanaan ulaon adat Batak menjadi menyimpang, terutama di daerah perantauan.

Perpaduan antara tiga factor, yaitu: Keberadaan dari naniadathon yang cenderung semakin mengikat, kemudian keberadaan daeri Raja Parhata yang bebas tidak terikat, serta sifat dinamis yang dimiliki orang Batak yang membuat mereka mudah beradaptasi dengan budaya luar sangat member I kemungkinan terjadinya pergeserah pada: pola hidup, norma-norma nilai, batasan perilaku, serta respon atau penerimaan terhadap budaya asing. Pada gilirannya ketiga factor itu akan menggeser sifat hidup masyarakat Batak untuk lebih pragmatis dan memiliki sifat fleksibilitas. Kondisi tersebut membuat peluang besar pada penyimpangan terhadap aturan-aturan adat.

Penyimpangan yang terjadi pada ulaon adat Batak akan maengaburkan makna ulaon adat Batak itu sendiri, serta dapat mempengaruhi bentuk persaudaraan masyarakat Batak, terutama bagi generasi muda. Generasi muda Batak sendiri diketahui sudah sejak lama mengalami peluruhan pada factor-faktor pendukung budaya Batak seperti: ketidakmampuan berbahasa Batak, tidak memahami partuturon, tidak mengetahui makna padan, dan yang sangat mengkhawatirkan adalah kurang berminat mendalami budaya adat Batak.
Beberapa penyimpangan yang sangat serius dalam ulaon adat Batak adalah : adanya Raja Parhata Bayaran dan Tulang Bayaran, pada upacara adat tertentu. Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Batak sudah cenderung mengorbankan makna hakiki adat dengan upaya-upaya perlakuan simbolis formalitas, dengan prinsip: ambil jalan pintas, asalkan ulaon adat (hajatan) dapat berlangsung.

Keberadaan Raja Parhata Bayaran yang cenderung meningkat terutama di kota-kota besar menunjukkan lemahnya organisasi adat pada masyarakat Batak. Seandainya terdapat lembaga adat Batak yang mengurus adat Batak, maka munculnya Raja Parhata Bayaran akan sulit terjadi.

Keberadaan tulang Bayaran yang sebenarnya bukanlah suatu masalah yang sederhana. Walaupun jalan pintas ini kelihatannya sangat praktis dan mudah dilaksanakan, akan tetapi bila kita merunut terhadap asal muasal atau penyebab sampai terjadinya Tulang Bayaran, maka akan terkuak suatu tragedy dalam hubungan sosial masyarakat Batak yaitu tidak harmonisnya antara tulang dengan bere, atau terputusnya hubungan informasi antara tulang dengan bere/ibeberenya. Dengan perkataan lain: pola hubungan antara tulang dengan bere/ibeberenya sesuai aturan adat Batak sudah tidak berjalan atau kurang diacuhkan.

Penulis: St Ir. Bezazel siagian MSi
Telah dimuat di Harian SIB Tgl 22 Juni 2008

Kebudayaan Batak di Antara Putik yang Berkembang

Ir. Sahala Simanjuntak (Tinggal di Balige)

Arti Kebudayaan Batak

Yang dimaksud dengan kebudayaan Batak, yaitu seluruh nilai-nilai kehidupan suku bangsa Batak di waktu-waktu mendatang merupakan penerusan dari nilai kehidupan lampau dan menjadi faktor penentu sebagai identitasnya. Refleksi dari nilai-nilai kehidupan tersebut menjadi suatu cirri yang khas bagi suku bangsa Batak yakni : Keyakinan dan kepercayaan bahwa ada Maha Pencipta sebagai Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta segala sesuatu isinya, termasuk langit dan bumi.

Untuk mewujudkan keseimbangan dalam menjalankan nilai-nilai kehidupan sebagai mahluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu dengan yang lainnya, Tuhan Maha Pencipta sebagai titik orientasi sipritualnya, alam lingkungan sebagai objek integritasnya suku bangsa Batak telah dinaungi Patik.

Patik berfungsi sebagai batasan tatanan kehidupan untuk mencapai nilai-nilai kebenaran. Patik ditandai dengan kata Unang( Jangan), Tongka (Pantang), Sotung (Jangan Sampai), Dang Jadi (Tidak Bisa).

Sebagai akibat dari penyimpangan tatanan kehidupan yang dimaksud dibuatlah Uhum atau Hukum. Uhum (Hukum) ditandai oleh kata; Aut (jikalau), Duru (Tersingkir),
Sala
(Bersalah), Baliksa (Kecuali), Hinorhon (Akibat), Laos (lewat batas), Dando (Denda), Tolon (Sumpah), Bura (Serapah), dsb.

Di dalam menjalankan kehidupannya, suku bangsa Batak terutama interaksinya antar sesama manusia dibuatlah nilai-nilai, etika maupun estetika yang dinamai Adat. Suku bangsa Batak mempunyai sistim kekerabatan yang dikenal dan hidup hingga kini yakni Partuturon. Peringatan untuk tidak melanggar Patik itu ditegaskan dengan kata Sotung (Jangan Sampai). Dan, mengharamkan segala pelanggaran terhadap aturan, yang dikenal dengan kata Subang (Pantangan).

Makna Kebudayaan Batak

Tata nilai kehidupan suku Batak di dalam proses pengembangannya merupakan pengolahan tingkat daya dan perkembangan daya dalam satu sistim komunikasi, yang meliputi :

a. Sikap Mental (Hadirion) :

Sikap mental ini tercermin dari pepatah :

Babiat di Harbangan, Gompul di Alaman. (Harimau di Gerbang Kampung, Beruang di Halaman)

Anak Sipajoloon Nara tu Jolo (Anak yang didaulat menjadi pemimpin, adalah orang yang siap di posisi terdepan).

b. Nilai Kehidupan (Ruhut-ruhut Ni Parngoluon) :

Pantun marpangkuling bangko ni anak na bisuk. (Patut dalam berbicara, tanda orang bijak).

Donda marpangalaho, bangkoni boru na uli. (Santun dalam peringai, tanda perempuan yang cantik).

Pantun hangoluan, tois hamagoan. Kapatutan menjamin keselamatan hidup, hidup sembarangan, alamat celaka.

Cara Berpikir (Paningaon)

Raja di jolo sipatudu dalan hangoluan. (Raja di depan,penunjuk jalan kehidupan)

Raja di tonga pangahut pangatua, pangimpal, pangimbalo. (Raja di tengah, perangkul tokoh, pengikat dan pemersatu.

Raja di pudi siapul natangis sielek na mardandi (Raja di belakang, penghibur bagi yang bersedih, dan pembujuk.)

Cara Bekerja (Parulan)
Mangula sibahen Namangan (Bekerja sumber rezeki)
Maragat bahen siinumon
(Menderes sumber minuman)

Logika (Ruhut, Raska, Risa)
Aut so ugari boru Napitupulu na tumubuhon au, dang martulang au tu Napitupulu

Kalau tidak boru napitupulu yang melahirkanku,, maka aku tidak memanggil paman kepada Marga Napitupulu.

Etika (Paradaton)
Tinintip sanggar bahen huru-huruan (Sanggar di arit, buat sangkar burung)
Nisungkun marga asa binoto partuturon (Tanya marga, supaya tahu kekerabatan).

Estetika (panimbangion) Hatian sora monggal, ninggala sibola tali

Rangkuman

Pandangan Umum.:

Budaya berasal dari bahasa sanskerta yaitu Budhayah, bentuk jamak dari budi dan akal. Sedangkan kata budaya ialah perkembangan majemuk dari budidaya yang berarti daya dan budi.

Hakekat budaya adalah hasil daya dari budi berupa Cipta, Karsa, Rasa.

Defenisi kebudayaan adalah sejumlah kepandaian dan pengalaman-pengalaman generasi-generasi angkatan manusia, yang telah dipelajarkan pada tiap-tiap generasi baru dan yang tersusun dalam masyarakat.

Salah satu aspek kebudayaan adalah ADAT. Adat ialah segala sesuatu kebiasaan-kebiasaan generasi-generasi angkatan manusia, yang telah dipelajarkan pada tiap-tiap generasi baru; telah tersusun rapi dalam masyarakat dan dibatasi oleh norma-norma tertentu.

Pandangan Khusus

Pemahaman suku bangsa Batak tentang mikro kosmos dan makro kosmos, dimana hubungan manusia Batak dengan Tuhannya, hubungan manusia Batak dengan manusia lainnya, manusia Batak dengan alam lingkungannya selalu di batasi oleh patik dan uhum. Itu berarti tatanan kehidupan suku Batak dari dulu hingga sekarang ini telah diatur oleh suatau sistem yaitu Budaya, dalam bahasa Batak lebih diartikan sebagai UGARI.

Logika

Budaya Batak mencerminkan nilai-nilai peradaban yang tinggi sehingga suku bangsa Batak mengakui Tuhan Maha Pencipta sebagai orientasi spritualnya. Suku bangsa yang tidak mempunyai budaya adalah suku bangsa yang tidak mengenal Tuhan dan disebut biadab.

Sudah dimuat sebelumnya di : http://tanobatak.wordpress.com/

Seijin penulis : melalui pembicaraan telepon Poltak Simanjuntak dengan Penulis.

Ruhut ni Parjambaron Juhut

Ruhut parjambaron juhut godang do variasina taida di ulaon adat-paradaton, hombar ma i tu rumang ni ulaon, luat ni namarulaon dohot situasi, kondisi, tempat, songon i nang di panjuhutina.

Didok natua-tua, sai jolo diseat hata asa diseat raut, namar-lapatan do i asa jolo dialap hata dos ni roha ma asa dibagi parjambaran juhut. Songon i muse nang di hata ni natua-tua namandok: Asing dolok asing duhutna, asing huta (luat) asing do nang ruhutna. Sudena i manghorhon tu nauli nadenggan do molo dapot dos ni roha sian panghataion. Ai mansai arga situtu do hata, jala sasintongna ndang apala jambar juhut i na gabe motivasi ni si jalo jambar, alai hata na masipaolo-oloan jala masipasangapan.

Adong do sipata tabege di sada-sada ulaon las ni roha manang arsak ni roha, hurang denggan ulaon ala ni pambagian jambar juhut.

Molo di hita na di tano parserahan on, khususna Jakarta sekitarna, ndang apala tapersoalhon be jambar i asalma proses manang ruhut pambagianna suman tu ulaon i. Gariada tahe adong do sijalo jambar pintor dilehon jambarna tu donganna, dohot pertimbangan asa so boi be ibana mangallang jagal, manang mabiar basi manang busuk jambar i ala leleng dope ibana mulak tu jabuna, dohot angka naasing.

Adong do pandohan na jot-jot tabege taringot di ruhut pambagian jambar juhut, ima hata namandok: “Sidapot solup ma hami.” Sada pandohan na raja ma i tutu di halak Batak, asalma laos raja sian mula ni panghataion jala hombar tu parhundulna. Namarlapatan, molo sian horong ni suhut paranak do pintor mandok “si dapot solup ma hamu” tu hula-hulana, so jolo dialap hata naelek, songon nahurang hormat jala hurang raja do panghataion i. Alai, molo sian horong ni hula-hula do namandok “sidapot solup ma hami” tu pamoruonna, mansai uli jala denggan ma begeon.

Ala ni i do sipata di ulaon las ni roha manang ulaon arsak ni roha (ulaon sari-matua manang saur-matua) dipatupa ulaon martonggo raja. Alana, gabe hira adong do panghataion sahat tu panjuhuti ni ulaon dohot pambagian jambar juhut.

Molo taida di ulaon adat na masa di tano parserahan on, angka si jalo parbagian jambar juhut di ulaon adat-paradaton i ma:

  • jambar ni hasuhuton dohot namarhaha-maranggi,
  • jambar ni boru/bere,
  • jambar ni dongan sahuta,
  • jambar ni pariban,
  • jambar ni hula-hula (hula-hula ni suhut; namarhaha-anggi, anak manjae)
  • jambar ni tulang (tulang ni ama hasuhuton dohot tulang ni ina hasuhuton)
  • jambar ni bona tulang (tulang ni ompu suhut)
  • jambar ni bona ni ari (hula-hula ni ompu suhut)

Nian adong dope angka si jalo jambar i ma: tu pangula ni huria, punguan dohot angka naasing dope. Alai, nauli ma saluhutna i jala disesuaihon ma pambagian i tu bentuk ni ulaon dohot panjuhutina.

Saonari porlu ma muse botoonta angka dia ma jambar sipasahaton tu horong ni si jalo jambar i.

Hombar tu si, parjolo ma pinatorang saotik taringot tu na mang-hasuhuthon, na marhadomuan tu tahapan manang proses ni namarbagi jambar juhut.

Molo sian daerah Silindung-Humbang sekitarna do namarulaon (hasuhuton), sai jumolo do dipasahat jambar taripar tu horong ni hula-hulana dohot tulang. Jadi parpudi do jambar dibagi tu hasuhuton.

Alai, molo namarulaon (hasuhuton) sian Toba sekitarna, sai jumolo do dibagi nasida jambar tu suhut namarhaha-maranggi asa mangihut jambar taripar tu hula-hula dohot tulang. Songon i jambar osang sai tu boruna do i dipasahat. Hape molo di Silindung-Humbang, jambar osang tu hula-hula do dipasahat. Alai sudena i sai manghorhon tu nauli nadenggan do molo sian angka dos ni roha.

Pambagian jambar juhut di ulaon pamuli boru/pangolihon anak –alap jual manang taruhon jual– na masa jala somal taulahon di Jakarta sekitarna, hira songon on ma.

  1. Sibagi dua do tudu-tudu ni sipanganon naung dipasahat Paranak tu Parboru. Nang pe naung dipasahat Paranak tu Parboru tudu-tudu ni sipanganon i marhite-hite hata manang pandohan na elek di na pasahathon, alai dung sidung marsipanganon disungkun suhut manang Raja Parhata ni Parboru do muse Paranak taringot tu tudu-tudu ni sipanganon i, songon naung pinatorang di panghataion di ulaon marhata sinamot. Alai, somalna, molo ihur-ihur sai jambar tu pihak parboru do i, nang pe diulaon taruhon jual, i ma ulak ni tandok ni parboru.
  2. Dung dibagi dua tudu-tudu ni sipanganon i, dipasahat Parboru ma muse jambar bagian ni Paranak, hombar tu panghataion dohot dos ni roha nasida. Dung i dibagi Parboru dohot Paranak ma muse jambar i tu angka tuturna be. >Catatan:

    Masa niida hira dipangido Paranak sian Parboru saotik sian jambar ihur- ihur di nasida asa adong bagionna tu tuturna (dongan tubuna).Di ulaon pesta unjuk somalna dipatupa sampe 8 (ualu) soit, asa 4 (opat) soit di Parboru, 4 (opat) soit di Paranak, jala di deba ulaon osang pe dibagi dua do. Masa do muse niida dipasahat Parboru jambar juhut tu haha parhundulna (tulang ni Pangoli), jala nadenggan ma tutu i.

  3. Pambagian jambar sipasahataon ni Parboru dohot Paranak hira songon na adong di table berikut ma:

Jambar juhut sipasahaton ni Paranak:

Sijalo Jambar
Silindung/Humbang
Toba
Sude horong ni

hula-hula

somba-somba somba-somba
Boru/Bere namarngingi (hambirang) – namarngingi (hambirang)

– osang

– Pariban,

– Pangula ni huria,

– Dongan sahuta,

– Punguan

dibuat sian soit, pohu dibuat sian soit, pohu

Jambar juhut sipasahaton ni Parboru:

Sijalo Jambar
Silindung/Humbang
Toba
Suhut ihur-ihur, soit ihur-ihur, soit
Hula-hula Osang namarngingi,
Tulang namarngingi (siamun) namarngingi, somba-somba
Boru/Bere namarngingi (hambirang) osang
– Hula-hula ni namarhaha-anggi,

– Hula2 ni anak manjae

– Tulang rorobot,

– Bona Tulang,

– Bona ni ari

somba-somba somba-somba
– Pariban,
– Pangula ni huria,

– Dongan sahuta

soit, pohu soit, pohu
– Punguan dibuat sian jambar ni suhut dibuat sian jambar ni suhut
  1. Di ulaon tardidi, malua, manuruk jabu, molo jambar ihur-ihur hot ma i di hasuhuton. Osang, namarngingi parsiamun, dohot somba-somba tu horong ni hula-hula dohot tulang. Soit ma tu dongan sahuta dohot pariban. Namarngingi parhambirang ma dipasahat tu boru/bere.
  2. Di ulaon patua hata/marhusip, pasahat ulos mula gabe, paebathon anak buha baju, ia parjambaron pada prinsipna hira-hira surung-surung ni hula-hula ma i. Alai somalna, sian hula-hula dengan do marnida situasi. Molo tung pe didok paranak (pamoruon nasida) jambar surung-surung, boi do i dialap hata muse. Molo di tingki ulaon i adong angka dongan tubu ni pamoruonna i mandongani nasida, ingkon adong ma nian tinggal sebagian jambar i sa adong lehononna tu nasida.
  3. Pambagian jambar dohot panjuhuti di ulaon sari-matua dohot saur-matua saguru tu keputusan ni pangarapoton (tonggo raja) do i. Adong do namangalehon ihur-ihur tu hula-hulana, ulu ma tu tulang, jala somba-somba tu horong ni hula-hula naasing termasuk tulang dohot bona tulang.

Alai nasomal muse taulahon di Jakarta sekitarna, molo ihur-ihur hot ma i di hasuhuton dohot namarhaha-anggi, jala jambar tu horong ni sude hula-hula dohot tulang dipatupa sian somba-somba. Asa nauli jala denggan ma i sude asalma sian panghataion tu dos ni roha, jolo diseat hata ma asa diseat raut, jala taingot ma hata namandok, “Hata do parsimboraan.”

NB: Unang ma nian adong sian parhata, sibagi jambar na emosi jala mamaksahon kehendak di pambagian jambar, lumobi sian horong ni suhut. Jala naumporlu, tapaido ma panuturion sian angka raja naro dohot hula-hula, tulang, khususna di ulaon sari-matua dohot saur-matua. Alana, porlu ingkon jagaonta do asa sangap suhut sihabolonan di ulaon si songon on.

Beberapa Catatan Ringan Tentang Adat Batak

Tulisan ini berdasarkan apa yang penulis lihat dan dengar serta saksikan dalam upacara perkawinan di Daerah Tanjung Barat Pasar Minggu, yang saya goreskan dalam bentuk catatan-catatan berikut tentang dan sekitar Adat Batak.

Soal Waktu

Lepas dari pertanyaan siapa/marga apa yang berpesta, dan siapa hasuhuton, tetapi ketika penulis bersama keluarga tiba di tempat upacara/tempat acara perkawinan dilaksanakan, yakni kurang lebih 30 menit lewat waktu yang telah di tetapkan dalam surat undangan (Gokkon dohot Jou-jou), ternyata acara adat sudah dimulai. Berarti upacara sudah dimulai TEPAT PADA WAKTU-nya, sesuai waktu yang tercantum dalam undangan.

Melihat keadaan ini, maka penulis bicara dalam hati : “Ini suatu kemajuan!”. Sebab cukup banyak upacara adat perkawinan yang penulis telah ikuti. Banyak yang baru mulai setelah lewat waktu, kadang-kadang sampai 1 jam, bahkan lebih. Alasan-alasan sehingga sesuatu upacara adat baru dimulai setelah lewat satu jam itu, bermacam-macam adanya, mulai dari : acara di gereja terlambat dimulai atau atau acara gereja sebenarnya sudah dimulai tepat pada waktunya, tetapi kemudian dilanjutkan dengan ambil foto dengan keluarga ini dan itu; ada kalanya makanan tertentu (-apalagi kalau “namargoarna”, yang punya nama itu) belum tiba, maka acara belum bisa dimulai; ada kalanya makanan sudah siap semuanya, tetapi harus menunggu tibanya “keluarga yang menentukan, seperti hula-hula atau tulang rorobot, entah apalagi namanya.

Maka seringkali upacara adat dimulai setelah lewat waktu sekian jam dari waktu yang ditetapkan dalam surat undangan. Surat undangan itu sendiri, sudah merupakan suatu kemajuan, dalam arti di bona pasogit, dalam suasana asli Adat Batak undangan tertulis bukanlah suatu kebiasaan!

Masih dalam rangka “WAKTU”, di samping saat memulainya, maka tidak kurang pentingnya adalah lamanya pelaksanaan sesuatu upacara adat. Perlu kiranya diperhatikan dan diusahakan agar pelaksanaan upacara adat itu jangan terlalu banyak memakan waktu. Di samping masalah “jam karet”, maka masalah yang tidak kurang mendesaknya adalah “agar pelaksanaan Adat Batak itu jangan sampai bertele-tele”. “Time is Money”, kata pihak sana, yang maknanya agaknya sudah (mulai) terasa oleh (banyak) pihak di kalangan masyarkat Adat Batak itu sendiri.

Penulis dalam hal ini hanya melontarkan saja dulu ke permukaan masalah yang dimaksud, yakni masalah WAKTU dalam pelaksanaan Adat Batak. Bagaimana menghadapi dan mengatasinya, mari kita sama-sama mengusahakannya. Pasti memerlukan tenaga, waktu dan kesabaran!

Pemberian Kado (Cadeau) di Samping Ikan (Dengke)

Ketika penulis memasuki ruangan tempat upacara Adat Perkawinan yang memberikan bahan-bahan untuk catatan-catatan ringan ini, maka telah tersedia Daftar Buku Tamu, dan petugas (parhobas) pun sudah siap untuk menerima dan mencatat nama dan alamat pemberi Kado dan atau pemberi Ikan (Dengke), masing-masing secara terpisah.

Selesai mencatat dan tanda tangan, maka kepada si pemberi diberikan tanda “ucapan terima kasih” atas nama pengundang dan penganten. Nama pemberi ikan (dengke), kemudian diumumkan ketika makan, sedang yang member kado tidak. Agaknya, hanya ikan (dengke) yang ber-Adat (dalam arti merupakan bagian yang integral dari pada upacara adat), sedangkan kado tidak (atau belum?). Kado, pemberian kado pada adat perkawinan Batak, kita catat sebagai suatu bentuk perkembangan dalam pelaksanaan upacara adat perkawinan, yang sepanjang pengetahuan penulis, tidak ada pada aslinya di bona pasogit. “Ikan yang ber-Adat” dalam arti diberikan pihak-pihak yang ada hubungan kekeluargaan tertentu dengan penganten yang bersangkutan, akan latar belakang motivasi pemberiannya perlu kiranya diselidiki untuk kejelasan. Kebapa harus Ikan/Dengke? Jika sekedar sebagai bentuk partisipasi dalam suasana gotong royong kekeluargaan, maka “mamboan dengke” (membawa ikan) itu pada saatnya bolehlah berupa “mamboan manuk” (membawa ayam), atau bentuk lain lagi(?!).

Kita tidak tahu persis kapan pemberian Kado itu dimulai, dan siapa yang memulainya. Tetapi apabila ingin ditelusuri sejarah/latar belakangnya, yakni pemberian Kado dan bukan Ikan itu, agaknya ia bermula dari seseorang yang ingin memperlihatkan rasa simpatinya kepada keluarga yang berpesta serta ingin ikut sekedar berpartisipasi sosial kekeluargaan pada keluarga yang baru. Ia sudah diundang, maka di samping waktunya nanti akan mengundangnya (-azas resiprositas/timbal balik-), maka diberikanlah Kado, yang merupakan bukti rasa turut berpartisipasinya. Terutama dari pihak-pihak non-Batak, yang dari suku lain, maka pemberian Kado tersebut memang ada dasar pembenarannya (justification-nya).

Mungkin suatu ketika nanti, entah kapan… yang memberikan Kado-pun, sama seperti yang membawa Ikan (Dengke), akan diumumkan pula secara resmi dan terhormat! Pemberian Kado “yang terorganisasi dan yang berdasarkan kebutuhan nyata”, … jika perlu dengan menanyakan lebih dulu apa yang diperlukan/diprioritaskan sebagai rumah tangga (penganten) yang baru…, kita menyongsong timbulnya keadaan yang demikian. Akan tercatat sebagai perkembangan yang (lebih) baru lagi!

Kursi Meja, Sendok Garpu

Memasuki ruang/gedung uapcara, maka telah tersedia kursi meja, makanan dengan segala macamnya dan bahkan sensok garpunya seperlunya. Para undangan partisipan upacara Adat Perkawinan di kota-kota besar, seperti Jakarta, sudah menerima keadaan itu sebagai seuatu yang biasa, dan bahkan sudah seharusnya. Padahal kalau diingat keadaan di bona pasogit, maka Tikar (Lage), makan tanpa sendok garpu, adalah merupakan gambaran umum kebiasaan, yang dilakukan bukan dalam gedung melainkan di halaman dan di alam terbuka.

Jelas upacara adat perkawinan, pelaksanaannya telah terbukti lagi mengalami perkembangan, karena katakanlah “perkembangan zaman”. Orang di bona pasogit yang pekerjaannya pada umumnya adalah bersawah, berladang dan sebagainya, tidaklah memerlukan sepatu. Maka kalau dalam upacara adat, “hundul di lage dan di halaman”, merupakan kebiasaan yang biasa dan normal. Sedangkan orang kota, yang kalau keluar rumah untuk bekerja di kantor atau kemana pun, maka bersepatu merupakan kebiasaan kalau bukan keharusan. Maka… bermunculanlah gedung-gedung pertemuan dengan meja kursi, garpu dan sendoknya, bahkan sampai pada AC dan TV-nya segala!

Makanan pun tidak dipersiapkan lagi secara “gotong-royong kekeluargaan”, tetapi perusahaan-perusahaan “catering” sudah memberikan jasa-jasanya, secara “zakelijk komersial!” Kembali kita catat… perkembangan dalam pelaksanaan upacara Adat Perkawinan Batak!

Pemberian Marga dengan Dokumen Tertulis

Kebetulan pesta Adat Perkawinan yang penulis hadiri yang jadi bahan uraian bagi catatan-catatan ringan karangan ini, penganten perempuanya adalah berasal dari bukan suku Batak, yang tidak bermarga. Bagian pertama pesta ini merupakan “upacara pemberian marga” bagi penganten wanita. Dan, marga yang diberikan adalah marga sesuai dengan marga ibunya penganten laki-laki. Seperti biasa “upacara pemberian marga” ini berlangsung dengan kata-kata sambutan dari berbagai pihak terkait. Yang paling mengesankan bagi penulis adalah, bahwa pada bagian akhirnya oleh keluarga yang member marga diberikan dan dibacakan suatu PIAGAM TERTULIS perihal pemberian marga itu. Suatu peristiwa yang baru pertama kali ini penulis saksikan. Entah gagasan (ide) siapa ini. Kita patut mencatatnya sebagai suatu perkembangan dalam pelaksanaan Adat Batak. Sungguh suatu peristiwa yang bersejarah.

Penutup

Demikian beberapa catatan ringan mengenai pelaksanaan/upacara Adat Batak. Adat Batak itu tidak statis. Ia berkembang terus, mengikuti perkembangan zaman. Para pelakunya patut dengan sadar menyadarainya.

Jakarta, Mei 1988

Di sadur dari : Bulletin PARSAORAN PSSSI & B Jakarta Raya dan Humaliangna, Edisi Juli 1988
Oleh : DR. Mr. J.C.T. Simorangkir

Pangantusion Di Ulaon Arsak Ni Roha

Sude do hita jolma ingkon mate molo jumpang tingkina. Sada pe sian hita ndang adong na boi pasidinghon i. Alai pangidoanta, molo tung marujung pe nian ngolunta sian hasiangan on, asa jolo sahat ma nian hita tu na saur-matua. Ima songon pangidoan dohot elek-elekta tu Tuhanta. Alai molo tung masa pe na masa i, asa dapot ma di hita songon hata ni endenta, “Sai rade ale tondingku, tagam panjouonna i … manang hata ni ende di Buku Ende nomor 539: 4

Ndang na tarpasiding be ianggo hamatean i,
Ingkon do dibolus be, di nalao tu surgo i,
Sihirimon ni rohanta, ngolu sogot i,
Tau pangapul di rohanta, angka naporsea i.

BE. No. 520:2

Di surgo adui pinarade inganan
Nasonang tutu sai tusi ma ahu lao

O, ho donganhi ingananmu ginjang
Sai dohot ma ho, sai tu surgo ma lao,
Sai ro dohot ho, dohot ho, dohot ho,
Sai dohot ma ho, sai tu surgo ma lao.

BE 525: 4

Molo di hita Batak Toba, godang do ragam-pandohan tu na mate, jala asing do nang ruhut paradaton tu si. Adong do didok namate dakdanak, mate doli-doli/anakboru, mate mangkar, mate pur-pur, mate sarimatua, mate saurmatua. Adong do deba binege mate sada ama manang ina, hape ndang gok dope adatna, (asing do ulaon dohot ruhut paradaton tu si, mamereng luat dohot paradatonna). Alai naporlu sipatorangon di bagian on, asa dapot hita pangantusion di angka ulaon habot ni roha, songon i nang di ulaon sari-matua dohot saur-matua.

A. Mate Tilahaon

Molo mate dakdanak baoa, boru, songon i doli-doli, namarbaju, manang mate dung matua alai ndang dope hot ripe. Ndang pola mardalan adat-paradaton di son. Jala masuk horong natilahaon ma on didok.

Holan angka hata apul-apul do dipasahat di son, songon i sian hula-hula manang tulang ni namarsitaonon. Molo tung adong pe niida sian horong ni hula-hula manang tulang ni monding mambahen ulos saput, jala somal binege ulos parsirangan, ndang pola sala i. Alai holan songon i do i. Ndang pola alusan manang lehonon ni namarsitaonon i piso-piso tusi.

Molo masa si songon on, biasa muse ndang apala marborngin bangke i dibahen. Pintor sadari na i do i ditaruhon tu udean, dung sae acara huria. Namarlapatan ndang adong pola sipaimaon di parmate ni tilaha i. Nang pe songon i tergantung do i tahe tu keputusan ni hasu-huton dohot keluarga. Jadi molo tung masa pe na masa i, hatop ma tarapul ili-ilu dohot roha ni sude keluarga.

B. Mate Purpur

Mate purpur ma peristiwa na humansit di parmate ni jolma di ngolu ni halak Batak. Mate somardangka so marranting so marbulung. Na marlapatan ndang adong tubuna, anak dohot boru. Sampe do digoari di halak Batak molo mate si songon on didok “siranggapuri”.

Asa molo tung masa pe si songon i, holan angka hata togar-togar, hata apul-apul do sian angka tutur.

NB: Adat habatakon do mandok nahumansit mate pur-pur. Molo sian hakristenon, di hita naporsea di Jesus Kristus, dos do hamatean i, jala ingkon sude do mamolus i. Parhitean do hamatean laho mandapothon Tuhanta. Jala didok hata ni Tuhanta do muse, ditompa Debata jolma i asa marguna jala hasea di Tuhan i do.

Molo ama do najumolo monding, jala molo poso dope inanta i, olo do gabe mulak tu natorasna. Alai, boi do muse ina i dihappi haha/anggi na, asalma sian holong dohot dos ni roha nasida. Namarlapatan ndang pola mardalan be adat di si. Molo dung dibagasan adat nagok hian nasida di tingki nahot ripe, cukup ma dipasu-pasu sian huria nasida muse dohot dipatupa partangiangan keluarga.

C. Mate Punu

Molo mate punu didok ma i na so marindang anak baoa, holan boru do ianakhonna. Songon i do huroha pangalahona. Ai so adong na manorushon dohot na manguduti goarna. Hansit do si songon on molo sian adat-paradaton ni hita Batak. Molo najolo jala masa dope i di tingki on, ndang boi dibahen maralaman si songon on. Asa holan angka hata apul-apul do panghataion di si, lumobi sian angka horong ni hula-hula dohot horong ni tulang. Alai, taringot tu goar manang ulaon si songon on hombar ma i nian tu keputusan ni panghataion ni angka tutur dohot raja, lumobi sian hula-hula dohot tulang.

D. Mate Mangkar

Mate mangkar ima molo mate sada ama manang ina naung mardakdanak, alai ndang adong dope sian dakdanak i naung hot ripe, manang menet-menet dope ianakhonna (mangkar = tata, ndang masak dope). Molo ina do najumolo mate, didok ma i matompas tataring. Alai molo ama do najumolo, didok mai namatipul ulu. Mardalan do adat-paradaton di tingki sisongon on, i ma dinapasahathon ulos tujung dohot ulos saput.

Andorang so pinatorang taringot tu ulos saput dohot tujung di son, porlu botoonta adong do na masa, mate ama manang ina, hape ndang gok dope parsaripeon nasida di bagasan adat. Alana, di tingki nahot ripe nasida, mungkin mangalua, jadi holan ulaon na manuruk-nuruk dope ra dibahen tu hula-hulana. Alasan na asing, mungkin pardijabuna (inanta i) sian suku na asing. Godang do angka si songon on di tonga-tonga ni parsaoranta. Jala molo masa angka sitaonon na dokdok i di dongan si songon i, olo do tamba repot ulaon.

Songon i ma huroha pangalahona, molo adong angka nahurang sai jumolo ma i patureon, pahantuson asa boi mardalan angka ruhut-ruhut paradaton. Alana adong do pandohan na mandok, ndang manjalo adat nasomaradat.

Molo masa si songon on, mate ama manang ina, hape ndang gok adat dope nasida tu hula-hulana, sada hailaan do i nian. Alai ndang i be sitaringotan di son, jalan keluar manang solusi nama: I ma asa dielek-elek jala disomba hula-hulana, songon i tulang ni na mate i. Molo boi nian dijalo nasida ma napuran somba, asa marpangaju roha nasida di pamoruonna. Molo hira denggan do hubungan kekeluargaan jala adong komunikasi nasaleleng on di namarhula-marboru i, nang pe ndang gok adat dope, somalna nian dioloi hula-hula dohot tulang do somba ni pamoruonna i, asal ma sian elek-elek na somba marhula-hula.

Teknis di na pasahat Napuran Somba i, boi ma i dipasahat di jabu ni hula-hulana dohot tulangna i, manang di sada inganan naung diton-tuhon. Asa marhite i molo sian horong ni tulang pe napasahaton ulos saput ni namate i dohot sian hula-hula pasahat tujung ni ama manang ina namabalu i, mardalan ma i songon nasomal. Madekdek jarum tu napot-pot, ndang diida mata, diida roha do i.

Hombar tu si, molo didok mardalan do adat-paradaton di na mate ina manang ama songon on ma pardalan ni sibahenon tu si:

Ditontuhon ma tingki asa marpungu angka namardongan tubu rap dohot horong ni hula-hula dohot tulang ni namarsitaonon i. Ndang namarrapot dope goarna, alai mangido panuturion sian hula-hula dohot tulang, laos ditingki i ma dipangido asa rade ma nian roha nasida mambahen adat diparmonding ni ama manang ina naung jumolo i, ima: Saput ma sian tulang; ulos tujung sian hula-hula.

Jadi holan konsep manang pangidoan do dipasahat dongan tubu ni namarsitaonon i tu hula-hula dohot tulang nasida i. Holan on, olo do sipata adong piga-piga pandapot sian hula-hula manang tulang taringot tu si, suang songon i sian angka raja na ro tu ulaon i. Alai, aek godang ma tu aek laut, angka dos ni roha ma sibaen na saut.

Di peristiwa na mate si songon on, holan partangiangan manang didok ulaon mangido tangiang do dibahen, ndang adong na marbagi jambar di son. Molo tung dipatupa pe sipanganon di si didok ma i indahan sipaet-paet. Dung mulak sian udean dipatupa ma muse ulaon mambuka tujung, ima sian hula-hula ni namabalu i.

Gabe ma jala horas jala ganjang angka umurta sude, sahat saur matua tumpahon ni Tuhanta Pardenggan Basa i.

Hata di napasahathon ulos tujung:

“Di ho ito/lae (tergantung ise namanghabaluhon). Di tingki on dipaporsanhon Tuhanta do tu ho sitaonon na mansai dok-dok, mansai borat do sitaonon on songon udan nasohasaongan, songon alogo na so hapudian, mansai menek-menek dope angka berengki, hape so marama/ somarina be nasida. Alai ingot ma ndang holan ho na manaon na dokdok on dohot do hami hula-hulamu. Ido umbahen naro hami di tingki on mambahen tujungmu. Asa sada tanda manang simbol do on di na dohot do hami hula-hulamu man-dongani hamu di sitaonon on.”

Ditujunghon ma ulos i jala didok muse hatana:

“Jala ingot ma hata ni Tuhanta namandok, ‘Ahu do ama di angka namabalu dohot di angka dakdanak di angka na so marama’,” (molo ina do najumolo i) asa disesuaihon pandohan i.

Hata dinamambuha ulos tujung

Dung sae sian udean, mulak ma tu jabu. Diparade ma aek sitio-tio dohot boras sipir ni tondi di piring, songon i hian diparade indahan dohot dekke.

Didapothon hula-hulana ma namabalu i didok ma:

“Di ho ito/lae, Nunga hubaen tujungmu nangkin, nuaeng pe ungkaponhu ma, asa gok ulaon i.” Dibungka ma tompu ulos tujung i, laos dipainumhon ma aek sitio-tio i. “Dipamalum Tuhanta ma angka nahansit, habot ni roham.” Diparsuap ma muse na marsi-taonon i. “Tuhanta ma namangapusi ilu-ilu sian hamu, jala tiur ma parnidaan-mu laho parmudu-mudu angka berengkon, jala minar ma bohim managam angka si las ni roha, singkat ni nabernit i, sipasahaton ni Tuhanta di hamu.”

Diparsuap tolu hali. Dungi dijomput ma boras dibahen ma tu simanjujung ni nabalu i tolu hali, laos didok: “Pirma tondim bahenon ni Tuhanta, dilehon ma tu ho hahipason dohot gogo laho pature-ture berengki, asa songon hata ni natua-tua ma dohonon:

Tinapu bulung siarum, laho uram ni pora-pora,

Nahansit i tibu ma malum, jala tibu ma ro si las ni roha.

Disulangi ma muse dohot indahan dohot dekke, asa mulak gogo ma songon nasomal. Botima.

NB: Andorang so dibahen si buha tujung i dope boras tu simanjujung ni namabalu i, jumolo do dibahen tu simanju-jungna laos didok, “Pirma tondingku”, baru pe dijomput boras tu simanjujung ni namabalu i.

  1. Mate Sari-matuaMate sari-matua ima molo mate sada ama manang ina nasosingkop dope sude angka ianakhonna marhot ripe, alai nunga marpahompu. Lapatanna, adong dope sisarihononna, ima angka dakdanakna nasohot ripe i. Jadi didok namate sari-matua ima molo nunga marpahompu sian anak manang sian boru. Alai di tingki on sipata asing do taida namasa di angka ulaon si songon on, jala marragam tahe rumang dohot versi ni ulaon paradaton di ulaon sari matua i, lumobi ma i di tano parserahan on. Asa toho do songon pandohan namandok:

    Nunga mungkap angka taruntuk,

    Nunga sega gadu-gadu

    Nunga muba uhum naburuk,

    Nunga ro be uhum nabaru.

    Jadi sada hal na wajar do i nian, lumobi molo tahaithon tu adat-paradaton ni hita Batak nadinamis, lumobi ma i di hata namandok:

    Aek godang tu aek laut, dos ni roha sibahen nasaut.

    Adat, sada hasomalan naung tong-tong diulahon. Manang songon hata ni ompunta naparjolo i, ima:

Ompu raja di jolo, martungkothon siala gundi
Napinungka ni ompunta naparjolo siihuthonon ni naparpudi.

Asa hombar tu si, molo tung asing pe rumang dohot ruhut ni ulaon di nasarimatua nataulahon di tingki on, manghorhon nauli nadenggan ma i molo diulahon sian dos ni roha, asalma nian ndang mansegai tu ruhut-ruhut ni angka partuturon. Rupani sai pinangido do naeng sangap, hape ndang boi dope ala syarat tu si ndang cukup. Songon i do di ulaon sarimatua, di ruhut adat-paradaton naingkon marhite keputusan ni angka raja do i marhite-hite rapot, lumobi ma i sian raja ni hula-hula dohot angka tulang.

Hombar tusi adong do dua versi namasa, jala nunga taulahon on, di Jakarta sekitarna, ima:

  1. Mate sari-matua alai dipasahat dope ulos tujung.
  2. Mate sari-matua dibahen ulos sampe tua (dipangido tu hula-hulana asa dipasahat ulos sampe tua).

Songon naung taboto, somalna molo sipasahat ulos tujung ima hula-hula ni hasuhuton, songon i muse ulos sampe tua. Alai molo ulos saput ni namate i, somalna sian tulangna ma i.

Taringot si pasahat ulos tujung, ulos sampe tua dohot ulos saput pe adong dope versi na asing. Molo taida do angka namasa, lumobi ma i versi ni Toba dohot nahumaliangna tu versi ni Silindung dohot Humbang sekitarna, nang pe ulaon i di Jakarta on. Alai sudena i gabe uli jala denggan do molo sian dos ni roha. Asing dolok asing do duhutna, asing luat asing do ruhutna.

Molo tung antar ganjang pe binahen angka hatorangan dohot pandapot taringot ulaon sari-matua on, asa gabe lam antusanta do hira songon dia ma nacocok jala pas di rohanta molo masa sisongon on di tonga-tonga ni keluarga. Alana, asing nama situasi dohot kondisi najolo tu tingki on. Misalna, molo najolo sada keluarga olo do adong 10 halak manang lobi tahe ianakhonna, hape ia nuaeng olo nama holan sada, dua manang tolu. Asa hira maol do sahat tu nasari-matua, lumobi saur-matua, di najolo. Hape ia nuaeng on asing nama. Contoh muse, sada keluarga holan sada do anakhonna, ima baoa, jala nunga hot ripe, gok adat huhut nunga marpahompu sian anakna i. Masuk tu kelompok dia (sari-matua manang saur-matua) ma natua-tua i molo mate? Secara logika, masuk tu saur-matua ma ra namonding i. Hape molo didok saur-matua, ingkon singkop do marpahompu sian anak dohot sian boru, jala ndang adong be sisarihononna.

Songon dia ma ruhut ni paradaton tusi? Molo songon i do panga-lahona, maol-mura ma on alusan. Alai molo tung adong pe si songon i, boanon ma i tu panghataion parrapoton di partuat ni namon-ding i. Di si ma diputushon angka raja ni tutur (sian dalihan natolu) angka nahombar tu ruhut ni partuatna.

Mulak ma hita muse di ulaon sari-matua. Molo angka rumang ni ulaon dohot ruhutna, mardalan ma adat-paradaton di si, ima:

Patupahon parrapoton (martonggo raja)

Marpungu do angka namardongan tubu, boru, bere, songon i dongan sahuta mamba-hen sada konsep rencana partuat ni namonding i. Di ma dipasahat pangidoan tu hula-hula dohot tulang asa ditiroi jala ditolopi saluhut rencana i. Di si ma hula-hula dohot tulang mangalehon panuturion, pendapat di angka konsep pangidoan ni pamoruonna.

Angka naporlu sihataan, songon konsep sian hasuhuton ima:

  • Ulos saput dohot tujung manang sampe tua.
  • Tempat pemakaman (udean), waktu dohot naasing.
  • Boan manang galang, didok muse ola-parolaan.
  • Mompo (pamasukhon tu jabu-jabuna)
  • Parjambaron
  • Molo tung adong dope di namambuha tujung, dohot na asing.

Molo di napasahat, manariashon angka konsep pangidoan, somal-na sian haha/ anggi ni hasuhuton ma. Jala manang songon dia pe kepu-tusan ni parrapoton i, ingkon i do nagabe siulahonon di partuat ni namonding i, jala unang be nian manimbil sian i, asa arga hata ni angka raja ima nadiulahon di adat partuatna.

Jadi molo dipangido suhut hian do asa ulos sampe tua dipasahat tu ama/ina si jalo ulos i, hape nadisetujui hula-hula dohot raja ulos tujung do, ima diulahon. Asa dao ma sian hita angka namangharhari naung pinudun (nirahut).

Di ulaon sari-matua muse adong taida dipatupa sijagaron, songon simbol manang tanda do i paboa naung marpahompu sian anak manang boru. Ndang di sude luat mambahen si songon i. Songon i muse taringot pangarapoton, mangan pandungoi, ndang sude be mangulahon i. Jala di pambagian ni parjambaran pe, sai hombar ma i tu adat na masa di huta i. Alai asa denggan saluhutna, sai jolo dipangido ma nian angka panuturion sian angka horong ni hula-hula. Asa songon hata ni natua-tua na mandok: jolo diseat hata ma asa diseat raut parjambaron i.

Nauli ma sudena i molo sian angka dos ni roha. Gabe ma jala horas.

F. Mate Saur-matua

Namate saur-matua ima molo mate sada natua-tua naung simpan (hot ripe jala gok adat) sude angka ianakhonna, jala marpahompu sian anak marpahompu sian boru. Hira so adong be lungun dohot tangis di son, nang pe nian hansit do namarsirang sian natua-tua na sadiri. Alana, sude ianakhonna nunga singkop gabe jala horas. Asa angka gondang dohot angka namanortor nama taida di son.

Alai adong dope didok mate saur-matua maulibuling. On nama natumimbo pandohan molo mate natua-tua. Didok mate saur-matua maulibulung, molo sude ianakhonna nunga simpan, marpahompu sian anak songon i sian boru, mamora jala marsangap, jala ndang adong anakhonna naung manjoloi natua-tua i (jumolo mate), singkop ma-ngolu dope sude. Molo di tingki on hira jarang nama niida mate saur-matua mauli bulung. Alai, molo mate saur-matua godang dope taida di masyarakat Batak.

Godang do taboto rumang dohot ruhut-ruhut ni paradaton di ulaon saur-matua, jala hira dos do i dohot ulaon saur-matua namauli bulung. Molo masa ulaon si songon on di bona pasogit, olo do sampe lima ari manang lobi tahe asa ditaruhon bangke tu udean (batu na pir). Sai ditortori, digondangi, mungkin sipata asing tahe musik dibahen angka pinomparna laho pasangaphon natua-tuana naung jumolo i. Songon i angka sipanganon tu angka tutur, diparade do arian dohot borngin. Alai molo namasa di hita di tano parserahan on ndang pola be songoni tabahen. Songon i muse do niida angka naung niulahon ni angka tutur. Asal ma unang mangurangi makna ni paradaton i, disesuaihon ma tu angka situasi, kondisi, tempat, waktu, materi dohot angka pertimbangan naasing dope. Molo tung pe adong namasa di tonga-tonga ni keluar-ganta, tabahen ma nian ulaon i praktis, hot di ruhut dalihan natolu.

Angka siulaon molo mate saur-matua ima:

Dibahen ma ulaon pangarapoton, sipata didok martonggo raja. Marpungu ma di si sian Dalihan Natolu. Marsipanganon do di son jala denggan manghatai angka raja. Ia di pangarapoton i hira napasahathon konsep di ulaon partuat ni namonding i do i, asa dituturi jala disauri angka tutur, lumobi sian horong ni hula-hula dohot tulang. Hira sarupa do tu ulaon sari-matua molo di angka pangarapoton.

Ditariashon haha/anggi ni hasuhuton ma angka konsep pangidoan nasida hombar tu napatuahon naung jumolo i. Sahat ma i tu namanjalo/pasangaphon angka hula-hula dohot tulang, songon i tu boan (galang) sipatupaon nasida dipartuat ni namonding (lombu manang horbo –gajah toba didok) ima panjuhuti, ulos saput, ulos holong, dohot angka na asing.

Molo ina do namate saur-matua, dihatai ma sahat tu ungkap hom-bung. Alana, ina do sitiop hombung i. Na somal taida, molo di ulaon saur-matua di tano parserahan on, lumobi di Jabotabek sekitarna, gabe dipadomu (dipasada) nama galang (panjuhuti) di ulaon mangarapot dohot napasidunghon ari-ari ni namate i. Hape molo di bona pasogit asing do i dibahen. Jadi olo do dua pinahan manang sada sigagat duhut dipatupa di si, asing ni angka pandungoi.

Molo taringot tu angka pambagian ni parjambaran juhut hot ma i mardalan sesuai tu adat nasomal dohot tu namasa di huta i (Samosir, Toba, Silindung, manang Humbang).

Di ulaon adat namate saur-matua jot-jot do muse tahe tabege angka pandohan ima sijagaron, mardondon tua, dondontua, mangarapot, ungkap hombung, manuan ompu-ompu. Sudena i angka nauli ma i tutu, molo dung sian angka dos ni roha di panghataion.

Namasa jala nasomal taida di ulaon adat namate saurmatua ima di na ro horong ni angka hula-hula laho pasahathon ulos holong tu sude ianakhon ni naung jumolo i, jala ingkon tangkas ma i muse dialusi hasuhuton di napasahathon piso-piso naganjang, ima berupa hepeng tu hula-hulana.

Molo taringot tu pambagian ni jambar di ulaon saur-matua, somalnana, marguru tu hasomalan di luatna do i, hombar ma i tu hata ni natua-tua namandok:

Asing dolok asing ma nang duhutna,

Asing luat asing di nang ruhutna,

Gabe ma jala horas. Asi ma roha ni Tuhanta, dilehon di hita hahipason dohot hagabeon, hamoraon, hasangapon, asa dapot ma nang di hita songon hata ni umpasa:

Andor halumpang ma togu-togu ni lombu,

Andor hatiti ma togu-togu ni horbo.

Gabe jala horas hita on sahat tu saur matua,

Sahat tu na marnini sahat tu na marnono.

Rumang dohot Ruhut ni Ulaon Adat tu na Mangalua (maiturun)

Molo tabege hata mangalua pintor songon ma erget manang lucu do di bagasan roha. Alana boi dohonon sian hita angka natua-tua saonari, di tingki na laho hot ripe nabaruon godang do ra namangalua. Aut sugari tasungkun tu ama manang inanta, boha do dalanna umbahen na mangalua nasida, godang do alasan naboi bege on taringot tusi.
Alai boi dohonon di son, somalna ndang ala ni sinamot (tuhor) umbahen na gabe mangalua si Doli dohot si Boru, alai adong na mandok ala ni situasi dohot ko
disi di tingki i do. Adong do deba pengakuan na jujur mandok: lebih praktis jala efisien. Toho manang ndang sintong nanidokna i, taalusi ma di rohanta.

Mangalua lapatanna mangaluahon (mamboan) boru ni halak laho dibahen gabe ripena (isteri), di bagasan maksud na denggan. Adong do ruhut manang syarat ni namangalua, molo naung tangkas si Doli dohot si Boru masihaholongan, ima: Andorang so borhat dope nasida, somalna dibahen do surat otik songon hata parmisi tu natua-tua ni si Boru, jala laos dibahen do hepeng donganna. Somalna, dipeakhon ma i di toru ni podomanna.
Di tingki na mangalua i nasida, ingkon adong do pandongani sian si Doli dohot si Boru. Jala molo dung sahat nasida di huta ni si Doli, pintor dipaboa manang dipasahat tu sintua (pangula ni huria) na adong di huta i. Na somal najolo, gabe di jabu ni sintua i do si Boru maringanan saleleng so dipasu-pasu do pe nasida di gareja. Denggan ma tutu sisongoni laho pasidinghon angka nahurang denggan sian angka tutur.
Dijangkon (diterima) keluarga ni si Doli do antong si Boru i. Jala hombar tu si, dihatai ma angka rencana. Marpungu ma keluarga dohot dongan tubu, boru, dongan sahuta laho manghatai angka naporlu taringot tu namangalua i:

  • Andigan Martumpol
  • Andigan Pamasu-masuon

Tarbaen manang so tarbahen do adat na gok, manang holan ulaon nam;nuruk-nuruk dope. Ise ma napasahathon manang napaboahon hasil ni pangha-taion i tu parboru, lumobi paboahon naung dijangkon (diparaja) boru nasida i. Jala molo hira adong dope angka naporlu di persyaratan parhuriaon ni si boru laho tu pamasu-masuon, laos di tingki i ma i dipasahat tu xarboru asa dilengkapi nasida nia}.
Biasana na mangalua si songon i, ndang pintor sahat dope tu adat na gok, holan ulaon namanuruk-nuruk dope diulahon. I pe marguru tu tingki dohot keadaan do. Alai natangkas, molo dung dipasu-pasu sian huria (gareja), ruhut parsaripeon i nunga resmi jala sah nasida gabe keluarga suami-istri. Molo taringot adat-paradaton i boi do i muse mangihut.
Naporlu muse taida di ulaon namangalua, molo ro do natua-tua ni si boru manang wakil nasida tu gareja di tingki pamasu-masuon, jala dung sae sian gareja somalna pintor mulak do tu hutana. Bahenon ni paranak do songon ulaon partangiangan (dung sae pamasu-masuon i), jala diparade do di sS sipanganon namarsaudara. Marpungu do di si angka namardongan tubu, boru, bere, songon i dongan sahuta. Asa gabe songon namanjangkon parumaen na imbaru do i di paranak, laos patandahonsa tu angka tutur.
Ulaon partangiangan si songon i ndang ta6dok ulaon adat, alai songon dalan parpunguan ma i di angka tutur na naeng pasahathon angka poda, nasehat, dohot harapan tu kedua pengantin.
Naporlu botoonta muse, dung sidung –manang d} na mardalan dope– acara partangiangan i, pintor dipaingot haha-anggi ni paranak do, asa hatop ditaruhon jambar ihur-ihur sian tudu-tudu ni sipanganon tu parboru, songon tanda ma i naung dijangkon jala diparaja boru nasida.
Hira songon i ma rumang manang ruhut ni namangaluahon boru. Alai adong dope versi na asing na masa di tingki saonari on.

Rumang ni Ulaon Las Ni Roha

Ulos Mula Gabe (Ulos Tondi)

Pasahathon ulos mula gabe (ulos tondi didok najolo) termasuk do on ulaon adat-paradaton. Ulos mula gabe i ma na pinasahat ni parboru tu boruna molo dung denggan pamatangna hira-hira 5-7 bulan haroan, didok manggora pamuro di tingki i. Alai, somalna, holan tu boru na mangharoani anak buha baju (anak pertama) do i dipasahat. Molo tu na paduahon dohot satorusna, ndang pola dipatupa be i. Nian ianggo ditingki on ndang apala sude be mangulahon si songon on, hombar ma i ra tu angka partingkian dohot sibahenon.

Continue reading “Rumang ni Ulaon Las Ni Roha”

Rumang dohot ruhut ni ulaon Mangain

Songon naung tangkas taboto jala nunga hea ra taulaohon di tonga-tonga ni keluarganta, molo adong ulaon na-Mangain Boru manang Mangain Anak nahombar ma i tu naadong nahurang jala sipatureon di ruhut ni adat Dalihan Natolu, di ruhut ni ulaon habatakon. Ala so halak Batak hian dope tutu nasida (anak manang boru nanaeng siainon i), jadi porlu pahantuson hadirion nasida marhite na mamampehon sada marga na adong di halak Batak tu nasida.
Ulaon mangain anak manang boru na sian luar suku Batak, manang na so adong margana gabe dibahen marmarga halak batak, somal do taida i ma di na naeng marulaon adat. Isarana, di tingki na naeng pamuli boru, pangolihon anak, manang di na naeng manggarar adat na gok (sulang-sulang pahompu) sian sada keluarga naung hot ripe, alai sada sian nasida (ama manang ina) ndang halak Batak.

Continue reading “Rumang dohot ruhut ni ulaon Mangain”

Rumang dohot Ruhut ni Panghataion di Ulaon Pamuli Boru/Pangolihon Anak (III)

Ulaon Marhata Sinamot

Marhata sinamot, songon naung pinatorang, on ma songon puncak ni ulaon adat-paradaton pamuli boru manang pangolihon anak, di ulaon alap jual manang taruhon jual. Molo tung pe dipatupa ulaon marhata sinamot andorang so pamasu-masuon, manang songon nasomal laos di ari ni unjuk (pesta), ianggo taringot tu rumang dohot ruhut ni panghataion hira dos do i. Sai jolo marsipanganon do biasana, dung i marbagi jambar asa ditorushon tu na marhata sinamot.

Dung sidung mangan angka tutur, dipungka ma ulaon adat-paradaton. Jala tangkas taboto andorang so marsipanganon hian, nunga dipasahat paranak tu parboru tudu-tudu ni sipanganon namarsaudara, boi do i namarmiak-miak manang lombu sitio. Suang songon i parboru, nunga pasahathon dekke tu pihak paranak. Alai porlu pinatorang di son saotik taringot tu ulaon marhata sinamot na dipatupa jala dipasada dohot ulaon pesta unjuk, khususna ma i taringot di ulaon di alaman manang di gedung pertemuan:

Continue reading “Rumang dohot Ruhut ni Panghataion di Ulaon Pamuli Boru/Pangolihon Anak (III)”

Rumang dohot Ruhut ni Panghataion di Ulaon Pamuli Boru/Pangolihon Anak (II)

pernikahan batak

B. Marhata Sinamot (ponggol parjolo)

Marhata sinamot, songon naung pinatorang, on ma songon puncak ni ulaon adat-paradaton pamuli boru manang pangolihon anak, di ulaon alap jual manang taruhon jual. Molo tung pe dipatupa ulaon marhata sinamot andorang so pamasu-masuon, manang songon nasomal laos di ari ni unjuk (pesta), ianggo taringot tu rumang dohot ruhut ni panghataion hira dos do i. Sai jolo marsipanganon do biasana, dung i marbagi jambar asa ditorushon tu na marhata sinamot.

Dung sidung mangan angka tutur, dipungka ma ulaon adat-paradaton. Jala tangkas taboto andorang so marsipanganon hian, nunga dipasahat paranak tu parboru tudu-tudu ni sipanganon namarsaudara, boi do i namarmiak-miak manang lombu sitio. Suang songon i parboru, nunga pasahathon dekke tu pihak paranak. Alai porlu pinatorang di son saotik taringot tu ulaon marhata sinamot na dipatupa jala dipasada dohot ulaon pesta unjuk, khususna ma i taringot di ulaon di alaman manang di gedung pertemuan:

Continue reading “Rumang dohot Ruhut ni Panghataion di Ulaon Pamuli Boru/Pangolihon Anak (II)”