Erica Veronika Laoly Penganiaya Masda br Simanjuntak Divonis 8 Bulan Penjara

 

MEDAN | JUNTAKNEWS – Erica Veronika Laoly, dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap korban Masda br Simanjuntak (39), sesuai dengan dakwaan JPU Pasal 353 jo Pasal 351 KUHPidana, dalam persidangan yang digelar di Tempat Sidang  Pengadilan Negeri Lubuk Pakam di Labuhan Deli, Selasa (13/8).

Atas pembuktian tersebut, Majelis Hakim yang terdiri dari  Denny Lumbantobing SH sebagai ketua dibantu 2 orang hakim anggota Vera br Simanjuntak SH dan Raden Zainal SH,  menjatuhkan vonis 8 bulan penjara potong masa tahanan. Vonis ini, jauh lebih ringan, sebab lebih dari setengah, di bawah tuntutan JPU yang 1 tahun 6 bulan.

 

 

 

Pantauan Konstruktif di Tempat Sidang PN Lubuk Pakam di Labuhan Deli, Selasa (13/8), terpidana Erica  tampak terkejut dengan vonis hakim ini. Menurut hakim, hal yang memberatkan Erica sebagaimana disebut dalam persidangan, bahwa sebagai kaum terpelajar Erica yang bergelar magister ini, tidak dapat menguasai diri dan emosi. Sedangkan yang meringankan, hakim menyebutkan keterusterangan dan sikap sopan selama mengikuti persidangan.

 

 

 

Dalam persidangan sebelumnya, Masda br Simanjuntak dalam kesaksiannya membeberkan tindakan kekerasan yang dilakukan terpidana Erica terhadap dirinya, ketika bermaksud menagih hutang Kosmas Harefa, suami Erica di kompleks Akademi Pariwisata Medan, Agustus 2012, dimana suami Erica menjabat sebagai direktur.

 

 

 

“Saya dipukul, ditendang didorong masuk ke selokan di tepi jalan sedalam 2 meter, menuju kompleks Akademi Pariwisata. Tak hanya itu, muka saya disiram cabe, hingga saya sempoyongan dan tidak bisa melihat. Setelah dipukuli, dimasukkan ke got terus dipukuli dan akhirnya menarik paksa rambut, hingga tercerabut, dan  tubuhku terikut keluar dari got sedalam 2 meter dan kemudian disiksa kembali.

 

 

 

Ikhwal perkenalan Masda dengan Erica Veronika Laoly,menurut Masda  terkait dengan penyakit kelamin yang diderita oleh suaminya Kosmas Harefa. “Tersangka ini justru yang berkeluh kesah dan meminta saya sebagai perawat untuk mengobati penyakit kelamin yang diderita suaminya. Sebagai perawat, saya mengobati alat kelamin suaminya yang sudah mulai bernanah bahkan jamuran,” kisah Masda.

 

 

 

Persidangan yang juga dihadiri oleh saksi korban Masda br Simanjuntak didampingi suaminya Rajin Sitompul, berlangsung tertib, tanpa kehadiran kelompok pendukung Masda yang selalu hadir di setiap persidangan-persidangan sebelumnya.

 

 

 

Menjawab pertanyaan mengenai sikap terpidana Erica terhadap vonis yang baru dijatuhkan hakim, Erica menjawab,singakat “Banding”, setelah tampak berembug dengan keluarga yang mendampinginnya dalam persidangan.

 

 

 

Masda yang menjadi korban penganiayaan, kepada Konstruktif, Kamis (14/8) mengatakan bahwa pihaknya merasa sedikit plong, sebab pelaku penganiayaan terhadap dirinya dibuktikan secara sah dan meyakinkan bersalah oleh hakim. “Namun, saya kecewa sebab hakim memvonis hanya 8 bulan, lebih setengah di bawah tuntutan JPU yang 1 tahun 6 bulan dan salah menetapkan penahanan terhadap Erica,” ujar Masda.

 

 

 

Menurutnya, penahanan yang disebut hakim sebagai Tahanan Rumah, tidak sesuai dengan kenyataan. “Sepengetahuan saya, si terpidana ini bukan Tahanan Rumah, tetapi Tahanan Kota. Buktinya, dia kami ketahui tetap bekerja dan leluasa berkeliaran di Kota Medan selama menjalani masa tahanannya,” sesal Masda. (Rudyard Simanjuntak).

 

 

Petisi : Pelaku Penganiaya Apnes Marito br Panjaitan Dituntut Ringan

Dalam sidang kasus penganiayaan Apnes Marito br Panjaitan, anak dari Saut Panjaitan, dan ibunya Ratna br Simanjuntak di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang, tuntutan terhadap pelaku dibacakan oleh JPU Lili Suparli SH. Isi tuntutannya, penjara 4 bulan dengan masa percobaan 6 bulan dengan dakwaan Pasal 80 Ayat 1 UU Perlindungan Anak.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Aris Merdeka Sirait memberi tanggapannya bahwa tuntutan itu BATAL DEMI HUKUM, sebab ancaman hukuman sesuai dengan UU PA Pasal 80 ayat 1, 3,6 tahun.

Sebelumnya, Kepolisian Resort Deli Serdang dan Kejaksaan Negeri Lubuk Pakam, tidak menahan pelaku penganiayaan Apnes Marito Panjaitan (13), dan menuntut pelaku sangat ringan, yaitu 4 bulan tahanan dengan masa percobaan 6 bulan, atas dakwaan Pasal 80 ayat 1 UU PA, dan pelaku tetap bekerja sebagai PNS Kabupaten Deli Serdang.

Selain proses hukum yang sangat lama, sebab pihak kejaksaan selalu mengembalikan berkas ke polisi hingga 5 kali (P-19), sementara pengaduan pelaku terhadap Saut Panjaitan dan Ratna br Simanjuntak, yang menjadikan ayah dan ibu korban sebagai terdakwa atas pasal 335 KUHP (membuat perasaan tak senang) dan Pasal 310 KUHP (penghinaan), tampak direspon sangat cepat oleh Kejaksaan dan Kepolisian, walau fakta, kesaksian dan bukti tidak mendukung kasus ini layak untuk dijalankan.

Keluarga korban tergolong keluarga pra-sejahtera, dan merasa tidak berdaya memperjuangan hak anaknya yang menjadi korban kekerasan. Maka, salah satu upaya menolong keluarga ini, melalui petisi yang meminta dukungan kita semua, untuk selanjutnya kita serahkan kepada Jaksa Agung Barief Arief di Jakarta.

Jika Saudara/i ingin ikut mendukung keluarga korban ini, maka silahkan ikut menandatangani petisi ini : http://www.change.org/id/petisi/jaksa-agung-ri-basrief-arief-agar-mencopot-jpu-lili-suparli-sh?utm_campaign=twitter_link&utm_medium=twitter&utm_source=share_petition

Terimakasih

 

Mereka Layak Kita Dukung

Menuju DPRD Provinsi Sumut

Salomo email

Istri : Esther Yohana Priska br Simanjuntak (Sitombuk No. 16)
Aktif dalam kegiatan-kegiatan pelayanan sosial GM-SSSI&BBI

Dapil Sumut 2 Medan Selayang, Medan Baru, Medan Johor, Medan Polonia, Medan Maimun, Medan Sunggal dan Medan Tuntungan.

 

 

 

 

 

 

 

Menuju DPRD Provinsi Sumut
Rudi

Istri : Ripnawanti br Simanjuntak SS (Hutabulu No. 17).

Dapil Sumut 1 Medan Amplas, Medan Area, Medan Kota, Medan Timur, Medan Perjuangan, Medan Denai, Medan Tembung, Medan Deli, Medan Labuhan, Medan Marelan dan Medan Belawan.

Sidang Perkara Penganiayaan Masda br Simanjuntak Ricuh

Kesaksian Suami Pelaku Drs Cosmas Harefa Direktur Akpar Picu Kemarahan Kaum Perempuan

Poltak Simanjuntak

MEDAN l KONSTRUKTIF

Tumbur menyabarkan Masda
Tumbur menyabarkan Masda

Sidang perkara penganiayaan Masda br Simanjuntak (39) yang mendudukkan Erica Veronika Laoly sebagai tersangka, yang digelar Selasa (11/6) di Tempat Sidang Pengadilan Negeri Lubuk Pakam di Labuhan Deli, sempat diwarnai tangisan dan teriakan puluhan kaum perempuan. Puluhan ibu-ibu yang diorganisir oleh Perempuan Mahardika, tampak berdesak-desakan menonton persidangan. Sebagian ada yang sempat dapat tempat duduk, namun sebagian besar terpaksa menyaksikan dari jendela nako ruang sidang.

Agenda sidang kali ini, mendengar kesaksian saksi yang merupakan suami pelaku. “Sudah 2 kali sidang terpaksa ditunda sebab saksi suami pelaku yang Direktur Akpar Medan itu tidak datang,” jelas Rudyard Simanjuntak kepada Konstruktif. Kehadiran saksi sepertinya sudah ditunggu-tunggu oleh puluhan kaum ibu. Kehadiran kaum ibu ini, lebih mirip sedang melakukan aksi unjuk rasa, sebab membawa puluhan karton bertuliskan protes mereka dan dukungannya terhadap Masda.

“Kami akan terus mendukung Masda sebagai sesame perempuan yang lemah dan dikorbankan. Kami ingin melihat hukum tegak dan pelaku serta otak dibelakangnya ditahan,” jelas salah seorang ibu, sambil menunjukkan karton bertulis kea rah wartawan.

Sidang yang dimulai menjelang maghrib ini, dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Denny Lumbantobing SH, mendapat perhatian dari berbagai elemen organisasi masyarakat sipil dan awak media cetak dan elektronik. Pertanyaan hakim seputar kejadian yang menimpa Masda yang pelakunya tidak lain adalah istrinya sendiri dijawab ringan dan santai oleh Cosmas Harefa. “Apakah saudara pernah sakit dan dirawat oleh Masda?” tanya hakim, yang dijawab singkat “Iya, benar.”.

Demikian juga pertanyaan seputar isi surat perjanjian antara Masda dengan Cosmas tentang pinjaman uang sebesar Rp72 juta dibenarkan oleh Cosmas, walau menolak ketika dikatakan belum membayarnya. “Saya sudah bayar lunas Pak Hakim. Bahkan lebih,” ujarnya. Jawaban ini langsung dikonfrontir oleh hakim kepada Masda dengan mempersilahkan Masda maju ke kursi depan. “Belum lunas Pak Hakim. Dia sudah membayar Rp150 jutaan, sebab hutangnya sudah mencapai 300-an juta. Kenapa kamu bohong?,” sergah Masda sambil meneruskan bagaimana dirinya dengan tulus menolong penyakit kelamin dan ketergantungan obat yang diderita Cosmas waktu itu.

Dengan deraian air mata dan tangisan yang cukup kuat, sempat mengagetkan seluruh pengunjung sidang. “Tega benar dia mengelak. Dia kuobati dan kupinjami uang karena dia yang minta tolong. Yang saya terima justru kekerasan dan tuduhan seolah saya mengejar-ngejar ini,” katanya sambil menunjuk Cosmas.

Tangisan Masda pun disambut pengunjung sidang yang didominasi kaum perempuan ini. “Tahan Erica. Penjarakan Cosmas! Laki-laki bejat, over dosis!”, pekik beberapa kaum ibu yang memaksa hakim Tobing terpaksa berkali-kali mengetuk meja meminta pengunjung tenang.

Setelah hakim menyatakan sidang ditutup dan akan dilanjutkan Selasa yang akan datang (18/6), Masda sontak menangis dan mengatakan Jaksa berpihak dan meminta agar hakim tegas dan tidak berpihak. Langkah Cosmas dan istrinya yang dikawal oleh jaksa sempat tertahan oleh teriakan dan barisan kaum perempuan yang menggelar poster-poster. “Tuhan akan menghukummu!” ujar salah seorang di antara mereka.

Kepada Konstruktif, Masda mengungkapkan kekecewaannya mengikuti persidangan, sebab tampak JPU berpihak kepada pelaku dan saksi. “Saya sedih, jaksa jelas sekali berpihak ke mereka,” protes Masda.

Tumbur menyabarkan Masda

Sidang21Sidang11

Tolak Berdamai Dengan Pelaku Penganiayaan Polsek Lubuk Pakam Tahan Maruba Simanjuntak

Maruba Simanjuntak - Korban Penganiayaan
Maruba Simanjuntak – Korban Penganiayaan

MEDAN – Naas betul nasib Maruba Simanjuntak (27), dalam keadaan patah tulang akibat pengeroyokan, malah digelandang polisi ke Polsek, setelah menolak berdamai dengan pelaku.

 “Hari Jumat (7/6) keluarga pengeroyok adik saya datang ke rumah kami untuk minta berdamai,” jelas Ranap Simanjuntak (49), abang kandung Maruba. Ketika membicarakan ganti rugi perdamaian, berlangsung sangat alot. Ke 3 orang yang diduga pelaku pengeroyokan, Manusang Sihombing, Sinta Simbolon dan anaknya Luhut Sihombing, mendatangi rumah Ranap.

“Mereka hanya menyanggupi uang damai Rp6 juta, sementara kami meminta mereka membayar biaya pengobatan adik saya Maruba yang lengannya patah dan sudah menghabiskan biaya puluhan juta. Tak tercapai kata sepakat,” terang Ranap.

Ikhwal kejadian pengeroyokan ini, terjadi bulan Minggu 12 Mei 2013 lalu, di Jl Pasar Melintang Dusun 6 Siborong-borong Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang. Keluarga Sihombing menuduh Maruba melakukan pelemparan ke rumahnya.

“Saya tidak pernah melakukan pelemparan ke rumah orang itu. Memang ada katanya pelemparan sebelumnya dan ketika saya lewat, tiba-tiba saja saya diserang oleh keluarga Sihombing yang terdiri dari suami, istri dan anaknya,” jelas Maruba.

Tidak terima tindakan brutal keluarga Sihombing terhadap dirinya, Maruba didampingi saudara-saudaranya pun melapor kejadian ini ke pihak yang berwajib di Polsek Lubuk Pakam. “Kami langsung melapor begitu kejadian. Sudah divisum dan hasilnya, tulang lengan tangan adik saya patah, namun pelakunya baru ditahan 5 hari lalu, itupun hanya 1 orang, sementara MS dan SS yang turut menganiaya adik saya bebas berkeliaran,” sesal Ranap.

Selang beberapa hari, setelah ditahannya salah seorang pelaku LS, giliran korban yang dipanggil polisi yang kepada keluarga dikatakan hanya untuk diperiksa dan akan dikembalikan dalam waktu 24 jam.

“Ternyata polisi itu berbohong. Dalam kondisi tangan masih dipanggul akibat patah, adik saya diboyong ke Polsek dan belakangan ditahan yang kami ketahui melalui surat penahanan yang disampaikan polisi,” jelas Ranap sambil menunjukkan surat penahanan kepada Konstruktif.

Ketika Konstruktif mengkonfirmasi penahanan korban pengeroyokan ini, Kapolsek Lubukpakam AKP M Ichwan, membenarkannya. Ditanya alasan penahanan dan alasan kenapa tidak menahan 2 orang lagi pelaku penganiayaan AKP Ichwan justru mengelak. “Besok kita ketemu saja di kantor,” katanya sambil mematikan handphonenya. (POL).

Diminta Mengobati “Burung” Suami

Erica Veronika Laoly Hajar Perawat Masda br Simanjuntak

 Medan – JuntakNews

masdaSidang perkara penganiayaan Masda br Simanjuntak (39) yang mendudukkan Erica Veronika Laoly sebagai tersangka,digelar Selasa (28/5) di Tempat Sidang Pengadilan Negeri Lubuk Pakam di Labuhan Deli mendapat perhatian dari puluhan Naposo Bulung Simanjuntak dan aktifis Perempuan Mahardika dan Laskar Merah Putih Indonesia (LMPI).

Mendengar keterangan saksi pelapor Masda, sontak saja pengunjung sidang yang terpaksa mengikuti persidangan dari jendela ruang sidang berteriak. “Tahan Laoly. Jaksa berpihak”, teriak pengunjung yang terhenti setelah Ketua Majelis Hakim Denny Lumbantobing SH memberi peringatan. “Pengunjung sidang yang di luar mohon jangan rebut,” ujarnya.

Dengan berurai air mata, Masda br Simanjuntak membeberkan tindakan kekerasan yang dialaminya dilakukan oleh seorang PNS Erica Veronika Laoly yang suaminya Kosmos Harefa Direktur Akademi Pariwisata Medan, yang tak lain pernah jadi pasien Masda di kliniknya.

“Saya dipukul, ditendang didorong masuk ke selokan di tepi jalan menuju kompleks Akademi Pariwisata. Tak hanya itu, muka saya disiram cabe, hingga saya sempoyongan dan tidak bisa melihat. Setelah dipukuli, dimasukkan ke got terus dipukuli dan akhirnya menarik paksa rambut, hingga tercerabut, hingga tubuhku terikut keluar dari got sedalam 1 meter dan disiksa kembali,” isak Masda.

Ikhwal perkenalan Masda dengan Erica Veronika Laoly, terkait dengan penyakit kelamin yang diderita oleh suaminya Kosmas Harefa. “Tersangka ini justru yang berkeluh kesah dan meminta saya sebagai perawat untuk mengobati penyakit kelamin yang diderita suaminya. Sebagai perawat, saya mengobati alat kelamin suaminya yang sudah mulai bernanah bahkan jamuran,” kisah Masda.

Persidangan yang juga dihadiri oleh terdakwa Erica Veronika Laoly, berjalan lancar, selain mendengar keterangan saksi korban, juga kesaksian dari Bangun Simanjuntak (30) yang berprofesi sebagai sopir angkot yang menyaksikan langsung kejadian perkara. “Saya menjelaskan apa yang saya saksikan ketika tersangka memukul dan menjambak Masda. Ketika itu saya belum tahu bahwa korban itu, br Simanjuntak,” tandasnya.

Ketika hakim mempertanyakan kebenaran kesaksian saksi korban dan saksi Bangun, Erica Veronika Laoly menampiknya. “Saya tidak ada menendangnya. Kami hanya dorong-dorongan. Saya hanya menjambaknya,” aku Erica yang juga PNS di Badan Diklat Provsu ini.

Erica yang disangkakan melakukan tindak pidana kekerasan sebagaimana Pasal 351 ayat 1 jo Pasal 353 KUHPidana, sejak penanganan kepolisian dan kejaksaan tidak ditahan. Dugaan adanya permainan polisi dan jaksa melindungi tersangka Erica pun tercium. Tak pelak Biro Advokasi Generasi Muda Simanjuntak Sitolu Sada Ina Boru Bere dan Ibebere, Rudyard Simanjuntak menyatakan protes.

“Perlakuan biadab yang dilakukan tersangka seharusnya sudah cukup menetapkan penahanan oleh polisi, maupun jaksa,” ujarnya.

Aroma tak sedap dalam penanganan kasus ini, apalagi dikaitkan dengan adanya rumors bahwa Erica yang suaminya Direktur Akademi Pariwisata Medan sebagai “orang kuat” memaksa Masda yang mendapat dukungan Biro Advokasi GM-SSSI&BBI, mengajak kelompok LMPI Kota Medan dan Perempuan Mahardika Medan.

“Kami ingin memastikan proses penegakan hukum dalam kasus yang mengorbankan perempuan ini dapat berlangsung tanpa keberpihakan,” tandas Jumaida, aktifis Perempuan Mahardika.

Hal yang sama diungkapkan oleh Ojak M Simanjuntak, Ketua LMPI Kota Medan yang tampak didampingi oleh puluhan anggota dan pengurus LMPI, bahwa pihaknya akan terus melakukan pemantauan terhadap proses persidangan.

“Dengan tidak ditahannya pelaku, sangat melukai rasa keadilan masyarakat,” tegasnya. Ojak berharap, agar majelis hakim terbebas dari tekanan dan mempermainkan hukum. Bukti awal bahwa majelis hakim tidak berpihak, seyogianya tersangka dilakukan penahanan,” tambahnya.

Persidangan yang dipimpin oleh Denny Lumbantobing SH sebagai ketua dibantu 2 orang hakim anggota Vera br Simanjuntak SH dan Raden Zainal SH ini, kembali akan digelar Selasa (4/6) dengan agenda mendengar keterangan saksi, termasuk suami tersangka Kosmas Harefa. “Hadirkan saksi dari pelapor dan saksi suami tersangka,” perintah hakim kepada JPU Alan Harahap SH.

 

Chandra Donatus Sihotang dari Barus Bercelana Pendek Taklukkan Medan

• Poltak Simanjuntak/Ingot Simangunsong

935001_10201231065719927_832242530_nTAMPIL sederhana dan bersahaja. Kepada Investa, Chandra Donatus Sihotang (41) mengisahkan perjalanan hidupnya dari Barus Tapanuli Tengah ke Medan. Kami disuguhi kopi panas di rumahnya Jalan Sehati Gang Anggrek Kecamatan Medan Perjuangan yang sekaligus tempat usaha sayur toge, Selasa (7/5).

Saat duduk di bangku SMP Negeri 2 Bondar Sibuhuan, ayahnya meninggal dan ibunya harus menghidupi enam anaknya yang masih kecil-kecil. Selesai pendidikan SMP tahun 1989, Chandra memutuskan untuk meninggalkan Barus dan ikut marga Sitanggang ke Medan.

“Saya merasa kehidupan di Barus tidak menjanjikan. Perekonomian sangat memprihatinkan. Saya tidak dapat melihat mamak harus menghidupi saya bersama lima adik yang masih kecil-kecil,” kenang Chandra yang didampingi istrinya Delki boru Pasaribu itu.

Chandra tidak dapat melupakan bagaimana ibunya memberi bekal 2 liter beras dan uang Rp12.000. Ia berangkat dengan bus Makmur. “Pesan mamak ketika itu, carilah orangtuamu di perantauan,” kata Chandra mengulangi kisah pilu yang harus dilaluinya.

Kisah penuh inspirasi ini semakin memelas, ketika Chandra mengungkapkan, bagaimana ia harus memotong celana panjang almarhum ayahnya, agar bisa dipakai pergi merantau. “Berbekal celana pendek yang dipotong itulah saya berangkat. Pinggangnya kebesaran, harus saya ikat dengan tali biar tak kedodoran,” kenang Chandra.

KERJA TAK DIGAJI

Sesampainya di Medan, Chandra kecil, bekerja di pencucian truk, mobil dan sepedamotor (doorsmeer) yang berada di kawasan Helvetia. Mirisnya, Chandra harus melakoni pekerjaan itu selama tiga tahun tanpa gaji. “Saya hanya diberi gaji sekali, kalau mau pulang kampung, kata pemiliknya. Saya hanya diberi makan dan mengumpulkan uang dari pemberian supir,” kata Chandra.

Tidak tahan bekerja di doorsmeer tersebut, Chandra memutuskan melarikan diri. Kehidupan yang demikian getir itu, tidak menyurutkan semangatnya. Ia tidak pernah mengeluh, apalagi harus mengucurkan airmata. “Karena ini sudah tekad, maka harus saya jalani dengan kondisi bagaimana pun. Apalagi saya tidak punya kenalan atau saudara di Medan,” kenangnya.

264461_10201231066719952_1285666569_nBerjalan tidak tentu arah, Chandra ketemu dengan hamparan kacang hijau sedang dijemur. Didekatinya, dan berdialog dengan pemiliknya. Kemudian, Chandra pun diterima bekerja di tempat milik A Cua tahun 1992. Tugasnya menyemai kacang hijau untuk menjadi sayur toge.

Bersama A Cua—yang sampai saat ini masih menjalin persaudaraan—Chandra banyak belajar. “Saya banyak mendapat bimbingan untuk berusaha dari Bang A Cua,” kata Chandra yang mengaku karena kedekatannya dan punya kemiripan nasib, A Cua pun membangunkan rumah untuk ibu Chandra di Barus.

 

BUKA USAHA SENDIRI

944601_10201231066919957_408538141_nDua tahun bekerja bersama A Cua, diberanikannya untuk membuka usaha sendiri, dan meneruskan keahliannya di bidang penyemaian sayur toge. Tahun 1994 dimulai dengan mengontrak rumah di Jalan Perbatasan Krakatau.

“Waktu itu saya masih lajang. Saya pikir, kalau mengerjakan sendiri, saya akan mendapatkan hasil yang lebih besar,” kata Chandra yang menjelaskan setiap harinya ia mampu menyuplai 150-160 kilogram sayur toge ke Pusat Pasar.

Tahun 1997, Chandra menikahi gadis pujaannya Delki boru Pasaribu. Usaha mereka pun dipindahkan ke Jalan Sehati Gang Anggrek. Di rumah yang mereka kontrak dua tahun—kemudian sudah dibeli dan menjadi milik sendiri itu—Chandra menyiap delapan tong penyemaian berdiameter 1 meter dengan tinggi 1,5 meter.

390704_10201231066279941_939698073_nApa yang diperjuangkan Chandra bersama istrinya, membuahkan hasil yang setiap hari mereka syukuri. “Berkat Tuhan tidak berkesudahan dari hasil kerja keras kami,” katanya. Chandra bersama istri dan 5 pekerjanya setiap pukul 01.00 Wib dinihari harus terjaga dan mempersiapkan sayur toge untuk dipasarkan. Dengan becak barang, Chandra bersama istrinya pergi ke Pusat Pasar.

“Saya masih terus ikut mengerjakan penyemaian sayur toge. Setiap tong memerlukan 30 kilogram kacang hijau pilihan. Mengerjakan penyemaian butuh hati yang sabar,” katanya.

Kini, persiapan masa tua, Chandra sudah mulai beralih memikirkan membangun bisnis lain. Ia pun memilih membangun rumah kontrakan. “Sekarang sudah ada lima kontrakan,” katanya. Rumah Gang Anggrek sudah dibeli dan direnovasi, bahkan garasi yang dipersiapkan sudah ditongkrongi sebuah mobil Terios.

400717_10201231066519947_132531973_nRahasia sukses pun diceritakan istrinya. “Semuanya harus dijalani dengan saling pengertian dan bagaimana senantiasa dekat dengan Tuhan,” kata Delki boru Pasaribu. Dan, Chandra Donatus pun, kini aktif di kegiatan gereja dan aktifitas sosial

 

 

 

Keutamaan Seorang Pria

juliantobooksDi Taman Eden identitas dan tujuan seorang Pria diciptakan. Adam, manusia pertama diberi kuasa mengerjakan Taman Allah. Menaklukkan alam dan mengelola bumi. Adam memulai tugasnya dengan memberi nama pada semua hewan. Sungguh ini merupakan tanggung jawab dan pekerjaan besar.

Untuk itu Adam disediakan seorang penolong, Hawa menjadi istrinya. Penolong yang sepadan. Meski dengan kualitas posisi yang sepadan, Adam punya panggilan atau fungsi khusus, yakni menjadi kepala keluarga atau pemimpin. Jadi, selain mengelola Taman Eden, Adam dipanggil mengelola keluarganya sendiri.

Pria pertama ini cakap mengelola Taman dengan kapasitas Ilahi yang ada padanya, seperti kemampuan berpikir, punya perasaan dan alam kehendak. Sayang kemampuan itu tidak dijaga dengan baik. Adam lengah. Membiarkan Hawa berjalan tanpa kehadiran, ajaran dan teladannya yang maksimal. Akhirnya keduanya jatuh dan mendapat disiplin Ilahi.

Keharmonisan keluarga pertama inipun memudar. Mulailah konflik melanda keluarga Adam, dengan saling menuding dan menyalahkan. Ada iri dan kemarahan pada keturunan Adam. Sejak saat itu tidak ada keluarga tanpa konflik atau keluarga yang sempurna.

Namun panggilan dan tugas Pria tak berubah. Pria dipanggil menjadi kepala keluarga yang bertanggungjawab atas kesejahteraan anak dan istrinya. Mulai dari tanggungjawab ekonomi, pemeliharaan sosial, mencukupi kebutuhan emosi keluarga hingga menumbuh kembangkan mental-spiritual anak dan pasangan. Dengan bantuan istrinya seorang pria mendapatkan tanggungjawab mulia ini.

Zaman terus berubah. Nilai-nilai kebudayaan zaman ini semakin menggoda pria untuk (lebih) sukses di luar rumah. Tantangan ini disertai pelbagai macam godaan antara lain: ingin cepat kaya dan tenar.

Kompetisi yang berat ini menggoda para ayah terjebak. Diantaranya korupsi. Beratnya kompetisi kehidupan, geografi kota yang luas, sulitnya mencari pekerjaan, mahalnya biaya kehidupan dan sebagainya membuat banyak Ayah kehilangan perannya di rumah. Membiarkan ibu dominan dalam pengasuhan anak-anak. Kurangnya kasih sayang Ayah berdampak buruk pada kesehatan emosi anak.

Selain itu banyak istri kehilangan waktu, kasih sayang dan sentuhan suami. Ini bisa membuka peluang pada pintu perselingkuhan. Ini satu masalah besar di era sekarang ini mengingat angkanya makin meningkat

Tentu tak ada yang salah bila seorang pria punya cita-cita sukses di kantor, atau kuat secara finansial. Bahkan menjadi orang yang terkenal sekalipun. Tetapi hal itu tidak boleh mengabaikan job utamanya di rumah. Ya, panggilan atau keutamaan tugas seorang pria di rumah tak bisa diabaikan, yakni menjalankan fungsi “kesuamian” dan “keayahan” dengan maksimal. Kehadiran ayah di rumah membangun perasaan dicinta pada anak-anak. Teladan sang Ayah kelak menjadi modal anak memasuki perkawinannya. Rumah layaknya “universitas keluarga”, dimana anak laki kita belajar tentang nilai dan peran Ayah.

Pria yang menjalankan fungsi dengan baik akan menjadi ayah yang dihormati anak. Juga akn mendapat respek sang istri.

Tanggungjawab mencintai istri sejak awal dibentuk oleh pengasuhan sang Ibu di rumah. Relasi yang harmonis dengan ibu kandung inilah kelak menjadi modal seorang pria mengasihi istrinya. Bila ada konflik dengan ibu kandung dapat mengurangi kualitas hubungan dengan istri dan anak-anak.

Dari uraian di atas tak semua pria sukses menjalankan panggilan Ilahi tersebut. Ada beberapa kualitas pria yang terbagi dalam beberapa kategori

Satu, ada pria yang baik menjadi Ayah, tapi gagal jadi suami.
Dua, ada yang berhasil menjadi suami yang baik tapi gagal jadi Ayah.
Tiga, ada Pria yang sukses menjadi suami dan Ayah sekaligus
Empat, ada pula yang buruk dalam menjalankan kedua fungsi tersebut
Lima, ada pria yang sukses di kantor tapi Gagal menjalankan fungsi “kesuamian” dan “keayahan” di rumah
Enam, ada pula yang kurang berhasil dalam karir tapi tetap menjadi Ayah yang dicintai anak-istrinya

Penutup

Keutamaan pria bukanlah pada hasil-hasil yang dicapainya secara fisik atau materi. Tapi karena ia dicintai anak dan pasangannya. Cinta dan respek dari anak/istri memberinya semangat, kreatifitas dan produktif saat bekerja.

Bukan hanya itu, dia tidak malu berdiskusi dengan teman tentang kehidupan keluarga, sebaliknya bangga bercerita tentang anak-istrinya

Sumber Buku KEBISUAN PARA AYAH (Julianto Simanjuntak )

DPRD SU Usulkan Pembentukan BUMD

Kasmin Pandapotan Simanjuntak
Kasmin Pandapotan Simanjuntak

BALIGE  – Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumatera Utara (Sumut), Budiman Nadapdap mengusulkan pembentukan sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) yang khusus menangani pembenahan infrastruktur, guna percepatan pembangunan di daerah tersebut.

“Sudah saatnya Pemkab Tobasa melakukan kajian pembentukan suatu BUMD yang khusus menangani pembenahan infrastruktur di wilayah berpenduduk 205.331 jiwa yang terletak di bagian tengah provinsi Sumatera Utara tersebut,” kata Budiman di Balige, Selasa.

Di samping memberdayakan seluruh potensi yang dimiliki daerah itu, menurutnya, pembentukan sebuah BUMD akan sangat efektif dan efisien dalam melakukan perbaikan sarana prasarana jalan, sehingga pembangunan yang hendak dilaksanakan tidak sampai menunggu terlalu lama.

Dia menilai, hal tersebut sangat layak untuk dipertimbangkan, dan selanjutnya dapat diatur dalam peraturan daerah, sekaligus sebagai dukungan untuk mendongkrak laju pembangunan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap konstituen di wilayah dimaksud.

Nantinya, kata dia, dukungan pemerintah daerah melalui BUMD diharapkan menjadikan kondisi jalan maupun jembatan yang merupakan sarana vital bagi masyarakat dapat selalu mendapat perhatian, sehingga kerusakan-kerusakan yang terjadi, dapat sewaktu-waktu diperbaiki.

Memang, kata Budiman, dalam menyikapi kondisi ruas jalan dan jembatan di daerah tersebut, Bupati Tobasa, Pandapotan Kasmin Simanjuntak, cukup intens membangun komunikasi dengan pihak DPRD Sumut dari daerah pemilihan VIII lainnya, sehingga perbaikan jalan dan jembatan dimaksud dapat terakomodir.

“Komunikasi yang dibangun Bupati Tobasa Pandapotan Kasmin Simanjuntak dengan fraksi-fraksi lainnya di DPRD Sumut untuk pembenahan infrastruktur di daerahnya patut diapresiasi,” katanya.

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumut, dia berjanji akan memperjuangkan aspirasi konstituennya, serta menghimbau pemerintah daerah setempat untuk memanfaatkan peluang penyusunan anggaran P-APBD tingkat provinsi yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Sebelumnya dalam reses yang dilakukan anggota DPRD Sumut daerah pemilihan VIII, Asisten Pemerintahan Setdakab Toba Samosir, Wasir Simanjuntak menyampaikan harapannya, agar para legislator tersebut dapat menampung aspirasi warga Tobasa dan memperjuangkannya di tingkat provinsi.

Dikatakannya, usulan-usulan warga yang masih belum dapat didanai APBD Kabupaten akibat keterbatasan anggaran, kiranya mendapat perhatian.

“Dalam mendorong percepatan pembangunan, warga setempat perlu memberikan partisipasi dan menerima pelaksanaan pembangunan dengan mempermudah pembebasan lahan yang terkena dampak pembangunan,” kata Wasir. *Ant.

Samaria (Demi Ucok) Simanjuntak

Film Komedi, Dipuji dan Dicaci

Camera 360

JuntakNews – Film Demi Ucok, film drama komedi garapan Samaria br Simanjuntak, mengisahkan kehidupan seorang ibu (Mamak Gondut) dengan anaknya (Ucok), kental dengan langgam kultur Batak. Pada ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2012 film ini berhasil menyabet 8 nominasi dan juga membawa pulang 1 piala pada kategori Aktris Pendukung Terbaik untuk salah satu aktrisnya, Mak Gondut. Film dipuji.

Namun ada bagian dari Film ini yang memicu protes dikalangan warga Bandung, yaitu munculnya seekor Anjing yang diberi nama ‘bobot’ dan menggunakan baju Persib, memicu kemarahan bagi pecinta fanatik Klub Sepak Bola Bandung (Persib). Film dicaci.

Sammaria lahir di Bandung, Indonesia. Setelah setahun bekerja sebagai arsitek, ia menyadari bahwa membuat film adalah impian sesungguhnya. Sammaria memutuskan untuk mengikuti jalan impiannya.  Sammaria kuliah di jurusanArsitektur di Institut Teknologi Bandung. iamengundurkan diri dari pekerjaannya di sebuah firma arsitektur dan mulai membuat beberapa film pendek.

Di tahun 2009, Sammaria meluncurkan film panjang pertamanya yang berjudul “cin(T)a”. Di tahun 2010, Sammaria menyutradarai filmdokumenter pertaman yang berjudul “Lima Menit Lagi” (bagian dari antologi “Working Girls” yang dirilis di bioskop pada bulan Juni 2011).

Di tahun 2011, Sammaria memulai perusahan produksi filmnya yang dinamakan PT Kepompong Gendut. “Demi Ucok” adalah produksi film pertama dari perusahaan ini. Mantap!

 

Organ Tubuh TKI di Malaysia Diperjualbelikan

Melpa Br Simanjuntak
Melpa Br Simanjuntak

Tebingtinggi- Awalnya ini ingin mengadu nasib di negeri orang, wanita asal Kota Tebingtinggi ini yang telah menetap selama 7 tahun, dan telah diperistri oleh pria idamannya yang warga Malaysia. Pasangan ini dikaruniai 2 orang anak, ternyata nasib berkata lain, dirinya meregang nyawa dalam sebuah kecelakaan lalu Lintas di kawasan Jalan Parit Masjid Pontian, Lorong Baru, Johor-Malyasia, Sabtu malam lalu (30/3).

Tersebutlah Melpa Suriani Simanjuntak (27), warga Jalan Pulau Sumatera, Ling. II, Kel. Tualang, Kec. Padang Hulu, Kota Tebingtinggi, anak dari pasangan suami istri Alm. Robin Simanjuntak dan Rosledi Br. Sianturi, harus pulang ke kampung halamannya dalam keadaan sudah tidak bernyawa.

Duka yang menyelimuti keluarga Simanjuntak semakin dalam, baru saja mendapat kabar kematian anak kedua mereka, karena peristiwa kecelakaan lalu lintas di negeri jiran. Duka mereka semakin bertambah dalam, ketika jenazah korban yang dibawa dari Malaysia tiba ke rumah duka Selasa (2/4) sore ternyata masih menyimpan sebuah “misteri“.

Pihak keluarga mengaku terkejut usai menerima dan membuka peti jenazah korban, seperti biasanya dalam tradisi (adat) Batak, keluarga harus “mangulosi “ jenazah. Namun betapa terkejut sanak keluarga Simanjuntak, saat melihat kondisi jasad korban, tubuh bagian depannya penuh jahitan. Luka jahitan terlihat mulai dari bawah pusar naik ke atas hingga ke bagian belakang kepala.

“Kalau adat batak, jenazah yang baru datang harus diulosi. Pada saat mau kami ulosi, peti mayat jenazah cucuku kami buka, begitu dibuka ada luka jahitan disepanjang tubuhnya, mulai dari bawah pusar sampai ke bagian belakang kepala. Ini menimbulkan kecurigaan kami, mungkin-mungkin isi bagian dalam organ tubuh cucuku hilang, diambil orang yang tidak bertanggung jawab“, ungkap Marjuang Lumbangaol (42) yang mengaku opung dari korban.

Jerit dan tangis semakin mengharukan suasana kediaman Simanjuntak.Kondisi ini membuat keluarga korban bertanya-tanya, karena selain bekas jahitan di bagian depan tubuh jenazah, hanya ada luka memar di bagian kaki kiri korban. Akhirnya kalangan kerabat almarhum mengindikasikan ada organ tubuh bagian dalam korban yang “dihilangkan“ oknum-oknum tertentu di Rumah Sakit Hospital Sultan Ismail, Johor Baru-Malaysia pasca kematiannya.

Marjuang menuturkan, bahwa kabar kematian cucunya ini, akibat kecelakaan lalu lintas, persisnya pada Sabtu (30/3) malam, Cucunya Melpa mengalami kecelakaan di depan rumahnya. Melpa saat itu hendak menyeberang jalan menuju ke counter pulsa di depan rumahnya. Begitu menyeberang, tubuhnya ditabrak mobil yang melaju kencang, ketika itu Melpa dikabarkan mengalami koma dan dirawat di Hospital Sultan Sulaman, Johor Baru-Malaysia.

Sejumlah sumber yang dimintai keterangannya, mengatakan jenazah dikirim dari Malaysia menggunakan angkutan udara, lewat jasa agensi yang beralamat di kawasan Taman Johor Jaya Malaysia, yang dihunjuk Konsulat Indonesia untuk Malaysia, tepatnya Selasa (2/4) petang tiba di Kota Tebingtinggi.

Kondisi jenazah yang dianggap tidak wajar ini memaksa pihak keluarga korban untuk memberitahukan ke Mapolres Tebingtinggi. Mmendapat laporan, sejumlah personil melakukan pengecekan langsung ke rumah duka, namun pihak kepolisian setempat menghadapi kendala, karena belum dapat dipastikan kalau jenazah Melpa br Simanjuntak yang di kirim dari Malaysia dalam keadaan penuh luka jahitan merupakan tindak kejahatan medis.

Alasannya, selain pihak keluarga belum memberi izin untuk dilakukannya outopsi ulang, pihak keluarga dan pihak berwenang masih membutuhkan keterangan dari adik kandung dan adik ipar korban yang masih di Malaysia, dan rencananya akan tiba di Tebingtinggi dalam waktu dekat ini.

“Kita belum bisa memastikan dugaan organ tubuh wanita ini telah hilang,atau diambil sebelum melakukan outopsi ulang, kita harus mendapat persetujuan pihak keluarga, dan kita juga masih harus meminta keterangan adik kandung dan adik ipar korban yang saat ini masih berada di Malaysia“,ujar Pawas, AP Pandu H Sasmita.

Tolak Rekayasa Hukum Pada Kasus Penganiayaan Anak

Efendy Panjaitan SE, MSP : Kami Akan Melaporkan Polres DS dan Kejari Lubuk Pakam ke Komisi III DPR RI

sidang1

Medan, JuntakNews

Penangangan kasus penganiayaan Agnes Marito br Panjaitan (12) Pelajar SD Trisakti Lubuk Pakam, sejak awal dinilai sarat rekayasa hukum oleh Kepolisian Resort Deli Serdang dan Kejaksaan Negeri Lubuk Pakam. Kasus, dengan sangkaan Tindak Pidana Penganiayaan Anak, berjalan lama sebab JPU selalu mengembalikan berkas (P-19), sementara pengaduan balik D br P SSos yang menjadikan korban dan keluarganya sebagai tersangka, dengan sangkaan Pasal 310 dan Pasal 335 KUHPidana, justru berjalan lancar.

Fakta inilah yang mendorong Punguan Panjaitan merasa perlu menunjukkan sikap protesnya, atas rekayasa hukum yang merugikan keluarga Panjaitan. “Kami harus memastikan bahwa dalam penanganan kasus ini, tidak ada rekayasa dan JPU harus terbebas dari intervensi yang kami duga dilakukan oleh keluarga pelaku, salah seorang Kepala Kejaksaan Tinggi di Indonesia”, tandas Efendy Panjaitan SE MSP, Ketua Harian Punguan Panjaitan Kota Medan.

Dikatakannya, bahwa sejak awal merebaknya kasus ini, pihaknya terus melalukan pemantauan dan menemukan adanya rekayasa hukum yang diduga dilakukan oleh oknum Kejari Lubuk Pakam dan oknum penyidik Polres Deli Serdang. “Jika benar Kejari dan Polres terpengaruh dengan intervensi pejabat kejaksaan itu, maka Punguan Panjaitan, tidak akan tinggal diam dan akan mempersoalkan yang bersangkutan dan mengadukan Polres dan Kejari ke institusi pengawasan masing-masing”, ancamnya.

Hal ini dibenarkan oleh  Saut Panjaitan, ayah korban, bahwa selain meminta pertolongan dari Kantor Pengacara LBH-Citra Setia Indonesia Medan, dirinya juga mengkomunikasikan perkara ini kepada tokoh-tokoh Panjaitan di Medan. “Saya berharap, tokoh-tokoh Panjaitan di seluruh Indonesia dapat membantu kami, sehingga dugaan keterlibatan salah seorang Kajati yang merupakan saudara dari pelaku, dapat dihentikan dan hukum dapat ditegakkan secara adil. Apalagi pelaku ini adalah PNS dan tetangga yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah kami”, tandasnya.

Datumira FM Simanjuntak SH MH, pengacara korban, mengatakan bahwa sejak awal kasus pengaduan balik pelaku sudah terasa aroma intervensi. “Kasus utama diperlambat, sedangkan kasus ikutan berupa pengaduan balik justru terkesan dipaksakan”, tandasnya.

Ikhwal penganiayaan Agnes, oleh D br P SSos, , Agnes bersama dengan 2 orang anak tetangga MS (8), SP (5) dan Qu (2,5) pada Rabu 30 Mei 2012 seperti biasa bermain ayunan di halaman rumahnya Dusun II Gg Sederhana Desa Pagar Jati Lubuk Pakam, sambil membunyikan lagu-lagu dari HP. “Tak tahu kenapa, tiba-tiba pelaku yang rumahnya berada di depan rumah kami mendatangi anak-anak sedang bermain ini dan mendamprat anak-anak”, terang Ratna ibu Agnes.

.Agnes yang merasa tidak melakukan kesalahan hanya bisa kebingungan dan takut. Tak hanya membentak, P br P SSos, memukul dagu dan menjambak rambut Agnes, walau sempat dilerai oleh kakaknya SHP (18). Melihat gelagat tak baik ini, kakak Agnes pun mengabadikan kebringasan tetanggannya ini dengan kamera video HP nya. “Sudah setahun kejadian itu, hingga sekarang anak-anak saya jadi trauma melihat pelaku, yang tidak perbah ditahan oleh polisi maupun jaksa, hingga sekarang oleh Hakim PN Lubuk Pakam”, sesal Saut Panjaitan.

Ditanya komentarnya atas dugaan melakukan penghinaan kepada pelaku penganiayaan, Saut Panjaitan menampiknya. “Saat kejadian itu, saya dan istri tidak ada di rumah. Malah sebaliknya dia yang menghina kami sekeluarga”, ujar Saut meninggi.

“Saya tidak levelmu. Lakimu hanya tukang kawinkan babi, kalau tidak kalian tidak makan. Kau hanya Parnab (pengumpul makanan babi) di pajak sana. Bahkan salah seorang tetangga lain yang kompak dengan pelaku,  Tiomsi br Siahaan mengatai suamiku sebagai seorang “Oon. Entah siapa yang menghina siapa”, terang Ratna br Simanjuntak, ibu korban.

Walau terlihat kasus hokum ini terkesan lambat, Efendy Panjaitan, tetap menghargai dan mengharapkan hakim yang menangani perkara ini untuk tetap objektif, adil dan tidak terpengaruh dengan intervensi. “Kami mengharapkan hakim dapat menetapkan keputusan yang seadil-adilnya, apalagi kasus ini mengorbankan anak. Sedangkan aparat hokum yang kami duga terlibat rekayasa dan membelokkan perkara ini, akan kami lapor ke Komisi III DPR RI dan intansi pengawas aparat hokum lainnya di negeri ini”, tegas Efendi.