Daftar Sumbangan Untuk Biaya Pengobatan Dorlan br Simanjuntak

Sejak mengetahui penderitaan Dorlan, baik pengurus PN-SSSI&B dan GM-SSSI&BBI, telah sepakat untuk berupaya membantu Dorlan, sesuai dengan kebutuhannya dalam menjalani perobatan penyakitnya. Gamabaran awal yang diperoleh oleh pengurus GM-SSSI&BBI, bahwa keluarga tidak mampu membawa Dorlan meneruskan perobatannya ke rumah sakit, berkaitan dengan keadaan ekonomi keluarga yang tidak mendukung.

Gambaran awal itu ternyata benar, bahkan lebih memprihatinkan ketika menyaksikan keadaan Dorlan dan keluarganya yang hidup dalam suasana kemiskinan. Ditemui dibaringkan di ruang tengah tanpa tempat tidur, terasa menyesakkan dada. Tampaknya keluarga sudah “pasrah”, menunggu waktu. Menunggu mujizat, tanpa bisa berbuat banyak terhadap Dorlan.

Gerakan ini  sangat mengharapkan bantuan dari semua saudara-saudara terutama dari Keluarga Besar Simanjuntak Sitolu Sada Ina. Jika saat ini ada 3.000 Simanjuntak yang mampu memberikan hanya Rp. 10.000,- perorang, maka 3.000 x Rp. 10.000 = Rp, 30.000.000,- Penyakit Dorlan br Simanjuntak sudah bisa disembuhkan.

Kirimkan bantuan anda ke nomor Rekening dibawah ini dan mohon setiap transfer di konfirmasi melalui No telp yang dibawah ini agar semuanya bisa tersalurkan. Mauliate

BCA 
No Rek. 349 108 1862
Cabang: Iskandar Muda Medan
a/n  POLTAK SIMANJUNTAK
Konfirmasi ke: 081361175358

BNI
No. Rek.  002 226 577 70
BNI USU Medan
a/n  POLTAK SIMANJUNTAK
Konfirmasi ke: 0813 611 75358

MANDIRI
No. Rek. 107 000 56889 00
Cab. Sutomo – Pematangsiantar
a/n  SUPRATMAN SIMANJUNTAK
Konfirmasi ke: 0811 236 393

DAFTAR PENYUMBANG BIAYA PENGOBATAN DORLAN br SIMANJUNTAK

[table id=10 /]

Mubes PSSSIB 2-3 September 2011 Tidak Meneladani Tona Sobosihon br Sihotang?

Oleh: Ir Sahala Simanjuntak (S15) Sungguh saya prihatin draft yang ada dalam konsep Anggaran Dasar yang dibuat panitia jauh dari Titah/Tona, Petuah/Poda, Doa/Tonggo, Sobosihon Boru Sihotang. Kepada forum diskusi komisi B yang membidangi AD/RT waktu itu saya mohonkan untuk bersama-sama kita merumuskan kembali Pembukaan / Mukadimah yang dimaksud. Permintaan tersebut dipenuhi forum sidang komisi B, dan akan membentuk tim khusus perumus. Untuk ini kita tunggu Adat Parhahamaranggion na hombar tu si ( Risa, Raksa, Ruhut)?.

Mari kita kutip salah satu petuah Sobosihon Boru Sihotang, sbb : UNANG MA NIAN ADONG SIAN TUBUNA MANANG PINOMPARNA MUSE, SISUAN BULU DILAPANG-LAPANG NI BABI, SIULAHON NA SO UHUM SIBAHEN NASO JADI. Arti dalam Bahasa Indonesia :  Janganlah ada dikemudian hari dari keturunannya anak maupun boru, menanam bambu di kandang babi, melakukan tindakan hukum adat untuk membuat sesuatu menjadi tidak jadi.

Kalau dicermati Titah/Tona dan Petuah/Poda Sobosihon Boru Sihotang hanya ada 2(Dua) dan dapat tercakup dalam satu kalimat : NDANG SADA ULAON ADAT DOHOT SAPARUGASAN RIPERIPE BE RAJA MARDAUP, RAJA SITOMBUK, RAJA HUTABULU MARADOPHON HAHADOLINA PARSURATAN. Arti dalam Bahasa Indonesia : Raja Mardaup, Raja Sitombuk, Raja Hutabulu, tidak lagi menjadi satu dalam kesatuan adat dan satu kepemilikan harta dengan abangnya Parsuratan.

Inilah yang menjadi cikal bikal dasar pembentukan Parsadaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina & Boruna. Dan dituangkan dalam keputusan Ria Bolon Persatuan Simanjuntak Sitolu Sada Ina tgl 6 Juli 1969 di Bonapasogit Balige, Ketua M.Dj.Simanjuntak, Sekretaris G.Simanjuntak. Hal ini tidak tercantum sama sekali dalam draft AD/RT Mubes PSSSI & BORUNA 2/3 September 2011. Adalah tidak mungkin Pomparan Sobosihon Boru Sihotang Simanjuntak Sitolu Sada Ina tidak memahami sejarah perjuangan nenek moyangnya yang mempertaruhkan jiwa dan raganya ( Payu dara sebelah kiri di TEBAS ) demi kelangsungan hidup keturunannya hingga saat kini dan untuk hari esok. Kesan saya atas draft AD/RT itu : BAHWA SIMANJUNTAK SITOLU SADA INA BERKEINGINAN MENGHAPUS SEJARAH LAMA, KEMUDIAN MEMBUAT SEJARAH BARU.

Ahu na mangulahon jala manguduti Titah/Tona dohot Petuah/Poda Sobosihon Boru Sihotang na ni memehon damang parsinuan : Siboru puas siboru Bangkara, molo pinapuas soada mara. Arti dalam Bahasa Indonesia: Saya yang telah melaksanakan Titah/Tona, Petuah/Poda, Sobosihon Boru Sihotang, dan telah di wariskan ayah saya : Jika saya telah menyatakannya, maka segala sebab akibat yang timbul daripadanya akan saya pertanggung-jawabkan, dunia maupun akhirat..   * Tentang Parsantian. Rencana Jangka Pendek PSSSI & BORUNA SE INDONESIA akan melaksanakan Pesta parolopolopon panakkok saring-saring Ompu Sobosihon Boru Sihotang.

Faktualnya : Hari Kamis Tanggal 19 September taon 1963 nunga tapanangkok saringsaring ni ompunta na umpompar hita i, tu batu na pir marlagehon rihit na marlampis, marjunjungan ma nasida tutu di ombun na pitu  lampis di langit na pitu tindi. Bahasa Indonesia:  Hari Kamis Tanggal 19 September Tahun 1963, sudah kita laksanakan upacara menggali tulang belulang nenek moyang kita, dan kita tempatkan disuatu tempat yang maha tinggi, di batu yang utuh (Sarkhopagus?), bertikarkan pasir yang berlapislapis, maka bertahtalah mereka di embun yang tujuh lapis dan di langit yang tujuh tingkatan.

Naparjoloi dang apala songon sisaonnari on napanangkokhon saringsaring, secara phisik diginjang ni tano. Ianggo najolo panangkok saringsaring, dihali holi, dipamasuk tu singkam, ditanom do i muse tu toru ni tano.  Songon i do tong diulahon naparjoloi na panangkok saringsaring ni Ompunta Naboru Sobosihon Boru Sihotang, rap dohot anakna, Raja Mardaup Namarjolmahon Boru Sihotang, Raja Sitombuk Namarjolmahon Boru Aruan, Raja Hutabulu Namarjolmahon Boru Sihotang. Somal dope di ulahon di Sipaettua na songon on sahat ro di nuaeng. Jadi unang be taulahon napanangkok saringsaring.

Bahasa Indonesia : Semula tidak seperti keadaan sekarang ini upacara menggali tulang belulang leluhur nenek moyang, tulang belulang ditempatkan diatas tanah. Tetapi waktu dulu tulang belulang di gali, dimasukkan kedalam peti kecil, lalu ditanam kembali kedalam tanah. Seperti itulah upacara yang dilakukan para tetua kita terhadap Ompung Sobosihon Boru Sihotang, beserta anaknya Raja Mardaup yang memperisteri Boru Sihotang, Raja Sitombuk yang memperisteri Boru Aruan, Raja Hutabulu yang memperisteri Boru Sihotang.

Hal yang sama sampai saat ini masih dilakukan Sipaettua. Jadi tidak perlu lagi kita adakan upacara Panangkok Saringsaring. Parsantian bukan Parsaktian, terdiri dari kata dasar Santi yang berarti Doa. Secara harfiahnya arti Ruma/Jabu Parsantian dalam bahasa Batak Toba = Ruma/Jabu Partangingan; dalam Bahasa Indonesia = Rumah Doa. Saran dari saya, jika hendak membangun Parsantian sesuaikanlah dengan falsafah yang terkandung didalamnya. Sehingga falsafah tersebut tercermin sebagai dasar perencanaannya.

 

* Lebih jauh arti lambang segi tiga PSSSI & BORUNA.

UGAMO Orientasi Sobosihon Boru Sihotang terhadap Tuhannya disebut Ugamo. Media komunikasinya berupa Doa disebut Tongggo.

UGARI Interaksi sosial Sobosihon Boru Sihotang terhadap Keturunannya disebut Ugari  (Budaya). Media komunikasinya disebut Titah/Tona.

UGASAN Integritas Sobosihon Boru Sihotang terhadap Lingkungan Hidup disebut Ugasan. Media komunikasinya disebut Petuah/Poda. Demikianlah tulisan ini saya buat menjadi surat terbuka agar kita Pomparan Sobosihon Boru Sihotang Simanjuntak Sitolu Sada Ina terlebih generasi sekarang yang tidak memahami Bahasa Batak Toba sedikit banyak dapat memahami Sejarah Simanjuntak Sitolu Sada Ina.   Las ma dingindingin Las ginolomgolom. Las ma tondinta jala madingin. Manumpahi ma Tuhan Debata.

Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya DSK Tolak Hasil Mubes PSSSI&B Di Medan

*Mosi Tidak Percaya terhadap Ir. Bona Simanjuntak

Medan,Batak Pos

Kontroversi pelaksanaan Musyawarah Besar PSSSI&B se-Indonesia 2-3 September 2011 yang lalu di Hotel Grand Angkasa Medan, ternyata belum juga reda. Justru, makin menunjukkan eskalasi penolakan terhadap seluruh hasil Mubes yang sejak awal ditolak oleh mayoritas Pengurus PSSSI&B se-Indonesia.

Ir. Bona Simanjuntak yang terpilih di Mubes Medan itupun tampaknya bersikukuh untuk melanjutkan niatnya yang didukung oleh beberapa orang bermarga Simanjuntak dari Kota Medan. Lewat pemilihan yang sudah direkayasa sedemikian rupa, Ir. Bona Simanjuntak yang mengaku sebagai Ketua PSSSI&B Jakarta Raya Dsk, justru tidak mendapat mandat, apalagi dukungan dari Pengurus PSSSI&B yang dipimpinnya sendiri.

“Sejak awal tepatnya 7 Agustus 2011, Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya Dsk minus Bona, telah menyampaikan sikap agar Mubes ditunda”, jelas Sabungan Simanjuntak, Sekretaris Umum PSSSI&B Jaya dan Sekitarnya, Sabtu (17/9) kepada Batak Pos.

Permintaan penundaan pelaksanaan Mubes ini bukan tanpa alasan yang jelas. Sebab, selain PSSSI&B Jakarta Raya Dsk, beberapa Pengurus PSSSI&B di Indonesia juga telah menyatakan sikap yang sama, karena menengarai kentalnya rekayasa dan penonjolan kepentingan beberapa pihak dalam pelaksanaan Mubes ini.

Belakangan setelah Mubes terlaksana, dari beberapa orang peserta Mubes diketahui bahwa Panitia dan Bona sudah melakukan kebohongan publik dengan menyatakan, Mubes telah diikuti oleh 24 perwakilan propinsi di Indonesia, yang pada kenyataannya tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya yang hanya diikuti oleh segelintir Pengurus PSSSI&B dari luar Propinsi Sumatera Utara.

Melihat gelagat Bona yang sudah mengangkangi sendiri AD/ART dan Keputusan Musyawarah Sektor, Musyawarah Wilayah dan Musyawarah Anggota PSSSI&B Jakarta Raya dan Sekitarnya, Pengurus PSSSI&B yang dipimpinnya memposisikan diri berseberangan dan membuat MOSI TIDAK PERCAYA terhadap Bona.

Dalam Mosi Tidak Percaya terhadap Kepemimpinan Ir. Bona Simanjuntak sebagai Ketua Umum PSSSI&B Jakarta Raya Dsk, yang ditandatangani 6 orang Pengurus Harian (minus Bona) dan 8 orang Pengurus Wilayah PSSSI&B Jakarta Raya dan Sekitarnya, disebutkan bahwa kehadiran Ir. Bona Simanjuntak di Mubes Medan, tanpa persetujuan Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dan Sekitarnya, yang implikasinya seluruh keputusan Mubes tersebut harus ditolak.

Sebagai salah seorang Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dan Sekitarnya, yang bersifat kolektif dan tak terpisah, Bona secara sah dan meyakinkan telah melanggar Pasal 2, 12, 13 AD dan Pasal 3 ayat 1, Pasal 6 ayat 1, dan Pasal 7 ayat 1 ART PSSSI&B Jakarta Raya dan Sekitarnya.

Tindakan pribadi Bona, dinilai telah menunjukkan ketikakjujuran, kebohongan, ketidak pedulian serta tidak manat mardongan tubu, terhadap Pengurus, Dewan Penasehat, Pengurus Wilayah dan Natua-tua Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru dan sangat menyakiti serta melukai perasaan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru yang dipimpinnya.

Dengan dasar untuk menjaga persatuan di antara keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru di Jakarta Raya dan Sekitarnya, agar tetap terpelihara dan agar kepengurusan PSSSI&B Jaya dan Sekitarnya bisa berjalan secara baik dan harmonis sampai akhir periode kepengurusan sekarang, pengurus PSSSI&B Jakarta Raya Dsk, merelease Mosi Tidak Percaya Terhadap Kepemimpinan Ir. Bona Simanjuntak, yang ditujukan kepada Dewan Penasehat Pusat/Natua-tua Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru; Anggota PSSSI&B Jakarta Raya dan Sekitarnya di masing-masing wilayah dan kepada Ir. Bona Simanjuntak sendiri untuk diketahuinya.

“Jika dengan Mosi Tidak Percaya inipun Saudara Bona tidak bergeming, tentu sangat mungkin diambil langkah lebih tegas lewat mekanisme organisasi sesuai dengan AD/ART PSSSI&B Jakarta Raya dan Sekitarnya. Kita lihat saja nanti!”, tegas Sabungan. Hit

SAYA MENGGUGAT PENGURUS PSSSI/B KOTA MEDAN

Setelah pertemuan yang menamakan diri “Mubes PSSSI/B se Indonesia” yang diselenggarakan oleh beberapa anggota bermarga Simanjuntak a.l. : Ir Bona Simanjuntak (Ketum PSSSI&B Jakarta dsk), Ir Hiskia Simanjuntak, Gito Simanjuntak, Raymond Simanjuntak (Anggota PSSSI/B Kota Medan) dll, yang berakhir  tanggal 3 September yang lalu. Dan setelah melihat sejak selesainya “mubes” tersebut reaksi pengurus PSSSI/B kota Medan, sampai hari ini tanggal 14 September 2011, tidak terdengar ada, maka saya menggugat pengurus itu agar membuat reaksi.

Karena pernyataan sikap yang pernah dibuat secara tertulis oleh Pengurus PSSSI/B Kota Medan, adalah reaksi menolak “mubes” itu dan meminta ditunda. Reaksi itupun tidak dipublikasikan agar seluruh anggota PSSSI/B di semua sektor-sektor Kota Medan mengetahui, karena iklan yang pernah dijanjikan akan dibuat dan ditegaskan pada hari Sabtu, 27 Augustus 2011, akan disiarkan di surat kabar a.l. :  Harian SIB, 29 Augustus Hari Senin, ternyata tidak ada.

Saya langsung menanya kepada Ketua PSSSI&B Kota Medan, Ir.  Alidin Simanjuntak, “mana kontra iklannya?” di SIB seperti yang dijanjikan, ternyata sang ketua hanya menjawab “saya sudah bercakap-cakap/manghatai dohot pengurus dan semua tidak setuju buat iklan di Koran”. Saya menjadi sangat jengkel. Karena tanggal 27 Augustus 2011, dikatakan akan terbit di SIB, Hari Senin, 29 ternyata bohong.

Katanya “manghatai dohot pengurus”, ternyata juga tidak benar. Karena “manghatai” dengan pengurus berbeda sekali dengan “rapat” dengan pengurus. Kapan mereka rapat memutuskan tidak jadi membuat iklan? Sungguh mengecewakan. Ternyata sekarang PSSSI/B se Jakarta Raya dan sekitarnya telah menindak Ir Bona sebagai Ketua Umum di kota itu dengan mosi tidak Percaya sebagai Ketua Umum. Bagaimana dengan Medan? Apakah pengurus kota Medan tidak akan menindak anggotanya yang ikut dalam “Mubes” itu yang tidak punya “mandat PSSSI/B Kota Medan” sebagai utusan? Kan, mereka anggota sektor-sektor PSSSI&B Kota Medan? Kok didiamkan saja?

Kalau tidak ditindak berarti Ketum PSSSI/B Kota Medan tidak berwibawa, karena anggotanya tidak minta izin dan restu untuk mengikuti mubes itu kepadanya. Yang paling menyedihkan, sudah 10 hari “Mubes” itu ditutup oleh Bona cs, tetapi reaksi penolakan hasil Mubes tidak ada dari Pengurus kota Medan. Sementara PSSSI Jakarta dsk sudah memosi tidak percayakan Ketua Umumnya Ir. Bona Simanjuntak.  Lalu Medan sebagai “bolahan amak” diam-diam saja tanpa reaksi keras. Padahal  hampir 90% “panitia mubes” itu adalah anggota PSSSI/B kota Medan. Dimana kewibawaan Pengurus? Apakah akan terus diam sementara anggota sudah banyak yang resah dan gelisah akibat ulah segelintir saudara semarga itu?

Saya sebagai anggota penasihat (kalau masih diakui) menggugat pengurus kenapa diam dan tak bereaksi? Ataukah sang Ketua Umum Ir. Alidin Simanjuntak, akan mengatakan “Nunga manghata-hatai ahu dohot dongan pengurus, dang adong na setuju bahenon reaksi?” Atau “Setuju do hami pengurus tu  hasil ni mubes i!”.

Kalau pengurus diam terus maka kedua dugaan tersebut di atas akan muncul dan berkembang. Jangan-jangan kita anggota-anggota PSSSI/B Medan akan melakukan aksi meniru seperti memosi tidak percayakan Ir. Bona sebagai Ketum Jkt dsk. Saya anjurkan tolong bereaksi keraslah. Buatlah gerakan mengundang semua Pengurus Sektor, semua Korwil, semua Penasehat untuk rapat membuat perlawanan kepada “Hasil Mubes” itu. Dan, publikasikan di Media Pers supaya seluruh anggota PSSSI/B mengetahui. Buatlah juga pemberitahuan kepada Gubernur Sumut dan seluruh instansi bahwa pengurus yang dihasilkan mubes itu tidak diakui dan tidak syah dan supaya tidak dilayani sebagai organisasi.

Karena marga Simanjuntak tidak mengenal struktur kepengurusan yang hierarkhisnya persis seperti Partai Politik atau setidaknya seperti Ormas. Organisasi marga Simanjuntak adalah organisasi kekeluargaan berdasar hubungan darah bukan ideologi politik. Saya harap pengurus terutama Ketum, memperhatikan seruan ini, kalau masih berkeinginan diakui kepengurusannya. Terimakasih.

Saya yang menggugat,

 Prof. DR. Bugaran Antonius Simanjuntak, MA (Mardaup No. 14)

Pernyataan Sikap PSSSIB Jakarta & Sekitarnya Terhadap Hasil Mubes di Medan

TOLAK SEMUA HASIL APA YANG DISEBUT MUBES PSSSI&B SE INDONESIA YANG DISELENGGARAKAN PADA TANGGAL 2-3 SEPTEMBER DI MEDAN.

SIKAP PENGURUS PSSSI&B JAKARTA RAYA DSK TERHADAP MUBES DI MEDAN

 

Kami yang bertanda tangan di bawah ini, Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dsk menyatakan Sikap terhadap apa yang dinamakan keputusan Musyawarah Besar PSSSI&B se Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 2-3 September di Grand Angkasa International Hotel di Medan. Mempertimbangkan keputusan-keputusan yang diambil oleh apa yang dinamakan Mubes PSSSI&B se Indonesia, Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dsk, perlu mengeluarkan Sikap. Pernyataan Sikap ini merupakan tindaklanjut  dari  Pernyataan Sikap PSSSI&B Jakarta Raya dsk pada tanggal 7 Agustus 2011 yang meminta agar Panitia Pelaksanana menunda penyelenggaraan Mubes demi Persatuan dan Kesatuan PSSSI&B di seluruh Indonesia. (Pernyataan Sikap terlampir)

Alasan Pernyataan Sikap

 

  1. Pernyataan Sikap ini menyalurkan aspirasi dari anggota PSSSI&B Jakarta Raya dsk yang semenjak didirikan dan sampai sekarang adalah Organisasi Paguyuban marga yang mandiri dan berdiri sendiri, tidak terikat kepada satu PSSSI&B sebagai Organisasi Induk.
  2. Perlakuan diskriminatif yang sengaja dilakukan oleh Panitia Pelaksana Mubes, terutama oleh Ir. Bona Simanjuntak, sebagai Ketua Umum PSSSI&B Jakarta Raya dsk, yang didaulat menjadi Ketua Umum Panitia Pelaksana Mubes kepada PSSSI&B Jakarta Raya dsk, sangat menyakiti dan melukai perasaan anggota, baik sebagai Pengurus, Dewan Penasehat, Pengurus Wilayah dan Natua-tua Simanjuntak Sitolu Sada Ina dohot Boru di Jakarta Raya dsk.
  3. Bahwa apa yang dinamakan Panitia Pelaksana Mubes PSSSI&B se Indonesia secara tidak sah dan illegal telah berani mengatasnamakan PSSSI&B di seluruh Indonesia padahal mayoritas  Pengurus PSSSI&B dari seluruh Indonesia tidak setuju Mubes.
  4. Bahwa landasan hukum dan landasan organisasitoris pembentukan Panitia Pelaksana Mubes PSSSI&B se Indonesia  adalah hasil rekayasa beberapa orang untuk mencapai ambisi ambisi perorangan, sangat  bertentangan dengan prinsip organisasi PSSSI&B yang mandiri dan berdikari,  yaitu bahwa yang menamakan diri Panitia Pelaksana  Mubes  PSSSI&B se Indonesia bukan atas  persetujuan mayoritas pengurus PSSSI&B di seluruh Indonesia.
  5. Orang orang yang menamakan dirinya Pantia Pelaksana apa yang dinamakan Mubes PSSSI&B se Indonesia  telah menipu Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru, dengan  me-rekayasa Surat Keputusan Pengangkatan Panitia Pelaksana Mubes, dari satu PSSSI&B yang sengaja diakui sebagai PSSSI&B Pusat (se dunia)  yang di dalam kehidupan organisasi PSSSI&B sama sekali tidak ada dan tidak dikenal.
  6. PSSSI&B Jakarta Raya dsk salah satu dari PSSSI&B di seluruh Indonesia, tidak tahu menahu tentang Panitia Pelaksana dan adanya rencana mubes. Inilah salah satu alasan mengapa PSSSI&B Jakarta Raya dsk meminta Mubes di tunda agar diberi kesempatan untuk membicarakan, mendiskusikan dengan Pengurus, Dewan Penasehat, Pengurus Wilayah  dan Natua tua Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru di Jakarta Raya dsk. Permintaan ini samasekali tidak ditanggapi oleh apa yang dinamakan Panitia Pelaksana Mubes termasuk oleh Ir. Bona Simanjuntak, sebagai Ketua Umum PSSSI&B Jakarta Raya dsk, yang didaulat sebagai Ketua Umum Panitia Pelaksana Mubes PSSSI&B se Indonesia tersebut.
  7. PSSSI&B adalah organisasi paguyuban Marga salah satu yang terbesar yang mempunyai anggota diatas puluhan ribu kepala keluarga. Mubes PSSSI&B se Indonesia yang dihadiri  kurang lebih 140 orang, kebanyakan diundang secara perorangan atas per-temanan  dan pilih kasih (like and dislike), bukti nyata betapa menipu-nya Panitia Pelaksana Mubes yang tidak didukung oleh mayoritas anggota PSSSI&B diseluruh Indonesia.

 

Mempertimbangkan alasan-alasan tersebut diatas, Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dsk menyatakan Sikap:

    1. PSSSI&B Jakarta Raya dsk adalah tetap organisasi Persatuan (Parsadaan)  Simanjuntak Sitolu Sada Ina dohot Boru yang mandiri dan berdiri-sendiri, tidak terikat kepada  apa yang dinamakan organisasi Pusat atau pun apa yang dinamakan PSSSI&B se Indonesia, termasuk tidak terikat kepada PSSSI&B Pusat Balige DPP Mangantar Simanjuntak (O. Pati);
    2. PSSSI&B Jakarta Raya dsk tidak ikut bertanggungjawab terhadap perpecahan yang sudah timbul di kalangan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru, akibat pelaksanaan apa yang dinamakan Mubes PSSSI&B se Indonesia. PSSSI&B Jakarta Raya dsk akan mengambil tindakan tegas terhadap siapapun demi mempertahankan persatuan dan kesatuan Simanjuntak Sitolu Sada Ina.
    3. Tidak mengakui dan menolak semua Keputusan-keputusan yang diambil  pada apa yang dinamakan Mubes PSSSI&B se Indonesia di Medan tanggal 2-3 September 2011;
    4. Semua Panitia Pelaksana Mubes sebagai kolektiv maupun sebagai perorangan harus dituntut secara hukum, karena perbuatan dan tindakan mereka telah menimbulkan  perpecahan di antara Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru, khususnya di Jakarta, Medan dan di tempat lain di seluruh Indonesia;
    5. Mangantar Simanjuntak (O. Pati) yang menamakan dirinya ketua PSSSI&B Pusat Balige turut dituntut sebagai salah seorang yang bertanggung jawab atas terjadinya perpecahan di kalangan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru di seluruh Indonesia. Ikut bersekongkol dengan apa yang dinamakan Panitia Pelaksana Mubes PSSSI&B se Indonesia. Secara sepihak dan tidak punya landasan hukum/organiasi  berani mengeluarkan Surat Keputusan Pengangkatan Panitia Mubes dan DPW Sumut, awal perpecahan di kalangan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru;
    6. Ir. Bona Simanjuntak, sebagai Ketua Umum Panitia Pelaksana Mubes PSSSI&B se Indonesia harus mempertanggungjawabkan seluruh tindakannya kepada seluruh anggota PSSSI&B di seluruh Indonesia, secara khusus kepada anggota PSSSI&B Jakarta Raya dsk, yang telah menimbulkan perpecahan  di kalangan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru,  mengabaikan prinsip-prinsip organisasi dan tidak manat mardongan tubu. Pajolo gogo, papudi uhum, si suan bulu di lapangan-lapangan  ni babi, si ulahon na so uhum, si ulahon na so jadi, si togu sabuk tu pudi;
    7. Kepada seluruh Pengurus PSSSI&B di seluruh Indonesia, kami himbau agar tetap mempertahankan Persatuan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru sebagai tona dari Ompunta. Menentang setiap langkah yang sengaja dan sadar melakukan  tindakan yang memecahbelah persatuan dan kesatuan. Menentang usaha usaha apa yang dinamakan Panitia Pelaksana Mubes dan semua keputusan Mubes PSSSI&B se Indonesia yang:
      1. Membentuk PSSSI&B se Indonesia satu bentuk Organisasi yang sudah tidak dilandasi dengan semangat Tona dari Ompunta Sobosihon boru Sihotang  “Sisada lulu, Sisada lungun, Sisada las ni roha”;
      2.  Membentuk struktur organisasi PSSSI&B sebagai Organisasi Massa yang samasekali sudah bertentangan dengan prinsip prinsip organisasi Parsadaan yang diciptakan oleh keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina;
      3.  Membentuk Struktur Parsadaan sebagai kendaraan untuk mencapai ambisi-ambisi pribadi yang sangat egoistis dari apa yang dinamakan Panitia Pelaksana, membawa PSSSI&B ke politik praktis yang membahayakan eksistensinya sebagai wadah perkumpulan bagi seluruh keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dohot Boru.
    8.  Kepada anggota PSSSI&B Jakarta Raya dsk, tetap mengutamakan persatuan, mencegah perpecahan. Secara bersama-sama mengambil tindakan serius tehadap  usaha yang telah memecahbelah  persatuan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru. Janganlah gara-gara tindak tanduk dan ambisisi seseorang maupun beberapa orang anggota PSSSI&B Jakarta Raya dsk merusak persatuan dan kesatuan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dohot Boru yang telah kita bina selama ini. Ini adalah fakta yang harus disadari.

 

Jakarta, 5 September 2011

Pengurus Harian PSSSI&B Jakarta Raya dsk

Kami yang bertandatangan

 

 

DR. Nelson Simanjuntak, SH, MSi         

Ketua II PSSSI&B Jakarta Raya dsk

 

Binton Simanjuntak

Ketua III PSSSI&B Jakarta Raya dsk

 

Sabungan H Simanjuntak

Sekretaris Umum PSSSI&B Jakarta Raya dsk

 

St. Drs. Abidan Simanjuntak

Sekretaris I PSSSI&B Jakarta Raya dsk

 

Ir. Mulana Sibuea

Bendahara Umum PSSSI&B Jakarta Raya dsk

 

Efendi Lbn Tobing, BSc  

Bendahara II PSSSI&B Jakarta Raya dsk.

Apa Yang Kau Cari Palupi?

Cerita yang menarik dan berkesan.

Pertanyaan itu pula yang terbersit dalam benak saya untuk seseorang. Sebut saja Palupi. Kenalan saya, sudah sepuh, kalau mungkin kita samakan dengan lagunya Sawung Jabo, Pak Tua. Saya ingin sekali memperdengarkan lagu ini kepadanya. Kau sudah berumur dan sudah memasuki masa pensiun, but… kelakuanmu itu … sangat membuat saya galau.Menurut saya, seharusnya di usiamu yang sudah sepuh ini, cukuplah sudah kau kurangi atau kalau mungkin menghentikan sepak terjangmu yang tanpa kau sadari sering sangat melukai orang banyak. Ketika orang hendak berurusan, kau tak ada, ketika kau ada, tak semudah perkiraan untuk menemuimu. Banyak alasan darimu untuk menghindar dan memberikan kesan yang ekslusif kepada orang yang akan menemuimu, even orang tersebut sudah berhari-hari mencarimu. Saya terkadang menangis dalam hati melihat caramu menerima tamu, sungguh sangat melukai hati.

Maaf, bukan maksud saya menghakimimu Palupi, pastinya saya hanya dapat menuliskan ini dengan harapan kau dapat tersadar ketika membacanya, hanya harapan saya. Atau kau akan terbakar emosimu, seperti biasanya, yah.. terserahlah. Pastinya kalau kau marah dan terkungkung emosimu, maka akan semakin banyak energimu terkuras hanya untuk mengumbar kerakusanmu.

Disadur dari: http://inyomanrudi.blogspot.com/

Mubes PSSSIB 2-3 Sept 2011 Tanpa Keturunan Raja Mardaup?

 Di dia anak buhabaju ni Sobosihon br Sihotang?

Pelaksanaan MUBES PSSSIB 2-3 September 2011 yang diadakan di Hotel Grand Angkasa Medan ternyata menuai banyak persoalan dan perdebatan, seperti  yang dikawatirkan oleh banyak kalangan dari Simanjuntak-Simanjuntak yang menginginkan adanya persatuan dan kesatuan keturunan Sobosihon br Sihotang.

Sebelumnya telah banyak himbauan dari beberapa pengurus wilayah PSSSIB agar pelaksanaan MUBES ini ditunda dan dimusyawarahkan serta disosialisasikan dengan baik, antara lain PSSSIB Medan, Jakarta, Surabaya, Palembang dll. Tetapi panitia penyelenggara MUBES ini tetap memaksakan agar MUBES dilaksanakan.

Sejak hari pertama pelaksanaan MUBES ini sudah banyak terlihat kejanggalan-kejanggalan antara lain dimana Pengurus Pusat  Generasi Muda Simanjuntak Sitolu Sada Ina Boru Bere Ibebere (GM-SSSIBBI) dan beberapa anggotanya yang menginginkan untuk mengikuti MUBES ini tidak diperbolehkan masuk ke ruang sidang oleh Panitia MUBES dengan alasan bukan sebagai peserta yang diundang oleh panitia dan tidak dapat menunjukkan surat delegasi dari pengurus PSSSIB setempat. Tetapi banyak diantara peserta yang masuk ke ruang sidang tidak membawa mandat atau surat delegasi dari PSSSIB setempat. Hal ini menunjukkan ada pilih kasih dan pengotakan terhadap  keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina.

MUBES PSSSIB yang  secara resmi dibuka oleh Bupati Toba Samosir Kasmin Simanjuntak ternyata tidak mengikutkan salah satu Keturunan Raja Mardaup, seperti terlihat dalam dokumen photo yang diliris oleh Harian Sinar Indonesia Baru (SIB) tgl 3 September 2011. Hal ini jelas membuktikan panitia penyelenggara MUBES tidak memegang prinsip “Manat Mardongan Tubu” dan Tona ni Ompunta Sobosihon br Sihotang, ingkon SISADA LULU, SISADA LUNGUN & SISADA LAS NI ROHA.

Saut Simanjuntak, SH, MH sebagai penggagas awal persiapan MUBES PSSSIB dan sebagai keturunan Raja Mardaup menyatakan keprihatinan dan duka cita yang sangat mendalam atas apa yang terjadi pada penyelenggaraan MUBES ini dimana tak satupun Keturunan Raja Mardaup yang turut membuka acara. Dan beliau juga mempertanyakan apakah na marhaha maranggi di antara Simanjuntak Sitolu Sada Ina sudah berubah? Sehingga Kasmin Simanjuntak  dari Hutabulu (H15) yang membuka acara?  Kenapa bukan dari unsur Penasehat PSSSIB? Apakah Mardaup sudah tidak dianggap sebagai sihahaan? Sungguh panitia penyelenggara tidak memegang prinsip “manat mardongan tubu”. Sebelumnya Saut Simanjuntak, SH, MH sudah menolak penunjukan dirinya sebagai bagian dari Panitia Mubes karena beliau mengganggap susunan panitia dan penyelenggaraan MUBES ini belum dimusyawarahkan dengan seluruh pengurus PSSSIB di Indonesia dan belum direncanakan dengan matang sehingga akan berpotensi   memicu perpecahan sesama Keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina.

Photo: Ir Hiskia Simanjuntak (Hutabulu 15), Mangantar Simanjuntak (Hutabulu 16), Kasmin Simanjuntak (Hutabulu 15), Ir Bona Simanjuntak (Sitombuk 15). Kemana keturunan Raja Mardaup?

Melihat situasi ini Ketua Umum Generasi Muda Simanjuntak Sitolu Sada Ina Fernando Simanjuntak, mengatakan: Panitia Penyelenggara dan Peserta Mubes memberikan contoh yang tidak baik terhadap generasi penerus PSSSIB   yaitu  tidak saling menghargai sesama na mardongan tubu. Fernando Simanjuntak, SH mengatakan Panitia Penyelenggara dan para peserta MUBES tidak menginginkan Generasi Penerus Simanjuntak Sitolu Sada Ina bisa mengikuti perkembangan PSSSIB. Seharusnya “natua-tua” ini memberikan kesempatan kepada para Generasi Muda Simanjuntak ikut dalam MUBES  ini supaya Generasi Penerus PSSSIB ini nantinya bisa lebih maju.  Fernando juga menilai panitia dan peserta MUBES ini adalah orang-orang yang tidak siap untuk di kritisi sehingga mereka mengabaikan pendapat-pendapat dongan tubu yang lain. Dimana panitia penyelenggara tidak membuka seluas-luasnya bagi para Simanjuntak yang lain untuk memberikan masukan-masukan agar MUBES ini tidak memicu perpecahan di tubuh PSSSIB.

Catatan Tentang Mubes PSSSIB di Medan

Oleh: Sabungan H. Simanjuntak

Sekretaris Umum PSSSI&B Jakarta Raya dsk.

 

A. PENDAHULUAN
Panitia Pelaksana Mubes se Indonesia akan menyelenggarakan Mubes PSSSI&B se Indonesia. Namanya Mubes PSSSI&B se Indonesia, tetapi banyak wilayah yang tidak ikut/tidak setuju Mubes tersebut. Menurut data dari situs internet, wilayah yang pasti tidak ikut al. Jakarta Raya, Surabaya, Palembang, Bengkulu, Samarinda, Kalbar, Batam, Jayapura dan Manokwari, Kisaran. Bahkan Sabam Simanjuntak, Tokoh/Natua tua, Ketua Tobasa di Balige, sampai menyerukan kepada PSSSI&B se Indonesia tidak layak menghadiri Mubes PSSSI&B se Indonesia di Medan yang diketuai oleh Ir Bona Simanjuntak.
Sesungguhnya apa tujuan menyelenggarakan Mubes PSSSI&B se Indonesia? Menurut dokumen Panitia Pelaksana, tujuan Mubes adalah untuk membentuk pengurus PSSSI&B se Indonesia.

B. TOPIK YANG DIBAHAS.
Dari tujuan Mubes saya garis bawahi dua hal:

  1. PSSSI&B se Indonesia;
  2. Membentuk Pengurus PSSSI&B se Indonesia.

I. APAKAH SUDAH ADA PSSSI&B SE INDONESIA?
PSSSI&B se Indonesia sebagai induk organisasi bagi PSSSI&B-PSSSI&B di seluruh Indonesia, dari sudut organisasi dan administrasi, dan sebagai hasil persetujuan dari semua PSSSI&B di seluruh Indonesia, secara faktual belum ada. Apabila mau membentuk Pengurus PSSSI&B se Indonesia, pertama-tama harus disetujui terlebih dahulu oleh paling tidak sebagian besar PSSSI&B di seluruh Indonesia perlu atau tidak membentuk wadah PSSSI&B se Indonesia.
Mengapa harus atas persetujuan PSSSI&B di seluruh Indonesia? Karena:

  1. Membentuk PSSSI&B se Indonesia adalah masalah organisasi. Dimaksudkan PSSSI&B se Indonesia tersebut untuk meng-kordinir secara nasional (se Indonesia) seluruh PSSSI&B di seluruh Indonesia.
  2. PSSSI&B di seluruh Indonesia adalah pemangku kepentingan (stake holder) pada PSSSI&B se Indonesia;
  3.  Persetujuan tersebut melegitimasi konsekwensi organisasi dan administrasi, bahwa kedudukan PSSSI&B diseluruh Indonesia secara sukarela menjadi organisasi bawahan (cabang) dari PSSSI&B se Indonesia. Artinya, persetujuan tersebut harus merubah strukur organisasi masing-masing PSSSI&B dari yang selama ini mandiri dan berdikari, menjadi organisasi cabang (bawahan).
  4. Persetujuan tersebut memberi konsekwensi organisasi dan administrasi bagi PSSSI&B diseluruh Indonesia, tunduk dan patuh melaksanakan semua kebijakan/program nasional dari PSSSI&B se Indonesia.

Bisa di simpulkan, syarat utama pembentukan PSSSI&B se Indonesia adalah persetujuan/kesepakatan dari seluruh PSSSI&B (paling tidak sebagaian besar) di wilayah Indonesia. Tanpa persetujuan seperti itu, membentuk pengurus PSSSI&B se Indonesia seperti dimaksud oleh Mubes di Medan adalah sia-sia dan tak menguntungkan. Persetujuan/kesepakatan menjadi landasan hukum untuk memilih Pengurus PSSSI&B se Indonesia.

Membentuk Pengurus PSSSI&B se Indonesia seperti dimaksudkan oleh Panitia Mubes di Medan, patut diperjelas. (Baca: Tujuan Penyelenggaraan Mubes – Dokumen Panitia Mubes). Sebab Istilah membentuk pengurus PSSSI&B se Indonesia, tidak selalu mengandung arti memilih. Bisa saja Pengurus PSSSI&B se Indonesia ditetapkan oleh Panitia Mubes karena masih didalam konteks membentuk. Sama halnya dengan Panitia Mubes bukan dipilih, tetapi dibentuk dengan SK PSSSI&B Pusat, Balige. Padahal baik Panitia Mubes apalagi yang namanya pengurus PSSSI&B se Indonesia haruslah dipilih secara bebas. Artinya, setiap anggota PSSSI&B diseluruh Indonesia mempunyai hak dipilih dan memilih.

Syarat membentuk PSSSI&B se Indonesia harus berpedoman:

  1. Apakah memperkuat persatuan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru;
  2. Apakah sudah mendesak;
  3. Apakah bermanfaat bagi PSSSI&B di seluruh Indonesia.

Dari ketiga syarat ini yang paling utama adalah persatuan. Sebab hakikat dari PSSSI&B adalah Persatuan (Parsadaan) keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru (pomparan ni Sobosihon br Sihotang). Siapapun yang mengusulkan gagasan apabila ternyata tidak menguntungkan kepada Persatuan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dohot Boruna, harus ditolak. Setiap gagasan atau rencana yang diusulkan menjadi program nasional, harus selalu disesuaikan dengan tingkat kesadaran (situasi dan kondisi) Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru diseluruh Indonesia.
Apabila ke tiga syarat untuk membentuk Wadah Organisasi dianggap sudah terpenuhi dan sudah disetujui, langkah berikutnya adalah menetapkan satu sistem (aturan main) yang jelas, yaitu Rancangan AD/ART yang disepakati secara bersama oleh PSSSI&B di seluruh Indonesia.

 

II. MEMBENTUK PENGURUS PSSSI&B SE INDONESIA.
Tujuan Penyelenggaraan Mubes PSSSI&B se Indonesia di Medan untuk membentuk Pengurus PSSSI&B se Indonesia, saya anggap langkah yang bertentangan dengan fakta. Tak mungkin membentuk Pengurus PSSSI&B se Indonesia, sebab faktanya wadah PSSSI&B se Indonesia belum disetujui.

Mangantar Simanjuntak (Ompu Palti), ketua PSSSI&B Pusat, Balige Bonapasogit menyuguhkan satu keadaan yang mengenaskan kepada PSSSI&B dengan mengatakan bahwa: “namun sampai saat ini belum pernah ada rapat ataupun musyawarah untuk membentuk Pengurus PSSSI&B secara nasional maupun regional, sehingga secara organisasi tidak ada hubungan antara PSSSI&B disatu daerah dengan PSSSI&B di daerah lainnya” (Dikutip dari: Rencana Mubes PSSSI&B se Indonesia – Dokumen Pantia Mubes). Sayang, Mangantar Simanjuntak tidak menyebutkan sebabnya mengapa kurang lebih 50 tahun belum pernah dibentuk Pengurusnya.
Keterangan ini jelas menunjukkan bahwa sudah ada PSSSI&B se Indonesia, cuma tidak berfungsi, karena belum pernah dibentuk pengurusnya. Begitulah yang bisa dimaknai dari keterangan tersebut. Pihak lain beranggapan bahwa PSSSI&B se Indonesia tidak ada dengan argumen sesuai fakta selama ini, bahwa PSSSI&B adalah organisasi yang mandiri dan berdikari, tidak ada ikatan organisasi maupun administrasi kepada salah satu PSSSI&B sebagai organisasi induk. Kalau memang betul sudah sejak dari dulu ada PSSSI&B se Indonesia, pertanyaannya adalah dimana dan kapan dibentuk?

Menurut saya langkah pertama yang mesti ditempuh sebelum Mubes adalah meminta Persetujuan dari seluruh PSSSI&B di seluruh Indonesia untuk membentuk (wadah) PSSSI&B se Indonesia. Legalitas Panitia Pelaksana Mubes adalah persetujuan dari pengurus PSSSI&B dari seluruh Indonesia (paling tidak sebahagian besar, sesuai Data Base), bukan diangkat dengan SK Pengangkatan oleh satu Pengurus PSSSI&B yang secara organisatoris dan administrasi tidak bisa mengatasnamakan seluruh pengurus PSSSI&B di seluruh Indonesia. Persetujuan seluruh PSSSI&B se Indonesia harus dituangkan didalam satu kesepakatan tertulis, semacam MOU. MOU disosialisasikan ke seluruh pengurus-pengurus PSSSI&B di seluruh Indonesia.

C. MENGAPA RENCAMA MUBES DI MEDAN MENDAPAT BANYAK TANTANGAN?
Sebab utamanya adalah:

  1.   Wacana Mubes kurang Sosialisasi
  •  Wacana yang muncul bukan membentuk wadah PSSSI&B se Indonesia, tetapi langsung membentuk Pengurus PSSSI&B se Indonesia;
  •  Penyelenggaraan Mubes tidak maksimal disosialisasikan ke seluruh Pengurus PSSSI&B di seluruh Indonesia (paling tidak kepada sebagian besar PSSSI&B diseluruh Indonesia), termasuk kepada PSSSI&B Jakarta Raya dsk;
  • Pertemuan untuk membentuk Panitia Persiapan di Sidikalang tidak mengundang paling tidak sebagian besar Pengurus PSSSI&B dari seluruh Indonesia. Dari susunan Panitia Persiapan yang didominasi oleh Pengurus PSSSI&B Kota Medan, menunjukkan ketidak seriusan didalam membentuk Panitia Persiapan.
  •  Latar belakang pergantian Panitia Persiapan Mubes, nampak direkayasa

Dari dokumen Rencana Mubes PSSSI&B se Indonesia 9 April 2011, yang dibuat oleh Mangantar Simanjuntak dapat dicatat:

  • Berita disitus internet tanggal 27 Februari 2011 ada beberapa orang anggota Panitia Persiapan Mubes PSSSI&B se Indonesia merencanakan membentuk Panitia Mubes diluar pengetahuan Pengurus PSSSI&B”. Dilampiran Dokumen Panitia Pelaksana Mubes disebut “bahwa GM-SSSI&B, siap menjadi pelaksana Mubes jika di minta”. Itulah berita di situs internet.
  • Tangal 5 Maret 2011 (kurang lebih 1 minggu setelah GM SSSI&B menyatakan siap jadi pelaksana mubes jika di minta), St. Ir. Hizkia Simanjuntak secara kebetulan (istilah kebetulan dapat diartikan: sebelumnya belum pernah kenal, atau pertemuan itu tidak disengaja) bertemu dengan Ir Bona Simanjuntak, Ketua Umum PSSSI&B Jakarta Raya dsk. St. Ir. Hizkia Simanjuntak menceritakan kepada Ir. Bona Simanjuntak tentang berita di internet tersebut. Pertanyaannya: Apa hubungan Ir. Bona Simanjuntak dengan berita di internet sehingga St. Ir. Hizkia Simanjuntak merasa perlu menceritakan berita di situs internet tersebut pada petemuan yang tidak disengaja?
  • Setelah pertemuan yang kebetulan tersebut, koq tiba tiba ada kepentingan bersama antara St. Ir. Hizkia Simanjuntak, sang Ketua Umum DPW Sumatera Utara, dengan Ir. Bona Simanjuntak, Ketua Umum PSSSI&B Jakarta Raya dsk, harus segera pergi ke Balige, menemui Mangantar Simanjuntak, pemberi SK Pengangkatan Panitia Persiapan tanggal 25 Juli 2011.
  • Hasil pertemuan tanggal 7 Maret 2011 di Balige, antara St. Ir. Hizkia Simanjuntak, Ir. Bona Simanjuntak dengan Mangantar Simanjuntak (sebanyak 7 orang) ternyata memutuskan lain. Yaitu mengadakan rapat secepatnya dengan mengundang Pengurus PSSSI&B seluruh Indonesia. Rapat dirancang untuk meminta pertanggunganjawab Panitia Persiapan Mubes yang secara resmi dibentuk tanggal 25 Juli 2011 di Sidikalang. Pertanyaannya: Ada urusan apa Ir. Bona Simanjuntak ikut meminta pertanggungjawaban Panitia Persiapan Mubes, mengingat ia sendiri tidak ikut menjadi anggota Panitia Persiapan Mubes yang dibentuk di Sidikalang?
  • Katanya, pada Rapat yang dirancang akan mengundang Pengurus PSSSI&B dari seluruh Indonesia. Tidak ada undangan untuk PSSSI&B Jakarta Raya dsk.
  • Pada rapat tanggl 9 April 2011 di hotel Emerald Medan, yang dibicarakan adalah pertanggung- jawaban Panitia Persiapan yang belum menunjukkan langkah langkah kongkrit untuk terselenggaranya Mubes. Padahal awal cerita, mengapa St. Ir. Hizkia Simanjuntak dan Ir. Bona Simanjuntak harus segera ke Balige menemui Mangantar Simanjuntak adalah karena ada berita di internet tersebut.

Akhir dari semua cerita itu nampak jelas dari Keputusan Rapat tanggal 9 April 2011, yaitu :

  1. SK Panitia Persiapan Mubes PSSSI&B yang diterbitkan tanggal 25 Juli 2009, sejak hari ini (sejak tanggal 9 April 2011) dinyatakan tidak berlaku lagi. Artinya, Panitia Persiapan dibubarkan!
  2. Pada hari itu juga dibentuklah panitia baru dan disebut Panitia Pelaksana Mubes. Tugasnya, membentuk Pengurus PSSSI&B se Indonesia, dengan “mendaulat” Ir. Bona Simanjuntak sebagai Ketua Umumnya. Semula, Panitia Persiapan Mubes menjadi Panitia Pelaksana Mubes membentuk pengurus PSSSI&B se Indonesia.
  3. SK Pengangkatan Panitia Pelaksana Mubes di tetapkan di Balige, tanggal 9 April 2011, padahal Mangantar Simanjuntak pada tanggal 9 April 2011 itu masih memimpin Rapat di Hotel Emerald Medan.
  4.  SK Pengangkatan Panitia Pelaksana ditembuskan juga kepada Pengurus Cabang PSSSI&B se-Dunia.Karena SK Pengangkatan Panitia Pelaksana Mubes ditandatangani oleh Mangantar Simanjuntak, ketua PSSSI&B Pusat, Balige, Bonapasogit, ditembuskan kepada Pengurus cabang PSSSI&B se-Dunia, dengan sendirinya Mangantar Simanjuntak otomatis jadi ketua PSSSI&B se-Dunia.    Pertanyaannya:
  • Apa memang sudah ada PSSSI&B se-dunia yang mempunyai cabang-cabang?
  • PSSSI&B mana saja diseluruh Indonesia yang sudah menjadi Cabang PSSSI&B se-Dunia? PSSSI&B Jakarta Raya dsk tidak pernah menjadi Cabang PSSSI&B se-Dunia, dan mungkin oleh karena itu tidak pernah diundang oleh Mangantar Simanjuntak.

3. Masalah kebasahan SK Pengangkatan Panitia Mubes.
Pengangkatan Panitia Pelaksana Mubes di tetapkan oleh satu organisasi PSSSI&B yang secara organisasi perlu dipertanyakan.
Mengapa?

 

  • Didalam Dokumen Rencana Mubes PSSSI&B Se Indonesia, ditandatangani oleh Mangantar Simanjuntak, ketua PSSSI&B Pusat Balige-Bonapasogit tanggal 9 April 2011 dikatakan (dikutip): “Namun sampai saat ini belum pernah ada rapat ataupun musyawarah untuk membentuk Pengurus PSSSI&B secara nasional maupun regional, sehingga secara organisasi tidak ada hubungan antara PSSSI&B disatu daerah dengan PSSSI&B di daerah lainnya”.
  • Dari kutipan diatas jelas menunjukkan bahwa secara organisasi memang tidak ada hubungan antara PSSSI&B disatu daerah dengan PSSSI&B di daerah lainnya, termasuk dengan PSSSI&B Pusat, Balige-Bonapasogit. Pengangkatan Panitia Pelaksana Mubes PSSSI&B se Indonesia dengan Surat Keputusan yang ditandatangani Mangantar Simanjutak, ketua PSSSI&B Pusat Balige-Bonapasogit, menurut saya, tidak mempunyai landasan hukum. PSSSI&B Pusat Balige-Bonapasogit, bagi PSSSI&B Jakarta Raya dsk, dan mungkin juga bagi PSSSI&B yang lain di seluruh Indonesia, bukan dalam kapasitas mereka Pusat, Jakarta dan yang lain lain bawahan (cabang).
  • Surat Keputusan Pengurus Bona Pasogit PSSSI&B No. 9/PP/IV/2011 mengandung kelemahan yaitu: SK (Mangantar Simanjuntak) samasekali tidak menyebutkan kepada siapa Panitia Mubes mempertanggungjawakan seluruh pekerjaannya? Tidak adanya klausul yang memerintahkan Panitia Mubes harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya, memberi keleluasaan yang sebebas-bebasnya kepada Panitia Mubes, dan Mangantar Simanjuntak, pemberi SK, menjadi kehilangan kontrol terhadap pekerjaan Panitia Mubes.

4. Perbedaan pendapat antara Pengurus PSSSI&B kota Medan dengan DPW PSSSI&B Sumatera Utara menunjukkan gejala perpecahan di kota Medan, khususnya dikalangan anggota PSSSI&B.

Dari Dokumen Rencana Mubes PSSSI&B se Indonesia dikatakan (dikutip):
“Untuk mendukung terlaksananya Mubes PSSSI&B se Indonesia tersebut, dibentuklah PSSSI&B Wilayah Sumatera Utara yang dideklarasikan tanggal 30 April 2010 dengan Ketua St. Ir. Hizkia Simanjuntak yang dilantik oleh Mangantar Simanjuntak selaku ketua PSSSI&B Pusat Bona pasogit, Balige”. Dari kutipan kalimat ini saya garisbawahi tiga hal yaitu: 1. Untuk mendukung, 2. Deklarasi, 3. Dilantik

  • Ternyata DPW PSSSI&B Sumatera Utara dibentuk hanya untuk mendukung terlaksananya Mubes. Bukan merupakan tuntutan atau hasil persetujuan dari semua pengurus PSSSI&B se Sumatera Utara.
  • DPW Sumatera Utara dibentuk dengan deklarasi. Karena pembentukannya secara deklarasi diangkatlah St. Ir. Hizkia Simanjuntak sebagai Ketua Umum nya, bukan atas pemilihan oleh pengurus-pengurus PSSSI&B se Sumatera Utara. Lagi lagi, persoalannya sama dengan pembentukan Panitia Mubes, bukan atas persetujuan dari seluruh pengurus PSSSI&B seluruh Indonesia. Pembentukan DPW Sumatera Utara dengan cara deklarasi merupakan satu preseden baru bagi pembentukan PSSSI&B dikemudian hari.
  • Menurut informasi dari Pengurus PSSSI&B Kota Medan, antara pengurus DPW Sumatera Utara (St. Ir. Hizkia Simanjutak) dengan GM (Generasi Muda-Medan) juga timbul hubungan yang tidak harmonis. Keadaan ini turut memperuncing keadaan di kota Medan.

5. Gejolak Mubes terjadi di PSSSI&B Jakarta Raya dsk
Rencana Mubes di Medan telah menimbulkan gejolak di intern PSSSI&B Jakarta Raya dsk karena:

  • Kehadiran Ir. Bona Simanjuntak, Ketua Umum PSSSI&B Jakarta Raya dsk, disemua kegiatan Panitia Mubes bukan atas Keputusan Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dsk.
  • Pengurus Harian PSSSI&B Jakarta Raya dsk (9 orang), sama sekali tidak tahu ada rencana Mubes di Medan dan samasekali belum pernah mendiskusikannya. Mengapa bisa begitu?
  • Ir. Bona Simanjuntak, Ketua Umum PSSSI&B Jakarta Raya dsk, memonopoli semua informasi tentang rencana mubes. Ir Bona Simanjuntak pernah mengatakan ada Surat (undangan?) dari Panitia Mubes, tapi tak pernah ditunjukkan, karenanya dan tak pernah didiskusikan.
    • Ir. Bona Simanjuntak, sebagai Ketua Umum, tidak transparan kepada Pengurus Harian PSSSI&B Jakarta Raya tentang rencana mubes, bahkan cenderung menutup nutupinya.
    • Ir. Bona Simanjuntak didaulat menjadi Ketua Umum Panitia Pelaksana Mubes pada Rapat tanggal 9 April di Medan, Pengurus dan anggota PSSSI&B Jakarta Raya dsk, mengetahui dari sms dan berita di media massa, bukan atas laporan Ir. Bona Simanjuntak sendiri. Artinya, Ir Bona Simanjuntak samasekali tidak pernah memberitahukan kepada Pengurus Harian bahwa dirinya telah didaulat menjadi ketua umum panitia pelaksana mubes PSSSI&B se Indonesia.
  • Pada saat Pengurus Harian mengundang Dewan Penasehat, Pengurus Wilayah dan Natua-tua untuk Pasadahon Lakka mangadopi Ulaon Pesta Bonataon Punguan Raja Sihotang se Jabodetabek, saat itu Ir. Bona Simanjuntak dan St. Bestman Simanjuntak ditanya mengenai kehadiran mereka pada Rapat Panitia Mubes di Hotel Emerald tanggal 9 April 2011, sesuai sms dan berita di Surat kabar. Mereka berdua tidak jujur menceritakan dan bahkan berdalih tidak sengaja hadir di rapat tersebut, karena kebetulan saja di Medan. Padahal St Bestman Simanjuntak berangkat ke Medan sebelumnya sudah diplot menjadi wakil Hutabulu di Presidium Rapat tersebut. Sejak saat itu mulai muncul ketidakpuasan kepada Ir. Bona Simanjuntak, karena peserta rapat merasa diperlakukan seperti anak kecil.
  • Rapat tanggal 1 Mei 2011 adalah rapat Pasadahon lakka mangadopi pesta Bonataon Punguan Raja Sihotang se jabodetabek. Bukan rapat khusus untuk mendengar/meminta penjelasan Ir. Bona Simanjuntak dan St. Bestman Simanjunak. Diakhir rapat ada peserta rapat dengan menunjukkan kliping Surat Kabar meminta penjelasan dari Ir. Bona Simanjuntak dan St. Bestman Simanjuntak.
  • Pada saat pertemuan tersebut peserta Rapat minta segera diadakan rapat khusus meminta penjelasan dari Ir. Bona Simanjuntak tentang rencana mubes, permintaan itupun tidak dipenuhi.
  • Panitia Pelaksana Mubes sebagai kesatuan kerja, pun samasekali tidak pernah mengirim undangan kepada Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dsk.
  • Menyikapi situasi yang semakin tidak kondunsif, dan rencana mubes kurang satu bulan lagi, Pengurus Harian (minus Ir. Bona Simanjuntak) mengadakan rapat khusus pada tanggal 7 Agustus 2011. Pengurus mengundang Dewan Penasehat, Pengurus Wilayah dan Natua tua. Pada rapat tersebut Pengurus memutuskan: PSSSI&B Jakarta Raya segera mengeluarkan Pernyataan Sikap minta rencana pelaksanaan Mubes ditunda.
  • Surat Pernyataan Sikap sengaja dikirim ke Panitia Pelaksana Mubes di Medan. Mengharap ada jawaban atau penjelasan dari Panitia Mubes. Namun, Panitia mubes sebagai kolektiv, samasekali tidak memperdulikan Surat Pernyataan Sikap tersebut. Pernyataan Sikap yang memuat antara lain memberitahukan bahwa Ir. Bona Simanjuntak hadir di kepanitiaan bukan atas mandat/bukan atas nama PSSSI&B Jakarta Raya dsk, melainkan atas nama pribadi. Pernyataan Sikap PSSSI&B Jakarta Raya dsk yang begitu penting/prinsip, juga di cuekin oleh Panitia Mubes. Kami menyimpulkan bahwa Panitia Mubes telah menganggap Pernyataan Sikap PSSSI&B yang ditandatangani oleh 40 orang, mengada-ada atau kebohongan dari Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dsk. Seharusnya Panitia Mubes lebih berkepentingan untuk menanyakan persoalan ini langsung kepada Ir. Bona Simanjuntak, karena kedudukannya sebagai ketua umum panitia pelaksana mubes sangat penting.
  • Pada tanggal 14 Agustus 2011, Ir. Bona Simanjuntak dengan membawa rombongan Panitia Mubes ke Jakarta melalui sms mengundang Pengurus, Dewan Penasehat, Pengurus Wilayah dan Natua tua agar hadir pada pertemuan sosialisasi rencana mubes. Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dsk memandang tidak perlu lagi diadakan Sosialisasi mubes, mengingat sudah dikeluarkan Pernyataan Sikap minta Mubes ditunda. Pernyataan Sikap sudah dikirim ke Panitia Mubes, kepada Dewan Penasehat dan Pengurus Wilayah untuk diketahui. Pengurus memutuskan tidak perlu menghadiri pertemuan Sosialisasi Mubes di Jakarta yang akan dilaksanakan oleh Ir Bona Simanjuntak bersama Panitia Mubes.
  • Pada tanggal 18 Agustus 2011, Dewan Penasehat memanggil Pengurus Harian, termasuk Ir. Bona Simanjuntak dan Natua tua membicarakan masalah Mubes. Setelah pendiskusian yang alot, Rapat memutuskan tetap dengan Pernyataan Sikap PSSSI&B Jakarta Raya dsk tanggal 7 Agustus 2011 dan menekankan PSSSI&B Jakarta Raya dsk DANG PARSIDOHOT DI MUBES PSSSI&B SE INDONEIA DI MEDAN.
  • Mangantar Simanjuntak, Ketua PSSSI&B Pusat, Balige, Bonapasogit bukannya berusaha mencari tau mengapa ada Pernyataan Sikap PSSSI&B Jakarta Raya minta mubes ditunda, justru sebaliknya ikut-ikutan mengeluarkan Surat mencela Sikap PSSSI&B Jakarta Raya dsk.

6. Peran PSSSI&B Pusat Balige-Bonapasogit.
Peran yang diperankan oleh PSSSI&B Pusat Balige, Bonapasogit sebagai Organisasi Induk (Pusat) melalui ketua nya Mangantar Simanjuntak (Ompu Palti) mengundang banyak pertanyaan.

  • Mengapa selama ini keberadaan PSSSI&B Pusat Balige Bonapasogit, yang dianggap sebagai Pusat, bahkan se-dunia gaungnya tidak pernah kedengaran? Tiba-tiba meng-geliat menunjukkan otoritasnya dengan mengeluarkan Surat Keputusan Pengangkatan Panitia Mubes dan mengesahkan terbentuknya DPW Sumatera Utara yang hanya didasarkan dengan deklarasi?
  • Peran PSSSI&B Pusat Balige yang masih debatacle telah sengaja di fungsikan oleh Panitia Mubes maupun oleh pengurus DPW Sumatera Utara dan menjadi senjata ampuh bagi Panitia Mubes dan DPW Sumatera Utara, membungkam setiap orang yang mempersoalkan landasan hukum pembentukan Panitia Mubes dan DPW Sumatera Utara.
  • Surat Pengangkatan St. Ir. Hizkia Simanjuntak, dkk, menjadi Pengurus DPW Sumatera Utara secara langsung ikut mempertajam perbedaan pendapat di Medan.
  • Apabila benar bahwa PSSSI&B Pusat Balige, Bonapasogit yang di ketua oleh Mangantar Simanjuntak adalah organisasi pusat bahkan se-dunia, seharusnya bersikap: – Pengayom/Pelindung bagi seluruh PSSSI&B di seluruh Indonesia, termasuk kepada PSSSI&B Jakarta Raya dsk yang sengaja di singkirkan oleh Panitia Mubes.
    – Mangantar Simanjuntak seharusnya arif dan bijaksana, secara pribadi harus merangkul semua pihak-pihak khususnya yang meminta mubes di tunda. Harus menempatkan dirinya diatas semua kepentingan, termasuk kepentingan Panitia Mubes. Tetapi, kenyataannya malah ikut bersama Panitia Mubes memusuhi yang meminta Mubes ditunda.
    – Mangantar Simanjuntak harus sadar bahwa secara organisasi, yang paling berkepentingan akan Rencana Penyelenggaraan Mubes PSSSI&B se Indonesia tersebut sesungguhnya adalah Mangantar Simanjuntak sendiri, bukan Panitia Pelaksana Mubes.
    – Apabila benar-benar yakin bahwa PSSSI&B Pusat Balige adalah organisasi Pusat, atau se-dunia, secara organisasi pula harus menunjukkan yang paling berkepentingan dan paling bertanggungjawab pada mubes adalah Mangantar Simanjuntak sendiri. Sedangkan Panitia Mubes sesuai SK Pengangkatannya tugasnya hanya melaksanakan Mubes.
    – Mangantar Simanjuntak, yang memposisikan dirinya sebagai ketua PSSSI&B Pusat Balige, pihak yang mengeluarkan SK Pengangkatan Panitia Pelaksana Mubes, didalam kenyataannya, membiarkan perbedaan pendapat semakin menonjol, dan justru sepenuhnya mengikuti kehendak Panitia Pelaksana Mubes.
    – Riwayat atau latar belakang muncul nya keinginan (ide) perlu menyelenggarakan Musyawarah adalah Mangantar Simanjuntak sendiri, yang mengeluhkan: “sejak Tugu Sobosihon Boru Sihotang diresmikan pada tahun 1962 (?)”; dan mengingat “bahwa kepengurusan PSSSI&B yang dibentuk tanggal 6 Juli 1969 hingga saat ini belum pernah diperbaharui”, seharusnya berperan aktiv merangkul semua PSSSI&B di seluruh Indonesia. Bukan malah ikut menyerang pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dsk, ketika mengirim surat himbauan agar pelaksanaan mubes di tunda. Yakinkan lah kami dengan perbuatan, bukan hanya dengan omongan, bahwa PSSSI&B Pusat Balige itu benar benar sebagai induk organisasi.

Peran yang diperankan oleh Mangantar Simanjuntak, dan jajarannya sebagai pengurus PSSSI&B Pusat, Balige, Bonapasogit, turut memusuhi PSSSI&B yang tidak setuju Mubes. Sikap dan tindakan mereka telah mempertajam perpecahan dikalangan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru. Oleh karena itu, PSSSI&B Jakarta Raya dsk, meng-apresiasi seruan Sabam Simanjuntak, Ketua Tobasa, salah seorang Natua tua yang perduli persatuan, tidak perlu hadir di mubes PSSSI&B se Indonesia yang diketuai oleh Ir Bona Simanjuntak.

D. JANGAN LUPAKAN SEJARAH BERDIRINYA PSSSI&B.
PODA NI OMPUNTA DOHOT ANGKA AMANTA NAUNG PARJOLO I
MANAT MARDONGAN TUBU

Menjawab pertanyaan seputar keberadaan PSSSI&B se Indonesia, tak ada salahnya menilik kembali ke sejarah bagaimana PSSSI&B didirikan oleh Natua-tua kita terdahulu.
Natua-tua dari Keturunan Raja Mardaup, Natua-tua dari keturunan Raja Sitombuk, Natua-tua dari keturunan Raja Hutabulu, melalui pertemuan yang berulang kali di Balige, akhirnya sepakat mendirikan satu satu nya wadah Perkumpulan bagi seluruh keturunan Sitolu Sada Ina dohot Boruna dan diberi nama PARSADAAN SIMANJUNTAK SITOLU SADA INA DOHOT BORU (PSSSI&B). Menurut pemahaman saya, bahwa ketika itu (pada tahun 1963) yang didirikan barulah wadah nya.
Kemudian, tak lama setelah pembentukan wadah tersebut, atau tepatnya, setelah selesai Pesta Adat Tambak/Tugu Sobosihon br Sihotang, keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina yang ada di Balige, yang kebetulan sebagian dari mereka adalah Panitia Pusat pesta Tambak/Tugu Sobosihon br Sihotang, membentuk PSSSI&B Balige, di Pusat pembentukan wadah PSSSI&B, dan juga mereka namakan Bonapasogit.
Pertama kali Ketua Umumnya adalah Raja Ulam (Ompu Dumohar Doli) Simanjuntak, yang juga Ketua Umum Panitia Pusat pesta Tambak/Tugu Sobosihon br Sihotang. Salah satu penasehatnya adalah S.M. Simanjuntak (Bupati KDH Tapanuli Utara, – waktu itu). Sulit dipahami apabila PSSSI&B Balige yang mereka bentuk sudah dimaksudkan menjadi PSSSI&B Pusat (Pusat bagi PSSSI&B diseluruh Indonesia) karena :

  1. PSSSI&B yang terbentuk satu satunya baru ada di Balige,
  2. Kwalitas para pendirinya, tidak diragukan lagi adalah orang-orang terpelajar yang mengerti masalah organisasi
  3. Dua karya besar dari keturunan Sobosihon Boru Sihotang (Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru)
  4. Tona Sobosihon Boru Sihotang diwujudkan oleh keturunannya dalam dua bentuk karya besar:
    Mendirikan Tambak/Tugu Sobosihon Boru Sihotang bersama ketiga anaknya (Raja Mardaup, Raja Sitombuk, Raja Hutabulu bersama parsondukbolon – isterinya) di Hutabulu, Balige.
    Sudah umum bahwa marga-marga Batak mendirikan Tambak/Tugu bagi leluhur mereka. Tetapi, mendirikan Tugu seperti yang dilakukan oleh Simanjuntak Sitolu Sada Ina dohot Boruna terhadap Sobosihon boru Sihotang mempunyai karakteristik tersendiri. Boleh dikatakan menyimpang dari kebiasaan/budaya masyarakat batak yang Patrialkal (garis keturunan menurut ayah). Keturunan Sobosihon boru Sihotang berani melangkah atas pemahaman keadaan faktual, setia melaksanakan tona sekalipun melawan kebiasaan, mendirikan tugu bagi Sobosihon Boru Sihotang sendiri, tanpa suaminya, menurut kebiasaan/budaya batak “tak pantas” dilakukan. Langkah yang “tak pantas” ini di pertanggungjawabkan secara adat di hadapan masyarakat Dalihan Natolu. Karya ini adalah karya monumental bagi seluruh keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dohot boruna.
  5. Membentuk satu satunya wadah berkumpul bagi seluruh keturunan Sobosihon Boru Sihotang, Simanjuntak Sitolu sada Ina dohot Boruna yaitu PARSADAAN.
    Inilah dua karya monumental yang dilakukan oleh Natua-tua kita terdahulu,yang patut diteladani, terlebih-lebih dizaman millenium penuh tantangan ini.

Mengapa Parsadaan, mengapa bukan Punguan?
Parsadaan artinya, keturunan dari ke 3 (tiga) anak Sobosihon br Sihotang (Raja Mardaup, Raja Sitombuk dan Raja Hutabulu) MARSADA (BERSATU) didalam satu Wadah Perkumpulan. Keturunan Raja Mardaup, keturunan Raja Sitombuk, keturunan Raja Hutabulu, secara Mar-Ompu bisa saja membuat Punguan nya masing-masing. Tetapi, oleh Natua-tua terdahulu bukan Punguan seperti itu yang dikehendaki, tetapi semua keturunan Sitolu Sada Ina Marsada didalam satu kumpulan. Itulah makna Tona dari Sobosihon br Sihotang.
Andaikata keturunan masing-masing dari ke tiga Ompunta (Mardaup, Sitombuk, Hutabulu) membuat PUNGUAN nya sendiri sendiri, nilai historis dan makna dari TONA ni Ompunta tidak punya nilai apa apa lagi atau tidak relevan lagi. Artinya, diantara keturunan ketiga Ompunta bukan lagi Sisada lulu anak, Sisada lulu boru, Sisada lasniroha, Sisada lungun. Masing-masing sudah memikirkan keturunannya sendiri-sendiri. Memahami dasar pemikiran Natua-tua terdahulu, menggunakan kata Punguan pun, misalnya, Punguan Simanjuntak Sitolu Sada Ina, tak pantas kita gunakan. Harus selalu PARSADAAN!
Meng-apresiasi kesepakatan Natua-tua Sitolu Sada Ina tersebut, ditahun-tahun berikutnya diberbagai tempat, keturunan Sitolu Sada Ina dan Boruna, mulai mendirikan PSSSI&B sesuai keadaan setempat/lokal. Keturunan Sitolu Sada Ina di Balige, pertama kali mendirikan PSSSI&B, mereka beri nama PSSSI&B Pusat Balige, Bonapasogit.
Penyebutan nama seperti Pusat Balige Bonapasogit, Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya, dll dibelakang PSSSI&B menunjukkan identitas. Indentitas bahwa PSSSI&B tersebut didirikan oleh keturunan Sitolu Sada Ina dan Boru di tempat itu. Selalu begitu!
Ditinjau dari sudut tatabahasa, mengatakan hanya PSSSI&B tanpa menyebut daerah dibelakangnya, samasekali tidak punya arti dan makna. Sama halnya, apabila kita menyebut satu nama, misalnya, Patuan, tanpa menyebut marganya, akan sulit mengenalinya siapakah ia sebenarnya. Mengatakan PSSSI&B se Indonesia, atau PSSSI&B Pusat, Balige, Bonapasogit, jelas siapa pemiliknya.
Singkatnya, PSSSI&B Jakarta Raya dsk didirikan oleh keturunan Sitolu Sada Ina dan Boru yang berada di Jakarta. Begitu juga PSSSI&B Pusat, Balige, Bonapasogit, didirikan oleh keturunan Sitolu Sada Ina dan Boru yang tinggal di Balige dan sekitarnya. Jadi jelasnya, sesuai dengan sejarah lahirnya PSSSI&B, sejak didirikan belum ada PSSSI&B se Indonesia. Begitulah pemahaman saya.

Sebagai pengejawantahan/pelaksanaan Tona ni Ompunta, Natua-tua Simanjuntak Sitolu Sada Ina, memutuskan bahwa keturunan mereka harus “Sisada lulu anak, Sisada lulu boru, Sisada lasniroha dan Sisada lungun”. Agar keturunan Sitolu Sada Ina bisa melaksanakan keputusan tersebut, mereka bentuk/ciptakan lah satu fondasi kebersamaan bagi keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina, yaitu Parsadaan. Hanya didalam Parsadaan lah keturunan Sitolu Sada Ina, bisa sisada anak, sisada boru, sisada lasniroha, sisada lungun.

Mengapa Natua tua Simanjuntak Sitolu Sada Ina perlu terlebih dahulu mufakat? Karena PSSSI&B yang akan dibentuk mempunyai ciri khas. Yaitu keturunan dari Mardaup, dari Sitombuk, dari Hutabulu (tiga Ompu keturunan Sitolu Sada Ina) akan ber-satu/berkumpul didalam satu wadah Perkumpulan. Perlu lebih dahulu bermufakat. Setelah tercapai mufakat, lalu diputuskan membentuk wadah Parsadaan. Jadi mufakat yang utama, baru keputusan.
Seharusnya didalam rencana Mubes PSSSI&B se Indonesia, harus terlebih dahulu mufakat lalu memutuskan. Prosedur inilah yang di inginkan oleh PSSSI&B Jakarta Raya dsk. Dan cara/prosedur inilah yang ditempuh oleh Natua-tua Sitolu Sada Ina, sehingga setelah diputuskan, bagi siapapun wajib hukum nya untuk dilaksanakan.

Mendirikan PSSSI&B bukan seperti mendirikan kumpulan marga-marga lain. Membentuk perkumpulan se-marga jauh lebih mudah daripada membentuk PSSSI&B. Kenapa? Keturunan Sitolu Sada Ina marganya tetap adalah Simanjuntak. Kalau Kumpulan se-marga, siapa saja asal marganya sama bisa diterima didalam perkumpulan marga. Tidak semua marga Simanjuntak bisa masuk/diterima menjadi anggota PSSSI&B. Hanya yang jelas-jelas keturunan Sitolu Sada Ina dan borunya, didukung oleh Tarombo yang jelas pula, bisa menjadi anggota PSSSI&B.
Keberhasilan Natua-tua Simanjuntak Sitolu Sada Ina sanggup bersefakat mendirikan/membangun satu-satu nya wadah organisasi bagi seluruh keturunan Sitolu Sada Ina, pada zaman itu, merupakan karya besar yang sangat menakjubkan. Itulah yang kita apresiasi sekarang. Artinya, kita tinggal terima barang yang sudah jadi saja!

PSSSI&B Jakarta Raya dan Sekitarnya, sejak berdirinya tahun 1948 (waktu itu masih bernama Punguan dan sudah berdiri sebelum didirikan PSSSI&B di Hutabulu, Balige tahun 1963) tidak mengetahui ada PSSSI&B se Indonesia, bahkan se-dunia. Secara organisasi pun tidak pernah ada hubungan dengan PSSSI&B se Indonesia dan kedudukannya pun tidak tau dimana. Menjadi aneh, tatkala Ketua Umum PSSSI&B Jakarta, – dimana beliau sejak dari dulu sudah aktiv menjadi pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dsk -, demi Mubes, tanpa diduga ikut mengatakan (meng-amini) bahwa PSSSI&B se Indonesia/se-dunia sudah ada!
Satu hal yang sangat penting perlu dibicarakan oleh PSSSI&B diseluruh Indonesia adalah mengenai peran yang diperankan oleh PSSSI&B Pusat, Balige, Bonapasogit. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Pengurus PSSSI&B Pusat Balige, Bonapasogit, baik yang dulu maupun yang sekarang, bagi saya PSSSI&B Pusat Balige, Bonapasogit, bukan dalam pengertian PSSSI&B Balige sebagai Pusat sedangkan PSSSI&B yang lain cabang atau organisasi bawahannya. Kalau kita sepakat bahwa PSSSI&B Pusat Balige adalah oragnisasi Pusat/se-dunia, perlu pengakuan yang tegas secara organisasi, yang didukung oleh satu sistem atau aturan main yang mengatur wewenang, kedudukan, dan prinsip-prinsip organisasi lainnya. Sehingga pengakuan secara de Jure maupun de fakto terhadap PSSSI&B Pusat, Balige, Bonapasogit harus didukung oleh prinsip prinsip Organiasi yang jelas pula.
Amanta Mangantar Simanjuntak diangkat/ditetapkan sebagai Ketua PSSSI&B Pusat, Balige oleh Simanjuntak Sitolu Sada Ina yang di Balige. PSSSI&B dari seluruh Indonesia yang dianggap sebagai Cabang, tidak ikut menetapkan/memilihnya. Posisi seperti itu, menurut hemat saya, tak berhak mengeluarkan SK pengangkatan Panitia Mubes PSSSI&B se Indonesia, setingkat nasional.
“Kekacauan” Organisasi PSSSI&B sekarang, terlebih-lebih setelah dibentuk panitia Mubes PSSSI&B se Indonesia, timbul akibat dimunculkan dan memunculkan wewenang PSSSI&B Pusat Balige, pemberi legalitas melalui penerbitan SK. Bagi saya bukan hanya sebagai “kekacauan”, tetapi sudah menjadi keanehan, justru wewenang itu dimunculkan pada rencana Mubes.

E. PSSSI&B BEDA DENGAN ORGANISASI MASSA LAINNYA.
PSSSI&B beda dengan Organisasi Massa lainnya, seperti ormas se-profesi atau ormas kepemudaan, dll. Didalam ormas tersebut, semua orang bebas masuk tidak membedakan suku, bahkan agama sekalipun. Organisasi kemasyarakatan (ormas) bisa di aktekan, dan didaftarkan ke Instansi Hukum terkait agar secara hukum diakui dan sah.
Kalau yang di-Akte-kan dan didafarkan ke Pemerintah Propinsi Sumatera Utara adalah PSSSI&B DPW Sumut sebagai organisasi Kemasyarakatan Paguyuban, menurut saya sah-sah saja. Namun apabila PSSSI&B didaftarkan dan diaktekan, menjadi bukti legalitas kehadiran dan keberadaan PSSSI&B agar “menjadi nyata, sah dan terjamin” (dikutip dari LAMPIRAN dokumen Panitia Mubes dengan judul Wacana Mubes, hal.2), adalah sangat keliru.
Meng-aktekan PSSSI&B sebagai milik bersama dari seluruh keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina di seluruh DUNIA, perlu sangat hati-hati, karena mempunyai masalah hukum yang rumit. Dijelaskan yang meng-aktekan PSSSI&B ini dihadapan Notaris adalah 3 orang dari Mardaup, 3 orang dari Sitombuk, 3 orang dari Hutabulu. Satu pertanyaan: siapa dan apa kriteria dan dalam kapasitas apa penghadap sehingga bisa mewakili seluruh keturunan Mardaup, keturunan Sitombuk, keturunan Hutabulu diseluruh Dunia?
Tak ada yang lebih baik dari pada musyawarah untuk mufakat. Sebab faktanya : Simanjuntak Sitolu Sada Ina tersebut, horongnya 3 (tiga). Masing-masing horong mempunyai Sub-horong, atau disebut mar-saompu. Misalnya: Mardaup anaknya 3 Ompu, Sitombuk keturunannya 5 Ompu, Hutabulu anaknya 2 Ompu. Persoalan yang dihadapi adalah : Siapa mewakili Siapa! Bahkan dari sa Ompung saja bisa ribut karena masalah : Siapa mewakli siapa.
Panitia Mubes menjelaskan Organisasi kemasyarakatan sesuai UU No. 8 tahun 1985. Yaitu : atas dasar kesamaan kegiatan, profesi, fungsi, agama………………..”.
Keanggotaan PSSSI&B bukan atas dasar kesamaan kegiatan, bukan atas dasar profesi, bukan atas kesamaan fungsi dan kesamaan agama, tetapi atas dasar sama-sama keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina. Anggota PSSSI&B mempunyai latar belakang kegiatan, profesi, fungsi dan agama yang berbeda! Bahkan mempunyai aspirasi politik yang berbeda pula! Tidak pernah dipersoalkan, apakah dia tentara, apakah birokrat, karyawan, pengusaha, anggota ormas/Partai, berbeda agama, asal saja dia keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan Boru, bisa diterima menjadi anggota PSSSI&B.

Panitia Mubes sengaja mengutip pasal pasal dari UU No.8 tahun 1985: “Organisasi kemasyarakatan berfungsi sebagai: Sarana penyalur aspirasi anggota dan sebagai sarana komunikasi sosial timbal balik antara anggota dan/atau antar Organisasi Kemasyarakatan dengan Organisasi Kekuatan Sosial Politik, Badan Permusyawaratan/ Perwakilan Rakyat dan Pemerintah.
PSSSI&B bukan penyalur aspirasi anggota tetapi menampung aspirasi anggota bagaimana memajukan PSSSI&B didalam kerangka “ Sisada Lulu Anak, Sisada Lulu Boru, Sisada Lasniroha, Sisada Lungun”.

Mengapa? Karena setiap anggota PSSSI&B mempunyai aspirasi (politik) yang berbeda-beda/ber macam-macam. Kalau PSSSI&B dianggap sebagai penyalur aspirasi anggota, posisi PSSSI&B akan berada pada posisi rumit dan sulit. Misal: didalam pilkada ada 2-3 keturunan Sitolu Sada Ina, dan sama-sama anggota PSSSI&B mencalonkan diri jadi kepala daerah dengan gerbong partai. Siapakah yang akan didukung PSSSI&B? Masing-masing calon berhak mendapat dukungan dari PSSSI&B! Kalau mengarahkan dukungan kepada salah satu calon, berarti PSSSI&B, tidak memperlakukan sama terhadap anggotanya, lebih-lebih sudah membawa PSSSI&B ke jalur politik praktis. Andaikatapun, sudah bisa calon indepen, dalam kondisi seperti itupun posisi PSSSI&B tetap akan sulit. Biarkanlah masing-masing anggota meyalurkan aspirasinya dalam alam bebas dan demokratis., tanpa harus melibatkan PSSSI&B.
Bahwa PSSSI&B di Sumatera Utara mengakui PSSSI&B Pusat Balige adalah Pusat bagi mereka, tentu saja urusan mereka. Itu adalah Hak merekalah. Namun, karena SK PSSSI&B Pusat Balige sudah dianggap pemberi legalitas bagi sah tidakya pengurus PSSSI&B, saya khwatirkan: setiap perpecahan di kepengurusan PSSSI&B, entah dimana pun, satu pihak pengurus yang bertengkar, bisa cepat-cepat meminta SK pengesahan ke PSSSI& Pusat, Balige. Apa jadinya nanti PSSSI&B ini?
Sangat heran, dan samasekali tidak sesuai prinsip organisasi, bahwa Ketua Umum PSSSI&B se Jabodetabek, telah berani menandatangani Deklarasi pembentukan DPW PSSSI&B Sumatera Utara. Urusan apa Ketua Umum PSSSI&B Jabodetabek ikut menandatangani deklarasi DPW PSSSI&B Sumatera Utara? Tandatangan Ketua Umum PSSSI&B Jakarta Raya ternyata telah dimanfaatkan untuk membungkam pihak-pihak yang mempertanyakan landasan hukum pembentukan DPW PSSSI&B Sumatera Utara! Bukankah PSSSI&B Jakarta Raya dsk mandiri, dan berdiri sendiri, seharusnya tidak ikut mencampuri urusan PSSSI&B DPW Sumatera Utara?
Didalam memberi penjelasan terhadap hal kelompok-kelompok disitus internet dan berita dipoin 3 bagian ke 3, Panitia Mubes dengan sadar menyebut juga bahwa makna pembentukan Parsadaan berbeda dengan pembentukan Organisasi lainya. Saya setuju! Memang berbeda dengan pembentukan ormas lainnya.
Horas!

Bekasi, 25 Agustus 2011

 

Panitia Mubes Mengutamakan Falsafah “Manat Mardongan” Tubu atau Ambisi Pribadi?

Tulisan ini saya tujukan kepada:

  1. Panitia MUBES PSSSIB tgl 2-3 September 2011 di Medan.
  2. Utusan-utusan daerah yang akan menghadiri Undangan Panitia MUBES PSSSIB di Medan.
  3. Saudara-saudaraku keturunan Sobosihon br Sihotang yang konsern terhadap persatuan dan kesatuan Simanjuntak Sitolu Sada Ina di manapun berada
  4. Saudara-saudaraku yang meminta MUBES PSSSIB 2-3 September 2011 ditunda

Penyelenggaraan MUBES PSSSIB se Indonesia yang tinggal beberapa hari lagi terlihat semakin menyedihkan perkembangannya, sudah banyak surat yang dilayangkan pada Panitia Mubes baik secara pribadi maupun secara resmi melalui pengurus PSSSIB di daerah masing-masing agar menunda penyelenggaraan MUBES ini demi terciptanya Persatuan dan Kesatuan Seluruh Keturunan Sobosihon boru Sihotang tetapi mereka (red: Panitia) sepertinya tidak cepat  merespon. Bahkan sangat terkesan tidak mau tahu masukan-masukan dari dongan tubu yang lain. Yang penting MUBES harus terlaksana.

Entah bagaimana nantinya MUBES ini bisa berjalan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan nilai MANAT MARDONGAN TUBU, ataukah nantinya panitia akan seenaknya membuat aturan main sendiri demi mewujudkan ambisi-ambisi pribadi atau kelompok-kelompok dimana Panitia Mubes sudah nyata tidak lagi menghargai pendapat dongan tubunya yang lain?

Pertanyaan ini muncul dalam hati kecil saya, setelah membaca proposal yang mereka buat dimana tujuan dari MUBES ini adalah demi kepentingan semua SIMANJUNTAK SITOLU SADA INA di seluruh Indonesia tetapi kenyataannya sampai hari ini Panitia belum sepenuhnya merespon dan mengakomodir masukan-masukan dari pengurus-pengurus daerah lainnya seperti: Jakarta, Balige, Surabaya,  Palembang, Jayapura,  dll. Dan yang paling aneh PSSSIB Medan sendiri sebagai “bolahan amak” MUBES ini sudah meminta penundaan. Tetapi Panitia entah dengan pertimbangan yang bagaimana tidak pernah memberikan penjelasan secara resmi. Ide siapakah MUBES PSSSIB ini? Ini MUBES PSSSIB atau MUBES-MUBESAN beberapa orang demi kepentingan pribadi atau kelompok? Kenapa PSSSIB Medan sendiri sebagai bolahan amak tidak setuju dan meminta MUBES 2-3 Septerber 2011 ini ditunda? Baca beritanya di sini. Ada apa PANITIA MUBES dengan Pengurus PSSSIB Kota Medan? Ini sebenarny MUBES PSSSIB Se Indonesia atau MUBES segelintir orang untuk membentuk dan mengangkat dirinya sebagai induk organisasi PSSSIB yang sudah puluhan tahun berdiri sendiri di masing-masing daerah dan memilki AD/RT sendiri sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka masing-masing?

Beberapa pengurus PSSSIB dari daerah-daerah lain sudah melayangkan surat himbauan baik melalui website ini dan melalui surat yang di tujukan langsung ke sekretariat panitia agar penyelenggaraan MUBES ini ditunda dulu tetapi  Panitia Mubes belum juga menanggapinya dengan baik. Dengan melihat situasi seperti ini, seharusnya kita sebagai keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina harus berpikir merenung:

  1. Jika harus menyetujui dan mengikuti penyelenggaran MUBES 2-3 September 2011 ini tetap dilaksanakan apakah ini akan membuat Keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina lebih maju di kemudian hari? Ataukah akan melahirkan persoalan baru?
  2. Jika hanya persoalan dana yang sudah keluar untuk urusan persiapan MUBES ini harus tetap dilanjutkan, apakah alasan ini yang paling tepat untuk tetap meneruskan penyelenggaraan Mubes ini? Apakah uang lebih penting dibandingkan hubungan na marhaha maranggi yang selama ini sudah sangat harmonis tanpa adanya MUBES-MUBESAN harus kita korbankan?
  3.  Jika nantinya hasil dalam MUBES ini membentuk organisasi yang baru yaitu PSSSIB Seluruh Indonesia, apakah daerah-daerah yang tidak mengirimkan wakilnya ikut menghadiri MUBES ini dan daerah meminta ditundanya MUBES 2-3 September 2011 ini sudah tidak satu Organisasi lagi dengan Organisasi PSSSIB hasil MUBES?

Saya takut daerah yang meminta MUBES  ditunda dan tidak mengikuti MUBES ini tidak akan pernah menerima hasil MUBES ini  Sudah banyak contoh yang terjadi sebelumnya di negara kita ini. Bahkan di kalangan marga-marga batak lainnya.  Hal ini akan menimbulkan “perpecahan” diantara kita Pomparan ni Ompungta Sobosihon Boru Sihotang. Apakah ini sebanding dengan uang yang sudah keluar untuk persiapan MUBES ini? Ataukah ada tujuan lain dengan memaksakan MUBES ini harus terselenggara walaupun harus mengabaikan pendapat-pendapat SIMANJUNTAK yang lain?

Pertanyaan lain yang muncul dalam pikiran saya, apakah memang dengan penyelenggaran Mubes ini akan menguntungkan bagi seluruh keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina ataukah hanya bagi pribadi atau kelompok-kelompok tertentu? Jika memang untuk kepentingan seluruh keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina kenapa panitia tidak menanggapi dengan baik masukan-masukan ataupun protes-protes dari Pengurus-Pengurus daerah yang menghimbau agar MUBES ini ditunda dulu dan supaya diberikan waktu seluas-luasnya untuk mengakomodir kebutuhan dan kepentingan seluruh PSSSIB di daerah yang tersebar diseluruh Indonesia? Adakah sesuatu yang terselubung dibalik penyelenggaraan MUBES ini sehingga harus mengabaikan dongan tubu yang kritis? Bukankah kritikan dan masukan itu akan membuat sesuatu itu lebih baik?

Sebagai seorang yang menginginkan adanya Persatuan dan Kesatuan yang tetap terjaga dengan baik, sebaiknya sebelum saudara-saudaraku yang akan menyelenggarakan MUBES ini, baik sebagai panitia maupun undangan sebagai peserta mari kita merenung sebentar. Benarkah kita akan mengedepankan manat mardongan tubu dalam MUBES ini? Bukankah ompung kita Sobosihon br Sihotang berpesan Ingkon SISADA LULU, SISADA LUNGUN, SISADA LAS NI ROHA?

Pertanyaan ini saya sampaikan dimana selama dalam persiapnya panitia MUBES kurang serius dan terkesan asal-asalan dalam perencanaan MUBES ini. Saya yakin saudara-saudaraku yang akan berangkat ke Medan untuk menghadiri MUBES ini belum mempunyai materi apa yang akan dibahas. Semua disana hanya tinggal menetapkan apa yang sudah disetting dan dipersiapkan panitia.  Seharusnya panitia mensosialisasikan dulu DRAF AD/RT yang akan ditetapkan dalam MUBES ini, Program Kerja dari Organisasi PSSSIB yang akan di bentuk, termasuk pimpinan (ketua) PSSSIB yang akan dipilih nantinya dalam MUBES tersebut harus di sosialisasikan dulu VISI dan MISInya, Jangan sampai setelah terpilih kita semua Simanjuntak akan di jual bulat-bulat demi kepentingan pribadi.

Hal yang sangat aneh yang dilakukan panitia MUBES dalam surat sosialisasi tahap ke 3 penyelenggaraan MUBES PSSSIB, panitia melampirkan urusan Pesta Bona Taon PSSSIB Medan tahun 2009 .  Apakah MUBES ini membahas kepentingan Simanjuntak kedepan atau mengurusi persoalan yang internal PESTA BONA TAON PSSSIB 2009?  Apa hubungan PESTA BONA TAON PSSSIB MEDAN 2009 dengan PSSSIB dari daerah lain?   Pengen menyatukan PSSSIB Seluruh Indonesia tapi menebar fitnah dan melampirkan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan PSSSIB di daerah lain? SUNGGUH MENYEDIHKAN dimana di keluarga Besar Simanjuntak Sitolu Sada Ina banyak orang-orang pintar tetapi perencanaan MUBES ini justru tidak jelas apa yang mau dibahas. Apakah lebih penting melampirkan Persoalan Pesta Bona Taon dibandingkan melampirkan Draft AD/RT yang mau disusun dan disahkan dalama MUBES ini nantinya? Atau jangan-jangan MUBES ini akan dijadikan ajang menggosipi dongan tubu yang lain.

Saya tidak sentimen (siudon) dalam memberikan penilaian ini. Tetapi hal ini perlu kita WASPADAI agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan dari tujuan pembentukan organisasi yang sebenarnya.  Sebagai contoh dimana dengan Pembentukan DPW PSSSIB SUMUT yang sebelumnya menurut saya sangat TIDAK MASUK AKAL. Apakah PSSSIB yang selama ini sudah harmonis dalam urusan paradaton, Pernikahan anak/boru, orang meninggal, sakit, yang sifatnya hanya sosial harus kita jadikan ORMAS?  Saya sangat kaget dengan membaca berita  SOMASI yang di buat oleh Pengurus GM-SSSIBBI salah satu butir dalam somasi itu menyatakan:

Bahwa, sejauh pengetahuan kami justru Ir. Hiskia Simanjuntak dalam posisinya sebagai Ketua DPW PSSSI&B Sumatera Utara, telah melakukan dagang sapi politik dengan menerima uang dari pasangan calon walikota Ajib Shah/Binsar Situmorang sebesar Rp. 500.000,- per sektor, yang menurutnya dibagi-bagikannya ke 70 sektor PSSSI&B Kota Medan.

Inilah akibat kalau marga dibawa-bawa ke ranah Politik, padahal kita semua tahu, kita boleh sama-sama Simanjuntak tetapi pandangan politik kita belum tentu sama.

Beberapa pertanyaan lain dari Saya:

  1. APAKAH NANTINYA MUBES ITU TERBUKA BAGI SIMANJUNTAK SITOLU SADA INA YANG DAPAT MENUNJUKKAN IDENTITASNYA (TAROMBONYA) SECARA JELAS? Ataukah hanya untuk orang-orang tertentu yang hanya mendapat undangan dari PANITIA MUBES?
  2. Apakah saya sebagai salah satu Keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan yang lainnya dimana tidak mendapat undangan dari Panitia boleh hadir dan dapat memberikan suara dalam MUBES itu ataukah hanya bagi orang orang yang diundang oleh PANITIA MUBES? Apakah dikita Simanjuntak ini hanya kepunyaan namora, na marpangkat? Dan orang orang yang merasa dirinya elite? Jika  MUBES ini untuk kepentingan seluruh Simanjuntak Sitolu Sada Ina, seharusnya panitia membuka seluas-luasnya peserta Mubes, baik yang mewakili pribadi ataupun kelompok yang masih dalam anggota keluarga besar Simanjuntak Sitolu Sada Ina. Bukan hanya sebagai Pengurus/Penasehat PSSSIB.
  3. Di dalam surat sosialisasi tahap ke 3 yang  disebarluaskan panitia, peserta harus membawa surat penunjukan yang menandakan mewakili PSSSIB di masing-masing daerah.
    APAKAH PANITIA PENYELENGGARA SENDIRI MEMILIKI SURAT/MANDAT DARI PENGURUS PSSSIB TEMPAT MEREKA BERDOMISILI ? Jika TIDAK apakah mereka boleh masuk ke ruang SIDANG?  Seperti yang kita ketahui bersama; PSSSIB Jakarta dsk telah mengeluarkan Pernyataan Resmi bahwa Ketua Umum Penyelenggara MUBES ini bukan atas mandat PSSSIB Jakarta walaupun pada saat ini beliau menjabat Ketua Umum PSSSIB Jakarta dsk. Demikian juga halnya para panitia Penyelenggara, apakah mereka punya mandat dari PSSSIB Medan sebagai bolahan amak mengadakan MUBES di wilayah PSSSIB Medan? sementara kita tahu PSSSIB Medan sudah meminta Panitia untuk menunda Mubes? Baca beritanya di sini
  4. APAKAH MUBES INI HANYA MUBES ORANG-ORANG TERTENTU DEMI KEPENTINGAN TERTENTU? Sehingga mereka takut pada Simanjuntak-Simanjuntak yang kritis dapat mengganggu tujuan tertentu mereka?

Jika panitia nantinya membatasi peserta mubes yang boleh masuk, saya patut memberikan kecurigaan dengan alasan seperti yang saya tuliskan diatas bahwa MUBES ini adalah untuk kepentingan pribadi dan kelompok-kelompok tertentu yang punya ambisi  tertentu sehingga rela mengabaikan dongan tubu yang lain. Karena selama persiapan penyelenggaran MUBES ini panitia tidak pernah serius mensosialisasikan rencana MUBES ini dimana dalam rapat Pengurus PSSSIB kota Bandung terungkap bahwa tiba-tiba menerima sosialisasi tahap ke 3 tetapi sosialisasi tahap 1 dan 2 tidak pernah ada. Disini terkesan ketidakmampuan sumberdaya manusia Panitia Mubes ini dalam mempersiapkan sebuah event yang melibatkan kepentingan semua komunitas yang besar. Dan parahnya sosialisasi tahap ke 3 itu berisikan fitnah-fitnah pada dongan tubu yang lain. Termasuk pada Organisasi GM-SSSIBBI padahal gerakan-gerakan untuk membantu keluarga Besar Simanjuntak Sitolu Sada ina dapat kita lihat bukti-buktinya disini Klik disini

 

Kita semua Keturunan opung kita Sobosihon br Sihotang punya hak yang sama jika membawa marga SIMANJUNTAK tetapi jangan lupa pesan ompung kita Ingkon Si Sada Lulu, Sisada Lungun, Sisada Las Ni Roha. Itulah makanya di keluarga besar Simanjuntak Sitolu Sada Ina adalah PARSADAAN. Bukan PUNGUAN seperti di organisasi-organisasi marga lainnya.

Makanya dengan melihat perkembangan rencana MUBES ini mari sekali lagi merenungkan:

  1. Apakah kita sudah memilih jalan yang tepat untuk tetap mendahulukan persatuan dan kesatuan Simanjuntak Sitolu Sada Ina?
  2. Apakah rencana MUBES yang kontradiktif ini akan menghasilkan kebaikan bagi keluarga besar Simanjuntak Sitolu Sada Ina?
  3. Apakah dengan melanjutkan MUBES yang kontradiktif ini kita masih memegang teguh pesan Ompung kita Sobosihon Boru Sihotang: Ingkon Sisada Lulu, Sisada Lungun Sisada Las Ni Roha?

Mungkin diantara panitia yang merencanakan MUBES tidak ada yang mengenal saya, karena saya bukan seorang selebritis dan tidak punya jabatan penting di negara ini ataupun tidak punya materi (UANG) yang bisa saya sumbangkan untuk kelancaran MUBES itu, sehingga panitia tidak mengundang saya dalam MUBES itu, tetapi sebagai salah satu keturunan Simanjuntak Sitolu Sada Ina yang mencoba menggunakan potensi yang saya miliki, saya berusaha memberikan apa yang bisa saya berikan supaya Simanjuntak Sitolu Sada Ina bisa sama-sama maju, dan saya yakin kita semua punya potensi yang berbeda beda yang bisa kita satukan demi kemajuan keluarga besar Simanjuntak Sitolu Sada Ina. Jika ini terakomodir dengan baik, bukankah tugas dan beban kita masing-masing akan lebih ringan?

Tetapi dengan keyakinan penuh, saya turut berdoa Kuasa Tuhan dapat bekerja dalam diri masing-masing Panitia dan para peserta MUBES,  supaya MUBES ini berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan dan untuk kemuliaan TUHAN sehingga MUBES ini tidak menimbulkan perpecahan SIMANJUNTAK SITOLU SADA INA yang selama ini sudah sangat HARMONIS.

Pesan terakhir saya untuk dongan tubu sebagai undangan (peserta) MUBES nantinya: Mari kita dahulukan persatuan dan kesatuan keturunan Ompunta SOBOSIHON Br Sihotang. Saya sangat menghargai pengorbanan kalian datang dari daerah-daerah yang jauh meninggalkan keluarga (anak dan istri) jangan sampai MUBES ini justru menghasilkan perpecahan diantara kita Keluarga Besar Simanjuntak Sitolu Sada Ina. Manat hita mardongan tubu masih banyak kesempatan dan waktu yang lain untuk kita dapat duduk bersama sama mengadakan musyawarah untuk mengakomodir kepentingan semua Simanjuntak Sitolu Sada Ina sehingga pesan Ompunta Sobosihon Br Sihotang: SI SADA LULU, SI SADA LUNGUN, SISADA LAS NI ROHA tetap terjaga disemua kalangan Simanjuntak Sitolu Sada Ina.

Tabe mardongan tangiang:

Bungaran Simanjuntak (Mardaup Namorasende No. 14)

Selama 8 tahun berkomitmen penuh memelihara website ini sebagai media bertukar informasi Keluarga Besar Simanjuntak Sitolu Sada Ina

SURAT PEMBERITAHUAN

SURAT PEMBERITAHUAN
No. 25/SP/PSSSI&B/PST/VIII/2011

Kepada Yth
1. Panitia Mubes PSSSI&B se Indonesia di Medan;
2. Utusan PSSSI&B dari seluruh Indonesia yang hadir pada Mubes di Medan;
3. PSSSI&B Kota Medan sebagai tempat berlangsungnya Mubes;
4. Anggota PSSSI&B Jakarta Raya dsk yang menghadiri Mubes di Medan

Dengan hormat,
Menindaklanjuti Pernyataan Sikap PSSSI&B Jakarta Raya dsk pada tanggal 7 Agustus 2011 agar pelaksanaan Mubes PSSSI&B se Indonesia ditunda dengan ini kami memberitahukan:

1. Bahwa Surat Pernyataan Sikap PSSSI&B Jakarta Raya dsk sudah dikirimkan ke Panitia Mubes PSSSI&B se Indonesia, Sekretariat Jl. Ring Road Setia Budi/Ps Melintang, Medan.

2. Bahwa Surat Pernyataan Sikap PSSSI&B Jakarta Raya dsk tanggal 7 Agustus 2011 tersebut adalah surat resmi yang memberitahukan kepada Panitia Mubes bahwa Ir Bona Simanjuntak, Ketua Umum PSSSI&B Jakarta Raya dsk, yang didaulat menjadi Ketua Umum Panitia Mubes PSSSI&B, samasekali bukan atas mandat/atau bukan utusan resmi PSSSI&B Jakarta Raya dsk di Kepanitiaan Mubes. Sampai Surat Pemberitahuan ini dibuat Surat Pernyataan Sikap tersebut belum pernah di jawab atau ditanggapi oleh Panitia Mubes PSSSI&B se Indonesia.

3. Sesuai tatatertib yang disusun oleh Panitia Mubes (Dokumen Sosialisasi tahap 3) dikatakan (dikutip) :
“2. Untuk tertib administrasi, utusan Propinsi/Kabupaten/Kota yang menghadiri Mubes hendaknya membawa surat resmi dari pengurus PSSSI&B Propinsi/ Kabupaten / Kota.
3. Jika tidak dapat mengirimkan utusan untuk menghadiri mubes ini, dimohon agar Pengurus PSSSI & B Propinsi / Kabupaten / Kota berkenaan membuat dukungan tertulis. Dukungan tertulis dimaksud merupakan modal awal bagi kami untuk melaksanakan Mubes”.

Mempertimbangkan tatatertib tersebut, dengan ini Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dsk secara resmi memberitahukan:
a. Bahwa PSSSI&B Jakarta Raya dsk tidak ikut di Mubes PSSSI&B se Indonesia pada tanggal 2-3 September 2011 di Medan, sesuai Pernyataan Sikap PSSSI&B Jakarta Raya dsk, tanggal 7 Agustus 2011;

b. Bahwa sesuai pemberitahuan kami pada point a, PSSSI&B Jakarta Raya dsk samasekali tidak mengirim utusan ke Mubes PSSSI&B se Indonesia, termasuk kehadiran Ir. Bona Simanjuntak di Mubes tersebut bukan utusan, atau bukan atas mandat, atau bukan mewakili PSSSI&B Jakarta Raya dsk;

c. Bahwa anggota PSSSI&B Jakarta Raya dsk, yang terdaftar baik sebagai Penasehat maupun sebagai anggota Panitia Mubes bukan sepengetahuan atau bukan atas persetujuan Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dsk, tetapi atas dasar penunjukan Ir. Bona Simanjuntak sendiri. Bahkan beberapa nama dari Jakarta yang menjadi anggota Panitia Mubes, samasekali tidak terdaftar sebagai anggota PSSSI&B di Jakarta.

d. Bahwa siapapun anggota PSSSI&B Jakarta Raya dsk yang hadir di Mubes tersebut, tidak dilengkapi dengan Surat Resmi dari Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dsk, sebagaimana dimaksud pada tatatertib Mubes Point 2;

e. Bahwa kepada Ir. Bona Simanjuntak dll, yang menamakan/mengaku utusan dari PSSSI&B Jakarta Raya dsk, Panitia Mubes harus menanyakan Surat Resmi dari Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dsk sebagaimana dimaksudkan pada tatatertib mubes point 2. Setiap orang yang hadir di mubes yang tidak dapat menunjukkan Surat Resmi dari Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dsk, Panitia Mubes seharusnya menganggap mereka pribadi/personal, tidak bisa memberi keputusan dan atau menyetujui keputusan atas nama PSSSI&B Jakarta Raya dsk.

f. Panitia Mubes PSSSI&B se Indonesia sudah melakukan campurtangan tangan langsung ke intern PSSSI&B Jakarta Raya dsk, dengan mengundang langsung anggota PSSSI&B Jakarta Raya dsk tanpa sepengetahuan Pengurus PSSSI&B Jakarta Raya dsk. Tindakan campur tangan tersebut adalah manifestasi arrogansi Panitia Mubes yang memecah belah persatuan PSSSI&B Jakarta Raya dsk dan, menghalalkan semua cara untuk memaksakan penyelenggaraan Mubes.

g. Bahwa sesuai permintaan Panitia Mubes, PSSSI&B Jakarta Raya dsk secara resmi memberikan keterangan tertulis ini: PSSSI&B Jakarta Raya dsk DANG PARSIDOHOT di MUBES PSSSI&B SE INDONESIA tanggal 2-3 September di kota Medan. Pernyataan tertulis ini mudah-mudahan merupakan modal awal bagi Panitia untuk menunda pelaksanaan Mubes.

4. Demikianlah Surat Pemberitahuan ini kami sampaikan untuk diketahui dan dimaklumi sebagaimana mestinya.

Jakarta, 29 Agustus 2011

Pengurus Harian PSSSI&B Jakarta Raya dsk
Acc, Ketua I, II, III PSSSI&B Jakarta Raya dsk

ttd

Sabungan H Simanjuntak
Sekretaris Umum PSSSI&B Jakarta Raya dsk

SIMANJUNTAK NOT FOR SALE!

oleh : Prof. DR. Bugaran Antonius Simanjuntak, MA (Mardaup No. 14) 

Guru Besar Sosiologi dan Antropologi di Universitas Negeri Medan.

JuntakNews (Medan),

FILOSOFI MARGA BATAK :

Membangun persaudaraan marga Batak. Ini penting dilakukan oleh orang yang mengaku Batak. Membangun persaudaraan marga Batak arti memakai marga sebagai jalur membangun persaudaraan ke dalam marga dan juga ke luar marga. Melalui marga orang Batak bisa membangun bangsa Indonesia.

Orang Batak membangun Indonesia bermodalkan marga. Tentunya harus diketahui apa filososfi dasar marga Batak. Artinya marga itu muncul dari nenek moyang yang namanya dijadikan marga. Nama nenek moyang itu menjadi cikal bakal marga Batak. Dan nama nenek moyang itu mengandung nilai cultural dan genealogical yang sungguh dalam. Makna terdalam dari nama itu ialah persatuan dan kesatuan.

AMSAL MARGA SIMANJUNTAK SITOLU SADA INA :

Penyandangan nama nenek moyang adalah penyandangan kesatuan dan persatuan keturunan. Dan persatuan itu adalah essensi marga yang terdalam. Sama seperti Pancasila yang juga mengandung nilai persatuan Indonesia, maka persatuan atas nama nenek moyang yang disandang marga adalah persatuan keturunan.

Artinya membangun damai dan persaudaraan. Oleh karena itu setiap penyimpangan dari nilai essensi marga dianggap pemecah belahan dan mengandung destructive effect yang dalam. Di kalangan marga Simanjuntak ada filosofi social kultural berbunyi :

Sisadlulu, si sada lungun, si sada las ni roha
Si sada anak, sisada boru

Artinya harafiahnya :

Satu kesedihan, satu kegembiraan
Sepemilikan anak sepemilikan boru

Arti bebasnya ialah semua penyandang marga Simanjuntak keturunan Raja Simanjuntak bersama istrinya Sobosihon boru Sihotang adalah seperasaan dalam kesedihan maupun kegembiraan. Bila salah satu anggota bersedih hati maka yang lain akan bersedih hati juga. Memiliki anak juga demikian. Anak saudara semarga kita, juga kita anggap anak kita juga demikian juga boru saudara kita perlakukan boru kita juga. Sebenarnya nilai kulturalnya ialah seperasaan, sepenanggungan, sepemilikan.

Kalau di bahasa Batak menjadi: si sada panghilalaan, si sada boban, sisada ugasan. Inilah inti dasar filsafat hidup yang diwariskan oleh ibu moyang Simanjuntak Sobosihon boru Sihotang. Seluruh keturunannya mengakui dan menjalankan filosfi itu di dalam kehidupannya. Bila ada salah satu warga marga Simanjuntak menyimpang dari itu, maka kewajiban marga Simanjuntak yang lain untuk memperingatkannya, secara prinsip bersaudara, yang tertuang dalam filosofi pardongan tubuan, manat mardongan tubu.

Ada kemelut dalam marga ini yang disebabkan adanya keinginan sekelompok orang untuk menyelengarakan ‘’mubes’’, musyawarah besar marga Simanjuntak tgl 2-3 September 2011. Tadinya diputuskan untuk diselenggarakan di Jakarta. Tetapi oleh sekelompok orang dipindahkan ke Medan tanpa prosedur demokratis. Akhirnya Jakarta menolak penyelenggaraan itu, demikian juga Medan dll.

Cara tak etis dan demokratis ini bukanlah cara yang diajarkan agama, adat dan tona boru Sihotang. Cara licik dan pemaksaan diri demikian ini tentunya dilakukan dengan sadar oleh karena adanya kepentingan pribadi dan kelompok kecil yang bernilai bisnis dan politis.

Tetapi kekerasan hati untuk tetap menyelenggarakan keinginan pribadi pribadi tertentu itu, akan membuahkan hasil perpecahan sosial. Juga pelanggaran filosofi hidup yang ditonahon ompu boru Hotang yang essensinya, sisada panghilalan, si sada boban dan si sada ugasan. Terutama si sada lungun, si sada las ni roha.

Karena sebahagian besar warga Simanjuntak, menjadi sangat sedih dan tidak bergembira, mendengar dan melihat pemaksaan kehendak untuk melakukan mubes yang mengandung kelicikan bisnis dan politis itu .

Saya tuangkan dalam sajak pendek ini :

Hati mengandung segumpal karakter
Mungkin bawaan keturunan darah
Karena kerukunan bersaudara payah dibangun di dalam rumahnya
Konon membangun kerukunan se marga
Tentu sulit karena bukan karakter bawaannya.

Hati mengandung segumpal keinginan
Mungkin suara dari hati
Atau ajaran teman-teman seprofesi
Atau pengajaran yang didapat dari pengalaman tokoh lain
Yang sukses meraih kekayaan

Dengan gampang,
Mereka ini ingin meniru dengan memakai nama keturunan Sobosihon
Tanpa ijin roh nenek moyang
Anak-anak menolak dan tetap menolak

Ompung!

Selamatkan Simanjuntak Sitolu Sada Ina dan boru
Dari prahara yang dibuat segelintir keturunanmu
Yang memperalat kumpulan darahmu ini
Untuk keuntungan pribadi
Ompung Sobosihon mau dibisniskan
Ompung mau dijual ke Negara demi uang dan kami tidak mau! Tidak mau!

______________________________________________________________

[1] Hubungkan dengan bagian 10 di atas, menyangkut kepemimpinan. Pelaku mubes itu memaksakan kehendak, dengan dalih undangan sudah beredar, hotel tempat penyelengaraan sudah dipesan, dana sudah ke luar. Namun salah satu sub-marga Simanjuntak (Hutabulu) di Jakarta tetap mengatakan itu risiko panitia. Tetapi mubes harus dimundurkan sampai waktu yang tidak ditentukan. Kepemimpinan apakah namanya konseptor mubes itu sesuai dengan item 10? Diktatorkah? Otoriterkah? Licikkah? Atau kepemimpinan hitam alias black leadership? Seperti banyak bergentayangan merampok bantuan asing dengan restu sang presiden di jaman Orde Baru?

[1] Sengaja saya tuliskan naskah kemelut ini untuk kenangan historis keturunan seperti kata hati pahompuku Rudyard Simanjuntak, yang juga menuliskan kata hatinya dalam rangka menolak mubes dan hendak mensomasi kata-kata tuduhan tak bijak yang dilakukan (yang mengaku-ngaku) ketua DPW organisasi Simanjuntak (yang juga tidak kuakui), Ir Hiskia Simajuntak merangkap panitia Mubes kepada anakanda Poltak Simanjuntak. Bila damai tak mampu dibangun, maka bui menjadi rumah sang pengaku ketua, karena proses  hukum akan dilanjutkan Poltak cs.

Penasehat PSSSIB Se-Kota Medan Meminta Mubes PSSSIB 2-3 September 2011 Ditunda

PERNYATAAN

KAMI PENASEHAT SIMANJUNTAK SITOLU SADA INA (PSSSIB)

KOTA MEDAN DENGAN INI MENYATAKAN

  1. Mendengar    :           Tanggapan-tanggapan dari penasehat lain
  2. Menimbang :
    1. Rencana penyelenggaran Mubes PSSSIB tgl 2-3 September 2011 yang sangat tergesa-gesa cenderung akan menimbulkan kerugia parhaha-maranggion di kalangan anggota PSSSIB di Medan
    2. Oleh karena kerugian adat dan parmudaron akan menimbulkan kerugian di tengah-tengah marga Simanjuntak Sitolu Sada Ina dohot Boru maka para Penasehat sepakat mengambil keputusan seperti di bawah ini
  3. Keputusan     :
    1. Dengan ini memutuskan meminta agar penyelenggaraan mubes tersebut ditunda untuk waktu yang tidak ditentukan.
    2. Hal-hal yang perlu dibicarakan di Mubes supaya dibicarakan terlebih dahulu di kalangan Pengurus Simanjuntak di daerah dan kota-kota di Indonesia secara duduk bersama.

    Demikianlah keputusan ini ditanda tangani para penasehat yang hadir pada rapat Penasehat PSSSIB se- Kota Medan pada tgl 24 Agustus 2011.

     

    Kami yang membuat keputusan:

     

    1. Drs. A. P. Simanjuntak, Msi            (M-14)
    2. Edward Simanjuntak                       (M-15)
    3. Prof. Dr. B. A. Simanjuntak             (M-14)
    4. Victor H. Simanjuntak                      (S-11)
    5. St. Togar Simanjuntak                     (H-14)
    6. Drs. M. Marpaung                             (Boru S-15)

 

Salinan Asli Surat Pernyataan ini dapat di download di sini