Sidang Perkara Penganiayaan Masda br Simanjuntak Ricuh

0
908
Tumbur menyabarkan Masda

Kesaksian Suami Pelaku Drs Cosmas Harefa Direktur Akpar Picu Kemarahan Kaum Perempuan

Poltak Simanjuntak

MEDAN l KONSTRUKTIF

Tumbur menyabarkan Masda
Tumbur menyabarkan Masda

Sidang perkara penganiayaan Masda br Simanjuntak (39) yang mendudukkan Erica Veronika Laoly sebagai tersangka, yang digelar Selasa (11/6) di Tempat Sidang Pengadilan Negeri Lubuk Pakam di Labuhan Deli, sempat diwarnai tangisan dan teriakan puluhan kaum perempuan. Puluhan ibu-ibu yang diorganisir oleh Perempuan Mahardika, tampak berdesak-desakan menonton persidangan. Sebagian ada yang sempat dapat tempat duduk, namun sebagian besar terpaksa menyaksikan dari jendela nako ruang sidang.

Agenda sidang kali ini, mendengar kesaksian saksi yang merupakan suami pelaku. “Sudah 2 kali sidang terpaksa ditunda sebab saksi suami pelaku yang Direktur Akpar Medan itu tidak datang,” jelas Rudyard Simanjuntak kepada Konstruktif. Kehadiran saksi sepertinya sudah ditunggu-tunggu oleh puluhan kaum ibu. Kehadiran kaum ibu ini, lebih mirip sedang melakukan aksi unjuk rasa, sebab membawa puluhan karton bertuliskan protes mereka dan dukungannya terhadap Masda.

“Kami akan terus mendukung Masda sebagai sesame perempuan yang lemah dan dikorbankan. Kami ingin melihat hukum tegak dan pelaku serta otak dibelakangnya ditahan,” jelas salah seorang ibu, sambil menunjukkan karton bertulis kea rah wartawan.

Sidang yang dimulai menjelang maghrib ini, dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Denny Lumbantobing SH, mendapat perhatian dari berbagai elemen organisasi masyarakat sipil dan awak media cetak dan elektronik. Pertanyaan hakim seputar kejadian yang menimpa Masda yang pelakunya tidak lain adalah istrinya sendiri dijawab ringan dan santai oleh Cosmas Harefa. “Apakah saudara pernah sakit dan dirawat oleh Masda?” tanya hakim, yang dijawab singkat “Iya, benar.”.

Demikian juga pertanyaan seputar isi surat perjanjian antara Masda dengan Cosmas tentang pinjaman uang sebesar Rp72 juta dibenarkan oleh Cosmas, walau menolak ketika dikatakan belum membayarnya. “Saya sudah bayar lunas Pak Hakim. Bahkan lebih,” ujarnya. Jawaban ini langsung dikonfrontir oleh hakim kepada Masda dengan mempersilahkan Masda maju ke kursi depan. “Belum lunas Pak Hakim. Dia sudah membayar Rp150 jutaan, sebab hutangnya sudah mencapai 300-an juta. Kenapa kamu bohong?,” sergah Masda sambil meneruskan bagaimana dirinya dengan tulus menolong penyakit kelamin dan ketergantungan obat yang diderita Cosmas waktu itu.

Dengan deraian air mata dan tangisan yang cukup kuat, sempat mengagetkan seluruh pengunjung sidang. “Tega benar dia mengelak. Dia kuobati dan kupinjami uang karena dia yang minta tolong. Yang saya terima justru kekerasan dan tuduhan seolah saya mengejar-ngejar ini,” katanya sambil menunjuk Cosmas.

Tangisan Masda pun disambut pengunjung sidang yang didominasi kaum perempuan ini. “Tahan Erica. Penjarakan Cosmas! Laki-laki bejat, over dosis!”, pekik beberapa kaum ibu yang memaksa hakim Tobing terpaksa berkali-kali mengetuk meja meminta pengunjung tenang.

Setelah hakim menyatakan sidang ditutup dan akan dilanjutkan Selasa yang akan datang (18/6), Masda sontak menangis dan mengatakan Jaksa berpihak dan meminta agar hakim tegas dan tidak berpihak. Langkah Cosmas dan istrinya yang dikawal oleh jaksa sempat tertahan oleh teriakan dan barisan kaum perempuan yang menggelar poster-poster. “Tuhan akan menghukummu!” ujar salah seorang di antara mereka.

Kepada Konstruktif, Masda mengungkapkan kekecewaannya mengikuti persidangan, sebab tampak JPU berpihak kepada pelaku dan saksi. “Saya sedih, jaksa jelas sekali berpihak ke mereka,” protes Masda.

Tumbur menyabarkan Masda

Sidang21Sidang11

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY