Chandra Donatus Sihotang dari Barus Bercelana Pendek Taklukkan Medan

1
806

• Poltak Simanjuntak/Ingot Simangunsong

935001_10201231065719927_832242530_nTAMPIL sederhana dan bersahaja. Kepada Investa, Chandra Donatus Sihotang (41) mengisahkan perjalanan hidupnya dari Barus Tapanuli Tengah ke Medan. Kami disuguhi kopi panas di rumahnya Jalan Sehati Gang Anggrek Kecamatan Medan Perjuangan yang sekaligus tempat usaha sayur toge, Selasa (7/5).

Saat duduk di bangku SMP Negeri 2 Bondar Sibuhuan, ayahnya meninggal dan ibunya harus menghidupi enam anaknya yang masih kecil-kecil. Selesai pendidikan SMP tahun 1989, Chandra memutuskan untuk meninggalkan Barus dan ikut marga Sitanggang ke Medan.

“Saya merasa kehidupan di Barus tidak menjanjikan. Perekonomian sangat memprihatinkan. Saya tidak dapat melihat mamak harus menghidupi saya bersama lima adik yang masih kecil-kecil,” kenang Chandra yang didampingi istrinya Delki boru Pasaribu itu.

Chandra tidak dapat melupakan bagaimana ibunya memberi bekal 2 liter beras dan uang Rp12.000. Ia berangkat dengan bus Makmur. “Pesan mamak ketika itu, carilah orangtuamu di perantauan,” kata Chandra mengulangi kisah pilu yang harus dilaluinya.

Kisah penuh inspirasi ini semakin memelas, ketika Chandra mengungkapkan, bagaimana ia harus memotong celana panjang almarhum ayahnya, agar bisa dipakai pergi merantau. “Berbekal celana pendek yang dipotong itulah saya berangkat. Pinggangnya kebesaran, harus saya ikat dengan tali biar tak kedodoran,” kenang Chandra.

KERJA TAK DIGAJI

Sesampainya di Medan, Chandra kecil, bekerja di pencucian truk, mobil dan sepedamotor (doorsmeer) yang berada di kawasan Helvetia. Mirisnya, Chandra harus melakoni pekerjaan itu selama tiga tahun tanpa gaji. “Saya hanya diberi gaji sekali, kalau mau pulang kampung, kata pemiliknya. Saya hanya diberi makan dan mengumpulkan uang dari pemberian supir,” kata Chandra.

Tidak tahan bekerja di doorsmeer tersebut, Chandra memutuskan melarikan diri. Kehidupan yang demikian getir itu, tidak menyurutkan semangatnya. Ia tidak pernah mengeluh, apalagi harus mengucurkan airmata. “Karena ini sudah tekad, maka harus saya jalani dengan kondisi bagaimana pun. Apalagi saya tidak punya kenalan atau saudara di Medan,” kenangnya.

264461_10201231066719952_1285666569_nBerjalan tidak tentu arah, Chandra ketemu dengan hamparan kacang hijau sedang dijemur. Didekatinya, dan berdialog dengan pemiliknya. Kemudian, Chandra pun diterima bekerja di tempat milik A Cua tahun 1992. Tugasnya menyemai kacang hijau untuk menjadi sayur toge.

Bersama A Cua—yang sampai saat ini masih menjalin persaudaraan—Chandra banyak belajar. “Saya banyak mendapat bimbingan untuk berusaha dari Bang A Cua,” kata Chandra yang mengaku karena kedekatannya dan punya kemiripan nasib, A Cua pun membangunkan rumah untuk ibu Chandra di Barus.

 

BUKA USAHA SENDIRI

944601_10201231066919957_408538141_nDua tahun bekerja bersama A Cua, diberanikannya untuk membuka usaha sendiri, dan meneruskan keahliannya di bidang penyemaian sayur toge. Tahun 1994 dimulai dengan mengontrak rumah di Jalan Perbatasan Krakatau.

“Waktu itu saya masih lajang. Saya pikir, kalau mengerjakan sendiri, saya akan mendapatkan hasil yang lebih besar,” kata Chandra yang menjelaskan setiap harinya ia mampu menyuplai 150-160 kilogram sayur toge ke Pusat Pasar.

Tahun 1997, Chandra menikahi gadis pujaannya Delki boru Pasaribu. Usaha mereka pun dipindahkan ke Jalan Sehati Gang Anggrek. Di rumah yang mereka kontrak dua tahun—kemudian sudah dibeli dan menjadi milik sendiri itu—Chandra menyiap delapan tong penyemaian berdiameter 1 meter dengan tinggi 1,5 meter.

390704_10201231066279941_939698073_nApa yang diperjuangkan Chandra bersama istrinya, membuahkan hasil yang setiap hari mereka syukuri. “Berkat Tuhan tidak berkesudahan dari hasil kerja keras kami,” katanya. Chandra bersama istri dan 5 pekerjanya setiap pukul 01.00 Wib dinihari harus terjaga dan mempersiapkan sayur toge untuk dipasarkan. Dengan becak barang, Chandra bersama istrinya pergi ke Pusat Pasar.

“Saya masih terus ikut mengerjakan penyemaian sayur toge. Setiap tong memerlukan 30 kilogram kacang hijau pilihan. Mengerjakan penyemaian butuh hati yang sabar,” katanya.

Kini, persiapan masa tua, Chandra sudah mulai beralih memikirkan membangun bisnis lain. Ia pun memilih membangun rumah kontrakan. “Sekarang sudah ada lima kontrakan,” katanya. Rumah Gang Anggrek sudah dibeli dan direnovasi, bahkan garasi yang dipersiapkan sudah ditongkrongi sebuah mobil Terios.

400717_10201231066519947_132531973_nRahasia sukses pun diceritakan istrinya. “Semuanya harus dijalani dengan saling pengertian dan bagaimana senantiasa dekat dengan Tuhan,” kata Delki boru Pasaribu. Dan, Chandra Donatus pun, kini aktif di kegiatan gereja dan aktifitas sosial

 

 

 

1 COMMENT

  1. Sangat inspiratif appara.. Semoga dpt menjadi contoh buat kaum muda khususnya generasi muda batak..

    Sukses trus buat tulang sihotang

LEAVE A REPLY