Keutamaan Seorang Pria

0
831

juliantobooksDi Taman Eden identitas dan tujuan seorang Pria diciptakan. Adam, manusia pertama diberi kuasa mengerjakan Taman Allah. Menaklukkan alam dan mengelola bumi. Adam memulai tugasnya dengan memberi nama pada semua hewan. Sungguh ini merupakan tanggung jawab dan pekerjaan besar.

Untuk itu Adam disediakan seorang penolong, Hawa menjadi istrinya. Penolong yang sepadan. Meski dengan kualitas posisi yang sepadan, Adam punya panggilan atau fungsi khusus, yakni menjadi kepala keluarga atau pemimpin. Jadi, selain mengelola Taman Eden, Adam dipanggil mengelola keluarganya sendiri.

Pria pertama ini cakap mengelola Taman dengan kapasitas Ilahi yang ada padanya, seperti kemampuan berpikir, punya perasaan dan alam kehendak. Sayang kemampuan itu tidak dijaga dengan baik. Adam lengah. Membiarkan Hawa berjalan tanpa kehadiran, ajaran dan teladannya yang maksimal. Akhirnya keduanya jatuh dan mendapat disiplin Ilahi.

Keharmonisan keluarga pertama inipun memudar. Mulailah konflik melanda keluarga Adam, dengan saling menuding dan menyalahkan. Ada iri dan kemarahan pada keturunan Adam. Sejak saat itu tidak ada keluarga tanpa konflik atau keluarga yang sempurna.

Namun panggilan dan tugas Pria tak berubah. Pria dipanggil menjadi kepala keluarga yang bertanggungjawab atas kesejahteraan anak dan istrinya. Mulai dari tanggungjawab ekonomi, pemeliharaan sosial, mencukupi kebutuhan emosi keluarga hingga menumbuh kembangkan mental-spiritual anak dan pasangan. Dengan bantuan istrinya seorang pria mendapatkan tanggungjawab mulia ini.

Zaman terus berubah. Nilai-nilai kebudayaan zaman ini semakin menggoda pria untuk (lebih) sukses di luar rumah. Tantangan ini disertai pelbagai macam godaan antara lain: ingin cepat kaya dan tenar.

Kompetisi yang berat ini menggoda para ayah terjebak. Diantaranya korupsi. Beratnya kompetisi kehidupan, geografi kota yang luas, sulitnya mencari pekerjaan, mahalnya biaya kehidupan dan sebagainya membuat banyak Ayah kehilangan perannya di rumah. Membiarkan ibu dominan dalam pengasuhan anak-anak. Kurangnya kasih sayang Ayah berdampak buruk pada kesehatan emosi anak.

Selain itu banyak istri kehilangan waktu, kasih sayang dan sentuhan suami. Ini bisa membuka peluang pada pintu perselingkuhan. Ini satu masalah besar di era sekarang ini mengingat angkanya makin meningkat

Tentu tak ada yang salah bila seorang pria punya cita-cita sukses di kantor, atau kuat secara finansial. Bahkan menjadi orang yang terkenal sekalipun. Tetapi hal itu tidak boleh mengabaikan job utamanya di rumah. Ya, panggilan atau keutamaan tugas seorang pria di rumah tak bisa diabaikan, yakni menjalankan fungsi “kesuamian” dan “keayahan” dengan maksimal. Kehadiran ayah di rumah membangun perasaan dicinta pada anak-anak. Teladan sang Ayah kelak menjadi modal anak memasuki perkawinannya. Rumah layaknya “universitas keluarga”, dimana anak laki kita belajar tentang nilai dan peran Ayah.

Pria yang menjalankan fungsi dengan baik akan menjadi ayah yang dihormati anak. Juga akn mendapat respek sang istri.

Tanggungjawab mencintai istri sejak awal dibentuk oleh pengasuhan sang Ibu di rumah. Relasi yang harmonis dengan ibu kandung inilah kelak menjadi modal seorang pria mengasihi istrinya. Bila ada konflik dengan ibu kandung dapat mengurangi kualitas hubungan dengan istri dan anak-anak.

Dari uraian di atas tak semua pria sukses menjalankan panggilan Ilahi tersebut. Ada beberapa kualitas pria yang terbagi dalam beberapa kategori

Satu, ada pria yang baik menjadi Ayah, tapi gagal jadi suami.
Dua, ada yang berhasil menjadi suami yang baik tapi gagal jadi Ayah.
Tiga, ada Pria yang sukses menjadi suami dan Ayah sekaligus
Empat, ada pula yang buruk dalam menjalankan kedua fungsi tersebut
Lima, ada pria yang sukses di kantor tapi Gagal menjalankan fungsi “kesuamian” dan “keayahan” di rumah
Enam, ada pula yang kurang berhasil dalam karir tapi tetap menjadi Ayah yang dicintai anak-istrinya

Penutup

Keutamaan pria bukanlah pada hasil-hasil yang dicapainya secara fisik atau materi. Tapi karena ia dicintai anak dan pasangannya. Cinta dan respek dari anak/istri memberinya semangat, kreatifitas dan produktif saat bekerja.

Bukan hanya itu, dia tidak malu berdiskusi dengan teman tentang kehidupan keluarga, sebaliknya bangga bercerita tentang anak-istrinya

Sumber Buku KEBISUAN PARA AYAH (Julianto Simanjuntak )

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY