Anak Korban Penganiayaan Dilapor Pelakunya

0
410

Polres Deli Serdang Tetapkan 3 Orang Anak di Bawah Umur Sebagai Tersangka

 tsk ANAK

TERSANGKA : RP (14),  N (12)  dan AMP (12) ditetapkan tersangka oleh Polres Deli Serdang setelah dilaporkan oleh D br P oknum PNS di Pemkab Deli Serdang pelaku tindak kekerasan terhadap AMP 30 Mei 2012 yang lalu. (Batak Pos/Poltak Simanjuntak)

Medan, Batak Pos

Belum sembuh dari trauma akibat dianiaya oleh D br P SSos oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kabupaten Deli Serdang dua bulan lalu tepatnya Rabu 30 Mei 2012, AMP (12) Pelajar SD Trisakti Lubuk Pakam, malah ditetapkan jadi Tersangka oleh Kepolisian Resort Deli Serdang.

Tidak hanya Agnes, 2 orang saudara kandungnya yang juga masih di bawah umur RP (14) dan NP (12)  juga ditetapkan sebagai tersangka, bersama-sama dengan kedua orang tuanya.

Berdasarkan Surat Panggilan Polres DS, ke 5 orang anggota keluarga Saut Panjaitan ini, dipanggil untuk dimintai keterangannya sebagai “TERSANGKA”  Jumat 27 Juli 2012 dengan sangkaan “Membuat Perasaan Tidak Menyenangkan”, sebagaimana dimaksud dalam pasal 335 ayat 1 KUHPidana, sesuai petunjuk dari pihak Kejaksaan Negeri Lubuk Pakam No B-2654/N.222/Epp.1/07/2012 berdasarkan laporan pengaduan Sdri Dameria Pardede SSos tanggal 1 Juni 2012 No LP/422/VI/SU/2012/RES DS.

“Kami sangat terkejut dan ketakutan, sebab yang mengadukan kami justru orang yang melakukan penganiayaan terhadap anak kami 2 bulan lalu. Masak anak-anak kami ditetapkan tersangka sementara mereka adalah korban dan hingga sekarang mengalami tekanan mental dan ketakutan”, ujar Saut Panjaitan ayah ketiga anak yang ditetapkan tersangka ini.

Mendapat surat panggilan dari polisi, Saut Panjaitan tidak serta merta membawa anak-anaknya ke kantor polisi, mengingat mereka masih pelajar dan masih di bawah umur. “Kami belum memenuhi panggilan polisi itu sebab kami takut membawa anak kami yang masih di bawah umur itu ke sana.  Istri saya saja yang ke Kantor Polisi”, papar Saut.

Penetapan status tersangka terhadap ke 3 anak di bawah umur ini ditanggapi serius oleh Ahli Hukum Pidana Universitas Santo Thomas Medan Prof Dr Maidin Gultom SH MH. Menurutnya polisi seharusnya lebih berhati-hati menetapkan status hukum seseorang apalagi anak di bawah umur. “Apa logikanya seorang anak di bawah umur bisa membuat perasaan seorang dewasa tidak senang, apalagi orang dewasa itu sudah melakukan tindakan melawan hukum berupa penganiayaan”, jelas Maidin.

Menurut Maidin, tindakan pelaku penganiayaan melaporkan korbannya yang anak di bawah umur ke polisi, sangat kental dengan skenario menyiasati hukum. Polisi dan Jaksa harusnya tidak mau ikut dalam skenario pelaku penganiayaan ini yang mau menaikkan posisi tawar menawarnya, untuk memaksa korban dan keluarganya bersedia menarik pengaduan. “Jelas ini skenario busuk seorang pelaku tindak pidana dan biasanya dimanfaatkan polisi mendapat uang penarikan pengaduan”, tegas Maidin.

Lebih jauh Wanrinson Sinaga SH MH, seorang advokat yang cukup dikenal namanya di belantara penegakan hukum di Kota Medan ini, kepada Batak Pos Kamis (2/8) mengatakan bahwa tindakan polisi menetapkan anak di bawah umur itu sangat tidak professional, apalagi pasal yang dituduhkan itu pasal “keranjang sampah”.

Secara teknis sebagaimana Pasal 72 KUHPidana, seharusnya kasus penganiayaan itu dulu diselesaikan dan pengadilan menolak tuduhan penganiayaan, barulah kasus membuat perasaan tidak menyenangkan dapat diteruskan.

“Pelapor dijadikan tersangka seharusnya didasarkan pada KUHPidana Pasal 72. Berhubung kepolisian sudah menetapkan ke 3 anak itu sebagai tersangka, maka sebaiknya dilapor saja penyidiknya ke Propam Poldasu dan Aswas Kejatisu”, saran Wanrinson. (POL).

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY