10 Bulan Koma Maria Alicya Simanjuntak Akhirnya Meninggal

2
959
Selamat Jalan ke Rumah Bapa di Sorga

Salomo TR Pardede : Kematian Maria Akhiri Penderitaanya

Selamat Jalan ke Rumah Bapa di Sorga
Selamat Jalan ke Rumah Bapa di Sorga

Medan, JuntakNews

Setelah mengalami koma selama 10 bulan di RS Pirngadi Medan, penderitaan Maria Alicya br Simanjuntak (13) berakhir sudah. Maria pelajar SMP N 25 Kelas VII, merupakan anak ke 4 dari 7 bersaudara dari pasangan Runggu Simanjuntak, ibunya Boru  Silitonga,  mengalami koma akibat radang selaput otak (meningitis) yang dideritanya. Perawatan dan pengobatan menggunakan fasilitas Kartu Medan Sehat tidak mampu menyembuhkannya.

“Manusia berencana, tapi Tuhan yang menentukan”, ungkap Salomo TR Pardede Ketua DKD Terang Indonesia ketika melayat Maria, Jumat (28/12). Dengan mimik penuh haru, Salomo yang beserta istrinya Esther br Simanjuntak selama 8 bulan terakhir ini member perhatian terhadap Maria, mengungkapkan kedukaanya ketika mengetahui Maria telah dipanggil PenciptaNya.

“Mendengar Maria telah meninggal, saya sempat shock dan istri saya Esther yang selalu mendoakan Maria pun tidak bisa menutupi kesedihannya dan menangisi kepergian adek kami Maria”, tutur Salomo TR Pardede yang dikenal juga sebagai Anggota DPRD Sumut ini.

Kondisi ekonomi keluarga Maria yang memprihatinkan dan kondisi Maria ketika menjalani perawatan dan perobatan di RS Pirngadi, telah mengundang simpatik tidak saja dari kalangan Generasi Muda Simanjuntak Sitolu Sada Ina Boru Bere Ibebere (GM-SSSI&BBI). Berbagai dukungan moril dan materil terus diberikan dengan harapan Maria bisa siuman dan sembuh dari penyakit yang menggerogotinya.

Seminggu sebelum meninggal, diberitahukan bahwa kondisi Maria semakin memburuk. Pendarahan terjadi dan sulit dihentikan. Pengurus Naposo Simanjuntak Kota Medan yang secara bergiliran tugas menjagai Maria menlaporkan bahwa dalam keadaan tidak sadar, mulut dan hidung Maria terus mengeluarkan darah.

“Pendarahan terjadi beberapa hari tanpa bisa dihentikan. Kondisi tubuhnya semakin buruk, semakin kurus dan pergerakannya pun semakin minim”, ujar Poli Simanjuntak, salah seorang Naposo Simanjuntak kepada JuntakNews di rumah duka.

Salomo TR Pardede yang sengaja hadir melayat, tampak dengan setia mengikuti seluruh rangkaian acara pemberangkatan Maria, hingga ke pemakaman di Pekuburan Kristen Jl Gajah Mada Medan. Kepada keluarga Maria, Salomo mengatakan sepeninggal Maria, agar komunikasi jangan terputus dengan dirinya dan keluarga.

“Jika membutuhkan bantuan sepeninggal Maria ini, tidak usah sungkan untuk menghubungi saya. Maria sudah pergi. Kematiannya telah mengakhiri semua penderitaanya. Keluarga yang ditinggalkan kiranya  dalam kesediahan dan duka. Sebagai pengganti krans bunga dan ungkapan duka kami keluarga Pardede, terimalah ini”, katanya sambil menyerahkan amplop berisi uang yang diterima langsung Runggu Simanjuntak ayah Maria.

Suasana di rumah duka dipenuhi tangisan kakak adik Maria yang merasa kehilangan saudara. Ayah dan Ibu Maria tidak bisa menyembunyikan rasa duka mendalamnya yang terus menerus menangis dan memanggil nama putrid kesayangan mereka. “Selamat jalan boru hasian…!”, isak Runggu Simanjuntak, sambil memukul-mukul kepalanya.

Runggu Simanjuntak ayah Maria yang berprofesi sebagai penarik Ankor Medan Raya Ekspres, ketika diberi kesempatan “Mangampu”, mengucapkan rasa terimakasihnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan doa dan materi selama putrinya menjalani perawatan di RS Pirngadi. “Terimakasih atas semua perhatiannya pada Maria”, ujarnya terisak.

Diiringi deru suara sirene ambulans yang membawa jasad Maria, puluhan sepeda motor yang dikendarai Naposo Bulung Simanjuntak, konvoi pemakaman melaju dari Jl Jermal XIV ke Jl Gajah Mada. “Maria, kamu berasal dari tanah dan kembali ke tanah”, ujar Pdt R br Siregar Pendeta HKBP Menteng, ketika sakramen pemakaman. (POL)

2 COMMENTS

  1. Semoga diterima disis Nya, bagi keluarga yg ditinggalkan agar tetap tabah dan kuat. GBU

LEAVE A REPLY