Misteri Kematian Bonggas Sihotang 4 Bulan Belum Terungkap

0
247

Elfrida Sihotang : Hasil autopsi menguatkan dugaan kami bahwa Bonggas meninggal karena dianiaya.
Kasat Serse  Polres Sergai : Belum cukup saksi dan bukti untuk menetapkan tersangka.

 JuntakNews – Sei Rampah,

Tidak terima penyebab kematian Bonggas Sihotang (33) yang diduga dianiaya tetangganya, tidak terungkap hingga 4 (empat) bulan, Elfrida Sihotang, salah seorang saudari perempuannya, didampingi  orangtuanya Kasman Sihotang (76), mendatangi Biro Advokasi Generasi Muda Simanjuntak di Restoran Steak & Stuff Jl. Dr. Mansur Medan, Senin (13/2).

Maksud menyoal kinerja Kepolisian Resort Serdang Bedagai. Baik Elfrida maupun orangtuanya, mengharapkan ada pihak yang dapat membantu mereka mendorong pihak kepolisian agar lebih profesional dalam menangani kasus yang sudah mereka laporkan di Polres Sergai tepatnya 26 September 2011 yang lalu dengan Nomor : STPL/358/IX/2011/SU/RES SERGAI.

Rudyard Simanjuntak, Ketua Biro Advokasi GM-SSSI&BBI yang menerima menerima kedatangan keluarga Bonggas tampak serius mendengarkan kronologis kejadian perkara dan sesekali melontarkan pertanyaan guna mendapat informasi yang lebih lengkap, sambil membolak balik foto-foto saat Bonggas diautopsi.

“Kebiasaan anak saya Bonggas yang memiliki keterlambatan mental ini, setiap pagi bangun subuh dan berjalan-jalan di sekitar rumah. Pada saat kejadiaan naas ini, Bonggas tidak dalam kondisi sakit apapun. Pukul 05.00 wib, seperti biasanya dia keluar, dan sekira pukul 06.00, saya melihat dari rumah ke arah rumah tetangga, Bonggas jalan terhuyung, hingga sampai di rumah dan terhempas. Muntah darah, ada tanda bilur-bilur di sekujur tubuh dan satu buah pelirnya (testes) pecah yang membuatnya tidak bisa buang air kecil hari itu, hingga meninggal. Ketika kami tanya kenapa, dengan keterbatasannya menjawab “Saya dipukuli LR”, yang tak lain adalah tetangga kami sendiri”, jelas Kasman, terisak.

Penuturan lain dari Elfrida, bahwa Bonggas walau mengalami keterlambatan mental, tidak pernah mengganggu orang lain. Bahkan, ketika diteriaki anak-anak LR yang sering berpapasan dekat rumah, Bonggas hanya bisa diam. Dan, Elfrida sendiri pernah menyaksikan langsung, betapa anak-anak LR justru tidak dilarang ibunya ketika melakukan tindakan yang menghinakan Bonggas.

“Saya pernah melaporkan kejadian ejekan yang dilakukan oleh anak-anak LR kepada ibunya, tetapi tidak mendapat tanggapan. Yang lebih memilukan lagi, Bonggas pernah pulang ke rumah dengan beberapa sayatan pisau di tangannya dan kami ketahui dari dia, bahwa itu dilakukan oleh keluarga LR”, jelas Elfrida.

Kecurigaan keluarga Bonggas atas kematian yang tidak wajar ini, mendorong mereka membuat laporan kepada polisi. Atas dasar laporan tersebut, polisi telah pula menyetujui dilakukannya Autopsi yang dalam SP2HP Polres Sergai menyebutkan ditemukan berbagai luka memar di sekujur tubuhnya.

“Saya sempat membaca hasil autopsi ketika ditunjukkan Jupernya, yang akhirnya urung difotocopy, bahwa Bonggas mengalami retak di kepala, tulang kaki patah dan buah pelirnya sebelah kanan remuk”, tambah Elfrida sambil menunjukkan foto-foto ketika Bonggas di autopsi oleh dr. Surjit Singh, Sp.F, DFM di RS Pirngadi Medan.

Rudyard Simanjuntak, ketika dimintai tanggapannya atas pengaduan keluarga Bonggas, kepada Batak Pos mengatakan, bahwa Biro Advokasi Generasi Muda Simanjuntak akan memberikan pendampingan bagi keluarga, sehingga hak hukum mereka dapat terpenuhi dan rasa keadilan dapat ditegakkan.

“Kami akan mendampingi keluarga ini mencari tahu apa penyebab terlambatnya penanganan perkara ini. Pendapat saya, tak cukup dengan pendekatan hukum konvensional, justru disinilah dituntut profesionalitas polisi sebagai penyelidik dan penyidik, mencari dan menemukan alat bukti, hingga pelaku dapat mempertanggungjawabkan tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan matinya orang, sebagaimana dimaksud pasal 351 ayat 3 KUHPidana”, kata Rudyard.

Ketika ditanya perihal keterlambatan penanganan hukum kasus kematian Bonggas, Kasat Serse Polres Sergai AKP T.M.L. Tobing, SH, kepada JuntakNews  (13/2), mengatakan bahwa kasus ini mendapat atensi dari pihaknya, apalagi perkara ini menyangkut hilangnya nyawa manusia. Diakuinya bahwa dalam proses penyidikan, pihak kepolisian kesulitan menemukan saksi dan alat bukti.

“Sangat disayangkan, kenapa keluarga Bonggas baru membuat laporan setelah korban meninggal. Kami, tidak bisa bertindak gegabah menangkap seseorang yang diduga pelaku, tanpa saksi dan alat bukti”, jelas Tobing.

Bila pihak polisi merasa telah memberikan atensi,  sementara keluarga merasa belum mendapat pelayanan hukum yang dibutuhkan, apakah kematian Bonggas akan tetap menjadi misteri? Semoga tidak! (POL)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY