Mamio Mangan Penganten, Perlukah?

4
1140

JuntakNews – Medan

Ketika saya mengirimkan pesan singkat (sms) kepada dongan tubu Simanjuntak untuk mengundang mereka menghadiri “Acara Mamio Mangan” Penganten Baru Bungaran Supratman Simanjuntak (37) dohot oroanna Samaria br. Panjaitan (28), banyak di antara mereka bertanya “Ai Aha Mamio?” (Apa arti Mamio?).

Entah saya yang masih “kampungan”, atau para penannya memang sudah tak pernah lagi mendengar atau terlibat dalam acara semacam ini, saya pun kurang tahu persis. Yang pasti, bagi saya yang lahir di ‘huta’ dan sedikit aktif mengikuti dinamika adat Batak di perantauan ini, masih paham betul dengan arti ‘Mamio’. Atas dasar pengetahuan yang tak seberapa ini, akhirnya saya menjelaskan kepada mereka seputar arti kata ‘MAMIO’.

Secara gramatikal ‘MAMIO’, berasal dari kata ‘PIO’ yang artinya ‘mengundang, memanggil dan mengharapkan datang’.  Jadi “MAMIO MANGAN”, dapat diartikan sebagai Undangan untuk makan bersama oleh satu keluarga, biasanya keluarga dekat atau merasa dekat di hati si pengundang.

Tentu, jika undangan dimaknai hanya sebatas makan bersama adalah hal biasa tanpa makna. ‘MAMIO’, tidak sebatas ‘Makan Bersama’, tetapi mengandung arti “Selamatan” dan “Berbagi Pengalaman” (sharing of experince). Artinya,  motivasi dasarnya bukan jamuan makan, namun lebihdari itu sebagai momen berbagi pengalaman, menyampaikan selamat dan harapan-harapan, memberi wejangan, nasehat dari para pasangan keluarga yang lebih senior ber-rumahtangga. Sekaligus juga sebagai momen untuk lebih saling mengenal satu sama dengan yang lain dan merupakan bagian dari “penyambutan” selamat datang di keluarga besar.

Ada pola fikir bagi Orang Batak, bahwa untuk memberi nasehat (mandok hata) kepada pihak keluarga dekat, hanya tepat dilakukan disertai dengan memberi makan (di jolo ni si panganon). Tanpa, itu suasana kebathinan antara yang ‘Mamio’ dengan orang yang ‘Dipio’ tidak menimbulkan getar kasih sayang.

Berangkat dari kesadaran dan nilai ini pulalah, sehingga Aktifis GM-SSSI&BBI melaksanakan acara ‘MAMIO MANGAN’, Sabtu (31/3) di kediaman salah seorang pengurus. Kali ini yang ‘Dipio’, adalah pasangan Penganten Baru Bungaran Supratman Simanjuntak dengan Samaria br. Panjaitan yang telah menerima Pemberkatan Nikah dan Upacara Adat, pada 24 Maret 2012 di Hutanamor Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir.

Kedekatan hubungan, tidak hanya sebatas semarga (dongan tubu) dengan Penganten Baru ini. Hampir semua rekan Pengurus GM-SSSI&BBI mengetahui kesungguhan si penganten laki-laki ini, mengembangkan Marga Simanjuntak, terutama lewat pengembangan Website dan Tarombo On-line Simanjuntak Sitolu Sada Ina 4 (empat) tahun lalu.

Selain memberi ucapan selamat bergabung kepada ‘Parsonduk Bolon atau Paniaran’ yang baru Samaria br. Panjaitan, juga menjadi waktu yang tepat untuk saling berbagi pengalaman.

Acara yang berlangsung singkat, padat dan tidak terlalu kaku ini sepertinya mampu mencapai tujuannya. Baik kedua penganten yang ‘Dipio’, maupun seluruh undangan yang hadir ‘Namamio’, tampak mengikuti acara demi acara dengan serius dan penuh sukacita. Nah, jika acara seperti ini ternyata mampu membangkitakan kedekatan ikatan kekeluargaan, soliditas dan solidaritas, apakah ‘MAMIO MANGAN’, dapat terus kita kembangkan dan budayakan?

 

Tangiang...

4 COMMENTS

  1. Selamat Menempuh Hidup Baru buat Bang Bungaran, Semoga Kelurga yg Sejahtera dan Takut Akan Tuhan, God Bless Your Family.
    Horas

  2. mamio sangatlah banyak manfaatnya. disinilah, keluarga dekat memberikan petuah-petuah bagaimana berumatangga dan hal apa yang boleh dan tak boleh dilakukan.

    dan diacara mamio inilah terjadi perkenalan antara keluarga yang mamio dan yang dipio.
    ketika di pesta adatnya banyak hal yang tak sempat di utarakan, nasehat, harapan, doa-doa, maka diacara mamio inilah bisa berlangsung semuanya.
    horas

  3. artikel yang bermanfaat dan bagus pula pengemasannya. saya sendiri akan melakukan acara mamio mangan dengan keluarga isteri di luar kota dalam beberapa hari ke depan
    horas

LEAVE A REPLY